Selasa, 03 Maret 2009

membran elektron Senjata Taklukkan Virus Udang

membran elektron Senjata Taklukkan Virus Udang

Alat ini dirancang khusus untuk melumpuhkan virus mematikan pada udang
Lahan tambak udang di pantai utara Pulau Jawa (pantura) kualitasnya sangat buruk. Selain tercemar oleh timbunan limbah industri dan rumah tangga, lahan-lahan tambak di sana juga mengalami penurunan kualitas akibat seringnya penggunaan lahan budidaya tanpa ada perbaikan. Bak menegakkan benang basah, upaya budidaya di lahan tersebut nyaris selalu menjumpai kegagalan. Alih-alih panen, udang tak sanggup bertahan lebih dari 20 hari.


Tapi bagi Endi MuchtarUdin, itu cerita udang. Petambak udang dari Sungai Buntu, Kecamatan Pedes, Kabupaten Karawang, Jawa Barat ini berhasil mematahkan anggapan bahwa pantura tak bisa untuk budidaya udang. Tiga kali panen berturut-turut, Endi menangguk untung besar budidaya udang di lokasi tambak yang sebelumnya mangkrak (idle/tambak rusak dan tak terpakai).

Hebatnya lagi, jenis udang yang dibudidayakan lelaki paruh baya tersebut adalah windu (Penaeus monodon), yang tingkat kesulitan budidaya lebih tinggi dibandingkan jenis vaname (Penaeus vannamei). Rahasianya, kata Endi, menggunakan senjata ME-1 (membran elektron 1)
untuk melawan virus. Alat ini mampu melumpuhkan virus-virus penyebab penyakit pada udang. Beragam virus yang selama ini menghantui para petambak udang seperti White Spot Syndrome Virus (WSSV), Taura Syndrome Virus (TSV), Infectious Hypodermal Hemathopoetic Necrosis Virus (IHHNV), Infectious Myonecrosis Virus (IMNV) dan Virus Nervous Necrosis (VNN) akan bisa ditaklukkan.



Tembak DNA Virus
Membran elektron adalah suatu instrumen pembangkit elektron kecepatan tinggi yang dirancang khusus untuk mengurangi jumlah virus dalam air. Alat ini terdiri atas dua bagian. Bagian pertama disebut generator elektron (box driver generator electrons) yang berfungsi membangkitkan elektron berkecepatan tinggi. Bagian dua adalah elektroda kassa berlapis plating yang dilekatkan bagian dalam pipa paralon. Fungsinya membuat zona kaya elektron dalam air. Zona elektron yang dihasilkan tersebut akan mengganggu ikatan protein pada virus yang melewatinya. Sehingga air yang mengalir melalui zona ini akan bebas virus.


Alas dipasang pada pipa tandon air di tambak dan bekerja ketika proses pengisian air. "Prinsipnya adalah merusak DNA virus di dalam air yang akan masuk ke tambak," papar Endi. Cara kerjanya, listrik berdaya maksimum 75 watt (untuk 1 unit ME-1) dialirkan ke elektroda kassa sehingga membentuk membran elektron. Air yang akan masuk tambak diatur melewati membran tersebut dengan debit air maksimum 25 liter per detik. Jika ada virus yang lewat, maka DNA-nya akan tertembak oleh elektron hingga rangkaiannya rusak.


Menurut Endi, 1 unit ME-1 berdiameter paralon 6 - 8 inchi bisa digunakan untuk tambak seluas 5 hektar. Biaya pembuatan satu unit ME-1 berkisar Rp 10 juta. Masa pakai kasa sampai 8 bulan. atau dua kali siklus. Tapi akan lebih bagus apabila setiap siklus dilakukan pergantian kassa yang biayanya tak lebih Rp 500 ribu. Cara ini akan membuat hasil kerja ME-1 maksimal.


Endi mengaku, dirinya tidak sendirian membuat ME-1, tapi bersama-sama dengan Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Laut. Air Payau dan Udang (BPBPLAPU) Karawang. Di tempat inilah. Endi biasa mencari jawab atas permasalahan yang dihadapinya dalam budidaya udang.


Dede Sunendar, Kepala BPBPLAPU menyatakan, teknologi membran elektron terbukti mampu menanggulangi virus. "Di tempat kami ada tandon yang sudah terdeteksi positif terkena WSSV. Tandon tersebut dipasangi dengan membran elektron dan setelah itu air yang keluar dari tandon menjadi bebas virus," kata Dede.


Menurut dia, tambak-tambak di kawasan BPBPLAPU selama ini dinyatakan tak bisa lagi ditanami udang. Namun dengan ME-1, kini tambak-tambak tersebut bisa berproduksi kembali dengan hasil yang memuaskan. BPBPLAPU menggunakan ME-1 di dua tempat berbeda. Pada lahan tambak vaname sistem intensif seluas 4,2 hektar, padat tebar mencapai 360 ribu, panen mencapai 3,2 ton. Sementara lahan seluas 2,4 hektar, padat tebar 75 ribu,
sistem polikultur antara udang vaname dan rumput laut (Gracilaria), bisa panen 8,2 kuintal udang.


Endi dan pihak BPBPLAPU berniat akan terus menyempurnakan ME-1 ini. Misalnya, kata Endi, melengkapi ME-1 dengan kecepatan frekuensi sehingga hasilnya lebih optimal.
Bacillus Sungai Buntus
Namun, balk Endi dan Dede
mengingatkan, keberhasilan budidaya udang windu maupun vaname di tambak
mangkrak bukan semata karena adanya ME-1, melainkan juga harus menerapkan
sistem probiotik yang bakterinya diambil dari tambak setempat. Endi dan BPBPLAPU juga telah berhasil mengembangkan

bakteri probiotik yang diisolasi dari tambaknya sendiri (TROBOS edisi 103, April 2008). Bakteri ini akan bisa menghancurkan kelebihan (sisa-sisa)
bahan organik tambak yang jadi penyebab penurunan kualitas tambak.
Untuk sementara, bakteri probiotik yang berhasil diisolasi dari tambak mereka adalah jenis Bacillus dan Thiobacillus subtillis. "Namanya Bacillus sungai buntus," kata Endi berseloroh menyebut Hama bakteri yang diisolasi dari tambaknya.
Kepala Seksi Pengujian BPBPLAPU, Man Riswan menyebutkan, penggunaan probiotik dilakukan secara terus menerus.
Pemberiannya dilakukan setelah
1x24 jam proses pengkulturan
bakteri. Untuk pengkulturan
bakteri Bacillus, BPBPLAPU
menggunakan formula 1 liter
Bacillus, 1 kg pakan, 1 kg gula
dan 100 liter air tawar. Probiotik
Bacillus ini berperan dalam
menyerap kandungan protein
pakan. Artinya probiotik ini akan
berkontribusi dalam ketersediaan
protein dalam tambak.

Sementarauntuk Thiobacillus, formulanya terdiri atas 1 liter Thiobacillus, 1 kg nutrisi, 1 kg gula dan 100 liter air tawar. Untuk yang jenis terakhir berperan dalam mengurangi kadar H,S dalam tambak dan untuk mencerahkan warna air.
Saat persiapan lahan (sebelum diisi air) probiotik yang diberikan lebih banyak. Misalnya pada tambak di BPBPLAPU seluas 1600 m2, probiotik yang diberikan mencapai 40 liter hasil kultur (campuran formula). Sedangkan ketika udang sudah masuk tambak, dosis dikurangi menjadi 15 - 20 liter untuk lahan yang sama.

Disamping penggunaan probiotik, Kepala Seksi Aplikasi Teknologi Budidaya Bandeng BPBPLAPU, Adang Solihin menambahkan, budidaya udang di tambak mangkrakjuga akan sukses dengan memberikan perlakuan khusus saat pengeringan lahan. Yaitu membakar jerami (atau bahan lain) di atas lahan untuk mematikan bakteri dan virus yang ada di tambak tersebut. Cara ini juga bisa digunakan untuk menambah unsur karbon dalam tambak. Pihak BPBPLAPU dalam hal ini menghabiskan sekitar 6 ton jerami untuk tambak seluas 4,2 hektar. Menurut Adang, pembakaran jerami terutama diterapkan untuk lahan tambak yang berlumpur.

sumber : Trobos 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar