Kolam pemijahan arwana merah
Arwana merah (Sclerophages formosus) dipijahkan di dalam kolam tanah. Induk arwana jantan dan betina disatukan ke dalam kolam yang sama. Secara rutin induk betina yang sedang mengeram telur diangkat untuk dipindahkan larvanya ke akuarium.
pada tepi kolam dibuat pagar pembatas yang diberi pintu untuk menangkap induk arwana yang sudah mengeram.
Tampilkan postingan dengan label KONSTRUKSI KOLAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KONSTRUKSI KOLAM. Tampilkan semua postingan
Jumat, 22 Juni 2012
Sabtu, 07 April 2012
cara pembuatan akuarium ikan
cara pembuatan akuarium ikan
Akuarium merupakan wadah/media pemeliharaan jenis biota air, hewan air yang dapat dipelihara pada akuarium adalah ikan, kura-kura, udang. untuk memperoleh akuarium ini dapat dilakukan dengan cara membelinya atau membuat sendiri, bila kita tidak cukup uang untuk membelinya kita dapat membuat sendiri akuarium di rumah. bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat akuarium adalah :
- Kaca
- Lem Kaca
- Solatif
Ukuran kaca yang akan digunakan bervariasi tergantung keperluan dan jenis ikan apa yang akan dipelihara, bila kita akan memelihara jenis ikan yang cukup besar seperti arwana maka ukuran akuarium yang digunakan minimum 80 x 40 x 40 cm, bila jenis ikan yang relatif ukuran tubuhnya kecil seperti koki, guppy, sumatra, manvis, bisa menggunakan akuarium ukuran 60 x 30 x 30 cm.
untuk memulai pembuatan pertama kita harus memperhitungkan atau mengukur ukuran kaca yang akan dipasang untuk akurium dengan berbentuk persegi panjang terdapat 5 (lima) sisi kaca yang digunakan, untuk sisi bawah atau alas menggunakan akuarium berukuran 80 x 40 cm dengan ketebalan 5 mm, untuk 2 (dua) sisi samping berukuran 79 x 40 cm ketebalan 5 mm, dan untuk 2 (dua) sisi samping lainnya berukuran 40 x 40 cm tebal 5 mm. untuk alas kita gunakan sterofoam sebagai alas untuk kaca yang berukuran 80 x 40 cm.
kaca yang akan dipasang dengan kaca yang di bawah yaitu kaca ukuran 40 x 40 cm. kaca yang di bawah diberi lem khusus kaca dengan banyak lem yang digunakan sesuai ukuran kaca yang akan ditempelkan yaitu sepanjang 40 cm. sebelum dilem agar pengeleman menjadi rapi perlu dipasang solatif untuk menjaga lem tidak melebar kemana-mana. setelah ditempel kaca tersebut ditahan oleh penyangga berupa kaleng bekas agar tidak jatuh.
kemudian kita persiapkan kaca dengan ukuran 79 x 40cm untuk dipasang di sisi berikutnya. pengeleman dilakukan pada kaca alas 80 x 40 dan kaca uk. 40 x 40 cm, setelah dilem kemudian dipasangkan kaca ukuran 79 x 40 cm tersebut, begitu selanjutnya sampai kedua kaca lainnya terpasangkan.
setelah terpasang semuanya yaitu 5 (lima) kaca kemudian pada sudut-sudutnya yaitu sudut dalam akuarium diberi lem pada setiap kelilingnya untuk mencegah terjadinya kebocoran akuarium. untuk menahan akuarium agar kuat perlu dipasang kaca pada bagian atas akuarium sekelilingnya yaitu dipasang kaca dengan ukuran 80 x 6 cm tebal 5 mm dan 40 x 6 cm tebal 5 mm. hal ini bertujuan untuk mengikat antara sisi kaca yang satu dengan sisi kaca yang lainnya. setelah beres dibuat, akuarium tidak bisa langsung diisi air. solatif yang tadi dipasang pada akuarium dilepas.
akuarium bisa diberi air setelah 1 hari dikeringkan, pemberian air jangan sekaligus diisi penuh harus sedikit demi sedikit. pengisian pertama kurang lebih ketinggian airnya 5 - 10 cm hal ini bertujuan untuk mengecek akuarium takut terjadi kebocoran. bila tidak ada yang bocor maka air bisa ditambah lagi.
untuk memulai pembuatan pertama kita harus memperhitungkan atau mengukur ukuran kaca yang akan dipasang untuk akurium dengan berbentuk persegi panjang terdapat 5 (lima) sisi kaca yang digunakan, untuk sisi bawah atau alas menggunakan akuarium berukuran 80 x 40 cm dengan ketebalan 5 mm, untuk 2 (dua) sisi samping berukuran 79 x 40 cm ketebalan 5 mm, dan untuk 2 (dua) sisi samping lainnya berukuran 40 x 40 cm tebal 5 mm. untuk alas kita gunakan sterofoam sebagai alas untuk kaca yang berukuran 80 x 40 cm.
kaca yang akan dipasang dengan kaca yang di bawah yaitu kaca ukuran 40 x 40 cm. kaca yang di bawah diberi lem khusus kaca dengan banyak lem yang digunakan sesuai ukuran kaca yang akan ditempelkan yaitu sepanjang 40 cm. sebelum dilem agar pengeleman menjadi rapi perlu dipasang solatif untuk menjaga lem tidak melebar kemana-mana. setelah ditempel kaca tersebut ditahan oleh penyangga berupa kaleng bekas agar tidak jatuh.
kemudian kita persiapkan kaca dengan ukuran 79 x 40cm untuk dipasang di sisi berikutnya. pengeleman dilakukan pada kaca alas 80 x 40 dan kaca uk. 40 x 40 cm, setelah dilem kemudian dipasangkan kaca ukuran 79 x 40 cm tersebut, begitu selanjutnya sampai kedua kaca lainnya terpasangkan.
setelah terpasang semuanya yaitu 5 (lima) kaca kemudian pada sudut-sudutnya yaitu sudut dalam akuarium diberi lem pada setiap kelilingnya untuk mencegah terjadinya kebocoran akuarium. untuk menahan akuarium agar kuat perlu dipasang kaca pada bagian atas akuarium sekelilingnya yaitu dipasang kaca dengan ukuran 80 x 6 cm tebal 5 mm dan 40 x 6 cm tebal 5 mm. hal ini bertujuan untuk mengikat antara sisi kaca yang satu dengan sisi kaca yang lainnya. setelah beres dibuat, akuarium tidak bisa langsung diisi air. solatif yang tadi dipasang pada akuarium dilepas.
akuarium bisa diberi air setelah 1 hari dikeringkan, pemberian air jangan sekaligus diisi penuh harus sedikit demi sedikit. pengisian pertama kurang lebih ketinggian airnya 5 - 10 cm hal ini bertujuan untuk mengecek akuarium takut terjadi kebocoran. bila tidak ada yang bocor maka air bisa ditambah lagi.
Selasa, 04 Oktober 2011
Cara Pembuatan Kolam Air Tenang (KAT)
Tempat Pemeliharaan ikan dapat dilakukan di kolam, sawah, karamba, jaring apung, kolam/bak terpal, akuarium dll. Dalam hal pemeliharaan ikan di kolam dapat di bagi menjadi tiga yaitu pemeliharaan ikan di kolam air tenang, Kolam air deras dan kolam terpal.
Kolam Air Tenang
Ikan yang dipelihara di kolam air tenang dan biasa hidup adalah jenis ikan gurame, nila, sidat, lele, gabus.
Kolam Air tenang ini mempunyai berapa bagian diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Pematang
Pematang dibuat dengan bentuk trapesium, pematang agar tidak mudah roboh atau longsor dibuat lebar pada bagian bawahnya. Kemiringan pematang sebaiknya tidak lebih dari 45 derajat. Dalam membuat kolam pembesaran ikan kedalaman kolam yaitu sekitar 100 – 150 cm, ketinggian air kolam bisa diatur dari ketinggian 50 – 120 cm, ketinggian ini tergantung dari ukuran bibit dan padat penebaran ikan yang ditanam. Bila ikan yang dipeliharaan mulai besar maka ketinggian air kolam ini bisa ditambah menjadi 120 cm.
2. Dasar kolam
Agar kolam bisa kering dan untuk mempermudah dalam pemanenan ikan maka dasar kolam ini harus dibuat miring.Derajat Kemiringan dasar kolam ini cukup 1%, artinya tiap 100cm dasar kolam miring 1 cm. Kemiringan dasar kolam ini diarahkan kepada kowean dan caren
3. Kowean dan caren
kowean pada kolam dibuat ditengah kolam atau bisa juga dibuat dipinggir kolam budidaya ikan. Ukuran kowean 1 x 1 x 0,4 m diberi tangul keliling sehingga akan terbentuk bak di dalam kolam. Dibuatnya kowean ini berfungsi untuk menebar bibit atau menampung ikan pada saat kolam disurutkan. Caren dibuat dengan lebar 50 – 70 cm, dalamnya 25 – 30 cm. Caren berfungsi untuk menggiring ikan masuk ke kowean saat ikan di panen.
4. Saluran pemasukan dan pembuangan air
Untuk saluran pemasukan air kolam (in-let) dibuat didekat saluran utama (main-inlet), saluran masuk dan saluran air keluar (out-let) harus dibuat terpisah.
Kolam Air Tenang
Ikan yang dipelihara di kolam air tenang dan biasa hidup adalah jenis ikan gurame, nila, sidat, lele, gabus.
Kolam Air tenang ini mempunyai berapa bagian diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Pematang
Pematang dibuat dengan bentuk trapesium, pematang agar tidak mudah roboh atau longsor dibuat lebar pada bagian bawahnya. Kemiringan pematang sebaiknya tidak lebih dari 45 derajat. Dalam membuat kolam pembesaran ikan kedalaman kolam yaitu sekitar 100 – 150 cm, ketinggian air kolam bisa diatur dari ketinggian 50 – 120 cm, ketinggian ini tergantung dari ukuran bibit dan padat penebaran ikan yang ditanam. Bila ikan yang dipeliharaan mulai besar maka ketinggian air kolam ini bisa ditambah menjadi 120 cm.
2. Dasar kolam
Agar kolam bisa kering dan untuk mempermudah dalam pemanenan ikan maka dasar kolam ini harus dibuat miring.Derajat Kemiringan dasar kolam ini cukup 1%, artinya tiap 100cm dasar kolam miring 1 cm. Kemiringan dasar kolam ini diarahkan kepada kowean dan caren
3. Kowean dan caren
kowean pada kolam dibuat ditengah kolam atau bisa juga dibuat dipinggir kolam budidaya ikan. Ukuran kowean 1 x 1 x 0,4 m diberi tangul keliling sehingga akan terbentuk bak di dalam kolam. Dibuatnya kowean ini berfungsi untuk menebar bibit atau menampung ikan pada saat kolam disurutkan. Caren dibuat dengan lebar 50 – 70 cm, dalamnya 25 – 30 cm. Caren berfungsi untuk menggiring ikan masuk ke kowean saat ikan di panen.
4. Saluran pemasukan dan pembuangan air
Untuk saluran pemasukan air kolam (in-let) dibuat didekat saluran utama (main-inlet), saluran masuk dan saluran air keluar (out-let) harus dibuat terpisah.
Jumat, 09 September 2011
Beberapa potensi lahan untuk budidaya ikan air tawar
Beberapa potensi lahan untuk budidaya ikan air tawar
Ada 2 potensi lahan untuk budidaya ikan air tawaar yaitu potensi untuk kolam serta potensi lahan perairan umum.
1. Kolam
Ketersediaan air dan lahan untuk budidaya ikan merupakan suatu kebutuhan, air dan lahan merupakan media hidup ikan dan sumber daya perikanan. Tempat media hidup untuk budidaya ikan yang cocok yaitu lahan yang memiliki sumber air. Sumber air itu bisa berasal dari sungai, irigasi ataupun sumber mata air.
Daerah dataran rendah maupun dataran tinggi bisa dilakukan tempat untuk budidaya ikan asal ketersediaan air untuk budidaya ikan cukup. Kolam dapat dibuat dipekarangan rumah sedangkan untuk balong atau empang bisa dibangun di luar pekarangan rumah.
Budidaya ikan ini juga dapat dilakukan di sawah sebagai minapadi.
Potensi lahan budidaya ikan :
1. Danau : 1.800.000 Ha
2. Waduk : 50.000 Ha
3. Lahan yang sesuai untuk kolam dan minapadi : 650.000 Ha
(Kartamiharja, et.al.,2007)
2. Perairan umum ( Danau, waduk, sungai, saluran irigasi)
perairan umum yang meliputi danau, rawa, waduk, sungai kesemuanya merupakan potensi bagi budidaya ikan.
budidaya ikan di perairan umum dapat dilakukan dengan cara karamba, karamba jaring apung, maupun dengan hampang.
Ada 2 potensi lahan untuk budidaya ikan air tawaar yaitu potensi untuk kolam serta potensi lahan perairan umum.
1. Kolam
Ketersediaan air dan lahan untuk budidaya ikan merupakan suatu kebutuhan, air dan lahan merupakan media hidup ikan dan sumber daya perikanan. Tempat media hidup untuk budidaya ikan yang cocok yaitu lahan yang memiliki sumber air. Sumber air itu bisa berasal dari sungai, irigasi ataupun sumber mata air.
Daerah dataran rendah maupun dataran tinggi bisa dilakukan tempat untuk budidaya ikan asal ketersediaan air untuk budidaya ikan cukup. Kolam dapat dibuat dipekarangan rumah sedangkan untuk balong atau empang bisa dibangun di luar pekarangan rumah.
Budidaya ikan ini juga dapat dilakukan di sawah sebagai minapadi.
Potensi lahan budidaya ikan :
1. Danau : 1.800.000 Ha
2. Waduk : 50.000 Ha
3. Lahan yang sesuai untuk kolam dan minapadi : 650.000 Ha
(Kartamiharja, et.al.,2007)
2. Perairan umum ( Danau, waduk, sungai, saluran irigasi)
perairan umum yang meliputi danau, rawa, waduk, sungai kesemuanya merupakan potensi bagi budidaya ikan.
budidaya ikan di perairan umum dapat dilakukan dengan cara karamba, karamba jaring apung, maupun dengan hampang.
Senin, 22 Maret 2010
Gambar rangka kayu bak terpal pemeliharaan ikan lele
Gambar rangka kayu bak terpal pemeliharaan ikan lelepemeliharaan ikan lele bisa dilakukan pada kolam / bak terpal. rangka kayu yang digunakan untuk bak terpal bisa dibuat seperti model contoh gambar disamping.
Keuntungan pemeliharaan ikal lele pada bak terpal yaitu mudah dalam pengoperasionalan. Pemberian pakan mudah, panen mudah.
bak terpal digunakan merupakan sebuah alternatif pemeliharaan ikan selain pada kolam tembok atau tanah, dan cocok digunakan pada masyarakat yang tidak mempunyai lahan atau kolam yang luas.
Jumat, 19 Maret 2010
Bak pemijahan Lobster Air tawar
Bak pemijahan Lobster Air tawarLobster air tawar dipijahkan pada bak, konstruksi bak untuk pemijahan lobster ini terbuat dari tembok yang dibentuk persegi panjang ukuran bisa 1 x 2 m atau 1,5 x 2 m. Lobster ini tidak membutuhkan kedalaman air yang tinggi kira berkisar 10 - 20 cm tinggi airnya.
agar memijah pada bak pemijahan lobster ini diberi media berupa eceng gondok, genting, bata. Untuk pengamanan pada bak pemijahan lobster ditutup dengan ram kawat.
Selasa, 16 Maret 2010
Kolam Ikan Hias Mas

Kolam Ikan Hias Mas
Ikan hias dapat dipelihara pada bak-bak di pekarangan rumah, ikan hias (ikan mas ) bila dipelihara membutuhkan air yang bagus berkadar oksigen cukup agar kelangsungan hidupnya terjamin, untuk mensuplai oksigen ke kolam pemeliharaan ikan mas maka kita bisa menggunakan alat bantu yaitu seperti aerator , pompa.
cara lain untuk menjaga kualitas air yaitu dengan seringnya mengganti air kolam dengan air yang baru. dengan melakukan pergantian air ini maka sisa-sisa makanan dan kotoran ikan dapat terbuang bersama air sehingga air pun akan kembali segar.

kolam ikan hias akan terlihat indah bila pada pematang kolam dipasang pot - pot bunga. Pot bunga tersebut selain memberikan keindahan juga bisa berguna sebagai peneduh kolam dari sinar matahari.
Minggu, 14 Maret 2010
Pengerjaan Rangka Kolam Terpal / Plastik




pengerjaan rangka kolam terpal / plastik
rangka kolam terpal bisa terbuat dari kayu, besi, bambu.
rangka kolam terpal dari kayu . Pembuatan rangka kolam terpal dari kayu membutuhkan bahan-bahan diantaranya yaitu : papan, kayu usuk, paku. Alat-alat yang digunakan adalah gergaji, palu, meteran.
Langkah awal pengerjaan kolam terpal yaitu mengukur papan-papan dan kayu usuk yang hendak dipotong disesuaikan dengan panjang yang telah direncanakan dalam sketsa dan gambar.
Bentuk rangka kolam terpal umumnya persegi panjang, ukuran rangka bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan luas lahan yang ada, bisa 2 x 1 x 1 m3, bisa 5 x 2 x 1 m3.
metode pengerjaan diselesaikan satu bagian- satu bagian yaitu mulai dari dasar, kemudian sisi-sisinya.
cetak halaman ini
rangka kolam terpal bisa terbuat dari kayu, besi, bambu.
rangka kolam terpal dari kayu . Pembuatan rangka kolam terpal dari kayu membutuhkan bahan-bahan diantaranya yaitu : papan, kayu usuk, paku. Alat-alat yang digunakan adalah gergaji, palu, meteran.
Langkah awal pengerjaan kolam terpal yaitu mengukur papan-papan dan kayu usuk yang hendak dipotong disesuaikan dengan panjang yang telah direncanakan dalam sketsa dan gambar.
Bentuk rangka kolam terpal umumnya persegi panjang, ukuran rangka bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan luas lahan yang ada, bisa 2 x 1 x 1 m3, bisa 5 x 2 x 1 m3.
metode pengerjaan diselesaikan satu bagian- satu bagian yaitu mulai dari dasar, kemudian sisi-sisinya.
cetak halaman ini
Sabtu, 30 Januari 2010
kolam pembesaran ikan lele

kolam pembesaran ikan lele
konstruksi pematang kolam pembesaran ikan lele bisa terbuat dari kolam tembok atau kolam tanah, namun akan lebih menguntungkan jika pematangnya terbuat dari tembok mengingat sipat lele yang suka meloncat/merayap keluar kolam terutama pada malam hari.
pada foto di atas, kolam pembesaran ikan lele diberikan limbah bulu ayam, bulu ayam ini dijadikan sebagai pakan untuk lele. penggunaan pakan dari bulu ayam ini merupakan pakan alternatif yang merupakan salah satu cara untuk menghemat biaya pengeluaran pembelian pakan. selain limbah bulu ayam kita juga bisa memanfaatkan limbah dari jeroan ikan, ayam yang mati, dan sisa - sisa makanan dari rumah makan atau restoran.
cetak halaman ini
Selasa, 26 Januari 2010
bak pendederan benih ikan nila
foto ini menunjukan bak pendederan ikan nila ketika bak tersebut telah diberi pupuk, kapur dan garam. kegiatan pemupukan, pemberian kapur dan garam merupakan kegiatan persiapan kolam untuk dijadikan tempat pendederan benih ikan.
pupuk yang diberikan pada kegiatan persiapan kolam ini yaitu berupa pupuk kandang (kotoran ayam) dengan dosis 200 gram/m2, kapur dan garam masing-masing 5 gram/m2 m2.
setelah kolam tersebut dipupuk kemudian kolam diairi. setelah diairi bak tidak langsung ditanami benih ikan tetapi didiamkan kurang lebih 3 hari dan diberikan bibit pakan alami berupa zooplankton (Daphnia) sebagai pakan untuk benih.
cetak halaman ini
Kamis, 21 Januari 2010
Kegiatan membersihkan pematang kolam tanah
kegiatan pembersihan pematang kolam dilakukan ketika kolam akan dipakai untuk berbudidaya ikan. membersihkan pematang kolam yaitu membersihkan rumput- rumput yang tumbuh di pinggir pematang kolam, rumput ini perlu dibersihkan dan dibuang agar tidak mengganggu ikan yang akan dibudidayakan terutama bagi ikan yang masih kecil. karena apabila rumput tersebut dibiarkan tumbuh maka kemungkinan besar akan dijadikan sarang hama dan predator seperti ular dan lainnya.
membersihkan pematang kolam dapat menggunakan cangkul seperti yang terlihat pada foto di atas. membersihkan kolam dengan ukuran 20 x 15 m2 dapat diselesaikan sehari. Tehnik pencangkulan dilakukan secara teratur. selain fungsi yang telah disebutkan di atas, kegiatan pembersihan pematang kolam ini yaitu berfungsi juga untuk memperbaiki jika ada pematang yang rusak atau pun roboh akibat erosi
cetak halaman ini
Rabu, 20 Januari 2010
kolam / bak penjajaan ikan

kolam / bak penjajaan ikan
bak penjajaan ikan biasanya terbuat dari bak tembok. hal ini disebabkan bahwa bak tembok lebih kuat dan tahan lama. Ukuran bak penjajan ikan biasanya tidak terlalu besar. yaitu sekitar 2 x 1,5 m. Untuk bak penjajaan yang tidak mempunyai sumber air masuk biasanya menggunakan pompa air sebagai alat sirkulasi agar ikan tetap hidup dan segar. Sirkulasi air dengan menggunakan pompa ini berfungsi untuk mensuplai oksigen ke air di dalam bak. karena oksigen dalam bak ini relatif sedikit akibat dari kepadatan tinggi dan tidak adanya pergantian air baru. bak penjajaan ini dibuat tidak hanya satu buah tetapi bisa 5, 6, 7 maupun lebih tergantung dari kebutuhannya. banyaknya jumlah bak ini disesuaikan dengan ukuran dan macam-macam jenis ikan. jadi setiap bak diisi dengan satu jenis ikan dan dengan ukuran tertentu.
http://hobiikan.blogspot.com/
cetak halaman ini
Senin, 18 Januari 2010
Faktor Penting dalam pembuatan kolam terpal

Faktor Penting dalam pembuatan kolam terpal
Terdapat beberapa faktor penting yang harus diperhatikan dalam pembuatan kolam terpal, diantaranya sebagai berikut.
a. Jenis ikan yang akan dibudidayakan. Hal ini karena tidak semua ikan cocok dibudidayakan dalam kolam terpal. Bahkan, ada beberapa jenis ikan yang tidak cukup hanya dengan air sebagai media hidupnya, tetapi membutuhkan media tambahan berupa lumpur. Sebagai contoh, belut membutuhkan dasar kolam yang berlumpur tebal dan mengandung bahan organik.
b. Ukuran ikan. Hal ini karena ukuran ikan berpengaruh terhadap ketinggian kolam. Sebagai contoh, untuk benih gurami yang masih kecil tidak dianjurkan untuk diletakkan ke dalam kolam yang dibuat terlalu tinggi, tetapi sebaiknya cukup 60 cm dengan ketinggian air 20-40 cm.
c. Keseimbangan antara volume air dengan kerangka penyangganya harus kuat. Bila volume air atau volume media lumpur (untuk belut) bertekanan cukup besar, kerangka penyangganya harus kuat. Begitu pula dengan kemampuan bahan terpalnya, bila tipis, sebaiknya tidak meletakkan ikan dengan volume yang besar sehingga tidak jebol.
d. Dasar untuk peletakan kolam terpal harus rata, begitu pula dengan kerangka tidak berbahan tajam yang dapat membuat terpal sobek atau berlubang. Bila tanah dasar tidak rata, sebaiknya diberi lapisan dari pelepah batang pisang atau sekam padi. Untuk kerangka yang menggunakan bambu belah, sebaiknya belahannya diletakkan di bagian luar dan jika kerangkanya terbuat dari besi, sebaiknya jangan gunakan yang mudah berkarat karena bisa membuat terpal sobek.
e. Pada waktu panen dan pascapanen diperlukan perlakuan yang baik sehingga terpal tidak rusak dan dapat digunakan untuk operasional berikutnya.
f. Saluran pembuangan air kolam yang dibuat dengan cara melubangi terpal sebaiknya dilakukan dengan hati-hati sehingga terpal tidak bocor atau dengan membuat saluran pembuangan sistem kapiler (dengan selang sedot).
sumber : Cahyo Saparinto, Penebar Swadaya, 2009
----------------------------------------------------
budidaya ikan - Fish blogs : http://hobiikan.blogspot.com/
cetak halaman ini
Jumat, 08 Januari 2010
Kekurangan dan kelebihan kolam tanah dan kolam tembok dalam berbudidaya ikan

Kekurangan dan kelebihan kolam tanah dan kolam tembok dalam berbudidaya ikan
di sini akan dibahas kelebihan dan kekurangan kolam tanah dan kolam tembok dalam kita membudidayakan ikan.
kelebihan dan kekurangan kolam tanah
Membudidayakan ikan pada kolam tanah mempunyai beberapa kelebihan diantaranya yaitu : biaya yang dikeluarkan untuk mencetak kolam relatif murah, pada kolam tanah akan membantu penyediaan pakan alami untuk ikan terutama plankton, proses perombakan sisa pakan dan metabolisme bisa terjadi secara alami. kekurangannya yaitu kondisi kolam tanah rentan terhadap terjadinya kebocoran kolam akibat hewan perusak seperti kepiting, dan akibat tekanan air dari dalam dan luar kolam, terutama apabila hujan deras, pada kolam tanah sulit untuk mengontrol hewan predator, sulit mengontrol debit air yang masuk.
kelebihan dan kekurangan kolam tembok
kelebihan berbudidaya pada kolam tembok yaitu, kolam tembok tahan terhadap kebocoran akibat hewan, tahan terhadap tekanan air kolam, memudahkan dalam pengontrolan air dan hewan pengganggu, kualitas air bisa dikontrol lebih cermat. kekurangan dalam berbudidaya di kolam tembok, penyediaan pakan alami pada kolam tembok lebih sedikit, proses penguraian alami sulit terjadi, biaya yang dikeluarkan untuk mencetak kolam tembok lebih mahal.
cetak halaman ini
Senin, 28 Desember 2009
Kolam Beton
Kolam Beton
Beberapa hal yang harus dilakukan pada kolam yang pematang
maupun dasarnya dibeton sebelum dipergunakan adalah:
1. Dasar kolam dipupuk untuk membentuk lapisan lumpur buatan yang dibutuhkan bagi penumbuhan makanan alami. Lumpur buatan ini juga diperlukan untuk mereduksi panas matahari yang masuk ke dalam kolam, karena kolam akan terasa lebih sejuk jika ada lumpur buatan yang berasal dari pupuk ini.
2. Ke dalam kolam dimasukkan air untuk menghilangkan pengaruh semen. Selain itu juga untuk menjaga agar badan pematang yang masih berupa tanah tidak jebol akibat tekanan air dari dalam kolam.
3. Keringkan untuk menghilangkan pengaruh buruk semen yang biasanya menimbulkan efek basa dan panas dalam air.
4. Kolam diisi air kembali untuk lebih memastikan pengaruh buruk semen sudah hilang.
sumber : Heru Susanto, Penebar Swadaya, 2009
Beberapa hal yang harus dilakukan pada kolam yang pematang
maupun dasarnya dibeton sebelum dipergunakan adalah:
1. Dasar kolam dipupuk untuk membentuk lapisan lumpur buatan yang dibutuhkan bagi penumbuhan makanan alami. Lumpur buatan ini juga diperlukan untuk mereduksi panas matahari yang masuk ke dalam kolam, karena kolam akan terasa lebih sejuk jika ada lumpur buatan yang berasal dari pupuk ini.
2. Ke dalam kolam dimasukkan air untuk menghilangkan pengaruh semen. Selain itu juga untuk menjaga agar badan pematang yang masih berupa tanah tidak jebol akibat tekanan air dari dalam kolam.
3. Keringkan untuk menghilangkan pengaruh buruk semen yang biasanya menimbulkan efek basa dan panas dalam air.
4. Kolam diisi air kembali untuk lebih memastikan pengaruh buruk semen sudah hilang.
sumber : Heru Susanto, Penebar Swadaya, 2009
Sabtu, 26 Desember 2009
Kolam dengan Pematang Tembok
Kolam dengan Pematang Tembok
Perlakuan untuk kolam yang pematangnya ditembok sebelum dipergunakan adalah sebagai berikut.
1. Dasar kolam dicangkul untuk membentuk lapisan lumpur yang dibutuhkan untuk menumbuhkan makanan alami. Lumpur juga diperlukan untuk mencegah ikan masuk ke dalam kemalir (saluran tengah) ketika dilakukan panen ikan.
2. Ke dalam kolam dimasukkan air untuk menghilangkan pengaruh semen. Selain itu, untuk menjaga agar badan pematang yang masih berupa tanah tidak jebol akibat tekanan air dari dalam kolam.
3. Ratakan permukaan dasar kolam setelah dikeringkan agar tidak ada genangan air, sehingga benih ikan tidak terjebak di dasar kolam.
4. Kolam diisi air kembali untuk lebih memastikan pengaruh buruk semen sudah hilang.
sumber :Heru Susanto, Penebar Swadaya, 2009
Perlakuan untuk kolam yang pematangnya ditembok sebelum dipergunakan adalah sebagai berikut.
1. Dasar kolam dicangkul untuk membentuk lapisan lumpur yang dibutuhkan untuk menumbuhkan makanan alami. Lumpur juga diperlukan untuk mencegah ikan masuk ke dalam kemalir (saluran tengah) ketika dilakukan panen ikan.
2. Ke dalam kolam dimasukkan air untuk menghilangkan pengaruh semen. Selain itu, untuk menjaga agar badan pematang yang masih berupa tanah tidak jebol akibat tekanan air dari dalam kolam.
3. Ratakan permukaan dasar kolam setelah dikeringkan agar tidak ada genangan air, sehingga benih ikan tidak terjebak di dasar kolam.
4. Kolam diisi air kembali untuk lebih memastikan pengaruh buruk semen sudah hilang.
sumber :Heru Susanto, Penebar Swadaya, 2009
Jumat, 25 Desember 2009
Kondisi Dasar Tambak ( Metode Pengamatan)
Kotoran di dasar tambak biasanya berupa lumpur hitam yang mengendap di dasar serta mengandung H2S dan NH3 yang bersifat asam dalam dosis tertentu dapat membahayakan bagi udang. Kotoran ini berasal dari proses metabolisme yang dilakukan oleh organisme perairan tersebut, mortalitas plankton dan sisa pakan udang yang tidak terkonsumsi serta pengaruh dari treatment budidaya lainnya. Keberadaan lumpur hitam di dasar tambak dapat teramati melalui cara antara lain:
1. Pengamatan warna kulit/khitin udang melalui sampling berkala maupun pengamatan ancho. Kondisi dasar tambak yang kotor dan penuh lumpur biasanya berdampak pada penampakan kulit udang yang cenderung berwarna lebih gelap dari keadaan normal. Pada saat dilakukan sampling sampling kotoran dasar tambak/lumpur biasanya ikut terbawa pada jala yang ditebarkan ke dalam tambak.
2. Pengecekkan langsung ke dasar tambak dengan melakukan penyelaman untuk melihat kondisi dasar tambak dan kondisi udang.
3. Melihat saluran pembuangan air tambak pada saat dilakukan sirkulasi air dengan memperhitungkan jangka waktu yang dibutuhkan untuk mengeluarkan kotoran/lumpur tersebut. Pada kegiatan ini juga perlu diperhatikan tingkat kelancaran saluran pembuangan dalam mengeluarkan air tambak, jika terjadi penyumbatan maka dibutuhkan identifikasi lanjutan terhadap penyebab penyumbatan tersebut. Faktor lain yang juga perlu dipertimbangkan adalah keberadaan bangkai udang yang ikut terbawa keluar bersama air tambak berdasarkan jumlah dan kondisi bangkai udang tersebut agar dapat diambil alternatif keputusan yang mengarah pada harvesting decision ataupun treatment decision.
4. Pengamatan terhadap permukaan air tambak pada saat kincir air tidak dioperasikan. Kondisi dasar tambak yang kotor dan penuh lumpur biasanya mengeluarkan gelembung-gelembung udara yang muncul dari dasar tambak ke arah permukaan air, jika di permukaan tambak banyak dijumpai fenomena ini maka kondisi dasar tambak relatif sangat kotor dan penuh lumpur.
Pemantauan kondisi dasar tambak perlu dilakukan secara cermat baik melalui pengamatan berkala maupun yang bersifat insidental agar permasalahan yang terjadi dapat segera ditangani. Permasalahan cukup serius yang biasanya terjadi adalah kematian udang di dasar tambak karena berbagai permasalahan yang tidak terdeteksi. Kematian udang di dasar tambak yang disebabkan oleh proses moulting biasa dijumpai dan bersifat alamiah karena adanya kanibalisme dari udang lainnya dalam kuantitas masih berada pada batas toleransi yang ditetapkan. Sedangkan kematian udang di dasar tambak yang bersifat massal dan disebabkan oleh permasalahan yang tidak terdeteksi biasanya bangkai udang terkonsentrasi di sentral pembuangan dan pada tingkat yang lebih parah bangkai udang menyebar di dasar tambak.
sumber :http://marindro-ina.blogspot.com
1. Pengamatan warna kulit/khitin udang melalui sampling berkala maupun pengamatan ancho. Kondisi dasar tambak yang kotor dan penuh lumpur biasanya berdampak pada penampakan kulit udang yang cenderung berwarna lebih gelap dari keadaan normal. Pada saat dilakukan sampling sampling kotoran dasar tambak/lumpur biasanya ikut terbawa pada jala yang ditebarkan ke dalam tambak.
2. Pengecekkan langsung ke dasar tambak dengan melakukan penyelaman untuk melihat kondisi dasar tambak dan kondisi udang.
3. Melihat saluran pembuangan air tambak pada saat dilakukan sirkulasi air dengan memperhitungkan jangka waktu yang dibutuhkan untuk mengeluarkan kotoran/lumpur tersebut. Pada kegiatan ini juga perlu diperhatikan tingkat kelancaran saluran pembuangan dalam mengeluarkan air tambak, jika terjadi penyumbatan maka dibutuhkan identifikasi lanjutan terhadap penyebab penyumbatan tersebut. Faktor lain yang juga perlu dipertimbangkan adalah keberadaan bangkai udang yang ikut terbawa keluar bersama air tambak berdasarkan jumlah dan kondisi bangkai udang tersebut agar dapat diambil alternatif keputusan yang mengarah pada harvesting decision ataupun treatment decision.
4. Pengamatan terhadap permukaan air tambak pada saat kincir air tidak dioperasikan. Kondisi dasar tambak yang kotor dan penuh lumpur biasanya mengeluarkan gelembung-gelembung udara yang muncul dari dasar tambak ke arah permukaan air, jika di permukaan tambak banyak dijumpai fenomena ini maka kondisi dasar tambak relatif sangat kotor dan penuh lumpur.
Pemantauan kondisi dasar tambak perlu dilakukan secara cermat baik melalui pengamatan berkala maupun yang bersifat insidental agar permasalahan yang terjadi dapat segera ditangani. Permasalahan cukup serius yang biasanya terjadi adalah kematian udang di dasar tambak karena berbagai permasalahan yang tidak terdeteksi. Kematian udang di dasar tambak yang disebabkan oleh proses moulting biasa dijumpai dan bersifat alamiah karena adanya kanibalisme dari udang lainnya dalam kuantitas masih berada pada batas toleransi yang ditetapkan. Sedangkan kematian udang di dasar tambak yang bersifat massal dan disebabkan oleh permasalahan yang tidak terdeteksi biasanya bangkai udang terkonsentrasi di sentral pembuangan dan pada tingkat yang lebih parah bangkai udang menyebar di dasar tambak.
sumber :http://marindro-ina.blogspot.com
Rabu, 23 Desember 2009
Kolam pemijahan udang galah
Kolam pemijahan udang galah
Udang galah (Macrobrochium rosenbergii) bisa dikawinkan di dalam kolam pemijahan. Kematangan telur udang betina yang siap dibuahi induk jantan dapat dilihat dari perkembangan ovarium yang terletak di bagian punggung (dorsal) dari tubuh udang (cepholothorox).
Kolam pemijahan udang galah dilengkapi dengan shelter (peneduh) dan tempat bersembunyi bagi induk karena udang galah tergolong binatang nockturnal.
sumber : Heru Susanto, Penebar Swadaya, 2009
Udang galah (Macrobrochium rosenbergii) bisa dikawinkan di dalam kolam pemijahan. Kematangan telur udang betina yang siap dibuahi induk jantan dapat dilihat dari perkembangan ovarium yang terletak di bagian punggung (dorsal) dari tubuh udang (cepholothorox).
Kolam pemijahan udang galah dilengkapi dengan shelter (peneduh) dan tempat bersembunyi bagi induk karena udang galah tergolong binatang nockturnal.
sumber : Heru Susanto, Penebar Swadaya, 2009
Kolam pemijahan belut
Kolam pemijahan belut
Sekeliling kolam pemijahan belut biasanya ditembok, karena belut termasuk non ikan yang suka menembus dinding pematang untuk membuat sarang. Sehingga tidak jarang berakibat pada bocornya kolam belut. Kolam pemijahan belut umumnya hanya berukuran 10-20 m2. Dasar kolam yang berjarak 1 m dari pematang dicangkul agar terbentuk lumpur. Kolam diberi pupuk kandang dengan dosis 3 kg/m2 yang disebarkan ke permukaan dasar kolam yang sudah dicangkul tadi. Kolam diisi air setinggi 20 cm di bagian terdalam dan 15 cm di bagian terdangkal. Induk belut yang dimasukkan akan membuat sarang pada bagian dasar yang gembur.
sumber : Heru Susanto, Penebar Swadaya, 2009
Sekeliling kolam pemijahan belut biasanya ditembok, karena belut termasuk non ikan yang suka menembus dinding pematang untuk membuat sarang. Sehingga tidak jarang berakibat pada bocornya kolam belut. Kolam pemijahan belut umumnya hanya berukuran 10-20 m2. Dasar kolam yang berjarak 1 m dari pematang dicangkul agar terbentuk lumpur. Kolam diberi pupuk kandang dengan dosis 3 kg/m2 yang disebarkan ke permukaan dasar kolam yang sudah dicangkul tadi. Kolam diisi air setinggi 20 cm di bagian terdalam dan 15 cm di bagian terdangkal. Induk belut yang dimasukkan akan membuat sarang pada bagian dasar yang gembur.
sumber : Heru Susanto, Penebar Swadaya, 2009
Kolam pemijahan ikan betutu
Kolam pemijahan ikan betutu
tehnik memijahkan ikan betutu (Oxyeleotris marmoroto) dilakukan dengan dua cara, yaitu pemijahan secara alami dan pemijahan secara induksi (kawin suntik).
pada pemijahan alami tidak mengenal musim, bisa 3-4 kali dalam satu tahun. ikan betutu mempunyai keinginan untuk memijah biasanya ketika musim hujan. pada musim hujan perkembangbiakan ikan betutu ini akan meningkat. Pada puncak musim kemarau (Juli-September) betutu agak malas untuk berkembangbiak, tetapi pada pemeliharaan intensif ikan betutu ini dapat memijah dengan pemberian pakan yang berkualitas.
Pemijahan secara alami dilaksanakan di kolam pemijahan yang berukuran 20 x 10 m2 dengan kedalaman air 70-80 cm atau pada bak semen yang lebih sempit. Debit air dijaga sekitar 25 liter/menit.
pada kolam pemijahan dilengkapi dengan sarang berbentuk segitiga yang terbuat dari asbes yang disatukan, berukuran 30 cm. Tempat penempel telur ini sekaligus menjadi kolektor telur.
tehnik memijahkan ikan betutu (Oxyeleotris marmoroto) dilakukan dengan dua cara, yaitu pemijahan secara alami dan pemijahan secara induksi (kawin suntik).
pada pemijahan alami tidak mengenal musim, bisa 3-4 kali dalam satu tahun. ikan betutu mempunyai keinginan untuk memijah biasanya ketika musim hujan. pada musim hujan perkembangbiakan ikan betutu ini akan meningkat. Pada puncak musim kemarau (Juli-September) betutu agak malas untuk berkembangbiak, tetapi pada pemeliharaan intensif ikan betutu ini dapat memijah dengan pemberian pakan yang berkualitas.
Pemijahan secara alami dilaksanakan di kolam pemijahan yang berukuran 20 x 10 m2 dengan kedalaman air 70-80 cm atau pada bak semen yang lebih sempit. Debit air dijaga sekitar 25 liter/menit.
pada kolam pemijahan dilengkapi dengan sarang berbentuk segitiga yang terbuat dari asbes yang disatukan, berukuran 30 cm. Tempat penempel telur ini sekaligus menjadi kolektor telur.
Langganan:
Postingan (Atom)
