Sabtu, 24 Januari 2009

Ikan Hias : Serpae Tetra (Hyphessobrycon caffistus atau Hyphessobrycon Serpae)


Serpae Tetra

Serpae Tetra (Hyphessobrycon caffistus atau Hyphessobrycon Serpae) berasal dari Paraguay, Amerika Selatan. Ikan ini bersifat omnivora. Ukuran maksimal tubuhnya mencapai sekitar 4 cm. Hidupnya berkelompok.

Tubuh Serpae Tetra berwarna merah sedikit cokelat. Sirip punggungnya hitam dan sirip lainnya merah bergaris luar hitam. Sirip punggung pada jantan lebih panjang dari betina. Warna sirip punggung jantan merah, sedangkan betina putih.

Lingkungan untuk pemijahan sebaiknya teduh atau sedikit gelap agar telur tidak dimakan induknya. Namun, harus ada sedikit cahaya yang masuk ke wadah pemeliharaan, terutama pagi hari. Kedalaman air untuk pemijahan tidak harus terlalu tinggi, cukup sekitar 15 cm.

Air yang agak asam (pH antara 6,0-6,5) dengan kekerasan antara 4-7° dH sangat diperlukan untuk pemeliharaan optimal. Sementara suhu airnya agak sedikit dingin, sekitar 26-28° C.
Untuk memijahkannya, induk jantan dan betina dapat dipelihara bersama secara masal. Dalam wadah seluas 1 m2 dapat menampung sekitar 500 ekor induk dengan perbandingan jantan dan betina 1 : 3-4. Selama pemeliharaan untuk pemijahan ini induk diberi pakan berupa kutu air, khususnya Daphnia sp. Tanda induk betina yang siap memijah adalah perutnya tampak gendut, sedangkan pada jantan langsing.

Telur ikan ini termasuk adhesive egg sehingga akan melekat pada substrat. Biasanya substrat atau sarang dapat berupa tanaman air seperti enceng gondok. Telur-telurnya sangat kecil sehingga sulit memastikan kalau induknya sudah memijah. Oleh karena itu, sebagai tanda induk betina sudah memijah biasanya tampak perutnya mengecil.

Bila induk sudah memijah, substrat atau tanaman air yang berisi telur bisa segera diambil untuk ditetaskan pada wadah terpisah. Bisa juga induknya saja yang dikeluarkan dari wadah pemijahan. Telur-telur tersebut akan menetas dalam waktu 24 jam setelah keluar dari induknya. Setelah menetas, larvanya masih sembunyi pada akar tanaman air selama sekitar tiga hari. Setelah itu, larva baru bisa berenang.

Pakan larva yang baru menetas berupa infusoria yang diberikan setelah berumur 2-3 hari. Selanjutnya larva dapat diberi pakan berupa rotifera, artemia, atau kutu air Baring. Untuk ikan yang sudah mulai dewasa, kutu air besar dan cacing sutera dapat digunakan sebagai pakan.

Penggantian air untuk jenis ikan ini harus hati-hati. Caranya, air dialirkan ke dalam wadah sedikit demi sedikit, tidak boleh secara tiba-tiba. Penggantian air ini berlaku untuk pemijahan maupun pemeliharaan.


sumber : Darti S.L dan Iwan D. Penebar Swadaya, 2006

budidaya ikan hias : Zebra Danio


Zebra Danio


Zebra Danio (Brachidanio rerio) berasal dari Myanmar, India, dan Srilangka. Ukuran tubuh maksimal sekitar 5 cm. Ikan ini bersifat omnivora, tetapi senang pakan alami permukaan seperti kutu air karena hidupnya di kolam air. Suhu untuk pemeliharaannya agak rendah, antara 25-27° C. Keasaman (pH) sedikit asam sampai netral (6,5-7,0) dan kekerasan antara 6-8° dH.


Daya tarik ikan ini terletak pada garis-garis horisontal putih perak dan biru di badan sampai ke sirip-siripnya. Antara betina dan jantan dapat dibedakan hanya setelah dewasa. Pada betina terdapat garis biru di daerah dubur, sedangkan pada jantan kuning emas.

Telur ikan ini tidak melekat. Untuk itu, dalam pemijahan sebaiknya dibuatkan sekat agar induk tidak memakan telur yang dijatuhkannya. Dapat pula diberi tanaman air yang rimbun agar telurnya tidak tampak. Perbandingan jantan dan betina untuk pemijahan ini biasanya 2 : 1 dan dapat dilakukan secara masal. jumlah induk dalam setup wadah berukuran 1 m2 dapat diisi sekitar 200 ekor.

Umumnya wadah untuk pemijahan berupa kolam atau bak semen. Untuk airnya sebaiknya tidak terlalu tinggi, cukup sekitar 10 cm, agar telur dapat cepat jatuh ke dasar atau sarang berupa tanaman air. Tanaman air yang digunakan sebaiknya dari jenis tanaman dasar seperti ganggang (hydrilla) yang cukup padat. Ini dimaksudkan agar induk tidak memiliki kesempatan untuk memakan telurnya karena terlindung. Airnya harus selalu diganti separonya agar induk bisa terangsang memijah.


Untuk pemijahan masal di kolam, sebelum dipijahkan sebaiknya jantan dan betina dipelihara terpisah. Nanti setelah induk betina tampak benar-benar sudah penuh telur (gendut) barulah dicampur dengan jantan.

Pada saat memijah, jantan akan mengejar betina dan betinanya akan menjatuhkan telur-telurnya ke air. Pada saat itu, jantan akan dengan cepat membuahi telur-telur tersebut. Setelah selesai memijah, jantan akan berhenti mengejar betina.

Telur yang sudah dibuahi tersebut harus cepat diambil atau induknya segera dipindahkan. Agar lebih mudah dipindahkan, dapat pula induknya diletakkan pada jaring di dalam kolam. Dengan cara ini telur akan jatuh ke dasar kolam. Bila sudah selesai memijah, jaring bersama induknya diangkat. Kolam dapat diberi aerasi kecil dari pompa udara. Telur tersebut akan menetas setelah 24 jam. Larvanya akan mulai berenang setelah dua hari menetas.

Penggantian air pada pemeliharaan larva dapat dilakukan setelah larva berenang atau setelah berumur sekitar tujuh hari. Penggantian air ini harus dikerjakan hati-hati dengan jumlah separonya atau sepertiganya saja. Bila diganti total, ikan akan cepat stres karena terjadi perubahan lingkungan yang tiba-tiba. Frekuensi penggantian air setiap tiga hari.

Pakan larva pertama dapat berupa artemia, rotifera, atau infusoria. Sementara kutu air dapat diberikan sesudah larva berumur 3-4 hari. Untuk ikan yang sudah besar atau dewasa, pakannya berupa cacing sutera atau cacing darah. Ukuran 2,2 cm sudah mulai dapat dijual setelah pemeliharaan sekitar 2,5 bulan.


sumber :Darti S.L dan Iwan D. Penebar Swadaya, 2006

Columbia Tetra (Hyphessobrycon bimaculatus)


Columbia Tetra

Columbia Tetra (Hyphessobrycon bimaculatus)

berasal dari wilayah Amerika Selatan, yaitu Kolombia, Brazil, Argentina, Venezuela. Ikan ini termasuk omnivora dan sebagai perenang di tengah atau di kolom perairan. Columbia Tetra tergolong ikan besar karena tubuhnya dapat mencapai panjang sekitar 15 cm.

Dalam pemeliharaannya sebaiknya ikan ini jangan dicampur dengan jenis ikan yang lebih kecil. Ini disebabkan Columbia Tetra akan selalu menyerang ikan yang kecil. Suhu pemeliharaannya sekitar 25-28° C. Airnya memiliki pH optimal sekitar 6,5-7,0 clan kekerasan 10-120 dH.

Tidak ada perbedaan menyolok antara jantan dan betina selain tubuh betinanya lebih gemuk dan lebih lebar dibanding jantan. Induk-induk tersebut dapat dipelihara dalam satu kolam, tidak perlu dipelihara terpisah. Kolam yang digunakan berukuran 1 m2 dan dapat menampung sebanyak 100 ekor induk. Perbandingan jantan dan betina 1 : 4 karena pemijahannya dapat berlangsung secara masal.

Ke dalam wadah pemijahan perlu diberi substrat tanaman air. Telur biasanya akan diserakkan dan melekat di akar tanaman air. Telur-telur tersebut dapat dikeluarkan atau diambil dari wadah pada pagi hari berikutnya. Bisa saja bukan telur yang dikeluarkan dari wadah, tetapi induknya. Tinggi air untuk penetasan telur tidak terlalu tinggi, cukup 10-15 cm. Setelah dua hari, biasanya telur-telur tersebut akan mulai menetas menjadi larva. Larva ikan ini akan mulai berenang setelah umur empat hari.

Untuk menjaga larva yang masih sangat peka, penggantian air harus dilakukan secara hati-hati. Caranya dengan mengurangi jumlah air dalam wadah. Pengurangan dapat dengan cara menyifon (akuarium atau kolam) maupun membuka saluran pembuangan (kolam).


Cara penyifonan lebih baik karena larvanya dapat diusahakan tidak ikut hanyut. Kalau dengan membuka saluran pembuangan, sebaiknya pada pintu pengeluaran air diberikan atau dipasangkan saringan halus. Jumlah air yang dibuang dan diganti tidak lebih dari separonya. penggantian air ini sebaiknya dilakukan setelah larva bisa berenang atau cukup besar, sekitar umur 7-10 hari.

Pakan untuk larva sebaiknya berupa infusoria. Sesudah umur tiga hari, larva dapat diberi pakan kutu air saying. Seminggu kemudian ikan dapat diberi kutu air besar. Selanjutnya ikan dapat diberi pakan cacing sutera. Ukuran ikan bisa dijual sekitar 2,2 cm atau sudah berumur sekitar 2,5 bulan.

sumber : Darti S.L dan Iwan D. Penebar Swadaya, 2006

Jumat, 23 Januari 2009

Maskoki


Maskoki

Maskoki (Carrasius auratus) yang nama dagangnya goldfish berasal dari Cina. Ikan ini sudah digunakan sebagai ikan hias sejak abad ke-7. Ikan yang bersifat omnivora ini hidup baik pada suhu 19-28° C dengan suhu optimal 24-28° C. Kisaran pH yang diinginkan antara 7,0-7,5. Sementara kekerasannya sekitar 12° dH.


Varietasnya berkembang menjadi sangat banyak akibat silangan berbagai warna dan bentuk badan. Namun, hanya ada dua kelompok besar maskoki, yaitu memiliki dua sirip ekor dan satu sirip ekor. Ikan bersirip ekor dua buah pun masih bisa dibagi atas ikan bersirip punggung seperti koki Spenser, rasket, mutiara, dan tossa serta ikan tidak bersirip punggung seperti kumpai dan mata balon.

Induk maskoki biasanya berumur lebih dari lima bulan. Induk jantan ditandai dengan badan yang lebih langsing dan terdapat gerigi atau bangunan seperti pasir pada sirip, dada. Sementara induk betina lebih gemuk dan sirip dadanya halus.

Sebelum dipijahkan, induk jantan dan betina sebaiknya dipelihara terpisah sekitar dua minggu. Pemeliharaan induk ini sebaiknya dilakukan dalam kolam yang kepadatannya rendah, sekitar 20 ekor/m2. Pakannya dapat berupa pelet, cacing rambut, atau cacing darah. Agar kualitas telur menjadi baik, jentik nyamuk akan lebih baik diberikan sebagai pakan induk.


Setelah sudah siap berpijah barulah kedua induk ini dipelihara bersama. Tanda induk betina sudah siap berpijah adalah perutnya sudah gendut dan terasa lembut atau lembek bila diraba. Malahan kalau ditekan sedikit, dari perutnya akan keluar telur. Sementara tanda jantan yang sudah siap berpijah adalah perutnya akan keluar cairan putih susu bila ditekan. Cairan ini merupakan sperma.


Tempat pemijahan maskoki berupa bak fiber atau kolam. Ukurannya tergantung jumlah ikan yang akan dipijahkan. Bila hanya sepasang induk, kolam ukuran 1,0 m x 0,5 m dapat digunakan. Bila pemijahan dilakukan secara masal dengan induk 2-5 pasang, paling tidak ukuran kolamnya 1 m x 1 m.

Pemijahan akan lebih baik kalau perbandingan jantan dan betinanya 2 : 1, baik untuk pemijahan pasangan maupun masal. Ini dilakukan agar telur bisa efektif terbuahi. Kedalaman air sebaiknya 15-20 cm. Ke dalam wadah dapat diberi eceng gondok muda yang sudah dibersihkan sebagai sarang.


Pemijahan biasanya terjadi pada malam atau dini hari. Bila sarangnya dipasang sore hari, telurnya dapat dilihat pada pagi hari berikutnya. Namun, kalau belum mau memijah, airnya dapat diganti separo agar induk terangsang memijah. jumlah telur maskoki sangat banyak. Setiap induk betina dapat menghasilkan 3.000-5.000 butir telur.

Telur yang ada di akar enceng gondok dapat dipindahkan ke wadah penetasan. Bisa juga bukan telurnya yang dipindahkan, melainkan induknya. Perlakuan pemindahan induk lebih baik dibanding pemindahan telur karena telur bisa berserakan di dasar perairan.

Telur-telur tersebut biasanya akan menetas setelah tiga hari keluar dari induknya asalkan tidak terkena hujan dan mendapat cukup sinar matahari. Telur akan menetas menjadi larva ikan. Larva akan mulai berenang setelah seminggu menetas. Pada saat larvanya mulai berenang, enceng gondok bisa dikeluarkan dari wadah penetasan. Selanjutnya air mulai dialirkan ke dalam wadah atau diganti separonya.

Pada umur seminggu tersebut ikan sudah bisa diberi pakan berupa tetasan telur artemia atau infusoria. Dua atau tiga hari kemudian larva ikan dapat diberi kutu air saring. Kalau tidak ada kutu air saring, pakan berupa rebusan kuning telur ayam pun dapat diberikan. Namun, pemberian pakan tersebut harus hari-hari dan jumlahnya secukupnya saja agar air tidak cepat kotor. Sesudah agak besar (sekitar dua minggu) ikan dapat diberi cacing rambut dan pelet. Umur 3-4 minggu, kegiatan penjarangan dapat dilakukan.


Kolam untuk pemeliharaan maskoki sebaiknya agak luas, sekitar 1,5 m x 1,5 m. Ketingian air minimal 25 cm dengan kepadatan ikan sekitar 30-40 ekor/m . Airnya harus secara rutin diganti, yaitu setiap 3-4 hari sebanyak 1/3 volume air. Umur jual maskoki sekitar 3-4 bulan atau sudah berukuran sekitar 5 cm.

sumber : Darti S.L, dan Iwan D. Penebar Swadaya, 2006

Ikan dengan Telur Diserakkan

Kelompok ikan yang telur-telurnya dibiarkan menetas sendiri
tanpa ditunggui atau dijaga oleh induknya dapat dibagi atas
ikan yang telurnya diserakkan (dilekatkan pada tanaman atau obyek lain maupun dijatuhkan ke dasar perairan) serta ikan yang telurnya digantungkan (pada ujung tanaman air atau daun).

Walaupun tidak merawat telurnya, namun ikan yang telurnya digantungkan ini tidak memakan telurnya.

Ikan dengan Telur Diserakkan

Jenis ikan di dalam kelompok ini merupakan yang terbanyak. Ikan ini menempatkan telurnya di sembarang tempat, bisa di tanaman air atau dijatuhkan begitu saja di dasar perairan.
Induk ikan jenis ini terkadang memakan telurnya sendiri sehingga harus selalu dijaga oleh petani.

Caranya dengan membuat tanaman atau substrat lebih lebat ataupun tempat penelurannya ditutup agar tampak agak gelap atau agak remang sehingga induk sukar melihat telurnya.
Walaupun ikannya kecil, ukuran kolam atau wadah penelurannya dianjurkan agak luas. Hal disebabkan ikan ini biasanya dipijahkan secara masal sehingga wadahnya harus dapat memuat agak banyak induk.

suhu untuk penetasan telur pada ikan jenis ini harus selalu diperhatikan dan diusahakan optimal agar daya tetasnya tinggi. Kisaran suhu optimal untuk penetasan telur sangat sempit, yaitu sekitar 2° C, sedangkan kisaran suhu optimal untuk pemeliharaan pada stadium lain antara 3-4° C.

Nilai kisaran ini memang masih bergantung pada spesies ikan. Untuk menjaga kestabilan suhu, sebaiknya penetasan dilakukan di ruang tertutup atau di kolam asalkan diberi tutup dari seng, papan, atau asbes.

Secara kodrati jumlah telur ikan-ikan pada kelompok ini umumnya relatif banyak. Ini disebabkan ikan tidak memperhatikan telurnya lagi setelah dikeluarkan atau diovulasi. Selain itu, kuning telurnya sedikit sehingga larvanya kebanyakan sangat kecil, tetapi cepat dapat berenang. Oleh sebab itu, larva ikan dari kelompok ini lebih cepat memerlukan pakan.


Pakan larva pertama tentunya berupa inftisoria yang diberikan pada umur 2-3 hari atau lebih. setelah itu, pakannya dapat berupa kutu air saring. Kemudian dapat diberikan pakan yang besar sesuai perkembangan larva. Pakan untuk pembesaran dapat berupa cacing sutera, kutu air yang besar, atau cacing darah.

sumber : Darti S.L. dan Iwan D. Penebar Swadaya, 2006

Kamis, 22 Januari 2009

Penyakit ikan Hias : Hama Ikan

Hama Ikan

Selain penyakit, ikan pun bisa diserang hama. Hama ikan kebanyakan hidup di kolam atau bak semen. Pada wadah akuarium, hama ini sangat jarang menyerang ikan. Biasanya hama menyerang anak ikan atau mengganggu lingkungan kehidupan ikan.


1. Larva capung
Ukuran larva capung atau dragon-fly larvae (Odonata sp.) dapat mencapai 2 cm. Biasanya larva ini masuk kolam bersama dengan tanaman air karena tempat persembunyiannya di akar tanaman atau terbenam dalam kotoran kolam. Makanannya berupa larva ikan sehingga sangat merugikan. Dalam sehari saja bisa kehilangan banyak larva ikan.


Pemberantasan hama ini dengan diserok karena mudah dilihat, lalu dimusnahkan. Bila jumlahnya terlalu banyak, pemberantasannya dengan pemberian insektisida Sumithion 0,01 ml/l air. Selain itu, pemberantasan bisa dengan pengurasan kolam hingga bersih. Setelah dikeringkan, kolam dapat diairi untuk digunakan kembali.


2. Dyticus marginalis

Dyticus marginalis merupakan serangga yang larvanya dapat menyerang larva ikan. Tubuhnya panjang kecil, dapat mencapai 7 cm, dan kepalanya berbentuk segi tiga. Cara pemberantasannya seperti pada larva capung.


3. Keong

Biasanya ada beberapa jenis keong yang sering berada di kolam budidaya ikan hias. Keong-keong tersebut memakan telur ikan sehingga sangat merugikan petani. Kehadiran keong dalam kolam biasanya karena telurnya terbawa dalam tanaman air (terutama enceng gondok) atau dalam pakan cacing.

Pemberantasan hama ini dapat dilakukan dengan cara manual, yaitu dipungut satu per satu, lalu dibuang atau dimusnahkan. Bila populasinya banyak, tanaman air sebaiknya dibersihkan, lalu kolamnya dikuras.


4. Katak

Keberadaan katak dalam kolam pun dapat merugikan. Biasanya katak muncul terutama pada musim penghujan. Berudu katak memakan pakan ikan sehingga ikan menjadi kurang makan. Bahkan, kehadirannya bisa mengotori atau mencemari air. Telur katak pun dapat meracuni ikan karena mengandung lendir. Ikan yang memakan telur katak ini akan mati.

sumber : Dart S.L dan Iwan D. Penebar Swadaya, 2006





penyakit ikan hias : Kutu ikan (Argulus sp.)

Kutu ikan

Kutu ikan (Argulus sp.) merupakan parasit yang berbentuk bulat pipih seperti kutu. Kutu ini hidup dari mengisap cairan tubuh ikan melalui alat pengisap di mulutnya. Siklus hidupnya bisa lebih dari 30 hari. Kutu dewasa akan bertelur dan telurnya akan melekat pada tanaman air atau obyek lain. Selanjutnya telur akan menetas dalam waktu 10-30 hari. Larvanya akan tumbuh menjadi dewasa dan menjadi parasit bagi ikan.



Tanda-tanda ikan yang terserang penyakit ini ialah tampak jelas adanya kutu yang menempel di kulit ikan, terutama di daerah kepala. Selain itu, ikan akan menjadi kurus dan pucat. Ikan yang pernah terserang parasit ini biasanya bertubuh lebih hitam dan menjadi tidak menarik. Oleh karena umumnya daya tarik ikan hias terletak dari warna tubuh maka sangat diperlukan tindakan pencegahannya.


Pencegahan dapat dilakukan dengan menambahkan garam dapur 0,5-1,0 g/l pada air tempat hidupnya. Kalau ikan sudah terserang, pengobatan dapat dilakukan dengan perendaman ikan dalam larutan garam dapur 20 g/l, atau PK 2-5 mg/l selama 30 menit. Perlakuan pengobatan harus dilakukan setiap hari hingga kutu ikan benar-benar habis.

sumber : Darti S.L dan Iwan D. Penebar Swadaya, 2006