Rabu, 29 Desember 2010

Gyrodactyliasis (cacing Kulit) Penyebab : Gyrodactylus spp.

Gyrodactyliasis (cacing Kulit) Penyebab : Gyrodactylus spp.

Bio-Ekologi Patogen :
• Ekto-parasit, bersifat obligat parasitik dan berkembang biak dengan beranak.

• Gyrodactylus sp. tidak memiliki titik mata, dan pada ujung kepalanya terdapat 2 buah tonjolan
• Penularan terjadi secara horizontal, pada saat anak cacing lahir dari induknya
• Menginfeksi semua jenis ikan air tawar, terutama ukuran benih dan organ target meliputi seluruh permukaan tubuh ikan, terutama kulit dan sirip.
Infeksi berat dapat mematikan 30-100% dalam tempo beberapa minggu; terutama sebagai akibat infeksi sekunder oleh bakteri dan cendawan

Gejala Klinis :
• Nafsu makan menurun, lemah, tubuh berwarna gelap, pertumbuhan lambat, dan produksi lendir berlebih
• Peradangan pada kulit disertai warna kemerahan pada lokasi penempelan cacing
• Menggosok-gosokkan badannya pada benda di sekitarnya
Diagnosa :
• Pengamatan secara visual terhadap tingkah laku dan gejala klinis yang timbul
• Pengamatan secara mikroskopis untuk melihat morfologi
parasit melalui pembuatan preparat ulas dari organ insang.

Pengendalian :
• Mempertahankan kualitas air terutama stabilisasi suhu air > 29° C
• Mengurangi kadar bahan organik terlarut dan/atau meningkatkan frekwensi pergantian air
• Ikan yang terserang gyrodactyliasis dengan tingkat prevalensi dan intensitas yang rendah, pengobatan dapat dilakukan dengan perendaman beberapa jenis desinfektan, antara lain:
✓ Larutan garam dapur pada konsentrasi 500-10.000
ppm (tergantung jenis dan umur ikan) selama 24 jam
✓ Larutan Kalium Permanganate (PK) pada dosis 4 ppm selama 12 jam
✓ Larutan formalin pada dosis 25-50 ppm selama 24 jam atau lebih.

sumber : sumber : Kementerian Kelautan dan Perikanan, Dirjen. Perikanan Budidaya, 2010

Minggu, 26 Desember 2010

Betta Fish Water

Betta Fish Water


Author:

Rafael Marquez



Chances are you got your betta fish at a pet store of somekind. If you had the typical experience, you got a person that told you nothing about the water requirements for your betta or anything else about betta fish care. They may or may not have told you that you needed to change the water, but gave you no guidance. Actually, when you got home and got a good smell of the water your betta was in, you decided to change the water out.


You may be inclined to think that any water will do. Most clean water looks, smells and tastes the same, unless it came out of a toilet bowl or something like that, right? Seriously though, different sources of water produce water that has many different characteristics. There are many invisible, and hard to distinguish factors that can have a bad effect on your betta. These invisible things could actually kill your betta.


Here are a couple of water parameters that you should keep in mind when taking care of your betta:


Water pH.


Without getting into a chemistry conversation, pH is a measure of the acidity of the water. If you think about what acid does, you\'ll understand the importance of keeping an eye on this measure. The range goes from 0-14 and the lower the number, the higher the acidity. A pH of 7 is a neutral reading, meaning that the water is neither acidic nor basic.


The thing with the pH level of water, is that it\'s tied closely to the source of the water.


Typically speaking, if your water comes from an underground source and has been seeped through lots of different rocks, it probably has a lot of dissolved minerals in it. Water with a lot of minerals dissolved in it is called 'hard water'. Water from lakes or ponds, where maybe there was a lot of decaying materials etc. usually has more acidity to it but is called 'soft water.' In some places, the rain water collects so many chemicals as it makes its way through the atmosphere that by the time it reaches the ground it\'s called 'acid rain.'


Lots of mineral in suspension = hard water = high pH. The opposite is also true, less minerals = soft water = low pH.


The only way to tell if your water has high or low pH is to measure it with a pH test kit. The test kits are cheap, but you must have one in order to test the acidity of the water. Most water in the US will test between 6-8, but hardly any water will test at the magical 7 without being treated.


Most tropical fish, such as bettas need water that has a neutral pH, meaning the water should test at a 7. To adjust the pH of the water, you need to add 'pH up' or 'pH down' depending on the case to the water, until it tests at a 7.


VERY IMPORTANT


Any adjustments to the pH must be done gradually. Bettas, like most fish, are very sensitive to sudden fluctuations in their water environment. Only add a few drops at a time of either solution to keep the change as gradual as possible.


Water Temperature


Fish are very sensitive to the temperature of their water.


Tropical fish like water temperatures between 75F and 82F. You may need to get a heater to keep the water within that temperature range, specially if you have a large tank. When it comes to water heaters for your fish tank, you really do get what you pay for, so get the best quality heater that you can afford. You do not need a heater if your tank is smaller than 5 gallons since you may end up cooking your fish.


Regardless of the size of your tank water temperature, is something that you can\'t see, so you\'ll need to have a thermometer for your tank. Just use one of those that stick to the side of the tank and you should be fine.


If you\'d like to learn more about what kind of water to use and learn more tips about betta fish care, click here to continue.




Visit bettafishguy.com for more information about betta fish care

Article Source: http://www.articlesbase.com/pets-articles/betta-fish-water-488169.html

About the Author

Rafael is a renaissance man. He likes to write about relationships, technology, marketing and whatever else strikes his fancy.

LESTARIKAN TERUMBU KARANG INDONESIA

LESTARIKAN TERUMBU KARANG INDONESIA



Terumbu karang adalah karang yang terbentuk dari kalsium karbonat koloni kerang laut yang bernama polip yang bersimbiosis dengan organisme miskroskopis yang bernama zooxanthellae. Terumbu karang bisa dikatakan sebagai hutan tropis ekosistem laut. Ekosistem ini terdapat di laut dangkal yang hangat dan bersih dan merupakan ekosistem yang sangat penting dan memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Biasanya tumbuh di dekat pantai di daerah tropis dengan temperatur sekitar 21-300C. Beberapa tempat tumbuhnya terumbu karang adalah pantai timur Afrika, pantai selatan India, Laut Merah, lepas pantai timur laut dan baratl laut Australia hingga ke Polynesia. Terumbu karang juga terdapat di pantai Florida, Karibia dan Brasil. Terumbu karang terbesar adalah Great Barier Reef di lepas pantai timur laut Australia dengan panjang sekitar 2000 km. Terumbu karang merupakan sumber makanan dan obat-obatan dan melindungi pantai dari erosi akibat gelombang laut.

Terumbu karang memberikan perlindungan bagi hewan-hewan dalam habitatnya termasuk sponge, ikan (kerapu, hiu karang, clown fish, belut laut, dll), ubur-ubur, bintang laut, udang-udangan, kura-kura, ular laut, siput laut, c umi-cumi atau gurita, termasuk juga burung-burung laut yang sumber makanannya berada di sekitar ekosistem terumbu karang.


Terumbu Karang Bunaken

Terumbu Karang Bunaken

Ada dua jenis terumbu karang yaitu terumbu karang keras (hard coral) dan terumbu karang lunak (soft coral). Terumbu karang keras (seperti brain coral dan elkhorn coral) merupakan karang batu kapur yang keras yang membentuk terumbu karang. Terumbu karang lunak (seperti sea fingers dan sea whips) tidak membentuk karang. Terdapat beberapa tipe terumbu karang yaitu terumbu karang yang tumbuh di sepanjang pantai di continental shelf yang biasa disebut sebagai fringing reef, terumbu karang yang tumbuh sejajar pantai tapi agak lebih jauh ke luar (biasanya dipisahkan oleh sebuah laguna) yang biasa disebut sebagai barrier reef dan terumbu karang yang menyerupai cincin di sekitar pulau vulkanik yang disebut coral atoll.

Terumbu karang ditemukan di sekitar 100 negara dan merupakan rumah tinggal bagi 25% habitat laut. Terumbu karang merupakan ekosistem yang sangat rentan di dunia. Dalam beberapa dekade terakhir sekitar 35 juta hektar terumbu karang di 93 negara mengalami kerusakan. Ketika terumbu karang mengalami stres akibat temperatur air laut yang meningkat, sinar ultraviolet dan perubahan lingkungan lainnya, maka ia akan kehilangan sel alga simbiotiknya. Akibatnya warnanya akan berubah menjadi putih dan jika tingkat stresnya sangat tinggi dapat menyebabkan terumbu karang tersebut mati.

Jika laju kerusakan terumbu karang tidak menurun, maka diperkirakan pada beberapa dekade ke depan sekitar 70% terumbu karang dunia akan mengalami kehancuran. Kenaikan temperatur air laut sebesar 1 hingga 20C dapat menyebabkan terumbu karang menjadi stres dan menghilangkan organisme mikroskopis yang bernama zooxanthellae yang merupakan pewarna jaringan dan penyedia nutrient dasar. Jika zooxanthellae tidak kembali, maka terumbu karang tersebut akan mati.

Selama 100 tahun terakhir, paras muka air laut naik 1 meter, suhu permukaan bumi naik 10C. Dunia kian dipadati manusia, lebih dari enam-setengah miliar jiwa. Perjuangan memenuhi kebutuhan hidup kian ganas. Industri wahana modernisani kian meluas dan kian rakus. Maka polusi pun kian kejam, khususnya ketika CO2 mengangkasa lalu merangsang tumbuhnya kubah raksasa yaitu efek rumahkaca, hingga pemanasan global (global warming) pun kian melelehkan es kedua kutub bumi. Maka menjadi tidak aneh ketika ribuan pakar dunia mengabarkan betapa cepatnya paras permukaan air laut naik. Menurut beberapa ahli pakar dunia mengatakan bahwa setiap kenaikan temperatur bumi 100C, permukaan air laut naik 1 meter. Faktanya, selama 100 tahun terakhir, paras muka air laut telah naik 1 meter. Jika kondisi ini terus berlangsung, maka bukan tidak mungkin pada tahun 2030-an sekitar 2000 pulau milik Indonesia tenggelam.

Pemanasan global yang saat ini terjadi bukan hanya mengancam kehidupan manusia di atas permukaan tanah namun juga mengancam ekosistem terumbu karang di bawah laut. Pada peristiwa El Nino tahun 1997/1998, suhu permukaan air laut naik secara tiba-tiba, menyebabkan terjadinya pemutihan karang secara massal dan mematikan sekitar 16% terumbu karang di seluruh dunia. Sebagian besar diantaranya adalah terumbu karang yang berumur ratusan bahkan ribuan tahun.

Indonesia sebagai negara yang memiliki hutan cukup luas di dunia, sangat memainkan peran penting untuk bisa menjaga paru-paru dunia. Sejauh ini hutan di percaya sebagai paru-paru dunia yang dapat mengikat emisi karbon yang di lepas ke udara oleh pabrik-pabrik industri, kendaraan bermotor, kebakaran hutan, asap rokok dan banyak lagi sumber-sumber emisi karbon lainnya, sehingga dapat mengurangi dampak pemanasan global. Namun sesungguhnya Indonesia yang 2/3 wilayahnya adalah lautan, juga memiliki fungsi dan peran cukup besar dalam mengikat emisi karbon bahkan dua kali lipat dari kapasitas hutan. Emisi karbon yang sampai ke laut, diserap oleh phytoplankton yang jumlahnya sangat banyak dilautan dan kemudian ditenggelamkan ke dasar laut atau diubah menjadi sumber energi ketika phytoplankton tersebut dimakan oleh ikan dan biota laut lainya.

Indonesia merupakan negara pengekspor karang hidup terbesar dunia. Tercatat 200 ribu karang pada 2002 sampai 800 ribu karang pada 2005 telah di ekspor dari Indonesia. Sementara sumbangan produksi terumbu karang Indonesia di sektor perikanan mencapai US$ 600 juta per tahun. Ini karena Indonesia terletak dalam jantung kawasan segitiga karang dunia (heart of global coral triangle). Lokasi ini menjadikan Indonesia memiliki jumlah jenis karang terbesar di dunia dari sekitar 700 jenis karang di dunia, 590 diantaranya ada di Indonesia. Disisi lain coral triangle memiliki fungsi penting bagi kehidupan manusia. lebih dari 120 juta orang hidupnya bergantung pada terumbu karang dan perikanan di kawasan tersebut. Coral triangle yang meliputi Indonesia, Philipina, Malaysia, Timor leste, Papua New Guinea dan Kepulauan Salomon ini, merupakan kawasan yang memiliki keanakaragaman hayati laut tertinggi di dunia khususnya terumbu karang.

Namun, pemanasan global juga membawa ancaman terhadap terumbu karang Indonesia, yang merupakan jantung kawasan segitiga karang dunia. Dampak dari naiknya suhu dan permukaan air laut yang terjadi pada akhir-akhir ini telah mengakibatkan 30% terumbu karang yang ada di Indonesia telah mengalami bleaching (pemutihan). Jika luas total terumbu karang yang ada di Indonesia 51.020 km2, terumbu karang yang mengalami pemutihan akibat pamanasan global ini sedikitnya telah mencapai 15.306 km2. Kondisi ini juga akan memberikan implikasi pada sosial ekonomi masyarakat sekitar dan pariwisata bahari.

Naiknya suhu dan permukaan air laut adalah dua kendala yang menjadi penyebab utama kerusakan dan kepunahan terumbu karang. Kedua kendala tersebut juga memberikan dampak serius pada ekologi samudera dan yang paling penting terumbu karang yang merupakan tempat tinggal berbagai macam mahluk hidup samudera. Hewan karang akan menjadi stres apabila terjadi kenaikan suhu lebih dari 2-30 celcius di atas suhu air laut normal. Pada saat stress, pigmen warna (Alga bersel satu atau zooxanthellae) yang melekat pada tubuhnya akan pergi ataupun mati sehingga menyebabkan terjadinya bleaching (pemutihan). Sebanyak 70-80 persen karang menggantungkan makanan pada alga tersebut, jadi mereka akan mengalami kelaparan ataupun kematian. Bila karang memutih atau mati, rantai makanan akan terputus yang berdampak pada ketersediaan ikan dilaut dan ekosistem laut.

Terumbu karang dapat mengurangi dampak dari pemanasan global. Terumbu karang dengan kondisi yang baik memiliki fungsi yang cukup luas, yaitu: memecah ombak dan mengurangi erosi; tempat cadangan deposisi kapur yang mengandung carbon; sebagai tempat berkembang-biak, mencari makan dan berlindung bagi ikan dan biota laut lainnya. Terumbu karang juga berfungsi mengurangi karbon yang lepas ke atmosfer sehingga dapat mengurangi kerusakan ozon. Tetapi pada terumbu karang dengan kondisi jelek terjadi pengurangan kapur yang mengakibatkan turunnya permukan terumbu karang. Sehingga gelombang laut tidak dapat lagi di pecah oleh terumbu karang yang letaknya menjadi jauh dibawah permukanan laut. Lambat laut, gempuran gelombang laut mengerus dataran rendah menjadi laut.

Salah satu usaha menghadapi ancaman pemanasan global adalah menjaga dan memelihara terumbu karang. Imam Bachtiar, salah seorang pemerhati terumbu karang sudah sering kali mengingatkan “Jika anda tidak memelihara terumbu karang di wilayah pesisir anda, cucu anda tidak dapat mewarisi tanah dan rumah anda sekarang, karena 100 tahun lagi akan menjadi laut. Akankah kita berdiam diri hingga prediksi ini benar-benar terjadi?”

Para pemerhati lingkungan juga melontarkan berbagai gagasan, ide dan saran kepada pengambil kebijakan untuk menjaga kondisi terumbu karang agar dapat berfungsi dengan baik. Salah satunya ajakan untuk turut berpartisipasi dalam kegiatan Friends of the Reef (FoR) di beberapa lokasi di Asia Pasifik. Misi utama FoR adalah mengasilkan stategi untuk meningkatkan daya tahan dan daya lenting terumbu karang agar mampu menghadapi ancaman pemanasan global.

Baru-baru ini Presiden Republik Indonesia mengadakan pertemuan di Sydney dan telah mengumumkan sekaligus mengajak negara-negara di dunia, khususnya di kawasan Asia Pasifik untuk menjaga dan melindungi kawasan segitiga karang dunia yang dikenal dengan nama Coral Triangle. Indonesia bersama lima negara lainnya yaitu Philipina, Malaysia, Timor Leste, Papua New Guinea dan Kepulauan Salomon mengumumkan sebuah inisiatif perlindungan terumbu karang yang di sebut Coral Triangle Initiative (CTI). Inisiatif ini mendapat kesan positif dari negara- negara maju seperti Amerika Serikat dan Australia.

Perlindungan terhadap keanekaragaman hayati laut, terutama terumbu karang melalui CTI sangat erat kaitannya dengan ketahanan pangan upaya mengurangi kemiskinan. Jika terumbu karang terjaga baik, maka sumber perikanan juga akan terus memberikan pasokan makanan bagi manusia.

Salah satu institusi yang mengembangkan program pengelolaan dan rehabilitasi terumbu karang adalah COREMAP yang menyampaikan informasi yang berimbang mengenai kondisi terumbu karang di Indonesia. Kemudian penggunaan slogan atau moto dalam program pengelolaan terumbu karang juga perlu mendapat perhatian khusus. Menjaga kelestarian terumbu karang bukan hanya menjadi tanggung jawab nelayan saja melainkan seluruh umat manusia di bumi ini.

Seharusnya mulai sejak sekarang kita peduli terhadap terumbu karang. Dengan menanamkan pendidikan kepada masyarakat luas (terutama yang tinggal di sepanjang garis pantai) mengenai fenomena ini melalui beberapa media seperti leaflet, booklet dan berbagai media komunikasi cetak lainnya perlu disebarkan ke masyarakat, termasuk melalui media eletronik, radio dan televisi. Kemudian adanya penegakan hukum dan partisipasi pesisir dalam menjaga keutuhan wilayah pesisir yang salah satunya dengan mengawasi dan menjaga aktifitas penambangan liar di daerah pesisir yang harus segera dihentikan. Dan yang paling penting untuk mengurangi dampak dari pemanasan global dengan kampanye tentang gas emisi dari macam-macam sumber yang ikut memperburuk kondisi ozon.

Mengupayakan kelestarian, perlindungan dan peningkatan kondisi ekosistem terumbu karang, terutama bagi kepentingan masyarakat yang kelangsungan hidupnya sangat bergantung pada pemanfaatan ekosistem tersebut. Meningkatakan hubungan kerjasama antar institusi untuk dapat menyusun dan melaksanakan program-progam pengelolaan ekosistem terumbu karang berdasarkan keseimbangan dalam pemanfaatan sumber daya alam. Manyusun tata ruang dan pengelolaan wilayah pesisir dan laut untuk mempertahankan kelestarian ekosistem terumbu karang dan kelastarian fungsi ekologis terumbu karang. Dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, penelitian, sistem informasi, pendidikan dan pelatihan dalam pengelolaan terumbu karang dengan meningkatkan peran sektor swasta dan kerjasama internasional merupakan kebijakan umum dalam pengelolaan terumbu karang di Indonesia.

sumber : http://www.perikanan-budidaya.dkp.go.id

Sabtu, 25 Desember 2010

Basic Tips For Fish Care

Basic Tips For Fish Care


Author:

Jody Siena

Fish care depends on the type of fish, which include saltwater fish (Marine Fish) and freshwater fish. (Non-Marine Fish). The type of aquarium also depends on the type of fish you intend to raise. If you purchase saltwater fish, it is important that you, daily check the status of your fish. If your fish seem healthy likely, you are doing something right. On the other hand, if your fish seem sickly then you need to take another course of action to maintain your fish’s health. It is important that you become familiar with each fish in your tank to help you spot behavior patterns. Familiarizing yourself with the fish will help you to notice peculiar changes in behaviors.

In addition, you want to make sure that you feed your fish according to their demands. Some fish require food every three days, while other fish may not. To maintain the water you will need to use filters, etc, to evaporate the water and remove chlorine build up, which you will also add calcium to. If you own saltwater fish it is recommended that, you add iodine salt at least 2-times each week to the tank. In addition, you want to clear the tank of photosynthetic organisms (Algae) buildup regularly.

Each week you will need to remove at least 10 percent and no more than 15of the aquarium water. Once you remove the water refill the tank with pure water. The process will help eliminate unwarranted chemicals. If you fill your tank with tap water, make sure you seek advice from your local pet shop, since these people know if the area water is sufficient to maintained fish health. Water builds up chlorine, ammonia, copper, metal, and so on. If you have chemical buildups in your water supply you will need to buy water purification systems, or else take measures to de-chemicalize your water. Chemical, biological, and mechanical filtration systems are available that most pet stores where fish are sold. Inquire with in.

When you change the fish water, make sure you remove rubbish from the gravel by drawing off your filters, vacuums, etc. You can purchase test kits and buffers at local pet shops where fish are sold as well. The tester kits are important to have, since you will need to test the fish aquarium at least every two weeks. After you test the water, it is recommended that you wait 24-hours before changing the water. The test kits will help you spot nitrite, ammonia, chlorine, metal, copper, calcium build up, nitrate, etc, including pH water levels. Bear in mind that fish produce their own level of nitrites, which is non-toxic to fish. Nitrite is defined as nitrous acidy salts, which esters of nitrite is produced from acids. Nitrates are utilized to change organic compounds and turn them into nitrates. Nitrates help to breakdown ammonia, turning the ammonia into nitrites while nitrates will produce ammonia build up. In addition, monthly you should check for alkalinity build up. Alkalinity is the measurement of alkali, which is concentrated and measured in terms of water pH. Test kits typically are used to test alkalinity.

Fish tanks typically include filtration systems or filters, such as the chemical, biological, and mechanical filters. It is important that you replace these filters once spoiled. Check the filters every two weeks.

In addition, each month you should replace at least a quarter of the fish water to purify. It is recommended that you keep records on specific details of fish care and aquarium care. To learn more go online now.

Article Source: http://www.articlesbase.com/pets-articles/basic-tips-for-fish-care-817419.html

About the Author

Learn about leopard sharks and zebra shark at the Types Of Sharks site.

Jumat, 24 Desember 2010

Discus Fish Care: The Importance of the Water

Discus Fish Care: The Importance of the Water
by: Michael Hickmon




When it comes to discus fish care, it can be a quite complicated task to make sure that you fish are happy and healthy and getting everything that they need, discus fish are not really recommended for beginner aquarists but if you would like to give it a try, then there are some important factors that you should consider when it comes to discus fish care, and one of the most important factors in the health of a discus fish is the water.

Discus fish come from the Amazon River and so they are used to warmer and more acidic water types. The ideal temperature for a discus water tank should be around 26-31 C for adult fish and for baby discus and young discus fish, the ideal temperature of the water should be kept at 31 C. it is important for the water to be soft and acidic with a pH lever of between 5.5 and 6.5, and this is an ideal pH level for wild caught discus fish to maintain their health.

Many aquarists think that the water in a discus fish tank should be changed often (this is the same with any fish tank) but if you maintain a well planted tank that includes adequate filtration, lighting and bottom dwelling fish to clean up the mess that discus leave behind after eating, then this should keep the tank a lot cleaner and the water clearer for longer and you can simply top up the tank every other day with RO water. When it comes to the plants and other fish that you decide to keep in the water with your discus fish, you should choose fish and plants to compliment the discus so that they are able to thrive and do well.

When it comes to captive discus fish which have been bred, then it is possible for them to adapt to harder water which makes discus fish care that little bit easier. Captive discus can survive in water with a pH balance of up to 6.8 (this is not suitable if you are attempting to breed discus however, soft and acidic water is best for breeding) when the pH balance is low then it protects the discus fish from the poison of toxins which allows the discus to live in conditions that are almost the same as the water conditions that they were evolved from.

It is important to note that a pH level which drops below 5 can inhibit the growth of beneficial bacteria which can exist in the filter that you provide. So when it comes to discus fish care you must remember that the temperature and the pH balance of the water is very important any drop or change in the pH can cause the discus to get sick and can even cause them to die, which is why that it is not considered acceptable for inexperienced fish owners to look after discus fish, however we all must learn some where and if you are really interested in owning your own discus aquarium, then be sure to read up on all of the information that is available to you on discus fish care.


About The Author
The author has created a review site that provides you with the most In-Depth and Complete analysis of the best discus fish care guide on the planet, called Discus Fish Secrets. Visit the author's web site at:
http://pet-whisperer.com

Kamis, 23 Desember 2010

Penyuluh perikanan ditambah

Penyuluh perikanan ditambah



PADANG Kementerian Kelautan dan Perikanan menargetkan terpenuhinya tenaga penyuluh sektor perikanan sebanyak 15.350 orang untuk mengoptimalkan pengembangan gerakan masyarakat minapolltan dan kewirausahaan di sektor perikanan dan kelautan. Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad mengatakan tenaga penyuluh pertanian berperan penting meningkatkan kapasitas produksi sektor perikanan dan kelautan di daerah sehingga diperlukan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi yang baik.

Untuk itu, tenaga penyuluh perikanan akan ditambah dengan kompetensi yang lebih semakin berkualitas, yaitu dengan memberikan pelatihan bagi 6.000 tenaga penyuluh dari pegawai negeri sipil dan lembaga swadaya masyarakat, (s/sw/s/fsd


Sumber : Bisnis Indonesia 23 Desember 2010,hal.i6

Rabu, 22 Desember 2010

Dactylogyriasis (Worms Gills)

Dactylogyriasis (Worms Gills)

Cause: Dactylogyrus spp., Cychlidogyrus spp., Quadricanthus spp.

Bio-Ecology Pathogens

• Ekto-obligate parasites that are parasitic and reproduce by laying eggs
• infect all species of freshwater fish, especially the size of the seed. Transmission occurs when infective face (Onchomiracidium).
• Dactylogyrus spp. has 2 pairs of eye point, and at the tip of his head there are 4 bumps. Cychlidogyrus spp. shape is more flattened at both ends, and only has a pair of eye point. Quadricanthus spp. shape
Dactylogyrus similar spp., and has a host of species that target specific groups of catfish.
• Severe infections can kill 30-100% within a few weeks

Clinical Symptoms:
• pale body color, decreased appetite, thin, nervous and slow
• Respiratory frequency increased, the production of excess mucus in the gills and often cavort
• Gather / closer to the water inlet
• Gills pale or swollen so that the open operculum

Diagnosis:
• Visual observation of behavior and clinical symptoms that arise
• Microscopic observation to see morphology
parasites through the production segment of the organ gill preparations.

Control:
• Maintaining water quality, especially the stabilization of the water temperature> 29 degrees Celsius
• Reducing the levels of dissolved organic material and / or increase the frequency of water changes
• Dactylogyriasis attacked fish with prevalence and intensity level is low, treatment can be done by soaking several types of disinfectants, among others:
✓ salt solution at a concentration 500-10000
ppm (depending on the type and age of fish) for 24 hours
✓ Solution Potassium Permanganate (PK) at a dose of 4 ppm for 12 hours
✓ formalin solution at doses of 25-50 ppm for 24 hours or more
✓ Glacial acetic acid 0.5 ml / L for 30 seconds every 2 days for 3 - 4 times

source: Ministry of Maritime Affairs and Fisheries of Indonesia, Directorate General of Aquaculture, Fish and Environmental Health Directorate, 2010