PRINCIPLES OF POND FISH CULTURE
1. Fish are dependent for food directly or indirectly on plants.
2. The weight of fish which can be produced in natural waters is dependent upon the ability of the water to raise the plants. We could increase production by adding plant organic matter produced elsewhere.
3. The ability of water to produce plants is dependent upon sunshine, temperature, CO2, Mineral from soil or rocks, nitrogen (NO3- and NH4-) , O2 and water.
4. The Natural fertility of the water is dependent on the fertility of the soil in pond bottom and watershed.
5. Fertlity of water can be increased by adding inorganic fertilizers.
6. After adding all essential minerals and all available nitrogen, the next limiting factor is CO2. This compound can be increased by adding organic matter followed by liming (Ca, Mg).
7. The next limiting factor in fish production, after mineral and CO2 are provided, is oxygen demand of all living and dead organisms in the water. This can be supplied by running water rich in oxygen or pumping water from the bottom and aerate it. If oxygen in the water falls below 1.0 ppm, fish die. One ppm oxygen is enough for fish in resting condition, but for active fish, 3.0 ppm is needed.
8. Microscopic plants (planktonic algae) are the principal food producing plants for fishes.
9. Microscopic plants are the most desirable, because : (a) short life cycle, (b) mobility, (c) more nutritious, and (d) small size.
10. Rooted plants are less desirable, because: (a) long life, (b) immobility, (c) less nutritious, (d) large size, and (e) shading effect.
11. a. The more fertile the water the heavier the plankton concetration becomes, the more shallow becomes light penetration and photosynthesis. b. Heavy plankton concetration in top water causes shallow stratification and low oxygen or none in deeper water. Strong wind, or heavy cold rain causes overtum, causing trouble to the fish. Water with no oxygen spread too fast and could kill the fish. Heavy plankton can be killed by the use of CuSO4. Light can penetrate deeper, so does the production of oxygen. c. the deeper the fertile lake or pond (heavy plankton) the higher the precentage of the total volume of water deficient of oxygen during period of stratification.
12. Rooted plants are desitable, in part, in waters of low fertility, because : (1) Oxygenate deep water as far down and light penetrates, (2) draw nutrients from pond bottom soil, (3) prevent marginal erosion, (4) provide surface for food organisms, and (5) provide food for fish derectly or indirectly.
13. The longer the food chain from plant to fish the lower the production of fish obtained. The conversion rate from: Plant to fish = 5 – 10 Plant to insect = 5 – 10 Insect to fish = 3 – 10 fish to fish = 2 – 5
14. At a given level of fertility the fish production is constant for a particular species and a certain rate of stocking. The total pound/acre is dependent upon the number of fish present and the size harvested. Small fish produce high number of lbs/acre, and large ones produce small number of lbs/acre.
15. For short period of time we can regulate number ( and final size) by the number stocked. This can be done by frequent draining before the fish are old enough to spawn. For non spawner there would be no difficulity. Mortality rate can be up to 20 percent a year.
16. For long period of time the number of fish and sizes must be controlled by biological methods such as: 1. Repression - prevents reproduction, e.g. carp. 2. Predation - method of controlling the number of young fish. 3. Starvation - this could lead to weakning of fish, thus vulnerable to disease and parasites. 4. Limited spawing area
17. The greatest total weight to any one forage species (for short periode of time for piscivorous fish) can be produced in waters containing only that species.
18. The greatest total weight of fish can be produced by combination of forage fish differing in feeding habits.
19. The presence of piscivorous species decreases the total weight or fish, decreases the number of fish, but increases the average size.
20. The rate of feeding required to maintain a fish is less than the rate required for growth.
21. The amount of food required to maintain one-pound fish for one year is equal to the feed required to raise the fish to one pound.
22. A population of fish at a given level of food abundance will tend to expand until harvestable food equals the amount required for maintenance.
23. Feeding at maintenance is uneconomical for extended periods. Feeding to satiety is uneconomical too. Econimical feeding rate varies with the size of fish.
24. Economical feeding rate per acre is limited by the eficiency of the ecological system in waste disposal and reoxygenation.
25. High quality feeds must contain in proper proportion; protein for building fish flesh carbohydrate and fat for energy, minerals for contruction and regulation, and vitamins for regulation of life processes.
26. Quality of feed influences (a) the amount of waste, (b) health of fish, and (c) rate of growth.
27. By increasing feeding rate the stocking rate of fish can be increased. This could increase the incidence of parasites and diseases.
28. Within limits regulation of feeding rates can replace predation in obtaining a high percentage of harvestable fish.
29. Rates of growth of fish vary widely and are dependent upon : (a) their ability to grow, (b) the quality of feed, (c) space – waste disposal system, (d) temperature, (e) the amount of feed per individual.
30. Minimum age at spawning is dependent upon rate of growth.
H.S. SWINGLE Auburn University
Tampilkan postingan dengan label Biologi Ikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biologi Ikan. Tampilkan semua postingan
Kamis, 20 Agustus 2015
Jumat, 30 Desember 2011
Faktor-faktor genetik ( Kromosom ikan )
Faktor-faktor genetic.
Pada waktu terjadi peleburan spermatozoa dengan inti telur, terjadi pula persatuan material yang berasal dari dua sumber. Baik telur ataupun spermatozoa membawa sifat dari masing-masing induk yaitu kromosom.
Kromosom merupakan benda kecil, terletak dalam inti sel, bertanggung jawab untuk transmisi atau pemindahan sifat keturunan. Kromosom ini hanya dapat terlihat pada waktu terjadi pembelahan sel secara mitosis terutama pada saat metaphase dengan cara pewarnaan khusus. Ukuran dan bentuk kromosom itu berbeda dalam species ikan yang berlainan. Namun kromosom itu dapat dibedakan menjadi 4 macam sebagai berikut ( Gambar 16 ):
a = Acro(telo)centric (t).
Kromosom telocentric centromerenya yaitu daerah tempat menempel benang pada waktu mitosis terletak dekat salah satu ujung kromosom.
b = Subtelocentric (st).
Kromosom subtelocentric centomerenya berdekatan ke ujung kromosom, tetapi terdapat lengan kromosom yang pendek.
c = Submetacentric (sm).
Kromosom submetacentric centromerenya terletak di tengah-tengah. kromosom. Kedua lengan kromosomnya terlihat tapi tidak sama panjang.
d = Metacentric (m).
Kromosom metacentric centromerenya dengan dua lengan kromosom yang sama panjang di tengah-tengah.

Gambar 16. Macam-macam bentuk kromosom ikan (Kirpichnikov 1981)
Menurut penulis lain kromosom telocentric ialah kromosom yang tidak mempunyai lengan kromosom kedua setelah terminal centromer, berlawanan dengan kromosom yang acrocentric mempunyai lengan kromosom pendek. Klasifikasi kromosom menjadi 4 bentuk itu berdasarkan perbandingan panjang lengan kromosom.
Tidak semua ikan mempunyai bentuk kromosom itu terlihat bersama-sama pada waktu metaphase. Ada ikan yang hanya mempunyai kromosom acrocentric dan subtelocentric, atau dalam species lain hanya terdiri dari kromosom metacentric atau sub metecentric.
Sering sekali pada ikan didapatkan 2 atau 3 macam kromosom, walaupun ada juga yang mempunyai keempatempatnya bentuk kromosom. Pada sejumlah ikan teleost, demikian juga pada ikan cucut dan pari serta dalam Acipencerridae dan Amiidae, dalam kromosomnya didapatkan "micro-chromosome" yang bentuknya kecil tetapi sangat sukar dikuantitatifkan. Ada juga ikan yang mempunyai kromosom dengan satelitnya seperti pada ikan Salmonidae dengan bentuk seperti pada Gambar 17.

Gambar 17. Kromosom ikan dengan satelit
Dapat diperhatikan bahwa tiap kromosom mengandung dua bentuk yang identik dan sejajar yang dinamakan kromatid. Tiap kromatid terdiri dari satu atau beberapa filamen tipis yang dinamakan kromonemata atau genonemata.
Pada kronemata ini terdapat satu daerah yang meyerap pewarnaan yang lebih dan daerah ini dinamakan kromomer. Kromonema merupakan filamen ganda yang panjang, bentuknya lurus kalau sel itu sedang membelah dan kalau sel itu sedang istirahat atau interphase bentuknya ikal seperti spiral. Dalam sel yang sedang istirahat demikian kromonemata yang panjang dan tipis itu mengisi inti sel membentuk jaringan yang komplek, tapi sukar terlihat di bawah mikroskop, hanya satu atau dua nukleoli yang terlihat.
Sumber : M. Ichsan Effendie, 1997
Pada waktu terjadi peleburan spermatozoa dengan inti telur, terjadi pula persatuan material yang berasal dari dua sumber. Baik telur ataupun spermatozoa membawa sifat dari masing-masing induk yaitu kromosom.
Kromosom merupakan benda kecil, terletak dalam inti sel, bertanggung jawab untuk transmisi atau pemindahan sifat keturunan. Kromosom ini hanya dapat terlihat pada waktu terjadi pembelahan sel secara mitosis terutama pada saat metaphase dengan cara pewarnaan khusus. Ukuran dan bentuk kromosom itu berbeda dalam species ikan yang berlainan. Namun kromosom itu dapat dibedakan menjadi 4 macam sebagai berikut ( Gambar 16 ):
a = Acro(telo)centric (t).
Kromosom telocentric centromerenya yaitu daerah tempat menempel benang pada waktu mitosis terletak dekat salah satu ujung kromosom.
b = Subtelocentric (st).
Kromosom subtelocentric centomerenya berdekatan ke ujung kromosom, tetapi terdapat lengan kromosom yang pendek.
c = Submetacentric (sm).
Kromosom submetacentric centromerenya terletak di tengah-tengah. kromosom. Kedua lengan kromosomnya terlihat tapi tidak sama panjang.
d = Metacentric (m).
Kromosom metacentric centromerenya dengan dua lengan kromosom yang sama panjang di tengah-tengah.
Gambar 16. Macam-macam bentuk kromosom ikan (Kirpichnikov 1981)
Menurut penulis lain kromosom telocentric ialah kromosom yang tidak mempunyai lengan kromosom kedua setelah terminal centromer, berlawanan dengan kromosom yang acrocentric mempunyai lengan kromosom pendek. Klasifikasi kromosom menjadi 4 bentuk itu berdasarkan perbandingan panjang lengan kromosom.
Tidak semua ikan mempunyai bentuk kromosom itu terlihat bersama-sama pada waktu metaphase. Ada ikan yang hanya mempunyai kromosom acrocentric dan subtelocentric, atau dalam species lain hanya terdiri dari kromosom metacentric atau sub metecentric.
Sering sekali pada ikan didapatkan 2 atau 3 macam kromosom, walaupun ada juga yang mempunyai keempatempatnya bentuk kromosom. Pada sejumlah ikan teleost, demikian juga pada ikan cucut dan pari serta dalam Acipencerridae dan Amiidae, dalam kromosomnya didapatkan "micro-chromosome" yang bentuknya kecil tetapi sangat sukar dikuantitatifkan. Ada juga ikan yang mempunyai kromosom dengan satelitnya seperti pada ikan Salmonidae dengan bentuk seperti pada Gambar 17.
Gambar 17. Kromosom ikan dengan satelit
Dapat diperhatikan bahwa tiap kromosom mengandung dua bentuk yang identik dan sejajar yang dinamakan kromatid. Tiap kromatid terdiri dari satu atau beberapa filamen tipis yang dinamakan kromonemata atau genonemata.
Pada kronemata ini terdapat satu daerah yang meyerap pewarnaan yang lebih dan daerah ini dinamakan kromomer. Kromonema merupakan filamen ganda yang panjang, bentuknya lurus kalau sel itu sedang membelah dan kalau sel itu sedang istirahat atau interphase bentuknya ikal seperti spiral. Dalam sel yang sedang istirahat demikian kromonemata yang panjang dan tipis itu mengisi inti sel membentuk jaringan yang komplek, tapi sukar terlihat di bawah mikroskop, hanya satu atau dua nukleoli yang terlihat.
Sumber : M. Ichsan Effendie, 1997
Rabu, 21 Desember 2011
FEKUNDITAS IKAN
FEKUNDITAS IKAN
Pengetahuan mengenai fekunditas merupakan salah satu aspek yang memegang peranan penting dalam biologi perikanan. Fekunditas ikan telah dipelajari bukan saja merupakan salah satu aspek dari natural history, tetapi sebenarnya ada hubungannya dengan studi dinamika populasi, sifat-sifat rasial, produksi dan persoalan stok-rekruitmen (Bagenal, 1978).
Dari fekunditas secara tidak langsung kita dapat menaksir jumlah anak ikan yang akan dihasilkan dan akan menentukan pula jumlah ikan dalam kelas umur yang bersangkutan. Dalam hubungan ini tentu ada faktor-faktor lain yang memegang peranan penting dan sangat erat hubungannya dengan strategi reprodusi dalam rangka mempertahankan kehadiran spesies itu di alam.
Selain itu, fekunditas merupakan suatu subyek yang dapat menyesuaikan dengan bermacam-macam kondisi terutama dengan respons terhadap makanan. Jumlah telur yang dikeluarkan merupakan satu mata rantai penghubung antara satu generasi dengan generasi berikutnya, tetapi secara umum tidak ada hubungan yang jelas antara fekunditas dengan jumlah telur yang dihasilkan.
Macam-macam fekunditas
Telah banyak usaha-usaha untuk menerangkan dan membuat definisi mengenai fekunditas. Mungkin definisi yang paling dekat dengan kebenarannya adalah seperti apa yang terdapat pada ikan Salmon (Onchorynchus sp). Ikan ini selama hidupnya hanya satu kali memijah dan kemudian mati.
Semua telur-telur yang akan dikeluarkan pada waktu pemijahan itulah yang dimaksud dengan fekunditas. Tetapi karena spesies ikan yang ada itu bermacam-macam dengan sifatnya masing-masing, maka beberapa peneliti berdasarkan kepada definisi yang umum tadi lebih mengembangkan lagi definisi fekunditas sehubungan dengan aspek-aspek yang ditelitinya. Misalnya kesulitan yang timbul dalam menentukan fekunditas itu ialah komposisi telur yang heterogen, tingkat kematangan gonad yang tidak seragam dari populasi ikan termaksud, waktu pemijahan yang berbeda dan lain-lainnya. Bagenal (1978) membedakan antara fekunditas yaitu jumlah telur matang yang akan dikeluarkan dengan fertilitas yaitu jumlah telur matang yang dikeluarkan oleh induk.
Menurut Nikolsky (1963) jumlah telur yang terdapat dalam ovari ikan dinamakan fekunditas individu, fekunditas mutlak atau fekunditas total. Dalam hal ini memperhitungkan telur yang ukurannya berlain-lainan. Oleh karena itu dalam memperhitungkannya harus diikutsertakan semua ukuran telur dan masing-masing harus mendapatkan kesempatan yang sama. Konsekuensinya harus mengambil telur dari beberapa bagian ovari (kalau bukan dengan metoda numerikal). Kalau ada telur yang jelas kelihatan ukurannya berlainan dalam daerah yang berlainan dengan perlakuan yang sama harus dihitung terpisah. Tetapi pada tahun 1969, Nikolsky selanjutnya menyatakan bahwa fekunditas individu adalah jumlah telur dari generasi tahun itu yang akan dikeluarkan tahun itu pula.
Sumber : M. Ichsan Effendie
Pengetahuan mengenai fekunditas merupakan salah satu aspek yang memegang peranan penting dalam biologi perikanan. Fekunditas ikan telah dipelajari bukan saja merupakan salah satu aspek dari natural history, tetapi sebenarnya ada hubungannya dengan studi dinamika populasi, sifat-sifat rasial, produksi dan persoalan stok-rekruitmen (Bagenal, 1978).
Dari fekunditas secara tidak langsung kita dapat menaksir jumlah anak ikan yang akan dihasilkan dan akan menentukan pula jumlah ikan dalam kelas umur yang bersangkutan. Dalam hubungan ini tentu ada faktor-faktor lain yang memegang peranan penting dan sangat erat hubungannya dengan strategi reprodusi dalam rangka mempertahankan kehadiran spesies itu di alam.
Selain itu, fekunditas merupakan suatu subyek yang dapat menyesuaikan dengan bermacam-macam kondisi terutama dengan respons terhadap makanan. Jumlah telur yang dikeluarkan merupakan satu mata rantai penghubung antara satu generasi dengan generasi berikutnya, tetapi secara umum tidak ada hubungan yang jelas antara fekunditas dengan jumlah telur yang dihasilkan.
Macam-macam fekunditas
Telah banyak usaha-usaha untuk menerangkan dan membuat definisi mengenai fekunditas. Mungkin definisi yang paling dekat dengan kebenarannya adalah seperti apa yang terdapat pada ikan Salmon (Onchorynchus sp). Ikan ini selama hidupnya hanya satu kali memijah dan kemudian mati.
Semua telur-telur yang akan dikeluarkan pada waktu pemijahan itulah yang dimaksud dengan fekunditas. Tetapi karena spesies ikan yang ada itu bermacam-macam dengan sifatnya masing-masing, maka beberapa peneliti berdasarkan kepada definisi yang umum tadi lebih mengembangkan lagi definisi fekunditas sehubungan dengan aspek-aspek yang ditelitinya. Misalnya kesulitan yang timbul dalam menentukan fekunditas itu ialah komposisi telur yang heterogen, tingkat kematangan gonad yang tidak seragam dari populasi ikan termaksud, waktu pemijahan yang berbeda dan lain-lainnya. Bagenal (1978) membedakan antara fekunditas yaitu jumlah telur matang yang akan dikeluarkan dengan fertilitas yaitu jumlah telur matang yang dikeluarkan oleh induk.
Menurut Nikolsky (1963) jumlah telur yang terdapat dalam ovari ikan dinamakan fekunditas individu, fekunditas mutlak atau fekunditas total. Dalam hal ini memperhitungkan telur yang ukurannya berlain-lainan. Oleh karena itu dalam memperhitungkannya harus diikutsertakan semua ukuran telur dan masing-masing harus mendapatkan kesempatan yang sama. Konsekuensinya harus mengambil telur dari beberapa bagian ovari (kalau bukan dengan metoda numerikal). Kalau ada telur yang jelas kelihatan ukurannya berlainan dalam daerah yang berlainan dengan perlakuan yang sama harus dihitung terpisah. Tetapi pada tahun 1969, Nikolsky selanjutnya menyatakan bahwa fekunditas individu adalah jumlah telur dari generasi tahun itu yang akan dikeluarkan tahun itu pula.
Sumber : M. Ichsan Effendie
Rabu, 22 Juli 2009
Anatomi dan Biologi Ikan
Anatomi dan Biologi Ikan
DEFINISI IKAN (PISCES)
Bertulang belakang (termasuk vertebrata), habitatnya perairan, bernapas dengan insang (terutama), bergerak dan menjaga keseimbangan tubunya menggunakan sirip-sirip, bersifat poikilotermal.
MORFOLOGI (Bentuk Tubuh) IKAN
Bervariasi sekali, tetapi morfologi dasarnya adalah terdiri dari kepala, badan, dan ekor gambar 1, gambar 2.a bentuk umum : bilateral simetri, dan gambar 2.b nonsimetri
ANATOMI
Ada 10 sistem anatomi pada tubuh ikan :
1. Sistem penutup tubuh (kulit) : antara lain sisik, kelenjar racun, kelenjar lendir, dan sumber-sumber pewarnaan.
2. Sistem otot (urat daging): - penggerak tubuh, sirip-sirip, insang
- organ listrik
3. Sistem rangka (tulang) : tempat melekatnya otot; pelindung organ-organ dalam dan penegak tubuh
4. Sistem pernapasan (respirasi): organnya terutama insang; ada organ-organ tambahan
5. Sistem peredaran darah (sirkulasi) : - organnya jantung dan sel-sel darah
- mengedarkan O2, nutrisi, dsb
6. Sistem pencernaan : organnya saluran pencernaan dari mulut – anus
7. Sistem saraf : organnya otak dan saraf-saraf tepi
8. Sistem hormon : kelenjar-kelenjar hormon; untuk pertumbuhan, reproduksi, dsb
9. Sistem ekskresi dan osmoregulasi : organnya terutama ginjal
10. Sistem reproduksi dan embriologi : organnya gonad jantan dan betina
Ada hubungan yg sangat erat antara ke-10 sistem anatomi tersebut, misalnya :
- sistem urat daging dan sistem rangka mempengaruhi bentuk tubuh menentukan cara bergeraknya
- sistem pernafasan dan peredaran darah O2 dari perairan ditangkap oleh darah, dipertukarkan dg CO2 dibawa ke seluruh tubuh melalui darah
1. SISTEM PENUTUP TUBUH/KULIT
Kulit terdiri dari 2 lapis :
- epidermis; terluar, tipis, selalu berganti
- dermis; di bawah epidermis, lebih tebal, tempat terbentuknya sisik
- Fungsi kulit :
- 1. pembungkus/penutup tubuh
2. pertahanan pertama terhadap penyakit dan parasit
3. penyesuaian terhadap kondisi lingkungan
4. alat ekskresi – osmoregulasi
5. alat pernafasan tambahan
Organ yang terdapat pada kulit :
- sisik, termasuk skut dan kil
- kelenjar lendir
- kelenjar racun
- sumber pewarnaan
- organ cahaya ikan-ikan laut dalam
Tipe-tipe sisik : sikloid, ktenoid, plakoid, ganoid, cesmoid.
Kelenjar lendir : mengeluarkan lendir
fungsi lendir :
1. mencegah gesekan badan dengan air, mempercepat gerakan
2. mencegah keluar-masuk air melalui kulit
3. mencegah infeksi
4. menutup luka
5. mencegah kekeringan (pada ikan paru-paru)
6. membuat sarang (pada spesies ikan tertentu)
Kelenjar racun : pada spesies-spesies tertentu modifikasi kelenjar lendir, letaknya berbeda-beda di sirip-sirip, fungsinya untuk pertahanan diri, menyerang, dan mencari makan.
Sumber pewarnaan pada ikan : fungsi pewarnaan penyamaran, persembunyian, pemberitahuan, menghindar dari predator, menunggu mangsa, komunikasi dengan lawan jenis.
2. SISTEM URAT DAGING (OTOT)
Jenisnya :
- bergaris
- polos
- jantung
Kerjanya :
- di bawah rangsang saraf
- tidak di bawah rangsang saraf
Fungsinya : untuk pergerakan tubuh, sirip-sirip, rongga mulut, dan organ-organ dalam.
Pada ikan ada modifikasi urat daging, menjadi organ listrik pada ± 250 spesies ikan terutama ikan-ikan laut, di daerah tropis dan sub-tropis. Fungsinya untuk pertahanan diri (voltase listrik yg dihasilkan tinggi) dan untuk mencari makan (voltase rendah).
3. SISTEM RANGKA (TULANG)
Fungsi rangka :
1. penegak tubuh
2. tempat melekatnya otot
3. pelindung organ-organ dalam
4. membentuk eritrosit
Berdasarkan strukturnya, rangka ikan ada 2 macam :
a. Rangka tulang rawan, pada ikan-ikan Elasmobranchii (cucut dll)
b. Rangka tulang benar, pada ikan-ikan Teleostei (pada umumnya ikan-ikan)
Berdasarkan letaknya :
- tulang tengkorak
- tulang punggung
- tulang rusuk
- tulang penyokong insang disebut rangka VISCERAL
- tulang penyokong sirip disebut rangka APPENDICULAR
Tulang-tulang penutup insang :
- operculum
- sub operculum – di bawah
- pre operculum – di depan
- interculum – diantara
4. SISTEM PENCERNAAN
Definisi : Pencernaan adalah proses penyederhanaan makanan melaului cara fisik dan kimia, sehingga menjadi sari-sari makanan yang mudah diserap di dalam usus, kemudian diedarkan ke seluruh organ tubuh melalui sistem peredaran darah.
Organ-organ : Saluran pencernaan terdiri dari (dari arah depan/anterior ke arah belakang/posterior) berturut-turut : mulut/rongga mulut esofagus lambung hati, empedu, pankreas (pilorus dan pilorik saeka) usus
Organ-organ tambahan : kelenjar hati, kelenjar empedu, dan kelenjar pancreas
Organ-organ pelengkap : sungut, gigi, tapis insang.
Menurut jenis makanannya, ikan tergolong menjadi karnivor (makan ikan lain, kepiting, serangga, dsb), herbivor (makan plankton, tanaman air, dsb), dan omnivor (makannya campuran).
Jenis makanan ikan dan cara makannya dapat diduga dari :
- bentuk mulut, posisi mulut
- tipe gigi : canin, incisor, dsb
- tulang-tulang tapis insang : rapat, panjang, halus, dsb
- perbandingan antara panjang usus dengan panjang tubuhnya
Untuk efektivitas sistem pencernaan, terdapat modifikasi-modifikasi pada lambung (misalkan belanak) dan pada usus (misal pada ikan hiu).
Dengan mengetahui jenis makanan alami dan cara makannya, dapat diterapkan pada usaha budidaya ikan.
5. SISTEM SIRKULASI (PEREDARAN DARAH)
Definisi : Sistem sirkulasi adalah sistem yang berfungsi untuk mengangkut dan mengedarkan O2 dari perairan ke sel-sel tubuh yang membutuhkan, juga mengangkut enzim, zat-zat nutrisi, garam-garam, hormon, dan anti bodi serta mengangkut CO2 dari dalam usus, kelenjar-kelenjar, insang, dan sebagainya, keluar tubuh.
Organ-organ : jantung, pembuluh nadi (aorta, arteri) dan pembuluh balik (vena), dan kapiler-kapiler darah. Bahan yang diedarkan : darah (plasma darah dan butir-butir darah)
Jantung ikan :
- Fungsi : memompa darah ke seluruh bagian tubuh. Beda jantung ikan dengan jantung hewan lain ada alat pacu jantung yg memungkinkan jantung terus berdenyut walaupun otak sudah rusak
- Bagian-bagian jantung :
• Atrium – berdinding tipis
• Ventrikal – berdinding tebal, sebagai pemompa darah
• Bulbus arteriosus
Sebelum atrium, terdapat sinus venosus (SV) yang mengumpulkan darah berkadar CO2 tinggi, berasal dari organ-organ tertentu. Darah dari SV masuk ke dalam atrium melalui katup sinuautrial, dari atrium darah masuk ke dalam ventricle melalui katup atrioventricular. Dari ventrikel darah ditekan dengan daya pompa padanya, menuju ke arah aorta ventralis, menuju ke insang. Di insang terjadi pertukaran O2 dengan CO2 (pada sistem pernafasan) dan seterusnya darah dengan kandungan O2 tinggi diedarkan ke daerah kepala, ke bagian dorsal, ke ventral, dan ekor setelah mengedarkan nutrisi dsb kembali ke jantung dan seterusnya.
6. SISTEM PERNAFASAN
Definisi : Pernafasan : pertukaran CO2 (sisa-sisa proses metabolisme tubuh yg harus dibuang) dengan O2 (berasal dari perairan, dibutuhkan tubuh untuk proses metabolisme dsb).
Organ-organ pernafasan :
- terutama insang letak? mengambil O2 dari perairan
- organ tambahan paru-paru, labirin, dsb mengambil O2 dari udara;
kulit dan kantung kuning telur pada embrio dan larva
Insang, bagian-bagiannya :
- tulang lengkung insang
- tulang tapis insang
- daun insang
Fungsi bagian-bagian insang :
1. Tulang lengkung insang sebagai tempat melakeatnya tulang tapis insang dan daun insang, mempunyai banyak saluran-saluran darah dan saluran syaraf
2. Tulang tapis insang, berfungsi dalam sistem pencernaan untuk mencegah keluarnya organisme makanan melalui celah insang
3. Daun insang, berfungsi sebagai dalam sistem pernafasan dan peredaran darah, tempat terjadinya pertukaran gas O2 dengan CO2.
Mekanisme pernafasan :
Pertukaran gas CO2 dan O2 terjadi secara difusi ketika air dari habitat yang masuk melalui mulut, terdorong ke arah daerah insang. O2 yang banyak dikandung di dalam air akan diikat oleh hemoglobin darah, sedangkan CO2 yang dikandung di dalam darah akan dikeluarkan ke perairan. Darah yang sudah banyak mengandung O2 kemudian diedarkan kembali ke seluruh organ tubuh dan seterusnya.
Hal-hal yang berkaitan dg sistem pernafasan :
1. Perairan harus mengandung O2 cukup banyak
2. Bila perairan kurang O2, ikan akan a.l :
a. menuju permukaan pedagang ikan
b. menuju tempat pemasukkan air
c. menuju tempat air yg berarus
3. Daun insang harus dalam keadaan lembab
Faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan ikan akan O2:
1. ukuran dan umur (standia hidup) : ikan-ikan kecil membutuhkan O2 >>
2. aktivitas ikan : yang aktif berenang perlu O2 >>
3. Jenis kelamin : ikan betina membutuhkan O2 >>
4. Stadia reproduksi
7 & 8 SISTEM SARAF DAN HORMON
Kedua sistem ini dapat dikatakan sebagai sistem koordinasi untuk mengantisipasi perubahan kondisi lingkungan dan perubahan status kehidupan (reproduksi dsb). Perubahan lingkungan akan diinformasikan ke sistem saraf (saraf pusat dsb), saraf akan merangsang kelenjar endokrin untuk mengeluarkan hormon-hormon yang dibutuhkan hormon dikirim ke organ target dan aktivitas metabolisme akan merangsang jaringan-jaringan a.l untuk bergerak.
Sistem saraf terdiri dari :
- sistem cerebro spinal :
• sistem saraf pusat : otak dan tulang punggung
• sistem saraf tepi
- sistem otonomi : simpati dan parasimpati
- organ-organ khusus : hidung, telinga, mata, LL
Keistimewaan sistem saraf pada ikan : sistem saraf pada LL mendeteksi kondisi lingkungan (pH, suhu, dsb) karena mengandung ujung-ujung sel saraf dan sel darah.
Sistem Hormon : Hormon dihasilkan oleh kelenjar-kelenjar hormon a.l hormon pertumbuhan, hormon reproduksi, hormon ekskresi & osmoregulasi.
Menurut hasil kelenjar hormon :
- endo hormon : yang bekerja di dalam tubuh, seperti hormon-hormon di atas
- ekto hormon : yang bekerja di luar tubuh, seperti fenomen : merangsang jenis kelamin lain mendekat untuk berpijah.
9. SISTEM EKSKRESI DAN OSMOREGULASI
Definisi :
Sistem Ekskresi : sistem pembuangan proses metabolisme tubuh (berupa gas, cairan, dan padatan) melalui kulit, ginjal, dan saluran pencernaan).
Sistem Osmoregulasi : sistem pengaturan keseimbangan tekanan osmotik cairan tubuh (air dan darah) dengan tekanan osmotik habitat (perairan).
Organ-organ dalam sistem ekskresi : kulit, saluran pencernaan, dan ginjal.
Organ-organ sistem osmoregulasi : kulit, ginjal, insang, lapisan tipis mulut.
Ginjal : teletak di atas rongga perut, di luar peritonium, di bawah tulang punggung dan aorta dorsalis, sebanyak satu pasang, berwarna merah, memanjang.
Fungsi Ginjal :
1. menyaring sisa-sisa proses metabolisme untuk dibuang, zat-zat yang diperlukan tubuh diedarkan lagi melalui darah
2. mengatur kekentalan urin yang dibuang untuk menjaga keseimbangan tekanan osmotik cairan tubuh
Tekanan osmotik cairan tubuh berbeda antara ikan-ikan bertulang benar (Teleostei) yang hidup di laut dengan yang hidup di perairan tawar, demikian juga dengan ikan-ikan bertulang rawan (Elasmobranchii), sehingga struktur dan jumlah ginjalnya juga berbeda, demikian juga dengan sistem osmoregulasinya.
10. SISTEM REPRODUKSI DAN EMBRIOLOGI
Definisi : Sistem reproduksi adalah sistem untuk mempertahankan/melestarikan spesies dengan menghasilkan keturunan yang fertil. Embriologi adalah urutan proses perkembangan dari zygot (hasil pembuahan sel telur oleh sel sperma) sampai menjadi anak ikan dan seterusnya.
Organ-organ reproduksi :
Organ kelamin (gonad) : menghasilkan sel-sel kelamin (gamet)
4. Gonad jantan : testes, biasanya sepasang, kiri dan kanan menghasilkan spermatozoa
5. Gonad betina : ovari/ovarium menghasilkan telur
Tipe reproduksi :
Berdasarkan organ kelamin :
1. Biseksual (individu betina terpisah dari individu jantan) 2 macam
2. Hermafrodit (sel kelamin jantan dan betina terdapat pada satu individu)
3 macam
3. Partenogenesis dan ginogenesis
Berdasarkan proses pembuahan sel telur oleh spermatozoa :
1. Eksternal (ovivar) : pembuahan di luar tubuh betina, perkembangan embrio di luar tubuh betina, jumlah telur ratusan s.d ribuan
2. Internal
a. vivipar : pembuahan di dalam tubuh betina, embrio mendapatkan sari makanan dari induk sampai menetas
b. ovovivipar : embrio mendapat sari makanan dari kuning telur
perlu organ penyalur spermatozoa :
- gonopodium (ikan seribu)
- clasper (cucut)
Berdasarkan perlindungan induk terhadap telur/anaknya :
1. tanpa perlindungan :
- telur banyak (ratusan ribu), ukuran kecil tongkol, patin, bandeng
- pemijahan di tempat terbuka
2. membuat sarang :
- tanpa ditunggu induk
- sarang dari daun-daunan, kayu, pasir
3. di lokasi khusus, tanpa perlindungan induk
- di bebatuan, tenggelam di dasar
- di tanaman air
- diletakkan pada cangkang bivalva hidup
- diletakkan di pasir
4. perlindungan induk di luar tubuh
- buih/gelembung
- kayu/daun
- lubang/sarang
5. perlindungan induk di dalam tubuh
- di dalam mulut
- di cekungan di kepala
- di dalam ”uterus”
Ciri kelamin
1. Primer (gonad dan saluran yang terlibat langsung dalam proses reproduksi)
- jantan : organnya testes dengan salurannya vas deferens
- betina : organnya ovarium dengan salurannya oviduct
baru diketahui setelah dilakukan pembedahan
2. Sekunder (terlihat dari luar, tidak terlibat langsung dalam reproduksi)
- bentuk/ukuran (dimorfisme)
badan, kepala, ukuran sirip, adanya genital papila, ovopositor
- warna (dikromatisme)
jantan : cerah, warna-warni
betina : sederhana, hanya satu warna
- tingkah laku
jantan : agresif, lincah, membuat sarang
betina : tenang, menunggu sarang selesai
sumber : http://smartsains.blogspot.com
DEFINISI IKAN (PISCES)
Bertulang belakang (termasuk vertebrata), habitatnya perairan, bernapas dengan insang (terutama), bergerak dan menjaga keseimbangan tubunya menggunakan sirip-sirip, bersifat poikilotermal.
MORFOLOGI (Bentuk Tubuh) IKAN
Bervariasi sekali, tetapi morfologi dasarnya adalah terdiri dari kepala, badan, dan ekor gambar 1, gambar 2.a bentuk umum : bilateral simetri, dan gambar 2.b nonsimetri
ANATOMI
Ada 10 sistem anatomi pada tubuh ikan :
1. Sistem penutup tubuh (kulit) : antara lain sisik, kelenjar racun, kelenjar lendir, dan sumber-sumber pewarnaan.
2. Sistem otot (urat daging): - penggerak tubuh, sirip-sirip, insang
- organ listrik
3. Sistem rangka (tulang) : tempat melekatnya otot; pelindung organ-organ dalam dan penegak tubuh
4. Sistem pernapasan (respirasi): organnya terutama insang; ada organ-organ tambahan
5. Sistem peredaran darah (sirkulasi) : - organnya jantung dan sel-sel darah
- mengedarkan O2, nutrisi, dsb
6. Sistem pencernaan : organnya saluran pencernaan dari mulut – anus
7. Sistem saraf : organnya otak dan saraf-saraf tepi
8. Sistem hormon : kelenjar-kelenjar hormon; untuk pertumbuhan, reproduksi, dsb
9. Sistem ekskresi dan osmoregulasi : organnya terutama ginjal
10. Sistem reproduksi dan embriologi : organnya gonad jantan dan betina
Ada hubungan yg sangat erat antara ke-10 sistem anatomi tersebut, misalnya :
- sistem urat daging dan sistem rangka mempengaruhi bentuk tubuh menentukan cara bergeraknya
- sistem pernafasan dan peredaran darah O2 dari perairan ditangkap oleh darah, dipertukarkan dg CO2 dibawa ke seluruh tubuh melalui darah
1. SISTEM PENUTUP TUBUH/KULIT
Kulit terdiri dari 2 lapis :
- epidermis; terluar, tipis, selalu berganti
- dermis; di bawah epidermis, lebih tebal, tempat terbentuknya sisik
- Fungsi kulit :
- 1. pembungkus/penutup tubuh
2. pertahanan pertama terhadap penyakit dan parasit
3. penyesuaian terhadap kondisi lingkungan
4. alat ekskresi – osmoregulasi
5. alat pernafasan tambahan
Organ yang terdapat pada kulit :
- sisik, termasuk skut dan kil
- kelenjar lendir
- kelenjar racun
- sumber pewarnaan
- organ cahaya ikan-ikan laut dalam
Tipe-tipe sisik : sikloid, ktenoid, plakoid, ganoid, cesmoid.
Kelenjar lendir : mengeluarkan lendir
fungsi lendir :
1. mencegah gesekan badan dengan air, mempercepat gerakan
2. mencegah keluar-masuk air melalui kulit
3. mencegah infeksi
4. menutup luka
5. mencegah kekeringan (pada ikan paru-paru)
6. membuat sarang (pada spesies ikan tertentu)
Kelenjar racun : pada spesies-spesies tertentu modifikasi kelenjar lendir, letaknya berbeda-beda di sirip-sirip, fungsinya untuk pertahanan diri, menyerang, dan mencari makan.
Sumber pewarnaan pada ikan : fungsi pewarnaan penyamaran, persembunyian, pemberitahuan, menghindar dari predator, menunggu mangsa, komunikasi dengan lawan jenis.
2. SISTEM URAT DAGING (OTOT)
Jenisnya :
- bergaris
- polos
- jantung
Kerjanya :
- di bawah rangsang saraf
- tidak di bawah rangsang saraf
Fungsinya : untuk pergerakan tubuh, sirip-sirip, rongga mulut, dan organ-organ dalam.
Pada ikan ada modifikasi urat daging, menjadi organ listrik pada ± 250 spesies ikan terutama ikan-ikan laut, di daerah tropis dan sub-tropis. Fungsinya untuk pertahanan diri (voltase listrik yg dihasilkan tinggi) dan untuk mencari makan (voltase rendah).
3. SISTEM RANGKA (TULANG)
Fungsi rangka :
1. penegak tubuh
2. tempat melekatnya otot
3. pelindung organ-organ dalam
4. membentuk eritrosit
Berdasarkan strukturnya, rangka ikan ada 2 macam :
a. Rangka tulang rawan, pada ikan-ikan Elasmobranchii (cucut dll)
b. Rangka tulang benar, pada ikan-ikan Teleostei (pada umumnya ikan-ikan)
Berdasarkan letaknya :
- tulang tengkorak
- tulang punggung
- tulang rusuk
- tulang penyokong insang disebut rangka VISCERAL
- tulang penyokong sirip disebut rangka APPENDICULAR
Tulang-tulang penutup insang :
- operculum
- sub operculum – di bawah
- pre operculum – di depan
- interculum – diantara
4. SISTEM PENCERNAAN
Definisi : Pencernaan adalah proses penyederhanaan makanan melaului cara fisik dan kimia, sehingga menjadi sari-sari makanan yang mudah diserap di dalam usus, kemudian diedarkan ke seluruh organ tubuh melalui sistem peredaran darah.
Organ-organ : Saluran pencernaan terdiri dari (dari arah depan/anterior ke arah belakang/posterior) berturut-turut : mulut/rongga mulut esofagus lambung hati, empedu, pankreas (pilorus dan pilorik saeka) usus
Organ-organ tambahan : kelenjar hati, kelenjar empedu, dan kelenjar pancreas
Organ-organ pelengkap : sungut, gigi, tapis insang.
Menurut jenis makanannya, ikan tergolong menjadi karnivor (makan ikan lain, kepiting, serangga, dsb), herbivor (makan plankton, tanaman air, dsb), dan omnivor (makannya campuran).
Jenis makanan ikan dan cara makannya dapat diduga dari :
- bentuk mulut, posisi mulut
- tipe gigi : canin, incisor, dsb
- tulang-tulang tapis insang : rapat, panjang, halus, dsb
- perbandingan antara panjang usus dengan panjang tubuhnya
Untuk efektivitas sistem pencernaan, terdapat modifikasi-modifikasi pada lambung (misalkan belanak) dan pada usus (misal pada ikan hiu).
Dengan mengetahui jenis makanan alami dan cara makannya, dapat diterapkan pada usaha budidaya ikan.
5. SISTEM SIRKULASI (PEREDARAN DARAH)
Definisi : Sistem sirkulasi adalah sistem yang berfungsi untuk mengangkut dan mengedarkan O2 dari perairan ke sel-sel tubuh yang membutuhkan, juga mengangkut enzim, zat-zat nutrisi, garam-garam, hormon, dan anti bodi serta mengangkut CO2 dari dalam usus, kelenjar-kelenjar, insang, dan sebagainya, keluar tubuh.
Organ-organ : jantung, pembuluh nadi (aorta, arteri) dan pembuluh balik (vena), dan kapiler-kapiler darah. Bahan yang diedarkan : darah (plasma darah dan butir-butir darah)
Jantung ikan :
- Fungsi : memompa darah ke seluruh bagian tubuh. Beda jantung ikan dengan jantung hewan lain ada alat pacu jantung yg memungkinkan jantung terus berdenyut walaupun otak sudah rusak
- Bagian-bagian jantung :
• Atrium – berdinding tipis
• Ventrikal – berdinding tebal, sebagai pemompa darah
• Bulbus arteriosus
Sebelum atrium, terdapat sinus venosus (SV) yang mengumpulkan darah berkadar CO2 tinggi, berasal dari organ-organ tertentu. Darah dari SV masuk ke dalam atrium melalui katup sinuautrial, dari atrium darah masuk ke dalam ventricle melalui katup atrioventricular. Dari ventrikel darah ditekan dengan daya pompa padanya, menuju ke arah aorta ventralis, menuju ke insang. Di insang terjadi pertukaran O2 dengan CO2 (pada sistem pernafasan) dan seterusnya darah dengan kandungan O2 tinggi diedarkan ke daerah kepala, ke bagian dorsal, ke ventral, dan ekor setelah mengedarkan nutrisi dsb kembali ke jantung dan seterusnya.
6. SISTEM PERNAFASAN
Definisi : Pernafasan : pertukaran CO2 (sisa-sisa proses metabolisme tubuh yg harus dibuang) dengan O2 (berasal dari perairan, dibutuhkan tubuh untuk proses metabolisme dsb).
Organ-organ pernafasan :
- terutama insang letak? mengambil O2 dari perairan
- organ tambahan paru-paru, labirin, dsb mengambil O2 dari udara;
kulit dan kantung kuning telur pada embrio dan larva
Insang, bagian-bagiannya :
- tulang lengkung insang
- tulang tapis insang
- daun insang
Fungsi bagian-bagian insang :
1. Tulang lengkung insang sebagai tempat melakeatnya tulang tapis insang dan daun insang, mempunyai banyak saluran-saluran darah dan saluran syaraf
2. Tulang tapis insang, berfungsi dalam sistem pencernaan untuk mencegah keluarnya organisme makanan melalui celah insang
3. Daun insang, berfungsi sebagai dalam sistem pernafasan dan peredaran darah, tempat terjadinya pertukaran gas O2 dengan CO2.
Mekanisme pernafasan :
Pertukaran gas CO2 dan O2 terjadi secara difusi ketika air dari habitat yang masuk melalui mulut, terdorong ke arah daerah insang. O2 yang banyak dikandung di dalam air akan diikat oleh hemoglobin darah, sedangkan CO2 yang dikandung di dalam darah akan dikeluarkan ke perairan. Darah yang sudah banyak mengandung O2 kemudian diedarkan kembali ke seluruh organ tubuh dan seterusnya.
Hal-hal yang berkaitan dg sistem pernafasan :
1. Perairan harus mengandung O2 cukup banyak
2. Bila perairan kurang O2, ikan akan a.l :
a. menuju permukaan pedagang ikan
b. menuju tempat pemasukkan air
c. menuju tempat air yg berarus
3. Daun insang harus dalam keadaan lembab
Faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan ikan akan O2:
1. ukuran dan umur (standia hidup) : ikan-ikan kecil membutuhkan O2 >>
2. aktivitas ikan : yang aktif berenang perlu O2 >>
3. Jenis kelamin : ikan betina membutuhkan O2 >>
4. Stadia reproduksi
7 & 8 SISTEM SARAF DAN HORMON
Kedua sistem ini dapat dikatakan sebagai sistem koordinasi untuk mengantisipasi perubahan kondisi lingkungan dan perubahan status kehidupan (reproduksi dsb). Perubahan lingkungan akan diinformasikan ke sistem saraf (saraf pusat dsb), saraf akan merangsang kelenjar endokrin untuk mengeluarkan hormon-hormon yang dibutuhkan hormon dikirim ke organ target dan aktivitas metabolisme akan merangsang jaringan-jaringan a.l untuk bergerak.
Sistem saraf terdiri dari :
- sistem cerebro spinal :
• sistem saraf pusat : otak dan tulang punggung
• sistem saraf tepi
- sistem otonomi : simpati dan parasimpati
- organ-organ khusus : hidung, telinga, mata, LL
Keistimewaan sistem saraf pada ikan : sistem saraf pada LL mendeteksi kondisi lingkungan (pH, suhu, dsb) karena mengandung ujung-ujung sel saraf dan sel darah.
Sistem Hormon : Hormon dihasilkan oleh kelenjar-kelenjar hormon a.l hormon pertumbuhan, hormon reproduksi, hormon ekskresi & osmoregulasi.
Menurut hasil kelenjar hormon :
- endo hormon : yang bekerja di dalam tubuh, seperti hormon-hormon di atas
- ekto hormon : yang bekerja di luar tubuh, seperti fenomen : merangsang jenis kelamin lain mendekat untuk berpijah.
9. SISTEM EKSKRESI DAN OSMOREGULASI
Definisi :
Sistem Ekskresi : sistem pembuangan proses metabolisme tubuh (berupa gas, cairan, dan padatan) melalui kulit, ginjal, dan saluran pencernaan).
Sistem Osmoregulasi : sistem pengaturan keseimbangan tekanan osmotik cairan tubuh (air dan darah) dengan tekanan osmotik habitat (perairan).
Organ-organ dalam sistem ekskresi : kulit, saluran pencernaan, dan ginjal.
Organ-organ sistem osmoregulasi : kulit, ginjal, insang, lapisan tipis mulut.
Ginjal : teletak di atas rongga perut, di luar peritonium, di bawah tulang punggung dan aorta dorsalis, sebanyak satu pasang, berwarna merah, memanjang.
Fungsi Ginjal :
1. menyaring sisa-sisa proses metabolisme untuk dibuang, zat-zat yang diperlukan tubuh diedarkan lagi melalui darah
2. mengatur kekentalan urin yang dibuang untuk menjaga keseimbangan tekanan osmotik cairan tubuh
Tekanan osmotik cairan tubuh berbeda antara ikan-ikan bertulang benar (Teleostei) yang hidup di laut dengan yang hidup di perairan tawar, demikian juga dengan ikan-ikan bertulang rawan (Elasmobranchii), sehingga struktur dan jumlah ginjalnya juga berbeda, demikian juga dengan sistem osmoregulasinya.
10. SISTEM REPRODUKSI DAN EMBRIOLOGI
Definisi : Sistem reproduksi adalah sistem untuk mempertahankan/melestarikan spesies dengan menghasilkan keturunan yang fertil. Embriologi adalah urutan proses perkembangan dari zygot (hasil pembuahan sel telur oleh sel sperma) sampai menjadi anak ikan dan seterusnya.
Organ-organ reproduksi :
Organ kelamin (gonad) : menghasilkan sel-sel kelamin (gamet)
4. Gonad jantan : testes, biasanya sepasang, kiri dan kanan menghasilkan spermatozoa
5. Gonad betina : ovari/ovarium menghasilkan telur
Tipe reproduksi :
Berdasarkan organ kelamin :
1. Biseksual (individu betina terpisah dari individu jantan) 2 macam
2. Hermafrodit (sel kelamin jantan dan betina terdapat pada satu individu)
3 macam
3. Partenogenesis dan ginogenesis
Berdasarkan proses pembuahan sel telur oleh spermatozoa :
1. Eksternal (ovivar) : pembuahan di luar tubuh betina, perkembangan embrio di luar tubuh betina, jumlah telur ratusan s.d ribuan
2. Internal
a. vivipar : pembuahan di dalam tubuh betina, embrio mendapatkan sari makanan dari induk sampai menetas
b. ovovivipar : embrio mendapat sari makanan dari kuning telur
perlu organ penyalur spermatozoa :
- gonopodium (ikan seribu)
- clasper (cucut)
Berdasarkan perlindungan induk terhadap telur/anaknya :
1. tanpa perlindungan :
- telur banyak (ratusan ribu), ukuran kecil tongkol, patin, bandeng
- pemijahan di tempat terbuka
2. membuat sarang :
- tanpa ditunggu induk
- sarang dari daun-daunan, kayu, pasir
3. di lokasi khusus, tanpa perlindungan induk
- di bebatuan, tenggelam di dasar
- di tanaman air
- diletakkan pada cangkang bivalva hidup
- diletakkan di pasir
4. perlindungan induk di luar tubuh
- buih/gelembung
- kayu/daun
- lubang/sarang
5. perlindungan induk di dalam tubuh
- di dalam mulut
- di cekungan di kepala
- di dalam ”uterus”
Ciri kelamin
1. Primer (gonad dan saluran yang terlibat langsung dalam proses reproduksi)
- jantan : organnya testes dengan salurannya vas deferens
- betina : organnya ovarium dengan salurannya oviduct
baru diketahui setelah dilakukan pembedahan
2. Sekunder (terlihat dari luar, tidak terlibat langsung dalam reproduksi)
- bentuk/ukuran (dimorfisme)
badan, kepala, ukuran sirip, adanya genital papila, ovopositor
- warna (dikromatisme)
jantan : cerah, warna-warni
betina : sederhana, hanya satu warna
- tingkah laku
jantan : agresif, lincah, membuat sarang
betina : tenang, menunggu sarang selesai
sumber : http://smartsains.blogspot.com
Kamis, 11 September 2008
Tagging pemberian tanda pada tubuh ikan
Tagging
Tagging ialah pemberian tanda kepada tubuh ikan dengan membubuhkan benda asing. Benda yang digunakan ialah benda-benda yang tidak mudah berkarat seperti perak, alumunium, nikel, plastik, ebonit, selluloid, dan lain-lain. Pada tag ini dapat diberi tanggal, nomor seri atau kode lainnya yang dapat memberi keterangan atau pesanan kepada yang menemukan ikan yang mempunyai tag tersebut. Hal ini merupakan salah satu keuntungan dibanding dengan marking sehingga memudahkan identifikasi individu yang telah diberi tag.
Bagian tubuh ikan yang biasa diberi tag ialah:
Bagian kepala :
– tulang rahang bawah
– tutup insang
Bagian tubuh :
– bagian depan sirip punggung
– bagian belakang sirip punggung
– bagian dalam tubuh
– bagian sirip lemak (adipose fin)
– batang ekor
Tujuan pemberian tanda pada ikan ialah untuk mengenal kembali ikan yang telah diberi tanda. Kegunaannya antara lain untuk mempelajari:
A. Parameter populasi
1. Kepadatan
2. Kecepatan mortalitas
3. Kecepatan eksploitasi
4. Kecepatan recruitmen
B. Kecepatan dan arah ruaya
C. Pertumbuhan dan penentuan umur
D. Tingkah laku
Beberapa pertimbangan dalam percobaan pemberian tanda pada ikan ialah:
1. Tujuan percobaan pemberian tanda
2. Lamanya percobaan
3. Cara pengembalian ikan bertanda
4. Macam dan jumlah ikan yang terlibat
5. Tenaga kerja yang tersedia untuk beri tanda
Berdasarkan pertimbangan di atas maka harus sampai kepada keputusan pemilihan apakah marking atau tagging yang akan digunakan dalam percobaan. Misalnya untuk studi parameter populasi dengan menggunakan marking akan lebih baik karena murah dan dapat dilakukan lebih cepat. Bila menggunakan tagging, akibat luka pada waktu pemberian tanda pengaruhnya lebih besar daripada dengan marking.
Selain dari itu akan lebih sukar daripada dengan marking.
Berhubung ikan yang tertangkap harus dilepaskan maka seyogianya alat penangkapan dalam percobaan ini harus merupakan alat sedemikian rupa sehingga ikan yang tertangkap itu tidak menyebabkan kematian seketika atau dalam waktu yang relatif tidak lama sesudah itu.
Beberapa alat yang biasa dipakai dalam percobaan ini antara lain:
1. "Electric shocker" akan menghasilkan ikan tangkapan dalam kondisi baik jika arus listrik yang dipakai tidak terlalu besar untuk membuat kejutan.
2. Bubu akan menghasilkan ikan dalam kondisi baik bila frekuensi pengangkatan bubu sering dilakukan.
3. Gillnet menghasilkan tangkapan ikan yang kurang baik karena akan merusak bagian tubuh ikan bahkan sering ditemukan ikan yang mati bergantungan pada faring.
4. Seine, hasilnya bervariasi mulai dari kehilangan pada ikan-ikan tertentu sampai rusaknya ikan berukuran kecil.
Ikan-ikan yang sudah tertangkap ditaruh dalam suatu kurungan ikan sebelum diberi tanda. Pengurung ikan ini bermacam-macam. Ada yang merupakan bak yang dapat ditaruh di tanah dan dapat dipindah-pindahkan. Ada yang merupakan kurungan terapung dalam air yang cukup besar volumenya agar ikan tidak terlalu berdesak-desakan. Semua tempat pengurungan ikan diberi lindungan atau ditempatkan di tempat aman agar ikan tidak terlalu banyak mendapat gangguan. Pada waktu akan memberi tanda pada ikan, adakalanya airnya itu diberi zat pembius seperti MS 222 untuk menghindarkan berontakan ikan agar ikan itu tida luka atau orang pemberi tanda tidak tertusuk duri sirip. Ikan yang terkena bius lebih mudah diperlakukan untuk diberi tanda. Kekurangan dalam menggunakan zat pembius ini ialah, apabila pemberian tanda telah selesai ada kemungkinan ikan tersebut masih belum siuman dan belum kembali seperti keadaan sebelum ditangkap. Jadi dalam pemberian zat pembius ini harus tepat dosisnya. Kalau berlebihan dapat mematikan ikan tersebut. Oleh karena itu, kalau dapat diusahakan jangan menggunakan zat pembius kecuali kalau dianggap sangat penting sekali. Sebab dalam hal ini harus diusahakan agar ikan itu kalaupun mendapat gangguan ("stress") harus yang seminimal mungkin.
Disebabkan banyak persoalan yang timbul sehubungan dengan pemberian tanda yang cocok, maka pemberian tanda pada ikan itu harus memenuhi hal-hal seperti berikut:
1. Tanda tidak berubah selama ikan itu hidup.
2. Tidak mengganggu tingkah laku ikan sehingga mudah ditangkap oleh pemangsa.
3. Tidak menyebabkan mudah tersangkut pada ganggang atau tanaman lainnya.
4. Tanda itu murah dan mudah diperoleh.
5. Tepat untuk tiap ukuran ikan dengan penyesuaian yang sesedikit mungkin.
6. Mudah diterapkan pada ikan tanpa menggunakan zat pembius dan gangguan "stress" diusahakan sekecil mungkin.
7. Cukup banyak variasi untuk membedakan kelompok ikan yang kecil perbedaannya.
8. Tidak menyebabkan kesehatan ikan terganggu.
9. Tidak berbahaya atau menyebabkan bahaya pada ikan sebagai ikan pangan.
10. Tanda ikan mudah dikenal oleh orang yang tidak mendapat latihan sekalipun.
Bila program untuk mengadakan penelitian dengan menggunakan tanda pada ikan diperlukan koordinasi diantara yang berkecimpung dalam bidang perikanan, rencana yang baik dan mendetail mengenai pengembalian tanda, personil yang cukup untuk pemberian tanda dan untuk mengenai kembali tanda pada ikan yang disertai dengan laporan yang cermat.
Program ini, disebarluaskan melalui iklan di TV, radio, surat kabar, penerangan-penerangan kelompok pada masyarakat, dan lain-lain. Diusahakan agar para nelayan yang membantu menemukan kembali tanda yang terdapat pada ikan tetap bergairah. Sebab biasaya dalam waktu satu atau dua tahun nelayan atau masyarakat masih bergairah membantu tetapi pada tahun berikutnya sudah kurang berkooperasi lagi. Oleh karena itu sudah wajar apabila orang yang mengembalikan tanda pada ikan itu mendapat hadiah yang menarik. Jadi keterangan yang tertera pada tanda ikan itu harus informatif dan instruksi yang jelas untuk megembalikan tanda. Tanda pada ikan itu dapat diserahkan ke tempat di mana saja yang telah ditentukan dan akan ditukar dengan hadiah yang telah dijanjikan secara tunai. Namun harus diperhatikan bahwa apabila tanda yang dikembalikan terlalu cepat, akan kurang mempunyai arti sejarahnya baik dalam aktifitas ruaya, pertumbuhan dan sebagainya.
Sumber : M. Ichsan Effendie, 1997
Tagging ialah pemberian tanda kepada tubuh ikan dengan membubuhkan benda asing. Benda yang digunakan ialah benda-benda yang tidak mudah berkarat seperti perak, alumunium, nikel, plastik, ebonit, selluloid, dan lain-lain. Pada tag ini dapat diberi tanggal, nomor seri atau kode lainnya yang dapat memberi keterangan atau pesanan kepada yang menemukan ikan yang mempunyai tag tersebut. Hal ini merupakan salah satu keuntungan dibanding dengan marking sehingga memudahkan identifikasi individu yang telah diberi tag.
Bagian tubuh ikan yang biasa diberi tag ialah:
Bagian kepala :
– tulang rahang bawah
– tutup insang
Bagian tubuh :
– bagian depan sirip punggung
– bagian belakang sirip punggung
– bagian dalam tubuh
– bagian sirip lemak (adipose fin)
– batang ekor
Tujuan pemberian tanda pada ikan ialah untuk mengenal kembali ikan yang telah diberi tanda. Kegunaannya antara lain untuk mempelajari:
A. Parameter populasi
1. Kepadatan
2. Kecepatan mortalitas
3. Kecepatan eksploitasi
4. Kecepatan recruitmen
B. Kecepatan dan arah ruaya
C. Pertumbuhan dan penentuan umur
D. Tingkah laku
Beberapa pertimbangan dalam percobaan pemberian tanda pada ikan ialah:
1. Tujuan percobaan pemberian tanda
2. Lamanya percobaan
3. Cara pengembalian ikan bertanda
4. Macam dan jumlah ikan yang terlibat
5. Tenaga kerja yang tersedia untuk beri tanda
Berdasarkan pertimbangan di atas maka harus sampai kepada keputusan pemilihan apakah marking atau tagging yang akan digunakan dalam percobaan. Misalnya untuk studi parameter populasi dengan menggunakan marking akan lebih baik karena murah dan dapat dilakukan lebih cepat. Bila menggunakan tagging, akibat luka pada waktu pemberian tanda pengaruhnya lebih besar daripada dengan marking.
Selain dari itu akan lebih sukar daripada dengan marking.
Berhubung ikan yang tertangkap harus dilepaskan maka seyogianya alat penangkapan dalam percobaan ini harus merupakan alat sedemikian rupa sehingga ikan yang tertangkap itu tidak menyebabkan kematian seketika atau dalam waktu yang relatif tidak lama sesudah itu.
Beberapa alat yang biasa dipakai dalam percobaan ini antara lain:
1. "Electric shocker" akan menghasilkan ikan tangkapan dalam kondisi baik jika arus listrik yang dipakai tidak terlalu besar untuk membuat kejutan.
2. Bubu akan menghasilkan ikan dalam kondisi baik bila frekuensi pengangkatan bubu sering dilakukan.
3. Gillnet menghasilkan tangkapan ikan yang kurang baik karena akan merusak bagian tubuh ikan bahkan sering ditemukan ikan yang mati bergantungan pada faring.
4. Seine, hasilnya bervariasi mulai dari kehilangan pada ikan-ikan tertentu sampai rusaknya ikan berukuran kecil.
Ikan-ikan yang sudah tertangkap ditaruh dalam suatu kurungan ikan sebelum diberi tanda. Pengurung ikan ini bermacam-macam. Ada yang merupakan bak yang dapat ditaruh di tanah dan dapat dipindah-pindahkan. Ada yang merupakan kurungan terapung dalam air yang cukup besar volumenya agar ikan tidak terlalu berdesak-desakan. Semua tempat pengurungan ikan diberi lindungan atau ditempatkan di tempat aman agar ikan tidak terlalu banyak mendapat gangguan. Pada waktu akan memberi tanda pada ikan, adakalanya airnya itu diberi zat pembius seperti MS 222 untuk menghindarkan berontakan ikan agar ikan itu tida luka atau orang pemberi tanda tidak tertusuk duri sirip. Ikan yang terkena bius lebih mudah diperlakukan untuk diberi tanda. Kekurangan dalam menggunakan zat pembius ini ialah, apabila pemberian tanda telah selesai ada kemungkinan ikan tersebut masih belum siuman dan belum kembali seperti keadaan sebelum ditangkap. Jadi dalam pemberian zat pembius ini harus tepat dosisnya. Kalau berlebihan dapat mematikan ikan tersebut. Oleh karena itu, kalau dapat diusahakan jangan menggunakan zat pembius kecuali kalau dianggap sangat penting sekali. Sebab dalam hal ini harus diusahakan agar ikan itu kalaupun mendapat gangguan ("stress") harus yang seminimal mungkin.
Disebabkan banyak persoalan yang timbul sehubungan dengan pemberian tanda yang cocok, maka pemberian tanda pada ikan itu harus memenuhi hal-hal seperti berikut:
1. Tanda tidak berubah selama ikan itu hidup.
2. Tidak mengganggu tingkah laku ikan sehingga mudah ditangkap oleh pemangsa.
3. Tidak menyebabkan mudah tersangkut pada ganggang atau tanaman lainnya.
4. Tanda itu murah dan mudah diperoleh.
5. Tepat untuk tiap ukuran ikan dengan penyesuaian yang sesedikit mungkin.
6. Mudah diterapkan pada ikan tanpa menggunakan zat pembius dan gangguan "stress" diusahakan sekecil mungkin.
7. Cukup banyak variasi untuk membedakan kelompok ikan yang kecil perbedaannya.
8. Tidak menyebabkan kesehatan ikan terganggu.
9. Tidak berbahaya atau menyebabkan bahaya pada ikan sebagai ikan pangan.
10. Tanda ikan mudah dikenal oleh orang yang tidak mendapat latihan sekalipun.
Bila program untuk mengadakan penelitian dengan menggunakan tanda pada ikan diperlukan koordinasi diantara yang berkecimpung dalam bidang perikanan, rencana yang baik dan mendetail mengenai pengembalian tanda, personil yang cukup untuk pemberian tanda dan untuk mengenai kembali tanda pada ikan yang disertai dengan laporan yang cermat.
Program ini, disebarluaskan melalui iklan di TV, radio, surat kabar, penerangan-penerangan kelompok pada masyarakat, dan lain-lain. Diusahakan agar para nelayan yang membantu menemukan kembali tanda yang terdapat pada ikan tetap bergairah. Sebab biasaya dalam waktu satu atau dua tahun nelayan atau masyarakat masih bergairah membantu tetapi pada tahun berikutnya sudah kurang berkooperasi lagi. Oleh karena itu sudah wajar apabila orang yang mengembalikan tanda pada ikan itu mendapat hadiah yang menarik. Jadi keterangan yang tertera pada tanda ikan itu harus informatif dan instruksi yang jelas untuk megembalikan tanda. Tanda pada ikan itu dapat diserahkan ke tempat di mana saja yang telah ditentukan dan akan ditukar dengan hadiah yang telah dijanjikan secara tunai. Namun harus diperhatikan bahwa apabila tanda yang dikembalikan terlalu cepat, akan kurang mempunyai arti sejarahnya baik dalam aktifitas ruaya, pertumbuhan dan sebagainya.
Sumber : M. Ichsan Effendie, 1997
Rabu, 10 September 2008
PEMBERIAN TANDA PADA IKAN ( Marking )
PEMBERIAN TANDA PADA IKAN
Pemberian tanda pada ikan ada dua, macam:
Marking
Tagging
1. Marking
Marking yaitu pemberian tanda pada tubuh ikan bukan berupa benda asing. Tanda yang termasuk ke dalam kategori ini ialah pemotongan sirip, pemberian lubang pada tutup insang dan pemberian tatoo. Di antara tanda-tanda tesebut yang paling banyak digunakan ialah pemotongan sirip dan pemberian lubang, sedangkan cara yang satunya lagi jarang digunakan karena selain sukar dikerjakan juga, hasilnya tidak tahan lama.
Pemotongan sirip biasanya dilakukan terhadap sirip perut ikan yang sebelah kanan atau yang sebelah kiri. Ada juga yang memotong sirip lainnya. Yang harus diperhatikan dalam mengerjakan pekerjaan ini ialah penjagaan agar akibat dari pemotongan itu jangan sampai menjadi tumbuh lagi sehingga sukar mengenal sirip yang telah dipotong apabila ikan itu telah tertangkap lagi. Atau kalau tumbuh lagi bagian sirip yang dipotong hendaknya mudah dikenal bagian yang tumbuh baru itu. Juga akibat dari pemotongan itu jangan berpengaruh besar kepada tingkah laku ikan, sehingga ikan itu tidak wajar atau mudah ditangkap oleh mangsanya.
Pemberian lubang yang berbentuk bundar atau segi tiga dapat dilakukan pada tutup insang dengan menggunakan gegep kecil yang diatur khusus untuk keperluan itu. Tetapi hasilnya, karena ada kalanya lubang yang telah dibuat tertutup kembali dengan baik. ikan yang berlendir tebal pada tutup insangnya seperti ikan bandeng, mungkin sedikit susah menerapkan metode ini.
Sumber : M. Ichsan Effendie, 1997
Pemberian tanda pada ikan ada dua, macam:
Marking
Tagging
1. Marking
Marking yaitu pemberian tanda pada tubuh ikan bukan berupa benda asing. Tanda yang termasuk ke dalam kategori ini ialah pemotongan sirip, pemberian lubang pada tutup insang dan pemberian tatoo. Di antara tanda-tanda tesebut yang paling banyak digunakan ialah pemotongan sirip dan pemberian lubang, sedangkan cara yang satunya lagi jarang digunakan karena selain sukar dikerjakan juga, hasilnya tidak tahan lama.
Pemotongan sirip biasanya dilakukan terhadap sirip perut ikan yang sebelah kanan atau yang sebelah kiri. Ada juga yang memotong sirip lainnya. Yang harus diperhatikan dalam mengerjakan pekerjaan ini ialah penjagaan agar akibat dari pemotongan itu jangan sampai menjadi tumbuh lagi sehingga sukar mengenal sirip yang telah dipotong apabila ikan itu telah tertangkap lagi. Atau kalau tumbuh lagi bagian sirip yang dipotong hendaknya mudah dikenal bagian yang tumbuh baru itu. Juga akibat dari pemotongan itu jangan berpengaruh besar kepada tingkah laku ikan, sehingga ikan itu tidak wajar atau mudah ditangkap oleh mangsanya.
Pemberian lubang yang berbentuk bundar atau segi tiga dapat dilakukan pada tutup insang dengan menggunakan gegep kecil yang diatur khusus untuk keperluan itu. Tetapi hasilnya, karena ada kalanya lubang yang telah dibuat tertutup kembali dengan baik. ikan yang berlendir tebal pada tutup insangnya seperti ikan bandeng, mungkin sedikit susah menerapkan metode ini.
Sumber : M. Ichsan Effendie, 1997
Selasa, 26 Agustus 2008
Tahap Pembelahan Sel pada perkembangan telur ikan
Tahap Pembelahan sel.
Gene merupakan unit yang elementer dari sifat-sifat yang diturunkan terdapat dalam sepanjang kromosom. Dalam ikan dan vertebrate lain, tiap kromosom diketahui mengandung ratusan bahkan ribuan gene. Gene sebagai unit terkecil, pembawa sifat keturunan adanya pada kromonemata yaitu pada bagian inti kromosom.
Pada saat terjadinya pembelahan sel, kromosom ini turut terbagi tetapi pembagian ini tergantung kepada macam pembelahannya.
Pembelahan sel ada dua macam, yaitu pembelahan mitosis dan meiosis. Pembelahan mitosis terdapat pada sel somatik, dimana dalam pembelahan itu jumlah kromosom tidak terdapat perubahan yaitu tetap 2n atau diploid. Sedangkan pada pembelahan meiosis yaitu dalam pembentukan gamet jumlah kromosom tereduksi menjadi setengahnya atau n (haploid) (Gambar 18).
Berdasarkan kepada proses yang terjadi selama pembelahan, dapat digolongkan menjadi tahap, sebagai berikut:
Prophase : Dalam inti terdapat suatu pembentukan struktur yang komplek yang bentuknya semacam benang. Pada awal tahap ini tampak dua kronemata tetapi pada akhirnya kronemata tersebut hilang atau tidak tampak.
Metaphase : kromosom berjajar pada garis khatulistiwa cell.
Anaphase : kromosom membelah memanjang menjadi dua bagian. Masing-masing mengandung satu kromonemata. Kemudian masing-masing bagian kromosom yang telah membelah bergerak menuju salah satu kutub sel dan akhirnya dalam satu sel itu membentuk dua set kromosom seperti pada tahap porphase.
Telophase : Tiap kromosom kembali kepada kondisi metabolik. Terbentuk kembali dinding inti yang mengelilingi inti baru. Akhirnya terbentuk dua sel anak yang identik dengan sel induk.
Gene merupakan unit yang elementer dari sifat-sifat yang diturunkan terdapat dalam sepanjang kromosom. Dalam ikan dan vertebrate lain, tiap kromosom diketahui mengandung ratusan bahkan ribuan gene. Gene sebagai unit terkecil, pembawa sifat keturunan adanya pada kromonemata yaitu pada bagian inti kromosom.
Pada saat terjadinya pembelahan sel, kromosom ini turut terbagi tetapi pembagian ini tergantung kepada macam pembelahannya.
Pembelahan sel ada dua macam, yaitu pembelahan mitosis dan meiosis. Pembelahan mitosis terdapat pada sel somatik, dimana dalam pembelahan itu jumlah kromosom tidak terdapat perubahan yaitu tetap 2n atau diploid. Sedangkan pada pembelahan meiosis yaitu dalam pembentukan gamet jumlah kromosom tereduksi menjadi setengahnya atau n (haploid) (Gambar 18).
Berdasarkan kepada proses yang terjadi selama pembelahan, dapat digolongkan menjadi tahap, sebagai berikut:
Prophase : Dalam inti terdapat suatu pembentukan struktur yang komplek yang bentuknya semacam benang. Pada awal tahap ini tampak dua kronemata tetapi pada akhirnya kronemata tersebut hilang atau tidak tampak.
Metaphase : kromosom berjajar pada garis khatulistiwa cell.
Anaphase : kromosom membelah memanjang menjadi dua bagian. Masing-masing mengandung satu kromonemata. Kemudian masing-masing bagian kromosom yang telah membelah bergerak menuju salah satu kutub sel dan akhirnya dalam satu sel itu membentuk dua set kromosom seperti pada tahap porphase.
Telophase : Tiap kromosom kembali kepada kondisi metabolik. Terbentuk kembali dinding inti yang mengelilingi inti baru. Akhirnya terbentuk dua sel anak yang identik dengan sel induk.
sumber : M. Ichsan Effendie, 1997
factors of Genetic fish
factors of Genetic.
When happened forge of spermatozoa with core of egg, happened also association of material coming from two source. Whether egg and or spermatozoa bring the nature of from each mains that is chromosome. Chromosome represent small object, located in core of cell, accountable for evacuation or
transmission of[is nature of clan. This chromosome can only seen when happened bisection of cell by mitosis especially at the (time) of metaphase by special coloration. Size measure and that chromosome form differ in different fish species. But that chromosome can be differentiated to become 4 kinds of as follows ( Draw 16 ):
a = Acro(Telo)Centric ( t). chromosome of Telocentric its its[his] that is place area patch yarn when located mitosis near by one of [the] tip of chromosome.
b = Subtelocentric ( st). chromosome of Subtelocentric its [of] nearby him to tip of chromosome, but there are short chromosome arm.
c = Submetacentric ( sm). chromosome of Submetacentric its its[his] located in midst. chromosome. Both [of] its chromosome arm seen unegual but length.
d = Metacentric ( m). chromosome of Metacentric its its[his] with two chromosome arm which [is] of uniform length in the centre of.

Picture 16. Kinds of fish chromosome form ( Kirpichnikov 1981).
According to other writer [of] chromosome of telocentric [is] chromosome which don't have [both/ second] chromosome arm after terminal of centromer, at variance with chromosome which [is] acrocentric have short chromosome arm. Chromosome classification become 4 that form pursuant to comparison of chromosome arm length.
[Do] not all fish have that chromosome form seen together when metaphase. There [is] fish which only having chromosome of acrocentric and of subtelocentric, or in other species only consisting of chromosome of metacentric sub or of metecentric. Very often [at] fish got 2 or 3 kinds of chromosome, despite of also having its it[him] form chromosome. [At] a number of fish of teleost, and so do [at] fish of cucut ray and and also in Acipencerridae and of Amiidae, in its chromosome [is] got " micro-chromosome" which its for small but very quantitative difficult. There [is] also fish having chromosome with its satellite like [at] fish of Salmonidae with form like [at] Picture 17.

Picture 17. Fish chromosome with satellite
Can be paid attention that every pregnant chromosome two form which [is] identik and parallel which named [by] kromatid. Every kromatid consist of one or some flimsy filament which named [by] or kromonemata of genonemata. [At] this kronemata there are one absorbent area [of] more coloration and this area [is] named [by] kromomer. Kromonema represent long double filament, its for diametrical if that cell [is] spliting and if that cell [is] taking a rest or interphase its for tress like spiral. In cell which [is] taking a rest that way that flimsy and long kromonemata fill the core of cell form network which [is] komplek, difficult but seen below/under microscope, only one or two seen nukleoli.
Source : M. Ichsan Effendie, 1997
When happened forge of spermatozoa with core of egg, happened also association of material coming from two source. Whether egg and or spermatozoa bring the nature of from each mains that is chromosome. Chromosome represent small object, located in core of cell, accountable for evacuation or
transmission of[is nature of clan. This chromosome can only seen when happened bisection of cell by mitosis especially at the (time) of metaphase by special coloration. Size measure and that chromosome form differ in different fish species. But that chromosome can be differentiated to become 4 kinds of as follows ( Draw 16 ):
a = Acro(Telo)Centric ( t). chromosome of Telocentric its its[his] that is place area patch yarn when located mitosis near by one of [the] tip of chromosome.
b = Subtelocentric ( st). chromosome of Subtelocentric its [of] nearby him to tip of chromosome, but there are short chromosome arm.
c = Submetacentric ( sm). chromosome of Submetacentric its its[his] located in midst. chromosome. Both [of] its chromosome arm seen unegual but length.
d = Metacentric ( m). chromosome of Metacentric its its[his] with two chromosome arm which [is] of uniform length in the centre of.
Picture 16. Kinds of fish chromosome form ( Kirpichnikov 1981).
According to other writer [of] chromosome of telocentric [is] chromosome which don't have [both/ second] chromosome arm after terminal of centromer, at variance with chromosome which [is] acrocentric have short chromosome arm. Chromosome classification become 4 that form pursuant to comparison of chromosome arm length.
[Do] not all fish have that chromosome form seen together when metaphase. There [is] fish which only having chromosome of acrocentric and of subtelocentric, or in other species only consisting of chromosome of metacentric sub or of metecentric. Very often [at] fish got 2 or 3 kinds of chromosome, despite of also having its it[him] form chromosome. [At] a number of fish of teleost, and so do [at] fish of cucut ray and and also in Acipencerridae and of Amiidae, in its chromosome [is] got " micro-chromosome" which its for small but very quantitative difficult. There [is] also fish having chromosome with its satellite like [at] fish of Salmonidae with form like [at] Picture 17.
Picture 17. Fish chromosome with satellite
Can be paid attention that every pregnant chromosome two form which [is] identik and parallel which named [by] kromatid. Every kromatid consist of one or some flimsy filament which named [by] or kromonemata of genonemata. [At] this kronemata there are one absorbent area [of] more coloration and this area [is] named [by] kromomer. Kromonema represent long double filament, its for diametrical if that cell [is] spliting and if that cell [is] taking a rest or interphase its for tress like spiral. In cell which [is] taking a rest that way that flimsy and long kromonemata fill the core of cell form network which [is] komplek, difficult but seen below/under microscope, only one or two seen nukleoli.
Source : M. Ichsan Effendie, 1997
Senin, 25 Agustus 2008
kelompok telur ikan berdasarkan kualitas kulit luarnya
Telur dikelompokkan lebih lanjut berdasarkan kepada kualitas kulit luarnya, yaitu
a. Non adhesive : Telur mungkin sedikit adhesive pada waktu pengerasan cangkangnya, namun kemudian sesudah itu telur sama sekali tidak menempel pada apapun juga. Sebagai contohnya telur ikan salmon.
b. Adhesive : Setelah proses pengerasan cangkangnya telur itu bersifat lengket sehingga akan mudah menempel pada daun, akar tanaman, sampah, dll. Contohnya adalah telur ikan mas (Cyprinus carpio).
c. Bertangkal : Sungguh-sungguh merupakan keragaman yang khas dari bentuk adhesive, terdapat suatu bentuk tangkai kecil untuk menempelkan telur pada substrat. Telur macam demikian terdapat pada ikan smelt.
d. Telur berenang : Pada telur ini terdapat filamen yang panjang untuk menempel pada substrat atau filamen tersebut untuk membantu telur terapung sehingga sampai ke tempat untuk menempel didapatkan. Contohnya pada telur ikan hiu ( Scylliorhinus )
e. Gumpalan lendir : Telur-telur diletakkan pada rangkaian lendir atau gumpalan lendir seperti pada ikan perch atau sebangsa ikan lele.
sumber : M.Ichsan Effendie, 1997
a. Non adhesive : Telur mungkin sedikit adhesive pada waktu pengerasan cangkangnya, namun kemudian sesudah itu telur sama sekali tidak menempel pada apapun juga. Sebagai contohnya telur ikan salmon.
b. Adhesive : Setelah proses pengerasan cangkangnya telur itu bersifat lengket sehingga akan mudah menempel pada daun, akar tanaman, sampah, dll. Contohnya adalah telur ikan mas (Cyprinus carpio).
c. Bertangkal : Sungguh-sungguh merupakan keragaman yang khas dari bentuk adhesive, terdapat suatu bentuk tangkai kecil untuk menempelkan telur pada substrat. Telur macam demikian terdapat pada ikan smelt.
d. Telur berenang : Pada telur ini terdapat filamen yang panjang untuk menempel pada substrat atau filamen tersebut untuk membantu telur terapung sehingga sampai ke tempat untuk menempel didapatkan. Contohnya pada telur ikan hiu ( Scylliorhinus )
e. Gumpalan lendir : Telur-telur diletakkan pada rangkaian lendir atau gumpalan lendir seperti pada ikan perch atau sebangsa ikan lele.
sumber : M.Ichsan Effendie, 1997
kelompok telur ikan berdasarkan berat jenisnya
Sistem pengelompokan telur ikan yang berdasarkan kepada jumlah kuning telur namun dikelaskan lebih lanjut berdasarkan berat jenisnya.
a. Non bouyant : Telur yang tenggelam ke dasar bila dikeluarkan oleh ikan dan akan, tetap di sana. Golongan telur ini menyesuaikan dengan tidak ada cahaya matahari. Kadang-kadang telur ini oleh induknya ditaruh atau ditimbun oleh batu-batuan atau kerikil. Sebagai contoh yang khas dari telur macam demikian terdapat pada ikan trout dan ikan salmon.
b. Semi bouyant : telur tenggelam ke dasar perlahan-lahan, mudah tersangkut, dan
umumnya telur itu berukuran kecil. Contohnya pada ikan Coregonus.
c. terapung : Telur dilengkapi dengan butir minyak yang besar sehingga terapung. Umumnya terdapat pada ikan-ikan yang hidup di laut.
sumber : M. Ichsan Effendie, 1997
a. Non bouyant : Telur yang tenggelam ke dasar bila dikeluarkan oleh ikan dan akan, tetap di sana. Golongan telur ini menyesuaikan dengan tidak ada cahaya matahari. Kadang-kadang telur ini oleh induknya ditaruh atau ditimbun oleh batu-batuan atau kerikil. Sebagai contoh yang khas dari telur macam demikian terdapat pada ikan trout dan ikan salmon.
b. Semi bouyant : telur tenggelam ke dasar perlahan-lahan, mudah tersangkut, dan
umumnya telur itu berukuran kecil. Contohnya pada ikan Coregonus.
c. terapung : Telur dilengkapi dengan butir minyak yang besar sehingga terapung. Umumnya terdapat pada ikan-ikan yang hidup di laut.
sumber : M. Ichsan Effendie, 1997
Faktor yang mempengaruhi komposisi kimia ikan
Ilmu ikan banyak sekali yaitu : Fisik, Kimia, Biologi.
Faktor yang mempengaruhi komposisi kimia ikan :
1. Intra dan inter species
2. Cara hidup atau cara makan
3. Fishing ground yang berbeda
4. Waktu atau musim penangkapan
5. Keaktifan ikan
6. Jenis kelamin
Faktor yang mempengaruhi komposisi kimia ikan :
1. Intra dan inter species
2. Cara hidup atau cara makan
3. Fishing ground yang berbeda
4. Waktu atau musim penangkapan
5. Keaktifan ikan
6. Jenis kelamin
Minggu, 24 Agustus 2008
Sistem pengelompokkan telur ikan berdasarkan jumlah kuning telur
Sistem pengelompokkan telur ikan berdasarkan kepada jumlah kuning telurnya.
Oligolecithal
Telur yang mengandung kuning telur sangat sedikit jumlahnya. Contoh ikan yang mempunyai telur demikian adalah Amphioxus.
Telolecithal
Telur telolecithal mengandung sejumlah kuning telur lebih banyak dari pada telur oligolecithal. lkan yang mempunyai telur telolecithal banyak terdapat di daerah yang bermusim empat, misalnya pada ikan Sturgeon,
Macrolecithal
Telur yang mempunyai kuning telur relatif banyak dengan keping cytoplasms di bagian kutub animanya. telur macam ini banyak terdapat pada kebanyakan ikan.
sumber : M. ichsan Effendie,1997
Oligolecithal
Telur yang mengandung kuning telur sangat sedikit jumlahnya. Contoh ikan yang mempunyai telur demikian adalah Amphioxus.
Telolecithal
Telur telolecithal mengandung sejumlah kuning telur lebih banyak dari pada telur oligolecithal. lkan yang mempunyai telur telolecithal banyak terdapat di daerah yang bermusim empat, misalnya pada ikan Sturgeon,
Macrolecithal
Telur yang mempunyai kuning telur relatif banyak dengan keping cytoplasms di bagian kutub animanya. telur macam ini banyak terdapat pada kebanyakan ikan.
sumber : M. ichsan Effendie,1997
Jumat, 22 Agustus 2008
Gambar Macam-macam telur ikan
Gambar Macam-macam telur ikan.
Penelitian terhadap telur dan larva ikan di alam bebas di Indonesia belum banyak dilakukan, lagi, tidak seperti di beberapa negara tetangga. Delsman (1921 –1938) merupakan orang pertama yang melakukan penelitian secara mendalam terhadap telur dan larva ikan pelagis di Laut Jawa. Namun masih terbatas pada beberapa spesies saja yaitu sebagian dari ikan-ikan ekonomis penting yang terdapat di Laut Jawa.
Masih banyak spesies lainnya baik ikan air tawar maupun ikan laut di Indonesia yang belum diteliti. Telur dan larva ikan yang dibudidayakan sudah banyak diteliti oleh para mahasiswa tetapi umumnya belum dipublikasikan. Beberapa macam telur pelagis dan larva di Laut Jawa yang didapat oleh Delsman seperti pada Gambar 13.
Gambar 13. Macam-macam telur ikan pelagis dari Laut Jawa dan Selat Malaka (Delsman, 1929)
Keterangan gambar:
Keterangan gambar:
1. Chirocentrus dorab
2. Tidak dikenal
3. Clupea fimbriata
4. Stelophorus heterolobus
5. Engraulis kammalensis
6. Stolephorus indicus
7. Trichiurus sp.
8. Muraena sp.
9. Decapterus (Caranx) kurra
10. Hemirhampus spec.
11. Caranx macrosoma
12. Dorosoma chacunda
13. Chanos chanos
14. Pellona sp.
15. Cybium maculatum
16. Echeneis naucrates
17. Saurida tumbil
18. Harpodon nehereus
19. Tetrodon sp.
20. Tidak dikenal
21. Fistularia serrata
Sumber : M. Ichsan Effendie, 1997
AWAL DAUR HIDUP IKAN
AWAL DAUR HIDUP IKAN
Perhatian terhadap proses-proses yang terdapat dalam perkembangan awal hidup ikan merupakan hal yang menarik karena berhubungan dengan stabilitas populasi ikan tersebut dalam suatu perairan. Mortalitas pada awal perkembangan hidup ikan umumnya sangat besar dimana fluktuasi mortalitas mempunyai andil yang besar dalam menentukan variasi produksi pada tiaptiap tahunnya. Akan tetapi hal ini masih memerlukan penggalian-penggalian penelitian yang lebih lanjut untuk dikembangkan manfaatnya. Lebih-lebih terhadap species ikan-ikan tropik, banyak sekali yang belum diungkapkan.
Telur ikan dengan bagian-bagiannya.
Telur hewan bertulang belakang, berdasarkan kepada jumlah deutoplasma (kuning telur, dan sebagainya) yang terdapat di dalam cytoplasma, dapat dibagi dua (Nelsen, 1953):
a. Telur homolecithal (isolecithal).
Golongan telur ini hanya terdapat pada mammalia. Jumlan deutoplasma hanya sedikit terutama dalam bentuk buti-butir lemak dan kuning telur yang terbesar di dalam cytoplasma.
b. Telur telolecithal.
Dalam telur dari golongan ini terdapat sejumlah kuning telur yang berkumpul pada salah satu kutubnya. Ikan ganoid mempunyai telur yang macamnya sama dengan macam telur amphibia yang tidak berkaki (Gymnophiona) dimana jumlah kuning telurnya relatif banyak dan berkumpul pada salah satu kutubnya. Romer (1955) menamakan golongan telur demikian dengan nama mesolecithal.
Telur pada ikan Teleostei dan Elasmobranchia deutoplasmanya masif. Protoplasma dari telur ini kelak akan mengambil bagian pada beberapa pembelahan pertama, jumlahnya sedikit. Kuning telur tidak turut dalam proses-proses pembelahan, sedangkan perkembangan embrionya terbatas pada cytoplasma yang terdapat pada kutub anima.
Telur ikan ovipar yang belum dibuahi (Gambar 11), bagian luarnya dilapisi oleh selaput yang dinamakan selaput kapsul atau chorion. Di bawah chorion.terdapat lagi selaput yang kedua dinamakan selaput vitelline. Selaput yang ketiga mengelilingi plasma telur dan selaput tersebut dinamakan selaput plasma.
Ketiga selaput ini semuanya menempel satu sama lain dan tidak terdapat ruang diantaranya. Bagian telur yang terdapat cytoplasma biasanya berkumpul di sebelah telur bagian atas yang dinamakan kutub anima. Bagian bawahnya yaitu pada kutub yang berlawanan terdapat banyak kuning telur. Kutub ini dinamakan kutub vegetatif. Sebenarnya kuning telur pada ikan ini hampir mengisi seluruh volume cell. Kuning telur yang ada di bagian tengah keadaannya lebih pekat daripada kuning telur yang ada pada bagian pinggir karena adanya cytoplasma. Selain dari itu cytoplasma banyak terdapat pada sekeliling inti telur. Pada chorion terdapat sebuah micropyle yaitu suatu lubang kecil tempat masuknya sperma kedalam telur pada waktu terjadi pembuahan.
Apabila telur baru keluar dari tubuh induk dan bersentuhan dengan air ada dua hal yang akan terjadi. Pertama selaput chorion akan terlepas dengan selaput vitelline dan membentuk ruang. Ruang ini dinamakan ruang perivitelline (Gambar 12). Masuknya air ke dalam telur disebabkan oleh perbedaan tekanan osmose dan imbibisi protein yang terdapat pada permukaan kuning telur. Selaput vitelline merupakan penghalang masuknya air jangan sampai merembes ke dalam telur.
Proses yang kedua ialah pengerasan selaput chorion. Waktu yang diperlukan untuk pengerasan selaput chorion tidak sama bergantung pada ion calsium yang terdapat dalam air. Menurut Hoar (1957) telur yang ditetaskan dalam air yang mengandung calsium chlorida 0,0001 M, selaput chorionnya akan lebih keras dari pada telur yang ditetaskan di air suling. Pengerasan chorion ini akan mencegah terjadinya pembuahan polyspermi. Dengan adanya ruang perivitelline di bawah chorion yang mengeras, maka telur dapat bergerak lebih bebas selama dalam perkembangannya. Pengaruh gelombang terhadap posisi embryo yang sedang berkembang sangat tereduksi karena adanya ruang perivitelline itu.
Pembuahan
Dalam proses pembuahan, spermatozoa masuk ke dalam telur melalui lubang micropyle yang terdapat pada chorion. Tiap spermatozoa mempunyai kesempatan yang sama untuk membuahi satu telur. Akan tetapi karena ruang tempat terjadinya pembuahan yaitu pertemuan telur dengan spermatozoa pada ikan ovipar sangat besar, maka kesempatan spermatozoa itu untuk bertemu dengan telur sebenarnya sangat kecil.
Untuk mengatasi hal tersebut agar pembuahan berhasil, spermatozoa yang dikeluarkan jumlahnya sangat besar dibandingkan dengan jumlah telur yang akan dibuahi. Dalam kondisi yang optimum spermatozoa ikan yang baru dikeluarkan dari tubuh mempunyai kekuatan untuk bergerak dalam air selama 1 – 2 menit.
Berdasarkan kepada penelitian yang telah dilakukan oleh Hartman dan juga oleh Motalenti (Hoar, 1957), telur dan sperma yang baru dikeluarkan dari tubuh induk, mengeluarkan zat kimia yang berguna dalam proses pembuahan. Menurut kebanyakan literatur dari Amerika, zat yang dikeluarkan oleh telur dan sperma dinamakan Gamone. Gamone yang berasal dari telur adalah Gynamone I dan Gynamone II. Gamone yang berasal dari spermatozoa adalah Androgamone I dan Androgamone II. Gynamone I berfungsi untuk mempercepat pergerakan dan menarik spermatozoa dari spesies yang sama secara chemotaksis. Gynamone II berfungsi untuk mengumpulkan dan menahan spermatozoa pada permukaan telur. Fungsi Androgamone I ialah untuk menekan aktifitas spermatozoa ketika masih berada dalam saluran genital ikan jantan. Sedangkan Androgamone II berfungsi untuk membuat permukaan charion menjadi lembek sebagai lawan dari fungsi Gynamone II.
Secara relatif lapisan telur yang sudah dalam air adalah keras dan tidak dapat ditembus oleh spermatozoa kecuali melalui micropyle yang bentuknya seperti corong. Lubang corong yang besar terletak di bagian luar dan lubang yang kecil di bagian dalam. Lubang itu demikian kecilnya sehingga tidak mungkin dapat dilalui oleh sperma lebih dari satu dalam satu waktu. Ketika spermatozoa masuk ke dalam lubang corong, itu merupakan sumbat bagi yang lainnya dan setelah kepala spermatozoa itu masuk, bagian ekornya terlepas. Dengan demikian pembuahan pada ikan umumnya monosperma dimana kalau sudah masuk satu spermatozoa akan cepat terjadi perubahan pada bagian micropyle.
Kalaupun terjadi pembuahan polyspermi, hanya satu spermatozoa yang melebur bersatu dengan inti telur. Sedangkan yang lainnya dihisap oleh telur sebagai bahan makanannya. Sesaat setelah terjadi pembuahan, isi telur agak sedikit mengkerut karena pecahnya rongga alveoli yang terdapat di dalam telur. Dengan kejadian tersebut rongga perivitelline lebih membesar sehingga telur yang telah dibuahi dapat mengadakan pergerakan rotasi selama dalam perkembangannya sampai menetas.
Sumber : M. Ichsan Effendie, 1997
Rabu, 20 Agustus 2008
Tingkah laku pemijahan ikan
Sebagaimana diketahui bahwa kegiatan reproduksi dapat dibagi menjadi tiga fase yaitu fase pra pemijahan, fase pemijahan, fase pasca pemijahan . Berdasarkan hal ini maka tingkah
laku ikan itu dapat Pula dibagi menjadi tiga yaitu tingkah laku pada fase pra pemijahan, tingkah laku ikan pada fase pemijahan dan tingkah laku ikan pada fase pasca pemijahan. Tingkah laku reproduksi ini berhubungan erat dengan sifat ikan itu sendiri. Apakah ikan itu melakukan perlindungan terhadap keturunannya atau tidak. Tingkah laku ikan yang menjaga keturunannya dapat dikatakan relatif lebih banyak variasinya dari pada ikan ovipar, terutama tingkah laku pasca pemijahan.
Macam-macam tingkah laku ikan pada fase pra pemijahan diantaranya ialah: aktifitas mencari makan, ruaya, pembuatan sarang, sekresi feromon (pengenalan lawan jenis, mencari pasangan), gerakan-gerakan rayuan dan lain-lain.
Tingkah laku ikan pada fase pemijahan diantaranya ialah: Bersamaan dengan pengeluaran produk seksual ada ikan yang melakukan sentuhan bagian-bagian tubuh, gerakan eksotik dengan menggetarkan seluruh bagian tubuh, gerakan pembelitan tubuh ikan jantan atau ikan betina oleh ikan jantan, penyimpanan telur oleh ikan jantan atau ikan betina ke dalam sarang, gua, bagian pada tubuh, pada busa, tumbuh-tumbuhan dan lain-lain.
Tingkah laku ikan pada fase pasca pemijahan diantaranya ialah penyempurnaan penutupan sarang, penjagaan sarang yang berisi telur yang telah dibuahi atau telur yang sedang berkembang, menjauhi daerah pemijahan dan lain-lain.
Semua tingkah laku ikan itu merupakan resultante sejumlah rangsangan motoris yaitu rangsangan eksternal dan rangsangan internal berasal dari sekresi hormon, sedangkan rangsangan luar berasal dari berbagai macam sumber seperti faktor lingkungan, zat kimia dan lain-lain yang dimediasikan melalui organ-organ sensori dari visual. Begitu ikan memperlihatkan suatu tindakan sebenarnya merupakan suatu fenomena yang dinamik, termasuk tingkah laku "hibernasi" dan "aestivasi" musim panas.
Sebagai tambahan terhadap fungsi dalam pengaturan tingkah laku, sistem hormon juga mengatur perkembangan sifat seksual sekunder yang berhubungan erat dengan interaksi tingkah laku. Yang memegang peranan penting dalam sifat seksual sekunder ini adalah steroid_yang dihasilkan gonad. Hal ini meliputi pewarnaan tubuh dalam pemijahan sebagai daya tarik pasangannya, persaingan antara ikan-ikan jantan, mempertahankan isolasi reproduksi dan bentuk-bentuk structural pada tubuh yang mrliputi timbulnya semacam jerawat di atas kepala pada masa pemijahan , modifikasi sirip seperti gonopodium ikan famili poeciliidae temasuk sifat seksual pada ikan yang dipengaruhi steroid.
Sumber : M. Ichsan Effendie, 1997
laku ikan itu dapat Pula dibagi menjadi tiga yaitu tingkah laku pada fase pra pemijahan, tingkah laku ikan pada fase pemijahan dan tingkah laku ikan pada fase pasca pemijahan. Tingkah laku reproduksi ini berhubungan erat dengan sifat ikan itu sendiri. Apakah ikan itu melakukan perlindungan terhadap keturunannya atau tidak. Tingkah laku ikan yang menjaga keturunannya dapat dikatakan relatif lebih banyak variasinya dari pada ikan ovipar, terutama tingkah laku pasca pemijahan.
Macam-macam tingkah laku ikan pada fase pra pemijahan diantaranya ialah: aktifitas mencari makan, ruaya, pembuatan sarang, sekresi feromon (pengenalan lawan jenis, mencari pasangan), gerakan-gerakan rayuan dan lain-lain.
Tingkah laku ikan pada fase pemijahan diantaranya ialah: Bersamaan dengan pengeluaran produk seksual ada ikan yang melakukan sentuhan bagian-bagian tubuh, gerakan eksotik dengan menggetarkan seluruh bagian tubuh, gerakan pembelitan tubuh ikan jantan atau ikan betina oleh ikan jantan, penyimpanan telur oleh ikan jantan atau ikan betina ke dalam sarang, gua, bagian pada tubuh, pada busa, tumbuh-tumbuhan dan lain-lain.
Tingkah laku ikan pada fase pasca pemijahan diantaranya ialah penyempurnaan penutupan sarang, penjagaan sarang yang berisi telur yang telah dibuahi atau telur yang sedang berkembang, menjauhi daerah pemijahan dan lain-lain.
Semua tingkah laku ikan itu merupakan resultante sejumlah rangsangan motoris yaitu rangsangan eksternal dan rangsangan internal berasal dari sekresi hormon, sedangkan rangsangan luar berasal dari berbagai macam sumber seperti faktor lingkungan, zat kimia dan lain-lain yang dimediasikan melalui organ-organ sensori dari visual. Begitu ikan memperlihatkan suatu tindakan sebenarnya merupakan suatu fenomena yang dinamik, termasuk tingkah laku "hibernasi" dan "aestivasi" musim panas.
Sebagai tambahan terhadap fungsi dalam pengaturan tingkah laku, sistem hormon juga mengatur perkembangan sifat seksual sekunder yang berhubungan erat dengan interaksi tingkah laku. Yang memegang peranan penting dalam sifat seksual sekunder ini adalah steroid_yang dihasilkan gonad. Hal ini meliputi pewarnaan tubuh dalam pemijahan sebagai daya tarik pasangannya, persaingan antara ikan-ikan jantan, mempertahankan isolasi reproduksi dan bentuk-bentuk structural pada tubuh yang mrliputi timbulnya semacam jerawat di atas kepala pada masa pemijahan , modifikasi sirip seperti gonopodium ikan famili poeciliidae temasuk sifat seksual pada ikan yang dipengaruhi steroid.
Sumber : M. Ichsan Effendie, 1997
Selasa, 19 Agustus 2008
Hal-hal yang berhubungan dengan pemijahan
Hal-hal yang berhubungan dengan pemijahan
Perbandingan jenis kelamin dalam pemijahan tiap-tiap spesies ikan berbeda-beda, tetapi perbandingan tersebut umumnya mendekati satu dengan satu. Banyak didapatkan bahwa ikan pelagophils memijahnya secara beramai-ramai dalam suatu daerah tertentu. Daerah pemijahan (spawning ground) ikan herring di Laut Utara bagian selatan yang dikemukakan Cushing (1968) panjangnya antara 2 - 3 km dan lebarnya 500 m.
Ikan tersebut tiap tahun berpijah di daerah yang sama dan waktunya teratur pula. Di Indonesia, daerah pemijahan ikan laut ekonomis penting masih banyak yang belum diketahui. Misalnya lokasi daerah pemijahan ikan lemuru masih belum diketahui. Larva ikan ini sudah bertingkat lanjut diketemukan pada waktu pertama kali muncul tidak jauh dari Banyuwangi. Tiap-tiap tahun munculnya anak ikan itu di daerah yang sama.
Besar sekali kemungkinannya daerah pemijahan ikan lemuru tisdak jauh dari tempat anak-anak ikan pada waktu pertama kali muncul. Arah dan kecepatan arus serta umur anak ikan yang pertama muncul itu memegang peranan dalam menentukan lokasi daerah pemijahannya di daerah permukaan. Sama halnya dengan daerah pemijahan ikan bandeng masih belum diketahui. Tapi besar sekali kemungkinannya bahwa daerah pemijahannya berada beberapa puluh meter di bawah permukaan air.
Masa pemijahan tiap-tiap spesies ikan berbeda-beda. Ada pemijahan yang berlangsung dalam waktu singkat (total spawner = isochronal), tetapi banyak pula dalam waktu yang panjang. Pemijahan sebagian demi sebagian (partial spawner = heterochronal) pada ikan dapat berlangsung sampai beberapa hari. Dalam hal demikian, ikan betina biasanya tetap tinggal di daerah pemijahan selama proses pemijahan belum selesai. Kalau pemijahan sudah selesai, ikan jantan yang tinggal di daerah itu lebih lama dari pada ikan betina.
Yang bisa menjadi perangsang pemijahan bagi ikan lithophils, psamophils dan phythophils,selain adanya substrat pemijahan seperti batu, pasir dan tumbuhan juga peningkatan- atau penurunan suhu dan datangnya air, baru menjadi perangsang alami untuk ikan berpijah kalau ikan itu sudah_siap. Diantara faktor biologi yang memegang peranan di dalam pemijahan yaitu organ untuk penglihatan, pendengaran, penciuman dan linea lateralis serta kelenjar buntu. Hubbs dan Martin (1965) mengemukakan bahwa ikan darter ( Etheostema lepidum) dapat memijah pada malam dan siang hari.
Pemijahan yang dilakukan pada waktu siang hari terjadi pada ikan yang sama (homospesifik) sedangkan pemijahan yang terjadi pada malam hari dapat terjadi dengan spesies yang berbeda (heterospesifik) sehingga hal ini dapat menyebabkan terjadinya hybrid. Pada ikan golongan buta pemijahan dapat berlangsung secara biasa karena dengan pertolongan penciuman dan organ linea lateralis. Suara yang dikeluarkan ikan pada waktu terjadi pemijahan selain untuk memanggil lawan sex juga mejadi perangsang untuk memijah.
sumber : M. Ichsan Effendie, 1997
Perbandingan jenis kelamin dalam pemijahan tiap-tiap spesies ikan berbeda-beda, tetapi perbandingan tersebut umumnya mendekati satu dengan satu. Banyak didapatkan bahwa ikan pelagophils memijahnya secara beramai-ramai dalam suatu daerah tertentu. Daerah pemijahan (spawning ground) ikan herring di Laut Utara bagian selatan yang dikemukakan Cushing (1968) panjangnya antara 2 - 3 km dan lebarnya 500 m.
Ikan tersebut tiap tahun berpijah di daerah yang sama dan waktunya teratur pula. Di Indonesia, daerah pemijahan ikan laut ekonomis penting masih banyak yang belum diketahui. Misalnya lokasi daerah pemijahan ikan lemuru masih belum diketahui. Larva ikan ini sudah bertingkat lanjut diketemukan pada waktu pertama kali muncul tidak jauh dari Banyuwangi. Tiap-tiap tahun munculnya anak ikan itu di daerah yang sama.
Besar sekali kemungkinannya daerah pemijahan ikan lemuru tisdak jauh dari tempat anak-anak ikan pada waktu pertama kali muncul. Arah dan kecepatan arus serta umur anak ikan yang pertama muncul itu memegang peranan dalam menentukan lokasi daerah pemijahannya di daerah permukaan. Sama halnya dengan daerah pemijahan ikan bandeng masih belum diketahui. Tapi besar sekali kemungkinannya bahwa daerah pemijahannya berada beberapa puluh meter di bawah permukaan air.
Masa pemijahan tiap-tiap spesies ikan berbeda-beda. Ada pemijahan yang berlangsung dalam waktu singkat (total spawner = isochronal), tetapi banyak pula dalam waktu yang panjang. Pemijahan sebagian demi sebagian (partial spawner = heterochronal) pada ikan dapat berlangsung sampai beberapa hari. Dalam hal demikian, ikan betina biasanya tetap tinggal di daerah pemijahan selama proses pemijahan belum selesai. Kalau pemijahan sudah selesai, ikan jantan yang tinggal di daerah itu lebih lama dari pada ikan betina.
Yang bisa menjadi perangsang pemijahan bagi ikan lithophils, psamophils dan phythophils,selain adanya substrat pemijahan seperti batu, pasir dan tumbuhan juga peningkatan- atau penurunan suhu dan datangnya air, baru menjadi perangsang alami untuk ikan berpijah kalau ikan itu sudah_siap. Diantara faktor biologi yang memegang peranan di dalam pemijahan yaitu organ untuk penglihatan, pendengaran, penciuman dan linea lateralis serta kelenjar buntu. Hubbs dan Martin (1965) mengemukakan bahwa ikan darter ( Etheostema lepidum) dapat memijah pada malam dan siang hari.
Pemijahan yang dilakukan pada waktu siang hari terjadi pada ikan yang sama (homospesifik) sedangkan pemijahan yang terjadi pada malam hari dapat terjadi dengan spesies yang berbeda (heterospesifik) sehingga hal ini dapat menyebabkan terjadinya hybrid. Pada ikan golongan buta pemijahan dapat berlangsung secara biasa karena dengan pertolongan penciuman dan organ linea lateralis. Suara yang dikeluarkan ikan pada waktu terjadi pemijahan selain untuk memanggil lawan sex juga mejadi perangsang untuk memijah.
sumber : M. Ichsan Effendie, 1997
Kamis, 14 Agustus 2008
Fekunditas ikan diukur dengan panjang ikan
Fekunditas populasi relatif dari seratus, seribu atau seputuh ribu individu dari kelompok umur tertentu. Jumlah ikan dalam tiap-tiap kelas umur dikalikan fekunditas rata-rata dari umur itu. Hasil yang didapat dari menjumlahkan semua kelompok umur memberikan fekunditas relatif. Fekunditas ini dapat berbeda dari tahun ke tahun karena banyak individu yang tidak memijah tiap-tiap tahun. Apabila dalam satu tahun, terdapat individu dalam jumlah banyak akan menyebabkan fekunditas rendah pada tahun yang lainnya.
Fekunditas dengan panjang
Fekunditas sering dihubungkan dengan panjang daripada dengan berat, karena panjang penyusutannya relatip kecil sekali tidak seperti berat yang dapat berkurang dengan mudah. Hal yang harus diperhatikan dalam membuat hubungan fekunditas dengan panjang apabila mengambil sampel yang berulang-ulang harus berhati-hati, karena apabila ikan yang diambil pada waktu gonad sedang tumbuh hal ini tidak merupakan pertumbuhan somatik. Jadi di sini harus ada perbedaan antara pertumbuhan somatik dengan pertumbuhan gonad.
Kebanyakan para penulis memplotkan fekunditas mutlak dengan panjang ikan dan hubungan itu ialah:

Dimana F = fekunditas, L = panjang ikan, a dan b merupakan konstanta yang didapat dari data. Persamaan tersebut kalau ditransformasikan ke logaritma akan mendapatkan persamaan regresi garis lurus:
Log F = log a + b log L
Harga eksponen b berkisar antara 2,34 – 5,28 dan kebanyakan berkisar di atas 3 (Bagenal, dalam Gerking, 1967). Ada juga yang membuat Korelasi antara fekunditas dengan panjang dengan cara regresi biasa kemudian dites dengan melihat koefisien korelasinya. Hoyt (1971) mendapatkan persamaan untuk panjang ikan dengan jumlah telur masak dari ikan silver jaw (Ericymba bucata) yaitu:
Y = (-1379,3 + 32,74 X)
dengan koefisien korelasi r = 0,89.
Korelasi ini memperlihatkan hubungan positif dan kuat dari kedua variabel. Petambahan panjang berkorelasi dengan pertambahan telur. Healy (1971) mendapatkan korelasi hampir linier antara fekunditas dengan panjang ikan sand goby (Gobius minutes pallas), tetapi variasi diantara ikan Yang sama panjang, fekunditasnya berbeda-beda dan koefisien korelasinya rendah yaitu r = 0,55. Dalam menyelidiki ikan fall fish (Semotilus corporalis), Reed (1971) mendapatkan hubungan antara fekunditas dengan panjang ikan ialah
F = – 14.913,3 + 76,7 L
dengan koefisien korelasi r = 0,958.
Dennison dan Bulkley (1972) selama dua kali musim panas meneliti potensi reproduksi ikan bullhead (Ictalurus melas) di Clear Lake Iowa, antara lain mendapatkan bahwa tidak ada korelasi antara fekunditas dengan panjang tubuh (Gambar 7). Koefisien korelasi yang didapatkan untuk tahun 1969, r = 0,19 dan untuk tahun 1970, r = 0,09. Rendahnya korelasi yang didapat mungkin disebabkan oleh batas kisar yang ekstrim dari fekunditas pada ukuran yang sama merupakan hal yang tidak biasa. Batts (1972) mendapatkan r yang rendah pada ikan skipjack tuna (Katsuwonus pelamis), menunjukkan fekunditas yang bervariasi pada ukuran panjang yang sama.
Sumber : M. Ichsan Effendie
Fekunditas dengan panjang
Fekunditas sering dihubungkan dengan panjang daripada dengan berat, karena panjang penyusutannya relatip kecil sekali tidak seperti berat yang dapat berkurang dengan mudah. Hal yang harus diperhatikan dalam membuat hubungan fekunditas dengan panjang apabila mengambil sampel yang berulang-ulang harus berhati-hati, karena apabila ikan yang diambil pada waktu gonad sedang tumbuh hal ini tidak merupakan pertumbuhan somatik. Jadi di sini harus ada perbedaan antara pertumbuhan somatik dengan pertumbuhan gonad.
Kebanyakan para penulis memplotkan fekunditas mutlak dengan panjang ikan dan hubungan itu ialah:
Dimana F = fekunditas, L = panjang ikan, a dan b merupakan konstanta yang didapat dari data. Persamaan tersebut kalau ditransformasikan ke logaritma akan mendapatkan persamaan regresi garis lurus:
Log F = log a + b log L
Harga eksponen b berkisar antara 2,34 – 5,28 dan kebanyakan berkisar di atas 3 (Bagenal, dalam Gerking, 1967). Ada juga yang membuat Korelasi antara fekunditas dengan panjang dengan cara regresi biasa kemudian dites dengan melihat koefisien korelasinya. Hoyt (1971) mendapatkan persamaan untuk panjang ikan dengan jumlah telur masak dari ikan silver jaw (Ericymba bucata) yaitu:
Y = (-1379,3 + 32,74 X)
dengan koefisien korelasi r = 0,89.
Korelasi ini memperlihatkan hubungan positif dan kuat dari kedua variabel. Petambahan panjang berkorelasi dengan pertambahan telur. Healy (1971) mendapatkan korelasi hampir linier antara fekunditas dengan panjang ikan sand goby (Gobius minutes pallas), tetapi variasi diantara ikan Yang sama panjang, fekunditasnya berbeda-beda dan koefisien korelasinya rendah yaitu r = 0,55. Dalam menyelidiki ikan fall fish (Semotilus corporalis), Reed (1971) mendapatkan hubungan antara fekunditas dengan panjang ikan ialah
F = – 14.913,3 + 76,7 L
dengan koefisien korelasi r = 0,958.
Dennison dan Bulkley (1972) selama dua kali musim panas meneliti potensi reproduksi ikan bullhead (Ictalurus melas) di Clear Lake Iowa, antara lain mendapatkan bahwa tidak ada korelasi antara fekunditas dengan panjang tubuh (Gambar 7). Koefisien korelasi yang didapatkan untuk tahun 1969, r = 0,19 dan untuk tahun 1970, r = 0,09. Rendahnya korelasi yang didapat mungkin disebabkan oleh batas kisar yang ekstrim dari fekunditas pada ukuran yang sama merupakan hal yang tidak biasa. Batts (1972) mendapatkan r yang rendah pada ikan skipjack tuna (Katsuwonus pelamis), menunjukkan fekunditas yang bervariasi pada ukuran panjang yang sama.
Sumber : M. Ichsan Effendie
Fekunditas pada ikan Tilapia sp
Fekunditas pada ikan Tilapia sp.
Lowe dalam Gerking (1975) menyatakan bahwa fekunditas pada ikan Tilapia sp ialah jumlah anak ikan yang dihasilkan selama masa hidup individu itu. Hal ini tentu sangat sukar sekali menentukannya bahkan tidak mungkin. Sehubungan dengan sifat ikan mujair yang mengerami anak-anaknya di dalam mulut, maka Bagenal (1978) mengusulkan istilah fekunditas untuk ikan mujair ini sebagai berikut:
a. "Ovarian fecundity" yaitu jumlah telur matang yang ada dalam ovarium sebelum dikeluarkan dalam pemijahan.
b. "Brooding fecundity" yaitu jumlah telur yang sedang dierami di dalam mulutnya.
Ikan yang termasuk ke dalam golongan vivipar, yaitu ikan yang melahirkan anak-anaknya, mempunyai tiga macam fekunditas yaitu:
a. "Prefertilized fecundity" yaitu jumlah telur di dalam ovarium sebelum terjadi pembuahan.
b. "Fertilized fecundity" Yaitu jumlah telur yang dibuahi di dalam ovarium.
c. "Larval fecundity" ialah jumlah telur yang sudah menetas menjadi larva tetapi belum dikeluarkan.
Menurut Bagenal (1967), untuk ikan-ikan tropik dan sub-tropik, definisi fekunditas yang paling cocok mengingat kondisi ialah jumlah telur yang dikeluarkan oleh ikan dalam rata-rata masa hidupnya. Parameter ini relevan dalam studi populasi dan dapat ditentukan karena kematangan tiap-tiap ikan pada waktu pertama kalinya dapat diketahui dan juga statistik kecepatan mortalitasnya dapat ditentukan pula dalam pengelolaan perikanan yang baik.
Nikolsky (1969) menyatakan bahwa kapasitas reproduksi dari pemijahan populasi tertentu untuk mergetahuinya harus menggunakan fekunditas populasi relatif.
Source : Moch. Ichsan Effendie
Lowe dalam Gerking (1975) menyatakan bahwa fekunditas pada ikan Tilapia sp ialah jumlah anak ikan yang dihasilkan selama masa hidup individu itu. Hal ini tentu sangat sukar sekali menentukannya bahkan tidak mungkin. Sehubungan dengan sifat ikan mujair yang mengerami anak-anaknya di dalam mulut, maka Bagenal (1978) mengusulkan istilah fekunditas untuk ikan mujair ini sebagai berikut:
a. "Ovarian fecundity" yaitu jumlah telur matang yang ada dalam ovarium sebelum dikeluarkan dalam pemijahan.
b. "Brooding fecundity" yaitu jumlah telur yang sedang dierami di dalam mulutnya.
Ikan yang termasuk ke dalam golongan vivipar, yaitu ikan yang melahirkan anak-anaknya, mempunyai tiga macam fekunditas yaitu:
a. "Prefertilized fecundity" yaitu jumlah telur di dalam ovarium sebelum terjadi pembuahan.
b. "Fertilized fecundity" Yaitu jumlah telur yang dibuahi di dalam ovarium.
c. "Larval fecundity" ialah jumlah telur yang sudah menetas menjadi larva tetapi belum dikeluarkan.
Menurut Bagenal (1967), untuk ikan-ikan tropik dan sub-tropik, definisi fekunditas yang paling cocok mengingat kondisi ialah jumlah telur yang dikeluarkan oleh ikan dalam rata-rata masa hidupnya. Parameter ini relevan dalam studi populasi dan dapat ditentukan karena kematangan tiap-tiap ikan pada waktu pertama kalinya dapat diketahui dan juga statistik kecepatan mortalitasnya dapat ditentukan pula dalam pengelolaan perikanan yang baik.
Nikolsky (1969) menyatakan bahwa kapasitas reproduksi dari pemijahan populasi tertentu untuk mergetahuinya harus menggunakan fekunditas populasi relatif.
Source : Moch. Ichsan Effendie
Fekunditas pada ikan tua dan besar
Fekunditas pada ikan tua dan besar
Ikan-ikan yang tua dan besar ukurannya mempunyai fekunditas relatif lebih kecil. Umumnya fekunditas relatif lebih tinggi dibanding dengan fekunditas individu. Fekunditas relatif akan menjadi maksimum pada golongan ikan yang masih muda (Nikolsky, 1969).
Source : Moch. Ichsan Effendie
Ikan-ikan yang tua dan besar ukurannya mempunyai fekunditas relatif lebih kecil. Umumnya fekunditas relatif lebih tinggi dibanding dengan fekunditas individu. Fekunditas relatif akan menjadi maksimum pada golongan ikan yang masih muda (Nikolsky, 1969).
Source : Moch. Ichsan Effendie
Fekunditas relative ikan
Fekunditas relative ikan
Fekunditas relatif adalah jumlah telur per satuan berat atau panjang. Fekunditas inipun sebenarnya mewakili fekunditas individu kalau tidak diperhatikan berat atau panjang ikan. Penerapan fekunditas relatif telah banyak dilakukan oleh beberapa orang peneliti. Ada yang mengambil berat sebagai pembaginya dan ada pula yang mengambil panjang. Bahkan ada yang mengkombinasikan penggunaan fekunditas relatif yaitu ovari per satuan berat dengan panjang ikan.
Namun baik fekunditas individu maupun fekunditas relatif tidak memperlihatkan kapasitas reproduksi dari populasi karena fekunditas individu tidak menunjukkan fekunditas populasi.
Penggunaan fekunditas relatif dengan satuan berat menurut Bagenal (Gerking, 1967) lebih mendekati kepada kondisi ikan itu sendiri dari pada dengan panjang. Bahkan menurut Nikolsky (1969) lebih mencerminkan status ikan betina dan kualitas dari telur kalau berat yang dipakai tanpa berat alat-alat pencernakan makanannya.
Source : Moch. Ichsan Effendie
Fekunditas relatif adalah jumlah telur per satuan berat atau panjang. Fekunditas inipun sebenarnya mewakili fekunditas individu kalau tidak diperhatikan berat atau panjang ikan. Penerapan fekunditas relatif telah banyak dilakukan oleh beberapa orang peneliti. Ada yang mengambil berat sebagai pembaginya dan ada pula yang mengambil panjang. Bahkan ada yang mengkombinasikan penggunaan fekunditas relatif yaitu ovari per satuan berat dengan panjang ikan.
Namun baik fekunditas individu maupun fekunditas relatif tidak memperlihatkan kapasitas reproduksi dari populasi karena fekunditas individu tidak menunjukkan fekunditas populasi.
Penggunaan fekunditas relatif dengan satuan berat menurut Bagenal (Gerking, 1967) lebih mendekati kepada kondisi ikan itu sendiri dari pada dengan panjang. Bahkan menurut Nikolsky (1969) lebih mencerminkan status ikan betina dan kualitas dari telur kalau berat yang dipakai tanpa berat alat-alat pencernakan makanannya.
Source : Moch. Ichsan Effendie
Langganan:
Postingan (Atom)