Kamis, 02 Juni 2011

Penyakit Ikan : Vibriosis pada udang

Vibriosis pada udang

Penyebab : Vibrio harveyii, V. alginolyticus, V. parahaemolyticus. dll.

Bio – Ekologi Patogen
• Vibriosis pada larva udang umumnya sebagai penginfeksi sekunder terutama pada saat dalam keadaan stress dan lemah.
• Infeksi bakteri ini biasanya berkaitan dengan kondisi stress akibat: kepadatan tinggi, malnutrisi, penanganan yang kurang baik. infeksi parasit, bahan organik tinggi, oksigen rendah. kualitas air yang buruk. fluktuasi suhu air yang ekstrim. dll.
• Serangan bersifat akut, dan apabila kondisi lingkungan terus merosot, kematian yang ditimbulkannya bisa mencapai 100%. terutama pada stadia post larva atau juvenil.

Gejala klinis :
• Tubuh udang nampak kusam dan kotor.
• Nafsu makan menurun, kerusakan pada kaki dan insang, atau insang berwarna kecoklatan.
• Jenis bakteri Vibrio spp. yang berpendar umumnya menyerang larva udang dan penyakitnya disebut penyakit udang berpendar (luminescent vibriosis).
• Udang yang terserang menunjukkan gejala nekrosis, kondisi tubuh lemah, berenang lambat, nafsu makan hilang, bercak merah (red discoloration) pada pleopod dan abdominal serta pada malam hari terlihat menyala
• Udang yang terkena vibriosis akan menunjukkan bagian kaki renang (pleopoda) dan kaki jalan (pereiopoda) menunjukkan melanisasi.
• Udang yang sekarat sering berenang ke permukaan atau pinggir pematang tambak.

Diagnosa :
• Isolasi dan identifikasi bakteri melalui uji bio-kimia.

Pengendalian :
• Desinfeksi sarana budidaya sebelum dan selama proses pemeliharaan udang
• Pemberian unsur immunostimulan (misalnya penambahan
vitamin C pada pakan) secara rutin selama pemeliharaan
• Menghindari terjadinya stress (fisik, kimia, biologi)
• Pengelolaan kesehatan udang secara terpadu

sumber : Kementerian Kelautan dan Perikanan, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Direktorat Kesehatan ikan dan Lingkungan, 2010

Minggu, 29 Mei 2011

fish disease: vibriosis in fish

fish disease: vibriosis in fish
Cause: Vibrio alginolyticus, V. parahaemolyticus, V. vulnificus, V. ordalii, etc..

Bio - Ecology Pathogens
• Bacteria in sea water ecosystems, and vibirosis still
is a major problem for marine fish farming industry.
• The case of vibriosis can occur throughout the year, but commonly associated with stress due to handling, high density or changes in extreme weather.
• The death rate of fish at the larval stage up to the size
fingerlings are attacked by the bacteria may reach 80-90%.

Clinical Symptoms:
• Weak, loss of appetite, swim in the water surface, and opaque color.
• Inflammation of the rectum, gills, mouth, base of fin, followed by bleeding and blisters on the surface of the body, as well as open wounds.
• In advanced infection of bleeding in the mouth and base of fins, excess mucus in the gills, dropsy, pale liver color. and eyes swollen.

Diagnosis
• Isolation and identification of bacteria through a bio-chemical tests

Control:
• Disinfection of aquaculture facilities before and during the maintenance of fish
• Giving immunostimulan element (eg addition of
vitamin C in feed) are routinely during maintenance
• Avoiding the occurrence of stress (physical, chemical, biological)
• Management of fish health in an integrated (fish, environment and pathogens)
• Limit and / or regulate feeding and mixing of feed with drugs (medicated feed and feed restriction)
• Conducting anti-vibriosis vaccination.
source: Ministry of Maritime Affairs and Fisheries of Indonesia, Directorate General of Aquaculture, Fish and Environmental Health Directorate, 2010

Sabtu, 28 Mei 2011

Penyakit ikan Vibriosis pada ikan












Vibriosis pada ikan
Penyebab : Vibrio alginolyticus, V. parahaemolyticus, V. vulnificus, V. ordalii, dll.

Bio - Ekologi Patogen
• Bakteri pada ekosistem air laut, dan vibirosis masih
merupakan masalah utama bagi industri budidaya ikan laut.
• Kasus Vibriosis dapat terjadi sepanjang tahun, namun umumnya terkait dengan stress akibat penanganan, kepadatan tinggi ataupun perubahan cuaca yang ekstrim.
• Tingkat kematian ikan pada stadia larva hingga ukuran
fingerling yang terserang bakteri ini dapat mencapai 80-90%.


Gejala Klinis :
• Lemah, hilang nafsu makan, berenang di permukaan air, dan warna kulit buram.
• Inflamasi pada anus, insang, mulut, pangkal sirip, yang diikuti dengan perdarahan dan lepuh pada permukaan tubuh, serta luka terbuka.
• Pada infeksi lanjut terjadi perdarahan pada mulut dan pangkal sirip, ekses lendir pada insang, dropsy, warna hati pucat. dan mata membengkak.

Diagnosa
• Isolasi dan identifikasi bakteri melalui uji bio-kimia


Pengendallan :
• Desinfeksi sarana budidaya sebelum dan selama proses pemeliharaan ikan
• Pemberian unsur immunostimulan (misalnya penambahan
vitamin C pada pakan) secara rutin selama pemeliharaan
• Menghindari terjadinya stress (fisik, kimia, biologi)
• Pengelolaan kesehatan ikan secara terpadu (ikan, lingkungan dan patogen)
• Membatasi dan/atau mengatur pemberian pakan dan mencampur pakan dengan obat-obatan (medicated feed and feed restriction)
• Melakukan vaksinasi anti vibriosis.
sumber : Kementerian Kelautan dan Perikanan, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Direktorat Kesehatan ikan dan Lingkungan, 2010

Minggu, 15 Mei 2011

fish disease: Enteric Septicemia of Catfish (ESC)

fish disease: Enteric Septicemia of Catfish (ESC)


Cause: Edwarsiella ictaluri
Bio-Ecology Pathogens:
• rod-shaped bacteria, gram-negative character moves with the aid of flagella. does not form spores or capsules and are facultative anaerobes.
• Originally known to only infect fish cannel catfish, but the latter is known to infect other fish species such as catfish, catfish, and eel. Experimentally, several types of fish such as trout, tilapia, salmon and ornamental fish can also be infected with this bacteria.
• Transmission of horizontally ie contact between the host or through the water.
• Case ESC generally occurs when water temperatures are relatively warm (22-28 degrees Celsius), but at water temperatures below 20 degrees Celsius or above 30 degrees centigrade, this bacteria is decreased malignancy.

Clinical Symptoms
• Weak, loss of appetite. color pale gills, sometimes protruding eyes and / or abdominal swelling (dropsy)
• Often, too, found the existence of petechiae (red spots) on the body part that is not pigmented (under the chin, stomach or at the base of the fin)
• Swim in the water or the pool with his head pointing up
• Before dying, the fish usually swim like a spastic and / or swim like a spiral spin
• There are white patches on internal organs (liver, spleen, kidney, d1l.)

Diagnosis
• Isolation and identification of bacteria through bio-chemical tests.
• Detection of bacterial genes by polymerase chain reaction (PCR)



Control:
• Avoiding the occurrence of stress (physical, chemical, biological)
• Improve overall water quality, particularly reducing the levels of dissolved organic material and / or increase the frequency of replacement of new water
• Management of fish health in an integrated (fish, environment and pathogens)
• Limit and / or regulate feeding and mixing of feed with drugs (medicated feed and feed restriction)
• Conducting anti-Edwardsiella ictaluri vaccine.

source: Ministry of Maritime Affairs and Fisheries of Indonesia, Directorate General of Aquaculture, Fish and Environmental Health Directorate, 2010

Sabtu, 14 Mei 2011

Enteric Septicemia of Catfish (ESC)

Enteric Septicemia of Catfish (ESC)

Penyebab : Edwarsiella ictaluri
Bio-Ekologi Patogen :
• Bakteri berbentuk batang, bersifat gram negatif bergerak dengan bantuan flagella. tidak membentuk spora atau kapsul dan bersifat fakultatif anaerob.
• Awalnya diketahui hanya menginfeksi ikan cannel catfish, namun belakangan diketahui dapat menginfeksi jenis ikan lainnya seperti: lele, patin, dan sidat. Secara eksperimental, beberapa jenis ikan seperti trout, nila, salmon dan ikan hias juga dapat terinfeksi jenis bakteri ini.
• Penularan secara horizontal yaitu kontak antar inang atau melalui air.
• Kasus ESC umumnya terjadi pada saat suhu air relatif hangat (22-28 derajat celcius), namun pada saat suhu air di bawah 20 derajat celcius atau di atas 30 derajat celcius, keganasan bakteri ini sangat menurun.

Gejala Klinis
• Lemah, hilang nafsu makan. warna insang pucat, terkadang mata menonjol dan/atau perut bengkak (dropsy)
• Sering pula ditemukan adanya petechiae (bintik-bintik merah) pada bagian tubuh yang tidak berpigmen (di bawah dagu, perut atau di pangkal sirip)
• Berenang di permukaan air atau di tepi kolam dengan kepala mengarah ke atas
• Sebelum mati, biasanya ikan berenang seperti kejang dan/atau berenang berputar seperti spiral
• Terdapat bercak-bercak putih pada organ dalam (hati, limfa, ginjal, d1l.)

Diagnosa
• Isolasi dan identifikasi bakteri melalui uji bio-kimia.
• Deteksi gen bakteri melalui teknik polymerase chain reaction (PCR)



Pengendalian:
• Menghindari terjadinya stress (fisik, kimia, biologi)
• Memperbaiki kualitas air secara keseluruhan, terutama mengurangi kadar bahan organik terlarut dan/atau meningkatkan frekuensi penggantian air baru
• Pengelolaan kesehatan ikan secara terpadu (ikan, lingkungan dan patogen)
• Membatasi dan/atau mengatur pemberian pakan dan mencampur pakan dengan obat-obatan (medicated feed and feed restriction)
• Melakukan vaksinasi anti Edwardsiella ictaluri.

sumber : Kementerian Kelautan dan Perikanan, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Direktorat Kesehatan ikan dan Lingkungan, 2010

Koi Kian Diminati Masyarakat

Koi Kian Diminati Masyarakat

Kementerian Kelautan dan Perikanan bersama Asosiasi Pecinta Koi Indonesia, klub-klub pecinta koi dan seluruh stakeholder koi belakangan ini terus secara kontinyu berupaya mendorong pengembangan koi Indonesia. Hal ini tak lain agar koi dapat dijadikan industri lokal yang mampu menjadi alternative sumber pendapatan baru bagi masyarakat.

Salah satu upaya pengembangan koi tersebut adalah melalui pelaksanakan even-event kontes yang dilakukan secara rutin. Even kontes secara tak langsung akan memperkenalkan sekaligus sebagai ajang promosi koi tersebut. Untuk tahun ini, kontes koi tersebut dilakukan di Surabaya. Kegiatan kontes yang diikuti tak kurang dari 150 peserta ikut kontes di event tersebut.

Pemerintah maupun swasta kian menyadari bahwa untuk menampung komoditas koi yang makin diminati itu perlu wadah tersendiri. Sebagai contoh di Kabupaten Blitar, beberapa tahun belakangan ini yang telah berhasil mengembangkan jenis ikan koi yang memiliki harga cukup baik. Jenis ikan koi produksi Kabupaten Blitar tersebut adalah jenis asagi, hikari muji, koromo, sanke, showa, king gin rin, kowari mono, bekko, kohaku, tanco, hikari utsuri, gosiki dan utsuri mono yang harganya dapat mencapai ratusan hingga jutaan rupiah.

Menurut Dirjen Perikanan Budidaya, pada acara pembukaan acara 7th All Indonesian Young Koi Show, di Surabaya pada April 2011 lalu, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) senantiasa berupaya membangun serta menciptakan iklim usaha yang baik dengan pendekatan sistem agribisnis dari mulai penyediaan induk, sarana dan prasarana, termasuk menciptakan pola-pola kemitraan yang sehat antara swasta dan mayarakat (pembudidaya ikan, pemasar, hobbies dan eksportir yang kian hari diharapkan dapat meningkat.

Hal ini sengaja dilakukan mengingat pasar ikan hias sangat menjanjikan, Dirjen mengingatkan bahwa, dari data perdagangan ikan hias dunia tahun 2009, Indonesia baru menguasai 7,5% pangsa pasar ikan hias. Masih kalah jauh dari Singapura yang mencapai 22,5% perdagangan ikan hias dunia.

Sedangkan potensi yang ada di Indonesia sangat besar, Dirjen DJPB menjelaskan, kalau mau melihat data, potensi eskpor ikan hias Indonesia diperkirakan mencapai US $60 juta sampai US $ 65 juta. Dengan jumlah species ikan hias air tawar sebanyak 450 species dari total 1.100 species ikan hias air tawar dunia. “sedangkan untuk ikan hias air laut, Indonesia memiliki lebih dari 700 jenis species yang sebagaian besar hanya terdapat di Indonesia.

Potensi ikan hias, kata Dirjen, apabila ditangani secara serius, maka Indonesia akan mampu berbicara banayak di pasar Internasional baik untuk ikan hias air tawar maupun air laut. Oleh karena itu, KKP sangat serius untuk mengembangkan ikan hias Indonesia.

Sedangkan sentra produksi ikan hias tersebar di beberapa daerah di Indonesia, seperti Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara. “Khusus untuk ikan Koi, sentra produksi di wilayah Jawa Timur, Jawa Barat, DI Yogyakarta” kata Dirjen.

Pemerintah berharap, Asosiasi Ikan Hias Indonesia dapat menyumbangkan kontribusi pengalaman, kapabilitas dan profesionalitasnya dalam mengembangkan ikan hias Indonesia serta terus menerus melakukan upaya-upaya menggairahkan bisnis ikan hias nasional seperti kontes, pameran, bursa, perluasan area pasar dan juga dapat mengedukasi masyarakat dalam mengembangkan ikan hias secara benar melalui pelatihan pembudidayaan. Sehingga ikan hias Indonesia dapat menjadi salah satu pilar ekonomi nasional dengan pengelolaan yang baik dalam menghasilkan komoditas ikan hias yang trend di pasar. (rd)

sumber : http://www.perikanan-budidaya.kkp.go.id

Petani dan Nelayan Belajar Internet di Kaltim

Petani dan Nelayan Belajar Internet di Kaltim

Samarinda | Jumal Nasional 13 Mei 2011,hal.12

SEDIKITNYA 360 petani dan nelayan se-Indonesia akan mengikuti pelatihan pengembangan jaringan informasi agribisnis berbasis internet dalam kegiatan Pekan Nasional (Penas) Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) ke-13 di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur yang digelar pada 18-23 Juni mendatang.

Koordinator Seksi Pengembangan Jaringan Informasi Agribisnis Penas KTNA ke-13, HM Jaunar Effendi mengatakan, ke-360 petani dan nelayan tersebut yakni peserta Penas KTNA dari 33 provinsi. Masing-masing propinsi akan mengirimkan pesertanya sebanyak 10 orang. Untuk peserta lainnya yakni sebanyak 30 orang akan ditentukan oleh panitia dan KTNA Nasional,kata Jaunar ketika dihubungi Jumal Nasional pada Kamis (12/5) kemarin.

Menurutnya, pelatihan tersebut merupakan suatu kegiatan untuk peningkatan kapasitas dan komunikasi petani berbasis komputer dan internet dalam membantu para petani dan nelayan dalam berinteraksi dalam Jaringan informasi agribisnis bagi para petani dan nelayan itu sendiri. Pemateri berasal dari Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Ke menkominfo dibantu Asistensi Dinas Kominfo Provinsi Kaltim. Rusli
sumber : http://www.kkp.go.id