| STANDARISASI UKURAN BENIH UNTUK DITEBAR PADA USAHA PEMBESARAN | |||||
| DAN UKURAN PANEN PADA USAHA BUDIDAYA PERIKANAN | |||||
| NO. | KOMODITAS | UKURAN BENIH | SR (%) | UKURAN PANEN | KETERANGAN |
| 1 | NILA, TAMBAK | 5 - 8 CM | 90 | 5 ekor/kg | |
| 2 | MAS, TAWES | 5 - 8 CM | 80 | 5 ekor/kg | |
| 8 - 12 CM | |||||
| 3 | PATIN | 3" | 90 | 2 ekor/kg | |
| 4 | GURAME | 8 - 12 CM | 80 | 2 ekor/kg | |
| 5 | LELE | 8 - 12 CM | 90 | 8 ekor/kg | |
| 6 | UDANG | ||||
| - WINDU | PL 12 - 25 | 60 | 40 ekor/kg | ||
| - VANNAME | PL 12 | 90 | 70 ekor/kg | ||
| - GALAH | JUVENIL | 60 | 30 ekor/kg | ||
| 7 | RUMPUT LAUT | Umur 35 Hari | 100 | 60 Hari | Panen x jumlah Benih |
| 8 | BANDENG | 3 - 5 cm (sisiran) | 90 | 4 ekor/kg | |
| 9 | KEPITING/RAJUNGAN | 5 ekor/kg | PENGGEMUKAN | ||
| 10 | KERANG HIJAU | 100 butir/kg | |||
| 11 | KERANG DARAH | 400 butir/kg | 90 | 100 butir/kg | |
| 12 | KERAPU LUMPUR | 5 cm | 60 | 3 ekor/kg | |
| 13 | KAKAP PUTIH | 5 cm | 60 | 2 ekor/kg | |
| 14 | LAINNYA | ||||
| 15 | NILEM | 5 - 8 CM | 90 | 10 ekor/kg | |
Senin, 26 Januari 2009
STANDARISASI UKURAN BENIH UNTUK DITEBAR PADA USAHA PEMBESARAN DAN UKURAN PANEN PADA USAHA BUDIDAYA PERIKANAN
Budidaya Ikan Hias : Neon Tetra (Hyphessobrycon innesi atau Paracheirodon innesi)
Neon Tetra
Neon Tetra (Hyphessobrycon innesi atau Paracheirodon innesi) ini berasal dari daerah Amazon, dekat perbatasan Peru. Di alam aslinya, ikan ini bersifat omnivora. Warna tubuhnya sangat spektakuler dan bercahaya. Punggungnya hijau lembut dengan strip biru terang di sepanjang tubuhnya. Perutnya putih dan antara pangkal ekor ke atas berwarna merah menyala. Siripnya transparan, tidak berwarna. Ukuran tubuh maksimal hanya sekitar 3 cm.
Ikan ini tergolong kuat dan toleran terhadap perubahan pH maupun suhu untuk pemeliharaannya. Namun demikian, sangat sukar bagi ikan ini memijah kalau kondisi lingkungannya tidak optimal.
Suhu untuk pemijahan sekitar 23-24° C. Kekerasan airnya pun sangat rendah, yaitu sekitar 3° dH, karena daerah asalnya miskin mineral. Sementara pH airnya sekitar 5,5-6,0. Air untuk hidupnya harus bersih dan jernih.
Induk jantan dan betina dapat dibedakan dengan jelas. Pada jantan terdapat garis biru lurus, sedangkan pada betina garis biru tersebut bengkok. pemijahan neon tetra ini dapat dilakukan secara berpasangan dalam akuarium kecil dengan perbandingan jantan betina 1 : 1. Induk dapat dipasangkan bila sudah siap memijah.
Saat dipasangkan, induk tidak diberi pakan agar air tetap bersih. Walaupun tidak dianjurkan, ke dalam akuarium pemijahan dapat diberi tanaman air sebagai substrat. Namun, kondisi tanaman air tersebut pun harus bersih. Oleh karena ikan akan memakan telurnya, sebaiknya akuarium diletakkan di tempat remang atau gelap agar induk tidak dapat melihat telurnya. Biasanya pemijahan ikan ini berlangsung malam atau sore hari.
Sesudah bertelur, induk dapat diambil atau dikeluarkan dari akuarium. Setelah 24 jam, telur akan menetas. Biasanya air untuk penetasan tidak diberi aerasi agar pH-nya stabil. Kalaupun diberi, aerasinya sangat kecil. Ada pula yang memberi daun asam agar keasaman air terpenuhi.
Larvanya berwarna transparan dan agak sulit dilihat dengan mata telanjang. Larva ini tidak toleran atau tahan terhadap sinar yang kuat sehingga akan lebih baik kalau dirawat di tempat gelap atau remang.
Umur empat hari larva dapat mulai diberi pakan. Pakan larva pertama berupa infusoria yang diberikan selama tiga hari. Kemudian larva dapat diberi nauplii anemia atau kutu air saring. Pakan untuk pembesaran berupa kutu air besar.
Pertumbuhan ikan ini termasuk cepat asalkan kondisinya cocok. Pembesarannya dapat dimulai dari benih berumur 3-4 minggu. Pada umur tersebut ikan sudah bisa dipelihara di tempat terang walaupun tetap harus teduh. Ukuran 1,8 cm atau umur 2,5 bulan sudah dapat dijual.
sumber : Darti S.L dan Iwan D. Penebar Swadaya,2006
Budidaya Ikan Hias : Buenos Aires Tetra (Hemigramus caudovitatus)
Buenos Aires Tetra
Buenos Aires Tetra (Hemigramus caudovitatus) yang berasal dari Brazil ini bersifat omnivora dan agresif. Ukurannya dapat mencapai 10 cm. Ikan ini menyukai air bersuhu optimal sekitar 24-27° C; pH sekitar 6,5-7,0; dan kekerasan air sekitar 6-8° dH.
Tubuhnya berwarna keperakan dengan bagian bawah perut merah. Mulai dari 3/4 tubuhnya dan melalui tengah ke bagian ekor terdapat garis. Di pangkal ekor pun terdapat garis tebal vertikal warna hitam dan dikelilingi bintik atau totol kuning.
Jantannya lebih kecil dan langsing dibanding betina. Oleh karena bersifat agresif, ikan ini tidak boleh dicampur dengan ikan lain yang bertemperamen tenang, Pemijahannya hampir sama dengan jenis tetra lain, hanya saja perlu tanaman air yang lebat untuk mengantisipasi sifat agresifnya. Telurnya bisa dimakan bila tidak segera diambil. Bisa juga induknya yang dipindahkan, sedangkan telurnya dibiarkan hingga menetas. Telur akan menetas dalam waktu 24-32 jam.
Dua hari kemudian, larvanya sudah bisa berenang. Setelah bisa berenang, larva dapat diberi pakan pertama berupa kutu air saring. Empat hari kemudian, pakannya dapat diganti dengan kutu air berukuran besar. Pakan untuk pembesaran berupa cacing sutera atau pelet halus. Umur 3 bulan atau berukuran 2,5 cm sudah bisa dijual.
sumber : Darti S.L dan Iwan D. Penebar Swadaya, 2006
Minggu, 25 Januari 2009
Budidaya Ikan Hias : Malabar Danio atau Giant Danio (Danio malabaricus)
Malabar Danio
Malabar Danio atau Giant Danio (Danio malabaricus) berasal dari India dan Ceylon. Ikan ini bersifat karnivora dan temperamennya sangat tenang. Suhu pemeliharaan yang baik sekitar 26-29° C. Panjang tubuhnya hampir mencapai 15 cm.
Pada samping kiri kanan tubuhnya berwarna biru yang semakin kuat di bagian atas dan terdapat garis horisontal kemerahan atau merah muda. Sementara di bagian perut berwarna merah muda. Sirip punggung merah muda. Ikan betina lebih besar atau gemuk dan warnanya lebih pudar daripada jantan.
Cara berkembang biak ikan ini hampir sama dengan ikan Zebra Danio, yaitu telurnya akan diletakkan di sarang berupa tanaman air. Telur tersebut dapat diambil bersama sarangnya untuk ditetaskan dalam wadah penetasan. Telur akan menetas dalam waktu 2-3 hari. Larvanya akan berenang sesudah tiga hari menetas.
Pakan larva ini berupa kutu air kecil yang kemudian dapat diberi kutu air besar. Setelah benih menjadi besar dapat diberi cacing sutera. Umur 2,5 bulan atau sudah mencapai ukuran 2,5 cm sudah bisa dijual.
sumber : Darti S.L dan Iwan D. Penebar Swadaya, 2006
Budidaya Ikan Hias : Silver-tipped (Hasemania nana)
Silver-tipped
Silver-tipped (Hasemania nana) berasal dari Venezuela dan Guyana. Ikan ini bersifat herbivore dan sangat menyukai pakan dari sayuran (selada air). Suhu optimal untuk bisa memijah sekitar 25-27° C. Air yang cocok untuk kehidupannya harus memiliki pH sekitar 6,5-7,0 dan kekerasan sekitar 8-10° dH.
Ukuran tubuh Silver-tipped dapat mencapai maksimal 9 cm. Tubuhnya berwarna keperakan dengan sisik berukuran kecil. Selain itu, terdapat totol hitam di belakang tutup insang dan di pangkal ekor.
Ikan ini bersifat agak agresif, sering menggigit ikan lain, terutama terhadap ikan yang lebih kecil. Oleh karenanya ikan ini tidak cocok dipelihara bersama ikan lain. Wadah untuk pemijahan berupa kolam atau bak dengan kepadatan sekitar 100 ekor/m2 Untuk pemijahan masal, perbandingan jantan dan betina 1 : 4. Sebagai tempat melekatkan telurnya, dibutuhkan substrat atau sarang berupa tanaman air.
Telur yang dilekatkan pada substrat akan menetas dalam waktu 24 jam. Larvanya akan berenang sekitar 2-3 hari setelah menetas.
Penggantian air pada pemeliharaan larva dilakukan setelah larva mulai berenang. Jumlah air yang diganti sebanyak separo volume air. Penggantian air ini harus secara rutin dilakukan setiap dua hari. Pakan larva pertama berupa infusoria. Kemudian, pakannya dapat diganti kutu air setelah ukuran benih dan dewasa.
Pertumbuhan ikan ini sangat cepat sehingga penjarangan harus lebih sering dilakukan. Hal ini perlu dilakukan untuk menjaga sifat agresivitas terhadap ikan yang lebih kecil. Bila pemeliharaannya dilakukan dengan baik, pada umur 1,5 bulan ukuran jual sudah tercapai, yaitu sekitar 2,2 cm.
sumber : Darti S.L dan Iwan D. Penebar Swadaya, 2006
Budidaya Ikan Hias : Swordtail Characin (Corynopoma riisei)
Swordtail Characin
Swordtail Characin (Corynopoma riisei) berasal dari Brazil, Amerika Selatan. Ikan ini cenderung bersifat karnivora. Suhu untuk pemeliharaan yang baik sekitar 29-30° C. Sementara pH air optimum sekitar 6,5-7,0 dan kekerasan sekitar 10-12 dH.
Tubuh ikan ini dapat mencapai paniang 8 cm. Warna tubuh putih bening keperakan dengan sirip-sirip agak transparan. Namun,
ikan ini disukai bukan warna tubuhnya, tetapi karena bentuk siripnya yang unik. Terutama jantan, antan, pina atau sirip punggung dan sirip anal lebih besar dan lebih panjang dari betina. Sirip yang memanjang tersebut sangat berguna pada pemijahan, yaitu untuk pembuahan telur.
Ikan jantan dan betina yang sudah siap memijah dapat dipasangkan dalam akuarium atau secara masal dalam kolam. Sarang untuk peletakan telur berupa tanaman air (enceng gondok).
Telur akan menetas dalam waktu 24-32 jam. Dua hari kemudian, larva sudah bisa berenang dan dapat diberi pakan infusoria selama 2-3 hari. Selanjutnya larva dapat diberi kutu air.
Ikan yang sudah bertelur dan pernah kawin dapat bertelur kembali walaupun tanpa jantan. Telur yang keluar tanpa jantan tersebut masih bisa menetas. Diduga hal ini disebabkan sperma jantan dapat tahan lama berada dalam saluran telur betina.
Pembesaran ikan ini dapat dilakukan dalam kolam maupun akuarium. Pakan untuk pembesaran berupa kutu air besar, cacing sutera, dan cacing darah. Ikan ini bisa dijual saat ukurannya sudah mencapai sekitar 2,5 cm atau sekitar berumur tiga bulan.
Sumber : Darti S.L dan Iwan D. Penebar Swadaya, 2006
Swordtail Characin (Corynopoma riisei) berasal dari Brazil, Amerika Selatan. Ikan ini cenderung bersifat karnivora. Suhu untuk pemeliharaan yang baik sekitar 29-30° C. Sementara pH air optimum sekitar 6,5-7,0 dan kekerasan sekitar 10-12 dH.
Tubuh ikan ini dapat mencapai paniang 8 cm. Warna tubuh putih bening keperakan dengan sirip-sirip agak transparan. Namun,
ikan ini disukai bukan warna tubuhnya, tetapi karena bentuk siripnya yang unik. Terutama jantan, antan, pina atau sirip punggung dan sirip anal lebih besar dan lebih panjang dari betina. Sirip yang memanjang tersebut sangat berguna pada pemijahan, yaitu untuk pembuahan telur.
Ikan jantan dan betina yang sudah siap memijah dapat dipasangkan dalam akuarium atau secara masal dalam kolam. Sarang untuk peletakan telur berupa tanaman air (enceng gondok).
Telur akan menetas dalam waktu 24-32 jam. Dua hari kemudian, larva sudah bisa berenang dan dapat diberi pakan infusoria selama 2-3 hari. Selanjutnya larva dapat diberi kutu air.
Ikan yang sudah bertelur dan pernah kawin dapat bertelur kembali walaupun tanpa jantan. Telur yang keluar tanpa jantan tersebut masih bisa menetas. Diduga hal ini disebabkan sperma jantan dapat tahan lama berada dalam saluran telur betina.
Pembesaran ikan ini dapat dilakukan dalam kolam maupun akuarium. Pakan untuk pembesaran berupa kutu air besar, cacing sutera, dan cacing darah. Ikan ini bisa dijual saat ukurannya sudah mencapai sekitar 2,5 cm atau sekitar berumur tiga bulan.
Sumber : Darti S.L dan Iwan D. Penebar Swadaya, 2006
Budidaya Ikan Hias : Corydoras (Corydoras aenes)

Corydoras
Corydoras (Corydoras aenes) dengan nama dagang Bronze Catfish berasal dari Venezuela, Trinidad (Amerika Selatan). Ikan ini bersifat karnivora dan terkenal sebagai ikan "tukang bersih-bersih". Corydoras paling senang berada di tempat yang kurang bersih dan memiliki kebiasaan membersihkan dinding-dinding. Namun, kotoran yang sudah dibersihkan dibiarkan bertumpuk, tidak dimakan. Suhu untuk pemijahan ikan ini antara 26-28° C.
Di pasaran saat ini sudah berkembang banyak spesies yang harganya cukup mahal, di antaranya ialah Corydoras paleatus, Corydoras panda, maupun Corydoras sterbai. Jenis corydoras ini memerlukan suhu pemijahan yang relatif rendah dibanding corydoras aenes, yaitu antara 24-26° C.
Panjang tubuhnya dapat mencapai 7 cm. Tubuh tersebut diselimuti dua baris sisik dengan sisik yang lebih besar disebut Plate. Mulutnya dilengkapi sepasang sungut atau kumis yang berguna sebagai sensor atau radar untuk mencari makan di dalam gelap.
Agar corydoras ini tumbuh dengan baik, air untuk pemeliharaannya sebaiknya memiliki nilai pH 7-7,5 dengan kekerasan (hardness) 10° dH. Untuk membantu pertumbuhannya, sebaiknya ke dalam kolam pemeliharaan ditambahkan kapur.
Antara jantan dan betina dapat dibedakan dari pina atau sirip dorsal yang lebih lancip pada betina, sementara jantan lebih tumpul. Bila dilihat dari atas, tubuh betina tampak jauh lebih lebar dibanding jantan.
Agar berpijah dengan baik, sebaiknya induk jantan dan betina dipelihara terpisah dahulu sambil diberi pakan yang baik berupa cacing sutera dan cacing darah. Bila sudah tampak mengandung telur, induk betina dapat dicampur dengan jantan. Umumnya betina siap memijah sekitar umur lima bulan.
pemijahan corydoras dapat berlangsung secara masal dengan perbandingan jantan betina 1 : 2-4. Dalam pemijahan ini biasanya induk betina akan membersihkan sarang sampai bersih dengan mulutnya. Sarang dapat berupa potongan paralon yang digantungkan atau keramik yang diberdirikan di tempat pemijahan.
Walaupun ikan ini tergolong ikan dasar, namun telurnya ditempatkan di tengah kolam air. Induk betina akan mengisap sperma jantan dengan mulutnya dan disimpannya di situ. Dengan kantong yang dibentuk oleh pasangan sirip perut yang dibengkokkan, induk betina akan membawa dan melekatkan telurnya ke tempat atau
sarang yang sudah dibersihkan sebelumnya oleh yang jantan dan akan dibuahi sperma dari mulutnya. Lekatan telur tersebut sangat kuat. Demikian seterusnya proses pemijahan tersebut berlangsung berulang-ulang hingga telur dalam perut induk betina habis.
Biasanya corycloras akan bertelur atau memijah pada pagi hari sekitar pukul 6.30-7.30. Bila sudah selesai memijah, telurnya dapat diambil bersama dengan sarangnya untuk ditetaskan dalam wadah tersendiri. Di dalam wadah penetasan, aerasi untuk suplai oksigen sangat diperlukan. Telur tersebut akan menetas dalam waktu tiga hari (72 jam) dan larvanya dapat berenang setelah berumur 5-6 hari.
Pakan larva ikan dapat berupa kutu air yang diberikan selama beberapa hari (2-3 hari). Setelah itu, larva sudah bisa diberi pakan cacing sutera. Sementara penggantian air dilakukan setelah larva berumur seminggu. penggantian air ini dilakukan dengan cara menyifon setiap hari sebanyak separo atau sepertiga volume air. Bila memungkinkan, ke dalam wadah dipasangkan filter khusus larva untuk menjaga kualitas air tetap bagus.
Setelah ikan berumur dua minggu, kegiatan penjarangan dan seleksi ukuran dapat dilakukan. Pakannya berupa cacing sutera.
Setelah dipelihara selama dua bulan biasanya ikan sudah mencapai ukuran 2-2,5 cm dan sudah siap dijual. Ini disebabkan ukuran terbesar untuk pasar ekspor adalah 2,5 cm. Ukuran yang lebih besar biasanya akan membawa risiko dalam pengangkutan. Ikan yang besar memiliki patil atau duri sangat keras di sirip kepala. Patil ini akan keluar kalau ikan mengalami stres sehingga dapat membocorkan kantong plastik saat pengangkutan.
sumber : Darti S.L dan Iwan D. Penebar Swadaya, 2006
Langganan:
Postingan (Atom)