Pembenihan Ikan Guppy (Poecilia reticulata)
Ikan Guppy merupakan salah satu jenis ikan dari famili Poicilidae, dimana ikan dari famili ini termasuk ikan yang mudah dikembangbiakan. Ciri khusus dari ikan guppy adalah ekornya yang melebar dan bercorak batik. Corak batik ini terdiri dari berbagai warna, seperti biru, hitam, kuning, atau merah saja. Panjang guppy dewasa bisa mencapai 3 – 4 cm.
Pemilihan induk
Cara membedakan induk jantan dan betina dengan melihat bentuk tubuh dan warnanya. Induk jantan berwarna tajam dan tubuhnya ramping sedangkan induk betina tubuhnya pendek dan gemuk serta warna tubuhnya buram.
Pemijahan
* Persiapan pemijahan
Wadah untuk pemijahan berupa bak tembok atau bak plastik berukuran 1 x 1 x 0,5 m, 2 x 1 x 0,5 m atau 4 x 4 x 0,5 m dengan tinggi air 25 – 40 cm dan aerasi lemah.
Air yang digunakan untuk pemijahan memiliki pH 6 – 7 dan suhu 24 – 28oC. Substrat yang digunakan untuk tempat induk bercumbu dan menempelkan telur berupa hydrilla.
* Proses Pemijahan
Pemijahan berlangsung secara massal dengan rasio jantan dan betina 1 : 2 dengan padat tebar 15 ekor/ 50 liter air.
Pemijahan ditandai dengan guppy jantan yang mengejar-ngejar betina dan selalu ”menanduk-nanduk” bagian anus betina serta terkadang menempelkan badannya ke badan betina.
Setelah 4 – 7 hari, biasanya anak-anak ikan guppy berenang di permukaan air. Setelah itu, dapat dipisahkan dari induknya.
Perawatan Telur, Larva dan Anak
- Untuk menghindari serangan jamur, pada media mepeliharaan telur dilarutkan MGO dan MB
- Setiap induk dapat menghasilkan 10 – 50 ekor, anak ikan tersebut kemudian dipindahkan ke wadah lain yang telah disiapkan.
- Pakan yang diberikan berupa infusoria sampai berumur 5 – 7 hari.
- Untuk melindungi anak ikan maka pada wadah pemeliharaan diberikan eceng gondok atau tanaman air berupa hydrilla.
sumber : http://www.perikanan-budidaya.kkp.go.id
Tampilkan postingan dengan label pemijahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pemijahan. Tampilkan semua postingan
Selasa, 05 April 2011
Sabtu, 07 Februari 2009
Budidaya Ikan Hias : Jelawat (Leptobarbus hoeveni)
Jelawat
Jelawat (Leptobarbus hoeveni) atau Red-finned Cigar Shark berasal dari Kalimantan dan Thailand. Namun, ikan ini sangat popuker di Malaysia sebagai ikan hias. Sementara ikan yang sudah besar digunakan sebagai ikan konsumsi. Ukuran terbesar dapat mencapai 40 cm. Dijadikan ikan hias karena warna tubuhnya sangat menarik.
Sisiknya berwarna perak agak ke-hijauan, punggungnya cokelat agak hitam, dan sirip-siripnya merah.
Suhu optimal perairan antara 26-29° C dengan pH 7,0 dan kekerasan 10° dH. Ikan ini bersifat omnivore yang cenderung herbivore. Di habitat aslinya, ikan ini memakan buah-buahan, biji-bijian, dan tanaman air. Untuk budi daya, pakannya dapat berupa pelet dan sedikit sayuran seperti selada air atau bayam.
Induk jelawat harus yang sudah berukuran lebih dari 1,5 kg dengan panjang 40 cm atau sudah berumur sekitar 3 tahun. Karena ukurannya cukup besar maka pemeliharaan induknya pun sebaiknya di kolam yang cukup luas.
Untuk pemijahan, diperlukan rangsangan dengan hormon buatan. Dosis hormon cukup banyak, sekitar 0,9 ml/kg berat induk betina dan 0,4 ml/kg berat induk jantan, karena ikan ini masih berasal dari alam atau belum lama dibudidayakan. Penyuntikan pada induk betina dilakukan dua kali, yaitu 0,3 ml/kg dan 0,6 ml/kg dengan interval waktu sekitar 7 jam. Penyuntikan pertama sebaiknya sore hari dan kedua pada malam hari.
Telur yang dihasilkan cukup banyak, dapat mencapai 100.000 butir untuk setiap induk seberat 1,5 kg. Pengambilan telur tersebut dilakukan dengan cars stripping pada pagi hari. Telur yang d-stripping tersebut dimasukkan dalam wadah, lalu dicampurkan dengan sperma yang juga di-stripping. Aduk merata telur dan sperma dengan menggunakan bulu ayam atau kuas halus. Agar semua telur dapat terbuahi dengan sperma, sebaiknya perbandingan jantan dan betina 3 : 2. Setelah relur diaduk merata, tambahkan air bersih secukupnya (macak-macak) dan aduk beberapa saat. Selanjutnya, cuci telur tersebut dengan air bersih. Telur yang sudah bersih siap untuk ditetaskan.
Penetasan telur dilakukan dalam wadah penetasan berbentuk yang
corong dibuat dari kain atau bahan halus. Wadah ini diletakkan dalam bak penetasan. Bagian bawah corong diberi selang untuk pengeluaran air. Air akan dialirkan dari tetas corong selama telur ditetaskan. Penetasan dalam akuarium atau wadah lain pun
dapat dilakukan asalkan aerasinya cukup kuat untuk menghindari telur mengumpul. Telur yang mengumpul sulit atau tidak akan menetas. Telur akan menetas dalam jangka waktu 24 jam.
Setelah menetas, larvanya akan berenang mulai umur dua hari. Bila menggunakan corong untuk penetasan, larvanya harus segera dipindahkan ke akuarium. Namun, kalau menggunakan akuarium, larvanya dibiarkan saja. Air dalam akuarium untuk pemeliharaan larva perlu ditambahkan garam dapur sebanyak satu sendok teh setiap 10 l air.
Pakan pertama bagi larva dapat berupa infusoria yang diberikan selama enam hari. Setelah itu, larva dapat diberi pakan berupa tetasan artemia atau kutu air. Penggantian air dapat dilakukan dengan cara penyifonan secara hati-hati. jumlah air yang diganti cukup setengahnya saja.
Pembesaran jelawat dapat dilakukan dalam kolam setelah berumur 30 hari.
Ukuran jualnya sebagai ikan hias akuarium sekitar 10-15 cm atau sudah berumur 3-4 bulan. Perlu diperhatikan bahwa ikan ini banyak membutuhkan oksigen dan sangat rentan dengan kadar oksigen rendah. Oleh karenanya, saat pengangkutan ataupun penampungan harus diperhitungkan jumlah oksigen, jangan sampai kekurangan.
sumber : Darti S.L dan iwan D. Penebar Swadaya, 2006
Jelawat (Leptobarbus hoeveni) atau Red-finned Cigar Shark berasal dari Kalimantan dan Thailand. Namun, ikan ini sangat popuker di Malaysia sebagai ikan hias. Sementara ikan yang sudah besar digunakan sebagai ikan konsumsi. Ukuran terbesar dapat mencapai 40 cm. Dijadikan ikan hias karena warna tubuhnya sangat menarik.
Sisiknya berwarna perak agak ke-hijauan, punggungnya cokelat agak hitam, dan sirip-siripnya merah.
Suhu optimal perairan antara 26-29° C dengan pH 7,0 dan kekerasan 10° dH. Ikan ini bersifat omnivore yang cenderung herbivore. Di habitat aslinya, ikan ini memakan buah-buahan, biji-bijian, dan tanaman air. Untuk budi daya, pakannya dapat berupa pelet dan sedikit sayuran seperti selada air atau bayam.
Induk jelawat harus yang sudah berukuran lebih dari 1,5 kg dengan panjang 40 cm atau sudah berumur sekitar 3 tahun. Karena ukurannya cukup besar maka pemeliharaan induknya pun sebaiknya di kolam yang cukup luas.
Untuk pemijahan, diperlukan rangsangan dengan hormon buatan. Dosis hormon cukup banyak, sekitar 0,9 ml/kg berat induk betina dan 0,4 ml/kg berat induk jantan, karena ikan ini masih berasal dari alam atau belum lama dibudidayakan. Penyuntikan pada induk betina dilakukan dua kali, yaitu 0,3 ml/kg dan 0,6 ml/kg dengan interval waktu sekitar 7 jam. Penyuntikan pertama sebaiknya sore hari dan kedua pada malam hari.
Telur yang dihasilkan cukup banyak, dapat mencapai 100.000 butir untuk setiap induk seberat 1,5 kg. Pengambilan telur tersebut dilakukan dengan cars stripping pada pagi hari. Telur yang d-stripping tersebut dimasukkan dalam wadah, lalu dicampurkan dengan sperma yang juga di-stripping. Aduk merata telur dan sperma dengan menggunakan bulu ayam atau kuas halus. Agar semua telur dapat terbuahi dengan sperma, sebaiknya perbandingan jantan dan betina 3 : 2. Setelah relur diaduk merata, tambahkan air bersih secukupnya (macak-macak) dan aduk beberapa saat. Selanjutnya, cuci telur tersebut dengan air bersih. Telur yang sudah bersih siap untuk ditetaskan.
Penetasan telur dilakukan dalam wadah penetasan berbentuk yang
corong dibuat dari kain atau bahan halus. Wadah ini diletakkan dalam bak penetasan. Bagian bawah corong diberi selang untuk pengeluaran air. Air akan dialirkan dari tetas corong selama telur ditetaskan. Penetasan dalam akuarium atau wadah lain pun
dapat dilakukan asalkan aerasinya cukup kuat untuk menghindari telur mengumpul. Telur yang mengumpul sulit atau tidak akan menetas. Telur akan menetas dalam jangka waktu 24 jam.
Setelah menetas, larvanya akan berenang mulai umur dua hari. Bila menggunakan corong untuk penetasan, larvanya harus segera dipindahkan ke akuarium. Namun, kalau menggunakan akuarium, larvanya dibiarkan saja. Air dalam akuarium untuk pemeliharaan larva perlu ditambahkan garam dapur sebanyak satu sendok teh setiap 10 l air.
Pakan pertama bagi larva dapat berupa infusoria yang diberikan selama enam hari. Setelah itu, larva dapat diberi pakan berupa tetasan artemia atau kutu air. Penggantian air dapat dilakukan dengan cara penyifonan secara hati-hati. jumlah air yang diganti cukup setengahnya saja.
Pembesaran jelawat dapat dilakukan dalam kolam setelah berumur 30 hari.
Ukuran jualnya sebagai ikan hias akuarium sekitar 10-15 cm atau sudah berumur 3-4 bulan. Perlu diperhatikan bahwa ikan ini banyak membutuhkan oksigen dan sangat rentan dengan kadar oksigen rendah. Oleh karenanya, saat pengangkutan ataupun penampungan harus diperhitungkan jumlah oksigen, jangan sampai kekurangan.
sumber : Darti S.L dan iwan D. Penebar Swadaya, 2006
Pemijahan Ikan Hias secara Buatan : Red-finned Shark (Ephalzeorhynchus frenatus)
Red-finned Shark
Red-finned Shark (Ephalzeorhynchus frenatus) merupakan ikan dasar yang berasal dari Sungai Mekong, Thailand. Ikan yang bersifat omnivora ini sangat cantik dengan warna tubuh cokelat hitam atau putih albino dan sirip-siripnya merah terang. Ukuran tubuh maksimalsekitar 12 cm.
Suhu pemeliharaan antara 26-28° C dengan pH 7,5 dan kekerasan 10° dH. Di alam aslinya, ikan dewasa senang, memakan lumut sehingga dinding akuarium biasanya bersih dari lumut. Sifatnya agak pemalu dan senang bersembunyi pada siang hari, sedangkan malam hari akan keluar mencari makanan.
Induk jantan dan betina agak sulit dibedakan. Namun, bentuk tubuh yang agak gemuk dan sedikit panjang biasanya adalah betina, sedangkan jantan agak pendek dan langsing. Pemijahannya dilakukan dengan suntikan hormon gonadotropin buatan seperti Ovaprim pada induk yang sudah matang telur. Dosis hormon cukup 0,3 ml/kg, berat badan.
Suntikan hanya dilakukan sekali saja. Oleh karena ukuran ikan ini tidak besar maka penyuntikan dapat dilakukan hanya dengan memegang induknya menggunakan tangan kiri, sedangkan tangan kanan untuk menyuntik.
Pemijahan dapat dilakukan secara masal. Induk-induk yang sudah bertelur harus secepatnya diambil dan telurnya dibiarkan menetas sendiri tanpa induk. Ikan ini berenang di dasar sehingga telurnya akan berantakan bila terlalu lama bersama induknya. Oleh karena itu, penyuntikan akan lebih baik dilakukan siang hari agar ikan bisa bertelur malam hari. Ini disebabkan waktu terbaik mengangkat induknya adalah malam hari. Misalnya, penyuntikan yang dilakukan pukul 11.00 diperkirakan ikan akan bertelur pukul 20.00.
Telur akan mulai menetas dalam jangka waktu 24 jam dan laivanya mulai berenang 3-4 hari kemudian. Pakan larva dapat berupa infusoria, kutu air halus, atau tetasan artemia yang berlangsung 36 jam. Pakan ikan dewasa berupa cacing sutera atau cacing darah. Ukuran jual sekitar 5 cm atau sudah berumur sekitar 4 bulan.
sumber : Dari S.L dan Iwan D. Penebar Swadaya, 2006
Red-finned Shark (Ephalzeorhynchus frenatus) merupakan ikan dasar yang berasal dari Sungai Mekong, Thailand. Ikan yang bersifat omnivora ini sangat cantik dengan warna tubuh cokelat hitam atau putih albino dan sirip-siripnya merah terang. Ukuran tubuh maksimalsekitar 12 cm.
Suhu pemeliharaan antara 26-28° C dengan pH 7,5 dan kekerasan 10° dH. Di alam aslinya, ikan dewasa senang, memakan lumut sehingga dinding akuarium biasanya bersih dari lumut. Sifatnya agak pemalu dan senang bersembunyi pada siang hari, sedangkan malam hari akan keluar mencari makanan.
Induk jantan dan betina agak sulit dibedakan. Namun, bentuk tubuh yang agak gemuk dan sedikit panjang biasanya adalah betina, sedangkan jantan agak pendek dan langsing. Pemijahannya dilakukan dengan suntikan hormon gonadotropin buatan seperti Ovaprim pada induk yang sudah matang telur. Dosis hormon cukup 0,3 ml/kg, berat badan.
Suntikan hanya dilakukan sekali saja. Oleh karena ukuran ikan ini tidak besar maka penyuntikan dapat dilakukan hanya dengan memegang induknya menggunakan tangan kiri, sedangkan tangan kanan untuk menyuntik.
Pemijahan dapat dilakukan secara masal. Induk-induk yang sudah bertelur harus secepatnya diambil dan telurnya dibiarkan menetas sendiri tanpa induk. Ikan ini berenang di dasar sehingga telurnya akan berantakan bila terlalu lama bersama induknya. Oleh karena itu, penyuntikan akan lebih baik dilakukan siang hari agar ikan bisa bertelur malam hari. Ini disebabkan waktu terbaik mengangkat induknya adalah malam hari. Misalnya, penyuntikan yang dilakukan pukul 11.00 diperkirakan ikan akan bertelur pukul 20.00.
Telur akan mulai menetas dalam jangka waktu 24 jam dan laivanya mulai berenang 3-4 hari kemudian. Pakan larva dapat berupa infusoria, kutu air halus, atau tetasan artemia yang berlangsung 36 jam. Pakan ikan dewasa berupa cacing sutera atau cacing darah. Ukuran jual sekitar 5 cm atau sudah berumur sekitar 4 bulan.
sumber : Dari S.L dan Iwan D. Penebar Swadaya, 2006
Jumat, 06 Februari 2009
Pemijahan Ikan Hias secara Buatan : Bawal air tawar (Calosoma sp.)
Bawal air tawar
Bawal air tawar (Calosoma sp.) termasuk ikan herbivore. Di alam aslinya ikan ini memakan buah-buahan yang jatuh ke air. Sementara untuk pemeliharaan, pakannya dapat berupa sayur dan buah seperti jambu air. Bawal air tawar lebih dikenal sebagai ikan konsumsi bila ukurannya sudah mencapai lebih dari 500 g, sedangkan sebagai ikan hias hanya yang berukuran kecil, sekitar 5-10 cm.
Ikan ini terdiri dari dua species yang daerah asalnya berbeda. Calosoma macropomum berasal dari Sungai Amazone, Amerika Selatan dan Calosoma bidens berasal dari Asia Tenggara (Sumatera). Suhu optimal perairannya sekitar 25-27° C dengan pH 6,7-7,0 dan kekerasan 10° dH.
Bentuk tubuh ikan ini sangat bagus dan menarik, mirip ikan Silver Dolar. Warnanya perak atau putih kehitaman dengan punggung hitam. Di daerah perut terdapat warna merah. Sirip-siripnya berwarna hitam atau agak perak.
Untuk mencapai induk, dibutuhkan waktu yang cukup lama, antara 2-4 tahun, dan ukuran minimalnya 2,5 kg. Induk yang baik dan menghasilkan cukup banyak telur kalau sudah berukuran 4 kg atau berumur sekitar tiga tahun. Pemijahan induk memerlukan rangsangan dengan suntikan hormon sebanyak dua kali untuk betina dan sekali untuk jantan. Dosis yang umum digunakan 0,5-0,6 ml/kg berat badan induk. Penyuntikan pada betina dilakukan dengan interval 10-12 jam.
Pengambilan atau pengeluaran telur dilakukan tanpa stripping, yaitu hanya menempatkan induknya dalam kolam pemijahan yang cukup luas karena induknya cukup besar.
Agar pembuahan telur menjadi efektif, perbandingan induk jantan dan betina adalah 2 : 1. Biasanya pengeluaran telur ini berlangsung sekitar 9-10 jam sesudah penyuntikan kedua. Telur dikeluarkan dengan cara diserakkan di dasar kolam. Telur ikan ini biasanya melayang sehingga ketinggian air untuk penetasan sebaiknya dibuat tinggi, sekitar 30-35 cm.
Setelah dibuahi, induk dikeluarkan dari kolam dan telurnya dibiarkan menetas tanpa induk dalam kolam pemijahan. Selama proses penetasan, aerasi harus kuat karena telur-telurnya bersifat melayang. Telur yan tenggelam biasanya tidak akan menetas.Telur akan menetas setelah 24 jam.
Larva akan mulai berenang 3-4 hari kemudian. Agar mudah dikontrol, larva yang sudah bisa berenang dapat dipindahkan ke dalam akuarium atau bak fiberglas. Akan lebih baik lagi kalau kolam pemijahan dilengkapi hapa sehingga pengambilan larvanya menjadi mudah.
pakan pertama bagi larva berupa infusoria, artemia yang ditetaskan Selama 24-36 jam, atau kutu air halus. Pemberian pakan ini harus sesering mungkin, sekitar 4-6 kali sehari, karena larvanya kuat makan. Bila pakannya kurang, larva akan mudah mati. Sementara penggantian air dapat dilakukan setelah larva mulai diberi pakan, yaitu enam hari setelah menetas. Penggantian air ini harus hati-hati karena larvanya sangat kecil.
Sebagai ikan hias, ikan ini dapat dijual setelah berukuran 5-10 cm dengan waktu pemeliharaan 3-4 bulan. Ikan yang laku bisa jantan dan betina.
sumber : Darti S.L dan Iwan D. Penebar Swadaya, 2006
Bawal air tawar (Calosoma sp.) termasuk ikan herbivore. Di alam aslinya ikan ini memakan buah-buahan yang jatuh ke air. Sementara untuk pemeliharaan, pakannya dapat berupa sayur dan buah seperti jambu air. Bawal air tawar lebih dikenal sebagai ikan konsumsi bila ukurannya sudah mencapai lebih dari 500 g, sedangkan sebagai ikan hias hanya yang berukuran kecil, sekitar 5-10 cm.
Ikan ini terdiri dari dua species yang daerah asalnya berbeda. Calosoma macropomum berasal dari Sungai Amazone, Amerika Selatan dan Calosoma bidens berasal dari Asia Tenggara (Sumatera). Suhu optimal perairannya sekitar 25-27° C dengan pH 6,7-7,0 dan kekerasan 10° dH.
Bentuk tubuh ikan ini sangat bagus dan menarik, mirip ikan Silver Dolar. Warnanya perak atau putih kehitaman dengan punggung hitam. Di daerah perut terdapat warna merah. Sirip-siripnya berwarna hitam atau agak perak.
Untuk mencapai induk, dibutuhkan waktu yang cukup lama, antara 2-4 tahun, dan ukuran minimalnya 2,5 kg. Induk yang baik dan menghasilkan cukup banyak telur kalau sudah berukuran 4 kg atau berumur sekitar tiga tahun. Pemijahan induk memerlukan rangsangan dengan suntikan hormon sebanyak dua kali untuk betina dan sekali untuk jantan. Dosis yang umum digunakan 0,5-0,6 ml/kg berat badan induk. Penyuntikan pada betina dilakukan dengan interval 10-12 jam.
Pengambilan atau pengeluaran telur dilakukan tanpa stripping, yaitu hanya menempatkan induknya dalam kolam pemijahan yang cukup luas karena induknya cukup besar.
Agar pembuahan telur menjadi efektif, perbandingan induk jantan dan betina adalah 2 : 1. Biasanya pengeluaran telur ini berlangsung sekitar 9-10 jam sesudah penyuntikan kedua. Telur dikeluarkan dengan cara diserakkan di dasar kolam. Telur ikan ini biasanya melayang sehingga ketinggian air untuk penetasan sebaiknya dibuat tinggi, sekitar 30-35 cm.
Setelah dibuahi, induk dikeluarkan dari kolam dan telurnya dibiarkan menetas tanpa induk dalam kolam pemijahan. Selama proses penetasan, aerasi harus kuat karena telur-telurnya bersifat melayang. Telur yan tenggelam biasanya tidak akan menetas.Telur akan menetas setelah 24 jam.
Larva akan mulai berenang 3-4 hari kemudian. Agar mudah dikontrol, larva yang sudah bisa berenang dapat dipindahkan ke dalam akuarium atau bak fiberglas. Akan lebih baik lagi kalau kolam pemijahan dilengkapi hapa sehingga pengambilan larvanya menjadi mudah.
pakan pertama bagi larva berupa infusoria, artemia yang ditetaskan Selama 24-36 jam, atau kutu air halus. Pemberian pakan ini harus sesering mungkin, sekitar 4-6 kali sehari, karena larvanya kuat makan. Bila pakannya kurang, larva akan mudah mati. Sementara penggantian air dapat dilakukan setelah larva mulai diberi pakan, yaitu enam hari setelah menetas. Penggantian air ini harus hati-hati karena larvanya sangat kecil.
Sebagai ikan hias, ikan ini dapat dijual setelah berukuran 5-10 cm dengan waktu pemeliharaan 3-4 bulan. Ikan yang laku bisa jantan dan betina.
sumber : Darti S.L dan Iwan D. Penebar Swadaya, 2006
Rabu, 20 Agustus 2008
Tingkah laku pemijahan ikan
Sebagaimana diketahui bahwa kegiatan reproduksi dapat dibagi menjadi tiga fase yaitu fase pra pemijahan, fase pemijahan, fase pasca pemijahan . Berdasarkan hal ini maka tingkah
laku ikan itu dapat Pula dibagi menjadi tiga yaitu tingkah laku pada fase pra pemijahan, tingkah laku ikan pada fase pemijahan dan tingkah laku ikan pada fase pasca pemijahan. Tingkah laku reproduksi ini berhubungan erat dengan sifat ikan itu sendiri. Apakah ikan itu melakukan perlindungan terhadap keturunannya atau tidak. Tingkah laku ikan yang menjaga keturunannya dapat dikatakan relatif lebih banyak variasinya dari pada ikan ovipar, terutama tingkah laku pasca pemijahan.
Macam-macam tingkah laku ikan pada fase pra pemijahan diantaranya ialah: aktifitas mencari makan, ruaya, pembuatan sarang, sekresi feromon (pengenalan lawan jenis, mencari pasangan), gerakan-gerakan rayuan dan lain-lain.
Tingkah laku ikan pada fase pemijahan diantaranya ialah: Bersamaan dengan pengeluaran produk seksual ada ikan yang melakukan sentuhan bagian-bagian tubuh, gerakan eksotik dengan menggetarkan seluruh bagian tubuh, gerakan pembelitan tubuh ikan jantan atau ikan betina oleh ikan jantan, penyimpanan telur oleh ikan jantan atau ikan betina ke dalam sarang, gua, bagian pada tubuh, pada busa, tumbuh-tumbuhan dan lain-lain.
Tingkah laku ikan pada fase pasca pemijahan diantaranya ialah penyempurnaan penutupan sarang, penjagaan sarang yang berisi telur yang telah dibuahi atau telur yang sedang berkembang, menjauhi daerah pemijahan dan lain-lain.
Semua tingkah laku ikan itu merupakan resultante sejumlah rangsangan motoris yaitu rangsangan eksternal dan rangsangan internal berasal dari sekresi hormon, sedangkan rangsangan luar berasal dari berbagai macam sumber seperti faktor lingkungan, zat kimia dan lain-lain yang dimediasikan melalui organ-organ sensori dari visual. Begitu ikan memperlihatkan suatu tindakan sebenarnya merupakan suatu fenomena yang dinamik, termasuk tingkah laku "hibernasi" dan "aestivasi" musim panas.
Sebagai tambahan terhadap fungsi dalam pengaturan tingkah laku, sistem hormon juga mengatur perkembangan sifat seksual sekunder yang berhubungan erat dengan interaksi tingkah laku. Yang memegang peranan penting dalam sifat seksual sekunder ini adalah steroid_yang dihasilkan gonad. Hal ini meliputi pewarnaan tubuh dalam pemijahan sebagai daya tarik pasangannya, persaingan antara ikan-ikan jantan, mempertahankan isolasi reproduksi dan bentuk-bentuk structural pada tubuh yang mrliputi timbulnya semacam jerawat di atas kepala pada masa pemijahan , modifikasi sirip seperti gonopodium ikan famili poeciliidae temasuk sifat seksual pada ikan yang dipengaruhi steroid.
Sumber : M. Ichsan Effendie, 1997
laku ikan itu dapat Pula dibagi menjadi tiga yaitu tingkah laku pada fase pra pemijahan, tingkah laku ikan pada fase pemijahan dan tingkah laku ikan pada fase pasca pemijahan. Tingkah laku reproduksi ini berhubungan erat dengan sifat ikan itu sendiri. Apakah ikan itu melakukan perlindungan terhadap keturunannya atau tidak. Tingkah laku ikan yang menjaga keturunannya dapat dikatakan relatif lebih banyak variasinya dari pada ikan ovipar, terutama tingkah laku pasca pemijahan.
Macam-macam tingkah laku ikan pada fase pra pemijahan diantaranya ialah: aktifitas mencari makan, ruaya, pembuatan sarang, sekresi feromon (pengenalan lawan jenis, mencari pasangan), gerakan-gerakan rayuan dan lain-lain.
Tingkah laku ikan pada fase pemijahan diantaranya ialah: Bersamaan dengan pengeluaran produk seksual ada ikan yang melakukan sentuhan bagian-bagian tubuh, gerakan eksotik dengan menggetarkan seluruh bagian tubuh, gerakan pembelitan tubuh ikan jantan atau ikan betina oleh ikan jantan, penyimpanan telur oleh ikan jantan atau ikan betina ke dalam sarang, gua, bagian pada tubuh, pada busa, tumbuh-tumbuhan dan lain-lain.
Tingkah laku ikan pada fase pasca pemijahan diantaranya ialah penyempurnaan penutupan sarang, penjagaan sarang yang berisi telur yang telah dibuahi atau telur yang sedang berkembang, menjauhi daerah pemijahan dan lain-lain.
Semua tingkah laku ikan itu merupakan resultante sejumlah rangsangan motoris yaitu rangsangan eksternal dan rangsangan internal berasal dari sekresi hormon, sedangkan rangsangan luar berasal dari berbagai macam sumber seperti faktor lingkungan, zat kimia dan lain-lain yang dimediasikan melalui organ-organ sensori dari visual. Begitu ikan memperlihatkan suatu tindakan sebenarnya merupakan suatu fenomena yang dinamik, termasuk tingkah laku "hibernasi" dan "aestivasi" musim panas.
Sebagai tambahan terhadap fungsi dalam pengaturan tingkah laku, sistem hormon juga mengatur perkembangan sifat seksual sekunder yang berhubungan erat dengan interaksi tingkah laku. Yang memegang peranan penting dalam sifat seksual sekunder ini adalah steroid_yang dihasilkan gonad. Hal ini meliputi pewarnaan tubuh dalam pemijahan sebagai daya tarik pasangannya, persaingan antara ikan-ikan jantan, mempertahankan isolasi reproduksi dan bentuk-bentuk structural pada tubuh yang mrliputi timbulnya semacam jerawat di atas kepala pada masa pemijahan , modifikasi sirip seperti gonopodium ikan famili poeciliidae temasuk sifat seksual pada ikan yang dipengaruhi steroid.
Sumber : M. Ichsan Effendie, 1997
Selasa, 19 Agustus 2008
Hal-hal yang berhubungan dengan pemijahan
Hal-hal yang berhubungan dengan pemijahan
Perbandingan jenis kelamin dalam pemijahan tiap-tiap spesies ikan berbeda-beda, tetapi perbandingan tersebut umumnya mendekati satu dengan satu. Banyak didapatkan bahwa ikan pelagophils memijahnya secara beramai-ramai dalam suatu daerah tertentu. Daerah pemijahan (spawning ground) ikan herring di Laut Utara bagian selatan yang dikemukakan Cushing (1968) panjangnya antara 2 - 3 km dan lebarnya 500 m.
Ikan tersebut tiap tahun berpijah di daerah yang sama dan waktunya teratur pula. Di Indonesia, daerah pemijahan ikan laut ekonomis penting masih banyak yang belum diketahui. Misalnya lokasi daerah pemijahan ikan lemuru masih belum diketahui. Larva ikan ini sudah bertingkat lanjut diketemukan pada waktu pertama kali muncul tidak jauh dari Banyuwangi. Tiap-tiap tahun munculnya anak ikan itu di daerah yang sama.
Besar sekali kemungkinannya daerah pemijahan ikan lemuru tisdak jauh dari tempat anak-anak ikan pada waktu pertama kali muncul. Arah dan kecepatan arus serta umur anak ikan yang pertama muncul itu memegang peranan dalam menentukan lokasi daerah pemijahannya di daerah permukaan. Sama halnya dengan daerah pemijahan ikan bandeng masih belum diketahui. Tapi besar sekali kemungkinannya bahwa daerah pemijahannya berada beberapa puluh meter di bawah permukaan air.
Masa pemijahan tiap-tiap spesies ikan berbeda-beda. Ada pemijahan yang berlangsung dalam waktu singkat (total spawner = isochronal), tetapi banyak pula dalam waktu yang panjang. Pemijahan sebagian demi sebagian (partial spawner = heterochronal) pada ikan dapat berlangsung sampai beberapa hari. Dalam hal demikian, ikan betina biasanya tetap tinggal di daerah pemijahan selama proses pemijahan belum selesai. Kalau pemijahan sudah selesai, ikan jantan yang tinggal di daerah itu lebih lama dari pada ikan betina.
Yang bisa menjadi perangsang pemijahan bagi ikan lithophils, psamophils dan phythophils,selain adanya substrat pemijahan seperti batu, pasir dan tumbuhan juga peningkatan- atau penurunan suhu dan datangnya air, baru menjadi perangsang alami untuk ikan berpijah kalau ikan itu sudah_siap. Diantara faktor biologi yang memegang peranan di dalam pemijahan yaitu organ untuk penglihatan, pendengaran, penciuman dan linea lateralis serta kelenjar buntu. Hubbs dan Martin (1965) mengemukakan bahwa ikan darter ( Etheostema lepidum) dapat memijah pada malam dan siang hari.
Pemijahan yang dilakukan pada waktu siang hari terjadi pada ikan yang sama (homospesifik) sedangkan pemijahan yang terjadi pada malam hari dapat terjadi dengan spesies yang berbeda (heterospesifik) sehingga hal ini dapat menyebabkan terjadinya hybrid. Pada ikan golongan buta pemijahan dapat berlangsung secara biasa karena dengan pertolongan penciuman dan organ linea lateralis. Suara yang dikeluarkan ikan pada waktu terjadi pemijahan selain untuk memanggil lawan sex juga mejadi perangsang untuk memijah.
sumber : M. Ichsan Effendie, 1997
Perbandingan jenis kelamin dalam pemijahan tiap-tiap spesies ikan berbeda-beda, tetapi perbandingan tersebut umumnya mendekati satu dengan satu. Banyak didapatkan bahwa ikan pelagophils memijahnya secara beramai-ramai dalam suatu daerah tertentu. Daerah pemijahan (spawning ground) ikan herring di Laut Utara bagian selatan yang dikemukakan Cushing (1968) panjangnya antara 2 - 3 km dan lebarnya 500 m.
Ikan tersebut tiap tahun berpijah di daerah yang sama dan waktunya teratur pula. Di Indonesia, daerah pemijahan ikan laut ekonomis penting masih banyak yang belum diketahui. Misalnya lokasi daerah pemijahan ikan lemuru masih belum diketahui. Larva ikan ini sudah bertingkat lanjut diketemukan pada waktu pertama kali muncul tidak jauh dari Banyuwangi. Tiap-tiap tahun munculnya anak ikan itu di daerah yang sama.
Besar sekali kemungkinannya daerah pemijahan ikan lemuru tisdak jauh dari tempat anak-anak ikan pada waktu pertama kali muncul. Arah dan kecepatan arus serta umur anak ikan yang pertama muncul itu memegang peranan dalam menentukan lokasi daerah pemijahannya di daerah permukaan. Sama halnya dengan daerah pemijahan ikan bandeng masih belum diketahui. Tapi besar sekali kemungkinannya bahwa daerah pemijahannya berada beberapa puluh meter di bawah permukaan air.
Masa pemijahan tiap-tiap spesies ikan berbeda-beda. Ada pemijahan yang berlangsung dalam waktu singkat (total spawner = isochronal), tetapi banyak pula dalam waktu yang panjang. Pemijahan sebagian demi sebagian (partial spawner = heterochronal) pada ikan dapat berlangsung sampai beberapa hari. Dalam hal demikian, ikan betina biasanya tetap tinggal di daerah pemijahan selama proses pemijahan belum selesai. Kalau pemijahan sudah selesai, ikan jantan yang tinggal di daerah itu lebih lama dari pada ikan betina.
Yang bisa menjadi perangsang pemijahan bagi ikan lithophils, psamophils dan phythophils,selain adanya substrat pemijahan seperti batu, pasir dan tumbuhan juga peningkatan- atau penurunan suhu dan datangnya air, baru menjadi perangsang alami untuk ikan berpijah kalau ikan itu sudah_siap. Diantara faktor biologi yang memegang peranan di dalam pemijahan yaitu organ untuk penglihatan, pendengaran, penciuman dan linea lateralis serta kelenjar buntu. Hubbs dan Martin (1965) mengemukakan bahwa ikan darter ( Etheostema lepidum) dapat memijah pada malam dan siang hari.
Pemijahan yang dilakukan pada waktu siang hari terjadi pada ikan yang sama (homospesifik) sedangkan pemijahan yang terjadi pada malam hari dapat terjadi dengan spesies yang berbeda (heterospesifik) sehingga hal ini dapat menyebabkan terjadinya hybrid. Pada ikan golongan buta pemijahan dapat berlangsung secara biasa karena dengan pertolongan penciuman dan organ linea lateralis. Suara yang dikeluarkan ikan pada waktu terjadi pemijahan selain untuk memanggil lawan sex juga mejadi perangsang untuk memijah.
sumber : M. Ichsan Effendie, 1997
Sabtu, 16 Agustus 2008
Proses Pembiakan Ikan
Proses Pembiakan Ikan
Pada ikan dari Famili Scorpaenidae yang ovovivipar telah ditemukan banyak sperma yang menempel pada lapisan epitel folikel yang masuk, tetapi sperma itu tidak pernah didapatkan di dalam folikel. Pembuahan pada golongan ikan ini terjadinya setelah kopulasi yaitu oleh sperma yang telah ada di dalam tubuh ikan betina. Pada beberapa ikan Famili Embiotocidae setelah terjadi kopulasi sperma yang masuk ke dalam tubuh ikan betina apabila tidak membuahi telur masih dapat hidup sampai enam bulan kemudian. Sperma ini akan membuahi telur yang masih berada di dalam folikel. Telur yang telah dibuahi ketika masuk ke dalam ovarium sudah mencapai tahap segmentasi awal dan berada di situ selama 10 – 12 bulan sehingga mencapai tahap perkembangan yang lebih lanjut.
Pada golongan ikan Elasmobrancia betina, ovari dan oviductnya tidak semua berpasangan. Misalnya pada ikan Urolophus halleri, ovari dan oviduct bagian kanannya mengkerut dan tidak berfungsi. lkan Trygon bleekeri tidak mempunyai ovari dan oviduct yang sebelah kanan. Tetapi' pada golongan ikan cucut terdapat tanda-tanda bahwa ovari dan oviduct sebelah kiri tidak berfungsi.
Pada ikan Urolophus halleri setelah terjadi ovulasi, telurnya bergerak ke bagian depan yaitu kira-kira di daerah oesophagus dan kemudian masuk ke dalam corong oviduct. Tempat terjadinya pembuahan telur ini ialah di tempat oviduct yang biasanya mengeluarkan kelenjar untuk kulit telur. ikan betinanya dapat menyimpan sperma dalam oviductnya sampai tiga bulan setelah terjadinya kopulasi. Sperma tadi tidak langsung membuahi telur. Pembuahan telur tadi dilakukan oleh sperma yang telah disimpan. Jadi kopulasi di sini berlaku sebagai pengiriman sperma saja kepada ikan betina.
Sumber : M. Ichsan Effendie, 1997
Pada ikan dari Famili Scorpaenidae yang ovovivipar telah ditemukan banyak sperma yang menempel pada lapisan epitel folikel yang masuk, tetapi sperma itu tidak pernah didapatkan di dalam folikel. Pembuahan pada golongan ikan ini terjadinya setelah kopulasi yaitu oleh sperma yang telah ada di dalam tubuh ikan betina. Pada beberapa ikan Famili Embiotocidae setelah terjadi kopulasi sperma yang masuk ke dalam tubuh ikan betina apabila tidak membuahi telur masih dapat hidup sampai enam bulan kemudian. Sperma ini akan membuahi telur yang masih berada di dalam folikel. Telur yang telah dibuahi ketika masuk ke dalam ovarium sudah mencapai tahap segmentasi awal dan berada di situ selama 10 – 12 bulan sehingga mencapai tahap perkembangan yang lebih lanjut.
Pada golongan ikan Elasmobrancia betina, ovari dan oviductnya tidak semua berpasangan. Misalnya pada ikan Urolophus halleri, ovari dan oviduct bagian kanannya mengkerut dan tidak berfungsi. lkan Trygon bleekeri tidak mempunyai ovari dan oviduct yang sebelah kanan. Tetapi' pada golongan ikan cucut terdapat tanda-tanda bahwa ovari dan oviduct sebelah kiri tidak berfungsi.
Pada ikan Urolophus halleri setelah terjadi ovulasi, telurnya bergerak ke bagian depan yaitu kira-kira di daerah oesophagus dan kemudian masuk ke dalam corong oviduct. Tempat terjadinya pembuahan telur ini ialah di tempat oviduct yang biasanya mengeluarkan kelenjar untuk kulit telur. ikan betinanya dapat menyimpan sperma dalam oviductnya sampai tiga bulan setelah terjadinya kopulasi. Sperma tadi tidak langsung membuahi telur. Pembuahan telur tadi dilakukan oleh sperma yang telah disimpan. Jadi kopulasi di sini berlaku sebagai pengiriman sperma saja kepada ikan betina.
Sumber : M. Ichsan Effendie, 1997
Selasa, 12 Agustus 2008
Tehnik Pengawetan kelenjar Hipofise ikan
Tehnik Pengawetan kelenjar Hipofise ikan
1. Menggunakan aseton (cara kering)
Pengawetan dengan menggunakan aseton dapat dilakukan dengan memasukkan kelenjar hipofise ke dalam botol berisi aseton. Aseton dibuang lalu diganti dengan aseton baru, sementara kelenjar -hipofise tetap dibiarkan di dalam botol. Aseton kemudian dibuang sekali lagi dan diganti dengan aseton baru lalu didiamkan selama 8 Jam. Setelah 8 jam aseton dikeluarkan lagi dan diganti dengan aseton baru lalu dibiarkan selama 24 jam. Setelah 24 jam, aseton diuapkan dengan piring kecil atau kertas Baring. Kelenjar hipofise lalu dimasukkan ke dalam botol.
kemudian diberi kapas dan mulutnya disumbat dengan penutup hingga rapat lalu disimpan dalam desikator.
2. Menggunakan alkohol (cara basah)
Kelenjar hipofise direndam dalam alkohol absolut 96%. Alkohol kemudian dibuang dan diganti dengan alkohol baru. Setelah itu, alkohol dibuang sekali lagi dan diganti dengan alkohol baru lalu didiamkan selama 24 jam. Setelah 24 jam, alkohol dibuang dan diganti dengan yang baru lalu ditutup rapat dan siap disimpan di kulkas.
Dengan pengawetan tersebut kelenjar hipofise dapat disimpan cukup lama, yaitu antara 5-8 tahun dan masih cukup efektif untuk digunakan. Ketika akan digunakan, masing-masing kelenjar diuapkan terlebih dulu.
Memanfaatkan Kelenjar yang Disimpan
Penggunaan kelenjar hipofise yang telah disimpan sesuai standar mempunyai banyak keuntungan antara lain sebagai berikut.
1. Dapat memanfaatkan ikan konsumsi biaya yang tidak dikhususkan untuk donor, asalkan ikan tersebut telah matang kelamin.
2. Lebih memudahkan pelaksanaan kegiatan hipofisasi karena beberapa tahap kegiatan tidak perlu dilakukan lagi.
3. Dapat mengatasi kelangkaan donor untuk daerah-daerah terpencil karena biaya angkut donor relatif sama dengan biaya angkut untuk induk. Dengan kelenjar hipofise hasil pengawetan maka biaya angkut bahan baku dapat ditekan hingga 60%-80%.
4. Dapat menghemat penggunaan kolam dan biaya pakan.
1. Menggunakan aseton (cara kering)
Pengawetan dengan menggunakan aseton dapat dilakukan dengan memasukkan kelenjar hipofise ke dalam botol berisi aseton. Aseton dibuang lalu diganti dengan aseton baru, sementara kelenjar -hipofise tetap dibiarkan di dalam botol. Aseton kemudian dibuang sekali lagi dan diganti dengan aseton baru lalu didiamkan selama 8 Jam. Setelah 8 jam aseton dikeluarkan lagi dan diganti dengan aseton baru lalu dibiarkan selama 24 jam. Setelah 24 jam, aseton diuapkan dengan piring kecil atau kertas Baring. Kelenjar hipofise lalu dimasukkan ke dalam botol.
kemudian diberi kapas dan mulutnya disumbat dengan penutup hingga rapat lalu disimpan dalam desikator.
2. Menggunakan alkohol (cara basah)
Kelenjar hipofise direndam dalam alkohol absolut 96%. Alkohol kemudian dibuang dan diganti dengan alkohol baru. Setelah itu, alkohol dibuang sekali lagi dan diganti dengan alkohol baru lalu didiamkan selama 24 jam. Setelah 24 jam, alkohol dibuang dan diganti dengan yang baru lalu ditutup rapat dan siap disimpan di kulkas.
Dengan pengawetan tersebut kelenjar hipofise dapat disimpan cukup lama, yaitu antara 5-8 tahun dan masih cukup efektif untuk digunakan. Ketika akan digunakan, masing-masing kelenjar diuapkan terlebih dulu.
Memanfaatkan Kelenjar yang Disimpan
Penggunaan kelenjar hipofise yang telah disimpan sesuai standar mempunyai banyak keuntungan antara lain sebagai berikut.
1. Dapat memanfaatkan ikan konsumsi biaya yang tidak dikhususkan untuk donor, asalkan ikan tersebut telah matang kelamin.
2. Lebih memudahkan pelaksanaan kegiatan hipofisasi karena beberapa tahap kegiatan tidak perlu dilakukan lagi.
3. Dapat mengatasi kelangkaan donor untuk daerah-daerah terpencil karena biaya angkut donor relatif sama dengan biaya angkut untuk induk. Dengan kelenjar hipofise hasil pengawetan maka biaya angkut bahan baku dapat ditekan hingga 60%-80%.
4. Dapat menghemat penggunaan kolam dan biaya pakan.
Senin, 11 Agustus 2008
Pemijahan ikan patin
Pemijahan
Pemijahan ikan patin biasanya melewati beberapa kegiatan sebagai berikut.
a. Penghitungan berat donor
Umumnya, betina patin diberi 3 dosis. Oleh karena itu, untuk 5 kg induk betina patin, donor yang harus dipersiapkan sebanyak 15 kg. Sementara untuk induk jantan yang hanya 1 dosis sehingga perlu dipersiapkan donor seberat 5 kg untuk 5 kg induk jantan. Jadi, untuk sekali pelaksanaan pemijahan ikan patin seberat 5 kg, dibutuhkan ikan mas seberat 20 kg sebagai donor. Bila rata-rata ikan mas donor yang telah matang kelamin seberat 0,5 kg maka ada sekitar V ekor yang harus dipotong kepalanya dan diambil kelenjar hipofisenya.
b. Pengambilan kelenjar hipofise
Kegiatan ini dilakukan dengan memotong melintang kepala ikan mas sehingga terpisah dari tubuhnya. Selanjutnya, mulut ikan mas dihadapkan
ke atas untuk dipotong membujur mulai dari lubang hidung. Bekas irisan terakhir ini akan memperlihatkan otak yang berwarna putih ikut terbelah, Setelah itu, otak tersebut dipindahkan ke kertas saring dengan pinset dan sisa darah Berta lemak dibersihkan dengan kapas. Setelah bersih, akan
tampak kelenjar hipofise berwarna putih sebesar butir merica (1-2 mm) yang terletak di lekukan dasar tulang tengkorak.
c. Pembuatan ekstrak kelenjar
Pembuatan ekstrak kelenjar dilakukan Setelah semua kelenjar hipofis,4 diambil dari tengkorak ikan donor. Kelenjar tersebut harus dibersihkan di atas kertas saring. Kemudian, kelenjar dimasukkan ke dalam gelas penggerus dan ditambahkan akuabides antara 1,5-2 cc untuk setup kilogram jumlah induk yang akan disuntik. Kotoran dapat diendapkan dengan cara larutan dimasukkan ke dalam centrifugal (pemusing), baik yang elektrik maupun manual.
Penyuntikan
Penyuntikan dilakukan setelah larutan homogen yang bening dipisahkan dari endapan kelenjar dengan menggunakan spuit (alat suntikan). Penyuntikan induk betina dilakukan 2 kali agar efektif, sedangkan untuk iantan cukup sekali saja. Penyuntikan pertama biasanya dilakukan pada pukul 18.00 sebanyak i dosis pada induk betina. Penyuntikan kedua dilakukan setelah 12 jam dari penyuntikan pertama yaitu pukul 06.00 sebanyak 2 dosis pada induk betina. Adapun induk jantan disuntik pada saat penyuntikan kedua induk betina. Penyuntikan dilakukan pada otot daging bagian punggung (intramusculler), tepatnya di belakang sirip punggung sekitar baris kedua atau ketiga yang sejajar dengan bagian kelamin. Jarum disuntikan dengan kemiringan WO dari arah punggung sedalam 1-2 cm. Setelah disuntik, kedua induk dimasukkan kembali ke tempat penampungan induk masing-masing.
e. Stripping (pengurutan)
Pengurutan dilakukan setelah 10-12 jam dari suntikan kedua. Induk betina dipegang dengan tangan kiri di bagian punggung dan tangan kanan di bagian perut. Sementara ibu jari tangan kanan mengurut berulangulang pada bagian perut ke arah lubang pelepasan. Telur ditampung di dalam baskom bersih yang diberi sedikit air. Dengan cara yang sama pengurutan dilakukan pada induk jantan. Setelah keluar, sperma dicampurkan dengan telur dan diaduk perlahan-lahan dengan bulu ayam selama 3-4 menit. Telur yang sudah tercampur cairan sperma kemudian dibilas dengan air bersih untuk menghilangkan sisa cairan sperma, feses, dan darah.
E. Penetasan dan Perawatan Benih
Untuk keberhasilan penetasan telur, perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut.
1) Cuci bersih, lalu keringkan bak penetasan.
2) Pasang hapa untuk menetaskan telur.
3) Isi kolam bak penetasan dengan air bersih.
4) 'Yambahkan anfijamurDerupa Ymohm atauMitz Ich sebanyak o,o5 cc liter air ke dalam bak penetasan.
5) Sesuaikan suhu di bak penetasan. Di Bogor, untuk menaikkan suhu dengan menggunakan kompor minyak tanah. Telur patin akan menetas dalam tempo 28 jam pada suhu ruang 26-280 C.
6) Pindahkan benih yang barn berumur 1 hari ke dalam akuarium berukuran 8o cm x 45 cm x 45 cm sebanyak 5oo ekor/akuarium. Air yang ada di dalam akuarium sebaiknya telah diaerasi selama sekurang-kurangnya 24 jam.
7) Pelihara burayak selama 15 hari di dalam akuarium.
F. Pendederan dan Pembesaran
Pendederan dilakukan di kolam yang sudah dipupuk seminggu sebelumnya. Pupuk yang dipergunakan biasanya kotoran ayam sebanyak 1 kg/m2 kolam. Kolam diisi air agar tumbuh pakan alami yang dibutuhka oleh burayak patin. Adapun pembesaran patin dilakukan di kolam yang memiliki pintu pemasukan dan pembuangan air tersendiri. Kolam boleh
dipupuk terlebih dahulu atau tidak. Untuk memperoleh hasil yang optimal, pembesaran patin membutuhkan pemberian pakan tambahan.
Untuk ikan patin, pakan tambahan bisa menggunakan dedak halus clan sampah pasar. Sampah pasar dapat berupa sayuran hasil sortiran pedagang di pasar yang belum tercampur dengan sampah anorganik. Pakan tersebut sangat disukai oleh patin.
Pemijahan ikan patin biasanya melewati beberapa kegiatan sebagai berikut.
a. Penghitungan berat donor
Umumnya, betina patin diberi 3 dosis. Oleh karena itu, untuk 5 kg induk betina patin, donor yang harus dipersiapkan sebanyak 15 kg. Sementara untuk induk jantan yang hanya 1 dosis sehingga perlu dipersiapkan donor seberat 5 kg untuk 5 kg induk jantan. Jadi, untuk sekali pelaksanaan pemijahan ikan patin seberat 5 kg, dibutuhkan ikan mas seberat 20 kg sebagai donor. Bila rata-rata ikan mas donor yang telah matang kelamin seberat 0,5 kg maka ada sekitar V ekor yang harus dipotong kepalanya dan diambil kelenjar hipofisenya.
b. Pengambilan kelenjar hipofise
Kegiatan ini dilakukan dengan memotong melintang kepala ikan mas sehingga terpisah dari tubuhnya. Selanjutnya, mulut ikan mas dihadapkan
ke atas untuk dipotong membujur mulai dari lubang hidung. Bekas irisan terakhir ini akan memperlihatkan otak yang berwarna putih ikut terbelah, Setelah itu, otak tersebut dipindahkan ke kertas saring dengan pinset dan sisa darah Berta lemak dibersihkan dengan kapas. Setelah bersih, akan
tampak kelenjar hipofise berwarna putih sebesar butir merica (1-2 mm) yang terletak di lekukan dasar tulang tengkorak.
c. Pembuatan ekstrak kelenjar
Pembuatan ekstrak kelenjar dilakukan Setelah semua kelenjar hipofis,4 diambil dari tengkorak ikan donor. Kelenjar tersebut harus dibersihkan di atas kertas saring. Kemudian, kelenjar dimasukkan ke dalam gelas penggerus dan ditambahkan akuabides antara 1,5-2 cc untuk setup kilogram jumlah induk yang akan disuntik. Kotoran dapat diendapkan dengan cara larutan dimasukkan ke dalam centrifugal (pemusing), baik yang elektrik maupun manual.
Penyuntikan
Penyuntikan dilakukan setelah larutan homogen yang bening dipisahkan dari endapan kelenjar dengan menggunakan spuit (alat suntikan). Penyuntikan induk betina dilakukan 2 kali agar efektif, sedangkan untuk iantan cukup sekali saja. Penyuntikan pertama biasanya dilakukan pada pukul 18.00 sebanyak i dosis pada induk betina. Penyuntikan kedua dilakukan setelah 12 jam dari penyuntikan pertama yaitu pukul 06.00 sebanyak 2 dosis pada induk betina. Adapun induk jantan disuntik pada saat penyuntikan kedua induk betina. Penyuntikan dilakukan pada otot daging bagian punggung (intramusculler), tepatnya di belakang sirip punggung sekitar baris kedua atau ketiga yang sejajar dengan bagian kelamin. Jarum disuntikan dengan kemiringan WO dari arah punggung sedalam 1-2 cm. Setelah disuntik, kedua induk dimasukkan kembali ke tempat penampungan induk masing-masing.
e. Stripping (pengurutan)
Pengurutan dilakukan setelah 10-12 jam dari suntikan kedua. Induk betina dipegang dengan tangan kiri di bagian punggung dan tangan kanan di bagian perut. Sementara ibu jari tangan kanan mengurut berulangulang pada bagian perut ke arah lubang pelepasan. Telur ditampung di dalam baskom bersih yang diberi sedikit air. Dengan cara yang sama pengurutan dilakukan pada induk jantan. Setelah keluar, sperma dicampurkan dengan telur dan diaduk perlahan-lahan dengan bulu ayam selama 3-4 menit. Telur yang sudah tercampur cairan sperma kemudian dibilas dengan air bersih untuk menghilangkan sisa cairan sperma, feses, dan darah.
E. Penetasan dan Perawatan Benih
Untuk keberhasilan penetasan telur, perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut.
1) Cuci bersih, lalu keringkan bak penetasan.
2) Pasang hapa untuk menetaskan telur.
3) Isi kolam bak penetasan dengan air bersih.
4) 'Yambahkan anfijamurDerupa Ymohm atauMitz Ich sebanyak o,o5 cc liter air ke dalam bak penetasan.
5) Sesuaikan suhu di bak penetasan. Di Bogor, untuk menaikkan suhu dengan menggunakan kompor minyak tanah. Telur patin akan menetas dalam tempo 28 jam pada suhu ruang 26-280 C.
6) Pindahkan benih yang barn berumur 1 hari ke dalam akuarium berukuran 8o cm x 45 cm x 45 cm sebanyak 5oo ekor/akuarium. Air yang ada di dalam akuarium sebaiknya telah diaerasi selama sekurang-kurangnya 24 jam.
7) Pelihara burayak selama 15 hari di dalam akuarium.
F. Pendederan dan Pembesaran
Pendederan dilakukan di kolam yang sudah dipupuk seminggu sebelumnya. Pupuk yang dipergunakan biasanya kotoran ayam sebanyak 1 kg/m2 kolam. Kolam diisi air agar tumbuh pakan alami yang dibutuhka oleh burayak patin. Adapun pembesaran patin dilakukan di kolam yang memiliki pintu pemasukan dan pembuangan air tersendiri. Kolam boleh
dipupuk terlebih dahulu atau tidak. Untuk memperoleh hasil yang optimal, pembesaran patin membutuhkan pemberian pakan tambahan.
Untuk ikan patin, pakan tambahan bisa menggunakan dedak halus clan sampah pasar. Sampah pasar dapat berupa sayuran hasil sortiran pedagang di pasar yang belum tercampur dengan sampah anorganik. Pakan tersebut sangat disukai oleh patin.
Pemijahan Pangasius
Pemijahan
Pemijahan ikan patin biasanya dilakukan dengan teknik kawin suntik karena induk patin tidak terangsang untuk memijah bila dengan lingkungan alami. Teknik pemijahan induksi (induce breeding) dengan menyuntikkan larutan kelenjar hipofise dicampur dengan ovaprim. Biasanya, teknik ini diikuti dengan teknik pengurutan (stripping) agar telur tidak berceceran dan bisa ditetaskan di dalam akuarium.
1. Konstruksi kolam
Kolam induk patin jantan biasanya terletak terpisah dengan kolam induk patin betina. Bila tidak tersedia cukup kolam, biasanya hanya disediakan kolam untuk induk betina saja. Induk jantan lebih mudah dicari ke petani ikan dibandingkan dengan induk betina yang siap bertelur.
Kolam yang baik biasanya berbentuk persegi panjang karena lebih menjamin sirkulasi air dan mempermudah penangkapan dengan jaring. Kolam sebaiknya memperoleh pasokan air dari saluran pemasukan air langsung, bukan dari kolam lain. Hal tersebut bertujuan untuk menghindari kontaminasi penyakit melalui air dari ikan yang terinfeksi. Selain itu, sebaiknya kolam memiliki pintu pembuangan yang sempurna berbentuk monk untuk memudahkan pengeringan air kolam dalam waktu cepat.
2. Persiapan
Untuk memijahkan patin dengan teknik kawin suntik, harus dipersiapkan donor berupa ikan mas yang matang kelamin. Biasanya, donor yang dipakai adalah ikan mas jantan karena lebih mudah memperoleh jantan matang kelamin dibandingkan dengan betina yang matang kelamin, selain karena alasan ekonomis.
Pakan untuk burayak juga harus dipersiapkan. Pakan yang berupa udang renik Daphnia ditetaskan di dalam wadah penetasan berupa galon yang diberi lubang pada dasarnya dan ditempatkan dalam posisi yang terbalik.
3. Pemijahan
Pemijahan ikan patin biasanya melewati beberapa kegiatan sebagai berikut.
a. Penghitungan berat donor
Umumnya, betina patin diberi 3 dosis. Oleh karena itu, untuk 5 kg induk betina patin, donor yang harus dipersiapkan sebanyak 15 kg. Sementara untuk induk jantan yang hanya 1 dosis sehingga perlu dipersiapkan donor seberat 5 kg untuk 5 kg induk jantan. Jadi, untuk sekali pelaksanaan pemijahan ikan patin seberat 5 kg, dibutuhkan ikan mas seberat 20 kg sebagai donor. Bila rata-rata ikan mas donor yang telah matang kelamin seberat 0,5 kg maka ada sekitar V ekor yang harus dipotong kepalanya dan diambil kelenjar hipofisenya.
b. Pengambilan kelenjar hipofise
Kegiatan ini dilakukan dengan memotong melintang kepala ikan mas sehingga terpisah dari tubuhnya. Selanjutnya, mulut ikan mas dihadapkan
ke atas untuk dipotong membujur mulai dari lubang hidung. Bekas irisan terakhir ini akan memperlihatkan otak yang berwarna putih ikut terbelah, Setelah itu, otak tersebut dipindahkan ke kertas saring dengan pinset dan sisa darah Berta lemak dibersihkan dengan kapas. Setelah bersih, akantampak kelenjar hipofise berwarna putih sebesar butir merica (1-2 mm) yang terletak di lekukan dasar tulang tengkorak.
c. Pembuatan ekstrak kelenjar
Pembuatan ekstrak kelenjar dilakukan Setelah semua kelenjar hipofis,4 diambil dari tengkorak ikan donor. Kelenjar tersebut harus dibersihkan di atas kertas saring. Kemudian, kelenjar dimasukkan ke dalam gelas penggerus dan ditambahkan akuabides antara 1,5-2 cc untuk setup kilogram jumlah induk yang akan disuntik. Kotoran dapat diendapkan dengan cara larutan dimasukkan ke dalam centrifugal (pemusing), baik yang elektrik maupun manual.
Penyuntikan
Penyuntikan dilakukan setelah larutan homogen yang bening dipisahkan dari endapan kelenjar dengan menggunakan spuit (alat suntikan). Penyuntikan induk betina dilakukan 2 kali agar efektif, sedangkan untuk iantan cukup sekali saja. Penyuntikan pertama biasanya dilakukan pada pukul 18.00 sebanyak i dosis pada induk betina. Penyuntikan kedua dilakukan setelah 12 jam dari penyuntikan pertama yaitu pukul 06.00 sebanyak 2 dosis pada induk betina. Adapun induk jantan disuntik pada saat penyuntikan kedua induk betina. Penyuntikan dilakukan pada otot daging bagian punggung (intramusculler), tepatnya di belakang sirip punggung sekitar baris kedua atau ketiga yang sejajar dengan bagian kelamin. Jarum disuntikan dengan kemiringan WO dari arah punggung sedalam 1-2 cm. Setelah disuntik, kedua induk dimasukkan kembali ke tempat penampungan induk masing-masing.
e. Stripping (pengurutan)
Pengurutan dilakukan setelah 10-12 jam dari suntikan kedua. Induk betina dipegang dengan tangan kiri di bagian punggung dan tangan kanan di bagian perut. Sementara ibu jari tangan kanan mengurut berulangulang pada bagian perut ke arah lubang pelepasan. Telur ditampung di dalam baskom bersih yang diberi sedikit air. Dengan cara yang sama pengurutan dilakukan pada induk jantan. Setelah keluar, sperma dicampurkan dengan telur dan diaduk perlahan-lahan dengan bulu ayam selama 3-4 menit. Telur yang sudah tercampur cairan sperma kemudian dibilas dengan air bersih untuk menghilangkan sisa cairan sperma, feses, dan darah.
Pemijahan ikan patin biasanya dilakukan dengan teknik kawin suntik karena induk patin tidak terangsang untuk memijah bila dengan lingkungan alami. Teknik pemijahan induksi (induce breeding) dengan menyuntikkan larutan kelenjar hipofise dicampur dengan ovaprim. Biasanya, teknik ini diikuti dengan teknik pengurutan (stripping) agar telur tidak berceceran dan bisa ditetaskan di dalam akuarium.
1. Konstruksi kolam
Kolam induk patin jantan biasanya terletak terpisah dengan kolam induk patin betina. Bila tidak tersedia cukup kolam, biasanya hanya disediakan kolam untuk induk betina saja. Induk jantan lebih mudah dicari ke petani ikan dibandingkan dengan induk betina yang siap bertelur.
Kolam yang baik biasanya berbentuk persegi panjang karena lebih menjamin sirkulasi air dan mempermudah penangkapan dengan jaring. Kolam sebaiknya memperoleh pasokan air dari saluran pemasukan air langsung, bukan dari kolam lain. Hal tersebut bertujuan untuk menghindari kontaminasi penyakit melalui air dari ikan yang terinfeksi. Selain itu, sebaiknya kolam memiliki pintu pembuangan yang sempurna berbentuk monk untuk memudahkan pengeringan air kolam dalam waktu cepat.
2. Persiapan
Untuk memijahkan patin dengan teknik kawin suntik, harus dipersiapkan donor berupa ikan mas yang matang kelamin. Biasanya, donor yang dipakai adalah ikan mas jantan karena lebih mudah memperoleh jantan matang kelamin dibandingkan dengan betina yang matang kelamin, selain karena alasan ekonomis.
Pakan untuk burayak juga harus dipersiapkan. Pakan yang berupa udang renik Daphnia ditetaskan di dalam wadah penetasan berupa galon yang diberi lubang pada dasarnya dan ditempatkan dalam posisi yang terbalik.
3. Pemijahan
Pemijahan ikan patin biasanya melewati beberapa kegiatan sebagai berikut.
a. Penghitungan berat donor
Umumnya, betina patin diberi 3 dosis. Oleh karena itu, untuk 5 kg induk betina patin, donor yang harus dipersiapkan sebanyak 15 kg. Sementara untuk induk jantan yang hanya 1 dosis sehingga perlu dipersiapkan donor seberat 5 kg untuk 5 kg induk jantan. Jadi, untuk sekali pelaksanaan pemijahan ikan patin seberat 5 kg, dibutuhkan ikan mas seberat 20 kg sebagai donor. Bila rata-rata ikan mas donor yang telah matang kelamin seberat 0,5 kg maka ada sekitar V ekor yang harus dipotong kepalanya dan diambil kelenjar hipofisenya.
b. Pengambilan kelenjar hipofise
Kegiatan ini dilakukan dengan memotong melintang kepala ikan mas sehingga terpisah dari tubuhnya. Selanjutnya, mulut ikan mas dihadapkan
ke atas untuk dipotong membujur mulai dari lubang hidung. Bekas irisan terakhir ini akan memperlihatkan otak yang berwarna putih ikut terbelah, Setelah itu, otak tersebut dipindahkan ke kertas saring dengan pinset dan sisa darah Berta lemak dibersihkan dengan kapas. Setelah bersih, akantampak kelenjar hipofise berwarna putih sebesar butir merica (1-2 mm) yang terletak di lekukan dasar tulang tengkorak.
c. Pembuatan ekstrak kelenjar
Pembuatan ekstrak kelenjar dilakukan Setelah semua kelenjar hipofis,4 diambil dari tengkorak ikan donor. Kelenjar tersebut harus dibersihkan di atas kertas saring. Kemudian, kelenjar dimasukkan ke dalam gelas penggerus dan ditambahkan akuabides antara 1,5-2 cc untuk setup kilogram jumlah induk yang akan disuntik. Kotoran dapat diendapkan dengan cara larutan dimasukkan ke dalam centrifugal (pemusing), baik yang elektrik maupun manual.
Penyuntikan
Penyuntikan dilakukan setelah larutan homogen yang bening dipisahkan dari endapan kelenjar dengan menggunakan spuit (alat suntikan). Penyuntikan induk betina dilakukan 2 kali agar efektif, sedangkan untuk iantan cukup sekali saja. Penyuntikan pertama biasanya dilakukan pada pukul 18.00 sebanyak i dosis pada induk betina. Penyuntikan kedua dilakukan setelah 12 jam dari penyuntikan pertama yaitu pukul 06.00 sebanyak 2 dosis pada induk betina. Adapun induk jantan disuntik pada saat penyuntikan kedua induk betina. Penyuntikan dilakukan pada otot daging bagian punggung (intramusculler), tepatnya di belakang sirip punggung sekitar baris kedua atau ketiga yang sejajar dengan bagian kelamin. Jarum disuntikan dengan kemiringan WO dari arah punggung sedalam 1-2 cm. Setelah disuntik, kedua induk dimasukkan kembali ke tempat penampungan induk masing-masing.
e. Stripping (pengurutan)
Pengurutan dilakukan setelah 10-12 jam dari suntikan kedua. Induk betina dipegang dengan tangan kiri di bagian punggung dan tangan kanan di bagian perut. Sementara ibu jari tangan kanan mengurut berulangulang pada bagian perut ke arah lubang pelepasan. Telur ditampung di dalam baskom bersih yang diberi sedikit air. Dengan cara yang sama pengurutan dilakukan pada induk jantan. Setelah keluar, sperma dicampurkan dengan telur dan diaduk perlahan-lahan dengan bulu ayam selama 3-4 menit. Telur yang sudah tercampur cairan sperma kemudian dibilas dengan air bersih untuk menghilangkan sisa cairan sperma, feses, dan darah.
Langganan:
Postingan (Atom)