Senin, 24 Oktober 2011

CIRI VISUAL PRODUK PERIKANAN YANG MENGANDUNG BORAX


CIRI VISUAL PRODUK PERIKANAN YANG MENGANDUNG BORAX

            Borax: merupakan senyawa berbentuk Kristal, berwarna putih, tidak berbau dan larut dalam air. Borax bersifat karsinogenik. Yaitu senyawa yang dapat menimbulkan tumor/kanker.
Kegunaan Borax :
-          Bahan antiseptik (membunuh bakteri dan kapang)
-          Bahan pembuatan gula
-          Bahan pembuat salep
-          Mematri logam
-          Pengawet kayu

Efek Borax terhadap kesehatan :
            Bila mengkonsumsi produk yang mengandung borax dapat mengakibatkan:
-          Kerusakan susunan syaraf pusat
-          Kerusakan ginjal
-          Demam dan sakit kepala
-          Muntah darah

Ciri-ciri visual produk perikanan (bakso ikan) yang mengandung borax:
-          Tekstur kenyal
-          Rasa tepung kecut

Sumber : Tabloid Akuamina Edisi 4 Tahun I, 22 Desember 2010-4 Januari 2011

Sabtu, 22 Oktober 2011

CIRI VISUAL PRODUK PERIKANAN YANG MENGANDUNG ZAT PEWARNA

CIRI VISUAL PRODUK PERIKANAN YANG MENGANDUNG ZAT PEWARNA

Penggunaan zat pewarna sebagai bahan tambahan pada makanan bertujuan memberi kesan menarik, menyeragamkan warna dan memperbaiki penangkapan.

Zat pewarna ada 3 (tiga) yaitu : pewarna alami, pewarna yang identik dengan alami dan pewarna sintetik.

Zat pewarna yang umum digunakan dalam hasil perikanan adalah pewarna sintetis seperti rhodamin B, Wantex, ponceau 3 R dan mettanyl c yellow yang sebetulnya digunakan untuk pewarana tekstil dan cat. Pewarna ini tidak diperbolehkan untuk dikonsumsi manusia (Permenkes No. 239 Tahun 1985) karena mengandung logam berat dan diperkirakan dapat menimbulkan kanker.

Zat warna yang dilarang : Rhodamin B, methanyl c yellow, orange RN, erythrosine, tatrazine, kuning FCF, Briliant Blue, Ponceau 4 R dll.

Zat warna yang diizinkan : Auromino dll. Efek Zat pewarna terhadap kesehatan : Bila mengkonsumsi produk yang mengandung zat pewarna yang dilarang dapat mengakibatkan: - Kanker kandung kemih - Kerusakan hati/kanker hati - Kerusakan mata/rabun

 Ciri-ciri visual produk perikanan (kerang rebus) yang mengandung borax: - Penampakan bersih, cerah dan menarik Warna merah/kuning cerah merata

Sumber : Tabloid Akuamina Edisi 4 Tahun I, 22 Desember 2010-4 Januari 2011

Jumat, 21 Oktober 2011

CIRI VISUAL PRODUK PERIKANAN YANG MENGANDUNG FORMALIN

CIRI VISUAL PRODUK PERIKANAN YANG MENGANDUNG FORMALIN Formalin : merupakan cairan tak berwarna dan berbau tajam/pedas, tergolong carsinogenic, yaitu senyawayang dapat menimbulkan tumor/kanker. Kegunaan formalin : - Bahan anti septic (membunuh bakteri dan kapang) - Bahan pembuatan cermin kaca - Pupuk - Pencegah korosi - Bahan untuk insulasi - Bahan perekat Efek formalin terhadap kesehatan : Bila mengkonsumsi produk yang mengandung formalin dapat mengakibatkan : - Kerusakan susunan syaraf pusat - Kerusakan hati - Kerusakan jantung dan paru - Kerusakan ginjal - Kanker Ciri-ciri visual produk perikanan yang mengandung formalin - Penampakan luar bersih dan cemerlang - Tekstur daging padatdan kenyal - Mata ikan merah dan insang pucat - Sedikit lender - Bau amis (spesifik ikan ) berkurang dan ada seperti bau kaporit - Lalat kurang/ tidak mau hinggap. Sumber : Tabloid Akuamina Edisi 4 Tahun I, 22 Desember 2010-4 Januari 2011

Rabu, 19 Oktober 2011

TEKNIK PRODUKSI MASSAL CACING TUBIFEX


TEKNIK PRODUKSI MASSAL CACING TUBIFEX

                Cacing Tubifex sp dikenal dengan nama cacing sutera maupun cacing rambut merupakan pakan alami yang belum tergantikan keberadaannya. Sejauh ini usaha budidaya cacing-cacing sutera belum banyak dilakukan dan hanya mengandalkan pasokan dari alam.
                Istilah produksi  massal cacing   tubifex  adalah upaya menumbuhkan dan mengembangbiakan cacing ini di dalam tempat (media) pemeliharaan yang terkontrol, berupa kubangan tanah berlumpur dan tergenang air.
TAHAPAN KEGIATAN PRODUKSI CACING TUBIFEX SP:
1.       SIAPKAN LAHAN : Lahan yang digunakan berupa saluran drainase permanen yan berukuran panjang 10 m, lebar 20 cm, dan tinggi (kedalaman ) 15 cm.
2.       PEMBUATAN MEDIA KULTUR : Bahan yang digunakan sebagai media kultur terdiri dari lumpur, pupuk kandang, dedak halus, tepung ikan serta pakan buatan. Bahan yang telah disiapkan dicampur rata dan ditaruh secara merata pada tempat kultur yang sebelumnya telah dibuatkan sekat yang terbuat dari papan sebagai penahan lumpur.
3.       MASUKKAN AIR SECARA PERLAHAN pada media kultur dengan mengalir. Media dibiarkan sampai 4 atau 5  hari untuk menghilangkan gas yang dihasilkan oleh pupuk kandang.
4.       PENEBARAN BIBIT.Bibit tubifex sebanyak 200 gr dimasukkan ke dalam ember atau baskom kemudian disiram air agar gumpalan buyar. Cacing tubifex  yang sudah  terurai ini kemudian ditebar ke seluruh permukaan di media budidaya secara merata. Seterusnya atur aliran air yang masuk ke dalam media terus dikontrol jangan sampai tempat budidaya kering atau kelebihan air.
5.       PASANG PAPAN PENUTUP di atas media kultur untuk menghindari cahaya matahari langsung.
6.       PEMELIHARAAN . Masa pemeliharaan cacing tubifex sekitar 3-4 minggu. Bila kondisi lingkungan cocok dan jumlah pakannya cukup, bibit cacing itu akan berkembang pesat dan dapat dipanen setiap 5 hari sekali.
7.       PANEN. Panen dilakukan dengan cara cacing tubifex diambil dengan tangan beserta lumpurnya. Kemudian ditaruh dalam seser larva yang halus dan dicuci di air mengalir. Dan lebih baiknya dicuci di atas media budidaya agar lumpurnya bias dimanfaatkan lagi. Cacing tubifex yang sudah dicuci tapi belum begitu bersih ditaruh di talang atau pada kotak steroform dan diisi air setinggi 2-3 mm di atas gumpalan cacing dan lumpur, dan di atasnya ditaruh kain strimin. Tutup talang atau steroform selama 2-3 jam, maka cacing akan terpisah dari lumpur dan kotoran lainnya. Selanjutnya cacing yang sudah bersih disimpan pada steroform ayang dialiri air secara terus menerus.
SUMBER : TABLOID AKUAMINA EDISI 4 TAHUN I, 22 DESEMBER 2010-4 JANUARI 2011.

Selasa, 11 Oktober 2011

Masyarakat Pantai Selatan Sepaham

Masyarakat Pantai Selatan Sepaham CILACAP. KOMPAS - Penyelamatan Laguna Segara Anakan di Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, memasuki babak baru setelah tokoh masyarakat di Pantai Pangandaran, Ciamis, Jawa Barat, diklaim menyetujui rencana penyudetan Sungai Citanduy. Saat itu, pemkab setempat masih menunggu keputusan pemerintah pusat terkait alokasi anggaran proyek yang bernilai sekitar Rp 3 triliun. Kepala Dinas Kelautan Perikanan dan Pengelola Sumber Daya Kawasan Segara Anakan Kabupaten Cilacap Mochammad Harmanto, Senin (10/10), mengatakan, segelintir warga di Pantai Pangandaran sejauh ini menolak keras penyudetan Sungai Citanduy karena dikhawatirkan mengganggu produksi ikan tangkap di perairan selatan Ciamis. Saat ini mereka sudah memahami pentingnya upaya penyelamatan Segara Anakan. "Semua pihak sudah saatnya menyadari, penyelamatan Segara Anakan tak hanya untuk kepentingan Cilacap, melainkan untuk seluruh daerah di perairan selatan Pulau Jawa." paparnya. Mengacu pada penelitian Science for the Protection of Indonesian Coastal Marine Ecosystems (Spice) kerja sama Kementerian Riset dan Teknologi dengan sejumlah perguruan tinggi nasional, kerusakan ekosistem Segara Anakan akibat sedimentasi mencapai satu juta meter kubik per tahun. Hal itu telah mengganggu habitat perikanan laut di Samudra Hindia Selatan. Laju sedimentasi tersebut banyak disumbang oleh lumpur dari Sungai Citanduy yang mencapai 760.000 meter kubik per tahun dan sisanya dari Sungai Cimeneng, Cibeureum. dan Cikonde. Bunaken kotor Dari Manado dilaporkan, keberadaan Taman Laut Nasional Bunaken sebagai obyek wisata andalan mendapat protes dari banyak pihak. Banyak wisatawan mancanegara kesal dengan kondisi Bunaken yang selalu kotor. Tokoh masyarakat Bunaken. Billy Yohanis, Senin kemarin di Manado, mengatakan, sampah setiap hari selalu mengotori Bunaken, mengganggu wisatawan yang ke sana. "Kami kesal dengan kondisi ini sebab hampir tiap hari turis memprotes masalah sampah," katanya. Menurut Billy, beberapa turis asing beberapa waktu lalu sempat memarahi petugas dari Badan Pengelola Taman Nasional Laut Bunaken saat menagih retribusi penyelaman Rp 150.000 setiap orang. "Saya mau bayar asal tempat ini (Bunaken) bersih." katanya Saking kesalnya, para turis itu mengadukan masalah sampah ke sebuah kantor media harian lokal di Manado. (GRE/ZAL) Sumber: Kompas,11Oktober2011, Hal.22

Sabtu, 08 Oktober 2011

Kemhut Patenkan Arwana

Kemhut Patenkan Arwana KEMENTERIAN Kehutanan (Kemhut) tengah mengusahakan hak paten internasional terhadap ikan jenis arwana. Permohonan hak paten internasional itu telah didaftarkan melalui World Intellectual Properly Organization (WIPO). Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kemhut, Darori berharap, hak paten internasional itu bisa diperoleh pada tahun 2011. Permohonan hak paten ini pertama kali diusulkan oleh kalangan pecinta ikan arwana di dalam negeri. Alasannya, arwana merupakan ikan asli Indonesia yang hidup di perairan Sumatera, Kalimantan dan Papua Selain asli Indonesia, ikan arwana juga merupakan hewan yang dilindungi pemerintah sesuai dengan Undang Undang No. 5 Tahun 1990 tentangKonservasi Sumberdaya Alam Hayati. Untuk memperkuat permohonan hak patten Itu, Kemhut telah membuat tim yang akan melakukan pembuktian bahwa ikan arwanatersebut asli Indonesia. Menurut Darori, tim tersebut terdiri dari Kemhut, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Kementerian Hukum dan HAM dan beberapa perguruan tinggi. "Saat ini. surat keputusan penunjukan anggota tim sedang diproses. Nantinya, tim kami akan memiliki kriteria-kriteria pembuktian apakah ikan arwana itu milik kita atau bukan," jelasnya Nantinya, hasil kajian tim akan dikirimkan! ke WIPO. Ikan arwana yang terdapat di Indonesia terdiri dari dua jenis, yaitu Scleropages formosus dan Scleropages jardini Jenis pertama memiliki tiga varietas yaitu arwana merah (super red), merah keemasan (golden red) dan hijau (green) yang bersebaran di beberapa daerah Kalimantan dan Sumatera Sementara jenis Scleropages jardini lebih dikenal dengan jenis arwana irian atau arwana hitam yang terdapat di daerah Papua Dwi Nur Oktaviani Sumber: HarianKontan,07Oktober2011, Hal.20

Selasa, 04 Oktober 2011

Cara Pembuatan Kolam Air Tenang (KAT)

Tempat Pemeliharaan ikan dapat dilakukan di kolam, sawah, karamba, jaring apung, kolam/bak terpal, akuarium dll. Dalam hal pemeliharaan ikan di kolam dapat di bagi menjadi tiga yaitu pemeliharaan ikan di kolam air tenang, Kolam air deras dan kolam terpal.
Kolam Air Tenang
Ikan yang dipelihara di kolam air tenang dan biasa hidup adalah jenis ikan gurame, nila, sidat, lele, gabus.
Kolam Air tenang ini mempunyai berapa bagian diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Pematang
Pematang dibuat dengan bentuk trapesium, pematang agar tidak mudah roboh atau longsor dibuat lebar pada bagian bawahnya. Kemiringan pematang sebaiknya tidak lebih dari 45 derajat. Dalam membuat kolam pembesaran ikan kedalaman kolam yaitu sekitar 100 – 150 cm, ketinggian air kolam bisa diatur dari ketinggian 50 – 120 cm, ketinggian ini tergantung dari ukuran bibit dan padat penebaran ikan yang ditanam. Bila ikan yang dipeliharaan mulai besar maka ketinggian air kolam ini bisa ditambah menjadi 120 cm.
2. Dasar kolam
Agar kolam bisa kering dan untuk mempermudah dalam pemanenan ikan maka dasar kolam ini harus dibuat miring.Derajat Kemiringan dasar kolam ini cukup 1%, artinya tiap 100cm dasar kolam miring 1 cm. Kemiringan dasar kolam ini diarahkan kepada kowean dan caren
3. Kowean dan caren
kowean pada kolam dibuat ditengah kolam atau bisa juga dibuat dipinggir kolam budidaya ikan. Ukuran kowean 1 x 1 x 0,4 m diberi tangul keliling sehingga akan terbentuk bak di dalam kolam. Dibuatnya kowean ini berfungsi untuk menebar bibit atau menampung ikan pada saat kolam disurutkan. Caren dibuat dengan lebar 50 – 70 cm, dalamnya 25 – 30 cm. Caren berfungsi untuk menggiring ikan masuk ke kowean saat ikan di panen.
4. Saluran pemasukan dan pembuangan air
Untuk saluran pemasukan air kolam (in-let) dibuat didekat saluran utama (main-inlet), saluran masuk dan saluran air keluar (out-let) harus dibuat terpisah.