Kamis, 08 Januari 2009

Produksi dan Potensi Pemindangan

Produksi dan Potensi Pemindangan

Pengolahan ikan menjadi ikan asin memang masih mendominasi pemanfaatan hasil perikanan Indonesia, yaitu sekitar 31,6 % dari 2.692.068 ton ikan produksi Indonesia. Suatu jumlah yang sangat besar mengingat pemindangan (menempati urutan kedua) tidak lebih dari 5,8% saja. Dari persentase tersebut menghasilkan 121.204 ton ikan pindang (tahun 1992). Padahal, dalam upaya pencukupan gizi masyarakat, ikan asin bukan pilihan yang tepat. Produk-produk berkadar garam rendah yang dapat dikonsumsi dalam jumlah besar, seperti pindang, merupakan pilihan yang tepat.

Dilihat dari produksinya, Pulau Jawa dan Bali merupakan sentra produksi sekaligus sentra konsumen ikan pindang. Produksi ikan pindang di luar Jawa relatif rendah, padahal produksi ikan asinnya cukup tinggi. Apabila sebagian produksi ikan asin ini dialihkan ke ikan pindang maka diperlukan usaha terpadu dari berbagai pihak untuk mempromosikan komoditas ini. Pemindangan ikan dapat dijadikan usaha yang menarik tidak hanya di Jawa, tetapi juga di luar Jawa.

Jenis ikan yang biasa dipindang cukup beragam, mulai dari ikan kecil hingga ikan besar dan dari ikan air tawar sampai ikan laut. Ikan air tawar yang soring dipindang adalah nilam, tawes, gurami, mujair, sepat siam, tambakan, dan ikan mas. Untuk ikan laut, jenis yang biasa dipindang adalah ikan layang, kembung, tongkol, bawal, selar, kuro, bandeng, lemuru, petek, japu, tembang, ekor kuning, dan hiu.

Ikan-ikan kecil, kadang-kadang juga bandeng yang berukuran besar, langsung dipindang tanpa disiangi. Jika ukurannya besar, seperti tongkol dan cakalang, maka ikan disiangi dengan cara membuang isi perut dan insang. Kalau ukurannya lebih besar lagi, misalnya ikan tuna dan hiu, maka ikan dibuat filet terlebih dulu sebelum dipindang.







sumber :

Depok, medio Juni 1995



Selasa, 06 Januari 2009

ALTERNATIF PASAR EKSPOR PRODUK PERIKANAN KE TIMUR TENGAH DAN EROPA TIMUR

ALTERNATIF PASAR EKSPOR PRODUK PERIKANAN KE TIMUR TENGAH DAN EROPA TIMUR

Triwulan terakhir tahun 2008 menunjukkan bahwa ekspor produk perikanan ke Amerika Serikat (AS) tertekan sebagai akibat krisis keuangan global. Dampaknya juga terasa di Pasar Uni Eropa (UE) dan Jepang. Permintaan diperkirakan mengalami penurunan sekitar 15% sehingga target ekspor tahun 2009 tidak naik dari tahun 2008, yaitu sebesar US$ 2,6 milyar. Disamping permintaan menurun, persaingan juga makin tajam. Namun dengan produk bermutu prima dan kerja keras, target ekspor hasil perikanan diharapkan tercapai. ... Selengkapnya >>

sumber : www.dkp.go.id

Sabtu, 03 Januari 2009

Jenis-jenis Ikan Pindang

Jenis-jenis Ikan Pindang

Cara pemindangan ikan yang dilakukan sangat bervariasi tergantung daerah, jenis ikan, dan kebiasaan pengolah. Akibatnya, proses dan mutu pindang yang dihasilkan sangat beragam. Karena itu, dapat dibuat beberapa kelompok ikan pindang berdasarkan proses, wadah yang digunakan, jenis ikan, perlakuan atau bumbu yang ditambahkan, dan daerah asal (Tabel 1).

TABEL 1. JENIS-JENIS IKAN PINDANG Dl INDONESIA

Dasar pengelompokan

Nama dalam perdagangan

Proses

Pindang cue (perebusan di dalam air garam), pindang garam (pemanasan dengan garam dan sedikit air), pindang presto (pemindangan dengan tekanan tinggi, pindang duri lunak).

Wadah

Pindang naya (pindang cue dengan wadah naya), pindang besek (pindang cue dengan wadah besek),

pindang badeng (pindang garam dalam wadah badeng), pindang paso (pindang garam dalam paso), pindang kendil (pindang garam dalam kendil).

Jenis ikan

Pindang bandeng, pindang tongkol, pindang kembung, pindang lemuru, pindang tawes, pindang gurami, dan sebagainya.

Bumbu

Pindang bumbu (memakai bumbu tambahan, misalnya kunyit).

Asal

Pindang pekalongan, pindang kudus, pindang juwono, pindang tuban, pindang muncar, dan sebagainya.

Apabila dikaji lebih jauh, sebenamya terdapat kesamaan proses antara teknik perebusan dalam larutan garam dan pemanasan dengan garam kerang. Kemudian berkembang cara baru yang mengadopsi proses pengalengan, yaitu menggunakan pemanasan bertekanan tinggi sehingga dihasilkan pindang berduri lunak. Teknik pemindangan ini disebut presto. Dengan demikian, ada tiga cara pemindangan, yaitu pemindangan di dalam larutan garam (lebih dikenal sebagai pemindangan cue), pemindangan garam, dan pemindangan presto.

sumber : Depok, medio Juni 1995



Rabu, 31 Desember 2008

klasifikasi udang



Menurut Siswoyo (1989) udang diklasifikasikan sebagai berikut :

Pylum : Arthopoda

Sub Pylum : Mandibulata

Kelas : Crustace

Subv Kelas : Malacostrraca

Ordo : Decapoda

Sub Ordo : Natantia, Raptantia

Minggu, 28 Desember 2008

PEMIJAHAN IKAN DENGAN SISTEM CANGKRINGAN

PEMIJAHAN IKAN
DENGAN SISTEM CANGKRINGAN


1. PENDAHULUAN

Hypofisasi adalah suatu metoda untuk mempercepat pematangan gonada
induk ikan agar berovulasi, yaitu dengan menyuntikan cairan kelenjar hypofisa
ikan donor ke dalam tubuh induk ikan yang akan dipijahkan. Sistem ini dikenal
dengan sistem pemijahan buatan, terutama untuk memijahkan jenis-jenis ikan
yang sulit berpijah (seperti: tawes, lele dumbo, grasscarp dll).

Akan tetapi di dalam sistem hypofisasi selalu diperlukan ikan donor (ikan mas)
yang harus dikorbankan untuk diambil kelenjar hypofisisnya. Oleh karena itu
untuk menghindarkan pengorbanan tersebut di BII Sentral Cangkringan telah
dikembangkan pemijahan ikan dengan "sistem cangkringan", yaitu cara
pemijahan dengan menggunakan ikan mas yang dipijahkan bersamaan di
dalam 1 (satu) bak dengan induk ikan lain yang sulit berpijah. Cara tersebut
digunakan untuk merangsang berpijahnya induk-induk ikan lain yang sulit
dipijahkan walaupun telah matang gonad.

Seperti telah diketahui bahwa ikan mas selain merupakan donor universal juga
dikenal sebagai ikan yang mudah berpijah. Oleh sebab itu dalam cara inipun
yang dipergunakan sebagai ikan donor adalah induk ikan mas.
Dengan "sistem cangkringan" ini, ikan mas tidak perlu dikorbankan, bahkan
selain induk ikan mas dapat dipergunakan untuk pemijahan beberapa kali, telur
yang dihasilkannya dapat ditetaskan sebagai hasil sampingan.






2. TEKNIK PEMIJAHAN
1) Tempat pemijahan dapat berupa kolam atau bak semen ukuran 10 x 5 1 m
yang pada bagian atasnya dipasang pipa yang dilubangi untuk mengalirkan
iar selama pemijahan berlangsung.

2) Tempat pemijahan harusdibersihkan dan dikeringkan.

3) Pada tempat pemijahan dipasang happa. Ukuran happa untuk pemijahan
ikan mas adalah 4 x 2 x 1 m; untuk ikan tawes adalah 2 x 1 x 1 m dan untuk
lele cukup 1 x 1 x 1 m.

4) Setelah pemasangan happa selesai, alirkan air ke tempat pemijahan hingga
tinggi air dalam happa kira-kira 20-30 cm.

5) Pilihlah induk ikan mas yang telah matang telur. Masukkan induk ke dalam
happa. Perbandingan induk jantan dan betina adalah 2:1.

6) Untuk jenis ikan yang telurnya mempunyai sifat melakat/menempel maka di
dalam happa harus dipasang kakaban.

7) Masukkan induk-induk ikan lele dumbo, grasscarp, mola dll yang telah
matang telur ke dalam happa. Perbandingan indukjantan dan betina
tergantung dari jenis ikannya. Untuk ikan tawes perbandingan induk jantan
dan betina adalah 2:3 dan untuk ikan lele adalah 1:1.

8) Kemudian air dialirkan melalui pipa yang terletak di atas kolam sehingga air
masuk dalam tempat pemijahan seperti air hujan.




3. PROSES PEMIJAHAN

1) Jika induk yang dipilih benar-benar telah matangtelur, maka pada malam
harinya akan memijah.

2) Induk ikan mas akan memijah terlebih dahulu. Beberapa saat kemudian ikan
lain akan terangsang untuk berpijah.



4. PENETASAN TELUR

1) Untuk telur-telur yang sifatnya melekat, cukup dibiarkan menetas dalam
happa.

2) Sedangkan untuk telur yang tidak melekat dapat ditetaskan pada corong
penetasan.

3) Tergantung dari jenis ikannya, beberapa hari kemudian telur akan menetas.
Kemudian larva-larva tersebut dapat dipindahkan dalam tempat (bak)
pendederan.



5. PENUTUP

Pada umumnya jenis-jenis ikan liar atau yang baru saja dijinakkan dari alam
sulit dipijahkan. Bahkan beberapa jenis ikan, seperti tawas, yang sudah lama
dikenal sebagai ikan budidayapun kenyataannya relatif sulit dipijahkan.
Tetapi setelah cukup lama dipraktekkan di BII Sentral Cangkringan, ternyata
sistem imbas dapat dipergunakan untuk mengatasi hal tersebut di atas.
Beberapa jenis ikan yang dapat dipijahkan dengan sistem cangkringan antara
lain adalah : tawes, grascarp, lele dumbo, dll.


6. SUMBER
Brosur Pemijahan Ikan dengan Cara Cangkringan, Proyek Infis, Dinas
Perikanan, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Yogyakarta, 1989.