Senin, 16 Februari 2009

PEMBENIHAN IKAN NILA HITAM

PEMBENIHAN IKAN NILA HITAM


1. PENDAHULUAN

Ikan Nila Hitam adalah jenis ikan yang secara taksonomi termasuk spesies Oreochromis niloticus bleeker. Ikan Nila Hitam berasal dari sungai Nil di Uganda, pertama kali di impor dari Taiwan ke Indonesia tahun 1969 dan dikembangkan di danau. Tondano Sulawesi Utara yang selanjutnya menyebar ke seluruh Indonesia.

Ikan Nila Hitam merupakan jenis ikan air tawar yang mudah dikembangbiakan dan memiliki toleransi tinggi terhadap perubahan lingkungan maupun kemudahan pemeliharaannya. Karena memiliki berbagai kelebihan dibanding jenis ikan lainnya, menjadikan Ikan Nila Hitam mudah sekali diterima masyarakat.

Selain kelebihan seperti disebutkan di atas, Ikan Nila Hitam relatif tahan dari serangan penyakit serta Ikan Nila Hitam termasuk hewan pemakan segala (Omnivora).

Saat ini ada beberapa jenis Ikan Nila yang beredar di Indonesia, yaitu :

1. Nila Hitam (T.69, Citralada, Gift dan Get);

2. Nila Merah(Hibrida).



2. SISTIMATIKA
Phillurin: Chordata
Subphillum: Vetebrata
Kelas; Pisces
Subkelas: Aconthoterigii
Suku: Cichlidae
Marga: Oreochromis
Spesies: Oreochromis niloticus

Ciri-ciri :

▪ Badan memanjang, bentuk tubuh. pipih, sisik besar dan kasar, kepala relatif kecil, garis Iinecalateralis terputus dan terbagi dua, yaitu bagian atas dan bawah, memiliki 5 buah sirip dengan rumus D.XVI.12; C.V.1.5; P.12 dan A.111.9.

▪ Banyak ditemukan di perairan tenang seperti danau, rawa dan waduk, dapat hidup pada salinitas 0 - 29 permil, suhu 14 - 38°C dan pH 5-11.

▪ Pemakan segala (Omnivora), sangat menyenangi pakan alami Rotifera, Daphnia Sp, Mobia Sp, Benthos dan Fitoplankton. Bisa diberi pakan tambahan berupa pellet, dedak halus dan lain-lain;

• Memijah sepanjang tahun dan mulai memijah umur 6 - 8 bulan. Seekor induk betina ukuran 200 - 400 gram dapatmenghasikan anak niencapai 400 - 500 ekor.



Perbedaan Jantan dan B etina:

A. Jantan :

■ Warna tubuh cerah dan memiliki satu buah lubang kelamin, yang bentuknya memanjang dan berfungsi sebagai tempat keluarnya sperma dan air seni;

■ Warna sirip memerah terutama pada saat matang kelamin.



B. Betina :

■ Warna tubuh agak pucat dan memiliki 2 (dua) buah lubang kelamin, lubang pertama. berada dekat anus, bentuknya seperti bulan sabit berfungsi sebagai tempat keluarnya telur.
Lubang ke dua berada dibelakangnya, bentuknya bulat yang berfungsi sebagai tempat keluarnya air seni.



3. PEMBENIHAN

Pembeniban Nila dapat dilakukan pada kolam tanah dengan konstruksi dasar kolam dibuat masing-masing 2 - 5% yang dilengkapi dengan kubangan 1,5 x 2 x 0,5 m atau pada bak semen/hapa.

Pada Kolam Tanah

• Persiapan kolam meliputi perataan tanah dasar kolam dan pemupukan dengan pupuk kandang 250 - 1000 gram/ m.2

■ Pemijahan di kolam tanah seluas minimal 500 m2, ke dalam air 60-100 cm;

■ Induk jantan dan betina dimasukkan bersama dengan padat tebar 1 ekor/m2. Perbandingan jantan dan betina 1: 3;

■ Selama pemijahan induk diberi pakan tambahan berupa pellet sebanyak 3 %/ hari. dari berat total ikan;

• Panen larva dilakukan dengan cara menangkap larva menggunakan sair halus atau sirib secara langsung, dipermukaan air kolam, terutama larva yang sedang bergerombol diasuh induknya. Pemungutan larva seperti ini bisa dilakukan setiap hari dan setelah berkumpul langsung ditebarkan ke kolam. pendederan I yang telah disiapkan 4 - 5 hari sebelumnya.



Pada Bak Semen/Hapa

■ Pemijahan dilakukan dalam bak semen/hapa ukuran/luas 24 - 48 m2, kedalaman air 60 - 80 cm;

■ Induk ditebar bersarna-sama dalam bak/hapa secara intensif yang dipanen bukan larva tetapi masih dalam bentuk telur. Pengambilan telur yang sedang dierami dalam mulut
induknya dilakukan setiap 10 hari sekali. Telur yang telah menjadi larva sesudah ditetaskan dibuat monosex, yaitu jantan atau betina, sesuai kebutuhan;

• Telur yang dipanen kemungkinan ada yang besar, yaitu telur utuh, sudah bermata dan berekor, larva sempurna. Setiap fasenya ditampung dalam wadah yang berbeda;

■ Telur ditetaskan dalam corong penetasan yang terbuat dari fiberglass, kain trilin. atau corong plastik Ke dalam corong penetasan diberi aliran air agar telur dapat bergerak;

• Telur menetas antara 3 - 7 hari. Telur yang tidak menetas berwarna putih dan harus dibuang setiap hari dengan cara disipon;

■ Dua hari setelah menetas, larva dipindahkan ke dalam bak tembok atau hapa ukuran 2 x 1 x 0,5 m yang dipasang secara berderet dengan kedalaman air 60 cm. Untuk ukuran bak/hapa seperti itu bisa ditebar larva sebanyak 2000 - 4000 ekor dan dipelihara selama 25-30 hari;

■ Selama dalam bak atau hapa diberi pakan pellet halus yang diberi hormon alpha methyl testosteron dosis 30%/hari pada awal pemeliharaan, komoditas dapat menurun hingga 12%.


Cara Pembuatan Pakan Berhormon :
■ Timbang pellet halus sebanyak 1 kg;
■ Timbang 17 Alpha Methyl Testosteron (60 mg/kg pakan);
■ Larutkan hormon tersebut dalam. alkohol 90% sebanyak 25 ml, tambahkan alkohol 70% sebanyak 300 - 400 ml, aduk sampai homogen;
• Masukkan larutan tersebut dalam pakan dan aduk sampai rata, kemudian diangin-anginkan sampai kering jangan dijemur);
• Bila sudah kering langsung diberikan. Agar awet, Masukkan pakan dalam plastik dan disimpan dalam. kulkas (-40 derajat Celcius). Dengan cara demikian pakan dapat tahan hingga 3 bulan;


■ Larva yang diberi pakan berhormon harus berukuran panjang total = 13 mm.

Selain melalui pakan, pengubahan kelamin dapat juga dilakukan melalui perendaman dalam larutan hormon 17 Alpha Methyl Testosteron selama 10 -12 jam.

4. PENDEDERAN
pendederan Ikan Nila Hitam dapat dilakukan dalam beberapa tahapan, yaitu pendederan I, II, III dan IV. Tempat pendederan di kolam atau, di bak dengan. perlakuan:

■ Persiapan kolam meliputi pengeringan, perbaikan
pematang, pengolahan tanah dasar dan pembuatan kemalir,
■ Kolam dikapur dengan kapur tohor dan dipupuk dengan pupuk organik,
■ Larva ditebar pada pagi hari, dan diberi pakan tambahan setiap hari selama pendederan berlangsung.

Standar Produksi Kebul, Gabar, Belo dan Sangkal
Ikan Nila Hitam di Bak dan Kolam

Sumber : Dinas Perikanan Propinsi Jabar, 2008

Oksigen terlarut dalam air

Oksigen terlarut dalam air merupakan parameter kualitas air yang paling kritis pada budidaya ikan. Konsentrasi oksigen terlarut dalam kolam selalu mengalami perubahan dalam sehari semalam oleh karena itu, pengelola kolam ikan harus selalu mengetahui atau memantau perubahan konsentrasi oksigen terlarut di dalam kolamnya.



Sumber utama oksigen, terlarut dalam air adalah difusi dari udara dan hasil fotosintesis biota yang berklorofil yang hidup di dalam perairan, Kecepatan difusi oksigen ke dalam air sangat lambat Oleh karena itu, Fitoplankton merupakan sumber utama dalam penyediaan oksigen terlarut dalam perairan. Adapun reaksi fotosintesis dapat ditulis secara sederhana adalah sebagai berikut


sumber : Mulyanto,1992

Minggu, 15 Februari 2009

BUDIDAYA SIDAT (anguilla bicolor),


BUDIDAYA SIDAT
PADA JARING APUNG

1. PENDAHULUAN
Ikan Sidat (anguilla bicolor), termasuk famili Anguillidae, ordo Apodes. Di Indonesia diperkirakan paling sedikit terdapat 5 (lima) jenis Ikan Sidat, yaitu : Anguilla encentralis, A. bicolor bicolor, A. borneonsis, A. Bicolor Pacifica, dan A. celebensis.


Ikan Sidat tumbuh di perairan tawar (sungai dan danau) hingga mencapai dewasa, setelah itu Ikan Sidat dewasa beruaya ke laut dalam untuk melakukan reproduksi. Larva hasil pemijahan akan berkembang, dan secara berangsur-angsur terbawa arus ke perairan pantai. Ikan Sidat yang telah mencapai stadia elver (glass eel) akan beruaya dari perairan laut ke perairan tawar melalui muara sungai.


Ruaya anadromus larva Sidat (elver) berhubungan dengan musim. Diperkirakan ruaya larva Ikan Sidat dimulai pada awal musim hujan, akan tetapi pada musim tersebut faktor arus sungai dan keadaan bulan sangat mempengaruhi intensitas ruayanya.

Ikan Sidat termasuk ikan karnivora. Di perairan umum Ikan Sidat memakan berbagai jenis hewan, khususnya organisme benthik seperti crustacea (udang dan kepiting), polichatea (cacing, larva chironomus dan bivalva serta gastropods). Aktivitas makan Ikan Sidat umumnya pada malam hari (nokturnal).



Ikan Sidat telah dibudidayakan secara intensif di Eropa khususnya di Norwegia, Jerman dan Belanda serta Asia, yaitu : Jepang, Taiwan dan China daratan. Di negara-negara lain seperti Australia, Indonesia dan beberapa negara Eropa dan Afrika Barat umumnya produksi Ikan Sidat masih mengandalkan dari hasil penangkapan di alam.. Ikan Sidat dapat dibudidayakan di dalam ruangan tertutup (indoor) dan di luar ruangan (outdoor). Di Indonesia dengan suhu lingkungan yang relatif konstan sepanjang tahun maka pemeliharaan Ikan Sidat dapat dilakukan di luar ruangan (out door).

Secara praktis Ikan Sidat dapat dibudidayakan di kolam tanah berdinding bambu, kolam beton (bak beton), pen dan keramba faring apung. Apa pun jenis wadah yang digunakan dalam budidaya Ikan Sidat yang hamus diperhatikan adalah bagaimana mencegah lolosnya ikan dari media budidaya.


2. LINGKUNGAN PERAIRAN YANG DIKEHENDAKI UNTUK BUDIDAYA IKAN SIDAT

a. Suhu.
Pada pemeliharaan benih Ikan Sidat lokal, A. bicolor bicolor, suhu terbaik untuk memacu pertumbuhan adalah 29°C.

b. Salinitas.
Pada pemeliharaan Ikan Sidat lokal.,, A. bicolor bicolor (elver), salinitas yang dapat memberikan pertumbuhan yang baik adalah 6 - 7 ppt.

c. Oksigen Terlarut.
Kandungan oksigen minimal yang dapat ditolelir oleh Ikan Sidat berkisar antara 0,5 - 2,5 ppm.

d. pH.
pH optimal untuk pertumbuhan Ikan Sidat adalah 7 - 8.

e. Amonia (N H3- N) dan Nitrit (NO2-N)
Pada konsentrasi amonia 20 ppm sebagian Ikan Sidat yang dipelihara mengalami methemoglobinemie dan pada konsentrasi 30 - 40 ppm seluruh Ikan Sidat mengalami methemoglobinemie.



3. KEBUTUHAN NUTRIEN

Seperti halnya jenis ikan-ikan lain, Ikan Sidat membutuhkan zat gizi berupa protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral.
Kadar protein pakan optimal adalah 45% untuk ikan bestir (juvenil) dan sekitar 50% untuk ikan kecil (fingerling).


4. BUDIDAYA IKAN SIDAT PADA JARING APUNG

a. Jaring Apung.
Satu unit jaring apung memiliki empat kolam berukuran 7 x 7 m, dengan jaring berukuran 7 x 7 x 2,5 m dan mata jaring 2,5 inchi. Untuk menghindari lolosnya ikan, disekeliling tepian kolam bagian atas diberi penutup dari hapa dengan lebar 60 cm.


b. Benih Ikan Sidat.
Benih Ikan Sidat (Anguilla bicolor) berbobot 15 - 20 gram per ekor dengan panjang 20-30 cm.. Benih Ikan Sidat diperoleh dari Pelabuhan Ratu hasil tangkapan nelayan di perairan umum.

c. Padat Penebaran.
Setiap kolam ditebar 100 kg benih Ikan Sidat.

d. Pakan.
Pakan yang diberikan adalah pakan buatan berbentuk pasta dengan kandungan :
■ Protein 47,93%
■ Lemak 10,03%
■ Seratkasar 8,00%
■ BETN 8,32%
■ Abu 25,71%




Pakan diberikan sebanyak 3% dari berat total ikan Konvensi pakan sebesar 1,96.
Dengan konvensi tersebut akan diperoleh laju perturnbuhan
rata-rata 1,46`% dengan mortalitas 9,64 %.


e. Masa Pemeliharaan dan Panen.
Pemeliharaan Ikan Sidat pada kolam keramba jaring apung selama 7 - 8 bulan, dan masa. panen secara bertahap dapat dimulai pada masa pemeliharaan 4 bulan.

Ukuran Ikan Sidat yang, dipanen dapat - mencapai ukuran. konsumsi yaitu 180 - 200 gram per ekor.
Pemeliharaan ikan Sidat pada kolam keramba jaring apung merupakan salah satu alternatif dalam rangka penganekaragaman budidaya ikan pada kolam keramba jaring apung. Namun dalam penerapannya masih perlu diperhatikan kondisi serta kualitas perairan umum yang dipergunakan.

sumber :"dinas Perikanan Provinsi Jabar, 2008


BUDIDAYA BELUT (Monopterus albus)


BUDIDAYA BELUT (Monopterus albus)

1. PENDAHULUAN
Kata Belut merupakan kata yang sudah akrab bagi masyarakat. Jenis ikan ini dengan mudah dapat ditemukan dikawasan pesawahan. Ikan ini ada kesamaan dengan ular kalau sedang berada di atas permukaan sawah, yaitu bergerak dengan melenggok-lenggokan badannya. ke kanan dan ke kiri, serta ciri yang utama badannya berlendir.


Meskipun bentuk badannya yang berbeda, rasa dagingnya yang khas serta kandungan gizi dan proteinnya yang tinggi sangat dibutuhkan oleh tubuh kita. Belut mengandung kandungan asam
lemak tak jenuh sebesar 20%. Jenis lemak yang terkandung dalam Belut termasuk Jenis lemak Omega-3 yang mempunyai manfaat antara lain :

- Mencegah jantung koroner;

- Meningkatkan perkembangan otak (Nutrisi 0tak),

- Membantu menurunkan tekanan darah tinggi (Hypertensi );

- Meringankan penyakit kanker dan ginjal;

- Menambah vitalitas dan stamina;

- Meningkatkan fungsi mata.

Seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya protein hewani, serta cara pengolahannya yang mudah, Belut mulai populer dan digemari oleh masyarakat desa maupun perkotaan.

Penangkapan secara besar-besaran untuk memenuhi permintaan konsumen menyebabkan populasi Belut makin hari makin berkurang, apalagi jika cara penangkapan yang sangat dilarang oleh pemerintah ,seperti diberi kejutan arus listrik dengan menggunakan accu.

Melihat kondisi tersebut, maka harus dicari cara untuk melestarikannya. Anggota kelompok tani Iwan Hermawan dan Epen Sukendar dengan binaan seorang PPL Wawan Setiawan SP., berhasil melakukan usaha pelestarian, Belut melalui berbagai penelitian danpercobaan selama 8 tahun.
Dengan adanya keberhasilan ini, konsumen tidak harus bergantung pada hasil dari penangkapan liar.

Dari segi bisnis Belut cukup menjanjikan karena permintaan dari dalam dan luar negeri sampai saat ini belum terpenuhi dan makin hari permintaan jumlahnya makin meningkat apalagi ada pengakuan dari beberapa negara bahwa Belut Indonesia khususnya yang berasal dari pulau Jawa mempunyai kualitas paling tinggi.


2. MENGENAL LEBIH JAUH TENTANG BELUT

Belut merupakan binatang air yang hidupnya harus dengan media lumpur halus. Lalu mengapa Belut harus memakai media lumpur halus sebagai tempat hidupnya? Hal ini dikarenakan :

• Belut memerlukan pengaman untuk tubuhnya dari segala pemangsa dan cuaca dengan memendamkan tubuhnya dalam Lumpur;

• Belut tidak mempunyai sisik dan sirip sehingga mudah terluka;

• Belut dilindungi oleh cairan lendir seperti minyak goreng yang berguna untuk menjaga kestabilan tubuh. untuk mempermudah dalam membuat lubang sebagai tempat tinggalnya;

• Belut dalam mencari mangsa atau makanan dengan menunggu didepan ujung lubang yang dijadikan tempat untuk mengintai karena sifat belut yang pasif;

• Belut akan menjadi aktif dan kanibal apabila merasa lapar atau
jika sedang mencari pasangan untuk melakukan perkawinan sesuai masa pertumbuhannya;

. Belut bukan termasuk ikan yang rakus, oleh karena itu pertumbuhannya lambat dibandingkan dengan jenis ikan lainnya selain itu Belut tidak memiliki pencernaan yang bisa mencerna makanan dengan cepat karena bentuk pencernaannya tunggal memanjang seperti bentuk tubuhnya.

3. CARA REPRODUKSI BELUT

Belut melakukan reproduksi melalui beberapa tahapan, yaitu :

1. Setelah dilakukan pengamatan secara terus menerus di lapangan maka diperoleh hasil Belut dewasa biasanya akan mencari pasangan untuk melakukan perkawinan untuk saling mengisi kekosongan dan saling membuahi. Belut betina akan mencari Belut jantan yang akan membuahi telur yang sudah siap dikeluarkan dari perutnya;

2. Belut jantan akan mencari Belut betina yang sudah siap dibuahi dan membuahinya. Pada masa suburnya Belut bisa lebih dari satu pasangan saling bergerombol dan berkelompok mencari pasangan yang cocok dengan nalurinya. Setelah mendapat pasangan yang cocok biasanya tidak terlalu jauh ukuran tubuhnya, pejantan lebih besar sedikit dengan betinanya;

3. pasangan yang siap melakukan perkawinan akan berenang menuju lubang atau sarang yang sudah dipersiapkan oleh sipejantan di tempat itu dan pasangan ini akan melakukan perkawinan dan dalam perkawinan ini akan saling membuahi;

4. Setelah beberapa hari perkawinan biasanya ada tanda berbentuk busa putih kekuningan di atas permukaan air Belut betina menyimpan telur dalam gelembung busa yang berwarna kuning dan akan ditunggui oleh Belut jantan sampai telur menetas, sedangkan Belut betina setelah mengeluarkan telurnya dia langsung pergi untuk mencari makan karena lapar setelah
melakukan perkawinan atau membuat lubang baru untuk berdiam diri dan mengintip mangsa yang, lewat

5. Telur-telur Belut akan menetas setelah 1- 7 hari, selama itu pula gumpalan busa bisa bertahan sampai telur-telur Belut menetas menjadi larva dan Belut jantan akan menunggu dengan setia;

6. Setelah menetas menjadi benih, maka benih tersebut akan mencari makan sendiri dan harus bisa bertahan dari pemangsa yang kadang-kadang datang dari Belut yang ukurannya lebih besar karena Belut termasuk hewan golongan kanibal. Perjuangan mencari makan dan perlindungan diri harus dilakukan sampai Belut menjadi dewasa (sampai umur 6 bulan).

Menurut pengamatan di lapangan, Belut bisa bereproduksi lebih dari situ kali sesuai dengan kesuburannya, karena Belut merupakan hewan hermaprodit dengan cara saling, mengisi antara jantan dan betina.

Belut termasuk binatang hermaprodit yang menurut pengamatan sebagian orang sulit untuk membedakan antara Belut betina dan jantan, ada yang berpendapat Belut pada awalnya berjenis kelamin betina dan setelah malakukan perkawinan akan berubah menjadi Belut jantan. Selanjutnya Belut jantan yang kosong tidak mempunyai kelamin yang sering disebut Belut banci.


4. PERBEDAAN BELUT JANTAN DAN BETINA

Pada awal mulai dewasa, Belut cenderung kelihatan berjenis kelamin betina karena berisi telur yang siap dikeluarkan dan dibuahi belut jantan dan saat melakukan perkawinan Belut tersebut akan saling membuahi dengan cara alami dan saling mengisi sebagai bentuk pertukaran kelamin sambil membuahi untuk menetas.
Setelah selesai perkawinan Belut jantan akan berubah menjadi betina sedangkan Belut betina akan berubah menjadi jantan.

Demikian siklus ini berlangsung terus selama kondisi masa subur Belut tersebut baik.

.........................................jantan............................. Betina
Bentuk kepala: ..............tumpul.......................... runcing
Ukuran badan.................lebih dari 35 cm............ kurang dari 35 cm
Bentuk ekor.................... kurang lancip................ lancip
Umur ..............................diatas 7 bulan................... dibawah 7 bulan






5. FAKTOR PENDUKUNG DALAM BUDIDAYA BELUT

Sebelum kita membudidayakan Belut, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, diantaranya :

1. Tempat.
Jawa Barat secara umum memiliki persawahan yang luas dan sawah merupakan tempat yang sangat cocok untuk budidaya Belut.

2. Ketinggian. Ketinggian yang paling baik untuk
budidaya Belut yaitu 500 - 700 dpl.

3. Kualitas air. Air yang dibutuhkan harus air yang jernih, kaya akan oksigen dan tidak tercemar oleh limbah maupun bahan kimia beracun.

4. Suhu udara. Suhu yang sangat mendukung pertumbuhan Belut berkisar antara 28 - 30 derajat celcius.


6. CALON INDUK
Calon induk yang akan digunakan dalam budidaya harus dalam keadaan sehat dengan tanda-tanda sebagai berikut :

• Anggota tubuh utuh dan mulus, tidak ada luka maupun cacat;

• Agresif dan mampu bergerak lincah;

Tubuh keras dan tidak lemas saat dipegang;

• Umur belut antara 3 - 5 bulan.



7. PAKAN UNTUK BELUT

Di dalam habitatnya, Belut termasuk hewan karnivora. (pemakan daging), karena. Belut memakan segala jenis organisme hidup yang jatuh ke air seperti kutu air, serangga, cacing, berudu, anak kodok, belatung, ikan kecil, bekicot dan marus.



8. HAMA

Hama yang sering ditemui ditempat budidaya. Belut adalah berang-berang, tikus sawah dan ular sawah.



9. PENYAKIT PADA BELUT

Penyebab penyakit yang sering menyerang Belut :
- Kekurangan pakan, menyebabkan Belut lemah dan bersifat kanibal;
- Pemberian pakan yang berlebihan;
- Keracunan yang diakibatkan adanya gas sulfide dari pembusukan tanaman di sekitar kolam;
- Stres disebabkan perubahan suhu air yang mendadak.

sumber : Dinas Perikanan Propinsi Jabar, 2008

Sabtu, 14 Februari 2009

Pembenihan Ikan Patin (pangasius pangasius)

PEMBENIHAN IKAN PATIN
(pangasius pangasius)

1. PENDAHULUAN
Ikan Patin (pangasius pangasius) merupakan. ikan air tawar yang berukuran besar dan bernilai ekonomis penting sebagai ikan konsumsi. Sejak beberapa tahun terakhir ini budidaya ikan Patin ini cukup berkembang pesat.

Dalam budidaya Ikan Patin terdapat beberapa sub-system kegiatan, yaitu ; pembenihan, pendederan dan pembesaran. Kegiatan pembenihan merupakan kegiatan awal dari seluruh kegiatan budidaya perikanan.

Permintaan akan benih/larva Patin oleh pembudidaya meningkat. Benih Patin larva selama ini diproduksi oleh UPR serta panti-panti benih milik pemerintah.

Sejalan dengan hal tersebut, di Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Air Tawar telah dilakukan kegiatan pembenihan Patin secara intensif yang dilakukan di ruang tertutup dengan sistem resirkulasi air.


2. MANAJEMEN INDUK

Induk dari lkan Patin yang sehat dan tidak cacat dengan ukuran minimal 3 kg dan umurnya lebih dari 2,5 tahun untuk betina, sedangkan untuk Induk jantan berumur 1,5 tahun dengan bobot 2 kg.

Induk dipelihara di kolam berukuran 30 x 20 x 1,5 m dengan kepadatan 1 kg/m2. Pakan yang diberikan berupa pellet dengan kadar protein minimal 28% sebanyak 2 - 3% dari biomas/hari.

Frekuensi pemberian pakan dilakukan 2 kali/hari pada pagi dan sore hari.


3. SELEKSI INDUK

Pengecekan tingkat pematangan gonad induk dilakukan dengan cara sebagai berikut :

A. Induk Betina.
Bagian perutnya terlihat membuncit dan lunak, serta daerah sekitar lubang genitalnya berwarna kemerahan.

B. Induk Jantan.
Bagian perut terlihat biasa, bentuk alat kelamin menonjol, bila dipijit bagian perut kearah lubang genitalnya akan mengeluarkan cairan sperma berwarna putih susu


4. PEMBENIHAN IKAN PATIN.

A. Pengecekan telur dengan menggunakan kateter.
■ telur berbentuk bulat, besar, kental dan berwarna putih kekuning-kuningan;
■ Induk jantan kulit perut lembek dan tipis serta alat kelamin membengkak berwarna merah tua.

B. Penyuntikan Induk.
■ Penyuntikan pertama, induk betina dengan. HCG 500 lu/kg + Aquades 2 CC;
■ Induk disimpan dalam -waring atau bak selama kurang lebih 24 jam;
■ Penyuntikan kedua, induk betina dengan Ovaprim 0,6 cc/kg, induk jantan dengan Ovaprim 0,3 cc/kg + Aquades sedikit,
■ Induk disimpan dalam waring atau bak selama 8 -15 jam.

C. Striping dan Pembuahan Buatan.

• Striping induk betina, telur ditampung dalam wadah baskom;
• Campurkan sperma ke dalam baskom dengan cara mengurut bagian perut induk jantan;
Tambahkan larutan NaCI sedikit-demi sedikit sambil diaduk dengan menggunakan bulu ayam sampai sperma bercampur dengan seluruh butir telur;


■ Setelah telur dibuahi kemudian telur dibilas dengan air bersih dengan tujuan menghilangkan lendir;
• Kemudian dicampur dengan larutan tanah/lempung yang sudah disterilkan dengan perbandingan 1 kg tanah : 2 liter air;
■ Telur dibilas dengan air bersih sampai telur benar-benar bersih seperti semula;
■ Telur Patin telah siap ditetaskan.;
• Telur akan menetas setelah 18 - 24 jam;
• Larva dipanen dengan menggunakan sair, ditampung dalam wadah penampungan yang dilengkapi aerasi;
■ Daya tetas telu 70 - 90%;
■ Produksi 200.000 - 300.000 ekor/3 ekor induk.

D. Penetasan Telur Sistem Resirkulasi, Keuntungan Penetasan Sistem Resirkulasi.
■ Lebih praktis;
■ Tidakmemerlukan tempat yang luas;
■ Daya tetas telur meningkat.

sumber Dinas Perikanan Propinsi Jabar, 2008

PEMBENIHAN IKAN GURAME (Osphronemus gouramy Lac.)

PEMBENIHAN IKAN GURAME
(Osphronemus gouramy Lac.)

1. PENDAHULUAN
Dalam mengembangkan usaha tani yang berorientasi agribisnis, perlu dipilih dan. ditetapkan komoditas prioritas yang mempunyai keunggulan komparatif wilayah dan
kompetitif komoditas. Salah satu komoditas perikanan yang cukup prospektif adalah lkan Gurame (Osphronemus gouramy Lac.).

Ikan Gurame merupakan salah satu. komoditas unggulan dalam usaha budidaya
ikan air tawar. Permintaan pasar relatif konstan, bahkan cenderung meningkat dengan harga diatas harga Ikan Mas. Keunggulan harga Ikan Gurame adalah disebabkan tekstur dagingnya yang lebih kompak sehingga disukai konsumen, disamping pengadaan dan pasokannya yang terbatas.

Ikan Gurame dikenal sangat gurih dan lezat, ini belum banyak dibudidayakan secara intensif. Dibeberapa daerah penghasil Gurame seperti Jawa Barat pada umumnya hanya dipelihara secara tradisional, dengan demikian untuk mendapatkan Gurame ukuran berat 1 kg/ekor membutuhkan waktu pemeliharaan cukup lama. Dari pengalaman dan percobaan-percobaan yang ada, ternyata, ikan Gurame ini dapat dibudidayakan secara intensif.

Membudidayakan Ikan Gurame secara intensif dapat dilakukan dalam skala besar ataupun Skala kecil.. Pada garis besarnya usaha budidaya, Ikan Gurame meliputi 3 hal, yakni ; di usaha pembenihan, pendederan dan pembesaran atau secara, khusus, hanya, usaha pembenihan atau pendederan ataupun pernbesarannya saja, karena dari masing-masing jenis usaha ini juga dapat mendatangkan keuntungannya masing-masing.


2. LINGKUNGAN HIDUP IKAN GURAME
Ikan Gurame merupakan ikan air tawar sampai sedikit payau, berair jernih dan dasar kolam yang kurang lumpurnya. Lokasi pemeliharaan yang cocok ialah pada ketinggian 50 - 400 m di atas permukaan laut, dengan subu 24 - 28°C, kedalaman air sekurangkurangnya 75 cm. Ikan ini sangat baik dipelihara, walaupun pertumbuhannya lambat. Untuk pertumbuhan yang ideal pH-nya berkisar antara 7 - 8. Karena Ikan Gurame merupakan ikan golongan labyrinth (mempunyai alat pernapasan tambahan), maka Ikan Gurame tahan terhadap zat beracun dan air yang rendah kadar oksigennya dibandingkan dengan ikan air tawar lainnya.


3. SELEKSI INDUK

Untuk memperoleh benih dengan lebih. terjamin, haruslah pasangan Ikan Gurame itu dijodohkan, oleh karena itu. harus diketahui mana Ikan Gurarne Jantan dan mana Ikan Gurame Betina.

Tanda-tanda Ikan Gurame Jantan dan Ikan Gurame Betina diantaranya :
Ikan Gurame Jantan
1. Ada tonjolan di atas kepala;
2. Dasar sirip dada agak putih;
3. Tutup insang agak kuning;
4. Ujung sirip ekor rata.


Ikan Gurame Betina
1. Tidak ada tonjolan di atas kepala
2. Dasar sirip dada agak hitam;
3. Tutup insang putih kecoklatan;
4. Ujung sirip ekor membulat.



4. INDUK YANG BAIK

1. Bentuk Tubuh
■ Panjang, berisi dan mulus;
■ Tidak cacat atau luka;
■ Sirip tidak rusak.
2. Warna
■ Kuning bersemu putih;
■ Bersih tidak belang.
3. Umur
■ Umur mencapai 5 tahun lebih;
■ Umur lebih dari lO tahun tak baik lagi menjadi induk, karena telurnya mulai berkurang dan kurang bagus benihnya.


5. PEMBENIHAN

1. Mengawinkan Induk
Seekor induk jantan yang cukup umur(4 - 5 tahun) dengan berat 6 - 7 kg, dapat mengawini 4 ekor betina. Induk yang sudah dewasa dan timbul birahinya akan tampak saling berkejaran, yang jantan akan mengejar induk betina. Biasanya seekor jantan yang baru mulai birahi bisa. mengawini 2 ekor betina.



2. Membuat Kolam Perkawinan

a. Buat kolam dengan ukuran 10 x 7 m atau kurang lebih 40 m2;
b. Buat pematang dengan ukuran : bagian atas lebar 1/2 meter, bagian bawah/dasar 1 meter, tinggi 1 meter;
c. Pasang pipa/ bambu/ paralon untuk pemasukkan dan pengeluaran air;
d. Cangkul tanah dasar kolam agar gembur lalu diratakan lagi dan dasar kolam dibuat miring kearah pintu air,
e. Buat saluran ditengah-tengah kolam memanjang dari pintu pemasukkan air ke pintu pengeluaran dengan lebar saluran 1/2 meter dan dalamnya. 15 cm,
f. Keringkan kolam selama 1 minggu agar hama yang dapat menimbulkanpenyakit mati.
g. Pupuk dengan pupuk kandang sebanyak kurang lebih 1 karung, disebarkan merata, baru kemudian masukkan air biarkan selama kurang lebih 1 minggu, tujuannya agar pupuk hancur dan meresap ke tanah dan membentuk lumut yang menjadi makanan ikan;

h. Siapkan kerangka sarang (sosog) yang dibuat dari bambu, berbentuk kerucut, panjang 80 cm, garis tengah 30 cm, tiap sarang diisi seekor induk, karena betina yang akan kita isi ada 3 ekor, maka dibuat 3 buah kerangka (sarang);

i. Pasang kerangka sarang dipinggir kolam dengan jarak agak berjauhan. Pemasangan kerangka sarang bisa ditancapkan pada tebing tanah kolam, atau bisa juga di antara 3 potong, tiang bambu yang ditancapkan di dasar kolam. Dalamnya dari permukaan air kolam kurang lebih 15 - 20 cm;

j. Letakkan bahan pembuat sarang yang terdiri dari rumput kering/ijuk/sabut kelapa yang telah diural. Bahan sarang dipisah agar ikan Gurame mudah mengambilnya dan membawanya ketempat sarang.



PEMIJAHAN

a. Induk-induk ikan Gurame dimasukkan ke dalam kolam pemijahan;

b. induk betina yang matang telurnya akan tampak mengembung perutnya, warna badannya lebih terang, sedangkan induk jantannya berwarna gelap;

c. Selanjutnya si jantan mulai membuat sarang telur dengan menyusun rumput kering/sabut kelapa/ijuk di dalam sarang yang telah disediakan;

d. Setelah sarang selesai, ikan akan kawin. Mula-mula ikan jantan akan kawin dengan betina pertama, pada minggu pertama pula mulut sarang akan tertutup, ini berarti telur sudah dimasukkan ke dalam sangkar. Induk betina akan menjaga diseki tar sarang;

e. Pada minggu kedua, induk jantan akan kawin lagi dengan induk betina yang kedua, tapi setelah induk jantan selesai membuat sarang yang lain;

f. Selanjutnya jantan akan kawin lagi dengan induk betina yang ketiga setelah sarang selesai dibuat oleh si jantan;

g. Untuk membuktikan bahwa ada telur dalam. sarang, maka coba ditusuk dengan lidi ditengah-tengah sarang telur, bila keluar butiran minyak berarti memang, ada telur di dalam sarang tersebut;

h. Kalau dibiarkan di kolam pemijahan maka induk jantan akan kawin lagi dengan induk pertama, kedua dan ketiga. Sebaiknya dibatasi hingga 3 kali, setelah itu diistirahatkan selama 6 bulan bagi induk betina dan 3 bulan bagi induk jantan. Masa istirahat ini dimaksudkan agar ikan yang dihasilkan nanti lebih baik.


7. MERAWAT TELUR

❑ Cara tradisional.:
■ Telur dibiarkan saja di kolam pemijahan bersama induk-nya. Biasanya pada hari ke-11 atau ke-12, telur akan menetes sendiri.;
• Sebagai tempat berlindung, Letakkan daun kelapa kering di dekat sarang telur, tujuannya agar anak Ikan Gurame akan berlindung dibawahnya.

❑ Menetaskan di baskom plastik/ gentong. Keuntungannya :
■ Lebih aman dari hama penyakit;
• Mudah pengawasannya;
■ Sehat dan kaya oksigen.-
■ Lebih banyak telur yang menetas.


❑ Cara menetaskan:

A. Siapkan. baskom/gentong 2 buah diisi air jernih sebanyak setengah Lebih;

B. Untuk 1 sarang diperlukan 2 buah tempat gentong 1 baskom besar;

C. Letakkan baskom di atas air kolam pemijahan (terapung), diatasnya dibuat atap agar tidak kehujanan.

D. Diusahakan kena sinar matahari pagi;

E. Pindahkan sangkar berisi telur ke dalam baskom, lalu lepas ijuk sampai telur jatuh ke dalam baskom;

F. Letakkan daun-daun sebagai pelindung di atas permukaan air,

G. Air dalam gentong diganti 2 kali sehari pagi dan sore, gunakan selang plastik, agar air yang keluar dan masuk tidak terguncang;


H. Kalau ada minyak sebaiknya dibuang;

1. Telur akan menetas setelah 2 minggu. Setelah menetas, anak Gurame tidak diberi makan, baru setelah 10 hari anak ikan diberi makanan berupa dedak halus atau cairan kuning telur.


8. PENDEDERAN.
• Tempat pendederan anak Ikan Gurame bisa di kolam, sawah atau di dalam hapa;
• Anak Ikan Gurame (benih.) yang ditaburkan di kolam urnur 2 minggu sebanyak 200 ekor/ m2;

■ Untuk pemeliharaan di sawah benih berukuran 3 - 5 cm (3 bulan).




9. HAMA DAN PENYAKIT.

Penyakit yang banyak menyerang Ikan Gurame diantaranya adalah disebabkan karena : Saprolegniasis sp.

Penyebab :
• Cendawan

Penyerangan :
■ Luka-luka pada kulit, temperatur dingin.

Gejala klinis :
■ Tubuh ikan ditumbuhi benang - benang halus seperti kapas, berwarna putih;
■ Menyerang tutup insang, kepala sirip;
■ Telur ikan diliputi benang-benang halus seperti kapas.
Pengobatan:
■ Pengobatan terhadap telur yang diserang dengan cara mencelupkan telur ke dalam larutan Malachite Green Oxalate dengan dosis 60 gr/m3 air, selama 15 menit.

Pencegahan:
■ Menjaga kebersihan kolam dan kwalitas air;
■ Jangan sampai memelihara ikan. yang luka.

sumber : Dinas Perikanan Propinsi Jawa Barat,2008

Jumat, 13 Februari 2009

IKAN NILA NIRWANA (Proses Pengelolaan dan Seleksi) (Great Grand Parent Stock/GGPS),

IKAN NILA NIRWANA
(Proses Pengelolaan dan Seleksi)

Ikan Nila di Jawa Barat merupakan ikan introduksi yang datang pertama kali dari Taiwan pada. tahun 1969 (Hardjamulia & Djajadireja 1977).

Tahun 1975
didatangkan Nila. Hibrid (hasil silang T. nilotica dan T. mossambica) dari Taiwan. Nila. Merah muncul pada. tahun 1981
yang diintroduksi dari Philipina. Kemudian pada tahun 1988 - 1989 didatangkan Parent Stock Nila Chitralada dari Thailand, namun tidak berkembang.






Ikan Nila GIFT merupakan varietas baru dari jenis Ikan Nila yang yang dikembangkan oleh ICLARAM di Philipina. Ikan Nila GIFT tersebut diintroduksi dari Philipina pada. tahun 1995 - 1997. Pada. tahun 2002 BPBI Wanayasa memperoleh famili Ikan Nila GET (Genetically Enhanched of Tilapia). Ikan Nila GET tersebut diintroduksi dari Philipina oleh Dinas Perikanan Provinsi Jawa Barat melalui BFAR (Bureau of Fisheries and Aquatic Research).

Sejak pertama kali didatangkan, sejak itu pula. budidaya Ikan Nila. dimulai. Kemampuan Ikan Nila dalam beradaptasi dengan lingkungan barunya menjadikan ikan ini mudah menyebar dan menjadi primadona dalam dunia budidaya perairan, khususnya perairan tawar.

Penyebaran Ikan Nila yang sangat cepat didukung dengan kecepat barunya bereproduksi menjadikan perkembangan ikan ini tidak terkontrol. Dampak negatifnya adalah banyak terjadi silang dalam (inbreeding), yang berakibat pada menurunnya kualitas genetik ikan, selanjutnya akan menyebabkan turunnya performa ikan tersebut baik pertumbuhan, daya tahan terhadap, penyakit,maupun kemampuan beradaptasi terhadap perubahan lingkungannya.

Untuk mengatasi penurunan kualitas genetik Ikan Nila tersebut, Ariyanto (2004) menyatakan salah situ langkah yang dapat ditempuh adalah melaksanakan program pemuliaan dengan Sasaran akhir mendapatkan induk lkan Nila unggul. Keunggulan tersebut diharapkan dapat diwariskan pada keturunannya, sehingga menghasilkan benih unggul (berkualitas). Salah situ alternatif program pemuliaan dalam menghasilkan induk unggul adalah melalui program penangkapan seleksi (selective breeding).


IKAN NILA NIRWANA (Nila Ras Wanayasa)

Upaya-upaya mendasar yang mengarah kepada penangkaran selektif Ikan Nila telah dimulai oleh Balai Pengembangan Benih Ikan (BPBI) Provinsi Jawa Barat yang berlokasi di Wanayasa dengan mengoleksi 18 famili Ikan Nila. GIFT generasi ke-6 dan 24 famili Ikan Nila GET dari Philipina. Selanjutnya pada tahun 2003, BPBI Wanayasa melakukan kerjasama dengan para. pakar perikanan dari Tim Ahli Tilapia Broodstock Center, untuk menyusun dan melaksanakan program pengelolaan dan seleksi Ikan Nila tersebut dengan tujuannya untuk mernpertahankan atau bahkan mernperbaiki kualitasnya.


Sumber genetik kegiatan seleksi adalah GIFT (Genetic Improvement for Farmed Tilapia) dan GET (Genetically Enhanched Tilapia). Saat ini dalam kurun waktu pengerjaan selama 3 (tiga) tahun, BPBI Wanayasa telah mendapatkan induk penjenis (Great Grand Parent Stock/GGPS), yang selanjutnya diberi nama Ikan Nila Nirwana. (Nila. Ras Wanayasa) yang, penyediaan dan diseminasinya diawasi oleh pemerintah.

Kegiatan seleksi dilaksanakan di Balai Pengembangan Benih Ikan (BPBI) Wanayasa, Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat. Pelaksanaan seleksi famili dimulai pada minggu ke-3 bulan Juli Tahun 2003 dan masih berlangsung sampai dengan saat ini.


PROSEDUR PELAKSANAAN SELEKSI DAN HASIL YANG DICAPAI

Program penangkaran selektif yang dilaksanakan adalah seleksi famili" (Gambar 1), mengacu pada SPO pemuliaan Ikan Nila yang diterbitkan oleh Pusat Pengembangan Induk Ikan Nila Nasional (PPIIN) tahun 2004 yang dimodifikasi sesuai dengan kondisi lapangan.















Tahapan kegiatan untuk setiap generasi dilakukan dengan langkah kerja sebagai berikut :

1. Menyiapkan sejumlah famili dari koleksi yang ada;

2. Mengkondisikan Induk Ikan Nila yang akan diseleksi agar dapat memijah secara bersamaan;

3. Memijahkan sebanyak 5 (lima) pasang Induk untuk masing-masin famili hasil persilangan yang baru;

4. Mengamati secara periodik untuk menandai pasangan-pasangan yang memijah

5. Benih ikan dari pasangan masing-masing famili yang memijah pada hari yang sama digabung dan diambil secara acak sebanyak 500 ekor untuk dipelihara lebih lanjut;

6. Pendederan benih ikan dilakukan pada hapa berukuran 5 x 2 x 1,5 M3 di kolam sampai dapat dibedakan antara jantan dan betina secara Morfologis (umur 4 bulan);

7. Kelompok Ikan Nila jantan dan kelompok Ikan Nila Betina ditimbang dan diukur (panjang baku, tinggi badan dan panjang kepala) satu per satu.;






8. Kemudian. dipilih 10 ekor betina terbesar dan 10 ekor jantan terbesar dan selajutnya ditagging serta dilakukan pencatatan

9. Setiap famili hasil seleksi dipelihara secara terpisah antara jantan dan betina sampai siap dipijahkan untuk membentuk generasi berikutnya.

Hingga saat ini dalam kurun waktu pengerjaan selama 3 (tiga) tahun, telah didapatkan tiga generasi Induk (F1, F2 dan F3). Dengan rincian jumlah famili, sebagai berikut:
• F1 menghasilkan 33 famili;
• F2 menghasilkan 34 famili;
• F3 menghasilkan 44 famili;


RENCANA MENGEMBANGKAN DAN PRODUKSI
A. Rencana Pengembangan.
Melanjutkan kembali kegiatan seleksi hingga. dapat menghasilkan lnduk Nila Nirwana generasi selanjutnya.

B. Rencana Produksi.
Memperbanyak dan mendistribusikan. turunan Induk Nila Nirwana kepada petani/UPR.

5. HASIL YANG TELAH DIPEROLEH
Ikan Penjenis (GGPS) dari Ikan Nila Nirwana (Nila Ras Wanayasa) akan dicapai pada generasi ke-3 atau sekitar 3 tahun sejak awal tahun 2004. Selama proses berlangsung, ikan-ikan tersebut dipelihara secara terkontrol, cukup pakan dan kepadatan yang rendah agar karakteristik genetiknya dapat tereksploitasi.

Secara periodik ikan-ikan yang sedang dalam proses seleksi ini dipantau morfologi dan morfometriknya. Genetic Gain setiap generasi. diukur dengan perbandingan laju dan populasi kontrolnya (Gambar 2).

Selanjutnya akan hadir Ikan Nila Nirwana atau Nila Ras Wanayasa-1, Wanayasa-2 dstnya yang merupakan perbaikan secara genetik dari generasi yang sebelumnya.

Program penangkapan selektif Ikan Nila Wanayasa ini dilakukan sepenuhnya oleh staf-staf terampil BPBI dengan bimbinaan dari Tim Ahli "Tilapia Broodstock Center".


sumber : Dinas Perikanan Propinsi Jawa Barat,2008