Rabu, 30 Maret 2011
Fadel: Impor Ikan Beku Direekspor
BOGOR - Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad menegaskan pihaknya akan mengekpor kembali atau reekspor ratusan ton ikan beku impor asal Tiongkok dan Thailand yang ada di lima lokasi pada 7 April 2011.
"Tanggal 7 April mudah-mudahan selesai, sehinggga bisa saya kirim kembali ikan itu. Saya sedang koordinasi dengan Direktotar Bea dan Cukai serta instansi lainya. Ke-13 importir itu juga sudah saya pegang alamat dan nama pemiliknya," kata Fadel di Istana Bogor, Selasa (29/3).
Menurut Fadel, saat ini pengurus dokumen untuk pengiriman kembali ikan beku impor itu sedang disusun. Ikan beku impor yang akan dikirim kembali ke negara asalnya itu terdiri dari 200 kontainer yang berada di lima lokasi, yaitu Pelabuhan Belawan Medan, Tanjung Priok Jakarta, Tanjung Perak Surabaya, Tanjung Mas Semarang, dan di Bandar Udara Soekarno-Hatta Tangerang, Banten.
HIngga kini 20 kontainer ikan beku impor itu masih ditahan karena tidak memiliki izin ikan impor dan mayoritas adalah ikan kembung, layang, teri, tongkol kecil, sampai ikan asin.
Menurut Fadel pihaknya sudah bertatap muka dikantornya dengan 13 importir yang membawa ikan itu masuk ke Indonesia. "Importir menyampaikan alasan yang bermacam-macam, seperti akan buat pakan, namun nyatanya di jual di pasar tradisional," tutur dia.
Faddel mengatakan, ikan yang dikirim itu sebenarnya banyak terdapat di Indonesia dan merupakan hasil tangkapan para utama nelayan di Indonesia.
Namun, kata dia, harga ikan impor itu 30% lebih murah karena ditangkap dengan kapal berkapasitas besar. "Saya sedih sekali nelayan kita jelas sulit bersaing dengan mereka," ucpanya.
Dia menjelaskan sejak perjanjian perdagangan bebas Asean-Tiongkok (CAFTA) diteken, impoter banyak memasukan barang impor yang sebenarnya sudah ada di Indonesia. Padahal kata dia Kementerian sudah membuat aturan mengenai jenis-jenis ikan yang boleh dan jenis ikan yang dilarang masuk Ke Indonesia melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No 17/2010.
Namun, kata dia, sikapnya malah dituding sebagai langkah menyalahi aturan perdagangan bebas."Saya sekarang dapat banyak tantangan, dari beberapa orang yang menilai saya menyalahi aturan free trade. Saya menghargai perdagangan bebas tapi, saya mau perdagangan bebas yang terkendali, yang memebuat rakyat sejahtera," ujar Fadel.
Sementara itu Drjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) Kementerian Kelautan dan Perikanan Viktor Nikijuluw sebelumnya mengatakan, dokumen impor ikan yang diterbitkan KKP jelas mengatur syarat-syarat impor.
Syarat impor itu antara lain, ikan yang boleh diimpor hanya jenis yang tidak ditemukan atau diproduksi di Indonesia. "Ikan Salmon misalnya, boleh diimpor karena tidak ada di Indonesia dan diperuntukan bagi ekspatriat." kata Viktor.
Menurut dia, selain pengaturan terkait jenis ikan, KKP juga mengatur syarat adanya Unit Pengelola Ikan (UPI) bagi setiap importir. Syarat itu menetapkan ketentuan, setiap importir boleh mengimpor bahan baku ikan demi kepentingan UPI. Artinya bahan baku itu diperuntukan bagi industri pengolahan untuk selanjutnya di ekspor. "Importir hanya boleh impor bahan baku untuk kemudian diolah lantas diekspor lagi," kata Viktor.
Dia menyayangkan, pelanggaran yang dilakukan importir bisa mematikan rantai produksi perikanan lokal. Sebab ikan impor yang masuk sebagian besar dari Tiongkok dan otomatis menekan harga ikan lokal. Harga ikan lokal yang murah berdampak negatif pada kemampuan produksi nelayan. Pasar ikan lokal yang tidak lagi mamapu menyerap hasil produksi nelayan lokal akan memukul rantai produksi dan konsumsi.
Data KKP menyebutkan, terdapat peningkatan nilai impor dibanding ekspor dalam dua tahun terakhir. Kenaikan impor lebih tinggi dibanding ekspor. Pada tahun 2009 nilai impor tercatat US$ 300 juta, naik menjadi US$ 390 juta tahun 2010. Nilai ekspor tahun 2009 tercatat US$ 2,5 miliar, naik menjadi US$ 2,89 miliar. "Meski secara nominal nilai ekspor lebih tinggi dari impor, tetapi persentasi peningkatan lebih tinggi impor dibanding ekspor. Ini harus dicegah dan KKP berkomitmen menggerakkan Industri dalam negeri," kata Viktor.
SUMBER : INVESTOR DAILY HAL 23, RABU 30 MARET 2011
Minggu, 27 Maret 2011
FITOPLANKTON ALTERNATIF Cocolite sp., PACU PRODUKSI BENIH KERAPU BEBEK
| FITOPLANKTON ALTERNATIF Cocolite sp., PACU PRODUKSI BENIH KERAPU BEBEK | | | |
| | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Penggunaan Cocolite sp. Sebagai Fitoplankton Alternatif dalam Pemeliharaan Larva Kerapu Bebek Dapat Meningkatkan Produksi Benih Sehingga Mampu Turut Serta dalam Mendukung Peningkatan Target Produksi di Tahun 2015 dan Berusaha Memenuhi Permintaan Kerapu Bebek di Pasar Internasional.
hlorella sp. merupakan salah satu jenis fitoplankton yang digunakan dalam pemeliharaan larva kerapu bebek (Cromileptes altivelis) sebagai peneduh atau penyangga kualitas air. Secara umum diketahui bahwa produksi massal fitoplankton termasuk Chlorella sp. tergantung pada kondiisi alam termasuk sinar matahari (keadaan cuaca). Di BBL Ambon ketersediaan fitoplankton jenis Chlorella sp. pada musim penghujan tidak stabil sehingga kontinuitas penyediaan fitoplankton menjadi tidak menentu. Akibat dari ketidakstabilan fitoplankton tersebut berpengaruh terhadap pemeliharaan larva kerapu bebek (C. altivelis). Salah satu upaya mengatasi masalah tersebut adalah dengan menggunakan fitoplankton alternatif. Cocolite sp. merupakan salah satu jenis fitoplankton yang dibiakkan di laboratorium pakan alami Balai Budidaya Laut Ambon. Secara visual Cocolite sp. berwarna hijau kebiruan, bentuk selnya bervariasi ( oval, elips, bulat telur dan silindris), mempunyai ukuran 2-8 µm, dapat digunakan sebagai pakan zooplankton (rotifer dan artemia) dan dalam kondisi musim hujan dapat tumbuh dengan baik.
Dalam upaya meningkatkan benih kerapu bebek ketika kondisi alam tidak mendukung untuk pertumbuhan jenis fitoplankton yang biasa digunakan, maka Cocolite sp. digunakan sebagai fitoplankton alternatif dalam pemeliharaan larva kerapu bebek (C. altivelis). Hal ini dikareakan di saat kondisi cuaca tidak stabil jenis fitoplankton ini dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.
PEMELIHARAAN LARVA KERAPU BEBEK (C. altivelis)
Teknologi yang digunakan dalam pembenihan ikan kerapu bebek (C. altivelis) telah berkembang dengan baik. Namun dalam usaha perbenihan, banyak faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan produksi benih, beberapa faktor penting diantaranya adalah kualitas telur, pakan hidup/alami, metode pemeliharaan larva dan penanganan penyakit. Teknologi yang diterapkan dalam pemeliharaan larva harus benar-benar diperhatikan agar memperoleh hasil yang maksimal. Adapun teknologi yang diterapkan adalah mengadopsi dari teknologi yang telah ada kemudian disesuaikan dengan kondisi yang ada di BBL Ambon.
Bak yang digunakan untuk kegiatan ini berkapasitas 6 m3 sebanyak 2 buah terletak dalam ruangan tertutup. Sebelum bak digunakan, terlebih dulu disterilkan dengan menggunakan kaporit dan dibilas dengan air tawar. Volume awal media pemelihaaran 4 m3 (untuk bak kapasitas 6 m3). Penambahan fitoplankton Cocolite sp. pada media pemeliharaan sebanyak 200 – 300 liter/ hari. Padat tebar telur 100.000 butir/bak. Larva pada stadia awal memerlukan intensitas cahaya 1000 lux dan fotoperiod lebih dari 10 jam untuk memburu pakan secara optimal. Aerasi biasanya menggunakan batu aerasi yang diletakan didasar bak larva. Pada larva berumur 0 - 2 HSM (hari setelah menetas) aerasi diberikan agak kuat untuk menghindari larva mengendap di dasar bak. Antara umur 3 -10 HSM kecepatan aerasi dikurangi sampai kecepatan sedang. Antara umur 11 – 25 HSM, kecepatan aerasi ditambah sedikit demi sedikit dan larva berumur lebih dari 25 HSM aerasi diperkuat. Tiga jenis pakan biasanya digunakan untuk membesarkan larva yaitu : rotifer, pakan buatan dan artemia. Pengelolaan kualitas air dilakukan dengan cara mempertahankan media pemeliharan sesuai standar yang telah ditetapkan, dengan cara pergantian air dengan double filter, pengaturan suhu dan kadar garam, penambahan plankton, pembersihan dasar bak, penyebaran minyak ikan pada permukan air, pembersihan permukaan air dan mempertahankan warna air dalam bak larva. Panen dilakukan pada larva berumur D-60, Juvenil hasil panen digrading berdasarkan ukurannya.
Tabel 1. Jadwal Pakan Harian Pemeliharaan Larva kerapu Bebek BBL Ambon
Ket: Co = Cocolite sp. R = Rotifer P = Pakan Buatan NA = Naupli Artemia AS = Artemia Sedang AD = Artemia Dewasa
Tabel 2. Metode Pemeliharaan Larva Kerapu Bebek
PENGGUNAAN Cocolite sp. Berdasarkan laporan dari tim pakan alami (contact person) bahwa rotifer dapat bertumbuh dengan baik ketika diberi pakan fitoplankton Cocolite sp. hal ini membuktikan bahwa Cocolite sp. aman atau tidak mengandung racun bagi organisme yang memakannya, bahkan dapat memberikan pertumbuhan yang baik (bagi rotifer).Berdasarkan hasil analisa proximate, tepung Cocolite sp. mengandung 13,5%, Karbohidrat 6,56%, lemak 0,2%, Abu 66,69% dan air 12,75%. Dibandingkan dengan fitoplankton yang lazim digunakan untuk pemeliharaan larva, kandungan protein dan lemaknya lebih rendah. Walaupun demikian, penggunaan fitoplankton Cocolite sp. dalam kegiatan pembenihan kerapu bebek (untuk pakan rotifer dan pemeliharaan larva) dapat memberikan hasil yang cukup memuaskan dimana dari 100.000 butir telur/bak yang ditebar, rata-rata 80.000 butir/bak (HR=80 %) menetas menjadi larva dan dapat bertahan hidup sampai panen (umur 60 HSM) sebanyak 2000 ekor (SR=2,5%) dengan ukuran berkisar antara 1.5 cm - 3 cm dengan tingkat keseragaman 90% dan tingkat keabnormalan 5%. Hasil pemeliharaan larva kerapu bebek dengan fitoplankton Cocolite sp. tersebut relatif sama bila menggunakan Chlorella sp. dan Nannochloropsis sp. dimana tingkat Kelulusan hidup larva (SR) 1,66% dan HR sebesar 85,1% (Suharno dkk, 2009). Hal ini diasumsikan karena nutrisi yang diperoleh larva bukan saja berasal dari Cocolite sp. tetapi juga diperoleh dari rotifer dan artemia yang telah diberi pengkayaan sebelum diberikan kepada larva serta pakan buatan sehingga kebutuhan nutrisi larva kerapu bebek untuk tumbuh dan berkembang dapat terpenuhi. Adapun kualitas air selama pemeliharaan yang terpantau adalah suhu 27.7°C – 30.8°C, DO 3.22- 4.00 ppm, salinitas 29.3 – 33.5, pH 7.70 – 8.61, nitrit 0.389 – 0.500 dan amonia 0.03 – 0.593 yang mana nilai-nilai tersebut masih berada pada kisaran aman untuk pemeliharaan larva kerapu bebek. (Narulitta Ely, Marwa, Ris Dewi, Khabibbulloh, Ramlan, @BBL Ambon) sumber : http://www.perikanan-budidaya.kkp.go.id | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Kamis, 24 Maret 2011
Jepang Lirik Potensi Ikan Sidat Indonesia
Jepang kini melirik potensi budidaya ikan sidat (Anguilla sp) di Indonesia. Kebutuhan pasar ikan sidat di jepang mencapai 40.000 ton per tahun atau senilai 1,7 miliar dolar AS. Jumlah konsumsi itu menurun akibat merosotnya suplai benih dan ikan sidat, Menurut Acting General Maneger Restaurant Express Co Ltd Shioji Takaoka di Jakarta, Rabu (23/3), sekitar 70 persen kebutuhan ikan sidat di Jepang dipasok dari China dan Taiwan. Kendalanya, sebagian sidat itu ditemukan mengandung reiu dan zat kimia berbahaya sehingga Jepang kini sangat berhati-hati dalam meng impor sidat dari China dan Taiwan. "Kami mencari mitra usaha di Indonesia untuk budidaya sidat yang siap di ekspor ke Jepang,"ujar Shioji.
SUMBER : KOMPAS 24 MARET 2011, HAL 18
Selasa, 22 Maret 2011
Bengkulu Laksanakan Validasi Data Statistik Perikanan Budidaya
Tahun ini provinsi Bengkulu yang menghadap ke Samudera Hindia mengadakan acara Validasi Data Statistik Perikanan Budidaya Tingkat Provinsi Bengkulu lebih awal dari biasanya. Hal ini disebabkan majunya jadwal validasi data tingkat nasional yang akan dilaksanakan lebih awal. Mulai tahun ini dan seterusnya validasi data statistik tingkat nasional akan dilaksanakan terlebih dahulu dibandingkan pelaksanaan Forum Koordinasi Statistik Perikanan Budidaya. Validasi Data Statistik Perikanan Budidaya Tingkat Provinsi Bengkulu dilaksanakan pada minggu ketiga di bulan Maret 2011 ini.
Acara validasi data statistik perikanan budidaya ini dibuka oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bengkulu dan diikuti oleh seluruh petugas statistik perikanan budidaya kabupaten/kota se-provinsi Bengkulu, yaitu :
1. Kabupaten Bengkulu Selatan
2. Kota Bengkulu
3. Kabupaten Bengkulu Utara
4. Kabupaten Rejang Lebong
5. Kabupaten Seluma
6. Kabupaten Muko-muko
7. Kabupaten Kaur
8. Kabupaten Kepahiang
9. Kabupaten Lebong
10. Kabupaten Bengkulu Tengah
Setiap kabupaten/kota yang hadir di pelaksanaan validasi ini diwakili oleh dua orang. Panitia pelaksana mengundang para petugas kabupaten/kota se-provinsi Bengkulu ini sebanyak dua orang bukan tanpa alasan. Dengan mengundang dua orang petugas statistik diharapkan nantinya keberlanjutan pengumpulan dan pengolahan data statistik perikanan budidaya di tingkat kabupaten ketika terjadi mutasi petugas statistik, ada yang dapat menggantikan dan langsung paham dengan tata cara pelaksanaan pengumpulan dan pengolahan data statistik perikanan budidaya. Kendala pelaksananaan pengumpulan dan pengolahan data statistik perikanan budidaya salah satunya adalah petugas statistik di tingkat kabupaten/kota yang selalu berganti sehingga menyebabkan adanya kendala dalam pengumpulan dan pengolahan data akibat tidak pahamnya petugas statistik yang baru terhadap tata cara pelaksanaan pengumpulan dan pengolahan data statistik perikanan budidaya.
Hadir dalam acara tersebut Kepala Subdirektorat Data dan Statistik Perikanan budidaya yang menjadi narasumber dari Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya dengan menyampaikan materi tentang hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan validasi data statistik perikanan budidaya tingkat provinsi. Dalam kesempatan tersebut kasubdit data dan statistik menekankan perlunya pemahaman terhadap metodologi pengumpulan dan pengolahan data statistik perikanan budidaya karena metodologi pengumpulan dan pengolahan data statistik perikanan budidaya adalah dasar untuk mendapatkan data yang akurat dan sesuai dengan keadaan di lapangan.
Pada kesempatan tersebut, kasubdit data dan statistik perikanan budidaya juga menyampaikan beberapa poin yang sering menjadi kesalahan petugas statistik dalam melakukan pengumpulan, pengolahan dan penyajian data. Selain itu, juga disampaikan bahwa pendataan data statistik dalam satuan basah bukan dalam bentuk kering ataupun sudah diolah.
Setelah mendengarkan teknik dan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan Validasi Data Statistik Perikanan Budidaya dilanjutkan dengan validasi data statistik perikanan budidaya yang sebelumnya sudah dikirimkan oleh para petugas statistik perikanan budidaya tingkat kabupaten/kota.
Dalam pelaksanaan validasi data statistik perikanan budidaya tersebut didapati bahwa di Provinsi Bengkulu telah berkembang teknik budidaya denga metode karamba jaring tancap seperti yang berkembang di Provinsi Kalimantan Barat. Jenis ikan yang berkembang di provinsi ini didominasi oleh ikan mas dan ikan nila. Beberapa kabupaten/kota cukup baik dalam budidaya ikan lele, gurame dan patin. Begitu pula untuk komoditas ikan air payau seperti udang dan bandeng yang hanya terdapat di beberapa kabupaten/kota.
sumber : http://www.perikanan-budidaya.kkp.go.id
Senin, 21 Maret 2011
KKP, Salurkan Paket Bantuan Langsung ke Masyarakat melalui Pengembangan Usaha Mina Pedesaan.(PUMP)
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri, telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 396,4 miliar untuk program kewirausahaan. Anggaran tersebut akan disalurkan berupa komponen paket bantuan langsung ke masyarakat melalui pengembangan usaha mina pedesaan (PUMP) dan pengembangan usaha garam rakyat (PUGR) untuk mendukung strategi pemerintah dalam percepatan pengentasan kemiskinan (pro-poor). Alokasi dana PUMP untuk bidang perikanan budidaya (PUMP-PB) sebesar Rp 200 miliar untuk sekitar 2.000 kelompok pembudidaya ikan di 300 kabupaten/kota.
Adapun kriteria umum calon penerima PUMP-PB adalah kelompok usaha skala mikro dengan pengurus dan anggotanya bukan merupakan aparat Dinas atau PNS, berdomisili di desa/kelurahan setempat, berada di dalam satu desa/kelurahan yang sama; serta tercatat dan di bawah binaan Dinas Kabupaten/Kota.
PUMP-PB merupakan salah satu program besar (grand strategy) KKP periode 2010-1014 sebagai kegiatan pemberdayaan masyarakat kelautan dan perikanan dalam rangka penanggulangan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja. Namun demikian, program PUMP-PB ini baru bisa berlangsung pada 2011 di mana persyaratan dan prosedurnya akan ditetapkan dalam bentuk Pedoman Teknis PUMP Perikanan Budidaya.......selanjutnya
sumber : http://www.perikanan-budidaya.kkp.go.id
Minggu, 20 Maret 2011
Disease Mycobacteriosis / Fish Tuberculosis (TB)
Cause: Mycobacterium marinum (sea water) and M. fortuitum (fresh water)
Bio - Ecology pathogen
• bacteria are gram positive, short rod-shaped and non-motile.
• rain-fed pool and garden with limited water resources are more susceptible to infection type of the disease.
• Shows symptoms varied, but often show no clinical symptoms at all.
• The pattern of attacks are chronic mycobacteriosis - sub acute, both in freshwater fish, brackish and sea water fish.
• The optimum temperature ranges from 25-35 ° C, but still can grow well at 18-20 ° C.
Clinical Symptoms:
• Loss of appetite, weak, thin, bulging eyes (exopthalmia) and swelling of the body.
• If the infected skin, red patches occur and develop into sores, fin and tail damage.
• In the advanced phase of infection, internally there has been swelling bile, kidneys and liver, and is often found in the tubercle / brownish white nodule.
• slow growth, pale color and not beautiful, especially for ornamental fish.
• Lordosis, scoliosis, ulcer and fin damage (fractures) can occur in some fish that was attacked.
Diagnosis:
• Isolation using selective media, and
identified through bio-chemical tests.
• Detection of bacterial genes by polymerase chain reaction (PCR)
Control:
• infected fish were taken and destroyed immediately
• Avoid using water from ponds that are infected with the bacteria.
• Improve overall water quality, particularly reducing the levels of dissolved organic material and / or - to increase the frequency of replacement of new water
• Management of fish health in an integrated (fish, environment and pathogens)
• Soaking chloramine B or T 10 ppm for 24 hours and after that turn of the new water.
source: Ministry of Maritime Affairs and Fisheries of Indonesia, Directorate General of Aquaculture, Fish and Environmental Health Directorate, 2010
Sabtu, 19 Maret 2011
Penyakit Mycobacteriosis/Fish Tuberculosis (TB)
Penyebab : Mycobacterium marinum (air laut) dan M. fortuitum (air tawar)
Bio — Ekologi Pathogen
• Bakteri gram positif, berbentuk batang pendek dan non-motil.
• Kolam tadah hujan dan pekarangan dengan sumber air terbatas lebih rent
an terhadap infeksi jenis penyakit ini.• Menunjukkan gejala yang variatif, namun sering pula tidak menunjukkan gejala klinis sama sekali.
• Pola serangan mycobacteriosis bersifat kronik - sub akut, baik pada ikan air tawar, payau maupun ikan air laut.
• Suhu optimum berkisar 25-35°C, tetapi masih dapat tumbuh baik pada suhu 18-20 °C.
Gejala Klinis :
• Hilang nasfu makan, lemah, kurus, mata melotot (exopthalmia) serta pembengkakan tubuh.
• Apabila menginfeksi kulit, timbul
bercak-bercak merah dan berkembang menjadi luka, sirip dan ekor geripis.• Pada fase infeksi lanjut, secara internal telah terjadi pembengkakan empedu, ginjal dan hati; serta sering ditemukan adanya tubercle/nodule yang berwarna putih kecoklatan.
• Pertumbuhan lambat, warna pucat dan tidak indah terutama untuk ikan hias.
• Lordosis, skoliosis, ulser dan rusaknya sirip (patah-patah) dapat terjadi pada beberapa ekor ikan yang terserang.
Diagnosa :
• Isolasi dengan menggunakan media selektif, dan
diidentifikasi melalui uji bio-kimia.
• Deteksi gen bakteri melalui teknik polymerase chain reaction (PCR)
Pengendalian :
• ikan yang terinfeksi segera diambil dan dimusnahkan
• Hindari penggunaan air dari kolam yang sedang terinfeksi bakteri tersebut.
• Memperbaiki kualitas air secara keseluruhan, terutama mengurangi kadar bahan organik terlarut dan/atau - meningkatkan frekuensi penggantian air baru
• Pengelolaan kesehatan ikan secara terpadu (ikan, lingkungan dan patogen)
• Perendaman Chloramine B atau T 10 ppm selama 24 jam dan setelah itu dilakukan pergantian air baru.
sumber : Kementerian Kelautan dan Perikanan, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Direktorat Kesehatan ikan dan Lingkungan, 2010