Senin, 08 November 2010

Budi Daya Kerapu Lampung Tumbuh Pesat

Budi Daya Kerapu Lampung Tumbuh Pesat

Bandar Lampung - Dibanding pembudidayaan ikan lainnya, budi daya ikan kerapu di Provinsi Lampung terbilang belia. Namun, lonjakan produksinya luar biasa seiring tingginya harga dan pangsa pasar yang terbuka lebar.

Oleh

Syafniiajl Datuk Sinaro

Terutama dalam tiga tahun terakhir, terjadi lonjakan produksi yang luarbiasa. Pada tahun 2007 produksi ikan kerapu dari sejumlah sentra produksi di Lampung baru 83,3 ton. Jumlah itu meningkat menjadi 90 ton pada tahun 2008, dan melonjak hingga 294,59 ton pada tahun 2009 lalu," ujar Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung drh Havavo Pian kepada SH di Bandar Lampung, Kamis (4/11) siang.

Dijelaskannya, budi daya kerapu mulai tumbuh di Lampung tahun 2002 sebanyak 170 unit. Kini, jumlahnya melonjak menjadi 1.100 unit atau melonjak hingga enam kali lipat dibandingkan tahun 2002, atau meningkat 50 persen dibandingkan tahun 2007 lalu.

Untuk terus memacu produksi kerapu, menurut Kadis, pihaknya melakukan berbagai upaya. Antara lain, mempermudah perizinan melalui satu pintu, juga meningkatkan keamanan di laut. Selain itu, DKP mempermudah pemberian rekomendasi bagi pengusaha yang berminat berinvestasi pada budi daya kerapu.

Selain itu, untuk memacu investasi di sektor perikanan, Kementerian DKP sudah menghapus berbagai pungutan terhadap sektor perikanan sejak DKP dipimpin Fadel Muhammad. "Jadi tidak ada pungutan atau retribusi sama sekali terhadap pengusaha kerapu," ungkap Havavo.

Masih terkait dengan inves-tasi kerapu, Havavo menambahkan, pihaknya terus melakukan koordinasi dengan dinas terkait di kabupaten, terutama soal tata ruang untuk budi daya kerapu. Termasuk mengenai pengaturan tata letak keramba mengingat ada yang sudah cukup padat seperti di Ringgung, Kabupaten Pesa waran.

Mengingat potensi pasarnya yang terbuka luas dan harganya yang mahal, DKP Lampung menjadikan budi daya kerapu sebagai sektor unggulan sama dengan udang. Oleh karena itu, DKP serius melakukan pengembangan dan pembinaan terhadap pembudi daya agar menerapkan budi daya ikan yang baik dan menghindari penggunaan obat-obatan kimia. Demikian pula pengusaha pem-benihan diharapkan menerapkan cara-cara pembenihan ikan yang baik. Terhadap benih yang sudah menerapkan cara-cara pembenihan ikan yang baik, DKP akan memberikan sertifikat.

Sentra Budi Daya

Di tempat yang sama, Kepala Bidang Budidaya DKP Lampung Marliana menambahkan, terdapat dua kabupaten yang menjadi sentra budi daya kerapu di Lampung, yakni Kabupaten Lampung Selatan dan Kabupaten Pesawaran. Di Pesawaran, sentra kerapu terdapat di Pulau Puhawang dan Ringgung, Kecamatan Punduh Pidada. Sementara itu, di Lampung Selatan, sentra kerapu terdapat di Tanjung Putus. Lalu, yang menjadi sentra utama kerapu adalah di Ringgung yang diusahakan 38 pengusaha den-gan 718 petak.

Selain di ketiga sentra di atas, ujar Marliana, sejumlah pengusaha sudah mencoba budi daya kerapu di daerah lain, seperti di Kalianda, Lampung Selatan, namun hasilnya tidak sebagus di Teluk Lampung. Apalagi di pantai timur Lampung, Kabupaten Lampung Timur yang dasar perairannya berpasir dan lumpur serta gelombangnya kuat saat angin timur.

"Di Lampung Barat memang perairannya masih banyak karang, tetapi juga tidak cocok karena gelombangnya kuat, mengingat lokasinya yang ada di laut lepas, yakni Lautan Indonesia. Perairan yang cocok untuk budi daya kerapu adalah laut yang tidak tercemar, karangnya masih banyak dan alami, serta gelombangnya tidak begitu kuat," ujar Marliana.

Adapun lokasi lain yangmasih memungkinkan untuk pengembangan budi daya kerapu yakni di perairan sekitar Pulau Siuncai, Pulau Sebesi, dan Pulau Sebuku. Ketiga pulau . tersebut masih memiliki potensi budi daya KJA yang mencapai 50 ha.

Umumnya jenis kerapu yang dibudidayakan di Teluk Lampung adalah kerapu tikus atau biasa disebut juga kerapu bebek (Cromileptes altwelis), kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus), dan kerapu lumpur (Epinephelus spp). Dari ketiga jenis tersebut, kerapu tikus yang paling dibudidayakan banyak karena pertumbuhannya paling bagus di perairan Teluk Lampung.

Pasar kerapu dari Lampung 100% diekspor ke Singapura, China, Taiwan, dan Hong Kong. Pembeli datang langsung membawa kapal ke sentra kerapu di Lampung karena kerapu diek-spor dalam kondisi hidup. Di negara-negara yang dominan berpenduduk warga Tionghoa tersebut, ikan kerapu merupakan makanan mahal dan bergengsi.

Adapun standar ukuran kerapu ideal yang diminati importir yakni berukuran setengah kilo-gram/ekor atau dua ekor/kg. Harganya mencapai 35 hingga US$ 40 /kg. Untuk mencapai ukuran setengah kilogram, umumnya dibutuhkan waktu 18 bulan atau satu setengah tahun.

Hingga kini penyakit kerapu yang sudah terdeteksi di keramba apung di Teluk Lampung, baru Viral Necrosis Nerveus (VNN) yang disebabkan virus famili Nodaviridae. Virus ini akan merusak organ, targetnya yaitu otak dan mata ikan. "Namun dengan bimbingan yang kami berikan penyakit ini masih bisa diatasi," ujar Marliana menjelaskan.


Sumber : Sinar Harapan 07 November 2010,hal. 15

Tidak ada komentar:

Posting Komentar