Sabtu, 22 November 2008

Breeding Fish With hormone pemijahan dengan rangsangan hormone















. Pemiiahan dengan Rangsangan Hormon

Dalam beberapa kasus, ikan dalam bak pemijahan tidak dapat memijah secara alamiah. Hal ini bisa terjadi karena kondisi lingkungan tidak memungkinkan untuk proses pematangan gonad dan pemijahan. Oleh karena itu, perlu dilakukan pemijahan rangsang melalui penggunaan hormon untuk mempercepat proses pemijahan. Biasanya, pemijahan dengan menggunakan hormon akan menghasilkan benih berkualitas lebih rendah daripada benih dari hasil pemijahan secara alamiah. Namun, kelebihan perlakuan ini di antaranya mudah ditentukan saat pemijahan sehingga akan mempermudah persiapkan penyediaan jasad pakan untuk mencukupi kuantitas yang dibutuhkan.

Hormon yang sangat berperan adalah hormon gonadotropin. Untuk mengadakan proses pemijahan dengan rangsangan hormone dibutuhkan keterampilan yang harus dimiliki para akuakulturis. Keterampilan ini di antaranya pengetahuan mengenai tingkat kematangan gonad dan jenis-jenis hormon yang akan digunakan.

Secara morfologi, gonad betina yang disebut ovarium mempunyai dua bentuk yaitu cystovarian dan gymnovarian. Cystovarian yaitu sel-sel telur yang dilindungi dengan dinding ovarium, sedangkan gymnovarian yaitu tanpa dinding ovarium.

Gambar 10. Ovarium tipe cytovarium (kiri) dan tipe gymnovarian (kanan)

Perangsangan induk-induk ikan dilakukan melalui penyuntikan. Sel-sel telur harus mencapai tahap yolk globule (tertiary globule oocytes). Pada tahap itu gonad sedang mencapai pematangan. Hal ini biasanya ditandai oleh adanya butiran-butiran telur yang disebut oocyte telah mencapai ukuran diameter 0,4 mm.

1. Sumber hormon gonadotropin

Hopofise adalah kelenjar di bawah otak ikan yang berukuran sangat kecil yang dapat menghasilkan hormon-hormon untuk proses biologi. Hipofise ini terdiri dari dua bagian yaitu neurophipofise dan adenophipofise. Adenophopofise tersusun atas tiga bagian yaitu rostral pars distalis, proxomal pars distalis (PPD), dan pars intermedia.

Gambar 11. Bagian-bagian dari kelenjar hipofise

PPD,merupakan tempat untuk menghasilkan gonadotropin yang berisi follicie stymulating hormon (FSH) dan luteinizing hormon (LH). FSH dan LH inilah yang berperan dalam proses reproduksi ikan. FSH berperan dalam percumbuhan dan pematangan testis pada ikan jantan, sedangkan pada ikan betina berfungsi mempercepat puberitas ovari, pertumbuhan, serta perkembangan sel-sel telur yang tidak matang. LH berfungsi meningkatkan ovulasi dan pembentukan carpus luteum serta menyokong sekresi progesteron pada ikan betina, sedangkan pada ikan jantan yang paling penting adalah untuk menjaga sekresi testosteron oleh sel-sel Leydig. Dengan demikian, pemijahan dengan rangsangan hormon diterapkan pada induk jantan maupun pada induk betina.

Seperti ikan air tawar, hipofise juga dapat digunakan pada ikan-ikan laut. Namun, sekarang telah ada gonadotropin dan sejenisnya yang telah diperdagangkan di pasaran bebas dalam bentuk ampul. Sebagai concoh adalah HCG (human ckorionic gonadotropin) yang telah diproduksi oleh Sankyo KK, Japan dan Gona-Hormon, yaitu HCG yang diproduksi oleh China Chemical and Pharmaceutical Co. Ltd. Taiwan. Hormon ini dapat diberikan kepada induk berina maupun jantan melalui suntikan ke badan ikan. HCG biasanya diproduksi dari plasenta mamalia.

Pengecekan perkembangan telur dilakukan dengan teknik kanulasi. Penyunrikan dilakukan bila perkembangan telur mencapai tingkat tertiary globule oocytes (tingkat 4). Dosis total 1.500—2.000 IU (International Unit) per kilogram bobot ikan yang diberikan 1—3 kali penyunrikan dengan selang waktu 24 jam ternyata cukup untuk merangsang pemijahan ikan.

Untuk merangsang pemijahan ikan dapat juga digunakan hormon hipofise. Namun, dewasa ini umumnya digunakan gonadotropin dalam bentuk ampul dan hormon tersebut ada di pasaran dan mudah dihitung dosisnya sehingga tingkat keberhasilan pemijahan ikan lebih tinggi. Meskipun demikian, beberapa praktisi menyarankan untuk menggunakan ekstrak hipofise dikombinasikan dengan hormon-hormon tersebut.

2. Cara penyuntikan

Setelah sebagian gonad diambil melalui kanulasi dan bila diameter oocyte (bulatan-bulatan telur) mencapai 0,4 mm berarti induk telah mencapai tingkat kemacangan gonad yang siap disunrik untuk dikawinkan. Setelah ada pasangannya, induk matang kelamin langsung dipindahkan ke tempat pemijahan. Bak-bak air laut berkapasitas 5 m3 dapat digunakan untuk pemijahan. Penyunrikan dilakukan pada pagi hari.





















induk ikan dibius kemudian disuntik pada bagian punggung dibawah duri ketiga atau pada bagian di bawah strip dada terutama untuk induk-induk yang berukuran besar yang membutuhkan jumlah volume hormon yang lebih banyak. Penyuntikan dilakukan dengan hormon gonadotropin atau HCG dan puberogen (tersedia di apotik hewan) dengan dosis masing-masing 250 dan 50 IU per kilogram bobot badan. Bila pada malam hari setelah penyuntikan ikan tidak memijah maka pagi harinya disuntik kembali dengan hormon yang sama, tetapi dosis hormon gonadotropin ditingkatkan dua kali menjadi 500 IU. Jika setelah penyuntikan kedua ikan juga tidak berhasil memijah maka dilakukan penyuntikan ketiga dengan dosis HCG dua kali dari dosis penyuntikan kedua.

C. Pemijahan dengan Metode Pengurutan

Metode pengurutan (stripping) dilakukan bila sepasang indukikan benar-benar telah matang gonad. Pemijahan dengan rangsangan









yang tidak terjadi secara alamiah dapat dilakukan dengan metode stripping. Prisip dasar metode ini adalah mencampurkan telur-telur dengan sperma dari sepasang induk dengan paksaan. Syaratnya adalah induk-induk matang gonad. Pada induk ikan betina hal ini dicirikan dengan perutnya yang kelihatan besar/membengkak, sedangkan pada ikan jantan terlihat sperma/cairan yang keluar seperti air susu bila bagian perut ke arah bagian lubang kelamin ditekan sedikit saja.

Cara mencampurkan telur induk betina dengan sperma induk jantan yaitu sebagai berikut. Bagian perut dari arah depan kebelakang atau menuju ke arah lubang kelamin ditekan kemudian sperma diambil dengan alat sedotan atau alat suntik lalu dicampurkan ke telur-telur. Setelah itu, campuran diaduk dengan bulu ayam yang bersih kemudian dicuci dengan air laut. Metode stripping biasanya menghasilkan benih dengan kualitas dan kuantitas yang lebih rendah dibandingkan benih hasil pemijahan alami. Perlakuan yang kurang hati-hati terhadap cara stripping dapat menyebabkan kematian induk.

sumber :

Drs. Pramu Sunyoto

Dr. Mustahal, M.Sc

Penebar Swadaya



Tidak ada komentar:

Posting Komentar