Orang paling banyak menangkap ikan
dengan satu tangan dalam 30 detik
Nama : Justin Hall
Lokasi : Jerman
Waktu : 23 Februari 2002
Keterangan : Justin Hall menangkap 22
salmon dengan berat antara 1,81 dan 2,72
kg dengan menggunakan satu tangan,
yang telah dilemparkan oleh Jaison Scott
(USA) dari jarak 5,84 meter pada tanggal
23 Februari 2002 yang disaksikan oleh
Guinness World Records di Jerman.
Pasangan itu bekerja di Pike Plaice Market,
Seattle, Washington, USA.
Tampilkan postingan dengan label Penangkapan IKan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penangkapan IKan. Tampilkan semua postingan
Rabu, 15 Februari 2012
Kamis, 02 April 2009
Seine Net (Pukat Kantong)
Seine Net (Pukat Kantong)
Di Indonesia Seine Net disebut juga Pukat Kantong, karena jaringnya memiliki kantong dan 2 (dua) buah sayap, yang umumnya memiliki tali yang panjang.
Bentuk Pukat Kantong terdiri dari bagian kanton (cod-end) berbentuk empat persegipanjang, bagian badan bentuknya seperti trapesium memanjang. Pada bagian-bagian tersebut ditautkan tali penguat yang dihubungkan dengan tali ris atas (head rope) dan tali ris bawah (foot rope), dilengkapi dengan pelampung (float) dan pemberat (singker).
Tempat operasi penangkapannya dapat dikelompokkan menjadi Pukat Pantai (beach seine) yang dioperasikan di tepi pantai dan PukatTengah dengan pengoperasiannya agak jauh dari pantai.
sumber : Dinas Perikanan propinsi Jabar, 2008
Di Indonesia Seine Net disebut juga Pukat Kantong, karena jaringnya memiliki kantong dan 2 (dua) buah sayap, yang umumnya memiliki tali yang panjang.
Bentuk Pukat Kantong terdiri dari bagian kanton (cod-end) berbentuk empat persegipanjang, bagian badan bentuknya seperti trapesium memanjang. Pada bagian-bagian tersebut ditautkan tali penguat yang dihubungkan dengan tali ris atas (head rope) dan tali ris bawah (foot rope), dilengkapi dengan pelampung (float) dan pemberat (singker).
Tempat operasi penangkapannya dapat dikelompokkan menjadi Pukat Pantai (beach seine) yang dioperasikan di tepi pantai dan PukatTengah dengan pengoperasiannya agak jauh dari pantai.
sumber : Dinas Perikanan propinsi Jabar, 2008
Jumat, 27 Maret 2009
Jala Lempar ( Cash Net)

Jala lempar merupakan alat tangkap yang sederhana dan tidak membutuhkan biaya yang besar dalam pembuatan. Bahannya terbuat dari nilon multifilamen atau dari monofilamen, diameternya berkisar 3 - 5 m. Bagian kaki jaring diberikan pemberat terbuat dari timah.
Jala lempar dioperasikan menggunakan tenaga manusia, cara melemparnya menggunakan teknik-teknik tertentu (Gambar 4.23). Alat ini banyak dioperasikan di perairan seperti ; sungai, waduk dan danau serta perairan pantai berkedalaman berkisar 0,5 - 10 m. Jenis ikan yang umum ditangkap adalah jenis ikan yang bermigrasi ke daerah pantai seperti ; ikan belanak, julung-julung, udang dan lain-lain.
sumber : Dinas Perikanan Propinsi Jabar, 2008
pukat sotong
Di Malaysia alat tangkap ini khususnya digunakan untuk menangkap Cumi-cumi dengan menggunakan cahaya sebagai alat bantu dan kapal fiberglass berukuran panjang 15,9 m dan lebar 3,6 m (Shahardin dan Mohd Said, 1989).
Alat ini dilengkapi dengan lampu dan jaring, menggunakan bingkai lampu yang panjangnya 4,6 m dan bingkai jaring 11,6 m berdiameter 10,2 cm. Lampu yang digunakan sebanyak 12 buah berkekuatan 500 watt/buah untuk menjangkau jarak 50 m di sekeliling kapal. Jaringnya terbuat dari nylon berbentuk segi empat. Kaki jaring berukuran 9,84 x 6,77 m, ukuran mata jaring 2,4 cm. Bagian mulut jaring dipasang cincin berdiameter 2,4 cm, jarak tiap cincin 0,76 m ditambahkan pemberat yang terbuat dari timah (Gambar4.21).
Operasi penangkapan dilakukan malam hari saat bulan gelap. Setelah menentukan lokasi (fishing ground) Lampu dinyalakan pada setiap sisi kapal, apabila kumpulan Cumi-cumi terlihat berkumpul disekitar kapal, lampu dipadamkan pada salah satu sisi kapal sehingga kumpulan Cumi-cumi akan terkonsentrasi di sisi kapal yang lebih terang dimana telah dipasang jaring (Gambar 4.22).
sumber : Dinas Perikanan Propinsi Jabar, 2008
Alat ini dilengkapi dengan lampu dan jaring, menggunakan bingkai lampu yang panjangnya 4,6 m dan bingkai jaring 11,6 m berdiameter 10,2 cm. Lampu yang digunakan sebanyak 12 buah berkekuatan 500 watt/buah untuk menjangkau jarak 50 m di sekeliling kapal. Jaringnya terbuat dari nylon berbentuk segi empat. Kaki jaring berukuran 9,84 x 6,77 m, ukuran mata jaring 2,4 cm. Bagian mulut jaring dipasang cincin berdiameter 2,4 cm, jarak tiap cincin 0,76 m ditambahkan pemberat yang terbuat dari timah (Gambar4.21).
Operasi penangkapan dilakukan malam hari saat bulan gelap. Setelah menentukan lokasi (fishing ground) Lampu dinyalakan pada setiap sisi kapal, apabila kumpulan Cumi-cumi terlihat berkumpul disekitar kapal, lampu dipadamkan pada salah satu sisi kapal sehingga kumpulan Cumi-cumi akan terkonsentrasi di sisi kapal yang lebih terang dimana telah dipasang jaring (Gambar 4.22).
Rabu, 25 Maret 2009
JENIS - JENIS BAHAN PENGAWET DALAM PEMELIHARAAN ALAT TANGKAP
JENIS - JENIS BAHAN PENGAWET DALAM PEMELIHARAAN ALAT TANGKAP
Agar Alat-alat penangkap ikan tetap awet, terutama yang terbuat dari serat alami, para nelayan Sering menggunakan bahan-bahan tertentu dalam proses perawatanya, diantaranya
Bahan Pengawet Hewani
Bahan-bahan pengawet yang berasat dari binatang/hewan, yaitu :
1. Putih Tetur
Cara pengawetannya adalah
• Dari kurang lebih 10 butir tetur diambil putihnya saja, lalu ditampung pada suatu wadah/tempat, seperti wajan atau ember;
• Bahan yang akan diawetkan biasanya Lawe (Lawe yaitu suatu bahan serat yang apabila dipintal akan menjadi benang) dimasukkan ke dalam tempat yang telah diisi dengan putih telur;
• Kemudian setelah semua masuk, aduk-aduk selama kurang lebih 10 - 15 menit hingga merata dan cairan putih telurnya meresap;
• Lalu dikeringkan dengan jalan dijemur ditempat yang tidak tertalu panas (teduh) dan diangin-angikan.
2. Darah Kerbau
Biasanya alat yang akan diawetkan dengan darah kerbau, sebelumnya tetah diawetkan dengan menggunakan putih tetur (pengawet hewani) atau tingi (pengawet dari tumbuh-tumbuhan). Peralatan yang dibutuhkan datam pengawetan dengan menggunakan darah kerbau, yaitu ; tungku pemanas dan drum atau wajan yang terbuat dari tanah. Adapun cara pengawetannya, antara lain :
■ Alat yang akan diawetkan dicelupkan ke dalam drum/wajan yang berisikan darah kerbau yang masih segar, terus aduk-aduk hingga merata, kurang lebih 15 menit;
■ Setelah merata lalu dikukus selama kurang lebih 10 - 15 menit;
• Setelah pengukusan terus dikeringkan dengan jalan dijemur di tempat yang agak teduh dan diangi-anginkan;
■ Darah kerbau yang masih menempel pada alat, saat proses pengeringan harus digosok-gosok supaya rata dan memadat
sumber : Dinas Perikanan Propinsi jabar 2008
Agar Alat-alat penangkap ikan tetap awet, terutama yang terbuat dari serat alami, para nelayan Sering menggunakan bahan-bahan tertentu dalam proses perawatanya, diantaranya
Bahan Pengawet Hewani
Bahan-bahan pengawet yang berasat dari binatang/hewan, yaitu :
1. Putih Tetur
Cara pengawetannya adalah
• Dari kurang lebih 10 butir tetur diambil putihnya saja, lalu ditampung pada suatu wadah/tempat, seperti wajan atau ember;
• Bahan yang akan diawetkan biasanya Lawe (Lawe yaitu suatu bahan serat yang apabila dipintal akan menjadi benang) dimasukkan ke dalam tempat yang telah diisi dengan putih telur;
• Kemudian setelah semua masuk, aduk-aduk selama kurang lebih 10 - 15 menit hingga merata dan cairan putih telurnya meresap;
• Lalu dikeringkan dengan jalan dijemur ditempat yang tidak tertalu panas (teduh) dan diangin-angikan.
2. Darah Kerbau
Biasanya alat yang akan diawetkan dengan darah kerbau, sebelumnya tetah diawetkan dengan menggunakan putih tetur (pengawet hewani) atau tingi (pengawet dari tumbuh-tumbuhan). Peralatan yang dibutuhkan datam pengawetan dengan menggunakan darah kerbau, yaitu ; tungku pemanas dan drum atau wajan yang terbuat dari tanah. Adapun cara pengawetannya, antara lain :
■ Alat yang akan diawetkan dicelupkan ke dalam drum/wajan yang berisikan darah kerbau yang masih segar, terus aduk-aduk hingga merata, kurang lebih 15 menit;
■ Setelah merata lalu dikukus selama kurang lebih 10 - 15 menit;
• Setelah pengukusan terus dikeringkan dengan jalan dijemur di tempat yang agak teduh dan diangi-anginkan;
■ Darah kerbau yang masih menempel pada alat, saat proses pengeringan harus digosok-gosok supaya rata dan memadat
sumber : Dinas Perikanan Propinsi jabar 2008
Selasa, 24 Maret 2009
Covering Net
Covering Net
Salah satu jenis alat tangkap dengan cara menutup ikan dari atas ialah Covering Net. Bentuk dari alat tangkap ini hampir sama dengan Cash Net (jala lempar) yang umum digunakan pada daerah-daerah yang dangkal seperti pada tambak udang dan ikan. Namun ada juga yang sudah modern seperti Pukat Sotong yang digunakan untuk menangkap Cumi-cumi yang banyak dikembangkan diperairan Malaysia.
sumber : dinas Perikanan Propinsi Jabar, 2008
Salah satu jenis alat tangkap dengan cara menutup ikan dari atas ialah Covering Net. Bentuk dari alat tangkap ini hampir sama dengan Cash Net (jala lempar) yang umum digunakan pada daerah-daerah yang dangkal seperti pada tambak udang dan ikan. Namun ada juga yang sudah modern seperti Pukat Sotong yang digunakan untuk menangkap Cumi-cumi yang banyak dikembangkan diperairan Malaysia.

sumber : dinas Perikanan Propinsi Jabar, 2008
Minggu, 22 Maret 2009
jenis alat penangkap ikan : Pancing Tonda (Troling Line)
Pancing Tonda (Troling Line)
Pancing Tonda (Troling Line) adalah pancing yang diberi tali panjang dan ditarik olah perahu atau kapal. Pancing diberi umpan ikan segar atau umpan palsu. Karena adanya tarikan maka umpan akan bergerak di dalam air sehingga dapat merangsang ikan buas untuk menyambarnya.
Dipasaran terdapat banyak variasi dari Pancing Tonda, terutama untuk pada penggemar sport fishing. Biasanya untuk keperluan komersial hanya bagian desainnya saja yang banyak variasinya. Desain umum dan beberapa variasi dari Pancing Tonda ini dapat dilihat pada gambar 4.19 dan gambar 4.20.
Pengoperasian Pancing Tonda memerlukan perahu/kapal yang selalu bergerak di depan gerombolan ikan yang akan ditangkap. Biasanya pancing ditarik dengan kecepatan 2 - 6 knot tergantung dari jenisnya (Tabel4.3).



sumber : Dinas Perikanan Propinsi Jabar, 2008
Pancing Tonda (Troling Line) adalah pancing yang diberi tali panjang dan ditarik olah perahu atau kapal. Pancing diberi umpan ikan segar atau umpan palsu. Karena adanya tarikan maka umpan akan bergerak di dalam air sehingga dapat merangsang ikan buas untuk menyambarnya.
Dipasaran terdapat banyak variasi dari Pancing Tonda, terutama untuk pada penggemar sport fishing. Biasanya untuk keperluan komersial hanya bagian desainnya saja yang banyak variasinya. Desain umum dan beberapa variasi dari Pancing Tonda ini dapat dilihat pada gambar 4.19 dan gambar 4.20.
Pengoperasian Pancing Tonda memerlukan perahu/kapal yang selalu bergerak di depan gerombolan ikan yang akan ditangkap. Biasanya pancing ditarik dengan kecepatan 2 - 6 knot tergantung dari jenisnya (Tabel4.3).



sumber : Dinas Perikanan Propinsi Jabar, 2008
Sabtu, 21 Maret 2009
Alat Penangkapan ikan : Rawai (Long Line)
Rawai (Long Line)
Rawai (Long Line) terdiri dari rangkaian tali utama dan tali pelampung, dimana pada tali utama pada jarak tertentu terdapat beberapa tali cabang yang pendek dan berdiameter lebih kecil dan di ujung tali cabang ini diikatkan pancing yang berumpan.
Rawai yang dipasang di dasar perairan secara tetap dalam jangka waktu tertentu disebut Rawai Tetap atau Bottom Long Line atau Set Long Line digunakan untuk menangkap ikan-ikan demersal (Gambar 4.18). Ada juga Rawai yang hanyut biasa disebut Dript Long Line digunakan untuk menangkap ikan-ikan pelagis.
Bahan tali pancing dapat terbuat dari bahan monofilament (PA) atau multifilament (PES seperti terylene, PVA seperti kuralon atau PA seperti nylon). Beberapa perbedaan dari ke dua jenis bahan tersebut dilihat dari segi teknis diantaranya
Bahan multifilament lebih berat dan mahal, mudah dalam perakitannya dan lebih sesuai untuk kapal-kapal kecil;
Bahan multifilament lebih tahan dan mudah ditangani, sehingga dalam jangka panjang harganya relatif lebih rendah; Monofilament lebih kecil, halus dan transparan, sehingga dalam pemakaiannya akan memberikan hasil tangkapan yang lebih baik.
Pelepasan pancing (setting) dilakukan menurut garis yang menyerong,, atau tegak lurus pada arus. Waktu pelepasan tergantung jumlah basket yang akan dipasang, diharapkan pada dini hari sehingga settingan selesai pada pagi hari dimana saat ikan sedang giatnya mencari mangsa.
Umpan yang umum dipakai adalah jenis ikan yang mempunyai sisik mengkilat, tidak cepat busuk Berta mempunyai rangka yang kuat tidak mudah lepas pada saat disambar ikan.

Beberapa jenis ikan yang digunakan sebagai umpan diantaranya ;Ikan Bandeng, ikan Saury, Ikan Tawes, ikn Kembung,
-
Ikan Layang dan Cumi-cumi Panjang umpan berkisar antara 15 - 20 cm dengan berat antara 80 - 150 gram.
sumber : Dinas Perikanan Propinsi Jawa Barat, 2008
Rawai (Long Line) terdiri dari rangkaian tali utama dan tali pelampung, dimana pada tali utama pada jarak tertentu terdapat beberapa tali cabang yang pendek dan berdiameter lebih kecil dan di ujung tali cabang ini diikatkan pancing yang berumpan.
Rawai yang dipasang di dasar perairan secara tetap dalam jangka waktu tertentu disebut Rawai Tetap atau Bottom Long Line atau Set Long Line digunakan untuk menangkap ikan-ikan demersal (Gambar 4.18). Ada juga Rawai yang hanyut biasa disebut Dript Long Line digunakan untuk menangkap ikan-ikan pelagis.
Bahan tali pancing dapat terbuat dari bahan monofilament (PA) atau multifilament (PES seperti terylene, PVA seperti kuralon atau PA seperti nylon). Beberapa perbedaan dari ke dua jenis bahan tersebut dilihat dari segi teknis diantaranya
Bahan multifilament lebih berat dan mahal, mudah dalam perakitannya dan lebih sesuai untuk kapal-kapal kecil;
Bahan multifilament lebih tahan dan mudah ditangani, sehingga dalam jangka panjang harganya relatif lebih rendah; Monofilament lebih kecil, halus dan transparan, sehingga dalam pemakaiannya akan memberikan hasil tangkapan yang lebih baik.
Pelepasan pancing (setting) dilakukan menurut garis yang menyerong,, atau tegak lurus pada arus. Waktu pelepasan tergantung jumlah basket yang akan dipasang, diharapkan pada dini hari sehingga settingan selesai pada pagi hari dimana saat ikan sedang giatnya mencari mangsa.
Umpan yang umum dipakai adalah jenis ikan yang mempunyai sisik mengkilat, tidak cepat busuk Berta mempunyai rangka yang kuat tidak mudah lepas pada saat disambar ikan.

Beberapa jenis ikan yang digunakan sebagai umpan diantaranya ;Ikan Bandeng, ikan Saury, Ikan Tawes, ikn Kembung,
-
Ikan Layang dan Cumi-cumi Panjang umpan berkisar antara 15 - 20 cm dengan berat antara 80 - 150 gram.
sumber : Dinas Perikanan Propinsi Jawa Barat, 2008
Kamis, 19 Maret 2009
deskripsi alat tangkap ikan Pole and Line
Adapun deskripsi alat tangkap Pole and Line ini adalah sebagai berikut :
1. Joran (galah) terbuat dari bambu (umumnya berwarna kuning) yang cukup tua dan tingkat elastisitas yang baik. Panjang joran berkisar 2 - 2,5 meter dengan diameter bagian pangkal 3 - 4 cm dan bagian unjuk berkisar 1 -1,5 cm.
2. Tali Utarna (main line) terbuat dari bahan sintetis polyethilene dengan panjang sekitar 1,5 - 2 meter disesuaikan dengan panjang jorannya, cara pemancingan, tinggi haluan kapal dan jarak penyemprotan air. Diameter tali 0,5 cm dan nomor tali adalah no. 7.
3. Tali Sekunder terbuat dari bahan monopilament berupa tali berwarna putih sebagai pengganti kawa baja (wire leader) dengan panjang, berkisar 20 cm.
4. Mata Dancing (hook) yang tidak berkait batik. Mata pancing yang digunakan bernomor 2,5 - 2,8 . pada bagian atas mata pancing terdapat timah berbentuk Blinder dengan panjang sekitar 2 cm dan berdiameter 8 mm serta dilapisi nikel agar tertihat lebih mengkilap.

Sisi luar sunder terdapat cincin untuk mengikat tali sekunder, dibagian mata pancing dilapisi guntingan tali rapia berwarna berbentuk rumbai-rumbai yang berfungsi sebagai umpan tiruan.
Pengoperasian atat tangkap Pole and Line bisa dilakukan dekat rumpon, sementara pemancing sudah bersiap disudut kiri kanan pada haluan kapal (cara mendekati ikan harus dari sisi kiri dan kanan bukan dari arah belakang, lihat gambar 4.17).


Pada saat jarak jangkau, umpan dilemparkan yang kemudian ikan dituntun ke arah haluan kapal. Pelemparan umpan dilakukan secepat mungkin sehingga gerakan ikan dapat mengikuti gerakkan umpan menuju haluan kapal. Jangan lupa juga mesin penyemprot sudah difungsikan agar ikan tetap berada di dekat kapal. Waktu pemancingan tidak pertu dilakukan pelepasan ikan dari mata pancing, karena saat joran disentuhkan ikan akan jatuh ke atas kapal dan terLepas dengan sendirinya dari mata pancing.
Berdasarkan pengalaman dan keahlian, pemancing dikelompokan ke dalam 3 (tiga) kelas pemancing. Pemancing kelas I sebagai pemancing berpengalaman ditempatkan dihaluan kapal, pemancing kelas II di samping kapal dekat dengan haluan sedangkan pemancing kelas III ke samping kapal agak jauh dari haluan. Untuk memudahkan pemancingan maka pada kapal Pole and Line dikenaL adanva "flyinq deck" atau tempat pemancingan.
Jenis-jenis ikan yang merupakan hasil tangkapan utama dari aLat tangkap Pole and Line ini diantaranya ; Ikan Tuna, Wan Cakatang dan Ikan Tongkol.
sumber : Dinas Perikanan Propinsi Jawa Barat,2008
1. Joran (galah) terbuat dari bambu (umumnya berwarna kuning) yang cukup tua dan tingkat elastisitas yang baik. Panjang joran berkisar 2 - 2,5 meter dengan diameter bagian pangkal 3 - 4 cm dan bagian unjuk berkisar 1 -1,5 cm.
2. Tali Utarna (main line) terbuat dari bahan sintetis polyethilene dengan panjang sekitar 1,5 - 2 meter disesuaikan dengan panjang jorannya, cara pemancingan, tinggi haluan kapal dan jarak penyemprotan air. Diameter tali 0,5 cm dan nomor tali adalah no. 7.
3. Tali Sekunder terbuat dari bahan monopilament berupa tali berwarna putih sebagai pengganti kawa baja (wire leader) dengan panjang, berkisar 20 cm.
4. Mata Dancing (hook) yang tidak berkait batik. Mata pancing yang digunakan bernomor 2,5 - 2,8 . pada bagian atas mata pancing terdapat timah berbentuk Blinder dengan panjang sekitar 2 cm dan berdiameter 8 mm serta dilapisi nikel agar tertihat lebih mengkilap.

Sisi luar sunder terdapat cincin untuk mengikat tali sekunder, dibagian mata pancing dilapisi guntingan tali rapia berwarna berbentuk rumbai-rumbai yang berfungsi sebagai umpan tiruan.
Pengoperasian atat tangkap Pole and Line bisa dilakukan dekat rumpon, sementara pemancing sudah bersiap disudut kiri kanan pada haluan kapal (cara mendekati ikan harus dari sisi kiri dan kanan bukan dari arah belakang, lihat gambar 4.17).


Pada saat jarak jangkau, umpan dilemparkan yang kemudian ikan dituntun ke arah haluan kapal. Pelemparan umpan dilakukan secepat mungkin sehingga gerakan ikan dapat mengikuti gerakkan umpan menuju haluan kapal. Jangan lupa juga mesin penyemprot sudah difungsikan agar ikan tetap berada di dekat kapal. Waktu pemancingan tidak pertu dilakukan pelepasan ikan dari mata pancing, karena saat joran disentuhkan ikan akan jatuh ke atas kapal dan terLepas dengan sendirinya dari mata pancing.
Berdasarkan pengalaman dan keahlian, pemancing dikelompokan ke dalam 3 (tiga) kelas pemancing. Pemancing kelas I sebagai pemancing berpengalaman ditempatkan dihaluan kapal, pemancing kelas II di samping kapal dekat dengan haluan sedangkan pemancing kelas III ke samping kapal agak jauh dari haluan. Untuk memudahkan pemancingan maka pada kapal Pole and Line dikenaL adanva "flyinq deck" atau tempat pemancingan.
Jenis-jenis ikan yang merupakan hasil tangkapan utama dari aLat tangkap Pole and Line ini diantaranya ; Ikan Tuna, Wan Cakatang dan Ikan Tongkol.
sumber : Dinas Perikanan Propinsi Jawa Barat,2008
Pole and Line
Pole and Line
Pole and Line disebut juga "huhate" merupakan alat penangkap ikan yang sangat sederhana dalam hal desainnya. Terdiri dari joran, tali dan mata pancing. Dalam pengoperasiannya alat penangkap ikan jenis ini memerlukan umpan hidup untuk dapat merangsang kebiasaan menyambar mangsa pada ikan.
Sebelum pemancingan terlebih dahulu dilakukan penyemprotan air untuk mempengaruhi visibility ikan terhadap kapal atau para pemancing. Umpan hidup disesuaikan ukuran dan jenis tertentu, disimpan, dipindahkan dan dibawa dalam keadaan hidup, oleh karenanya sistem penangkapan umpan hidup dan desain kapal disesuaikan dengan tempat penyimpanan umpan hidup agar umpan hidup dapat tahan sampai waktu panggunaannya.
sumber : Dinas Perikanan Propinsi Jabar, 2008
Pole and Line disebut juga "huhate" merupakan alat penangkap ikan yang sangat sederhana dalam hal desainnya. Terdiri dari joran, tali dan mata pancing. Dalam pengoperasiannya alat penangkap ikan jenis ini memerlukan umpan hidup untuk dapat merangsang kebiasaan menyambar mangsa pada ikan.
Sebelum pemancingan terlebih dahulu dilakukan penyemprotan air untuk mempengaruhi visibility ikan terhadap kapal atau para pemancing. Umpan hidup disesuaikan ukuran dan jenis tertentu, disimpan, dipindahkan dan dibawa dalam keadaan hidup, oleh karenanya sistem penangkapan umpan hidup dan desain kapal disesuaikan dengan tempat penyimpanan umpan hidup agar umpan hidup dapat tahan sampai waktu panggunaannya.
sumber : Dinas Perikanan Propinsi Jabar, 2008
Hand Lines
Hand Lines

Alat tangkap pancing Hand Lines merupakan alat pancing yang sangat sederhana, terdiri dari pancing, tali pancing dan umpan. Jumlah mata pancingnya satu buah bahkan lebih, bisa menggunakan umpan asli maupun buatan. Namun ukuran pancing dan besarnya tali pancing disesuaikan dengan besarnya ikan yang akan ditangkap, seperti untuk menangkap Ikan Tuna menggunakan tali monofiloment dengan diameter 1,5 - 2,5 mm dengan pancing nomor 5 - 1 dan ditambahkan timah sebagai pemberat.
sumber : Dinas Perikanan Propinsi Jabar, 2008

Alat tangkap pancing Hand Lines merupakan alat pancing yang sangat sederhana, terdiri dari pancing, tali pancing dan umpan. Jumlah mata pancingnya satu buah bahkan lebih, bisa menggunakan umpan asli maupun buatan. Namun ukuran pancing dan besarnya tali pancing disesuaikan dengan besarnya ikan yang akan ditangkap, seperti untuk menangkap Ikan Tuna menggunakan tali monofiloment dengan diameter 1,5 - 2,5 mm dengan pancing nomor 5 - 1 dan ditambahkan timah sebagai pemberat.
sumber : Dinas Perikanan Propinsi Jabar, 2008
Rabu, 18 Maret 2009
Kelebihan dan kelemahan Alat Tangkap Line Fishing
Line Fishing
Line Fishing, merupakan teknik penangkapan ikan dengan menggunakan pancing, dengan istilah lainnya disebut hook and line atau angling yaitu alat penangkapan ikan yang terdiri dari tali dan mata pancing. Pada teknik penangkapan ikan, ini umumnya mata pancing dipasang umpan, baik umpan asli berupa ikan, udang dan organisme lainnya maupun umpan buatan yang terbuat dari kayu, plastik dan lainnya dibentuk menyerupai ikan ataupun udang. Kedua jenis umpan tersebut berfungsi untuk menarik perhatian ikan.
Pada teknik penangkapan ikan ini, alat pancingnya terdiri dari mata pancing, tali pancing no dan umpan, biasanya juga ditambahkan dengan perlengkapan lainnya seperti joran, pelampung., , pemberat dan lain-lain. Menurut Ayodhyoa (1931) alat penangkapan ini mempunyai segi-segi positif, yaitu
1 . Alat-alat pancing tidak susah dan mudah dalam pengoperasiannya;
2. Organisasi usahanya kecil, dengan modal sedikit usaha pancing, sudah dapat berjalan;
3. Syarat-syarat fishing ground-nya relatif sedikit dan dapat dengan bebas memilih;
4. Pengaruh cuaca, suasana laut dan sebagainya relatif kecil;
5. Ikan-ikan yang ditangkap satu per satu sehingga kesegaran dapat terjamin.
Namun dari segi-segi positif di atas, teknik penangkapan ikan ini mempunyai beberapa kelemahannya, yaitu :
1. Jumlah ikan yang ditangkap relatif sedikit;
2. Umpan sangat berpengaruh terhadap jumlah kali operasi yang dapat dilakukan;
3. Keahlian sipemancing sangat menonjol walaupun tempat, waktu dan persyaratan lainnya sama, hashil tangkapnya akan berbeda beda satu sama lainnya;
4. Pancing terhadap ikan adalah pasif, pancing akan ditarik setelah ikan memakan umpannya.
sumber : Dinas Perikanan Propinsi Jawa Barat, 2008
Line Fishing, merupakan teknik penangkapan ikan dengan menggunakan pancing, dengan istilah lainnya disebut hook and line atau angling yaitu alat penangkapan ikan yang terdiri dari tali dan mata pancing. Pada teknik penangkapan ikan, ini umumnya mata pancing dipasang umpan, baik umpan asli berupa ikan, udang dan organisme lainnya maupun umpan buatan yang terbuat dari kayu, plastik dan lainnya dibentuk menyerupai ikan ataupun udang. Kedua jenis umpan tersebut berfungsi untuk menarik perhatian ikan.
Pada teknik penangkapan ikan ini, alat pancingnya terdiri dari mata pancing, tali pancing no dan umpan, biasanya juga ditambahkan dengan perlengkapan lainnya seperti joran, pelampung., , pemberat dan lain-lain. Menurut Ayodhyoa (1931) alat penangkapan ini mempunyai segi-segi positif, yaitu
1 . Alat-alat pancing tidak susah dan mudah dalam pengoperasiannya;
2. Organisasi usahanya kecil, dengan modal sedikit usaha pancing, sudah dapat berjalan;
3. Syarat-syarat fishing ground-nya relatif sedikit dan dapat dengan bebas memilih;
4. Pengaruh cuaca, suasana laut dan sebagainya relatif kecil;
5. Ikan-ikan yang ditangkap satu per satu sehingga kesegaran dapat terjamin.
Namun dari segi-segi positif di atas, teknik penangkapan ikan ini mempunyai beberapa kelemahannya, yaitu :
1. Jumlah ikan yang ditangkap relatif sedikit;
2. Umpan sangat berpengaruh terhadap jumlah kali operasi yang dapat dilakukan;
3. Keahlian sipemancing sangat menonjol walaupun tempat, waktu dan persyaratan lainnya sama, hashil tangkapnya akan berbeda beda satu sama lainnya;
4. Pancing terhadap ikan adalah pasif, pancing akan ditarik setelah ikan memakan umpannya.
sumber : Dinas Perikanan Propinsi Jawa Barat, 2008
Minggu, 15 Maret 2009
Jenis - jenis Trap Perangkap) Ikan
Trap (Perangkap)
Trap atau perangkap merupakan alat penangkap ikan yang dipasang secara tetap di dalam air dengan jangka waktu tertentu untuk mempermudah masuknya ikan dan mempersulit keluarnya. Biasanya Trap atau perangkap ini dibuat dari bahan-bahan alami seperti; bambu, kayu atau juga bahan buatan lainnya seperti jaring.
Untuk pengoperasian beberapa jenis alat tangkap yang termasuk ke dalam jenis Trap, ada yang dioperasikan dipermukaan air yang biasa digunakan untuk menangkap ikan terbang, namun kebanyakan dioperasikan di dalam dasar perairan yang digunakan untuk menangkap ikan-ikan demersal.
Jenis - jenis Trap
Beberapa jenis Trap yang banyak digunakan dalam penangkap ikan diantaranya :
Bubu Dasar
Bubu dasar dapat terbuat dari anyaman bambu (bamboo netting), anyaman rotan (rattan netting) dan anyaman kawat (wire netting) dengan derican berbagai macam bentuk (Gambar 4.9). Dalam pengoperasiannya dapat memakai umpan atau tanpa umpan.

Bubu Hanyut
Bubu hanyut pada prinsipnya hampir sama dengan bubu dasar, namun dikhususkan untuk menangkap ikan terbang (flaying fish) serta pada bagian luar bubu dipasangkan untaian daun ketapa. Pantai Barat Sulawesi Setatan, bubu hanyut digunakan juga untuk mengumpulkan tetur dari ikan terbang. Dalam bahasa lokat disebut "patorani" dimana atat ini clioperasikannya pada saat musim timur, yaitu musim pemijahan dari ikan terbang di Laut Flores, sehingga bubu hanyut ini dalam pengoperasiannya hanya digunakan pada saat musim-musim tertentu Baja.
sero
Sero (guilding barrier) merupakan saLah satu atat penangkapan
ikan yang dipasang secara tetap di dalam air, biasanya terdiri dari susunan pagan-pagan yang berfungsi menuntun ikan agar masuk ke daLam perangkap. Terbuat dari kayu, atau bambu.
Jermat
Jermat adatah perangkap yang terbuat dari jaring berbentuk kantong dan dipasang semi permanen menantang/ berlawanlan dengan arus (biasanya arus pasang surut) digunakan untuk
memanfaatkan ikan-ikan yang mengikuti arus. Jermat merupakan atat penangkap ikan yang sangat sederhana, dimana pemasangannya ditempatkan pada daerah-daerah berarus yang banyak terdapat ikannya.
Set Net
Set Net hampir sama dengan Sero dilihat dari segi prinsip penangkapannya. namun Set Net lebih modern dibandingkan dengan Sero dan daerah penangkapannya pun tidak hanya di daerah pinggir pantai bahkan dapat lebih jauh dari pinggir pantai. Jaringnya merupakan suatu bangunan yang diletakan di dalam air . Alat tangkap jenis ini sangat berkembang baik di Jepang.
Set Net digunakan untuk memanfaatkan ikan-ikan yang senang bermigrasi ke daerah pantai dimana jalan yang dilalui ikan tersebut dihadang oleh lead net, akibatnya ikan akan menuju jaring.
Set Net dapat dibedakan dari ukurannya, Set Net yang berukuran sedang disebut "hisago-cmi", yang berukuran besar disebut "otoshi-cmi" dan yang berukuran besar namun lebih lengkap disebut dengan "masu-ami".
Set Net hampir sama dengan Sero dilihat dari segi prinsip penangkapannya. namun Set Net lebih modern dibandingkan dengan Sero dan daerah penangkapannya pun tidak hanya di daerah pinggir pantai bahkan dapat lebih jauh dari pinggir pantai. Jaringnya merupakan suatu bangunan yang diletakan di dalam air . Alat tangkap jenis ini sangat berkembang baik di Jepang.
Set Net digunakan untuk memanfaatkan ikan-ikan yang senang bermigrasi ke daerah pantai dimana jalan yang dilalui ikan tersebut dihadang oleh lead net, akibatnya ikan akan menuju jaring.
Set Net dapat dibedakan dari ukurannya, Set Net yang berukuran sedang disebut "hisago-cmi", yang berukuran besar disebut "otoshi-cmi" dan yang berukuran besar namun lebih lengkap disebut dengan "masu-ami".
sumber : Dinas Perikanan Propinsi Jabar 2008
Kamis, 12 Maret 2009
tehnik pengoperasian trawl
tehnik pengoperasian trawl
Dalam kecepatan dan waktu penarikan jaring, jaring dapat ditarik secara cepat namun perlu diperhatikan juga beberapa kendala seperti ; terbukanya mulut jaring, apakah posisi jaring sesuai dengan yang, diinginkan, berapa kekuatan kapal untuk menarik dan ketahanan jaring di dalam air.
Pada umumya kecepatan yang digunakan untuk menarik jaring antara 3 - 4 knot, namun kecepatan ini juga berhubungan dengan kecepatan renang ikan, keadaan dasar laut, arus, angin dan gelombang. Dengan memperhatikan ketentuan di atas maka kecepatan tarik bisa ditentukan.
Lama waktu yang diperlukan untuk penarikan suatu jaring ditentukan oleh banyak sedikitnya ikan. yang diduga akan tertangkap, pekerjaan didek, jam kerja crew dan lain sebagainya.
Pada umumnya waktu penarikan yang diperlukan sekitar 3 - 4 jam, bahkan jika semuanya memungkinkan bisa juga hanya memerLukan juga waktu 1 - 2 jam saja.
sumber dinas Perikanan Prop.Jabar 2008
Dalam kecepatan dan waktu penarikan jaring, jaring dapat ditarik secara cepat namun perlu diperhatikan juga beberapa kendala seperti ; terbukanya mulut jaring, apakah posisi jaring sesuai dengan yang, diinginkan, berapa kekuatan kapal untuk menarik dan ketahanan jaring di dalam air.
Pada umumya kecepatan yang digunakan untuk menarik jaring antara 3 - 4 knot, namun kecepatan ini juga berhubungan dengan kecepatan renang ikan, keadaan dasar laut, arus, angin dan gelombang. Dengan memperhatikan ketentuan di atas maka kecepatan tarik bisa ditentukan.
Lama waktu yang diperlukan untuk penarikan suatu jaring ditentukan oleh banyak sedikitnya ikan. yang diduga akan tertangkap, pekerjaan didek, jam kerja crew dan lain sebagainya.
Pada umumnya waktu penarikan yang diperlukan sekitar 3 - 4 jam, bahkan jika semuanya memungkinkan bisa juga hanya memerLukan juga waktu 1 - 2 jam saja.
sumber dinas Perikanan Prop.Jabar 2008
PerlengkapanTrawl
PerlengkapanTrawl
Pada umumnya kapal Trawl terbuat dari steel dan "main engine" dilengkapi yang digerakan oleh diesel atau steam. Kapat dilengkapi dengan Trawl Winch sebagai tenaga penggerak dan ada juga yang menggunakan Steam Engine serta ada pula yang menggunakan motor.
Ukuran jaring yang digunakan berbeda-beda dan untuk
menyatakan ukuran jaring biasanya digunakan satuan feet atau meter, misalnya jaring 120 feet, berarti panjang boat rope adalah 120 feet.
Pada umumnya kapal Trawl terbuat dari steel dan "main engine" dilengkapi yang digerakan oleh diesel atau steam. Kapat dilengkapi dengan Trawl Winch sebagai tenaga penggerak dan ada juga yang menggunakan Steam Engine serta ada pula yang menggunakan motor.
Ukuran jaring yang digunakan berbeda-beda dan untuk
menyatakan ukuran jaring biasanya digunakan satuan feet atau meter, misalnya jaring 120 feet, berarti panjang boat rope adalah 120 feet.
Rabu, 11 Maret 2009
Jenis-.jenis Trawl Berdasarkan Jumlah Kapal dan Alat Untuk Membuka Mulut Jaring
Jenis-.jenis Trawl Berdasarkan Jumlah Kapal
Berdasarkan jumlah kapal yang digunakan untuk menarik Trawl, maka Trawl dapat dibagi atas :
1. One Boat Trawl, yaitu Trawl yang ditarik dengan sebuah kapal;
2. Two Boat Trawl, yaitu Trawl yang ditarik oleh dua buah kapal.
Jenis - jenis Trawl Berdasarkan Alat Untuk Membuka Mulut Jaring
Jenis - jenis Trawl berdasarkan alat untuk membuka mutut jaring, dikenal juga:
1. Bean Trawl, yaitu Trawl yang menggunakan bean (bentangan).
2. Otter Trawl, yaitu Trawl yang menggunakan otter board
untuk membuka mulut jaring.
sumber : Dinas Perikanan Propinsi Jawa Barat, 2008
Berdasarkan jumlah kapal yang digunakan untuk menarik Trawl, maka Trawl dapat dibagi atas :
1. One Boat Trawl, yaitu Trawl yang ditarik dengan sebuah kapal;
2. Two Boat Trawl, yaitu Trawl yang ditarik oleh dua buah kapal.
Jenis - jenis Trawl Berdasarkan Alat Untuk Membuka Mulut Jaring
Jenis - jenis Trawl berdasarkan alat untuk membuka mutut jaring, dikenal juga:
1. Bean Trawl, yaitu Trawl yang menggunakan bean (bentangan).
2. Otter Trawl, yaitu Trawl yang menggunakan otter board
untuk membuka mulut jaring.
sumber : Dinas Perikanan Propinsi Jawa Barat, 2008
Selasa, 10 Maret 2009
Jenis- jenis Trawl Berdasarkan Pengoperasiannya
Jenis- jenis Trawl Berdasarkan Pengoperasiannya
Dilihat dari cara pengoperasiannya, Trawl dapat dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu :
1. Side Trawl Pada waktu pengoperasiannya ditarik pada sisi kapal;
2. Stern Trawl Trawl Trawl yang ditarik pada bagian belakang kapal;
3.. Double Rig Trawl Trawl yang ditarik melalui dua rigger yang dipasang pada kedua lambung kapal.
Beberapa perbedaan cara pengoperasian Trawl dilihat dari segi operasinya, antara lain :
1. Stern Trawl tidak banyak dipengaruhi oleh angin dan gelombang. dapat melepas jaring tanpa memutar kapal karena jaring tidak terpengaruh oleh angin dan gelombang;
2, Pada Stern Trawl Warp berada lurus pada garis haluan buritan,
sehingga tenaga Trawl akan menghasilkan daya guna yang maksimal, sedang pada Side Trawl ditarik melalui beberapa roller, yang berakibat sebagian tenaga akan hilang beralih pada roller tersebut.
3. Pada Stern Trawl, akibat dari Screw Current, jaring akan segera hanyut. Demikian juga otter board, segera setelah dilepas akan terus membuka. Pada Side Trawl, tenaga Current tidak bermanfaat bagi pembukaan jaring.
sumber : Dinas perikanan propinsi jabar, 2008
Dilihat dari cara pengoperasiannya, Trawl dapat dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu :
1. Side Trawl Pada waktu pengoperasiannya ditarik pada sisi kapal;
2. Stern Trawl Trawl Trawl yang ditarik pada bagian belakang kapal;
3.. Double Rig Trawl Trawl yang ditarik melalui dua rigger yang dipasang pada kedua lambung kapal.
Beberapa perbedaan cara pengoperasian Trawl dilihat dari segi operasinya, antara lain :
1. Stern Trawl tidak banyak dipengaruhi oleh angin dan gelombang. dapat melepas jaring tanpa memutar kapal karena jaring tidak terpengaruh oleh angin dan gelombang;
2, Pada Stern Trawl Warp berada lurus pada garis haluan buritan,
sehingga tenaga Trawl akan menghasilkan daya guna yang maksimal, sedang pada Side Trawl ditarik melalui beberapa roller, yang berakibat sebagian tenaga akan hilang beralih pada roller tersebut.
3. Pada Stern Trawl, akibat dari Screw Current, jaring akan segera hanyut. Demikian juga otter board, segera setelah dilepas akan terus membuka. Pada Side Trawl, tenaga Current tidak bermanfaat bagi pembukaan jaring.
sumber : Dinas perikanan propinsi jabar, 2008
Minggu, 08 Maret 2009
Jenis - Jenis Trawl
Jenis - Jenis Trawl
Ayodhyua pada tahun 1981 membedakan jenis-jenis Trawl berdasarkan letak jaring dalam air menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu :
1. Surface Trawl (Jaring yang dioperasikan dipermukaan air).
Jaring ditarik dekat permukaan air (Surface Water) yang bertujuan untuk menarik ikan dipermukaan air. Ada beberapa kendala dalam pengoperasiannya, kecepatan menarik jaring harus lebih cepat dari kecepatan ikan berenang, oleh karena itu jenis Trawl ini sebaiknya digunakan untuk menangkap jenis ikan yang lambat berenangnya.

2. Mid Water Trawl (jaring yang dioperasikan diantara permukaan dan dasar perairan).
Jaring ditarik pada kedalaman tertentu dengan kecepatan tertentu secara horizontal. Untuk menjaga mulut jaring tetap terbuka, maka kecepatan kapal harus stabil. Di Eropa dan Kanada alat ini digunakan untuk menangkap ikan Herring sedangkan di Jepang masih dalarn taraf penetitian dan percobaan.
3. Bottom Trawl (jaring yang dioperasikan didasar perairan).
Jaring ini banyak digunakan karena dapat menjaring semua jenis ikan, udang dan kerang. Pada kenyataannya sering tertangkap ikan Demersal waktu jaring di angkat ke atas. Karena jaring dioperasikan di dasar taut, maka pertu diperhatikan beberapa persyaratan agar penangkapan berjalan baik tanpa merusak jaring , diantaranya :
• Dasar laut terdiri dari Lumpur dan pasir atau campuran keduanya, bukan berupa karang;
• Dasar laut bebas dari bangkai kapal atau benda lain yang dapat merusak jaring;
• Perbedaan dasar laut tidak terlalu menyolok;
• Kecepatan arus pasang tidak terlalu besar;
• Keadaan cuaca tenang (tidak ada angin topan dan gelombang besar);
• Perairan mempunyai sumber ikan yang banyak.
sumber : Dinas Perikanan Propinsi Jabar , 2008
Ayodhyua pada tahun 1981 membedakan jenis-jenis Trawl berdasarkan letak jaring dalam air menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu :
1. Surface Trawl (Jaring yang dioperasikan dipermukaan air).
Jaring ditarik dekat permukaan air (Surface Water) yang bertujuan untuk menarik ikan dipermukaan air. Ada beberapa kendala dalam pengoperasiannya, kecepatan menarik jaring harus lebih cepat dari kecepatan ikan berenang, oleh karena itu jenis Trawl ini sebaiknya digunakan untuk menangkap jenis ikan yang lambat berenangnya.
2. Mid Water Trawl (jaring yang dioperasikan diantara permukaan dan dasar perairan).
Jaring ditarik pada kedalaman tertentu dengan kecepatan tertentu secara horizontal. Untuk menjaga mulut jaring tetap terbuka, maka kecepatan kapal harus stabil. Di Eropa dan Kanada alat ini digunakan untuk menangkap ikan Herring sedangkan di Jepang masih dalarn taraf penetitian dan percobaan.
3. Bottom Trawl (jaring yang dioperasikan didasar perairan).
Jaring ini banyak digunakan karena dapat menjaring semua jenis ikan, udang dan kerang. Pada kenyataannya sering tertangkap ikan Demersal waktu jaring di angkat ke atas. Karena jaring dioperasikan di dasar taut, maka pertu diperhatikan beberapa persyaratan agar penangkapan berjalan baik tanpa merusak jaring , diantaranya :
• Dasar laut terdiri dari Lumpur dan pasir atau campuran keduanya, bukan berupa karang;
• Dasar laut bebas dari bangkai kapal atau benda lain yang dapat merusak jaring;
• Perbedaan dasar laut tidak terlalu menyolok;
• Kecepatan arus pasang tidak terlalu besar;
• Keadaan cuaca tenang (tidak ada angin topan dan gelombang besar);
• Perairan mempunyai sumber ikan yang banyak.
sumber : Dinas Perikanan Propinsi Jabar , 2008
Jumat, 06 Maret 2009
Trawl ( Pukat Harimau)
Trawl ( Pukat Harimau)
Kata Trawl berasal dari bahasa Perancis yaitu Troler dan Trailing dalam bahasa Inggris dimana mempunyai kesamaan arti yaitu TARIK atau KELILING SAMBILMENARIK .
Alat penangkapan ini di Jawa Barat lebih sering disebut pukat harimau karena rakusnya menangkap semua jenis dan ukuran ikan sehingga berdampak negatip pada kelestarian alam sehingga pemerintah mengeluarkan Kepres. No.39 Tahun 1980 yang berisi larangan pengoperasian pukat harimau di Indonesia dan hanya diizinkan dioperasikan untuk kapal-kapal peneliti.
Dengan berbagai perubahan komponen ada beberapa Trawl yang diizinkan beroperasi di Indonesia seperti kita temukan di laut Arafura yang digunakan untuk menangkap udang dan dikenal dengan nama pukat udang.
Asal Trawl ini tidak diketahui dengan pasti namun alat ini sudah lama dioperasikan di Eropa dan banyak digunakan di daerah pantai dan tepas pantai (Gambar 4.4).

Bentuk Trawl terus berkembang seiring dengan perkembangan teknologi apalagi setelah jenis mesin untuk penangkapan makin maju. Dari Eropa berkembang ke negara Jerman, Pada gambar 4.5, dapat dilihat perkembangan bentuk trawl dari tahun ke tahun.

sumber : Dinas Perikanan Propinsi Jabar, 2008
Kata Trawl berasal dari bahasa Perancis yaitu Troler dan Trailing dalam bahasa Inggris dimana mempunyai kesamaan arti yaitu TARIK atau KELILING SAMBILMENARIK .
Alat penangkapan ini di Jawa Barat lebih sering disebut pukat harimau karena rakusnya menangkap semua jenis dan ukuran ikan sehingga berdampak negatip pada kelestarian alam sehingga pemerintah mengeluarkan Kepres. No.39 Tahun 1980 yang berisi larangan pengoperasian pukat harimau di Indonesia dan hanya diizinkan dioperasikan untuk kapal-kapal peneliti.
Dengan berbagai perubahan komponen ada beberapa Trawl yang diizinkan beroperasi di Indonesia seperti kita temukan di laut Arafura yang digunakan untuk menangkap udang dan dikenal dengan nama pukat udang.
Asal Trawl ini tidak diketahui dengan pasti namun alat ini sudah lama dioperasikan di Eropa dan banyak digunakan di daerah pantai dan tepas pantai (Gambar 4.4).
Bentuk Trawl terus berkembang seiring dengan perkembangan teknologi apalagi setelah jenis mesin untuk penangkapan makin maju. Dari Eropa berkembang ke negara Jerman, Pada gambar 4.5, dapat dilihat perkembangan bentuk trawl dari tahun ke tahun.
sumber : Dinas Perikanan Propinsi Jabar, 2008
Selasa, 24 Februari 2009
JENIS -JENIS ALAT TANGKAP RUMPON
JENIS -JENIS ALAT TANGKAP RUMPON
Rumpon merupakan salah satu alat penangkapan yang banyak digunakan oleh nelayan di Jawa Barat. Istilah lain rumpon dikenal dengan nama FAD (Fish Agregation Device) sedangkan fungsi dari rumpon ini untuk memikat ikan agar berkumpul di satu daerah penangkapan.
Penggunaan rumpon tradisional di Indonesia banyak ditemukan di daerah Mamuju (Sulawesi Setatan) dan Jawa Timur. Menurut Monintja (1993) rumpon banyak digunakan di Indonesia pada tahun 1980, sedangkan Negara yang sudah mengoperasikan rumpon diantaranya Jepang, Philipina, Srilanka, Papua Nugini dan Australia. Beberapa alasan mengapa ikan sering ditemukan disekitar rumpon:
I . Banyak ikan- ikan kecil dan plankton yang berkumpul disekitar rumpon dimana ikan dan plankton tersebut merupakan sumber makanan bagi ikan besar.
2. Ada beberapa jenis ikan seperti tuna dan cakalang yang menjadikan rumpon sebagai tempat untuk bermain sehingga nelayan dapat dengan mudah untuk menangkapnya.
Nelayan dapat mengetahui banyak ikan di daerah rumpon dengan beberapa ciri yang khas yaitu :
1. Banyaknya buih - buih atau gelembung udara dipermukaan air.
2. Warna air akan terlihat lebih gelap dibandingkan dengan warna air disekitarnya karena banyak ikan yang bergerombol.
4.1.1. Bahan dan Komponen Rumpon
Setiap rumpon terdiri dari beberapa komponen seperti pada Tabel 4.1 di bawah ini. Di Indonesia rumpon masih menggunakan bahan alami seperti daun kelapa, tali plastik yang sudah pasti kekuatannya sangat terbatas.
Tabel 4.1.
Komponen Pokok dan Bahan dari Sebuah Rumpon
1. Float bahannya Bambu, Plastik
2. Tali Tambang (mooring line), bahannya Tali,Wi re, Rantai, Swiwel
3. Pemikat ikat (atractor) bahannya Daun Kelapa, Jaring Bekas
4. Pemberat (bottom sinker) bahannya Batu, Beton
Jenis- jenis Ikan yang Banyak Ditemukan di Sekitar Rumpon
Tidak semua ikan ditemukan disekitar rumpon. Ikan jenis pelagis merupakan ikan dominan yang sering ditemukan didalam rumpon. Dalam Table 4.2., di bawah dapat kita lihat ikan apa saja yang sering berada disekitar rumpon.
4.1.3. Konstruksi Rumpon
Di Jawa Barat konstruksi rumpon masih sederhana sekali, pada umumnya pelampungnya dari bambu dan tali temalinya dari bahan plastik atau rotan, pemberatnya dari batu gunung atau batu karang sedangkan atraktornya menggunakan daun kelapa. Rumpon jenis ini banyak dioperasikan di laut yang dangkal dengan tujuan untuk rnengumpulkan ikan pelagis yang kecil - kecil. Untuk perairan yang mempunyai kedalaman sampai ribuan meter digunakan tali
Tabel 4.2.
jenis-jenis Ikan yang Sering Berasosiasi dengan Rumpon
(Monintia, 1993)
1. Cakatang - Skipjack- (Katsowonus pelamis)
2. Tongkol - Frigate Tuna- (Auxis thazard )
3. Tongkol Pisang-Frigate Tuna- Euthynnus affinis
4. Tenggiri- King Mackeret- Scomberomorus sp
5. Madidihang -Yellow Fin Tuna- Thunnus albacares
6. Tembang -Frigate Sardin - Sardinella firnbriato
7. Japuh Rainbow -Sardin -Dussumeria hosselti
sintetis dan biasanya jenis ikan yang berkumpul di situ adalah ikan layang, tuna dan cakalang.
Di negara maju seperti Jepang dan Philipina rumpon yang dipasang selalu dilengkapi alat penditeksi ikan yang dapat memonitor dari kapal penangkapannya.
Konstruksi berbagai jenis rumpon yang terdapat di perairan Indonesia dapat dilihat pada gambar 4. 1, antara lain :


Agar kepemilikkan rumpon tidak tertukar atau hilang, maka diberi tanda, misalnya dengan bendera, pelampung, cermin atau tanda lain sesuai keinginan pemiliknya. Gambar 4.21.1 memperlihatkan contoh jenis -jenis tanda yang dipasang dirumpon.

yang Penelitian tentang rumpon terus dilakukan oleh peneliti-peneliti kita. Pada tahun 1999 Arsyad telah melakukan penelitian atraktor rumpon, dia telah mengganti daun kelapa dengan daun lontar dengan asumsi daun lontar jauh lebih tahan dari daun kelapa dan hasilnya sangat berbeda nyata (Gambar 4.3). Rumpon dari daun lontar memberikan hasil tangkapan yang lebih banyak.
sumber : Dinas Perikanan Propinsi, Jabar, 2008
Rumpon merupakan salah satu alat penangkapan yang banyak digunakan oleh nelayan di Jawa Barat. Istilah lain rumpon dikenal dengan nama FAD (Fish Agregation Device) sedangkan fungsi dari rumpon ini untuk memikat ikan agar berkumpul di satu daerah penangkapan.
Penggunaan rumpon tradisional di Indonesia banyak ditemukan di daerah Mamuju (Sulawesi Setatan) dan Jawa Timur. Menurut Monintja (1993) rumpon banyak digunakan di Indonesia pada tahun 1980, sedangkan Negara yang sudah mengoperasikan rumpon diantaranya Jepang, Philipina, Srilanka, Papua Nugini dan Australia. Beberapa alasan mengapa ikan sering ditemukan disekitar rumpon:
I . Banyak ikan- ikan kecil dan plankton yang berkumpul disekitar rumpon dimana ikan dan plankton tersebut merupakan sumber makanan bagi ikan besar.
2. Ada beberapa jenis ikan seperti tuna dan cakalang yang menjadikan rumpon sebagai tempat untuk bermain sehingga nelayan dapat dengan mudah untuk menangkapnya.
Nelayan dapat mengetahui banyak ikan di daerah rumpon dengan beberapa ciri yang khas yaitu :
1. Banyaknya buih - buih atau gelembung udara dipermukaan air.
2. Warna air akan terlihat lebih gelap dibandingkan dengan warna air disekitarnya karena banyak ikan yang bergerombol.
4.1.1. Bahan dan Komponen Rumpon
Setiap rumpon terdiri dari beberapa komponen seperti pada Tabel 4.1 di bawah ini. Di Indonesia rumpon masih menggunakan bahan alami seperti daun kelapa, tali plastik yang sudah pasti kekuatannya sangat terbatas.
Tabel 4.1.
Komponen Pokok dan Bahan dari Sebuah Rumpon
1. Float bahannya Bambu, Plastik
2. Tali Tambang (mooring line), bahannya Tali,Wi re, Rantai, Swiwel
3. Pemikat ikat (atractor) bahannya Daun Kelapa, Jaring Bekas
4. Pemberat (bottom sinker) bahannya Batu, Beton
Jenis- jenis Ikan yang Banyak Ditemukan di Sekitar Rumpon
Tidak semua ikan ditemukan disekitar rumpon. Ikan jenis pelagis merupakan ikan dominan yang sering ditemukan didalam rumpon. Dalam Table 4.2., di bawah dapat kita lihat ikan apa saja yang sering berada disekitar rumpon.
4.1.3. Konstruksi Rumpon
Di Jawa Barat konstruksi rumpon masih sederhana sekali, pada umumnya pelampungnya dari bambu dan tali temalinya dari bahan plastik atau rotan, pemberatnya dari batu gunung atau batu karang sedangkan atraktornya menggunakan daun kelapa. Rumpon jenis ini banyak dioperasikan di laut yang dangkal dengan tujuan untuk rnengumpulkan ikan pelagis yang kecil - kecil. Untuk perairan yang mempunyai kedalaman sampai ribuan meter digunakan tali
Tabel 4.2.
jenis-jenis Ikan yang Sering Berasosiasi dengan Rumpon
(Monintia, 1993)
1. Cakatang - Skipjack- (Katsowonus pelamis)
2. Tongkol - Frigate Tuna- (Auxis thazard )
3. Tongkol Pisang-Frigate Tuna- Euthynnus affinis
4. Tenggiri- King Mackeret- Scomberomorus sp
5. Madidihang -Yellow Fin Tuna- Thunnus albacares
6. Tembang -Frigate Sardin - Sardinella firnbriato
7. Japuh Rainbow -Sardin -Dussumeria hosselti
sintetis dan biasanya jenis ikan yang berkumpul di situ adalah ikan layang, tuna dan cakalang.
Di negara maju seperti Jepang dan Philipina rumpon yang dipasang selalu dilengkapi alat penditeksi ikan yang dapat memonitor dari kapal penangkapannya.
Konstruksi berbagai jenis rumpon yang terdapat di perairan Indonesia dapat dilihat pada gambar 4. 1, antara lain :
Agar kepemilikkan rumpon tidak tertukar atau hilang, maka diberi tanda, misalnya dengan bendera, pelampung, cermin atau tanda lain sesuai keinginan pemiliknya. Gambar 4.21.1 memperlihatkan contoh jenis -jenis tanda yang dipasang dirumpon.
yang Penelitian tentang rumpon terus dilakukan oleh peneliti-peneliti kita. Pada tahun 1999 Arsyad telah melakukan penelitian atraktor rumpon, dia telah mengganti daun kelapa dengan daun lontar dengan asumsi daun lontar jauh lebih tahan dari daun kelapa dan hasilnya sangat berbeda nyata (Gambar 4.3). Rumpon dari daun lontar memberikan hasil tangkapan yang lebih banyak.
sumber : Dinas Perikanan Propinsi, Jabar, 2008
Langganan:
Postingan (Atom)