Minggu, 05 Desember 2010

Perkembangan tiga subsektor Budidaya

Perkembangan tiga subsektor Budidaya PDF Print E-mail

Perikanan budidaya terbagi dalam tiga subsektor, yaitu budidaya air tawar, budidaya air payau dan budidaya laut. Masing-masing subsektor memiliki karakteristik yang dibedakan dengan media air dengan salinitas tertentu. Budidaya air tawar sendiri memiliki beragam model pembudidayaan dapat berupa kolam, karamba, jaring apung dan sawah. Kolam sendiri masih dibagi dalam dua kategori, yaitu kolam air tenang dan kolam air deras. Walaupun kolam air deras sendiri hanyan ditemui di beberapa provinsi saja. Sedangkan karamba tidak dibedakan jenisnya walaupun di lapangan bisa berbeda-beda bentuk dan bahannya. Jaring apung terdiri dari karamba jaring apung biasanya terdapat di danau atau waduk dan karamba jaring tancap.

Budidaya air payau dan budidaya laut tidak sebanyak pada budidaya air tawar. Budidaya air payau hanya berupa tambak. Sementara budidaya laut dapat berupa karamba jaring apung, long line, metode rakit dan metode lepas dasar.

Perkembangan produksi dari ketiga subsektor budidaya tersebut dalam tiga tahun terakhir mengalami kenaikan kecuali untuk subsektor budidaya air payau dikarenakan adanya penurunan produksi udang akibatnya adanya penyakit yang menyebabkan kematian pada beberapa tambak udang seperti tambak udang di lampung yang merupakan penghasil udang terbesar di Indonesia.

Selama tiga tahun terakhir produksi untuk subsektor budidaya air laut mengalami peningkatan sebesar 36,84 persen per tahun, budidaya air payau mengalami penurunan sebesar -5,46 persen pada tahun 2009 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sementara untuk budidaya air tawar yang memiliki beragam jenis ikan budidayanya mengalami peningkatan sebesar 14,74 persen.

VOLUME PRODUKSI PERIKANAN BUDIDAYA, 2007 - 2009

Kenaikan tertinggi ada pada subsektor budidaya laut sebesar 36,85 persen. Kenaikan sebesar ini lebih disebabkan oleh adanya peningkatan produksi rumput laut yang cukup besar selama tiga tahun terakhir ini. Walaupun adanya penurunan produksi rumput laut di Nusa Tenggara Timur akibat adanya serangan penyakit dan pencemaran lingkungan tapi hal ini tidaklah mempengaruhi laju pertumbuhan produksi rumput laut secara nasional dikarenakan sentra-sentra penghasil rumput laut mengalami kenaikan produksi yang cukup besar utamanya pada provinsi yang terdapat di pulau sulawesi karena memang daerah di pulau sulawesi sangat cocok untuk budidaya rumput laut seperti cottonii. Kenaikan produksi rumput laut selama tiga tahun terakhir sebesar 137,25 npersen pertahun.

VOLUME PRODUKSI PERIKANAN BUDIDAYA LAUT, 2007 - 2009

Subsektor Budidaya air payau mengalami penurunan pada tahun 2009 dikarenakan adanya penurunan produksi udang. Namun, ikan bandeng yang juga menjadi ikonnya budidaya tambak selain udang mengalami kenaikan yang cukup besar yaitu sebesar 11,87 persen per tahun

VOLUME PRODUKSI PERIKANAN BUDIDAYA AIR PAYAU, 2007 - 2009

Pada subsektor budidaya air tawar, semua komoditas utama pada tahun 2009 mengalami kenaikan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kenaikan cukup fantastis selama 3 tahun terakhir dialami oleh komoditas ikan patin yaitu sebesar 92,54 persen pertahun, diikuti dengan ikan nila sebesar 26,31 persen per tahun dan ikan mas 26,31 persen per tahun.

VOLUME PRODUKSI PERIKANAN BUDIDAYA AIR TAWAR, 2007 - 2009

Secara garis besar bahwa produksi perikanan budidaya mengalami peningkatan yang sangat baik selama tiga tahun terakhir, yaitu sebesar 21,43 persen per tahun. Sementara jika dibandingkan antar tahun 2008 dan 2009 secara umum terjadi peningkatan sebagian besar kom0ditas utama. Tentunya direktorat produksi berharap tren positif akan terus berlanjut di tahun mendatang.

sumber : http://www.perikanan-budidaya.dkp.go.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar