Minggu, 10 April 2011

Budidaya Lele Sejahterakan Warga Srikaton

Budidaya Lele Sejahterakan Warga Srikaton

Usaha budidaya ikan lele dan ayam petelur yang sedang ditekuni warga Desa Srikaton, Kecamatan Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu Tengah. Provinsi Bengkulu, ternyata tidak sia-sia. Dari usaha tersebut, warga setempat bisa meraup jutaan rupiah setiap bulan.

Pada panen akhir 2010 misalnya, para petani lele di desa tersebut, bisa menghasilkan sekitar Rp 3 juta/bulan dari hasil penjualan ikan air tawar tersebut. Seperti dituturkan Sugito (32). dalam tempo tiga bulan ia bisa meraih pendapatan sekitar Rp 12 juta dari hasil penjualan ikan lele.

"Kami sangat berterima kasih kepada Bank Indonesia (BD Bengkulu, yang sudah membina kami sebagai petani ikan lele." ujar Sugito, anggota kelompok budidaya ikan lele saat ditemui di Desa Srikaton belum lama ini.

Desa Srikaton memang menjadi salah satu desa binaan BI Bengkulu untuk usaha budidaya lele dan ayam petelur. Karena keberhasilannya dalam usaha ini, khususnya untuk ikan lele, desa ini pun pada Maret 2011 lalu, ditetapkan menjadi pilot proyek Program Desa Kita oleh BI Bengkulu.

Dalam program budidaya tersebut, awalnya BI membantu membuatkan 24 unit kolam untuk budidaya lele. Kolam tersebut, dikelola oleh kelompok-kelompok masyarakat

BI pun menambah lagi menjadi 50 unit kolam ikan lele. Warga juga diberikan bantuan bibit ikan lele, serta pengetahuan tentang cara beternak lele yang baik.

Usaha tersebut tak sia-sia. Memasuki akhir 2010, warga Srikaton panen raya. Ribuan ekor lele segar dihasilkan. Hasilnya dijual kepada para pedagang pengumpul dengan harga antara Rp 10.000-12.000/kg. bergantung pada besar-kecilnya ikan.

Pasar

Menurut pengakuan Sugito, penghasilan Rp 12 juta per tiga bulan atau sekitar Rp 4 juta per bulan diperoleh hanya dari satu kolam ikan saja. Setiap tiga bulan mereka panen, dan akhir 2010 lalu merupakan masa panen raya ikan lele bagi petani Srikaton.

Ikan-ikan tersebut, kata Sugito, dijual di pasar-pasar tradisional di Kota Bengkulu serta pada para pedagang pengumpul sampai ke Bengkulu Tengah. "Kalau soal pemasaran, kita tak kesulitan karena banyak pedagang pengumpul yang datang sendiri membeli lele di kolam kami, dan dijual lagi ke pasar-pasar tradisional atau ke para langganannya," ujar Sugito.

Hal senada diungkapkan anggota kelompok budidaya ikan lele lainnya. Wagiman (45). Ia mengatakan, sejak dikembangkan budidaya ikan lele di desa tersebut, maka pendapatan mereka meningkat. Menurutnya, selama ini sebagian besar warga Srikaton mengantungkan hidup dari hasil panen padi.

Tapi sejak ada progam budidaya ikan lele tersebut, sebagian masyarakat beralih dan mengembangkan usaha tersebut karena hasilnya sangat menjanjikan. "Kami yakin, jika usaha budidaya ikan lele ini terus dikembangkan, ekonomi warga kami akan meningkat sehingga dapat hidup sejahtera." ujarnya. Deputi Gubernur BI, S Budi Rahadi saat peluncuran Program Desa Binaan BI

Bengkulu dan menetapkan Desa Srikaton sebagai Program Desa Kita di Bengkulu mengatakan, saat ini BI tak lagi sekadar membantu secara finansial, tapi juga menjalankan program pembinaan untuk mendorong peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat.

Menurutnya. Desa Srikaton telah dipilih sebagai pilot proyek karena keuletan dan keberhasilan yang dicapai. "Hal yang sama juga kita lakukan di semua daerah di Indonesia," katanya.

Kepada Cabang BI Bengkulu. Causa Imam Karana mengakui, hasil panen ikan lele milik petani kelompok usaha produktif binaan kita di Desa Srikaton sangat menjanjikan. "Satu kolam dapat menghasilkan ikan lele lebih dari dua ton. Usaha budidaya ikan lele di Desa Srikaton benar-benar dapat meningkatkan perekonomian masyarakat desa setempat," ujarnya.

Kemudahan Kredit

Pelaksana Tugas (Pit) Gu-bemur Bengkulu. Junaidi Hamsyah mengharapkan usaha budidaya ikan lele yang dikembangkan masyarakat Desa Srikaton hendaknya terus ditingkatkan sehingga kehidupan masyarakat di daerahnya semakin sejahtera.

Ia meminta jumlah kolam ikan lele yang ada sekarang bisa ditingkatkan menjadi ratusan unit, sehingga ke depan desa ini menjadi sentra produksi ikan lele terbesar di Provinsi Bengkulu.

"Saya optimistis jika masyarakat Desa Srikaton mau bekerja keras mengembangkan usaha budidaya ikan lele tidak mustahil kesejahteraan akan meningkat. Apalagi pendapatan dari usaha ini sangat menjanjikan," ujarnya.

Gubernur Bengkulu Junaidi Hamsyah meminta kalangan perbankan di daerah ini dapat memberi kemudahan pinjaman kredit kepada para petani lele yang membutuhkan modal untuk pengembangan usahanya.

Salah satu yang bisa diperoleh masyarakat, yaitu fasilitas kredit usaha rakyat (KLH). Saya berharap bank bisa memberikan banyak kemudahan dalam mendapatkan KUR. sehingga usaha ekonomi kerakyatan di Bengkulu akan berkembang pesat di masa mendatang, katanya.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada BI Bengkulu yang telah membina masyarakat Desa Srikaton untuk mengembangkan usaha tersebut sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. ISP/lsmin)

Sumber : Suara Pembaharuan07 April 2011,hal.13

Jumat, 08 April 2011

Bacterial Fin / Tail Rot / Pseudomoniasis

Bacterial Fin / Tail Rot / Pseudomoniasis

Cause: Pseudomonas spp.

BioEkologi Pathogens:
• It is a gram-negative bacteria and non-spore. These bacteria are aerobic. with a size of 3 um x 0.5 um, motile, producing fluorescent pigment. and breed in soil and water.
• Hazardous mainly on freshwater fish (although it also can attack sea fish and brackish) and can result in high mortality due to infectious disease in quick time when water conditions allow.
• Transmission and spread of disease through direct contact with fish that are sick or with the polluted environment.
• The attacks can occur when fish are vulnerable or weakened by hunger. the feed is not suitable. cold, or water conditions are not good.
Clinical Symptoms
• Fish weak to move slowly. breathe gasping at the surface of the water.
• Color pale gills and a dark body color change.
• There are patches of red on the outside of his body and damage to the fins, gills and skin
• excessive mucus at first, then emerged bleeding
• fin and tail loss (decayed)
• bleeding. stomach became bloated fish, known as dropsy.

Diagnosis:
• isolation and identification of bacteria through bio-chemical tests.




Control:
• Avoiding the occurrence of stress (physical, chemical, biological)
• Improve overall water quality, particularly reducing the levels of dissolved organic material and / or increase the frequency of replacement of new water
• Management of fish health in an integrated (fish, environment and pathogens)
• Reduce feeding and number of fish in pond
• Soaking in a solution of PK 20 ppm for 30 minutes.

source: Ministry of Maritime Affairs and Fisheries of Indonesia, Directorate General of Aquaculture, Fish and Environmental Health Directorate, 2010

Kamis, 07 April 2011

penyakit ikan Bacterial Fin/Tail Rot/Pseudomoniasis

Bacterial Fin/Tail Rot/Pseudomoniasis

Penyebab : Pseudomonas spp.

BioEkologi Patogen :
• Merupakan bakteri gram negatif dan non-spora. Bakteri ini bersifat aerobik. dengan ukuran 3 um x 0,5 um, motil, memproduksi pigmen fluorescent. dan berkembang biak di tanah dan air.
• Berbahaya terutama pada ikan air tawar (meskipun juga dapat menyerang ikan laut dan payau) serta dapat berakibat kematian yang tinggi karena penyakit ini menular dalam waktu cepat bila kondisi perairan memungkinkan.
• Penularan serta penyebaran penyakit melalui kontak langsung dengan ikan yang sakit atau dengan lingkungan yang tercemar.
• Serangannya bisa terjadi kalau ikan rentan atau lemah akibat lapar. pakan tidak cocok. dingin, atau kondisi air tidak balk.
Gejala Klinis
• Ikan lemah bergerak lambat. bernafas megap-megap di permukaan air.
• Warna insang pucat dan warna tubuh berubah gelap.
• Terdapat bercak-bercak merah pada bagian luar tubuhnya dan kerusakan pada sirip, insang dan kulit
• mula-mula lendir berlebihan, kemudian timbul perdarahan
•sirip dan ekor rontok (membusuk)
• perdarahan. perut ikan menjadi kembung yang dikenal dengan dropsy.

Diagnosa :
• isolasi dan identifikasi bakteri melalui uji bio-kimia.




Pengendalian :
• Menghindari terjadinya stress (fisik, kimia, biologi)
• Memperbaiki kualitas air secara keseluruhan, terutama mengurangi kadar bahan organik terlarut dan/atau meningkatkan frekuensi penggantian air baru
• Pengelolaan kesehatan ikan secara terpadu (ikan, lingkungan dan patogen)
• Kurangi pemberian pakan dan jumlah ikan dalam kolam
• Perendaman dalam larutan PK 20 ppm selama 30 menit.

sumber : Kementerian Kelautan dan Perikanan, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Direktorat Kesehatan ikan dan Lingkungan, 2010

Rabu, 06 April 2011

Manfaat dan Kegunaan Rumput Laut Perikanan Budidaya

Manfaat dan Kegunaan Rumput Laut Perikanan Budidaya

Rumput laut adalah komoditas perikanan budidaya yang sangat diunggulkan dan merupakan komoditas ekspor. Produksinya, secara nasional, sementara mencapai 3.082.113 ton pada tahun 2010. Angka ini naik dari tahun sebelumnya yang mencapai 2.963.556 ton dan diperkirakan produksi rumput laut pada tahun 2010 lebih besar dari angka sementara 2010 ini.

Produksi rumput laut merupakan yang terbesar dibandingkan dengan komoditas lainnya. Bahkan dapat dikatakan produksi rumput laut setiap tahunnya menyumbangkan sekitar 2/3 dari total produksi perikanan budidaya. Produksi rumput laut tertinggi setiap tahun terdapat di pulau Sulawesi dan Pulau Nusa Tenggara.

Rumput laut yang dibudidayakan oleh pembudidaya sebagian besar adalah rumput laut E. cottonii dan Gracilaria sp. Rumput laut E. cottonii dibudidayakan di perairan laut dengan metode long line, metode rakit dan metode lepas dasar. Sedangkan rumput laut Gracilaria sp dikembangkan pada perairan payau dengan metode lepas dasar dan beberapa pembudidaya mengembangkan metode longline.

Rumput laut yang menjadi komoditas unggulan budidaya ini dan menjadi tumpuan sebagian besar pembudidaya, memiliki banyak kegunaan dan manfaat. Berikut adalah kegunaan dan manfaat rumput laut hasil budidaya, yaitu :

1. Melangsingkan tubuh
2. Untuk perawatan kecantikan
3. Mengobati jerawat
4. Mengobati radang sendi
5. Mengobati diabetes
6. Mencegah dan menyembuhkan gondok
7. Mengatasi ketiak hitam
8. Bahan dasar Bahan Bakar Minyak ramah lingkungan
9. Bahan dasar pembuat kertas
10. Bahan dasar pembuat pupuk organic
11. Kaya akan nutrisi esensial, seperti enzim, asam nukleat, asam amino, mineral, trace elements dan vitamin A, B, C, D, E dan K.

Selain memiliki banyak manfaat dan kegunaan, rumput laut hasil budidaya juga dapat diolah kembali menjadi bahan makanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Telah banyak hasil olahan rumput laut hasil budidaya yang diolah dan menjadi makanan, seperti dodol, es rumput laut, keripik, agar-agar, dan masih banyak lagi.
SUMBER : http://www.perikanan-budidaya.kkp.go.id

Selasa, 05 April 2011

Pembenihan Ikan Guppy (Poecilia reticulata)

Pembenihan Ikan Guppy (Poecilia reticulata)


Ikan Guppy merupakan salah satu jenis ikan dari famili Poicilidae, dimana ikan dari famili ini termasuk ikan yang mudah dikembangbiakan. Ciri khusus dari ikan guppy adalah ekornya yang melebar dan bercorak batik. Corak batik ini terdiri dari berbagai warna, seperti biru, hitam, kuning, atau merah saja. Panjang guppy dewasa bisa mencapai 3 – 4 cm.



Pemilihan induk

Cara membedakan induk jantan dan betina dengan melihat bentuk tubuh dan warnanya. Induk jantan berwarna tajam dan tubuhnya ramping sedangkan induk betina tubuhnya pendek dan gemuk serta warna tubuhnya buram.



Pemijahan

* Persiapan pemijahan

Wadah untuk pemijahan berupa bak tembok atau bak plastik berukuran 1 x 1 x 0,5 m, 2 x 1 x 0,5 m atau 4 x 4 x 0,5 m dengan tinggi air 25 – 40 cm dan aerasi lemah.

Air yang digunakan untuk pemijahan memiliki pH 6 – 7 dan suhu 24 – 28oC. Substrat yang digunakan untuk tempat induk bercumbu dan menempelkan telur berupa hydrilla.

* Proses Pemijahan

Pemijahan berlangsung secara massal dengan rasio jantan dan betina 1 : 2 dengan padat tebar 15 ekor/ 50 liter air.

Pemijahan ditandai dengan guppy jantan yang mengejar-ngejar betina dan selalu ”menanduk-nanduk” bagian anus betina serta terkadang menempelkan badannya ke badan betina.

Setelah 4 – 7 hari, biasanya anak-anak ikan guppy berenang di permukaan air. Setelah itu, dapat dipisahkan dari induknya.



Perawatan Telur, Larva dan Anak

- Untuk menghindari serangan jamur, pada media mepeliharaan telur dilarutkan MGO dan MB

- Setiap induk dapat menghasilkan 10 – 50 ekor, anak ikan tersebut kemudian dipindahkan ke wadah lain yang telah disiapkan.

- Pakan yang diberikan berupa infusoria sampai berumur 5 – 7 hari.

- Untuk melindungi anak ikan maka pada wadah pemeliharaan diberikan eceng gondok atau tanaman air berupa hydrilla.

sumber : http://www.perikanan-budidaya.kkp.go.id

PENGARUH PAKAN IKAN TERHADAP KUALITAS PERAIRAN DANAU/WADUK PADA BUDIDAYA IKAN SISTEM KJA

PENGARUH PAKAN IKAN TERHADAP KUALITAS PERAIRAN DANAU/WADUK PADA BUDIDAYA IKAN SISTEM KJA

Di beberapa danau/waduk, para pembudidaya ikan memanfaatkannya sebagai lahan budidaya ikan yang menggunakan sistem keramba atau Keramba Jaring Apung (KJA). Sifat perairan danau/waduk yang masih dianggap sebagai common property (milik bersama) dan open access (sifat terbuka) menyebabkan pertumbuhan KJA di berbagai tempat berkembang sangat pesat dan cenderung tidak terkontrol dan tak terkendali. Hal tersebut didukung dengan budidaya ikan berbasis pakan buatan (pelet) dimana aktivitas budidayanya menggunakan pemberian pakan hampir 70% dari proses produksinya.

Budidaya ikan berbasis pelet (budidaya intensif) merupakan kegiatan usaha yang efisien secara mikro tetapi inefisien secara makro, terutama apabila ditinjau dari segi dampaknya terhadap lingkungan. Pertumbuhan jumlah keramba yang terus meningkat yang berarti terus meningkatnya jumlah ikan yang dipelihara akan menghasilkan sejumlah limbah organik yang besar akibat pemberian pakan yang tidak efektif dan efisien.
Pada saat jumlahnya melampaui batas tertentu dapat mengakibatkan proses sedimentasi yang tiggi berupa penumpukan sisa pakan di dasar perairan, limbah tersebut akan menyebabkan penurunan kualitas perairan (pengurangan pasokan oksigen dan pencemaran air danau/waduk) yang pada akhirnya mempengaruhi hewan yang dipelihara. Sisa pakan dan metabolisme dari aktifitas pemeliharaan ikan dalam KJA serta limbah domestik yang berasal dari kegiatan pertanian maupun dari limbah rumah tangga menjadi penyebab utama menurunnya fungsi ekosistem danau yang berakhir pada terjadinya pencemaran danau, mulai dari eutrofikasi yang menyebabkan ledakan (blooming) fitoplankton dan gulma air seperti enceng gondok (Eichornia crassipes), upwelling dan lain-lain yang yang dapat mengakibatkan organisme perairan (terutama ikan-ikan budidaya) serta diakhiri dengan makin menebalnya lapisan anaerobik di badan air danau. Melihat akibat yang ditimbulkan dari pemberian pakan ikan budidaya ikan sistem KJA terhadap kualitas perairan di danau/waduk maka penulis tertarik akan hal tersebut. Adapun tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui pengaruh pakan ikan terhadap kualitas perairan danau/waduk pada budidaya ikan sistem KJA.

A. Pembahasan

Pertumbuhan jumlah KJA yang dibudidayakan di danau/waduk secara intensif yang terus meningkat yang berarti terus meningkatnya jumlah ikan yang dipelihara akan menghasilkan limbah organik (kotoran ikan dan sisa pakan yang tidak termakan) yang akan merangsang produktivitas perairan dan mempengaruhi karakteristik biotik dan abiotik perairan (Krismono, 1992). Budidaya ikan dalam KJA secara intensif merupakan usaha perikanan yang dapat dikembangkan dengan pemberian pakan komersil (pelet). Semakin banyak KJA yang beroperasi akan semakin banyak limbah yang masuk ke perairan. Limbah tersebut berasal dari pemberian pakan yang berlebihan yang akan menimbulkan dampak lanjut ke perairan berupa kotoran dan sisa pakan.

Kegiatan budidaya ikan sistem KJA yang dikelola secara intensif membawa konsekuensi penggunaan pakan yang besar yang bagaimanapun efisiensinya rasio pemberian pakan, tidak seluruh pakan yang diberikan akan termanfaatkan oleh ikan-ikan peliharaan dan akan jatuh ke dasar perairan. Pakan ikan merupakan penyumbang bahan organik tertinggi di danau/waduk (80%) dalam menghasilkan dampak lingkungan (Garno, 2000). Jumlah pakan yang tidak dikonsumsi atau terbuang di dasar perairan oleh ikan sekitar 20–50%. Berbagai pendapat mengenai jumlah pakan yang terurai di danau /waduk:

1. Lukman & Hidayat (2002) bahwa sisa pakan dalam bentuk kotoran ikan yang jatuh ke perairan sekitar 50% dari pakan yang diberikan.
2. Krismono (1993) dalam Krismono dan Wahyudi (2002), pemberian pakan dengan sistem pompa memberi sumbangan berupa pakan yang terbuang sekitar 20 ? 30% untuk setiap unit KJA dengan ukuran 7 x 7 x 3 m3.
3. Philips et al., (1993), Boyd (1999), Mc Donad et al., (1996), 30% dari jumlah pakan yang diberikan tertinggal sebagai pakan yang tidak dikonsumsi dan 25-30% dari pakan yang dikonsumsi akan diekskresikan.
4. Sutardjo (2000), limbah pakan yang terbuang ke perairan yang diperkirakan sekitar 30–40%.
5. Azwar dkk (2004), jumlah pakan pada sistem KJA yang diberikan per hari mencapai 3,3% bobot ikan dan dari jumlah pakan yang diberikan tersebut ada bagian yang tidak dikonsumsi mencapai 20–25% dari pakan yang dikonsumsi tersebut akan diekskresikan ke lingkungan.
6. Rachmansyah (2004), pakan yang diberikan pada ikan hanya 70% yang dimakan oleh ikan dan sisanya sebanyak 30% akan lepas ke badan perairan danau sebagai bahan pencemar atau limbah.

Umumnya di danau/waduk, pemberian pakan adalah dengan sistem pompa yaitu pemberian pakan sebanyak-banyaknya (Kartamihardja, 1995 dalam Nastiti et al., 2001) akibatnya terjadi pemberian pakan berlebih (over feeding). Pemberian pakan yang dilakukan secara adbilitum (terus menerus hingga ikan betul-betul kenyang) menyebabkan banyak pakan yang terbuang (inefisiensi pakan) dan terakumulasi di dasar perairan. Sisa pakan yang tidak termakan dan ekskresi yang terbuang pada akhirnya akan diuraikan olej jasad-jasad pengurai yang memerlukan oksigen. Dalam kondisi anaerob penguraian akan berjalan dengan baik, namun dari proses anaerobik ini dihasilkan berbagai gas beracun yang dapat mencemari perairan danau/waduk. Disamping hal tersebut, sisa pakan dan buangan padat ikan akan terurai melalui proses dekomposisi membentuk senyawa organik dan anorganik, beberapa diantaranya senyawa nitrogen (NH3, NO2, NO3) dan fosfor (PO4) (Juaningsih, 1997). Senyawa-senyawa nitrogen (N) dan fosfor (P) diperlukan oleh fitoplankton dan tumbuhan air lainnya. Di perairan fitoplankton merupakan produsen primer yang mempengaruhi kelimpahan organisme. Sisa-sisa pakan dan kotoran ikan dari KJA berperan sebagai pupuk yang dapat menyuburkan perairan danau/waduk. Apabila dalam keadaan hipertropik berakibat pertumbuhan yang tidak terkendali (blooming) plankton jenis tertentu.

Kotoran ikan dapat menimbulkan deposisi yang meningkat di dasar perairan, selanjutnya mengakibatkan penurunan kadar oksigen di bagian dasar. Menurut Lukman (2006) menjelaskan bahwa pasokan oksigen dalam pengelolaan KJA adalah untuk respirasi biota, pembusukan feses ikan dan pembusukan sisa pakan ikan. Menurutnya untuk setiap gram organik (limbah budidaya ikan) diperlukan 1,42 gram oksigen. Konsentrasi oksigen yang tersedia berpengaruh secara langsung pada kehidupan akuatik khususnya respirasi aerobik, pertumbuhan dan reproduksi. Konsentrasi oksigen terlarut di perairan juga menentukan kapasitas perairan untuk menerima beban bahan organik tanpa menyebabkan gangguan atau mematikan organisme hidup (Umaly and Cuvin, 1988). Sumber oksigen di perairan berasal dari: difusi atmosfir, fotosintesis,angin, dan susupan oksigen terlarut. Sedangkan penggunaan oksigen terlarut di lapisan perairan (Simarmata, 2007):

1. Lapisan permukaan perairan terdapat (a) proses pembentukan biomassa dalam karamba dan kotoran (ekskresi & feses) serta sisa pakan; (b) proses pembentukan, melalui fotosintesa, memanfaatkan unsur hara menjadi biomassa fitopankton+oksigen.
2. Lapisan tengah terjadi proses mineralisasi sisa pakan/ kotoran ; membebaskan unsur hara. N, P, K, Si dengan memanfaatkan oksigen (DO), akibatnya cadangan DO berkurang, diindikasikan dengan adanya ODR (Oxygen Depletion Rate) atau HODR (Hypolimnion Oxygen Depletion Rate).
3. Lapisan bawah atau dasar perairan, menampung akumulasi sisa pakan/kotoran ikan serta produk dekomposisi sisa pakan seperti: CO2, H2S, NH3, CH4 pada kondisi anaerob. Peningkatan unsur hara (N, P, Si) tersebut potensial menunjang perkembangan fitoplankton (bloom), yang di dominasi oleh kelompok cyanophyceae Mycrocytis sp. Perkembangan fitoplankton tersebut akhirnya mengganggu keseimbangan DO di perairan.

Bahan organik dan nutrien yang berasal dari luar dan dari kegiatan budidaya KJA akan mempengaruhi ketersediaan oksigen dan daya dukung perairan. Daya dukung perairan yaitu kemampuan perairan dalam menerima, mengencerkan dan mengasimilasi beban tanpa menyebabkan perubahan kualitas air atau pencemaran. Cadangan oksigen di perairan danau/waduk sangat terbatas. Apabila beban melampaui ketersediaan cadangan oksigen, akan terjadi deplesi, lalu defisit dan menyebabkan pencemaran. Pada akhirnya pemberian pakan ikan yang berlebihan pada buddiaya ikan sistem KJA menjadi penyebab utama menurunnya fungsi ekosistem danau yang berakhir pada terjadinya pencemaran danau, mulai dari eutrofikasi yang menyebabkan ledakan (blooming) fitoplankton dan gulma air seperti enceng gondok (Eichornia crassipes), upwelling dan lain-lain yang yang dapat mengakibatkan kematian pada organisme perairan (terutama ikan-ikan budidaya) serta diakhiri dengan makin menebalnya lapisan anaerobik di badan air danau.

B. Kesimpulan dan Saran

1. Kesimpulan

Pertumbuhan jumlah KJA yang dibudidayakan di danau/waduk secara intensif yang terus meningkat akan menghasilkan sejumlah limbah organik (terutama yang mengandung unsur nitrogen dan fosfor) yang besar akibat pemberian pakan yang tidak efektif dan efisien sehingga terjadi sisa pakan yang menumpuk di dasar perairan. Limbah organik pada budidaya ikan sistem KJA menjadi penyebab utama menurunnya fungsi ekosistem danau yang berakhir pada terjadinya pencemaran danau (eutrofikasi, upwelling dan lain-lain) yang yang dapat mengakibatkan kematian pada organisme perairan (terutama ikan-ikan budidaya) serta diakhiri dengan makin menebalnya lapisan anaerobik di badan air danau.

2. Saran

1. Perlunya pengaturan musim tanam, pengendalian jumlah KJA dan padat tebar ikan di KJA dikurangi atau ikan budidaya diganti dengan jenis yang lebih toleran terhadap konsentrasi DO yang rendah seperti ikan patin, lele, dan betutu.
2. Perlu disosialisasikan tentang cara pemberian pakan yang sesuai dengan ketentuan yaitu 3% dari berat badan ikan yang dibudidayakan dan diberikan tiga kali sehari yang dimaksudkan untuk mengurangi jumlah sisa pakan yang masuk perairan
3. Perlu disosialisasikan KJA yang ramah lingkungan yaitu KJA ganda dan konstruksi KJA dengan pelampung polystyrene foam.



C. Daftar Pustaka

Azwar, ZI., Ningrum, S dan Ongko, S. 2004. Manajemen Pakan Usaha Budidaya Ikan di Karamba Jaring Apung. Dalam Pengembangan Budidaya Perikanan di Perairan Waduk. Pusat Riset Budidaya Perikanan. Jakarta.
Boyd, C. E. 1999. Management of Shrimp Ponds to Reduce the Eutrophication Potential of Effluents. The Advocate. December 1999 : 12-13.

Juaningsih, N. 1997. Eutrofikasi di Waduk Saguling Jawa Barat. Laporan Penelitian Balai Penelitian Air Tawar Purwakarta Jawa Barat. Hal 40 – 44.

Krismono. 1992. Penelitian Potensi Sumberdaya Perairan Waduk Wadaslintang, Mrica, Karangates dan Waduk Selorejo untuk Budidaya Ikan dalam Keramba Jaring Apung. Buletin Penelitian Perikanan Darat. Vol. II No. 2 Juni. 20 hal.

Lukman dan Hidayat. 2002. Pembebanan dan Distribusi Organik di Waduk Cirata. Jurnal Teknologi Lingkungan. P3TL-BPPT. Vol. 3 (2): 129 – 135.

Mc. Donald, M.E, Tikkanen, C. A, Axler, R. P , Larsen, C. P dan Host, G. 1996. Fish Simulation Culture Modekl (FIS-C) : A Bioenergetics Based Model for Aquacultural Wasteload Application. Aquacultural Engineering. 15 (4): 243 - 259.
Nastiti, A.S., Krismono, dan E.S. Kartamiharja. 2001. Dampak Budidaya Ikan dalam KJA terhadap Peningkatan Unsur N dan P di Perairan Waduk Saguling, Cirata, dan Jatiluhur. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. 7 (2): 22-30.

Phillips, M.J, Clarke, R. dan Mowat, A. 1993. Phosphorus Leaching from Atlantic Salmon Diets, Aquacultural Engineering. 12 (1993) : 47 – 54.

Rachmansyah. 2004. Analisis Daya Dukung Lingkungan Perairan Teluk Awarange Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan bagi Pengembangan Budidaya Bandeng dalam Keramba Jaring Apung. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor. Disertasi.

Simarmata, A. H. 2007. Kajian Keterkaitan antara Kemantapan Cadangan Oksigen dengan Beban Masukan Bahan Organik di Waduk Ir. H. Juanda Purwakarta Jawa Barat. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor. Disertasi.

Sutardjo. 2000. Pengaruh Budidaya Ikan pada Kualitas Air Waduk (Studi Kasus pada Budidaya Ikan dalam Keramba Jaring Apung, di Ciganea, Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat). Program Studi Ilmu Lingkungan. Program Pascasarjana. Universitas Indonesia. Jakarta. Tesis.
Umaly, R.C and M.A.L.A Cuvin. 1988. Limnology. National Book Store Publisher. Manila.

Budidaya Udang Kian Menjanjikan

Budidaya Udang Kian Menjanjikan

BANYUWANGI-Kebangkitan budidaya udang sudah dapat dirasakan sejak awal 2011 di tambak-tambak rakyat sepanjang Pantura Jawa mulai dari Karawang, Garut sampai ke Patrol, Jawa Barat. Geliat budidaya udang juga sudah bisa dilihat mulai dari Kendal, Jepara. Jawa Tengah hingga perbatasan pintu gerbang Tuban, JawaTimur hingga Banyuwangi.

"Kita akan sama-sama melihat kebangkitan udang di tanah air. Seperti apa hasil panen ini, kita bisa merasakan dan bergantian mengangkat jaringnya agar ikut merasakan bagaimana nikmatnya panen," ujar Dirjen Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan, Ketut Sugama saat panen udang Vaname di Karawang Jawa Barat kemarin.

Budidaya udang di sepanjang Pantai Utara (Pantura) Jawa dan sejumlah daerah di Indonesia perlahan mulai bangkit lagi.

Diperkirakan produksi udang pada tahun ini mencapai 460.000 ton. Dari jumlah itu, untuk udang windu diperkirakan akan mencapai 130.000 ton, dan vaname ditargetkan sebanyak 350.000 ton. Budidaya udang bergairah kembali karena pasar untuk dalam dan luar negeri bagus. Masalah penyakit juga mulai berkurang. Tambak yang dulu mangkrak kini sudah mulai dimanfaatkan lagi.

Menurut Ketut, kunci sukses budidaya udang terletak pada manajemen tambak, seleksi atau perbaikan genetik dan kontrol penyakit. Pusat perbenihann udang juga dilakukan modernisasi dengan menerapkan sistem tambak terkontrol. "Sudah banyak benih udang yang bersertifikat dirilis ke masyarakat Benih yang berkualitas inilah yang harus terus dikembangkan untuk menunjang produksi," ujarnya, (nel)


Sumber : Indo Pos 04 April 2011,hal. 4