Minggu, 21 September 2008

Potensi dan prospek ikan betutu / gabus

PENDAHULUAN

Bangsa kita sangat membutuhkan sumber protein untuk menjadi suatu bangsa yang sehat dan cerdas. Ikan mempakan salah satu sumber protein yang bermutu tinggi. Daging ikan rata-rata mengandung protein (9 % - 22 %), lemak (0,1 % - 20 %), mineral (1 % - 3 %), vitamin, lecithin, guanin, dan sedikit mengandung kolesterol.

A. Tujuan dan Sasaran Pembangunan Sub-Sektor Perikanan
Dengan luasnya perairan dan melimpahnya berbagai jenis ikan di Indonesia, maka pemerintah mencanangkan atau mengharapkan bahwa kebutuhan protein hewani bangsa Indonesia dapat dipenuhi dari sub-sektor perikanan. Dengan demikian, tujuan dan sasaran pembangunan sub-sektor perikanan, di samping meningkatkan devisa bagi negara, adalah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan sasaran agar target tiap orang Indonesia dapat mengkonsumsi ikan ± 25 kg/orang/tahun tercapai. Bila target tersebut dapat dicapai, maka bangsa Indonesia pasti akan menjadi bangsa yang sehat dan cerdas.

B. Potensi Perikanan Air Tawar
Pembangunan sub-sektor perikanan, baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun oleh swasta, tidak hanya di perairan laut, tetapijuga di perairan darat (air tawar). Perairan tawar di Indonesia menurut para ahli perikanan memiliki kualitas yang bagus. Parairan tawar di Indonesia memiliki tingkat keasaman (pH) air yang stabil dan memiliki suhu air yang lebih stabil dibandingkan dengan negara-negara yang mengalami 4 musim seperti Jepang dan Taiwan. Di samping itu, perairan tawar Indonesia memiliki aneka ragam jenis plankton, benthos, ataupun detritus yang dapat menjadi sumber makanan alami bagi ikan.

Dilihat dari luas sumber perairan umum (sungai, danau, rawa, waduk/dam, dsb.) dan kualitas aimya yang sangat baik, maka perairan tawar di Indonesia sangat potensial untuk usaha pengembangan perikanan.

C. Potensi dan Prospek Agribisnis Ikan Betutu
Ikan Betutu mungkin masih asing bagi sebagian orang. Namun, bagi orang yang telah lama berkecimpung dalam dunia perikanan, ikan betutu sudah tidak asing lagi. Bagi masyarakat Sumatra Selatan, khususnya di sekitar Sungai Ogan, Sungai Komering, dan Sungai Musi, sudah tidak asing lagi terhadap ikan Betutu. Bahkan, ikan Betutu dijadikan maskot kota (ingat kota Talang Betutu).

Di dunia bisnis, ikan Betutu lebih dikenal dengan sebutan ikan Malas atau Gabus malas. Masyarakat Kalimantan menyebut ikan betutu dengan nama ikan Bakut atau ikan Bakukut yang artinya "diam". Ada pula yang menyebut ikan Betutu dengan nama ikan bodoh atau ikan goblog. Sementara etnis Cina, termasuk Cina keturunan, menyebut ikan betutu dengan nama ikan Sun Hok. Dunia Internasional menyebut ikan betutu dengan nama ikan marbledgpby atau sand goby. Ikan Betutu memiliki nama ilmiah Oxyeletris marmorata. Bikr.

Dari uraian di atas jelas bahwa ikan Betutu termasuk salah satu jenis ikan yang sudah mendunia. Menu masakan ikan betutu telah masuk di kota-kota besar seperti Palembang, Medan, Jakarta, Surabaya, Semarang, Bandung, dan Yogyakarta. Tarip menu ikan betutu di hotel-hotel berbintang berkisar antara Rp 250.000,00 - Rp 300.000,00 untuk satu porsi dengan ukuran 0,8 kg -1 kg. Sedangkan harga ikan betutu hidup di tingkat tengkulak atau brooker bervariasi antara Rp 75.000,00 - Rp 100.000,00 per kilogramnya.

Mahalnya harga ikan betutu diduga ada beberapa versi, mungkin karena cita rasanya lezat, dagingnya putih, empuk, dan nyaris tidak bertulang. Ikan betutu juga dipercaya mengandung khasiat tertentu bagi kaum wanita dan bagi kaum pria. Bagi kaum'wanita, ikan betutu dipercaya dapat membuat awet muda dan dapat menambah kehalusan kulit karena banyak mengandung vitamin B1, B2, B6 vitamin F, dan vitamin E sehingga dapat menghambat proses penuaan. Bagi kaum pria, ikan betutu dipercaya banyak mengandung anzim dan hormon tertentu sehingga dapat menambah keperkasaan sebagai laki-laki. Namun, ada pula yang mengatakan bahwa ikan betutu hanya sebagai arena adu gengsi untuk meloby relasi.

Secara teknis, ikan betutu memang masih sulit untuk dibudidayakan. Bisnis ikan betutu hingga saat ini sebagian besar masih tergantung pada penangkapan di alam bebas. Oleh karena itu, jenis ikan ini dikhawatirkan akan semakin langka dan akhimya punah jika penangkapan di alam bebas dilakukan secara terus-menerus. Usaha pembenihan dan pembudidayaan ikan betutu diharapkan dapat melestarikan, menambah populasi, dan mencukupi kebutuhan konsumen.
Usaha budi daya ikan betutu di Thailand dapat berhasil dengan baik sehingga saat ini menjadi pesaing utama bagi Indonesia sebagai asal muasal dari ikan betutu itu sendiri. Di Jawa Barat dan di Jawa Tengah sudah ada orang yang mulai membudidayakannya secara intensif walaupun hasilnya belum menggembirakan.

Kendala utama pembudidayaan ikan betutu adalah lamanya pertumbuhan ikan tersebut. Pertumbuhan ikan betutu dari menetas hingga mencapai ukuran konsumsi (400 g ke atas) membutuhkan waktu sekitar 2 tahun. Di samping itu, angka kematian ikan ini cukup tinggi sehingga membuat orang enggan untuk membudidayakannya. Walaupun tingkat kematian ikan betutu cukup tinggi, namun masih dapat diatasi melalui serangkaian uji coba dan teknih budi daya yang intensif.

sumber : David Mulyono

Tidak ada komentar:

Posting Komentar