Kembangkan Patin Berkualitas Secara Efisien
Warga Amerika Serikat tengah membutuhkan pasokan ikan murah dalam jumlah banyak. Terlebih sejak krisis keuangan merontokkan sendi-sendi
perekonomian Negeri Paman Sam tersebut. Kondisi tak jauh berbeda dialami Eropa. Dengan alasan berhemat, penggemar seafood di UE mulai
meninggalkan konsumsi ikan ikan yang mahal dan
menggantinya dengan yang lebih murah.
Dan salah satu jenis ikan murah yang kini kion mendapat tempat di hati penduduk AS don UE adalah ikan Patin (Pongasius SO Saudara jauh ikan lele yang juga berkumis ini (catfish)
banyak dijumpai di sungai sungai besar di tanah air.
Sayangnya, Indonesia belum
bisa mengambil peluang pasar Patin yang menggoda di kedua negara tersebut. Selain kuantitas don kontinyuitas produksi Patin yang masih rendah, Indonesia belum bisa menghasilkan Patin dengan kualitas prima sebagaimana yang disyaratkon AS dan UE. Justru Vietnam yang berhasil memenuhi kebutuhan permintaan Patin dunia tersebut dengan produksi mencapai lebih dari satu juta ton. Celakanya, Patin Vietnam pun telah membanjiri pasar Indonesia. Sementara pada waktu yang sama, produksi dalam negeri tak lebih dari 50 ribu ton!
Kenyataan pahit inilah yang kemudion mendorong PT Central Pangan Pertiwi (PT CPP)--produsen pakan ikan dan udang yang merupakan anak perusahaan dari PT Central Proteinaprima Tbk.—untuk mengembangkan Patin di Indonesia. Bersama dengan Laka Riset Pemuliaan dan Teknologi Budidaya Perikanan AirTawar (LRPTBPAT) Sukamandi Jawa Barat, PT CPP melakukan kerjasama riset dalam budidaya Patin secara intensif di kolam tanah. Atas gawe besarnya ini, tak kurang Menteri Kelautan dan Perikanan, Freddy Numberi menyampaikan terima kasihnya
kepada PT CPP dalam panen perdana patin skala industri di LRPTBPAT Sukamandi media Desember 2008. "Terimakasih kepada PT CPP yang telah membantu kami melihat peluang pasar Patin dan dalam usahanya menciptakan lapangan kerja dari budidaya ikan Patin," kata Freddy.
Pada kesempotan itu Pula, General Manager Business Research and Relation, PT CPP, Denny D Indradjaja, menyatakan komitmen PT CPP dalam pengembangan Patin di dalam negeri. "Divisi ikan PT CPP commit untuk mengembangkan budidaya Patin ke masyarakat. Kami akan membantu secara teknis serta menyediakan pakan berkualitas dan sesuai," katanya.
Peluang Besar
menrut Denny, peluang pengembangan Patin di Indonesia sangat besar. Sebab, Patin merupakan jenis ikan pemakan segala dan budidayanya lebih mudah dibandingkan dengan ikan jenis lain. Selain untuk mengisi pasar ekspor, pengembangan budidaya Patin juga akan membantu peningkatan konsumsi ikan di dalam negeri yang masih sangat rendah.
Pasar ekspor, menuntut pasokan Patin dengan kriteria daging berwarna putih, tidak berbau lumpur dan bebas residu antibiotik. Sebelumnya LRPTBPAT telah menyilangkan betina Patin siam (berdaging kuning kemerahan dan pertumbuhan cepat) dengan Patin jambal (daging putih tapi fekunditas/tingkat penetasan telur dan toleransi terhadap lingkungan rendah) yang menghasilkan Patin berdaging putih dengan laju pertumbuhan tinggi. Patin jenis ini dinamai Patin pasupati dan telah dirilis dua tahun lalu.
Namun, pengembangan Patin pasupati terhadang kendala tingkat stres ikan yang masih tinggi. Karena itu kerjasama riset budidaya ini juga mengembangkan jenis Patin siam yang lebih "tahan banting" dengan perlakuan khusus. Yaitu memberikan pakan khusus untuk membuat
daging patin siam yang merah menjadi berwarna putih. Pada riset budidaya itu, PT CPP dan LRPTBPAT sepakat menekankan pada pengelolaan kualitas air baik untuk budidaya ikan patin pasupati dan patin siam.
Denny tak menampik fakta bahwa saat ini Vietnam masih menjadi yang pertama dalam produksi patin dunia. Tapi, lanjutnya, disinyalir kualitas patin Vietnam mulai menurun karena budidaya patin dilakukan di Delta Mekong yang telah mengalami penurunan kualitas. Justru saat ini, FDA—badan pengawasan obat dan makanan Amerika Serikat—meminta budidaya patin dilakukan di kolam supaya lebih terkontrol. Karena itu, kata Denny, Vietnam mulai memindahkan budidaya patin mereka dari sungai ke kolam air deras. Caranya dengan memompa air Sungai Mekong ke pinggir sungai lalu mengendapkannya dan melakukan treatment selama tiga hari dan menjadikannya sebagai kolam air deras di pinggir sungai.
Hargoi Bersaing
Kerjasama PT CPP dan LRPTBPAT di riset budidaya patin ini dilakukan sejak Maret 2008 dan direncanakan sampai Februari 2009. Selain menerapkan pola intensif, budidaya patin juga menerapkan teknik CBIB (Cara Budidayo Ikan yang Baik). Antara lain dengan penggunaan pakan bermutu, tidak menggunakan antibiotik tetapi menggunakan probiotik dan garam.
Ukuran awal benih patin siam 17 gram/ekor, sedangkan benih patin pasupati bobot awalnya 10 gram/ekor. Kolam pemeliharaan seluas 6.000 m2 dengan kedalam air 1,2 m
dan padat tebar 10 ekor/m". Pakan berupa pellet dengan feeding rate sekitar 3% dari biomass ikan dan disesuaikan dengan ukuran dan perkembangan ikan. Pengaturan jumlah pakan setiap periode waktu tertentu dilakukan dengan sampling.
Berdasarkan sampling pada akhir pemeliharaan (bulan ke-8), diperoleh bobot patin siam 1.300 gram/ekor, sedangkan patin pasupati 1 .000 gram/ekor. Produksi patin siam pada panen perdana ini mencapai 65 ton/6000 m2 dan patin pasupati 45 ton/m2. Nilai FCR patin pasupati 1,2 dan patin siam 1,4. Dari sini, Sularto don Evi Tahapari peneliti patin dari LRPTBPAT menyebutkan, biaya produksi untuk menghasilkan sekilo ikan patin siam mencapai Rp 8.960 sedangkan untuk patin pasupati lebih rendah lagi yaitu Rp 8.132 per kilogram. Bila harga jual Rp 10.500 per kg, maka Return on Invesment (ROI) per tahun mencapai 30% pada patin-siam don 40% untuk patin pasupati.
Ikan patin pasupati dan siam yang dihasilkan dari riset ini bisa dijual dengan harga Rp 34.500 per kg. Asumsinya, harga ikan berdaging putih Rp 11 .000/kg dengan rendemen 35%. Ini merupakan harga yang sangat bersaing dengan harga dari (ikan patin dari Vietnam). Rendemen dari mencapai 35%. Harga dasor impor ikan dori dengan spesifikasi kadar air 10%, untuk dori yang berdaging putih berkisar Rp 40 ribu per kg dan dari yang berdaging kemerahan berkisar Rp 37.500 per kg. Dengan mengembangkon model budidaya patin sebagaimana yang dilakukan PT CPP don LRPTBPAT Sukamandi maka pengusaha dalam negeri tak perlu lagi mengimpor dari Vietnam.
Sumber : TROBOS, 2008
Kamis, 05 Maret 2009
membrane electron Weapon exterminator Shrimp Virus
membrane electron Weapon exterminator Shrimp Virus
This tool is specifically designed to kill off the virus in shrimp
Shrimp pond land in the north coast of Java Island (Pantura) quality is very bad. In addition to pollution by industrial waste dump and the household, lands in the pond there is also decreased due to the quality of the cultivation of land use often without any improvement. Bath enforce yarn wet, efforts in the cultivation of land is nearly always encounter a failure. Instead of harvest, shrimp, not able to survive more than 20 days.
But for Endi MuchtarUdin, the story of the shrimp. Shrimp farmers from the river is clogged, Pedes District, Karawang regency, West Java this successful break that can not Pantura for shrimp cultivation. Harvested three times in succession, Endi menangguk fate of shrimp farming pond in the location of the previous mangkrak (idle / pond is broken and unused).
More terrible, which developed the type of shrimp old man is part windu (Penaeus monodon), the level of difficulty higher than the cultivation vaname species (Penaeus vannamei). The secret, said Endi, using weapons ME-1 (membrane electron 1)
to fight the virus. This tool is able to kill virus-the virus causes disease in shrimp. Various viruses during this frighten the farmers, such as shrimp White Spot Syndrome Virus (WSSV), Taura Syndrome Virus (TSV), infectious Hypodermal Hemathopoetic Necrosis Virus (IHHNV), Myonecrosis infectious virus (IMNV) and Virus Nervous Necrosis (VNN) will be ditaklukkan .
Shoot virus DNA
Membrane electron is an instrument of high speed electrons that is specifically designed to reduce the amount of virus in water. This tool consists of two parts. The first part is called electron generator (box driver generator electrons) generate a working high-speed electrons. Part two is a layer plating electrode kassa that placed in the pipe paralon. Its function is to create electron-rich zone in the water. Zone generated electrons will bond with the protein on the virus through. So that the water that flows through this zone will be free of the virus.
installed base in the provision of water pipes in the pond and work when the process of water. "The principle is the damage to DNA viruses in the water that will go to the pond," said Endi. How it works, the wall power maximum 75 watts (for 1 unit of ME-1) flowed to the electrode so that the shape kassa membrane electron. Water entering the pond will be managed through a membrane with maximum debit 25 liters of water per second. If there is a virus through, then the DNA to its will ditembak by electrons up to a series of virus damaged.
According Endi, 1 ME-1 unit diameter paralon 6 - 8 inch can be used for the pond area of 5 hectares. Cost of making one unit of ME-1 ranges from Rp 10 million. Hmmmmmm life to 8 hours. or two cycles. But it will be better if every turn of the cycle do not kassa a more cost Rp 500 ribu. This will make the work of ME-1 maximum.
Endi confess, does not alone make itself ME-1, but together with the Central Marine Fisheries Development Cultivation. And brackish water shrimp (BPBPLAPU) Karawang. This is in place. Endi ordinary search of the problem that faces in the cultivation of shrimp.
Sunendar Dede, Head BPBPLAPU states, electrons proven membrane technology capable of tackling the virus. "In place of the stock we have already detected a positive WSSV infected.'s Been with the provision membrane electron and then the water out of the stock to be virus-free," said Dede.
According to him, pond-pond in the area during this BPBPLAPU stated can not be planted more shrimp. However, with the ME-1, now pond-pond may be in the back with satisfactory results. BPBPLAPU using the ME-1 in two different places. In the land-intensive pond system vaname of 4.2 hectares, solid tebar reached 360 thousand, the harvest reached 3.2 tons. While the land area of 2.4 hectares, 75 thousand tebar compact,
system between poly vaname shrimp and seaweed (Gracilaria), 8.2 kuintal can harvest shrimp.
Endi and intend BPBPLAPU parties will continue to refine this ME-1. For example, said Endi, complete with the ME-1 speed, so the frequency of more optimal results.
Bacillus Buntus River
However, Balk Endi and Dede
remind, the success of shrimp farming and windu vaname in pond
mangkrak not only because of ME-1, but should also apply
probiotik system bakterinya taken from a local pond. Endi and BPBPLAPU has also successfully developed
probiotik bacteria that diisolasi's own tambaknya (TROBOS edition 103, April 2008). This bacteria will be able to destroy the excess (leftover)
organic pond so that the causes of quality pond.
In the meantime, the bacteria probiotik successful diisolasi from the pond they are a type of Thiobacillus and Bacillus subtillis. "His name Bacillus buntus river," said Endi joke Pests mention bacteria that diisolasi from tambaknya.
Head of Section Testing BPBPLAPU, Riswan Man says, use probiotik conducted continuously.
Pemberiannya after
1x24 minutes the culture
bacteria. For culture
Bacillus bacteria, BPBPLAPU
using the formula 1 liter
Bacillus, feed 1 kg, 1 kg sugar
and 100 liters of fresh water. Probiotik
Bacillus a role in this
absorbing matrix protein
feed. This means this will probiotik
contribute to the availability of
protein in the pond.
While for Thiobacillus, formula consisting of 1 liter Thiobacillus, nutrition 1 kg, 1 kg of sugar and 100 liters of fresh water. For the last type of a role in reducing the level H, S in the pond and for the bright color of water.
During the preparation of land (before the water filled) probiotik given more. For example BPBPLAPU the pond in the area of 1600 m2, probiotik a given reach 40 liters of culture (a mixture of formula). Meanwhile, when the shrimp have been pond, dose reduced to 15 - 20 liters for the same land.
Besides the use of probiotik, Section Head of Applications Technology Cultivation Bandeng BPBPLAPU, add adang Solihin, in the cultivation of shrimp pond mangkrakjuga will be a success by giving special treatment during drying area. Namely burning straw (or other material) on land to kill bacteria and viruses that have in the pond. This can also be used to increase the element carbon in the pond. BPBPLAPU parties in this case spent about 6 tons of straw for the pond area of 4.2 hectares. According adang, burning straw, especially applied to land that muddy pond.
source: Trobos 2008
This tool is specifically designed to kill off the virus in shrimp
Shrimp pond land in the north coast of Java Island (Pantura) quality is very bad. In addition to pollution by industrial waste dump and the household, lands in the pond there is also decreased due to the quality of the cultivation of land use often without any improvement. Bath enforce yarn wet, efforts in the cultivation of land is nearly always encounter a failure. Instead of harvest, shrimp, not able to survive more than 20 days.
But for Endi MuchtarUdin, the story of the shrimp. Shrimp farmers from the river is clogged, Pedes District, Karawang regency, West Java this successful break that can not Pantura for shrimp cultivation. Harvested three times in succession, Endi menangguk fate of shrimp farming pond in the location of the previous mangkrak (idle / pond is broken and unused).
More terrible, which developed the type of shrimp old man is part windu (Penaeus monodon), the level of difficulty higher than the cultivation vaname species (Penaeus vannamei). The secret, said Endi, using weapons ME-1 (membrane electron 1)
to fight the virus. This tool is able to kill virus-the virus causes disease in shrimp. Various viruses during this frighten the farmers, such as shrimp White Spot Syndrome Virus (WSSV), Taura Syndrome Virus (TSV), infectious Hypodermal Hemathopoetic Necrosis Virus (IHHNV), Myonecrosis infectious virus (IMNV) and Virus Nervous Necrosis (VNN) will be ditaklukkan .
Shoot virus DNA
Membrane electron is an instrument of high speed electrons that is specifically designed to reduce the amount of virus in water. This tool consists of two parts. The first part is called electron generator (box driver generator electrons) generate a working high-speed electrons. Part two is a layer plating electrode kassa that placed in the pipe paralon. Its function is to create electron-rich zone in the water. Zone generated electrons will bond with the protein on the virus through. So that the water that flows through this zone will be free of the virus.
installed base in the provision of water pipes in the pond and work when the process of water. "The principle is the damage to DNA viruses in the water that will go to the pond," said Endi. How it works, the wall power maximum 75 watts (for 1 unit of ME-1) flowed to the electrode so that the shape kassa membrane electron. Water entering the pond will be managed through a membrane with maximum debit 25 liters of water per second. If there is a virus through, then the DNA to its will ditembak by electrons up to a series of virus damaged.
According Endi, 1 ME-1 unit diameter paralon 6 - 8 inch can be used for the pond area of 5 hectares. Cost of making one unit of ME-1 ranges from Rp 10 million. Hmmmmmm life to 8 hours. or two cycles. But it will be better if every turn of the cycle do not kassa a more cost Rp 500 ribu. This will make the work of ME-1 maximum.
Endi confess, does not alone make itself ME-1, but together with the Central Marine Fisheries Development Cultivation. And brackish water shrimp (BPBPLAPU) Karawang. This is in place. Endi ordinary search of the problem that faces in the cultivation of shrimp.
Sunendar Dede, Head BPBPLAPU states, electrons proven membrane technology capable of tackling the virus. "In place of the stock we have already detected a positive WSSV infected.'s Been with the provision membrane electron and then the water out of the stock to be virus-free," said Dede.
According to him, pond-pond in the area during this BPBPLAPU stated can not be planted more shrimp. However, with the ME-1, now pond-pond may be in the back with satisfactory results. BPBPLAPU using the ME-1 in two different places. In the land-intensive pond system vaname of 4.2 hectares, solid tebar reached 360 thousand, the harvest reached 3.2 tons. While the land area of 2.4 hectares, 75 thousand tebar compact,
system between poly vaname shrimp and seaweed (Gracilaria), 8.2 kuintal can harvest shrimp.
Endi and intend BPBPLAPU parties will continue to refine this ME-1. For example, said Endi, complete with the ME-1 speed, so the frequency of more optimal results.
Bacillus Buntus River
However, Balk Endi and Dede
remind, the success of shrimp farming and windu vaname in pond
mangkrak not only because of ME-1, but should also apply
probiotik system bakterinya taken from a local pond. Endi and BPBPLAPU has also successfully developed
probiotik bacteria that diisolasi's own tambaknya (TROBOS edition 103, April 2008). This bacteria will be able to destroy the excess (leftover)
organic pond so that the causes of quality pond.
In the meantime, the bacteria probiotik successful diisolasi from the pond they are a type of Thiobacillus and Bacillus subtillis. "His name Bacillus buntus river," said Endi joke Pests mention bacteria that diisolasi from tambaknya.
Head of Section Testing BPBPLAPU, Riswan Man says, use probiotik conducted continuously.
Pemberiannya after
1x24 minutes the culture
bacteria. For culture
Bacillus bacteria, BPBPLAPU
using the formula 1 liter
Bacillus, feed 1 kg, 1 kg sugar
and 100 liters of fresh water. Probiotik
Bacillus a role in this
absorbing matrix protein
feed. This means this will probiotik
contribute to the availability of
protein in the pond.
While for Thiobacillus, formula consisting of 1 liter Thiobacillus, nutrition 1 kg, 1 kg of sugar and 100 liters of fresh water. For the last type of a role in reducing the level H, S in the pond and for the bright color of water.
During the preparation of land (before the water filled) probiotik given more. For example BPBPLAPU the pond in the area of 1600 m2, probiotik a given reach 40 liters of culture (a mixture of formula). Meanwhile, when the shrimp have been pond, dose reduced to 15 - 20 liters for the same land.
Besides the use of probiotik, Section Head of Applications Technology Cultivation Bandeng BPBPLAPU, add adang Solihin, in the cultivation of shrimp pond mangkrakjuga will be a success by giving special treatment during drying area. Namely burning straw (or other material) on land to kill bacteria and viruses that have in the pond. This can also be used to increase the element carbon in the pond. BPBPLAPU parties in this case spent about 6 tons of straw for the pond area of 4.2 hectares. According adang, burning straw, especially applied to land that muddy pond.
source: Trobos 2008
Rabu, 04 Maret 2009
Sukses Budidaya Vanamei
Sukses Budidaya Vanamei ala Yaskun
SR-nya mencapai 105%
askun sumringah menyambut panennya. Dengan luasan tambak 6.600 m2, penebaran 400 ribu ekor. plus tambahan 10% sehingga total 440 ribu, kematian udang di tambak Yaskun hanya 20 ribu ekor! Udang, vanamei yang dihasilkan tambaknya memiliki tingkat kelangsungan hidup (survival rate,/SR) mencapai 105%! Karuan saja, prestasi pria 60 tahun ini mengundang decak kagum petambak lain di desanya.
Produksi total tambak Yaskun yang dipanen pada medio Agustus lalu mencapai 11,8 ton dengan ukuran 35 (35 ekor/ kg). Lebih rnenggembirakan lagi. harga penjualannya juga tinggi. Rp 62.050 per kg.
Ini hanyalah satu kisah sukses budidaya udang di Kandang Semangkon, Paciran, Lamongan. Jawa Timur. Di daerah tersebut, budidaya udang menjadi mata pencaharian utama sebagian warga. Selain Yaskun. ada Mardiono, petambak yang juga sukses meraup untung besar dari budidaya udang.
Persiapan Matang
"Kuncinya, persiapan lahan harus matang dan sterilisasi harus berani." kata Yaskun berbagi kiat sukses. Dalam hal ini. dia tidak mau ambil risiko. Karenanya, Yaskun melebihkan hitungan ketinggian air dan luas area dari hitungan yang dilakukan teknisi. Dan jika menangani tambak yang pernah terjangkit penyakit. sterilisasi bisa dua kali lipat dari hitungan sebenarnya. "Biar aman."
Cara ini juga diyakini Mardiono sangat ampuh untuk mengantisipasi penyakit. Memang akan menambah pengeluaran sedikit. Tapi kalau aman untungnya lebih besar." katanva. Disamping itu. Mardiono menekankan. SOP (Standard Operational Procedure) harus besar-besar ditaati. Yaitu meliputi sterilisasi, probiotik. benur SPF (Spesific Pathogen Free), pagar keliling serta senar penghalang burung.
Marketing Manager PT Central Proteinaprima. Nonot Tri Waluyo yang juga ada pada saat panen tersebut menyatakan hal serupa. SOP harus diterapkan sejak persiapan lahan. "Random potensialnya harus +50.- kata Nonot. Random antar tambak ini. imbuh Nonot. biasanya bervariasi. Namun setelah diisi air harus +50. sehingga diketahui jumlah kapur yang harus ditabur di lahan tambak. Lahan tambak kemudian diukur lagi.
jika kurang dikapur yang kedua. diukur lagi baru masuk air. Kalau lahan kena penyakit dianjurkan memakai kaporit untuk meminimalkan bibit-bibit penyakit. Kalau tidak, maka kepiting dan udang-udangan harus dihilangkan. Jika plankton sudah jadi, baru benur ditebar.
Tambah Kincir
Untuk memperoleh ukuran udang yang besar saat panen. Mardiono juga mempunyai cara khusus. Yaitu dengan menambah kincir. Jika kincir cukup maka akan berdampak positif bagi pertumbuhan dari produksi yang dihasilkan.
Pada awal-awal melakukan budidaya udang, size udang yang yang dihasilkan Mardiono adalah 70. Size tersebut kemudian terns ditingkatkan dengan cara menambah dan memodifikasi kincir airnya. Pada siklus pertama misalnya. Mardiono mencoba tebar satu petak seluas 1,2 Ha dengan kepadatan 30 ekor/m, tebaran 350 ribu ekor, kincir angin 3 lengan (30 daun kipas). Umur 93 hari dipanen dengan size 70, hasil panen 4.3 ton.
Lalu siklus kedua kepadatan tetap tetapi ia tambahkan kincirjadi 4 lengan (40 daun kipas). "Berdasar pengalaman, kalau dulu dengan 3 lengan hasil panen 4,3 ton. ternyata dengan 4 lengan kepadatan sama. luas dan umur yang sama hasilnya meningkat jadi 5.7 ton dengan size 65," kata Mardiono.
Berikutnya siklus ke-3 kepadatan ditingkatkan lagi jadi 40 ekor/m. Modifikasi mesin penggerak dilakukan. Satu mesin dengan dua lengan (20 daun kipas). Ada 4 mesin penggerak sehingga terbentuk 80 daun kipas. Hasil yang didapat cukup membanggakan, 10 ton dengan size 45. Siklus ke-5 tambak satu lengan jadi 90 daun dengan kepadatan 50 ekor/m hasil panen 13,5 ton dengan size 37 dan SR 85-90%. Hingga pada panen kali ini. udang Mardiono berhasil mencapai size 34 dan 36.
Dalam hal pengaturan kincir. Mardiono menjalankan seluruh kincirnya ketika malam hari. "Kincir kalau malam jalan semua. kalau siang kita rolling minimal 2 set. Daripada kekurangan oksigen saat molting masal lebih baik kincir dilebihkan." Sementara kalau siang, keberadaan sinar matahari cukup membantu pasokan oksigen. Setelah umur di atas 100 hari dilakukan pengecekan oksigen seminggu sekali. Ini untuk mengantisipasi molting massal karena size bestir dan kepadatan
tinggi.
Dalam pemberian pakan. Mardiono mengikuti standar baku dari inti yang diikutinya selama 1 bulan. Konsumsi pakan disesuaikan dengan benur yang ditebar. Target pertumbuhan Mardiono pada umur 60 hari adalah size maksimal 100. lebih rendah dibanding standar baku 120-125. Setelah tahu cepat atau lambatnya pertumbuhan, pakan disesuaikan dengan kondisi lapangan.
"Jika pada umur itu size di atas standar berarti dimungkinkan benur lebih. Kita ambil sikap menambah pakan," jelas Mardiono panjang lebar.
Menurut Nonot, tindakan ini diambil agar pakan tidak berlebih. Jika berlebih, risikonya FCR akan tinggi, keuntungan berkurang, disamping itu tambakiadi tercemar bahan racun. "SOP yang gagal harus dievaluasi," kata Nonot. Dia menambahkan, masa-masa genting adalah ketika umur di bawah satu bulan. Karena
itu persiapan maksimal, harus ditekankan dari awal.
Penvakit
Soal penanganan penyakit, Mardiono menekankan pentingnya sterilisasi. la pernah mencoba lahan yang sering gagal dalam budidaya vanamei sehingga lahan tersebut disingkiri orang. "Saya coba terapkan SOP standar. masih gagal. Akhirnya saya berpikir untuk sterilisasi 2 x lipat, akhirnya berhasil dan bisa panen 16 ton."
Menurut Nonot, petambak yang gagal rata-rata karena tidak mau menerapkan SOP. "Padahal, SOP ini hal mutlak. Selain itu bagi yang gagal juga harus berbenah dan melakukan persiapan maksimal," kata Nonot. Dengan SOP yang intensif, penyakit seperti vibrio, white spot, dan mio dapat terminimalisir. Untuk persiapan antara lain dengan memakai pagar pembatas dan senar penghalau burung.
Di Kandang Semangkon, pagar pembatas menggunakan plastik/terpal yang ditanam sekitar 50 cm dan 1-1.5 meter di atas tanah. Senar penghalau burung idealnya menurut Nonot berjarak 40-60 cm. Di Kandang Semangkon, penghalau burung ini dimodifikasi dengan dengan kertas/plastik yang mirip layang-layang, sehingga jarak antar senar lebih lebar. Kedua hat ini difungsikan untuk mencegah terjadinya penularan penyakit dari tambak lain. "Alat ini fungsinya untuk mencegah hewan liar masuk ke tambak. Seperti kepiting dan burung yang makan udang dari tambak yang terkena penyakit lalu jatuh ke tambak yang sehat," kata Nonot.
Hal penting lainnya adalah pengecekan air dan warna air. Pada musim kemarau air diupayakan mendekati warna hijau kecoklatan sedang untuk musim hujan warna air harus coklat kehijauan. "Pada musim kemarau air cenderung ke arah kecoklatan, untuk mempertahankannya saya menggunakan bahan aktif yang bisa menyeimbangkan nitrogen/nitrifikasi bakteri. Sedang pada musim hujan biasanya menggunakan fotosintesa bakteri seperti rodococcus, rodobacter. Pencegahan penyakit vibrio menggunakan Bacillus substillis."
Selain itu para petambakjuga menerapkan penggunaan probiotik, vitamin C dan multivitamin dalam budidayanya. "Probiotik memberikan dampak positif bagi pertumbuhan dan hasil panen juga lebih tinggi. Kami juga tidak khawatir soal pagar," tandas Mardiono.*
sumber : Trobos september 2008
SR-nya mencapai 105%
askun sumringah menyambut panennya. Dengan luasan tambak 6.600 m2, penebaran 400 ribu ekor. plus tambahan 10% sehingga total 440 ribu, kematian udang di tambak Yaskun hanya 20 ribu ekor! Udang, vanamei yang dihasilkan tambaknya memiliki tingkat kelangsungan hidup (survival rate,/SR) mencapai 105%! Karuan saja, prestasi pria 60 tahun ini mengundang decak kagum petambak lain di desanya.
Produksi total tambak Yaskun yang dipanen pada medio Agustus lalu mencapai 11,8 ton dengan ukuran 35 (35 ekor/ kg). Lebih rnenggembirakan lagi. harga penjualannya juga tinggi. Rp 62.050 per kg.
Ini hanyalah satu kisah sukses budidaya udang di Kandang Semangkon, Paciran, Lamongan. Jawa Timur. Di daerah tersebut, budidaya udang menjadi mata pencaharian utama sebagian warga. Selain Yaskun. ada Mardiono, petambak yang juga sukses meraup untung besar dari budidaya udang.
Persiapan Matang
"Kuncinya, persiapan lahan harus matang dan sterilisasi harus berani." kata Yaskun berbagi kiat sukses. Dalam hal ini. dia tidak mau ambil risiko. Karenanya, Yaskun melebihkan hitungan ketinggian air dan luas area dari hitungan yang dilakukan teknisi. Dan jika menangani tambak yang pernah terjangkit penyakit. sterilisasi bisa dua kali lipat dari hitungan sebenarnya. "Biar aman."
Cara ini juga diyakini Mardiono sangat ampuh untuk mengantisipasi penyakit. Memang akan menambah pengeluaran sedikit. Tapi kalau aman untungnya lebih besar." katanva. Disamping itu. Mardiono menekankan. SOP (Standard Operational Procedure) harus besar-besar ditaati. Yaitu meliputi sterilisasi, probiotik. benur SPF (Spesific Pathogen Free), pagar keliling serta senar penghalang burung.
Marketing Manager PT Central Proteinaprima. Nonot Tri Waluyo yang juga ada pada saat panen tersebut menyatakan hal serupa. SOP harus diterapkan sejak persiapan lahan. "Random potensialnya harus +50.- kata Nonot. Random antar tambak ini. imbuh Nonot. biasanya bervariasi. Namun setelah diisi air harus +50. sehingga diketahui jumlah kapur yang harus ditabur di lahan tambak. Lahan tambak kemudian diukur lagi.
jika kurang dikapur yang kedua. diukur lagi baru masuk air. Kalau lahan kena penyakit dianjurkan memakai kaporit untuk meminimalkan bibit-bibit penyakit. Kalau tidak, maka kepiting dan udang-udangan harus dihilangkan. Jika plankton sudah jadi, baru benur ditebar.
Tambah Kincir
Untuk memperoleh ukuran udang yang besar saat panen. Mardiono juga mempunyai cara khusus. Yaitu dengan menambah kincir. Jika kincir cukup maka akan berdampak positif bagi pertumbuhan dari produksi yang dihasilkan.
Pada awal-awal melakukan budidaya udang, size udang yang yang dihasilkan Mardiono adalah 70. Size tersebut kemudian terns ditingkatkan dengan cara menambah dan memodifikasi kincir airnya. Pada siklus pertama misalnya. Mardiono mencoba tebar satu petak seluas 1,2 Ha dengan kepadatan 30 ekor/m, tebaran 350 ribu ekor, kincir angin 3 lengan (30 daun kipas). Umur 93 hari dipanen dengan size 70, hasil panen 4.3 ton.
Lalu siklus kedua kepadatan tetap tetapi ia tambahkan kincirjadi 4 lengan (40 daun kipas). "Berdasar pengalaman, kalau dulu dengan 3 lengan hasil panen 4,3 ton. ternyata dengan 4 lengan kepadatan sama. luas dan umur yang sama hasilnya meningkat jadi 5.7 ton dengan size 65," kata Mardiono.
Berikutnya siklus ke-3 kepadatan ditingkatkan lagi jadi 40 ekor/m. Modifikasi mesin penggerak dilakukan. Satu mesin dengan dua lengan (20 daun kipas). Ada 4 mesin penggerak sehingga terbentuk 80 daun kipas. Hasil yang didapat cukup membanggakan, 10 ton dengan size 45. Siklus ke-5 tambak satu lengan jadi 90 daun dengan kepadatan 50 ekor/m hasil panen 13,5 ton dengan size 37 dan SR 85-90%. Hingga pada panen kali ini. udang Mardiono berhasil mencapai size 34 dan 36.
Dalam hal pengaturan kincir. Mardiono menjalankan seluruh kincirnya ketika malam hari. "Kincir kalau malam jalan semua. kalau siang kita rolling minimal 2 set. Daripada kekurangan oksigen saat molting masal lebih baik kincir dilebihkan." Sementara kalau siang, keberadaan sinar matahari cukup membantu pasokan oksigen. Setelah umur di atas 100 hari dilakukan pengecekan oksigen seminggu sekali. Ini untuk mengantisipasi molting massal karena size bestir dan kepadatan
tinggi.
Dalam pemberian pakan. Mardiono mengikuti standar baku dari inti yang diikutinya selama 1 bulan. Konsumsi pakan disesuaikan dengan benur yang ditebar. Target pertumbuhan Mardiono pada umur 60 hari adalah size maksimal 100. lebih rendah dibanding standar baku 120-125. Setelah tahu cepat atau lambatnya pertumbuhan, pakan disesuaikan dengan kondisi lapangan.
"Jika pada umur itu size di atas standar berarti dimungkinkan benur lebih. Kita ambil sikap menambah pakan," jelas Mardiono panjang lebar.
Menurut Nonot, tindakan ini diambil agar pakan tidak berlebih. Jika berlebih, risikonya FCR akan tinggi, keuntungan berkurang, disamping itu tambakiadi tercemar bahan racun. "SOP yang gagal harus dievaluasi," kata Nonot. Dia menambahkan, masa-masa genting adalah ketika umur di bawah satu bulan. Karena
itu persiapan maksimal, harus ditekankan dari awal.
Penvakit
Soal penanganan penyakit, Mardiono menekankan pentingnya sterilisasi. la pernah mencoba lahan yang sering gagal dalam budidaya vanamei sehingga lahan tersebut disingkiri orang. "Saya coba terapkan SOP standar. masih gagal. Akhirnya saya berpikir untuk sterilisasi 2 x lipat, akhirnya berhasil dan bisa panen 16 ton."
Menurut Nonot, petambak yang gagal rata-rata karena tidak mau menerapkan SOP. "Padahal, SOP ini hal mutlak. Selain itu bagi yang gagal juga harus berbenah dan melakukan persiapan maksimal," kata Nonot. Dengan SOP yang intensif, penyakit seperti vibrio, white spot, dan mio dapat terminimalisir. Untuk persiapan antara lain dengan memakai pagar pembatas dan senar penghalau burung.
Di Kandang Semangkon, pagar pembatas menggunakan plastik/terpal yang ditanam sekitar 50 cm dan 1-1.5 meter di atas tanah. Senar penghalau burung idealnya menurut Nonot berjarak 40-60 cm. Di Kandang Semangkon, penghalau burung ini dimodifikasi dengan dengan kertas/plastik yang mirip layang-layang, sehingga jarak antar senar lebih lebar. Kedua hat ini difungsikan untuk mencegah terjadinya penularan penyakit dari tambak lain. "Alat ini fungsinya untuk mencegah hewan liar masuk ke tambak. Seperti kepiting dan burung yang makan udang dari tambak yang terkena penyakit lalu jatuh ke tambak yang sehat," kata Nonot.
Hal penting lainnya adalah pengecekan air dan warna air. Pada musim kemarau air diupayakan mendekati warna hijau kecoklatan sedang untuk musim hujan warna air harus coklat kehijauan. "Pada musim kemarau air cenderung ke arah kecoklatan, untuk mempertahankannya saya menggunakan bahan aktif yang bisa menyeimbangkan nitrogen/nitrifikasi bakteri. Sedang pada musim hujan biasanya menggunakan fotosintesa bakteri seperti rodococcus, rodobacter. Pencegahan penyakit vibrio menggunakan Bacillus substillis."
Selain itu para petambakjuga menerapkan penggunaan probiotik, vitamin C dan multivitamin dalam budidayanya. "Probiotik memberikan dampak positif bagi pertumbuhan dan hasil panen juga lebih tinggi. Kami juga tidak khawatir soal pagar," tandas Mardiono.*
sumber : Trobos september 2008
Selasa, 03 Maret 2009
Ikan karper
Di Indonesia, ikan karper memiliki beberapa nama sebutan yakni ikan mas, kancra, tikeu, tombro, raja, rayo, ameh atau nama lain sesuai dengan daerah penyebarannya.
Ahli perikanan Dr. A.L Buschkiel dalam RO. Ardiwinata (1981) menggolongkan jenis ikan karper menjadi dua golongan, yakni pertama, jenis-jenis karper yang bersisik normal dan kedua, jenis kumpai yang memiliki ukuran sisrip memanjang.
Golongan pertama yakni yang bersisik normal dikelompokkan lagi menjadi dua yakni pertama kelompok ikan karper yang bersisik biasa dan kedua, bersisik kecil.
Sedangkan Djoko Suseno (2000) mengemukakan, berdasarkan fungsinya, ras-ras ikan karper yang ada di Indonesia dapat digolongkan menjadi dua kelompok. Kelompok pertama merupakan ras-ras ikan konsumsi dan kelompok kedua adalah ras-ras ikan hias.
Ikan karper sebagai ikan konsumsi dibagi menjadi dua kelompok yakni ras ikan karper bersisik penuh dan ras ikan karper bersisik sedikit. Kelompok ras ikan karper yang bersisik penuh adalah ras-ras ikan karper yang memiliki sisik normal, tersusun teratur dan menyelimuti seluruh tubuh. Ras ikan karper yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah ikan karper majalaya, ikan karper punten, ikan karper si nyonya dan ikan karper merah atau mas. Sedangkan yang tergolong dalam ras karper bersisik sedikit adalah ikan karper kaca yang oleh petani di Tabanan biasa disebut dengan nama karper gajah. Untuk kelompok ras ikan karper hias, beberapa di antaranya adalah karper kumpay, kaca, mas merah dan koi.
Secara morfologis, ikan karper mempunyai bentuk tubuh agak memanjang dan memipih tegak. Mulut terletak di ujung tengah dan dapat disembulkan. Bagian anterior mulut terdapat dua pasang sungut berukuran pendek. Secara umum, hampir seluruh tubuh ikan karper ditutupi sisik dan hanya sebagian kecil saja yang tubuhnya tidak ditutupi sisik. Sisik ikan karper berukuran relatif besar dan digolongkan dalam tipe sisik sikloid berwarna hijau, biru, merah, kuning keemasan atau kombinasi dari warna-warna tersebut sesuai dengan rasnya.
sumber : http://id.wikipedia.org
Ahli perikanan Dr. A.L Buschkiel dalam RO. Ardiwinata (1981) menggolongkan jenis ikan karper menjadi dua golongan, yakni pertama, jenis-jenis karper yang bersisik normal dan kedua, jenis kumpai yang memiliki ukuran sisrip memanjang.
Golongan pertama yakni yang bersisik normal dikelompokkan lagi menjadi dua yakni pertama kelompok ikan karper yang bersisik biasa dan kedua, bersisik kecil.
Sedangkan Djoko Suseno (2000) mengemukakan, berdasarkan fungsinya, ras-ras ikan karper yang ada di Indonesia dapat digolongkan menjadi dua kelompok. Kelompok pertama merupakan ras-ras ikan konsumsi dan kelompok kedua adalah ras-ras ikan hias.
Ikan karper sebagai ikan konsumsi dibagi menjadi dua kelompok yakni ras ikan karper bersisik penuh dan ras ikan karper bersisik sedikit. Kelompok ras ikan karper yang bersisik penuh adalah ras-ras ikan karper yang memiliki sisik normal, tersusun teratur dan menyelimuti seluruh tubuh. Ras ikan karper yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah ikan karper majalaya, ikan karper punten, ikan karper si nyonya dan ikan karper merah atau mas. Sedangkan yang tergolong dalam ras karper bersisik sedikit adalah ikan karper kaca yang oleh petani di Tabanan biasa disebut dengan nama karper gajah. Untuk kelompok ras ikan karper hias, beberapa di antaranya adalah karper kumpay, kaca, mas merah dan koi.
Secara morfologis, ikan karper mempunyai bentuk tubuh agak memanjang dan memipih tegak. Mulut terletak di ujung tengah dan dapat disembulkan. Bagian anterior mulut terdapat dua pasang sungut berukuran pendek. Secara umum, hampir seluruh tubuh ikan karper ditutupi sisik dan hanya sebagian kecil saja yang tubuhnya tidak ditutupi sisik. Sisik ikan karper berukuran relatif besar dan digolongkan dalam tipe sisik sikloid berwarna hijau, biru, merah, kuning keemasan atau kombinasi dari warna-warna tersebut sesuai dengan rasnya.
sumber : http://id.wikipedia.org
membran elektron Senjata Taklukkan Virus Udang
membran elektron Senjata Taklukkan Virus Udang
Alat ini dirancang khusus untuk melumpuhkan virus mematikan pada udang
Lahan tambak udang di pantai utara Pulau Jawa (pantura) kualitasnya sangat buruk. Selain tercemar oleh timbunan limbah industri dan rumah tangga, lahan-lahan tambak di sana juga mengalami penurunan kualitas akibat seringnya penggunaan lahan budidaya tanpa ada perbaikan. Bak menegakkan benang basah, upaya budidaya di lahan tersebut nyaris selalu menjumpai kegagalan. Alih-alih panen, udang tak sanggup bertahan lebih dari 20 hari.
Tapi bagi Endi MuchtarUdin, itu cerita udang. Petambak udang dari Sungai Buntu, Kecamatan Pedes, Kabupaten Karawang, Jawa Barat ini berhasil mematahkan anggapan bahwa pantura tak bisa untuk budidaya udang. Tiga kali panen berturut-turut, Endi menangguk untung besar budidaya udang di lokasi tambak yang sebelumnya mangkrak (idle/tambak rusak dan tak terpakai).
Hebatnya lagi, jenis udang yang dibudidayakan lelaki paruh baya tersebut adalah windu (Penaeus monodon), yang tingkat kesulitan budidaya lebih tinggi dibandingkan jenis vaname (Penaeus vannamei). Rahasianya, kata Endi, menggunakan senjata ME-1 (membran elektron 1)
untuk melawan virus. Alat ini mampu melumpuhkan virus-virus penyebab penyakit pada udang. Beragam virus yang selama ini menghantui para petambak udang seperti White Spot Syndrome Virus (WSSV), Taura Syndrome Virus (TSV), Infectious Hypodermal Hemathopoetic Necrosis Virus (IHHNV), Infectious Myonecrosis Virus (IMNV) dan Virus Nervous Necrosis (VNN) akan bisa ditaklukkan.
Tembak DNA Virus
Membran elektron adalah suatu instrumen pembangkit elektron kecepatan tinggi yang dirancang khusus untuk mengurangi jumlah virus dalam air. Alat ini terdiri atas dua bagian. Bagian pertama disebut generator elektron (box driver generator electrons) yang berfungsi membangkitkan elektron berkecepatan tinggi. Bagian dua adalah elektroda kassa berlapis plating yang dilekatkan bagian dalam pipa paralon. Fungsinya membuat zona kaya elektron dalam air. Zona elektron yang dihasilkan tersebut akan mengganggu ikatan protein pada virus yang melewatinya. Sehingga air yang mengalir melalui zona ini akan bebas virus.
Alas dipasang pada pipa tandon air di tambak dan bekerja ketika proses pengisian air. "Prinsipnya adalah merusak DNA virus di dalam air yang akan masuk ke tambak," papar Endi. Cara kerjanya, listrik berdaya maksimum 75 watt (untuk 1 unit ME-1) dialirkan ke elektroda kassa sehingga membentuk membran elektron. Air yang akan masuk tambak diatur melewati membran tersebut dengan debit air maksimum 25 liter per detik. Jika ada virus yang lewat, maka DNA-nya akan tertembak oleh elektron hingga rangkaiannya rusak.
Menurut Endi, 1 unit ME-1 berdiameter paralon 6 - 8 inchi bisa digunakan untuk tambak seluas 5 hektar. Biaya pembuatan satu unit ME-1 berkisar Rp 10 juta. Masa pakai kasa sampai 8 bulan. atau dua kali siklus. Tapi akan lebih bagus apabila setiap siklus dilakukan pergantian kassa yang biayanya tak lebih Rp 500 ribu. Cara ini akan membuat hasil kerja ME-1 maksimal.
Endi mengaku, dirinya tidak sendirian membuat ME-1, tapi bersama-sama dengan Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Laut. Air Payau dan Udang (BPBPLAPU) Karawang. Di tempat inilah. Endi biasa mencari jawab atas permasalahan yang dihadapinya dalam budidaya udang.
Dede Sunendar, Kepala BPBPLAPU menyatakan, teknologi membran elektron terbukti mampu menanggulangi virus. "Di tempat kami ada tandon yang sudah terdeteksi positif terkena WSSV. Tandon tersebut dipasangi dengan membran elektron dan setelah itu air yang keluar dari tandon menjadi bebas virus," kata Dede.
Menurut dia, tambak-tambak di kawasan BPBPLAPU selama ini dinyatakan tak bisa lagi ditanami udang. Namun dengan ME-1, kini tambak-tambak tersebut bisa berproduksi kembali dengan hasil yang memuaskan. BPBPLAPU menggunakan ME-1 di dua tempat berbeda. Pada lahan tambak vaname sistem intensif seluas 4,2 hektar, padat tebar mencapai 360 ribu, panen mencapai 3,2 ton. Sementara lahan seluas 2,4 hektar, padat tebar 75 ribu,
sistem polikultur antara udang vaname dan rumput laut (Gracilaria), bisa panen 8,2 kuintal udang.
Endi dan pihak BPBPLAPU berniat akan terus menyempurnakan ME-1 ini. Misalnya, kata Endi, melengkapi ME-1 dengan kecepatan frekuensi sehingga hasilnya lebih optimal.
Bacillus Sungai Buntus
Namun, balk Endi dan Dede
mengingatkan, keberhasilan budidaya udang windu maupun vaname di tambak
mangkrak bukan semata karena adanya ME-1, melainkan juga harus menerapkan
sistem probiotik yang bakterinya diambil dari tambak setempat. Endi dan BPBPLAPU juga telah berhasil mengembangkan
bakteri probiotik yang diisolasi dari tambaknya sendiri (TROBOS edisi 103, April 2008). Bakteri ini akan bisa menghancurkan kelebihan (sisa-sisa)
bahan organik tambak yang jadi penyebab penurunan kualitas tambak.
Untuk sementara, bakteri probiotik yang berhasil diisolasi dari tambak mereka adalah jenis Bacillus dan Thiobacillus subtillis. "Namanya Bacillus sungai buntus," kata Endi berseloroh menyebut Hama bakteri yang diisolasi dari tambaknya.
Kepala Seksi Pengujian BPBPLAPU, Man Riswan menyebutkan, penggunaan probiotik dilakukan secara terus menerus.
Pemberiannya dilakukan setelah
1x24 jam proses pengkulturan
bakteri. Untuk pengkulturan
bakteri Bacillus, BPBPLAPU
menggunakan formula 1 liter
Bacillus, 1 kg pakan, 1 kg gula
dan 100 liter air tawar. Probiotik
Bacillus ini berperan dalam
menyerap kandungan protein
pakan. Artinya probiotik ini akan
berkontribusi dalam ketersediaan
protein dalam tambak.
Sementarauntuk Thiobacillus, formulanya terdiri atas 1 liter Thiobacillus, 1 kg nutrisi, 1 kg gula dan 100 liter air tawar. Untuk yang jenis terakhir berperan dalam mengurangi kadar H,S dalam tambak dan untuk mencerahkan warna air.
Saat persiapan lahan (sebelum diisi air) probiotik yang diberikan lebih banyak. Misalnya pada tambak di BPBPLAPU seluas 1600 m2, probiotik yang diberikan mencapai 40 liter hasil kultur (campuran formula). Sedangkan ketika udang sudah masuk tambak, dosis dikurangi menjadi 15 - 20 liter untuk lahan yang sama.
Disamping penggunaan probiotik, Kepala Seksi Aplikasi Teknologi Budidaya Bandeng BPBPLAPU, Adang Solihin menambahkan, budidaya udang di tambak mangkrakjuga akan sukses dengan memberikan perlakuan khusus saat pengeringan lahan. Yaitu membakar jerami (atau bahan lain) di atas lahan untuk mematikan bakteri dan virus yang ada di tambak tersebut. Cara ini juga bisa digunakan untuk menambah unsur karbon dalam tambak. Pihak BPBPLAPU dalam hal ini menghabiskan sekitar 6 ton jerami untuk tambak seluas 4,2 hektar. Menurut Adang, pembakaran jerami terutama diterapkan untuk lahan tambak yang berlumpur.
sumber : Trobos 2008
Alat ini dirancang khusus untuk melumpuhkan virus mematikan pada udang
Lahan tambak udang di pantai utara Pulau Jawa (pantura) kualitasnya sangat buruk. Selain tercemar oleh timbunan limbah industri dan rumah tangga, lahan-lahan tambak di sana juga mengalami penurunan kualitas akibat seringnya penggunaan lahan budidaya tanpa ada perbaikan. Bak menegakkan benang basah, upaya budidaya di lahan tersebut nyaris selalu menjumpai kegagalan. Alih-alih panen, udang tak sanggup bertahan lebih dari 20 hari.
Tapi bagi Endi MuchtarUdin, itu cerita udang. Petambak udang dari Sungai Buntu, Kecamatan Pedes, Kabupaten Karawang, Jawa Barat ini berhasil mematahkan anggapan bahwa pantura tak bisa untuk budidaya udang. Tiga kali panen berturut-turut, Endi menangguk untung besar budidaya udang di lokasi tambak yang sebelumnya mangkrak (idle/tambak rusak dan tak terpakai).
Hebatnya lagi, jenis udang yang dibudidayakan lelaki paruh baya tersebut adalah windu (Penaeus monodon), yang tingkat kesulitan budidaya lebih tinggi dibandingkan jenis vaname (Penaeus vannamei). Rahasianya, kata Endi, menggunakan senjata ME-1 (membran elektron 1)
untuk melawan virus. Alat ini mampu melumpuhkan virus-virus penyebab penyakit pada udang. Beragam virus yang selama ini menghantui para petambak udang seperti White Spot Syndrome Virus (WSSV), Taura Syndrome Virus (TSV), Infectious Hypodermal Hemathopoetic Necrosis Virus (IHHNV), Infectious Myonecrosis Virus (IMNV) dan Virus Nervous Necrosis (VNN) akan bisa ditaklukkan.
Tembak DNA Virus
Membran elektron adalah suatu instrumen pembangkit elektron kecepatan tinggi yang dirancang khusus untuk mengurangi jumlah virus dalam air. Alat ini terdiri atas dua bagian. Bagian pertama disebut generator elektron (box driver generator electrons) yang berfungsi membangkitkan elektron berkecepatan tinggi. Bagian dua adalah elektroda kassa berlapis plating yang dilekatkan bagian dalam pipa paralon. Fungsinya membuat zona kaya elektron dalam air. Zona elektron yang dihasilkan tersebut akan mengganggu ikatan protein pada virus yang melewatinya. Sehingga air yang mengalir melalui zona ini akan bebas virus.
Alas dipasang pada pipa tandon air di tambak dan bekerja ketika proses pengisian air. "Prinsipnya adalah merusak DNA virus di dalam air yang akan masuk ke tambak," papar Endi. Cara kerjanya, listrik berdaya maksimum 75 watt (untuk 1 unit ME-1) dialirkan ke elektroda kassa sehingga membentuk membran elektron. Air yang akan masuk tambak diatur melewati membran tersebut dengan debit air maksimum 25 liter per detik. Jika ada virus yang lewat, maka DNA-nya akan tertembak oleh elektron hingga rangkaiannya rusak.
Menurut Endi, 1 unit ME-1 berdiameter paralon 6 - 8 inchi bisa digunakan untuk tambak seluas 5 hektar. Biaya pembuatan satu unit ME-1 berkisar Rp 10 juta. Masa pakai kasa sampai 8 bulan. atau dua kali siklus. Tapi akan lebih bagus apabila setiap siklus dilakukan pergantian kassa yang biayanya tak lebih Rp 500 ribu. Cara ini akan membuat hasil kerja ME-1 maksimal.
Endi mengaku, dirinya tidak sendirian membuat ME-1, tapi bersama-sama dengan Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Laut. Air Payau dan Udang (BPBPLAPU) Karawang. Di tempat inilah. Endi biasa mencari jawab atas permasalahan yang dihadapinya dalam budidaya udang.
Dede Sunendar, Kepala BPBPLAPU menyatakan, teknologi membran elektron terbukti mampu menanggulangi virus. "Di tempat kami ada tandon yang sudah terdeteksi positif terkena WSSV. Tandon tersebut dipasangi dengan membran elektron dan setelah itu air yang keluar dari tandon menjadi bebas virus," kata Dede.
Menurut dia, tambak-tambak di kawasan BPBPLAPU selama ini dinyatakan tak bisa lagi ditanami udang. Namun dengan ME-1, kini tambak-tambak tersebut bisa berproduksi kembali dengan hasil yang memuaskan. BPBPLAPU menggunakan ME-1 di dua tempat berbeda. Pada lahan tambak vaname sistem intensif seluas 4,2 hektar, padat tebar mencapai 360 ribu, panen mencapai 3,2 ton. Sementara lahan seluas 2,4 hektar, padat tebar 75 ribu,
sistem polikultur antara udang vaname dan rumput laut (Gracilaria), bisa panen 8,2 kuintal udang.
Endi dan pihak BPBPLAPU berniat akan terus menyempurnakan ME-1 ini. Misalnya, kata Endi, melengkapi ME-1 dengan kecepatan frekuensi sehingga hasilnya lebih optimal.
Bacillus Sungai Buntus
Namun, balk Endi dan Dede
mengingatkan, keberhasilan budidaya udang windu maupun vaname di tambak
mangkrak bukan semata karena adanya ME-1, melainkan juga harus menerapkan
sistem probiotik yang bakterinya diambil dari tambak setempat. Endi dan BPBPLAPU juga telah berhasil mengembangkan
bakteri probiotik yang diisolasi dari tambaknya sendiri (TROBOS edisi 103, April 2008). Bakteri ini akan bisa menghancurkan kelebihan (sisa-sisa)
bahan organik tambak yang jadi penyebab penurunan kualitas tambak.
Untuk sementara, bakteri probiotik yang berhasil diisolasi dari tambak mereka adalah jenis Bacillus dan Thiobacillus subtillis. "Namanya Bacillus sungai buntus," kata Endi berseloroh menyebut Hama bakteri yang diisolasi dari tambaknya.
Kepala Seksi Pengujian BPBPLAPU, Man Riswan menyebutkan, penggunaan probiotik dilakukan secara terus menerus.
Pemberiannya dilakukan setelah
1x24 jam proses pengkulturan
bakteri. Untuk pengkulturan
bakteri Bacillus, BPBPLAPU
menggunakan formula 1 liter
Bacillus, 1 kg pakan, 1 kg gula
dan 100 liter air tawar. Probiotik
Bacillus ini berperan dalam
menyerap kandungan protein
pakan. Artinya probiotik ini akan
berkontribusi dalam ketersediaan
protein dalam tambak.
Sementarauntuk Thiobacillus, formulanya terdiri atas 1 liter Thiobacillus, 1 kg nutrisi, 1 kg gula dan 100 liter air tawar. Untuk yang jenis terakhir berperan dalam mengurangi kadar H,S dalam tambak dan untuk mencerahkan warna air.
Saat persiapan lahan (sebelum diisi air) probiotik yang diberikan lebih banyak. Misalnya pada tambak di BPBPLAPU seluas 1600 m2, probiotik yang diberikan mencapai 40 liter hasil kultur (campuran formula). Sedangkan ketika udang sudah masuk tambak, dosis dikurangi menjadi 15 - 20 liter untuk lahan yang sama.
Disamping penggunaan probiotik, Kepala Seksi Aplikasi Teknologi Budidaya Bandeng BPBPLAPU, Adang Solihin menambahkan, budidaya udang di tambak mangkrakjuga akan sukses dengan memberikan perlakuan khusus saat pengeringan lahan. Yaitu membakar jerami (atau bahan lain) di atas lahan untuk mematikan bakteri dan virus yang ada di tambak tersebut. Cara ini juga bisa digunakan untuk menambah unsur karbon dalam tambak. Pihak BPBPLAPU dalam hal ini menghabiskan sekitar 6 ton jerami untuk tambak seluas 4,2 hektar. Menurut Adang, pembakaran jerami terutama diterapkan untuk lahan tambak yang berlumpur.
sumber : Trobos 2008
Senin, 02 Maret 2009
budidaya gurame di kolam terpal
Menurut Wagiran, budidaya gurame di kolam terpal tidak memerlukan perlakuan yang jelimet (rumit). "Kuncinya hanya sifon (siftpond : menyedot kotoran dasar kolam ke luar) sebulan sekali. Selain itu cuma memberi pakan sambil mengontrol," tegasnya membuka kartu. Sifon mudah dilakukan karena kebanyakan kolam terpal berada di atas tanah, seperti bak-bak air.
Cara menyifon pun sangat mudah.
Selang air diameter 1/2 inci disiapkan, salah satu ujungnya diletakkan di tempat yang lebih rendah daripada dasar kolam (kalau memungkinkan pada saluran air) dan Ujung yang lain dicelupkan ke kolam. Kemudian ujung yang di luar kolam kemudian disedot hingga air kolam mengalir.
Setelah air mengalir, ujung selang yang di dalam kolam ditenggelamkan hingga ke dasar. Sambil ujung selang digeser/digerak-gerakkan sehingga endapan kolam tersedot keluar bersama air dasar kolam. Hal itu terus dilakukan di seluruh bagian kolam, hingga air yang keluar tidak mengandung endapan lagi.
Kalau sudah lihai, pada kolam dengan kedalaman air 90 cm, Setelah sifon air hanya berkurang 20 - 30 cm saja. Setelah itu, air kolam ditambah dengan air baru. Untuk mencegah masuknya penyakit Baru
air baru itu, kolam ditaburi garam 100 gram/ml.
Menurut Wagiran, cara ini menghilangkan kotoran dan amonia dasar kolam yang bisa mengganggu kehidupan gurame. "Selain itu, kotoran juga sarang bakteri pengganggu," tandasnya. Sehingga, meskipun gurame sudah besar, sifon harus tetap dilakukan. "Kalau kolam tanah, kotoran dan amonia relatif bisa dinetralisasi secara alami oleh tanah dan mikroorganisme didalamnya. Itu yang tidak mungkin terjadi di kolam terpal papar mantan penghuni panti rehabilitasi narkoba ini.
Menurut pengalamannya, terlambat sifon 10 hari saja, gurame sudah Wenger (lemas). Seorang temannya pernah nekat tidak menyifon kolam karena gurame akan dipanen 20 hari dari jadwal sifon. "Dua minggu kemudian tiba-tiba gurame lemas dan akhirnya tengah malam mengambang. Padahal tidak ada tanda-tanda sakit," kisahnya. Akhirnya ia terpaksa memanen gurame satu pick up tengah malam. "Dijual sebisanya, yang penting dapat menekan kerugian," kata Wagiran.
Keunggulan Kolam Terpal
Menurut Wagiran, ada beberapa keuntungan aplikasi kolam terpal pada budidaya gurame. Pertama, kolam mudah dibersihkan dan dikeringkan sehingga mata rantai penyakit bisa diputus. Kedua, panen gurame lebih mudah karena petakannya tidak luas. Ketiga, gurame tidak berbau lumpur karena kolam bebas kotoran. "Bakal (pedagang) ikan lebih suka gurarne eks terpal ini, karena disukai konsumen," tegasnya.
Untuk pembesaran, kolam terpal ukuran 4 x 8 M2 dengan kedalaman 90 cm biasa diisi 350 ekor benih size 4 ek/ kg. "Kepadatannya 10 ek/m2, lebih tinggi dari kolam tanah yang rata-rata 6 ekor /m2," sebutnya. Kepadatan kolam terpal lebih tinggi karena selalu disifon sehingga kadar amonia kolam rendah, dan terjadi sirkulasi air meski hanya sebulan sekali seusai sifon. Gurame pun menyebar baik di atas maupun di dasar kolam. Sedangkan di kolam tanah, gurame terkonsentrasi di permukaan karena di dasar kolam kadar amonia nya tinggi.
Agar Panen Cepat
Dengan kolam terpal, pembesaran pun bisa lebih cepat, dalam waktu 5 bulan gurame sudah bisa dipanen dengan ukuran 6 - 7 ons/ekor. "Sekarang bisa panen lebih cepat lagi, karena perubahan tren pasar. Konsumen sekarang lebih suka size 5 ons/ekor," ungkapnya. Walapun demikian Wagiran mengakui saat kemarau waktu panen bisa mundur sebulan akibat cuaca dingin di malam hari namun siang harinya panas. "Saat itu ±6% energi habis dipakai untuk bertahan dari fluktuasi suhu itu," ungkapnya. Menurutnya masa pemeliharaan semua jenis ikan bertambah lama saat kemarau.
Bahkan lele yang saat penghujan 60 hari panen, saat kemarau bisa molor 20 hari.
Kondisi ini bisa ditekan dengan cara meningkatkan meningkatkan kadar protein pakan. Ummnya protein pakan gurami hanya 27%, maka saat kemarau mesti membeli yang kadarnya 30%.
Hasilnya, panen hanya mundur 15 - 20 hari dengan FCR-nya maksiraal 1,4.
Jika kadar proteinnya ditingkatkan lagi, justru akan menimbulkan masalah, gurame ogah. Seleranya baru pulih Setelah beberapa hari hanya diberi daun-daunan. Selain itu, jika dipaksakan maka sisik akan lepas karena perkembangan daging yang tidak imbang dengan pertumbuhan sisik. "Setelah itu timbal koreng," kata Wagiran. Kalau di musim hujan, gurame diberi pakan berprotein 33% pun tidak timbal masalah.
Gurame memang tergolong, cengeng dengan fluktuasi suhu dan pH. Untuk menyiasatinya, Wagiran menggunakan probiotik dan molases setidaknya seminggu sekali. Probiotik dan molases diencerkan, kemudian disemprotkan ke pakan sebelum diberikan kepada gurame. Dengan cara ini ketahanan tubuhnya bisa meningkat. "Molases itu mengandung mineral yang tinggi, baik untuk merangsang imunitas. Jadi bukan hanya energinya yang bagus bagi ikan,"tegasnya.
Kolam Perlu sekam
Problem utama musim kemarau adalah fluktuasi suhu yang menyolok antara Siang-malam. Untuk mengatasinya Wagiran menaburi dasar kolam dengan
sekam setebal 10 cm di atas tanah sebelum terpal digelar. Setelah terpal digelar, bagian sisi (antara dinding dan terpal) juga diberi sekam. Menurutnya, cara ini efektif untuk stabilisasi suhu kolam. Saat musim kemarau, sekam dituangi air sehingga terjadi proses pembusukan. Proses ini menghasilkan panas, yang mampu menahan dinginnya malam "bedhidhing".
Untuk membuat kolam terpal ukuran 4 x 8 x 1 m3, diperlukan terpal ukuran 6 x 10 m2. "Itu yang ada di toko. Kalau saya bisa pesan ukuran berapapun karena punya kenalan pabrik terpal," tutur Wagiran. Sebaiknya terpal baru jangan langsung digunakan, dicuci dulu untuk menghilangkan residu kimia.
Kolam terpal ini bisa dibuat di atas tanah maupun didalam lubang. Kolam terpal tahan hingga 5 tahun. "Asal tidak usil memasukkan uthik (bilah kayu /bambu) dengan alasan apapun seperti untuk menjajaki kedalaman kolam. Terpal bisa bocor," terangnya.
Persiapan kolam
Setelah kolam terpal terpasang, diisi air setinggi 90 cm. Untuk membunuh patogen, ditaburi garam 2 ons/m3. Setelah itu, kolam dituangi pupuk organik katalis plankton (dosis sesuai merk). "Bisa diganti dengan urea 1 ons/m3," kata Wagiran. Seminggu kemudian air kolam sudah menghijau pertanda sudah tumbuh plankton, baru benih dimasukkan. •
sumber : TROBOS, 2008
Cara menyifon pun sangat mudah.
Selang air diameter 1/2 inci disiapkan, salah satu ujungnya diletakkan di tempat yang lebih rendah daripada dasar kolam (kalau memungkinkan pada saluran air) dan Ujung yang lain dicelupkan ke kolam. Kemudian ujung yang di luar kolam kemudian disedot hingga air kolam mengalir.
Setelah air mengalir, ujung selang yang di dalam kolam ditenggelamkan hingga ke dasar. Sambil ujung selang digeser/digerak-gerakkan sehingga endapan kolam tersedot keluar bersama air dasar kolam. Hal itu terus dilakukan di seluruh bagian kolam, hingga air yang keluar tidak mengandung endapan lagi.
Kalau sudah lihai, pada kolam dengan kedalaman air 90 cm, Setelah sifon air hanya berkurang 20 - 30 cm saja. Setelah itu, air kolam ditambah dengan air baru. Untuk mencegah masuknya penyakit Baru
air baru itu, kolam ditaburi garam 100 gram/ml.
Menurut Wagiran, cara ini menghilangkan kotoran dan amonia dasar kolam yang bisa mengganggu kehidupan gurame. "Selain itu, kotoran juga sarang bakteri pengganggu," tandasnya. Sehingga, meskipun gurame sudah besar, sifon harus tetap dilakukan. "Kalau kolam tanah, kotoran dan amonia relatif bisa dinetralisasi secara alami oleh tanah dan mikroorganisme didalamnya. Itu yang tidak mungkin terjadi di kolam terpal papar mantan penghuni panti rehabilitasi narkoba ini.
Menurut pengalamannya, terlambat sifon 10 hari saja, gurame sudah Wenger (lemas). Seorang temannya pernah nekat tidak menyifon kolam karena gurame akan dipanen 20 hari dari jadwal sifon. "Dua minggu kemudian tiba-tiba gurame lemas dan akhirnya tengah malam mengambang. Padahal tidak ada tanda-tanda sakit," kisahnya. Akhirnya ia terpaksa memanen gurame satu pick up tengah malam. "Dijual sebisanya, yang penting dapat menekan kerugian," kata Wagiran.
Keunggulan Kolam Terpal
Menurut Wagiran, ada beberapa keuntungan aplikasi kolam terpal pada budidaya gurame. Pertama, kolam mudah dibersihkan dan dikeringkan sehingga mata rantai penyakit bisa diputus. Kedua, panen gurame lebih mudah karena petakannya tidak luas. Ketiga, gurame tidak berbau lumpur karena kolam bebas kotoran. "Bakal (pedagang) ikan lebih suka gurarne eks terpal ini, karena disukai konsumen," tegasnya.
Untuk pembesaran, kolam terpal ukuran 4 x 8 M2 dengan kedalaman 90 cm biasa diisi 350 ekor benih size 4 ek/ kg. "Kepadatannya 10 ek/m2, lebih tinggi dari kolam tanah yang rata-rata 6 ekor /m2," sebutnya. Kepadatan kolam terpal lebih tinggi karena selalu disifon sehingga kadar amonia kolam rendah, dan terjadi sirkulasi air meski hanya sebulan sekali seusai sifon. Gurame pun menyebar baik di atas maupun di dasar kolam. Sedangkan di kolam tanah, gurame terkonsentrasi di permukaan karena di dasar kolam kadar amonia nya tinggi.
Agar Panen Cepat
Dengan kolam terpal, pembesaran pun bisa lebih cepat, dalam waktu 5 bulan gurame sudah bisa dipanen dengan ukuran 6 - 7 ons/ekor. "Sekarang bisa panen lebih cepat lagi, karena perubahan tren pasar. Konsumen sekarang lebih suka size 5 ons/ekor," ungkapnya. Walapun demikian Wagiran mengakui saat kemarau waktu panen bisa mundur sebulan akibat cuaca dingin di malam hari namun siang harinya panas. "Saat itu ±6% energi habis dipakai untuk bertahan dari fluktuasi suhu itu," ungkapnya. Menurutnya masa pemeliharaan semua jenis ikan bertambah lama saat kemarau.
Bahkan lele yang saat penghujan 60 hari panen, saat kemarau bisa molor 20 hari.
Kondisi ini bisa ditekan dengan cara meningkatkan meningkatkan kadar protein pakan. Ummnya protein pakan gurami hanya 27%, maka saat kemarau mesti membeli yang kadarnya 30%.
Hasilnya, panen hanya mundur 15 - 20 hari dengan FCR-nya maksiraal 1,4.
Jika kadar proteinnya ditingkatkan lagi, justru akan menimbulkan masalah, gurame ogah. Seleranya baru pulih Setelah beberapa hari hanya diberi daun-daunan. Selain itu, jika dipaksakan maka sisik akan lepas karena perkembangan daging yang tidak imbang dengan pertumbuhan sisik. "Setelah itu timbal koreng," kata Wagiran. Kalau di musim hujan, gurame diberi pakan berprotein 33% pun tidak timbal masalah.
Gurame memang tergolong, cengeng dengan fluktuasi suhu dan pH. Untuk menyiasatinya, Wagiran menggunakan probiotik dan molases setidaknya seminggu sekali. Probiotik dan molases diencerkan, kemudian disemprotkan ke pakan sebelum diberikan kepada gurame. Dengan cara ini ketahanan tubuhnya bisa meningkat. "Molases itu mengandung mineral yang tinggi, baik untuk merangsang imunitas. Jadi bukan hanya energinya yang bagus bagi ikan,"tegasnya.
Kolam Perlu sekam
Problem utama musim kemarau adalah fluktuasi suhu yang menyolok antara Siang-malam. Untuk mengatasinya Wagiran menaburi dasar kolam dengan
sekam setebal 10 cm di atas tanah sebelum terpal digelar. Setelah terpal digelar, bagian sisi (antara dinding dan terpal) juga diberi sekam. Menurutnya, cara ini efektif untuk stabilisasi suhu kolam. Saat musim kemarau, sekam dituangi air sehingga terjadi proses pembusukan. Proses ini menghasilkan panas, yang mampu menahan dinginnya malam "bedhidhing".
Untuk membuat kolam terpal ukuran 4 x 8 x 1 m3, diperlukan terpal ukuran 6 x 10 m2. "Itu yang ada di toko. Kalau saya bisa pesan ukuran berapapun karena punya kenalan pabrik terpal," tutur Wagiran. Sebaiknya terpal baru jangan langsung digunakan, dicuci dulu untuk menghilangkan residu kimia.
Kolam terpal ini bisa dibuat di atas tanah maupun didalam lubang. Kolam terpal tahan hingga 5 tahun. "Asal tidak usil memasukkan uthik (bilah kayu /bambu) dengan alasan apapun seperti untuk menjajaki kedalaman kolam. Terpal bisa bocor," terangnya.
Persiapan kolam
Setelah kolam terpal terpasang, diisi air setinggi 90 cm. Untuk membunuh patogen, ditaburi garam 2 ons/m3. Setelah itu, kolam dituangi pupuk organik katalis plankton (dosis sesuai merk). "Bisa diganti dengan urea 1 ons/m3," kata Wagiran. Seminggu kemudian air kolam sudah menghijau pertanda sudah tumbuh plankton, baru benih dimasukkan. •
sumber : TROBOS, 2008
Minggu, 01 Maret 2009
Teknik Budidaya ikan Nila
Tanya:
Mohon petunjuk budidaya ikan terutama nila, terima kasih.
M Pandu Kertajaga - Depok
Jawab:
Prinsip budidaya ikan secara umum sebagai berikut:
1. Kualitas tebaran. Riwayat benih nila harus jelas. Benih inbreeding (perkawinan satu keturunan) menyebabkan penurunan produktivitas karena pertumbuhan lambat dan rentan penyakit. Untuk nila, carilah benih yang sudah dijantankan semua, sebab lebih cepat tumbuh dibanding ikan betina. Benih harus sehat, lengkap anggota tubuhnya dan tidak sedang terserang penyakit. Ciri-ciri umum: benih aktif berenang, pergerakan dan nafsu makan normal, seimbang antara panjang dan berat.
2. Kualitas air. Untuk perairan tertutup (kolam) kualitas air bisa dikelola dengan baik karena fluktuasi kualitas air bisa dikendalikan. Tetapi jika perairan terbuka seperti KJA di waduk atau kolam air deras dan karamba sungai, akan sulit mengelola kualitas air.
3. Kualitas pakan. Manajemen pakan yang baik akan bisa meminimalisir pemborosan pakan. Kebutuhan pakan tergantung pola budidaya.
4. Penyakit. Bersifat oportunis, yaitu aktif saat lingkungan memburuk dan kondisi ikan melemah.
Pola budidaya ikan nila di kolam tertutup.
1. Persiapan lahan, meliputi :
- Pengeringan dan pengangkatan lumpur, untuk membuang kotoran dari budidaya sebelumnya. Waktu ideal 1-2 minggu hingga tanah retak-retak
- Pengapuran, untuk rneningkatkan pH jika tanah asam Berta untuk sterilisasi patogen. Pengapuran tidak perlu dilakukan pada tanah yang tidak asam. Dosis penggunaan kapur (Ca CO3) pada kondisi keasaman tanah 5 - 6.5 berkisar 0.2 - 0.5 kg/m2
- Pengisian air. Untuk rnengurangi predator dan varier penyakit, dipasang saringan halus di depan inlet.
- Pemupukan untuk menumbuhkan plankton hijau yang berfungsi sebagai penstabil kualitas air dan sebagai makanan alami bagi ikan nila.
Dosis yang digunakan :
organilk - kotoran ayam 0.5 kg/m2
anorganik -> Urea : TSP rasio 1:0.7 ppm
2. Penebaran benih, sesuai pola budidayanya.
a) Pola ekstensif (tradisional).
Mengandalkan pakan alami. Hanya perlu pemupukan. Kepadatan tebar antara 1-2 ekor/ m2. Hasil panen kurang lebih 1 ton/ha/periode, dengan ukuran 100-200 gr/ekor
b) Pola semiintensif
Memadukan pakan alami dan pakan tambahan. Jika menggunakan pakan komersial dibutuhkan 2-3% biomass per hari dan pemupukan secara periodik. Kepadatan antara 3-5 ekor/ M2. Pada pola ini pergantian air harus mulai dilakukan untuk memelihara kualitas air. Hasil panen kurang lebih 3-5 ton/ha/periode pemeliharaan, dengan ukuran 100-200 gr/ekor
c) Pola intensif
Mengandalkan pakan buatan. Kepadatan tebar 5-10 ekor/m2, pakan buatan 3-5% biomass per hari, intensitas pergantian air 5-10% per hari, saat ikan mulai mengkonsumsi banyak pakan. Diperlukan sejumlah kincir untuk memelihara oksigen agar kandungannya > 4 ppm. Panen 10-15 ton/ha/periode pemeliharaan, ukuran 200-300 gr/ekor
d) Pola super intensif
Menerapkan berbagai fasilitas lengkap. Kepadatan sangat tinggi, antara 100-200 ekor/m2. Didukung aerasi, filtrasi dan sumber air yang cukup untuk mengelola kualitas air. Menggunakan kolam ukuran kecil sehingga pengelolaan lebih mudah. Hasil panen 1-2 ton/100 m2 dengan berat kurang lebih 300 gr/ekor.
3. Manajemen pakan
Pemberian pakan buatan mutlak pada pola intensif. Yang paling mudah diaplikasikan adalah pakan apung (kandungan protein 28-32%) karena habisnya pakan bisa terduga dibandingkan pakan tenggelam. Agar pemberian pakan efisien :
Jenis dan ukuran cocok dengan ikan budidaya.
Aturwaktu pemberian pakan agar nutrisi terserap
sempurna.
Nila diberi makan 3-4 kali sehari
dengan interval sama
Terapkan feeding rate (persentase pemberian pakan) atau teknik kekenyangan 90%
Sesuaikan jumlah pemberian pakan dengan kondisi lingkungan. Saat suhu rendah, kurangi pemberian pakan,juga saat hujan atau mendung sebab oksigen akan lebih rendah.*sumber : TROBOS, 2008
Mohon petunjuk budidaya ikan terutama nila, terima kasih.
M Pandu Kertajaga - Depok
Jawab:
Prinsip budidaya ikan secara umum sebagai berikut:
1. Kualitas tebaran. Riwayat benih nila harus jelas. Benih inbreeding (perkawinan satu keturunan) menyebabkan penurunan produktivitas karena pertumbuhan lambat dan rentan penyakit. Untuk nila, carilah benih yang sudah dijantankan semua, sebab lebih cepat tumbuh dibanding ikan betina. Benih harus sehat, lengkap anggota tubuhnya dan tidak sedang terserang penyakit. Ciri-ciri umum: benih aktif berenang, pergerakan dan nafsu makan normal, seimbang antara panjang dan berat.
2. Kualitas air. Untuk perairan tertutup (kolam) kualitas air bisa dikelola dengan baik karena fluktuasi kualitas air bisa dikendalikan. Tetapi jika perairan terbuka seperti KJA di waduk atau kolam air deras dan karamba sungai, akan sulit mengelola kualitas air.
3. Kualitas pakan. Manajemen pakan yang baik akan bisa meminimalisir pemborosan pakan. Kebutuhan pakan tergantung pola budidaya.
4. Penyakit. Bersifat oportunis, yaitu aktif saat lingkungan memburuk dan kondisi ikan melemah.
Pola budidaya ikan nila di kolam tertutup.
1. Persiapan lahan, meliputi :
- Pengeringan dan pengangkatan lumpur, untuk membuang kotoran dari budidaya sebelumnya. Waktu ideal 1-2 minggu hingga tanah retak-retak
- Pengapuran, untuk rneningkatkan pH jika tanah asam Berta untuk sterilisasi patogen. Pengapuran tidak perlu dilakukan pada tanah yang tidak asam. Dosis penggunaan kapur (Ca CO3) pada kondisi keasaman tanah 5 - 6.5 berkisar 0.2 - 0.5 kg/m2
- Pengisian air. Untuk rnengurangi predator dan varier penyakit, dipasang saringan halus di depan inlet.
- Pemupukan untuk menumbuhkan plankton hijau yang berfungsi sebagai penstabil kualitas air dan sebagai makanan alami bagi ikan nila.
Dosis yang digunakan :
organilk - kotoran ayam 0.5 kg/m2
anorganik -> Urea : TSP rasio 1:0.7 ppm
2. Penebaran benih, sesuai pola budidayanya.
a) Pola ekstensif (tradisional).
Mengandalkan pakan alami. Hanya perlu pemupukan. Kepadatan tebar antara 1-2 ekor/ m2. Hasil panen kurang lebih 1 ton/ha/periode, dengan ukuran 100-200 gr/ekor
b) Pola semiintensif
Memadukan pakan alami dan pakan tambahan. Jika menggunakan pakan komersial dibutuhkan 2-3% biomass per hari dan pemupukan secara periodik. Kepadatan antara 3-5 ekor/ M2. Pada pola ini pergantian air harus mulai dilakukan untuk memelihara kualitas air. Hasil panen kurang lebih 3-5 ton/ha/periode pemeliharaan, dengan ukuran 100-200 gr/ekor
c) Pola intensif
Mengandalkan pakan buatan. Kepadatan tebar 5-10 ekor/m2, pakan buatan 3-5% biomass per hari, intensitas pergantian air 5-10% per hari, saat ikan mulai mengkonsumsi banyak pakan. Diperlukan sejumlah kincir untuk memelihara oksigen agar kandungannya > 4 ppm. Panen 10-15 ton/ha/periode pemeliharaan, ukuran 200-300 gr/ekor
d) Pola super intensif
Menerapkan berbagai fasilitas lengkap. Kepadatan sangat tinggi, antara 100-200 ekor/m2. Didukung aerasi, filtrasi dan sumber air yang cukup untuk mengelola kualitas air. Menggunakan kolam ukuran kecil sehingga pengelolaan lebih mudah. Hasil panen 1-2 ton/100 m2 dengan berat kurang lebih 300 gr/ekor.
3. Manajemen pakan
Pemberian pakan buatan mutlak pada pola intensif. Yang paling mudah diaplikasikan adalah pakan apung (kandungan protein 28-32%) karena habisnya pakan bisa terduga dibandingkan pakan tenggelam. Agar pemberian pakan efisien :
Jenis dan ukuran cocok dengan ikan budidaya.
Aturwaktu pemberian pakan agar nutrisi terserap
sempurna.
Nila diberi makan 3-4 kali sehari
dengan interval sama
Terapkan feeding rate (persentase pemberian pakan) atau teknik kekenyangan 90%
Sesuaikan jumlah pemberian pakan dengan kondisi lingkungan. Saat suhu rendah, kurangi pemberian pakan,juga saat hujan atau mendung sebab oksigen akan lebih rendah.*sumber : TROBOS, 2008
Langganan:
Postingan (Atom)