Tampilkan postingan dengan label UDANG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UDANG. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 April 2012

Udang Kipas | Udang Lipan | Udang Ronggeng | Mantis Shirmp

Udang Lipan


Udang kipas, Atau kadang juga di sebut udang Lipan atau Udang Ronggeng ( Mantis Shirmp dalam bahasa Inggris alias Udang Belalang) itu sebutan para masyarakat pesisir pantai. bagi masyarakat pesisir pantai tidak heran lagi dengan udang kipas seperti ini. selain enak dimakan udang ini konon katanya bisa menyembuhkan penyakit yang tidak berhenti-henti buang air kecil. dan untuk mengobati ngompol  pada anak kecil. Udang ini hidup di air asin, pesisir pantai dan di tambak-tambak yang perairannya air asin, panjang udang kipas ini sekitar 15cm sampai 20cm. Sayangnya udang seperti ini tidak laku di pasaran ikan, selain peminatnya sedikit udang ini tidak banyak dagingnya untuk dikonsumsi, dan di anggap aneh bagi yang belum sama sekali melihat / mengkonsumsinya,

padahal di berbagai negara lainnya udang jenis ini sangatlah populer, seperti di Jepang, udang Kipas/udang Lipan ini merupakan bahan baku untuk membuat masakan Shasami (dalam bahasa jepang di sebut shako (蝦蛄))

di China udang ini juga populer sebagai makanan yang cukup mahal, orang Canton menyebutnya "pissing shrimp" (攋尿蝦,lài niào xiā, dalam bahasa Mandarin dan laaih liu hā dalam Bahasa Canton Modern)

Udang Jenis ini juga sangat populer di Philiphina, Thailand, juga sangat populer di negara2 mediterania sampai ke Eropa  

menurut catatan dari beberapa sumber, tidak kurang dari 400 spesies jenis udang ini di seluruh dunia, ciri khas udang ini ialah tubuhnya yang panjang dan mempunyai capit terbalik yang menghadap ke dalam seperti belalang

Minggu, 08 April 2012

Budidaya Udang


Udang merupakan makanan yang banyak digemari masyarakat. Harganya  tergolong  tidak murah, budidaya udang merupakan salah satu  bisnis yang menguntungkan. Namun keberhasilan budidaya udang dapat tercapai jika dilakukan dengan cara yang tepat. Nah berikut cara dan apa saja yang diperlukan dalam Budidaya Udang:


1. Lokasi Budidaya Udang

Lokasi yang cocok untuk tambak udang yaitu pada daerah pantai yang mempunyai tanah bertekstur liat atau liat berpasir yang mudah dipadatkan sehingga mampu menahan air dan tidak mudah pecah.
- Air yang baik yaitu air payau dengan salinitas 0-33 ppt dengan suhu optimal 26 - 300C dan bebas dari pencemaran bahan kimia berbahaya.
- Mempunyai saluran air masuk/inlet dan saluran air keluar/outlet yang terpisah.
- Mudah mendapatkan sarana produksi yaitu benur, pakan, pupuk , obat-obatan dan lain-lain.

2.Bibit (benur)

Benur yang baik mempunyai tingkat kehidupan (Survival Rate/SR) yang tinggi, daya adaptasi terhadap perubahan lingkungan yang tinggi, berwarna jelas, sehat dan mempunyai alat tubuh yang lengkap. Uji kualitas benur dapat dilakukan secara sederhana, yaitu letakkan sejumlah benur dalam wadah panci atau baskom yang diberi air, aduk air dengan cukup kencang selama 1-3 menit. Benur yang baik dan sehat akan tahan terhadap adukan tersebut dengan berenang melawan arus putaran air, dan setelah arus berhenti, benur tetap aktif bergerak.

3.Pakan Udang

Pakan udang ada dua macam, yaitu pakan alami yang terdiri dari plankton, siput-siput kecil, cacing kecil, anak serangga dan detritus (sisa hewan dan tumbuhan yang membusuk). Pakan yang lain adalah pakan buatan berupa pelet.  Karena dengan padat penebaran yang tinggi, pakan alami yang ada tidak akan cukup yang mengakibatkan pertumbuhan udang terhambat dan akan timbul sifat kanibalisme.
Pelet udang dibedakan dengan penomoran yang berbeda sesuai dengan pertumbuhan udang yang normal.
a. Umur 1-10 hari pakan 01
b. Umur 11-15 hari campuran 01 dengan 02
c. Umur 16-30 hari pakan 02
d. Umur 30-35 campuran 02 dengan 03
e. Umur 36-50 hari pakan 03
f. Umur 51-55 campuran 03 dengan 04 atau 04S
(jika memakai 04S, diberikan hingga umur 70 hari).
g. Umur 55 hingga panen pakan 04, jika pada umur 85 hari size rata-rata mencapai 50, digunakan pakan 05 hingga panen.
Kebutuhan pakan awal untuk setiap 100.000 ekor adalah 1 kg, selanjutnya tiap 7 hari sekali ditambah 1 kg hingga umur 30 hari.
Untuk meningkatkan pertumbuhan udang, perlu penambahan nutrisi lengkap dalam pakan yaitu dengan menambahkan POC NASA yang mengandung mineral-mineral penting, protein, lemak dan vitamin dengan dosis 5 cc/kg pakan untuk umur dibwah 60 hari dan setelah itu 10 cc/kg pakan hingga panen.

4.Pengisian Air Kolam

Setelah dibiarkan 3 hari, air(tawar) dimasukkan ke tambak. Pemasukan air yang pertama setinggi 10-25 cm dan biarkan beberapa hari, agar bibit-bibit plankton tumbuh setelah dipupuk dengan TON. Setelah itu air dimasukkan hingga minimal 80 cm. Perlakuan Saponen bisa dilakukan untuk membunuh ikan yang masuk ke tambak. Untuk menyuburkan plankton sebelum benur ditebar, air dikapur dengan Dolomit atau Zeolit dengan dosis 600 kg/ha.

5.Penebaran Benur Udang

 Tebar benur dilakukan setelah air benar-benar siap, yaitu setelah plankton tumbuh yang ditandai dengan kecerahan air kurang lebih 30-40 cm. Penebaran benur dilakukan dengan hati-hati, karena benur masih lemah dan mudah stress pada lingkungan yang baru. Tahap penebaran benur adalah :
- Adaptasi suhu. Plastik wadah benur direndam selama 15 30 menit, agar terjadi penyesuaian suhu antara air di kolam dan di dalam plastik.
- Adaptasi udara. Plastik dibuka dan dilipat pada bagian ujungnya. Biarkan terbuka dan terapung selama 15 30 menit agar terjadi pertukaran udara dari udara bebas dengan udara dalam air di plastik.
- Adaptasi kadar garam/salinitas. Dilakukan dengan cara memercikkan air tambak ke dalam plastik selama 10 menit. Tujuannya agar terjadi percampuran air yang berbeda salinitasnya, sehingga benur dapat menyesuaikan dengan salinitas air tambak.
- Pengeluaran benur. Dilakukan dengan memasukkan sebagian ujung plastik ke air tambak. Biarkan benur keluar sendiri ke air tambak. 

6.Pemeliharaan Udang

Pada awal budidaya, sebaiknya di daerah penebaran benur disekat dengan waring atau hapa, untuk memudahkan pemberian pakan. Sekat tersebut dapat diperluas sesuai dengan perkembangan udang, setelah 1 minggu sekat dapat dibuka. Pada bulan pertama yang diperhatikan kualitas air harus selalu stabil. Penambahan atau pergantian air dilakukan dengan hati-hati karena udang masih rentan terhadap perubahan kondisi air yang drastis. Untuk menjaga kestabilan air, setiap penambahan air baru diberi perlakuan TON dengan dosis 1 - 2 botol TON/ha untuk menumbuhkan dan menyuburkan plankton serta menetralkan bahan-bahan beracun dari luar tambak.
Mulai umur 30 hari dilakukan sampling untuk mengetahui pekembanghan udang melalui pertambahan berat udang. Udang yang normal pada umur 30 hari sudah mencapai size (jumlah udang/kg) 250-300. Untuk selanjutnya sampling dilakukan tiap 7-10 hari sekali. Produksi bahan organik terlarut yang berasa dari kotoran dan sisa pakan sudah cukup tinggi, oleh karena itu sebaiknya air diberi perlakuan kapur Zeolit setiap beberapa hari sekali dengan dosis 400 kg/ha. Pada setiap pergantian atau penambahan air baru tetap diberi perlakuan TON.
Mulai umur 60 hari ke atas, yang harus diperhatikan adalah manajemen kualitas air dan kontrol terhadap kondisi udang. Setiap menunjukkkan kondisi air yang jelek (ditandai dengan warna keruh, kecerahan rendah) secepatnya dilakukan pergantian air dan perlakuan TON 1-2 botol/ha. Jika konsentrasi bahan organik dalam tambak yang semakin tinggi, menyebabkan kualitas air/lingkungan hidup udang juga semakin menurun, akibatnya udang mudah mengalami stres, yang ditandai dengan tidak mau makan, kotor dan diam di sudut-sudut tambak, yang dapat menyebabkan terjadinya kanibalisme.

7.Pemanenan Udang

Udang dipanen apabila telah tercapainya bobot panen (panen normal) dan karena terserang penyakit (panen emergency). Panen normal biasanya dilakukan pada umur kurang lebih 120 hari, dengan size normal rata-rata 40 - 50. Sedang panen emergency dilakukan jika udang terserang penyakit yang ganas dalam skala luas (misalnya SEMBV/bintik putih). Karena jika tidak segera dipanen, udang akan habis/mati.
Udang yang dipanen dengan ciri-ciri yang baik adalah yang berukuran besar, kulit keras, bersih, licin, bersinar, alat tubuh lengkap, masih hidup dan segar. Penangkapan udang pada saat panen dapat dilakukan dengan jala tebar atau jala tarik dan diambil dengan tangan. Saat panen yang baik yaitu malam atau dini hari, agar udang tidak terkena panas sinar matahari sehingga udang yang sudah mati tidak cepat  merah/rusak.

8. Penyakit dan Penanganannya

Agar budidaya Udang tidak Merugi perlu dilakukan upaya penanganan terhadap penyakit.Beberapa penyakit yang sering menyerang udang adalah ;
  •   Nekrosis. Disebabkan oleh tingginya konsentrasi bakteri dalam air tambak. Gejala yang nampak yaitu adanya kerusakan/luka yang berwarna hitam pada alat tubuh, terutama pada ekor. Cara mengatasinya adalah dengan penggantian air sebanyak-banyaknya ditambah perlakuan TON 1-2 botol/ha, sedangkan pada udang dirangsang untuk segera melakukan ganti kulit (Molting) dengan pemberian saponen atau dengan pengapuran.
  •   Insang Merah. Ditandai dengan terbentuknya warna merah pada insang. Disebabkan tingginya keasaman air tambak, sehingga cara mengatasinya dengan penebaran kapur pada kolam budidaya. Pengolahan lahan juga harus ditingkatkan kualitasnya
  • Bintik Putih. Penyakit inilah yang menjadi penyebab sebagian besar kegagalan budidaya udang. Disebabkan oleh infeksi virus SEMBV (Systemic Ectodermal Mesodermal Baculo Virus). Serangannya sangat cepat, dalam beberapa jam saja seluruh populasi udang dalam satu kolam dapat mati. Gejalanya : jika udang masih hidup, berenang tidak teratur di permukaan dan jika menabrak tanggul langsung mati, adanya bintik putih di cangkang (Carapace), sangat peka terhadap perubahan lingkungan. Virus dapat berkembang biak dan menyebar lewat inang, yaitu kepiting dan udang liar, terutama udang putih. Belum ada obat untuk penyakit ini, cara mengatasinya adalah dengan diusahakan agar tidak ada kepiting dan udang-udang liar masuk ke kolam budidaya. Kestabilan ekosistem tambak juga harus dijaga agar udang tidak stress dan daya tahan tinggi. Sehingga walaupun telah terinfeksi virus, udang tetap mampu hidup sampai cukup besar untuk dipanen. Untuk menjaga kestabilan ekosistem tambak tersebut tambak perlu dipupuk dengan TON.
  •  Bintik Hitam/Black Spot. Disebabkan oleh virus Monodon Baculo Virus (MBV). Tanda yang nampak yaitu terdapat bintik-bintik hitam di cangkang dan biasanya diikuti dengan infeksi bakteri, sehingga gejala lain yang tampak yaitu adanya kerusakan alat tubuh udang. Cara mencegah : dengan selalu menjaga kualitas air dan kebersihan dasar tambak.
  •  Kotoran Putih/mencret. Disebabkan oleh tingginya konsentrasi kotoran dan gas amoniak dalam tambak. Gejala : mudah dilihat, yaitu adanya kotoran putih di daerah pojok tambak (sesuai arah angin), juga diikuti dengan penurunan nafsu makan sehingga dalam waktu yang lama dapat menyebabkan kematian. Cara mencegah : jaga kualitas air dan dilakukan pengeluaran kotoran dasar tambak/siphon secara rutin.
Penyakit yang sering ditemukan pada budidaya udang sebagian besar disebabkan oleh penurunan kualitas kolam . Oleh karena itu perlakuan TON sangat diperlukan baik pada saat pengolahan lahan maupun saat pemasukan air baru.


Selamat Mencoba sukses berwirausaha !
Mau tau info menarik lainnya? klik disini

Jumat, 06 April 2012

Budidaya Udang Vanamei | Pengelolaan Pakan

Pemeliharaan secara intensif dewasa ini pada prinsipnya hanya mengandalkan makanan tambahan berupa pellet atau pellet yang dihancurkan menjadi bubuk dan butiran. Makanan yang diberikan akan menentukan pertumbuhan udang yang dipelihara (Deptan, 1996). Pengelolaan pakan meliputi: pemilihan jenis pakan, program pemberian pakan, pemberian pakan, waktu pemberian pakan, ancho, dan penyimpanan pakan. 

a. Pemilihan Jenis Pakan 
Pemilihan jenis pakan diperlukan sesuai dengan tingkatan umur dan berat udang. Pakan alami diperlukan udang pada awal penebaran. Dominasi plankton jenis Clorophyta dan Diatome adalah pakan alami yang baik, sedangkan pakan alami yang merugikan adalah Dinoflagellata dan Blue Green Algae. Pakan buatan (pellet) yang digunakan harus yang sesuai dengan kebutuhan tubuh udang berdasarkan berat udang. Pemberian pakan buatan dilakukan sejak penebaran (Aquaculture Division PT. Centralpertiwi Bahari, 2003). Kemudian Darmono (1991) mengatakan makanan udang dewasa dari ukuran post larva sampai panen biasanya adalah formula yang mempunyai komposisi protein, karbohidrat, lemak dan vitamin serta mineral yang tertentu. Komersialisasi makanan yang memiliki formula pakan sendiri - sendiri, dengan penganalisaan menunjukkan sebagai berikut protein kasar (5,00%), karbohidrat (3,60%), lemak (5,00%), abu (18,80%), dan air (5,00%). Penggunaan bahan protein yang bermutu sangat disarankan untuk mencegah penyakit defisiensi asam amino, sehingga dalam memilih bahan pakan protein harus memikirkan mutu kandungan asam amino essensialnya. 

b. Program Pemberian Pakan 
Aquaculture Division PT. Centralpertiwi Bahari (2003) mengatakan pemberian pakan pada udang Vannamei dibagi menjadi 2 pemberian pakan yaitu pemberian pakan pada bulan pertama (blind feeding) dan pemberian pakan pada bulan selanjutnya. Pemberian pakan pada bulan pertama dilaksanakan blind feeding mulai DOC (Day Of Culture) 1 sampai DOC 30. Kemudian dilanjutkan dengan pemberian pakan pada bulan selanjutnya yang didasarkan dengan nasfu makan udang. Nafsu makan udang dilihat berdasarkan skoring anco. Sedangkan menurut Yukasano (2000), blind feeding adalah pemberian pakan terhadap udang secara maksimal. Pelaksanaan blind feeding dilakukan mulai dari DOC 1 sampai DOC 40. Pada saat blind feeding, pemberian pakan tidak mengalami pengurangan, walaupun pada kenyataannya udang tidak mau makan. Hal ini dimaksudkan untuk pembentukan air tambak dan tidak membuat FCR tinggi. Menurut Aquaculture Division PT. Centralpertiwi Bahari (2003), pemberian pakan udang setelah blind feeding, dilakukan berdasarkan nafsu makan udang. Hal yang perlu diperhatikan dalam program pemberian pakan dengan skoring anco yaitu FR, FCR dan nafsu makan udang. FR (feeding rate) yaitu presentasi yang digunakan untuk mencapai pertumbuhan optimal dan pemberian pakan yang tepat. FCR merupakan perbandingan antara jumlah pakan yang diberikan dengan jumlah biomassa udang yang dihasilkan. Nafsu udang makan sangat mempengaruhi dalam pembuatan program pemberian pakan udang. Hal yang mempengaruhi nafsu makan udang antara lain kondisi kualitas air, cuaca, kondisi dasar tambak yang kotor, suhu, kondisi pakan, periode moulting massal, penyakit, dan teknik pengoplosan pakan saat pergantian nomor pakan. 

c. Pemberian Pakan 
 Pemberian pakan ditebar di feeding area. Feeding area adalah bagian dasar tambak yang digunakan sebagai sasaran penebaran pakan dan dikondisikan selalu dalam keadaan bersih. Untuk keperluan itu dipasang kincir untuk mengumpulkan kotoran di dasar tambak agar tersentralisasi dan mudah dibersihkan/disipon. Feeding area ini memiliki lokasi yang berbeda sesuai dengan perkembangan pertumbuhan udang (Aquaculture Division PT. Centralpertiwi Bahari, 2003).

Kamis, 05 April 2012

Budidaya Udang Vanamei | Pengelolaan Kualitas Air

a. Pengisian air budidaya
Air media budidaya diambil dari air laut dengan menggunakan pompa. Kemudian air masuk dalam petakan tandon yang berukuran 0,7 ha. Petak tandon yang berjumlah satu petak digunakan untuk mengairi 3 unit yaitu unit B, unit C, dan unit D. Pada petak tandon diberikan sejenis ikan-ikanan seperti bandeng (Chanos chanos) dan tanpa ada perlakuan khusus. Pada awal pengisian air untuk budidaya dilakukan bersamaan dengan pemberantasan hama dan penyakit pada tahapan persiapan lahan. Pada saluran air dipasang saringan yang terbuat dari waring. Air dimasukkan ke dalam petakan dengan ketinggian air 120 - 150 cm dari dasar tambak. Selama pemeliharaan udang sampai DOC (Day of Culture) 30 hari, air tidak mengalami pergantian. Setelah umur 30 hari, penambahan air dilakukan seiring dengan kegiatan pembuangan lumpur dan kotoran melalui central drain dilakukan. Pengisian air akan dilakukan jika air berkurang setinggi 30 cm dari permukaan air normal. Sistem budidaya udang Vannamei yang digunakan adalah sistem pergantian air minimal (Less Water Exchange-LWE).
Mengenai pasok air media budidaya sesuai dengan pendapat DKP (2005), bahwa ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemasukan air laut ke tambak antara lain adalah :
1). Penggunaan saringan halus berlapis pada setiap pipa atau pintu pasok air untuk mencegah masuknya carier ke dalam petakan tandon.
2). Penggunaan petak tandon sebagai sumber pasokan air budidaya.
3). Air di petak tandon dapat didesinfeksi biofiltrasi.
Tidak dilakukan treatment pada tandon lebih disebabkan karena dimungkinkan perairan laut selatan belum mengalami pencemaran. Tandonisasi bertujuan untuk mengendapkan air laut dan menyalurkan air ke petakan tambak.

Rabu, 04 April 2012

Budidaya Udang Vanamei | Penebaran Benur

a. Pemilihan benur

Benur yang digunakan adalah benur yang berasal dari hasil pemijahan kedua (F2) dari induk impor dan ukuran benur berkisar antara PL 9 - 14. Benur telah lulus dari tes uji PCR dengan hasil negatif dari WSSV, IHHNV, IMNV, dan TSV. Dengan tes uji PCR sudah dipastikan bahwa benur tersebut adalah benur yang berkualitas. Benur yang baik diketahui dengan cara pergerakan udang pada waskom dan shock salinity. Penilaian benur dengan pengamatan pergerakan udang dilakukan pada waskom. Pada waskom, air akan diputar sehingga membentuk arus. Benur yang baik yaitu benur yang melawan arus dan tidak menggerombol. Shock salinity dilakukan dengan cara pemindahan sampel benur pada air tawar selama 15 menit kemudian dikembalikan ke air laut. Benur dikatakan baik apabila benur pada shock salinity tidak ada benur yang mati. Pada kegiataan packing, juga dapat dilihat kualitas benur. Benur yang baik tidak akan menggerombol melainkan menyebar di seluruh kantong benur.

Packing benur menggunakan kantong plastik dan air yang bersuhu 23-240C dengan perbandingan air dan oksigen 1:2. Untuk menanggulangi stress selama perjalanan diberikan sejenis karbon ke dalam kantong benur. Setelah pemilihan benur, kemudian benur disampling dengan menghitung 2-4 kantong benur yang sudah dipacking. Hasil perhitungan tersebut akan diberikan kode, maka setiap kode akan mempunyai jumlah sendiri-sendiri sesuai dengan hitungan samplingnya. Kantong benur yang sudah dihitung dimasukan ke dalam kardus yang kemudian langsung ditata ke dalam kendaraan pengangkut benur. Sebuah kardus berisi 10 kantong benur. Setiap benur yang dikirim akan diberikan potongan 10 % dari jumlah benur tiap kode box untuk resiko dalam perjalanan. Adapun pengamatan kualitas benur melalui pergerakan benur dalam diwaskom dapat dilihat pada Gambar

Gambar. Pengamatan Benur dalam Waskom

Penebaran benur dilakukan sore hari dan malam hari. Hal tersebut dapat ditentukan dengan penjadwalan pengiriman benur. Benur yang dikirim disesuaikan dengan kualitas air tambak sehingga udang tidak terlalu strees dalam penebaran benur. Pada saat benur datang, maka akan dilakukan pengecekan dan perhitungan kembali pada kantong benur. Pengecekan dilakukan secara visual dengan mengamati kantong benur ada yang rusak atau bocor dan juga mengamati benur yang berada dalam kantong benur. Penghitungan benur kembali atau biasa disebut hitungan tambak dilakukan dengan mengambil secara acak 4 kantong dari tiap-tiap kode. Sedangkan untuk benur yang lainnya langsung dibongkar dari kardus yang kemudian kantong benur dimasukkan dalam petakan tambak untuk proses aklimatisasi. Kantong benur yang dimasukkan dalam petakan masih dalam keadaan tertutup. Hasil perhitungan dari tiap-tiap kantong kemudian dirata-rata dan kemudian dichek dengan jumlah hitungan hatchery yang sudah mengalami potongan dari perjalanan (hitungan netto). Hasil tersebut akan segera diberitahukan kepada pihak hatchery apabila ada kantong benur yang rusak atau bocor dan hitungan tambak berada dibawah hitungan netto hatchery. Pihak akan mengganti kantong benur yang bocor dan penambahan jumlah benur jika ada kesalahan dalam perhitungan hatchery. Hal tersebut dilakukan untuk melihat kualitas benur dan padat tebar yang berada dilapangan sehingga diharapkan tidak ada pihak yang dirugikan.

b. Aklimatisasi

Aklimatisasi dilakukan secara konvensional. Proses aklimatisasi ada 2 yaitu aklimatisasi suhu dan aklimatisasi salinitas. Benur yang dimasukkan dalam petakan tambak dibiarkan mengapung selama 30 menit untuk penyesuaian terhadap suhu. Kemudian kantong benur dibuka dan dimasukkan air tambak sedikit demi sedikit untuk penyesuaian salinitas. Pada waktu membuka kantong benur ada 3 orang yang masuk dalam petakan tambak. Apabila kantong benur sudah terbuka semua, maka benur dapat dilepaskan ke petakan tambak. Benur ditebar dengan kepadatan 110 – 160 ekor/m2. Padat tebar pada petakan tambak CV. Daun Prima unit D ada yang mencapai 160 ekor/m2. Hal ini disebabkan karena jumlah benur hitungan tambak lebih banyak daripada jumlah benur hitungan hatchery sehingga menjadikan penebaran yang tinggi.

Selasa, 03 April 2012

Budidaya Udang Vanamei | Persiapan Budidaya Udang Vaname

1. Perbaikan Lahan
Kegiatan perbaikan lahan pada tambak meliputi perbaikan konstruksi dan peralatan tambak, pengeringan tambak, pengisian air, pemberantasan hama dan penyakit dan penumbuhan plankton.
a. Perbaikan konstruksi dan peralatan tambak
Selama kegiatan budidaya, kontruksi dan peralatan pasti mengalami perubahan-perubahan fisik. Oleh karena itu perlu dilakukan perbaikan konstruksi dan peralatan tambak sebelum kegiatan budidaya dimulai kembali. Konstruksi tambak yang rusak meliputi karpet yang berlubang dan karpet yang terbuka jahitanya. Untuk mengatasi karpet yang berlubang, karpet akan ditambal dan dijahit. Sedangkan yang terbuka jahitannya dilakukan penjahitan ulang. Alat yang digunakan dalam menjahit karpet adalah jarum bago dan benang nilon.
Perbaikan peralatan tambak yang rusak meliputi jembatan ancho yang rusak, ancho yang rusak, kincir, dan saluran pipa supercharge. Perbaikan peralatan dilakukan disesuaikan dengan seberapa besar kerusakannya, apabila sudah tidak dapat diperbaiki maka dilakukan pengadaan kembali peralatan tambak. Setelah perbaikan peralatan maka peralatan ditempatkan di dalam tambak dan siap untuk digunakan.
Perbaikan konstruksi dan peralatan tambak. Pada proses budidaya berlangsung, pasti terjadi kerusakan pada konstruksi dan peralatan tambak. Hal tersebut harus segera diatasi agar dapat mempelancar proses budidaya. Adapun salah satu kegiatan perbaikan peralatan tambak dapat dilihat pada Gambar

b. Pengeringan lahan
Pengeringan lahan dilakukan dengan membersihkan tambak dari trisipan (Faunus sp) dan pengangkatan pasir dan lumpur. Kegiatan pembersihan tambak dilakukan dengan cara menyemprotkan air ke dasar dan dinding petakan. Alat yang digunakan untuk pembersihan tambak adalah sabit, sapu lidi, selang spiral, ember dan tempat pembuangan untuk trisipan (Faunus sp). Proses pengeringan lahan berlangsung selama 3-4 hari.

c. Pengisian air
Pengisian air pada tahap persiapan awal dilakukan sebanyak 2 kali. Pada pengisian air pertama ditujukan untuk pencucian tambak. Pencucian tambak dilakukan dengan menggunakan 1 ppm kaporit [CaCl(C03)]. Ketinggian air waktu pencucian tambak adalah 0,3 m dari dasar tambak. Waktu pemberian kaporit adalah sore hari agar reaksi berjalan optimal. Pencucian tambak dilakukan sehari semalam, kemudian air dibuang. Kegiatan pencucian tambak yang menggunakan kaporit tidak sesuai dengan pendapat Yukasano (2001), yaitu pencucian tambak menggunakan Nuvan/Booster/Saprofon. Penggunaan kaporit dirasa sudah cukup dalam proses pencucian tambak.
Pengisian air yang kedua ditujukan untuk pemberantasan hama penyakit dan air digunakan untuk media budidaya. Ketinggian air untuk pengisian yang kedua adalah sekitar 1,2 m dari dasar tambak atau sesuai kemampuan daya tampung air petakan tambak tersebut.
d. Pemberantasan hama dan penyakit
Pemberantasan hama dan penyakit dilakukan setelah pencucian tambak. Pemberantasan hama dan penyakit dengan menggunakan bestacin sebanyak 10 liter/ha. Pemberian bestacin dilakukan pada sore hari. Aplikasi Bestacin dilakukan 10 hari sebelum penebaran benur. Hal ini bertujuan agar residu dari Bestacin bisa terurai. Setelah aplikasi Bestacin, kincir dihidupkan selama 3 jam. Pemberantasan hama dan penyakit dilakukan selama 1 minggu dengan membiarkan air tambak. Setelah itu, air tambak ini akan dijadikan air media untuk pembesaran udang.
Penggunaan bestacin dalam tahap pemberantasan hama dapat juga digunakan saponin dan kaporit dalam tahap pemberantasan hama dan penyakit. Bestasin merupakan sejenis insektisida aktif yang dapat membunuh jenis ikan-ikanan, kepiting dan udang-udangan. Aplikasi Bestasin yang dilakukan 10 hari sebelum penebaran benur bertujuan agar residu dari bestacin bisa teruai.
e. Penumbuhan plankton
Penumbuhan plankton pada persiapan lahan dilakukan dengan cara fermentasi dan aplikasi probiotik. Penumbuhan plankton dilakukan setelah air budidaya dimasukan. Fermentasi yang dibuat dengan campuran 20 liter molase dengan 2 kg pakan udang bentuk serbuk. Penebaran hasil fermentasi dilakukan dengan aplikasi probiotik. Dosis aplikasi probiotik adalah 40 liter per 2 hari. Penebaran fermentasi dan probiotik dilakukan pada pagi hari. Pemberian fermentasi dan probiotik dilakukan 3 hari sebelum penebaran benur. Selama 3 hari kincir dinyalakan 2 buah untuk membantu pengadukan.
Penumbuhan plankton dengan menggunakan fermentasi. Hal ini diharapkan fermentasi dapat langsung diuraikan oleh probiotik sehingga menghasilkan unsur hara yang diperlukan untuk tumbuhnya plankton. Tetapi dapat juga penumbuhan plankton menggunakan pupuk buatan. Penggunaan pupuk buatan dalam tahap pemupukan ditakutkan yang tumbuh adalah lumut sutra (Enteromorpha sp). Lumut sutra (Enteromorpha sp) dapat menjerat benur udang yang mencari makan, sehingga akan mengakibatkan kematian udang

Minggu, 18 Maret 2012

Teknik Pemijahan Udang Galah | Giant Fresh Water (Macrobrachium rosenbergii de Man.)

TEKNIK PEMIJAHAN UDANG GALAH / GIANT FRESH WATER
(Macrobrachium rosenbergii de Man.)



Nama : Rahma Nuraini
NIM : 10604082

Udang galah merupakan udang air tawar yang berukuran cukup besar dan rasa yang lezat
sehingga memiliki nilai ekonomis yang tinggi baik untuk konsumsi dalam negeri maupun ekspor.
Udang konsumsi ukuran 20—30 ekor/kg di pasar lokal dapat dijual dengan harga Rp35.000—
Rp50.000/kg. Maka untuk memenuhi kebutuhan pasar tersebut dibutuhkan suatu teknik yang dapat
memproduksi udang galah dalam skala yang cukup besar.

BIOLOGI
Udang galah termasuk famili Palamonidae. Badan udang terdiri atas 3 bagian : kepala dan
dada (Cephalothorax), badan (Abdomen) serta ekor (Uropoda). Cephalothorax dibungkus oleh kulit
keras, di bagian depan kepala terdapat tonjolan karapas yang bergerigi disebut rostrum pada bagian
atas sebanyak 11‐13 buah dan bagian bawah 8‐14 buah.
Udang galah hidup pada dua habitat, pada stadia larva hidup di air payau dan kembali ke
air tawar pada stadia juvenil hingga dewasa. Pada stadia larva perubahan metamorfose terjadi
sebanyak 11 kali dan berlangsung selama 30‐35 hari. Udang galah bersifat omnivora, cenderung aktif
pada malam hari.
Perbedaan antara udang jantan dan udang betina :
1. Udang jantan :
• Relatif lebih besar
• Pasangan kaki jalan yang kedua relatif lebih besar dan panjang (bahkan dapat mencapai 1,5
kali panjang total tubuhnya)
• Bagian perut lebih ramping
• Ukuran pleuron lebih pendek
• Alat kelamin terdapat pada basis pasangan kaki jalan kelima
• Pasangan kaki jalan terlihat lebih rapat dan lunak.
2. Udang betina :
• Tubuh lebih kecil
• Pasangan kaki jalan kedua tetap tumbuh lebih besar, tetapi tidak sebesar dan sepanjang
udang jantan
• Bagian perut lebih besar
• Pleuron memanjang
• Alat kelamin terletak pada pangkal kaki ketiga, merupakan suatu lubang yang disebut
thelicum.

PROSES REPRODUKSI
Dalam prakteknya, kegiatan pemijahan secara alami adalah berupa memasangkan induk
jantan dan betina yang matang gonad/siap kawin ke dalam wadah pemeliharaan yang sama. Tidak
seperti pada proses perkawinan ikan budidaya lainnya ‐misalnya ikan mas‐‐, proses pemijahan dapat
terjadi dalam waktu yang relatif singkat dan hanya hanya perlu sekitar satu atau dua hari. Ikan yang
matang gonad akan memijah/kawin secara alami. Pada pemijahan udang, proses perkawinan sangat
dipengaruhi dan berkaitan erat dengan proses moulting (pergantian kulit) pada induk betina. Dalam
hal ini proses moulting dan pemijahan dipengaruhi oleh kelenjar hormon yang terdapat pada tangkai
mata.
Sebelum terjadinya proses perkawinan, udang betina berganti kulit terlebih dahulu yang
disebut premattingmoult. Setelah udang betina mengalami pergantian kulit, keadaannya menjadi
lemah. Pada saat inilah perkawinan akan terjadi. Perkawinan udang galah berlangsung secara
sederhana. Udang jantan akan mengeluarkan spermanya dan sperma tersebut akan ditampung pada
spermatheca diantara kaki jalan betina. Proses selanjutnya adalah proses pembuahan yang terjadi di
luar tubuh induknya. Kejadian ini berlangsung pada saat telur turun melalui lubang kelamin, yang
kemudian akan dipindahkan ke tempat pengeraman. Telur yang terdapat pada spermatheca akan
dibuahi oleh sperma. Setelah pembuahan berlangsung, telur diletakkan pada ruang pengeraman
yang terdapat diantara kaki renang induk betina hingga saatnya menetas.
Di alam bebas proses pemijahan umunya terjadi di muara sungai. Di daerah tropis seperti
Indonesia proses pemijahan sangat mungkin terjadi sepanjang tahun. Secara biologi proses
pemijahan ini akan terjadi di muara sungai karena larva/naupli udang galah hanya akan dapat hidup
dan berkembang pada kondisi air payau (kadar garam 8‐12 ppt).

PEMILIHAN LOKASI
Untuk menentukan lokasi backyard hatchery udang skala rumah tangga tentu saja berbeda
dengan hatchery skala besar. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan lokasi adalah :
1. Mudah memperoleh air tawar yang bersih, jernih, dan bebas dari limbah
2. Tersedia aliran listrik selama 24 jam
3. Tanah dasar bak cukup stabil
4. Dekat dengan pemasok nauplius, pakan, dan daerah pemasaran.

SARANA
1. Air Tawar
Air tawar ini diperlukan untuk pengenceran dalam membuat air payau (salinitas 8‐12 ppt),
pemeliharaan larva, pencucian bak dan peralatan pembenihan lain, pemeliharaan induk,
aklimatisasi, dan juga penampungan sementara pascalarva sebelum dipasarkan.
Air tawar ini harus bersih dari endapan lumpur dan kotoran lain, terbebas dari berbagai
pencemar (pestisida, minyak, pelumas, limbah pemukiman/industri, bahan‐bahan lain yang dapat
menurunkan kualitas air), pH 7,5‐8, dan kesadahannya 40‐100 ppm.
Sumber air dapat berasal dari PAM, tetapi karena suplainya tidak selalu teptap, maka
dilakukan penampungan dalam bak, lalu dialirkan melalui pipa‐pipa ke hatchery.
2. Air Laut
Air laut ini diperlukan untuk pengenceran dalam membuat air payau. Air laut harus terbebas
dari berbagai pencemar dan memiliki pH 7,5‐8.
3. Suplai Udara / Aerasi
Aerasi ini dibutuhkan untuk mendistribusikan oksigen, mendistribusikan pakan hidup, dan
juga mendistribusikan pakan buatan menjadi bergerak seperti pakan hidup (karena udang lebih
menyukai pakan hidup/yang bergerak).
Aerasi ini dilakukan secara terus‐menerus selama pemeliharaan dan penetasan kista
artemia. Sumber udara ini dapat berasal dari blower. Udara yang dipompakan blower dialirkan
melalui pipa pralon, lalu dialirkan pada selang‐selang kecil dari plastik untuk disebarkan (ujungnya
diberi batu aerasi agar dihasilkan gelembung udara kecil), lalu batu diletakkan pada dasar bak.
Jumlah aerator yang dibutuhkan tergantung dari volume air yang tersedia.
4. Tenaga Listrik
Listrik ini dibutuhkan untuk peneranagn, menjalankan blower, pompa air, heater, dll. Listrik
dapat berasl dari PLN, tetapi karena listrik dapat terputus maka perlu disediakannya generator
pembangkit listrik.
5. Wadah Penetasan dan Pemeliharaan
Wadah pemijahan yang dapat digunakan antara lain antara lain : kolam tanah, bak beton,
bak serat kaca maupun akuarium. Penggunaan wadah tersebut sangat terkait dengan tingkat
penanganan yang akan diterapkan, sebagai contoh pemijahan induk di akuarium memerlukan
penanganan yang lebih dimana memerlukan sistem aerasi, pergantian air yang rutin bahkan
mungkin pemanas air, sementara jumlah induk yang dipeliharapun terbatas. Oleh karena itu wadah
yang banyak yang dipakai di unit‐unit pembenihan umumnya berupa kolam atau bak beton dengan
luasan yang cukup memadai sesuai jumlah induk yang dikelola. Persyaratan wadah untuk kolam
pemijahan adalah sama seperti halnya wadah pemeliharaan untuk pematangan. Kolam memiliki
pemasukan air dan pintu pengeluaran. Debit air yang masuk ke kolam kurang lebih 0,5 l/detik. Kolam
dilengkapi pula dengan dengan system kemalir dan kobakan yang akan memudahkan pada saat
panen/seleksi.
Persiapan kolam yang perlu dilakukan meliputi, pengeringan, perbaikan dasar, pematang
serta kemalir kolam, dan pengapuran dengan dosis 50 gram/m2. Hal lain yang harus dilakukan adalah
pemasangan shelter/tempat berlindung bagi udang yang sedang berganti kulit. Untuk hal ini dapat
digunakan daun kelapa dan ranting pohon. Kedalaman air di kolam yang ideal untuk pemijahan
antara 80 ‐ 100 cm.
6. Bejana Kultur Makanan Alami
Bejana ini untuk kultur Artemia salina. Bejana ini dilengkapi pula dengan aerator.

SELEKSI INDUK
Beberapa persyaratan untuk mendapatkan induk yang baik :
1. Ukuran induk betina diatas 40 gr dan jantan diatas 50 gr
2. Kantung pengeraman penuh telur yang sudah berwarna abu‐abu
3. Organ tubuh lengkap / tidak cacat
4. Kulit bersih / bebas dari kotoran maupun organisme yang bersifat patogen
5. Umur induk antara 8‐20 bulan
6. Memilih induk yang sudah matang telur untuk yang kedua kali dan seterusnya, belum
dipijahkan lebih dari 7 kali.
7. Berasal dari udang yang pertumbuhannya cepat
Dalam pengamatan produksi di lapangan, hasil kegiatan pemijahan biasanya dapat
dievaluasi setelah 21 hari, dari mulai induk disatukan dalam wadah pemijahan. Seleksi induk matang
telur dilakukan dengan mengeringkan kolam pemijahan, kegiatan ini sebaiknya dilakukan pada pagi
hari. Pagi hari sebaiknya kolam sudah kering dan induk tertampung semua dalam kobakan, pada
kondisi ini air sebaiknya terus mengalir. Oleh karena itu sistem kemiringan kolam, kemalir dan
kobakan harus diterapkan dengan baik, sehingga induk terjaga dari kematian.
Induk‐induk dipanen secara hati‐hati dan dikumpulkan di hapa atau bak penampungan
yang sudah disiapkan sebelumnya dan dilengkapi dengan sistem air mengalir. Setelah kondisi induk
disegarkan beberapa saat, maka proses seleksi/pemilihan induk matang telur dapat segera
dilakukan. Berdasarkan pengamatan dilapangan tingkat kematangan telur induk dapat bervariasi
dari mulai oranye, kuning hingga colat keabu‐abuan. Induk yang siap ditetaskan adalah yang
berwarna coklat keabu‐abuan, induk ini secara hati‐hati harus segera dipindahkan ke bak penetasan
yang telah disiapkan sebelumnya (air yang digunakan untuk penetasan mengandung kadar garam
kurang lebih 5 ppt). Untuk induk‐induk dengan warna telur, oranye dan kuning dipisahkan pada
kolam atau bak Khusus untuk dimatangkan lebih lanjut. Sedangkan induk jantan dapat dipelihara
kembali di kolam pemulihan/pemeliharaan induk dan dipisah dari induk betina.
Dalam pengelolaan suatu unit usaha pembenihan udang galah, jumlah induk yang dikelola
sangat menentukan bagi keberhasilan suatu perencanaan produksi. Setelah target produksi juvenil
(post larva) ditetapkan sesuai dengan beberapa pertimbangan ekonomis, maka mulailah dilakukan
perhitungan secara mundur berapa jumlah induk yang harus dikelola, agar target produksi tersebut
dapat dicapai.
Terkait dengan Induk dan pengelolaanya maka beberapa hal yang perlu dicatat dan
diperhatikan dalam perencanaan produksi antara lain sebagai berikut:
1. Jumlah telur yang dihasilkan oleh betina (fecundity ). Sangat terkait dengan ukuran induk yang
digunakan, dan tingkat pemeliharaan yang dilakukan terkait pengelolaan air dan pakan yang
diberikan,
2. Data hubungan antara bobot induk matang telur terkait dengan jumlah larva/naupli yang
dihasilkan. Data ini mencerminkan kualitas telur yang dihasilkan,
3. Data jumlah prosentase jumlah induk yang bertelur dan matang telur dihubungkan jumlah
betina seluruhnya,
4. Jumlah jantan dan betina yang digunakan perbandingannya sesuai.
Perbandingan jantan dan betina dalam kegiatan pemijahan tergantung dari tujuannya.
Perbandingan jantan : betina (1 : 3) adalah sangat umum dilakukan untuk suatu kegiatan produksi
benih sebar untuk keperluan pembesaran. Adapun untuk tujuan perbanyakan induk ‐ induk alam
umumnya dilakukan dengan perbandingan (1 : 1).

PEMIJAHAN
Pada prinsipnya teknik pemijahan yang banyak diterapkan dalam pembenihan udang
galah adalah bersifat alamiah seperti yang telah dipaparkan sebelumnya. Walaupun proses
perkawinan dipengaruhi proses moulting, yang mana terkait dengan kelenjar hormon yang ada pada
tangkai mata, namun dalam proses pemijahan, tidak lazim dilakukan pemotongan tangkai mata
(ablasi) untuk merangsang terjadinya proses tersebut.
Sebelum terjadi pemijahan udang betina terlebih dahulu berganti kulit (premating moult).
Pada kondisi ini udang lemah, setelah pulih kembali terjadilah pemijahan. Pemijahan dapat
dilakukan di kolam tanah, akuarium, bak beton atau fibreglass dengan padat tebar 4 ekor/m2.
Perbandingan induk jantan dan betina 1 : 3. Selama proses pemijahan induk diberi pakan pelet
dengan kandungan protein 30% sebanyak 5% per hari dari berat biomass dengan frekuensi
pemberian pakan 4 kali sehari, lama pemijahan 21 hari.
Dalam usaha budidaya, benih merupakan faktor penentu dan mutlak harus disediakan.
Untuk memenuhi pangsa pasar di luar maupun dalam negeri, diperlukan kesinambungan produksi
dan ketersediaan suplai benih yang memenuhi syarat baik kuantitas maupun kualitas. Benih udang
galah dapat diperoleh dengan dua cara, yaitu mengumpulkan benih di alam dan juga dengan cara
memproduksi benih di balai‐balai pembenihan.

PEMELIHARAAN INDUK
Induk dipelihara di kolam dengan kepadatan 4 ekor/m2, diberi pakan berupa pelet dengan
kandungan protein 30% sebanyak 5% dari berat tubuh. Pada pemeliharaan induk ini, induk jantan
dan betina sebaiknya dipelihara secara terpisah, baik di kolam maupun di bak beton dilengkapi
dengan pintu pemasukan dan pengeluaran dengan kedalaman 80‐100 cm.

PAKAN DAN PEMBERIAN PAKAN
Kandungan nutrisi dari pakan yang diberikan akan sangat mempengaruhi kualitas telur
yang dihasilkan. Karena itu kandungan protein dari pakan yang diberikan sebaiknya tidak kurang dari
30%. Jumlah pemberian pakan adalah 3 ‐ 5 % dari bobot induk yang ada. Jumlah pemberian pakan
pada malam hari dianjurkan lebih banyak.
Pakan terdiri dari dua jenis, yaitu pakan alami dan pakan buatan/adonan. Artemia salina
banyak digunakan sebagai pakan alami. Artemia salina yang digunakan yang masih dalam stadium
naupilus. Cara penetasan kista Artemia salina :
1. Kista direndam di dalam larutan klorin 1,55 ppm selama 30 menit
2. Kista yang mengendap dicuci dengan air tawar bersih
3. Ditiriskan
4. Kista dimasukkan ke air payau yang beraerasi
Panen naupilus dilakukan setelah 24 jam untuk pakan larva yang berumur kurang dari 15 hari,
sedangkan untuk pakan larva 15 hari hingga pascalarva diberikan naupilus yang telah berumur 48
jam. Jumlah yang diberikan tergantung dari umur larva, semakin besar larva maka akan semakin
banyak kebutuhan naupilusnya.
Pakan buatan terdiri atas susu tanpa lemak (12 gr), tepung terigu (50 gr), kuning telur (120
gr), udang (650 gr), vitamin (10 mL), dan air (100‐200mL). Pakan alami diberikan 3 kali.hari,
sedangkan pakan buatan diberikan 2x/hari. Pakan buatan tersebut dibuat dengan cara :
1. Semua bahan (kecuali udang) dihaluskan dengan blender
2. Udang dubuang bagian kepala dan kulitnya
3. Udang digiling
4. Udang disatukan dengan seluru adonan, lalu dihaluskan
5. Adonan dimasukkan ke dalam loyang, lalu dikukus
6. Direndam dengan air
7. Disaring (besarnya mata saring sesuai kebutuhan)

PENETASAN TELUR
Bak penetasan yang digunakan berukuran (1 x1 x0,5) m2 dengan media air payau bersalinitas
3‐5 ppt, padat penebaran induk 25 ekor per bak. Selama penetasan telur, induk diberi makanan
berupa ketela rambat, singkong atau kentang dipotong‐potong kecil. Hal ini untuk menghindari
dampak negatif kualitas air. Pada suhu 28‐30°C telur akan menetas dalam waktu 6 ‐ 12 jam.
Kemudian larva dipindahkan ke dalam bak pemeliharaan.
Setelah dilakukan pemijahan seiama 21 hari, induk diseleksi yang matang telur dengan
warna telur abu‐abu. Induk tersebut diberi perlakuan dengan larutan Malachite green sebanyak 1,5
mg/liter, dengan cara perendaman selama 25 menit.

PEMELIHARAAN LARVA
Pemeliharaan larva udang galah dapat dilakukan pada bak fiber glass kerucut atau bak beton
yang sudagh dibersihkan dari kotoran dan dicuci dengan menggunakan larutan kaporit 10 ppm. Hal
yang perlu mendapat perhatian dalam pemeliharaan larva tersebut antara lain kualitas air dan
pemberian pakan baik pakan alami maupun pakan adonan yang disesuaikan dengan bukaan mulut
larva. Kepadatan larva yang ditebar 50 ekor/liter.
Pakan berupa nauplius artemia diberikan pagi dan sore hari pada hari ke‐3. Pada hari yang
sama diberikan juga pakan adonan sampai menjadi post larva dengan frekuensi pemberian 8
kali/hari. Penggantian air dilakukan setiap hari sebanyak 20‐30%, pada hari ke 10 mulai dilakukan
penyiphonan kotoran pada dasar bak. Kadar garam media pemeliharaan larva 10 ppt.
Setelah seluruh larva menjadi juvenil, kadar garam diturunkan secara bertahap sampai 0 ppt,
grading mulai dilakukan setelah larva berumur 30 hari, lalu pada hari ke 45 juvenil siap untuk
dipasarkan.
Pemberian pakan untuk larva dilakukan dengan cara :
1. Aerator dimatikan agar larva yang berda di dasar dapat naik ke permukaan.
2. Pakan ditaburkan secara merata
3. Aerator dinyalakan.
Setiap harinya dilakukan pembersihan bak pemeliharaan dengan cara :
1. Aerator dan heater dimatikan
2. dibiarkan selama 30 menit agar kotoran mengendap
3. kotoran diambil dengan cara dihisap dengan pipa pralon yang disambungkan dengan selang
4. di ujung selang dipasang saringan agar lara tidak dapat menembusnya
5. air diganti dengan yang baru
6. Aerator dan heater dibersihkan
7. Aerator dan heater difungsikan kembali.

PENCEGAHAN PENYAKIT
Selama periode pemeliharaan larva, sering terjadi serangan penyakit bakterial yang berasal
dari laut yakni Vibrio sp. dengan tanda‐tanda stress. Lalu terjadi kematian massal dalam waktu yang
singkat. Untuk mencegahnya, perlu dilakukan chlorinasi media dan pemgeringan bak serta fasilitas
lain selama seminggu. Seandainya sudah terjangkit penyakit tersebut pada larva yang dipelihara
maka dapat digunakan Furazolidon dengan dosis 10‐15 ppm.
Penyakit merupakan salah satu faktor pembatas keberhasilan pembenihan udang galah.
Penyakit yang biasa timbul adalah penyakit bakterial yangberupa Vibro sp. dengan ditandai
semacam stress, Fluorisensi pada larva yang mati dan terjadi kematian massal dalam waktu yang
singkat.
Untuk mencegah terjadinya serangan bakterial perlu adanya “Chlorinisasi” media dan
pengeringan fasilitas selama 7 hari, jika sudah terserang pengobatannya menggunakan Furozolidone
dengan dosis 11‐13 ppm, dengan cara perendaman selama 3 hari.

DAFTAR PUSTAKA :
Dyah, S. H. 1991. Pembenihan Udang Galah (Macrobrachium rosenbergii de Man.). Laporan Kerja
Praktek Mahasiswa Biologi. Institut Teknologi Bandung

Senin, 06 Februari 2012

Apakah Lobster Sehat Dikonsumsi

Ada dua jenis makanan, yaitu lezat dan sehat.


Banyak orang yang sangat suka makan suatu jenis

makanan karena rasanya yang lezat. Tapi makanan

lezat belum tentu sehat, dan juga makanan sehat belum

tentu lezat. Dan bagaimana dengan lobster?

Seperti dilansir dari buzzle (Maret 2010), ada beberapa

argumen yang mendasari pertanyaan ‘apakah lobster

sehat?’, yaitu:

1. Tingkat kandungan merkuri

Beberapa ikan seperti ikan pedang, ikan hiu dan king

mackerel ditengarai mengandung merkuri dalam tingkat

tinggi. Bila dimakan, maka kandungan merkuri tersebut

dikhawatirkan berbahaya bagi tubuh. Tetapi kenyataannya

adalah lobster tidak memiliki kandungan merkuri

yang tinggi. Lobster mengandung sejumlah merkuri dalam

jumlah yang secara alami terdapat dalam semua ikan.

2. Parasit dan virus

Dokter dan juga beberapa orang berpikir bahwa

lobster mengandung parasit dan virus. Tapi mereka

tidak melihat satu hal, bahwa semua makhluk hidup juga

mengandung parasit dan virus. Kuncinya adalah memasak

daging dengan baik sebelum makan. Hal ini dapat

menghilangkan semua bakteri dan kuman.

3. Pemakan makanan busuk

Argumen kuat yang menimbulkan pertanyaan adalah

lobster pemakan makanan busuk dan ini menimbulkan

anggapan bahwa lobster tak sehat untuk tubuh. Tapi hal

tersebut sama sekali tidak benar. Bahkan, sama halnya

seperti manusia yang tidak mau makan daging busuk dan

basi dan akan lebih memilih daging segar. Begitu juga

dengan lobster. Lobster makan ikan hidup, kerang, tiram

dan kepiting.

Argumen-argumen yang keliru tentang lobster telah

terjawab. Tapi masih harus dilihat apakah daging lobster

sehat untuk dikonsumsi, terkait dengan kandungan

nutrisi di dalamnya.

1. Protein

Lobster adalah sumber protein yang sangat baik.

Protein penting bagi tubuh kita untuk energi dan pemantapan

produksi gula darah. Hal ini juga membantu

menurunkan berat badan.

Namun berlawanan dengan kepercayaan yang ada,

yang menyatakan bahwa ayam mengandung protein

tinggi. Kandungan protein dalam lobster bahkan melebihi

kandungan protein dalam daging ayam. Juga tidak banyak

kalori seperti daging ayam atau sapi. Menjadi pilihan

yang lebih baik untuk memilih lobster daripada ayam

atau sapi.

2. Asam lemak omega-3

Daging lobster mengandung asam lemak omega-3

dalam jumlah tinggi. Asam lemak omega-3 penting untuk

mencegah penyakit jantung dan menjaga kesehatan

jantung. Telah terbukti bahwa orang-orang yang berisiko

tinggi terhadap gangguan jantung, mendapat manfaat

dari lobster karena kandungan omega-3 di dalamnya.

3. Membantu menurunkan berat badan

Lobster adalah makanan pilihan yang sangat baik bagi

orang yang ingin mengubah gaya hidup, dan membuatnya

menjadi lebih sehat dan lebih baik. Sebuah pilihan yang

sempurna bagi orang-orang yang ingin menurunkan berat

badan dan diet karena lobster sangat rendah lemak, rendah

kalori dan rendah kolesterol, tetapi masih memberikan

nutrisi yang diperlukan. Kadar kolesterolnya bahkan

lebih rendah dari 1 butir telur dan setara dengan daging

dada ayam tanpa kulit. Jadi bagi penderita darah tinggi

jangan takut untuk mengkonsumsinya, terutama lobster

air tawar.

4. Daging lobster mengandung kalium, seng, vitamin

B12 dan selenium. Semua itu sangat penting bagi kesehatan.

Kandungan seng di dalam lobster dapat meningkatkan

vitalitas, libido menjadi lebih kuat dan tahan lama

serta meningkatkan stamina.

5. Mengonsumsi daging lobster sama halnya dengan

konsumsi multi-vitamin tablet atau suplemen kesehatan.

Jadi apakah lobster baik untuk kesehatan? Jawabannya

adalah ya. Karena semua argumen yang keliru

tentang lobster telah terjawab, dan lobster juga mengandung

banyak nutrisi penting yang sangat dibutuhkan oleh

tubuh. Asal ingat satu hal. Dalam mengkonsumsi apapun,

semuanya jangan berlebihan. Sebab segala sesuatu yang

berlebihan atau kekurangan tidak akan baik akibatnya.

anna

Sumber : Merry Wahyuningsih dalam www.detikHealth.com

Sabtu, 04 Februari 2012

SI BONGKOK YANG JADI TULANG PUNGGUNG

SI BONGKOK YANG JADI TULANG


PUNGGUNG

Rasanya yang lezat dan cara makannya yang mudah menjadikan

udang sebagai jenis ikan yang paling populer di dunia. Udang dikonsumsi

mulai dari balita hingga manula di hampir semua negara dalam

berbagai bentuk produk, mulai dari masakan langsung dari udang

utuh, udang kering, udang olahan modern seperti tempura, nugget,

dimsum, hingga ekstraknya berupa terasi/belacan atau kerupuk

udang.

Hingga saat ini, udang masih mendominasi perdagangan dunia

hasil perikanan. Data FAO menunjukkan bahwa dari segi nilai, udang

menyumbang sekitar 17 % dari total perdagangan dunia di tahun

2007, dan tahun berikutnya pangsanya turun menjadi 15 % akibat

harga internasional yang turun meskipun penguasaan pangsa dari segi

volume terjadi kenaikan. Dalam angka, nilainya juga naik karena total

nilai perdagangan internasional telah lama bertengger diatas US$ 100

milyar pada tahun sejak tahun 2008.

Udang yang diperdagangkan di dunia terdiri dari beragam species

dan merupakan hasil tangkapan serta budidaya. Kini dari segi volume,

udang hasil budidaya di daerah tropis telah menguasai pasokan

yang ada.

Produksi udang dunia umumnya berasal dari negara berkembang

dan lebih dari 57 % diantaranya diperdagangkan secara internasional.

Udang termasuk komoditas yang production driven, karena hingga

saat ini berapapun produksinya selalu terserap pasar sehingga udang

menjadi komoditas perikanan utama di sejumlah negara. Artinya,

udang sebagai sumber utama perolehan devisa.

Masih dari kelompok krustasea, lobster juga mempunyai peluang

pasar yang baik. Rasanya mirip udang dengan jumlah daging yang

lebih tebal sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi pecinta kuliner

seafood. Lobster seringkali disebut sebagai “kakak” dari udang karena

dari segi morfologi terlihat mirip namun dengan ukuran yang lebih

besar, meskipun untuk jenis tertentu seperti Homarus spp dipandang

sebagai antara udang dan kepiting. Lobster mempunyai harga yang

mahal karena pasokan umumnya masih terbatas, sehingga masuk kategori

sebagai makanan mewah. Lobster air tawar (crayfish) harganya

juga di atas harga udang meskipun umumnya masih di bawah harga

lobster, dan mempunyai segmen pasar tersendiri pula. Outlet pemasaran

lobster umumnya adalah restoran atau perusahaan jasaboga

yang melayani pesta kelas atas.

Berbeda dengan lobster, pembeli udang tak terbatas hanya

restoran atau perusahaan jasaboga namun juga konsumen rumah

tangga, sehingga dari segi kuantitas penjualan, udang jauh mengungguli

“kakak”nya. Udang yang tak bertulang telah menjadi tulang

punggung bagi sektor perikanan di banyak negara.
sumber : Warta Pasar ikan, November 2010, direktorat pemasaran dalam negeri, Dirjen P2HP, KKP

Senin, 16 Januari 2012

POTENSI PENGEMBANGAN BUDIDAYA UDANG ORGANIK DI KUTAI KARTANEGARA

Komoditas udang adalah merupakan primadona bagi produk perikanan budidaya, karena sangat disukai oleh konsumen baik dalam maupun luar negri, disamping itu harganyapun relatif lebih tinggi bila dibandingkan dengan produk perikanan budidaya lainya. Komoditas udang juga merupakan salah satu dari komoditas yang sedang dikembangkan pada saat ini untuk ditingkatkan produksinya salah satunya dengan melalui program revitalisasi tambak di pantura.
Seiring dengan kesadaran masyarakat akan kesehatan dan keamanan pangan khususnya konsumen luar negri, sehingga masalah mutu produk yang dihasilkan harus memenuhi persyaratan mutu dan keamanan pangan. Maka para pembudidaya dituntut untuk menerapkan cara budidaya ikan yang baik (CBIB). Salah satu teknologi produksi budidaya udang yang dapat dilakukan oleh pembudidaya untuk menghasilkan produksi yang berkualitas tinggi dan memenuhi persyaratan mutu dan keamanan pangan adalah budidaya udang organik. Budidaya udang organik adalah merupakan sistem pemeliharaan udang dengan menerapkan proses produksi yang menjamin produk yang dihasilkan bebas dari bahan anorganik dan bahan berbahaya lainya. Budidaya udang organik pada dasarnya hampir sama pemeliharaanya dengan dengan pola pemeliharaan tradisional, namun selama proses pemeliharaanya tidak menggunakan pakan dan obat serta sarana produksi lainya yang mengandung bahan anorganik dan residu lainya.
Sesuai dengan Petunjuk Teknis Budidaya Udang Organik yang dikeluarkan oleh Ditjen Perikanan Budidaya Tahun 2010, teknologi budidaya udang organik menggunakan luas petakan berkisar 1-4 ha / petak, padat penebaran 2-3 ekor/meter, luas caren 20-30% dari luas petakan dengan kedalaman caren 40% dari permukaan pelataran, pintu air 1 buah per Ha. Luas caren 20 – 30 % dari luas petakan dengan kedalaman caren 40% dari permukaan pelataran.
Permintaan udang organik dipasar dunia masih belum bisa dipenuhi, hal ini disebabkan karena produksi masih terbatas. Budidaya udang organik belum banyak diminati oleh para pembudidaya, karena produktivitasnya yang rendah (kurang dari 1 ton/Ha/MT) dan memerlukan lahan yang luas. Namun dengan pola budidaya organik, harga udang bisa mencapai 20 dollar AS /kg, sedangkan harga udang produksi budidaya anorganik maksimal 7 dollar SA /kg.
Kabupaten Kutai Kartanegara merupakan salah satu sentra produksi perikanan budidaya tambak khususnya produksi udang windu di Kalimantan, Tahun 2010 produksi udang windu yang dihasilkan 1.851,9 Ton, sedangkan luas areal budidaya tambak yang dilaporkan seluas 30.474 Ha, tersebar dibeberapa kecamatan yaitu di Kecamatan Marangkayu 1.214 Ha, Kecamatan Muara Badak 14.021 Ha, Kecamatan Anggana 2.302 Ha, Kecamatan Samboja 912 Ha, dan kecamatan Muara Jawa 12.025 Ha. Produktivitas tambak yang ada kalau dilihat dari jumlah produksi dibagi dengan luas lahan di kabupaten Kutai Kartanegara berkisar 60,76 kg/ Ha, angka produktivitas tambak yang sangat kecil dan masih bisa ditingkatkan bila menerapkan budidaya udang yang baik dan benar. Karakteristik tambak yang ada di kabupaten Kutai Kartanegara pada umumnya sangat cocok untuk pengembangan budidaya udang organik, dimana petakan yang ada cukup luas ( 2 – 5 Ha / petak), padat penebaran yang rendah ± 1 ekor / meter, bentuk petakan tidak beraturan, pintu air 1 buah per petak, kedalaman caren kurang terawat, pemasukan dan pengeluaran air mengandalkan pasang surut dan hampir semua pembudidaya menerapkan teknologi tradisional serta kondisi lingkungan perairan yang masih relatif baik dan jauh dari sumber pencemaran.
Dengan memperhatikan kondisi luas lahan, serta karakteristik tambak dan pembudidaya yang ada di kabupaten Kutai Kartanegara, maka hal ini merupakan potensi yang dapat dijadikan modal dalam pengembangan budidaya udang organik.
Jika potensi ini disentuh dengan penyadaran dan pemberian wawasan yang lebih luas tentang budidaya udang organik kepada pembudidaya, baik dari segi teknis maupun non teknis serta keuntungan yang akan didapat, maka peluang untuk mengisi pasar ekspor udang organik akan mampu diwujudkan, sebagai gambaran dengan luas lahan tambak yang ada di kabupaten Kutai Kartanegara 30.474 Ha, kemudian sebagai gambaran dengan menggunakan acuan teknis dari juknis yang ada, maka dengan hanya penebaran 20.000 ekor/Ha (padat tebar 2 ekor / meter), dengan asumsi produksi udang SR 50 %, size panen 30 ekor / kg maka bisa menghasilkan udang sebanyak ±10.000 Ton / siclus, dan kabupaten Kutai Kartanegara akan menjadi salah satu sentra produksi budidaya udang organik.

sumber : http://www.perikanan-budidaya.kkp.go.id

Senin, 14 November 2011

MANFAAT LOBSTER BAGI KESEHATAN



MANFAAT LOBSTER  BAGI KESEHATAN

1.       Protein
Lobster adalah sumber protein yang sangat baik. Protein penting bagi tubuh kita untuk energi dan pemantapan produksi gula darah. Hal ini juga membantu menurunkan berat badan. Kandungan protein lobster lebih tinggi dari ayam dan sapi, sedangkan kalori nya lebih rendah daripada daging ayam dan sapi.

2.       Asam lemak omega-3
Daging lobster mengandung asam lemak omeg-3 dalam jumlah tinggi. Asam lemak omega-3 penting untuk mencegah penyakit jantung dan menjaga kesehatan jantung. Telah terbukti bahwa orang-orang yang beresiko tinggi terhadap gangguan jantung,mendapat manfaat dari lobster karena kandungan omega-3 di dalamnya.



3.       Membantu menurunkan berat badan
Lobster adalah makanan pilihan yang sangat baik bagi orang yang ingin mengubah gaya hidup, dan membuatnya menjadi lebih sehat dan lebih baik. Lobster sangat rendah lemak, rendah kalori dan rendah kolesterol, tetapi masih memberikan nutrisi yang diperlukan.

4.       Daging lobster mengandung, vitamin ,seng, kalium, vitamin B12 dan selenium. Semua itu sangat penting bagi kesehatan. Kandungan seng di dalam lobster dapat meningkatkan vitalitas, libido menjadi lebih kuat dan tahan lama serta meningkatkan stamina.
5.       Mengkonsumsi daging lobster sama halnya dengan mengkonsumi multi vitamin tablet atau suplemen kesehatan.
Jadi apakah lobster baik untuk kesehatan?jawabnya YA. Asal ingat satu hal, dalam mengkonsumsi apapun, semuanya jangan berlebihan. Sebab segala sesuatu yang berlebihan atau kekurangan tidak baik akibatnya.

Sumber : Warta PasarIkan Edisi November 2010, volume 87

Sabtu, 12 November 2011

tambak udang dengan kincir

tambak udang



Lokasi Tambak Udang Umumnya berada di dekat pantai.
tambak udang ini merupakan tempat budidaya pembesaran udang pada budidaya air payau. pada pembesaran udang di tambak untuk mensuplai oksigen ke dalam tambak menggunakan kincir. kincir dipasang di tambak jumlahnya bisa satu atau dua buah kincir.

Jumat, 11 November 2011

SEHATKAH MENGKONSUMSI LOBSTER?


SEHATKAH MENGKONSUMSI LOBSTER?

Rasa lobster memang lezat,apakah enak juga untuk kesehatan?
Ada beberapa kriteria untuk menentukannya.
1.      TINGKAT KANDUNGAN MERKURI
Beberapa ikan seperti ikan pedang, ikan hiu, dan king mackerel
 ditengarai mengandung merkuri tingkat tinggi. Bila dimakan, maka
 kandungan merkuri tersebut dikhawatirkan berbahaya bagi tubuh. 
Tetapi kenyataannya adalah lobster tidak memiliki kandungan merkuri yang tinggi. 
Lobster mengandung  sejumlah merkuri dalam jumlah yang secara alami terdapat dalam semua ikan.

2.       PARASIT DAN VIRUS
Dokter dan juga beberapa orang berpikir bahwa lobster mengandung parasit dan virus.
 Tapi mereka tidak melihat satu hal,bahwa semua makhluk hidup juga
 mengandung parasit dan virus.
Kuncinya adalah memasak daging dengan baik sebelum makan. 
Hal ini dapat menghilangkan semua bateri dan kuman.

3.       PEMAKAN MAKANAN BUSUK
Argumen kuat yang menimbulkan pertanyaan adalah lobster 
pemakan makanan yang busuk dan ini menimbulkan anggapan bahwa lobster tidak 
sehat untuk tubuh. Tapi hal tersebut sama sekali tidak benar. Bahkan, sama halny
seperti manusia yang tidak mau makan daging busuk dan basi dan
 akan lebih memilih daging segar. Begitu juga dengan lobster. 
Lobter makan ikan hidup, kerang, tiram dan kepiting.

Sumber : Warta PasarIkan Edisi November 2010, volume 87

Kamis, 01 September 2011

Penyakit Udang : Penyakit Yellowhead

Penyakit Udang : Penyakit Yellowhead



Penyebab : Yellow Head Virus (YHD), corona-like RNA virus (genus Okavirus, family Ronaviridae dan ordo Nidovirales)



Bio – Ekoloi Patogen :

• Krustase yang sensitif terhadap infeksi virus ini antara lain: Penaeus monodon, P. merguensis, P. semisulcatus, Metapenaeus ensis, Litopenaeus vannamei, dll.

• Udang windu merupakan jenis udang yang sangat sensitif, pada kasus akut dapat mengakibatkan kematian hingga 100% dalam tempo 3.5 hari sejak pertama kali gejala klinis muncul.

• Penularan terjadi secara horizontal melalui air atau kanibalisme terhadap udang yang sedang sakit atau pakan yang terinfeksi virus.

• Post larvae (PL) udang windu berumur < 15 hari relatif resisters terhadap infeksi virus ini dibandingkan dengan PL yang berumur 20-25 hari atau juvenil.

• Secara molekuler (sequencing DNA) dari produk reverse-transcription polymerase chain reaction (RT-PCR) virus yellow head memiliki kemiripan dengan gill-associated virus (GAV), meskipun berbeda jenis atau strain.





Gejala Klinis

• Juvenil udang berukuran antara 5-15 gram memiliki nafsu makan yang tinggi (abnormal) selama beberapa hari, untuk selanjutnya berhenti (menolak) makan secara tiba-tiba.

• Sekitar 3 hari setelah menolak makan, mulai terjadi kematian massal

• Udang yang sekarat berkumpul di dekat permukaan air atau ke sisi pematang kolam/tambak

• Insang berwarna putih, kuning atau coklat

• Cephalothorax berwarna kekuningan, sedangkan bagian tubuh lain berwarna pucat



Penyakit ini dapat menimbulkan kematian massal dalam waktu 2-4 hari



Diagnosa :

Polymerase Chain Reaction (PCR)



Pengendalian :

• Gunakan benur yang benar-benar bebas YHV/SPF

• Menjaga status kesehatan udang agar selalu prima melalui pemberian pakan yang tepat jumlah dan mutu

• Menjaga kualitas lingkungan budidaya agar tidak menimbulkan stress bagi udang





• Lakukan pemanenan di tambak/kolam pada saat terjadinya serangan penyakit, pemanenan dini tidak dapat mengurangi tetapi hanya mengeliminasi kerugian ekonomi.

sumber : Kementerian Kelautan dan Perikanan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Direktorat Kesehatan Ikan dan Lingkungan, 2010





Jumat, 13 Mei 2011

PRODUKSI UDANG TERANCAM RENDAH

PRODUKSI UDANG TERANCAM RENDAH

AWS P3UW Bukan Perwakilan Plasma

BANDAR LAMPUNG - Manajemen PT Aruna Wijaya Sakti (AWS), anak perusahaan PT Central Proteina Prima (CP Prima) Tbk menampik peran Perhimpunan Petambak Plasma Udang Windu (P3UW) dalam relasi inti plasma perusahaan itu dengan petambak. Perwakilan plasma adalah Lembaga Manajemen Plasma Kampung (LMPK) yang diketahui terlibat dan diakui dalam setiap perjanjian inti-plasma antara AWS dengan petambak.

"P3UW tidak ditunjuk oleh plasma untuk mewakili mereka, sehingga P3UW bukanlah pihak yang bermitra. LMPK ditunjuk langsung oleh plasma untuk mewakili mereka dalam perjanjian inti plasma dengan PT AWS," kata Tarpin A Nasri, kepala divisi komunikasi PT AWS melalui keterangan pers yang diterima Investor Daily, kemarin.

Keterangan Tarpin disampaikan ke publik menanggapi kesimpangsiuran informasi pascapenghentian aktivitas produksi udang di tambak AWS, pekan lalu. Tarpin menjelaskan, penghentian operasi sekaligus pemutusan aliran listrik ke kawasan tambak eks Dipasena itu dilakukan karena situasi tidak lagi kondusif. Ulah segelintir pengurus P3UW yang mengadang petambak menabur benur beberapa saat sebelumnya, mematikan aktivitas bisnis. "Dari pada terus menanggung kerugian akibat ulah segelintir pengurus P3UW, sebaiknya kami hentikan dulu operasi dan semua pertanggungan perusahaan ke anggota plasma sambil mencari solusi terbaik," kata Dirut AWS Achmad Roswantama, pekan lalu.

Revitalisasi Tahap Dua Menurut Tarpin, revitalisasi yangdijalankan perusahaan dengan anggota plasma masih berlangsung. Namun, revitalisasi itu mengacu pada perjanjian inti plasma Tahap Kedua, dan tidak lagi mengacu pada revitalisasi Tahap Pertama. "Revitalisasi Tahap Kedua berskema polycul-ture. Skema polyculture efektif mengurangi risiko penyebaran virus IMNV yang mematikan. Revitalisasi Tahap Pertama terpaksa dihentikan karena mematikan bisnis. Tidak mungkin AWS membiarkan virus IMNV masuk tambak karena tetap menjalankan Revitalisasi Tahap Pertama," kata Tarpin.

Dia menjelaskan, peralihan perjanjian Revitalisasi Tahap Pertama "ke Revitalisasi Tahap Kedua disepakati kedua pihak (AWS dan LMPK) per 22 Februari 2010. Mengacu kesepakatan itu, manajemen AWS menyelesaikan revitalisasi pada akhir 2010. "Karena sudah ada kesepakatan Revitalisasi Tahap Kedua, maka tidak ada alasan hukum apapun untuk kembali ke Revitalisasi Tahap Pertama. Kalau P3UW menuduh AWS langgar perjanjian, itu tendesius. Lagipula P3UW bukan perwakilan plasma," jelas Tarpin.

Tarpin juga meminta pemerintah bersikap adil dengan tidak memihak salah satu pihak. Peran Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), kata Tarpin, terbatas sebagai pembina dalam kaitan dengan peningkatan produksi udang nasional. "Aktivitas AWS murni urusan swasta dan pemerintah tidak perlu terlalu jauh ikut campur. Yang mau membeli AWS atau mengambilalih aset eks Dipasena silakan melalui jalur bisnis dan tidak perlu melalui jalur premanisme atau politik," kata Tarpin.

Sementara itu, Ketua P3UW Napi-an Faiz hingga berita ini diturunkan belum berhasil dikonfirmasi. Namun sebelumnya, Napian menuding AWS gagal merevitalisasi tambak. Akibatnya, petambak anggota plasma merugi. "Mereka (perusahaan) gagal revitalisasi, dan harus ada pertanggungjawaban. Jangan hanya mau merugikan plasma," kata Napian, belum lama ini.

Produksi Udang Rendah

Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad mengatakan, sengketa AWS dengan plasma bisa menurunkan produksi udang. "Saya sayangkan saja karena sengketa ini bisa mengganggu produksi udang nasional. Padahal kontribusi produksi dari tambak eks Dipasena itu cukup besar terhadap produksi nasional," kata Fadel, Rabu (11/5).

Fadel memastikan pihaknya segera mendengar klarifikasi manajemen CP Prima sebagai induk AWS, Jumat (13/5). "Kami akan undang mereka (CP Prima) mendengar lalu mencoba mencari solusi ideal," kata Fadel.

Sementara itu, Sekjen Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) Riza Damanik meminta pemerintah bersikap tegas. Manajemen AWS, kata Riza, ingkar janji dan terbukti gagal merevitalisasi tambak sebagaimana diperjanjikan. Kegagalan revitalisasi berdampak negatif pada anggota plasma. "Butuh ketegasan pemerintah agar kekisruan inti plasma tidak berlarut-larut," kata Riza.

Sekretaris Perusahaan CP Prima, induk perusahaan AWS George Basoeki mengaku masih terus menunggu proses penyelesaian sengketa antara AWS dan anggota plasma. "Penghentian operasi masih berlangsung, tunggu saja proses selanjutnya," kata George. Qjr)


Sumber : Investor Daily 13 Mei 2011,hal.7

Selasa, 05 April 2011

Budidaya Udang Kian Menjanjikan

Budidaya Udang Kian Menjanjikan

BANYUWANGI-Kebangkitan budidaya udang sudah dapat dirasakan sejak awal 2011 di tambak-tambak rakyat sepanjang Pantura Jawa mulai dari Karawang, Garut sampai ke Patrol, Jawa Barat. Geliat budidaya udang juga sudah bisa dilihat mulai dari Kendal, Jepara. Jawa Tengah hingga perbatasan pintu gerbang Tuban, JawaTimur hingga Banyuwangi.

"Kita akan sama-sama melihat kebangkitan udang di tanah air. Seperti apa hasil panen ini, kita bisa merasakan dan bergantian mengangkat jaringnya agar ikut merasakan bagaimana nikmatnya panen," ujar Dirjen Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan, Ketut Sugama saat panen udang Vaname di Karawang Jawa Barat kemarin.

Budidaya udang di sepanjang Pantai Utara (Pantura) Jawa dan sejumlah daerah di Indonesia perlahan mulai bangkit lagi.

Diperkirakan produksi udang pada tahun ini mencapai 460.000 ton. Dari jumlah itu, untuk udang windu diperkirakan akan mencapai 130.000 ton, dan vaname ditargetkan sebanyak 350.000 ton. Budidaya udang bergairah kembali karena pasar untuk dalam dan luar negeri bagus. Masalah penyakit juga mulai berkurang. Tambak yang dulu mangkrak kini sudah mulai dimanfaatkan lagi.

Menurut Ketut, kunci sukses budidaya udang terletak pada manajemen tambak, seleksi atau perbaikan genetik dan kontrol penyakit. Pusat perbenihann udang juga dilakukan modernisasi dengan menerapkan sistem tambak terkontrol. "Sudah banyak benih udang yang bersertifikat dirilis ke masyarakat Benih yang berkualitas inilah yang harus terus dikembangkan untuk menunjang produksi," ujarnya, (nel)


Sumber : Indo Pos 04 April 2011,hal. 4

Minggu, 20 Februari 2011

Harga Udang Tembus Rekor Tertinggi

Harga Udang Tembus Rekor Tertinggi

Saat ini harga udang vaname mencapai Rp 50.000-Rp 60.00 per kg.

Veri Nurhansyah Tragistina

JAKARTA. Rezeki nomplok udang. Dalam beberapa bulan terakhir ini, harga udang jenis vaname terus meningkat. jika sebelum harganya masih Rp 37.000 -Rp 38.000 perkilogram(KG). kini harga mencapai Rp 50.000 hingga Rp 60.000 per kg. Jadi harganya telah naik 12,5%.

Harga ini tertinggi dalam 10 tahun terakhir," kata Iwan suranto, Ketua Shrimp Club Indonesia (SJI) kepada KONTAN. Rabu (16/2).

Lonjakan harga ini terjadi karna menurunnya pasokan udang vanema, baik di pasar internasional maupun domestik. Faktor lainnya. Brasil dan China, sebagai negara pengespor udang, menghentikan ekspornya karena konsumen udang dinegara meningkat tajam.

"Brasil dan China lebih memilih untuk memasarkan udang di dalam negrinya ketimbang menginspor," jelas Iwan. Celakanya, di saat yang sama, pemerintaan udang dipasar global terus membesar.

Menurut Iwan, faktor utama meningkatkan harga udang karena pasokan berkurang. Di Indonesia sendiri, produksi udang tahun 2010 lalu hanya mencapai 352.600 ton. Jumlah ini lebih rendah dari pada target sebanyak 400.300 ton.

Pelaksana tugas (PIt) Dirjen Perikanan Budidaya Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) Ketut Sugama pernah mengatakan, serangan virus MNV menjadi penyebab utama gagalnya produksi udang tahun lalu. Maka. "Banyak tambak di sentra produksi udangmengalami gagal panen, "ujar Ketut.

Kata Iwan, naiknya harga udang seperti saat ini menjadistimulus bagi petambak dalam negri untuk mengenjor produksnya. Pertambak bakal semakin bergairah karena bisa mendapat margin yang lebih besar. "Kalu harganya Rp. 50.000 per kg, kami bisa mendapat margin keuntungan hingga 40%. Lebih besar dari biasanya yang hanya sekitar 10% sampai 5%," tandas Iwan. Karenanya, iya optimis produksi udang tahun ini mencapai 400.000 ton.

Industri pengolahan rugi

Berbeda dengan pengusaha udang yang menangguk untung besar, para pelaku industri pengolahan ikan dan udang justru merugi dengan naiknya harga udang. Thomas Darmawan. Kalau asosiasi pengusaha Pengelolahan dan pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP51). mengatakan banyak pengusaha yang kesulitan karena biaya produksi semakin membengkak. Akibatnya, mereka menurunkan kapasitas produksinya. "Ini membuat ekspor pengolahan udang turun," kata Thomas.

Thomas berharap, pemerintah membuat kebijakan untuk menstabilkan harga udang. Menurutnya, langkah yang bisa diambil pemerintah adalah membuka kembali keran impor udang vaname.

Impor udang ini, menurutnya, pilihan terakhir untuk menompang industri pengolahan di dalam negeri. Jika impor ini dibuka, maka pengusaha akan memiliki pilihan harga udang yang lebih beragam.

Thomas mengak, harga udang di Indonesia lebih mahal dibandingkan Vietnam dan China. Di dua negara itu. udang masih dijual dengan harga Rp. 28.000 hingga Rp 30.000 per kg. Karena itu pemerintah harus membuat trobosan kebijakan untuk menstabilkan harga udang.

"Selain membuka keran impor, pemerintah bisa juga mensubsidi pakan, listrik dan BBM pada pertambak," ujar Thomas. Kebijakan ini diyakini bakal menstabilkan harga udang, shingga bisa mendorong pertumbuhan industri penolahan di dalam negri.

Seperti pernah diberitakan KONTA, akhir tahun lalu pemerintah memperpanjang larangan impor udang vaname. Berbeda dengan larangan sebelumnya yang mencantumkan batasan waktu, larangan kali ini tidak memiliki batasan waktu yang pasti.

Diperpanjang larangan ini didasarkan pada keterangan Badan Kesehatan Hewan Dunia (OIE) yang menyebutkan bahwa terdapat 13 virus pada udang vaname yang berbahaya bagi kesehatan udang dan manusia.

SUMBER KONTAN 18 FEBRUARI 2011 HAL 15

Senin, 03 Januari 2011

Budidaya Udang Vaname

Budidaya Udang Vaname

Udang Vaname (Penaeus vannamei) di Indonesia merupakan jenis udang introduksi dari kawasan sub-tropis sekitar perairan negara Meksiko, Amerika Latin. Meskipun asal udang vaname dari kawasan sub-tropis, dalam pengembangannya dapat pula dibudidayakan di kawasan tropis secara massal dengan penerapan teknologi dari sederhana hingga intensif.



Bila dibandingkan dengan jenis udang lainnya, udang vaname memiliki karakteristik spesifik seperti adaptasi tinggi terhadap lingkungan suhu rendah, perubahan salinitas (khususnya pada salinitas tinggi), laju pertumbuhan yang relatif cepat pada bulan I dan II dan kelansungan hidup tinggi. Dengan keunggulan yang dimiliki tersebut, jenis udang ini sangat potensi dan prospektif pengembangannya.



KONSTRUKSI TAMBAK

Teknologi yang diperkenalkan melalui leaflet ini adalah Semi Intensif. Dalam budidaya udang semi intensif, sistem budidaya yang diterapkan sebaiknya memakai sistem “ resirkulasi” dengan rasio luas tambak 40% : 60% antara petak tandon dengan petak pemeliharaan. Konstruksi tambak terutama tanggul/pematang harus kuat, kedap air (tidak rembes dan bocor), tidak mudah longsor, pintu masuk dan keluar terpisah, bentuk caren melintang di tengah dasar tambak.







Gambar 1. Tata Letak Tambak












Jenis dan fungsi petakan dan saluran tambak yang diperlukan dalam budidaya udang semi intensif dengan sistem resirkulasi tertutup yaitu :

- Petak tambak karantina yang berfungsi sebagai petak isolasi air media, baik air baru ataupun air lama (air resirkulasi);

- Saluran suplai air yang menampung air dengan baku mutu air standar, yang didistribusikan ke petak-petak pembesaran;

- Petak pembesaran dipergunakan sebagai petak pemeliharaan udang hingga panen;

- Saluran pembuangan yang berasal dari petak pembesaran, berfungsi sebagai saluran pengendapan lumpur/limbah.;

- Petak tandon (bio filter/ bio screen) petak tambak yang dipelihara organisme jenis ikan multispeies dan ikan (bioscreen/biofilter) guna untuk memangsa hama penular penyakit udang;

- Petak unit pengolah limbah berfungsi sebagai petak penampungan air buangan kotoran (limbah) udang, terutama air buangan limbah tambak;

- Elevasi dasar tambak petak pembesaran udang terhadap saluran pembuangan (air surut terendah) yang standar dan ideal akan mempermudah pengelolaan air dan pembuangan lumpur/kotoran, baik secara harian maupun dalam kondisi tertentu.

- Central drain; adalah sistem pembuangan air yang dibuat /diletakan di titik konsentrasi pengumpulan kotoran, yaitu pada bagian tengah petak pembesaran udang;

- Pintu monik; adalah model pintu pembuangan air yang terbuat dari pasangan bata/batu dan cor semen. Pintu pengatur berada pada pematang bagian sisi dalam, sementara buis beton pembuangan air menghadap ke saluran pembuangan air;

- Pematang dan dasar tambak; Dimensi pematang yang ideal (dibuat dari tanah) untuk tambak udang adalah lebar atas antara 2,5 – 3,5 m, lebar bawah antara 7,0 – 9,0 m dan tinggi antara 1,5 – 2,0 m, kemiringan/slope 45 – 60 derajat.



PENGELOLAAN TAMBAK

Pengelolaan tambak meliputi : pengeringan, pembalikan tanah, pengapuran dan pemasukan air. Pengeringan dasar tambak dapat dilakukan selama 7-10 hari sampai tanah dasar tambak retak-retak, kemudian dilakukan pembalikan tanah. Jika pH tanah kurang dari 6,5, maka perlu dilakukan pengapuran dengan dosis seperti pada tabel 1, kemudian dilanjutkan dengan pemasukan air.








Tabel 1. Dosis kapur berdasarkan pH tanah









PEMELIHARAAN UDANG

Penyiapan Media Air Tahapan pada proses penyiapan media air adalah :

• Sterilisasi media air : dengan aplikasi kaporit 30 ppm dan saponin 10-12 ppm

• Pengisian air : dilakukan hingga ketinggian mencapai 0,8-1,0 m

• Pemupukan awal : pupuk organik 300-500 kg/ha

• Adaptasi media air : tingkat kecerahan air awal berkisar 40-45 cm.



Pemilihan dan Penebaran Benih

Ciri-ciri benur yang sehat :

• Ukuran seragam

• Gerakan lincah dan menantang arus

• Respon terhadap gerakan

• Putih transparan, kaki bersih, isi usus tidak putus, adaptif terhadap perubahan salinitas dan bebas virus

Padat penebaran yang optimal pada pembesaran udang vaname dengan teknologi semi intensif adalah 15 – 40 ekor per meter persegi atau 150.000 – 400.000 ekor/ha.



Masa Pemeliharaan Tahapan yang dilakukan dalam pemeliharaan adalah :

• Pengaturan dan pemberian pakan

• Manajemen plankton

• Pengelolaan air



Pengamatan kondisi dan pertumbuhan udang

Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :

• Kesehatan dan kondisi udang

• Pertambahan berat harian

• Tingkat kelangsungan hidup, serta

• Biomass



PENGELOLAAN KESEHATAN UDANG

Pengamatan dan monitoring kesehatan udang di tambak dilakukan melalui pengamatan secara visual terhadap nafsu makan, pertumbuhan, kelengkapan organ dan jaringan tubuh.

Ciri-ciri udang yang kurang sehat adalah :

• Terdapat bakteri Zoothammium sp pada insang dan tubuh

• Karapas (kepala) dan kulit abdomen (badan) berlumut

• Ekor gerepes, insang kotor, antena putus

• Daging udang keropos, warna tubuh dan ekor kemerahan.



Pengamatan Rutin

Pengamatan di anco dilakukan untuk melihat populasi dan kesehatan setiap saat

Ciri-ciri udang sehat adalah :

• Gerakan aktif, berenang normal dan melompat bila anco di angkat

• Respon positif terhadap arus, cahaya, bayangan dan sentuhan

• Tubuh bersih, licin, berwarna cerah, belang putih yang jelas

• Tubuh tidak keropos, anggota tubuh lengkap

• Kotoran tidak mengapung

• Ujung ekor tidak geripis

• Ekor dan kaki jalan tidak menguncup

• Insang jernih atau putih serta bersih

• Kondisi usus penuh, tidak terputus-putus Pencegahan Penyakit

• Air pemeliharaan diusahakan bebas kontaminasi virus dengan kaporit atau pengendapan dan filtrasi dengan biofilter

• Pemeliharaan fitoplankton sebagai penyerap racun melalui aplikasi pupuk urea

• Pengamatan secara rutin terhadap pH, suhu, salinitas dan kecerahan air

• Lakukan disiplin kaidah, aturan dan prinsip utama budidaya udang yang berwawasan lingkungan





Gambar 2. Manajeman pemeliharaan












PEMANENAN HASIL DAN ANALISA USAHA

Pemanenan dilakukan setelah umur pemeliharaan >100 hari atau size udang telah mencapai 50 ekor/kg. Pemanenan dapat dilakukan dengan menggunakan jala atau ditangkap melalui pintu air dengan mengeringkan tambak.

Analisa usaha pembesaran budidaya udang vaname semi intensif dalam satu musim tanam seluas 1 ha, dengan padat penebaran 40 ekor per meter persegi, dapat menghasilkan keuntungan sebesar Rp. 50.000.000,-Lebih jelasnya contoh analisa usaha pembesaran budidaya udang vaname semi intensif dengan luas total unit 2 ha dengan petak pembesaran 1 ha dapat dilihat pada tabel 2..




Tabel 2.









Dari contoh analisa usaha pembesaran udang vaname semi intensif di atas, maka besarnya nilai B/C dapat dihitung sebagai berikut : B /C Ratio = Jumlah Penerimaan : Total Biaya = 148.400.000 : 96.277.900 = 1,54 Dengan nilai B/C Ratio dari analisa usaha di atas sebesar 1,5 artinya bahwa kondisi usaha pembesaran udang vaname semi intensif tersebut sangat baik sekali diusahakan/diteruskan

sumber : http://www.perikanan-budidaya.dkp.go.id

Senin, 13 Desember 2010

Si Bongkok Menggeliat

Si Bongkok Menggeliat

Harga udang naik lantaran permintaan pasar meningkat menjelang akhir tahun

Veri Nurhansyah

JAKARTA. Menjelang berakhirnya tahun 2010, para pebu-didaya udang diterpa angin segar. Sebab, harga udang dunia semakin naik seiring meningkatnya permintaan udang di pengujung tahun.

Ketua Shrimp Club Indonesia (SCI) Iwan Setiawan menyebutkan , selama November hingga Desember 2010, harga udang ekspor naik hingga menyentuh Rp 60.000 per kilogram (kg). Harga ini melesat dari bulan-bulan sebelumnya yang hanya berada di kisaran Rp 35.000 - Rp 40.000 per kg.

Tentu saja, meningkatnya harga udang ini menguntungkan dan membuat produsen udang lebih lega. "Dengan hargajual udang sekarang ini, pebudidaya lebih bisa berekspansi dengan menambah lahan tambak agar produksinya meningkat," ungkap Iwan.

Iwan berpendapat, salah satu penyebab naiknya harga udang dunia belakangan ini adalah ketidakseimbangan antara volume produksi dan permintaan. Sepanjang 2010, terdapat gangguan produksi di beberapa negara produsen.

Sejumlah negara melaporkan penurunan produksi di saat permintaan udang dunia sedang membaik. Kenaikan tertinggi berasal dari pasar Amerika Serikat (AS) dan Eropa yang saat ini mulai memasuki musim dingin.

Menurut Victor Nikijuluw, Sekretaris Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), selain kenaikan permintaan menjelang musim dingin, kenaikan harga udang lebih banyak dikatrol oleh kenaikan permintaan untuk konsumsimenyambut Natal dan tahun baru.

Maklum, dalam menyambut Natal dan tahun baru, ada kebiasaan tahunan, konsumen membeli udang lebih banyak untuk disantap bersama dengan keluarga dan tamu.

"Timpangnya produksi dan permintaan ini membuat harga udang naik belakangan ini," kata Victor.

Kenaikan pemintaan udang tertinggi, menurut Victor, berasal dari AS dan Eropa. Saat ini, pasar udang di AS sedang kesulitan pasokan lantaran Amerika Selatan yang selama ini memasok udang sedang terganggu produksinya akibat tumpahnya minyak di Teluk Meksiko sejak April silam.

Dampak tumpahan minyak itu masih dirasakan sampai akhir tahun ini. Buktinya, kapasitas produksi udang di Chile, Ekuador, dan Meksiko melorot tajam. Padahal, selama ini, kawasan ini memasok 20% kebutuhan udang di AS. Selain soal pencemaran laut, tambak-tambak udang di Amerika Selatan sedang menghadapi serangan virus.

Kondisi kurang lebih santa juga dialami para pebudidaya udang di Indonesia Tahun ini, produksi udang tidak jauh berbeda dari produksi tahun lalu. Penyebabnya adalah pro-ses pemulihan produksi setelah terserang penyakit masih lambat. Hal ini tercermin dari kinerja ekspor udang Indonesia. Sekadar informasi, volume ekspor udang Januari-Agustus 2010 hanya mencapai 94.867 ton atau senilai US$ 840 juta.

Kinerja ekspor ini turun sekitar 5,76% dibanding periode sama tahun lalu yang mencapai 100.668 ton dengan nilai sekitar US$ 888 juta. Salah satu penyebabnya adalah sebagian tambak besar belum pulih beroperasi setelah serangan virus tahun lalu.

Virus sudah teratasi

Meski begitu, sampai akhir tahun ini, ekspor udang masih mungkin membaik. Harapannya bertumpu pada produksi anggota SCI yang kebanyakan merupakan petambak menengah dan kecil, serta tambak rakyat. Geliat produksi petambak kelompok ini sudah terlihat belakangan ini.

Iwan bahkan berani mema-tok target produksi anggota SCI bisa mencapai 130.000 ton atau naik dibandingkan tahun lalu sekitar 100.000 ton. Kenaikan produksi itu terjadi lantaran sebagian petambak berhasil mengatasi serangan virus white spot syndrome yang meraja lela sejak tahun lalu. "Dengan panen yang lebih bertahap dan pengelolaanyang lebih sabar, virus itu berhasil kami jinakkan," kata Iwan.

Meski begitu, Iwan belum berani mematok target kenaikan produksi pada tahun depan. Sebab, produksi udang sangat bergantung dari harga jual. Jika harga baik, petam-bak udang akan bersemangat menaikkan produksi. Begitu pula sebaliknya

Meski petambak optimistis, KKP masih memperkirakan, produksi udang tahun ini belum mencapai target sebesar 350.000 ton. Sumber masalahnya adalah perusahaan tambak terbesar di Asia yang berada di Lampung belum beroperasi secara normal. Tapi, KKP optimistis, produksi bisa mencapai 300.000 ton.

Victor bilang, sampai tahun 2014, pemerintah mematok target produksi udang sebanyak 700.000 ton. "Salah satu upayanya adalah membangun pusat induk atau Broodstock Center di Karangasem, Bali, baru-baru ini," jelasnya

Selain menggenjot produksi, KKP juga berusaha meningkatkan nilai tambah produk udang. Selama ini, ekspor udang dari Indonesia hanya dalam bentuk/rozen shrimp. KKP berencana mendorong produsen mengekspor dalam bentuk olahan, seperti udang kaleng.


Sumber : Harian Kontan 13 Desember 2010,hal.15