Kamis, 13 November 2008

Pengembangan Alga


PENYEDIAAN PAKAN UNTUK PEMELIHARAAN LARVA

Sebelum mengawinkan ikan, persediaan pakan berupa jasad pakan dan pakan buatan yang nantinya diberikan kepada larva harus siap dalam jumlah dan mutu gizinya. Jasad pakan merupakan faktor penentu dalam keberhasilan pemeliharaan larva. Jasad pakan untuk keperluan ini meliputi alga (Chlorella sp.), rotifera (Brachionus sp.), dan artemia yang diperoleh dart usaha kultur massal. Untuk memelihara larva pada bak berkapasitas 3 m3 diperlukan 9 m3 alga, 6 m3 rotifera, dan sebuah bak 200 1 untuk kultur artemia.

A. Pengembangan Alga

Klorela adalah jenis alga (ganggang) yang di alam merupakan plankton tumbuhan (fitoplankton) berukuran sangat kecil sekitar 4—7 (baca: mikron, 1,0 mm = 1.000 ft). Badannya tidak dapat dilihat oleh mata telanjang. Karena klorela termasuk bangsa tumbuhan maka dalam kultur membutuhkan pupuk sebagai pakan dan sinar matahari untuk proses fotosintesis. Dalam tahap pertama kultur alga dilakukan di dalam ruangan laboratorium yang selalu terkontrol. Stok alga disebut sebagai stok murni. Stok murni ini dilakukan pada suhu terkontrol.

1. Persiapan pengembangan

Benih klorela didapat pertama kali dari isolasi dari alam kemudian dikembangbiakkan melalui kultur. Teknik kulturnya menggunakan media air laut yang bersih yang dipupuk dengan jenis pupuk seperti pada table 1.

TABEL 1. FORMULASI PUPK UNTUK STOK MURNI KULTUR ALGAE

Jenis larutan

Banyaknya

1. larutan nutrient pengkaya

Fe Cl3 6H2O

Mn Cl2 4H2O

H3BO3

EDTA (Na-salt)

NaH2 PO4 2H2O

Na NO3

Larutan trace metal

Akuades

2. Larutan trace element

Zn Cl2

Co Cl2 H2O

(NH4) 6 MO7O24 4H2O

Cu SO4 5H2O

Akuades

3. Larutan stok vitamin

Vitamin B12

Thiamin HCl

Akuades

2,6 g

0,27 g

67,2 g

90,0 g

40,0 g

200 g

2 ml

1 l

2,1 g

2,0 g

0,9 g

2,0 g

100 ml

10 mg

200 mg

200 mg

Media nutrien mengandung bahan-bahan kimia yang dibutuhkan untuk sintesis protoplasma sel. Di dalam ruangan dipasang alat pendingin AC dan lampu-lampu neon sebagai pengganti sinar matahari guna proses fotosintesis. Suhu ruangan dipertahankan sekitar 17—20° C untuk mencegah kontaminasi. Skala kultur dalam ruangan pertama kali menggunakan botol-botol bervolume 100 ml kemudian dapat dikembangkan menjadi lebih besar lagi dengan menggunakan wadah-wadah dari ukuran 1 liter sampai 30 liter. Klorela akan berkembang biak dengan cara pembelahan. Bila air menjadi kelihatan hijau berarti klorela telah berkembang dan kepadatannya tinggi. Pola pertumbuhan populasi alga dalam kultur mempunyai empat fase yaitu

1) fase persiapan pertumbuhan (lage),

2) fase pertumbuhan (exponensial),

3) fase tetap (stasio-ner), dan

4) fase penurunan atau kematian.

Pengetahuan fase pertumbuhan alga diperlukan untuk memperkirakan waktu pemanenan. Kultur alga harus dipanen pada akhir fase pertumbuhan (exponensial) atau pada waktu sebelum fase tetap (stosioner). Hal ini dilakukan karena kualitas nutrisi alga pada tahap ini dapat dijaga.


Gambar 7. Grafik pertumbuhan populasi alga

2. Kepadatan populasi alga

Kepadatan populasi alga dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya cahaya, temperatur, aerasi, dan medium nutrien. Cahaya dalam ruang alga dapat dikontrol dengan menggunakan satu atau dua buah lampu flouresen dengan intensitas 6—10.000 lux. Jika intensitas penyinaran terlalu tinggi maka sel-sel alga dapat rusak sebagai alga tidak akan berkembang. Dari hasil percobaan, meskipun klorela dapat dikulturkan pada suhu 15-35° C, tetapi untuk perkembangan populasinya maka suhu yang terbaik yaitu 20—35° C.

Sistem aerasi bertujuan untuk menjaga alga agar menyebar merata. Selain itu, sistem aerasi juga dapat mencegah penempelan alga pada dinding tabung kultur. Penghitungan tingkat kepadatan dinyatakan dalam jumlah sel per milimeter dengan menggunakan sebuah gelas objek haemocytometer yang diamati di mikroskop. Caranya, haemocytometer dilihat di mikroskop. Di situ akan tampak garis-garis sebagai ruang hitung. Ruang hitung tersebut mempunyai dimensi kedalaman 0,1 mm, panjang 1,0 mm, dan lebar 1,0 mm sehingga jika dihitung volumenya menjadi 0,0001 cm3. luas ruang hitung adalah 1,0 mm2 yang terbagi dalam 400 kotak masing-masing luasnya


Gambar 8. Perhitungan kepadatan klorela dengan haemocytometer

Model Thoma

0,0025 mm2. Penghitungan sel klorela dilakukan dengan meneteskan air yang mengandung klorela pada haemocytometer lalu ditutup dengan cover glass kemudian dilihat di mikroskop dengan perbesaran 100—400 kali. Nilai kepadatan klorela dapat dihitung pada 400 kotak bila kepadatannya relatif rendah. Namun, bila kepadatan klorela sangat tinggi maka penghitungan hanya dilakukan pada beberapa kotak saja yang dipilih secara acak. Dengan demikian, penghitungan kepadatan sel klorela dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut.



Atau



Rata-rata jumlah sel/kotak x 400 kotak x 10.000/ml

= .. sel/ml (bila dihitung beberapa kotak)

3. Penumbuhan alga

Tahap berikutnya adalah mengkulturkan alga di luar ruangan secara massal. Tahap ini dilakukan setelah kultur murni mencapai kepadatan tertinggi sekitar 100—120 kali 106 sel per mililiter dan dijadikan sebagai benih alga untuk kultur di luar ruangan dengan skala yang lebih besar lagi. Kultur di luar ruangan menggunakan media air laut dengan kapasitas yang lebih besar. Kultur ini menggunakan pupuk teknis (pupuk yang sering digunakan untuk tanaman) dan menggunakan sinar matahari untuk proses fotosintesis. Kultur alga ini membutuhkan bak-bak 0,5—1 m3 bahkan dapat menggunakan bak berukuran 4—30 m3 tergantung skala usaha. Di Jepang, kultur alga ini ada yang menggunakan bak bervolume 100—150 m3. Jenis pupuk serta dosis yang digunakan dalam setiap meter kubik media air kultur adalah 100 g (NH4)2 SO4 (pupuk ZA), 30 g kalsium super- fosfat (TSP), dan 10 g urea.

Benih klorela ditebarkan sejumlah 1-2 juta sel/ml atau kurang lebih sepersepuluh dari volume bak dan dipasok aerasi sebagai sumber oksigen Penebaran benih sebaiknya dilakukan pada pagi hari untuk menghindari kematian benib. Klorela akan berkembang biak dengan baik bila air kultur menjadi hijau, berarti tingkat kepadatannya tinggi.

Biasanya, setelab 5 - 7 hari pemeliharaan klorela dapat dipanen untuk tujuan pengemba ngan lagi atau digunakan untuk kultur zooplankton atau pemeliharaan larva. Namun, lamanya kultur juga dipengaruhi oleh cuaca. Kepadatan tertinggi pada kultur massal di luar ruangan mencapai sekitar 30 x 106 sel/ml kemudian kultur dipanen dan bak-bak dibersihkan untuk kultur lagi. Pengembangan selanjutnya dilakukan dengan prinsip sama seperti awal. Namun, pengembangan kultur ini dapat juga dilakukan bila kondisi air klorela pada saat pemanenan disisakan kira-kira seperlima bagian kemudian dapat diisi lagi air laut yang telah bersih dan diberi pupuk. Kultur plankton ini harus dilakukan secara rutin untuk kontinuitas tersedianya jasad pakan.

Kadang-kadang di dalam kultur itu juga dijumpai alga yang tidak baik perkembangannya. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh kontaminasi organisme Ciliata dan atau protozoa yang mengakibatkan






terhambatnya perkembangan klorela. Perkembangan klorela yang terhambat ini dapat diamati dari dngkat kepadatan yang sedikit demi sedikit menurun dan akhirnya dapat mad total. Untuk mencegah kontaminasi tersebut dapat digunakan klorin 10 g/m3 air kultur selama 15—30 hari. Dengan menggunakan klorin ini diharapkan kontamin yang tidak diinginkan akan mati sehingga hanya klorela saja yang akan hidup karena klorela tahan terhadap klorin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar