Bengkulu Laksanakan Validasi Data Statistik Perikanan Budidaya
Tahun ini provinsi Bengkulu yang menghadap ke Samudera Hindia mengadakan acara Validasi Data Statistik Perikanan Budidaya Tingkat Provinsi Bengkulu lebih awal dari biasanya. Hal ini disebabkan majunya jadwal validasi data tingkat nasional yang akan dilaksanakan lebih awal. Mulai tahun ini dan seterusnya validasi data statistik tingkat nasional akan dilaksanakan terlebih dahulu dibandingkan pelaksanaan Forum Koordinasi Statistik Perikanan Budidaya. Validasi Data Statistik Perikanan Budidaya Tingkat Provinsi Bengkulu dilaksanakan pada minggu ketiga di bulan Maret 2011 ini.
Acara validasi data statistik perikanan budidaya ini dibuka oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bengkulu dan diikuti oleh seluruh petugas statistik perikanan budidaya kabupaten/kota se-provinsi Bengkulu, yaitu :
1. Kabupaten Bengkulu Selatan
2. Kota Bengkulu
3. Kabupaten Bengkulu Utara
4. Kabupaten Rejang Lebong
5. Kabupaten Seluma
6. Kabupaten Muko-muko
7. Kabupaten Kaur
8. Kabupaten Kepahiang
9. Kabupaten Lebong
10. Kabupaten Bengkulu Tengah
Setiap kabupaten/kota yang hadir di pelaksanaan validasi ini diwakili oleh dua orang. Panitia pelaksana mengundang para petugas kabupaten/kota se-provinsi Bengkulu ini sebanyak dua orang bukan tanpa alasan. Dengan mengundang dua orang petugas statistik diharapkan nantinya keberlanjutan pengumpulan dan pengolahan data statistik perikanan budidaya di tingkat kabupaten ketika terjadi mutasi petugas statistik, ada yang dapat menggantikan dan langsung paham dengan tata cara pelaksanaan pengumpulan dan pengolahan data statistik perikanan budidaya. Kendala pelaksananaan pengumpulan dan pengolahan data statistik perikanan budidaya salah satunya adalah petugas statistik di tingkat kabupaten/kota yang selalu berganti sehingga menyebabkan adanya kendala dalam pengumpulan dan pengolahan data akibat tidak pahamnya petugas statistik yang baru terhadap tata cara pelaksanaan pengumpulan dan pengolahan data statistik perikanan budidaya.
Hadir dalam acara tersebut Kepala Subdirektorat Data dan Statistik Perikanan budidaya yang menjadi narasumber dari Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya dengan menyampaikan materi tentang hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan validasi data statistik perikanan budidaya tingkat provinsi. Dalam kesempatan tersebut kasubdit data dan statistik menekankan perlunya pemahaman terhadap metodologi pengumpulan dan pengolahan data statistik perikanan budidaya karena metodologi pengumpulan dan pengolahan data statistik perikanan budidaya adalah dasar untuk mendapatkan data yang akurat dan sesuai dengan keadaan di lapangan.
Pada kesempatan tersebut, kasubdit data dan statistik perikanan budidaya juga menyampaikan beberapa poin yang sering menjadi kesalahan petugas statistik dalam melakukan pengumpulan, pengolahan dan penyajian data. Selain itu, juga disampaikan bahwa pendataan data statistik dalam satuan basah bukan dalam bentuk kering ataupun sudah diolah.
Setelah mendengarkan teknik dan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan Validasi Data Statistik Perikanan Budidaya dilanjutkan dengan validasi data statistik perikanan budidaya yang sebelumnya sudah dikirimkan oleh para petugas statistik perikanan budidaya tingkat kabupaten/kota.
Dalam pelaksanaan validasi data statistik perikanan budidaya tersebut didapati bahwa di Provinsi Bengkulu telah berkembang teknik budidaya denga metode karamba jaring tancap seperti yang berkembang di Provinsi Kalimantan Barat. Jenis ikan yang berkembang di provinsi ini didominasi oleh ikan mas dan ikan nila. Beberapa kabupaten/kota cukup baik dalam budidaya ikan lele, gurame dan patin. Begitu pula untuk komoditas ikan air payau seperti udang dan bandeng yang hanya terdapat di beberapa kabupaten/kota.
sumber : http://www.perikanan-budidaya.kkp.go.id
Selasa, 22 Maret 2011
Senin, 21 Maret 2011
KKP, Salurkan Paket Bantuan Langsung ke Masyarakat melalui Pengembangan Usaha Mina Pedesaan.(PUMP)
KKP, Salurkan Paket Bantuan Langsung ke Masyarakat melalui Pengembangan Usaha Mina Pedesaan.(PUMP)
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri, telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 396,4 miliar untuk program kewirausahaan. Anggaran tersebut akan disalurkan berupa komponen paket bantuan langsung ke masyarakat melalui pengembangan usaha mina pedesaan (PUMP) dan pengembangan usaha garam rakyat (PUGR) untuk mendukung strategi pemerintah dalam percepatan pengentasan kemiskinan (pro-poor). Alokasi dana PUMP untuk bidang perikanan budidaya (PUMP-PB) sebesar Rp 200 miliar untuk sekitar 2.000 kelompok pembudidaya ikan di 300 kabupaten/kota.
Adapun kriteria umum calon penerima PUMP-PB adalah kelompok usaha skala mikro dengan pengurus dan anggotanya bukan merupakan aparat Dinas atau PNS, berdomisili di desa/kelurahan setempat, berada di dalam satu desa/kelurahan yang sama; serta tercatat dan di bawah binaan Dinas Kabupaten/Kota.
PUMP-PB merupakan salah satu program besar (grand strategy) KKP periode 2010-1014 sebagai kegiatan pemberdayaan masyarakat kelautan dan perikanan dalam rangka penanggulangan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja. Namun demikian, program PUMP-PB ini baru bisa berlangsung pada 2011 di mana persyaratan dan prosedurnya akan ditetapkan dalam bentuk Pedoman Teknis PUMP Perikanan Budidaya.......selanjutnya
sumber : http://www.perikanan-budidaya.kkp.go.id
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri, telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 396,4 miliar untuk program kewirausahaan. Anggaran tersebut akan disalurkan berupa komponen paket bantuan langsung ke masyarakat melalui pengembangan usaha mina pedesaan (PUMP) dan pengembangan usaha garam rakyat (PUGR) untuk mendukung strategi pemerintah dalam percepatan pengentasan kemiskinan (pro-poor). Alokasi dana PUMP untuk bidang perikanan budidaya (PUMP-PB) sebesar Rp 200 miliar untuk sekitar 2.000 kelompok pembudidaya ikan di 300 kabupaten/kota.
Adapun kriteria umum calon penerima PUMP-PB adalah kelompok usaha skala mikro dengan pengurus dan anggotanya bukan merupakan aparat Dinas atau PNS, berdomisili di desa/kelurahan setempat, berada di dalam satu desa/kelurahan yang sama; serta tercatat dan di bawah binaan Dinas Kabupaten/Kota.
PUMP-PB merupakan salah satu program besar (grand strategy) KKP periode 2010-1014 sebagai kegiatan pemberdayaan masyarakat kelautan dan perikanan dalam rangka penanggulangan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja. Namun demikian, program PUMP-PB ini baru bisa berlangsung pada 2011 di mana persyaratan dan prosedurnya akan ditetapkan dalam bentuk Pedoman Teknis PUMP Perikanan Budidaya.......selanjutnya
sumber : http://www.perikanan-budidaya.kkp.go.id
Minggu, 20 Maret 2011
Disease Mycobacteriosis / Fish Tuberculosis (TB)
Disease Mycobacteriosis / Fish Tuberculosis (TB)
Cause: Mycobacterium marinum (sea water) and M. fortuitum (fresh water)
Bio - Ecology pathogen
• bacteria are gram positive, short rod-shaped and non-motile.
• rain-fed pool and garden with limited water resources are more susceptible to infection type of the disease.
• Shows symptoms varied, but often show no clinical symptoms at all.
• The pattern of attacks are chronic mycobacteriosis - sub acute, both in freshwater fish, brackish and sea water fish.
• The optimum temperature ranges from 25-35 ° C, but still can grow well at 18-20 ° C.
Clinical Symptoms:
• Loss of appetite, weak, thin, bulging eyes (exopthalmia) and swelling of the body.
• If the infected skin, red patches occur and develop into sores, fin and tail damage.
• In the advanced phase of infection, internally there has been swelling bile, kidneys and liver, and is often found in the tubercle / brownish white nodule.
• slow growth, pale color and not beautiful, especially for ornamental fish.
• Lordosis, scoliosis, ulcer and fin damage (fractures) can occur in some fish that was attacked.
Diagnosis:
• Isolation using selective media, and
identified through bio-chemical tests.
• Detection of bacterial genes by polymerase chain reaction (PCR)
Control:
• infected fish were taken and destroyed immediately
• Avoid using water from ponds that are infected with the bacteria.
• Improve overall water quality, particularly reducing the levels of dissolved organic material and / or - to increase the frequency of replacement of new water
• Management of fish health in an integrated (fish, environment and pathogens)
• Soaking chloramine B or T 10 ppm for 24 hours and after that turn of the new water.
source: Ministry of Maritime Affairs and Fisheries of Indonesia, Directorate General of Aquaculture, Fish and Environmental Health Directorate, 2010
Cause: Mycobacterium marinum (sea water) and M. fortuitum (fresh water)
Bio - Ecology pathogen
• bacteria are gram positive, short rod-shaped and non-motile.
• rain-fed pool and garden with limited water resources are more susceptible to infection type of the disease.
• Shows symptoms varied, but often show no clinical symptoms at all.
• The pattern of attacks are chronic mycobacteriosis - sub acute, both in freshwater fish, brackish and sea water fish.
• The optimum temperature ranges from 25-35 ° C, but still can grow well at 18-20 ° C.
Clinical Symptoms:
• Loss of appetite, weak, thin, bulging eyes (exopthalmia) and swelling of the body.
• If the infected skin, red patches occur and develop into sores, fin and tail damage.
• In the advanced phase of infection, internally there has been swelling bile, kidneys and liver, and is often found in the tubercle / brownish white nodule.
• slow growth, pale color and not beautiful, especially for ornamental fish.
• Lordosis, scoliosis, ulcer and fin damage (fractures) can occur in some fish that was attacked.
Diagnosis:
• Isolation using selective media, and
identified through bio-chemical tests.
• Detection of bacterial genes by polymerase chain reaction (PCR)
Control:
• infected fish were taken and destroyed immediately
• Avoid using water from ponds that are infected with the bacteria.
• Improve overall water quality, particularly reducing the levels of dissolved organic material and / or - to increase the frequency of replacement of new water
• Management of fish health in an integrated (fish, environment and pathogens)
• Soaking chloramine B or T 10 ppm for 24 hours and after that turn of the new water.
source: Ministry of Maritime Affairs and Fisheries of Indonesia, Directorate General of Aquaculture, Fish and Environmental Health Directorate, 2010
Sabtu, 19 Maret 2011
Penyakit Mycobacteriosis/Fish Tuberculosis (TB)
Penyakit Mycobacteriosis/Fish Tuberculosis (TB)
Penyebab : Mycobacterium marinum (air laut) dan M. fortuitum (air tawar)
Bio — Ekologi Pathogen
• Bakteri gram positif, berbentuk batang pendek dan non-motil.
• Kolam tadah hujan dan pekarangan dengan sumber air terbatas lebih rent
an terhadap infeksi jenis penyakit ini.
• Menunjukkan gejala yang variatif, namun sering pula tidak menunjukkan gejala klinis sama sekali.
• Pola serangan mycobacteriosis bersifat kronik - sub akut, baik pada ikan air tawar, payau maupun ikan air laut.
• Suhu optimum berkisar 25-35°C, tetapi masih dapat tumbuh baik pada suhu 18-20 °C.
Gejala Klinis :
• Hilang nasfu makan, lemah, kurus, mata melotot (exopthalmia) serta pembengkakan tubuh.
• Apabila menginfeksi kulit, timbul
bercak-bercak merah dan berkembang menjadi luka, sirip dan ekor geripis.
• Pada fase infeksi lanjut, secara internal telah terjadi pembengkakan empedu, ginjal dan hati; serta sering ditemukan adanya tubercle/nodule yang berwarna putih kecoklatan.
• Pertumbuhan lambat, warna pucat dan tidak indah terutama untuk ikan hias.
• Lordosis, skoliosis, ulser dan rusaknya sirip (patah-patah) dapat terjadi pada beberapa ekor ikan yang terserang.
Diagnosa :
• Isolasi dengan menggunakan media selektif, dan
diidentifikasi melalui uji bio-kimia.
• Deteksi gen bakteri melalui teknik polymerase chain reaction (PCR)
Pengendalian :
• ikan yang terinfeksi segera diambil dan dimusnahkan
• Hindari penggunaan air dari kolam yang sedang terinfeksi bakteri tersebut.
• Memperbaiki kualitas air secara keseluruhan, terutama mengurangi kadar bahan organik terlarut dan/atau - meningkatkan frekuensi penggantian air baru
• Pengelolaan kesehatan ikan secara terpadu (ikan, lingkungan dan patogen)
• Perendaman Chloramine B atau T 10 ppm selama 24 jam dan setelah itu dilakukan pergantian air baru.
sumber : Kementerian Kelautan dan Perikanan, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Direktorat Kesehatan ikan dan Lingkungan, 2010
Penyebab : Mycobacterium marinum (air laut) dan M. fortuitum (air tawar)
Bio — Ekologi Pathogen
• Bakteri gram positif, berbentuk batang pendek dan non-motil.
• Kolam tadah hujan dan pekarangan dengan sumber air terbatas lebih rent
an terhadap infeksi jenis penyakit ini.• Menunjukkan gejala yang variatif, namun sering pula tidak menunjukkan gejala klinis sama sekali.
• Pola serangan mycobacteriosis bersifat kronik - sub akut, baik pada ikan air tawar, payau maupun ikan air laut.
• Suhu optimum berkisar 25-35°C, tetapi masih dapat tumbuh baik pada suhu 18-20 °C.
Gejala Klinis :
• Hilang nasfu makan, lemah, kurus, mata melotot (exopthalmia) serta pembengkakan tubuh.
• Apabila menginfeksi kulit, timbul
bercak-bercak merah dan berkembang menjadi luka, sirip dan ekor geripis.• Pada fase infeksi lanjut, secara internal telah terjadi pembengkakan empedu, ginjal dan hati; serta sering ditemukan adanya tubercle/nodule yang berwarna putih kecoklatan.
• Pertumbuhan lambat, warna pucat dan tidak indah terutama untuk ikan hias.
• Lordosis, skoliosis, ulser dan rusaknya sirip (patah-patah) dapat terjadi pada beberapa ekor ikan yang terserang.
Diagnosa :
• Isolasi dengan menggunakan media selektif, dan
diidentifikasi melalui uji bio-kimia.
• Deteksi gen bakteri melalui teknik polymerase chain reaction (PCR)
Pengendalian :
• ikan yang terinfeksi segera diambil dan dimusnahkan
• Hindari penggunaan air dari kolam yang sedang terinfeksi bakteri tersebut.
• Memperbaiki kualitas air secara keseluruhan, terutama mengurangi kadar bahan organik terlarut dan/atau - meningkatkan frekuensi penggantian air baru
• Pengelolaan kesehatan ikan secara terpadu (ikan, lingkungan dan patogen)
• Perendaman Chloramine B atau T 10 ppm selama 24 jam dan setelah itu dilakukan pergantian air baru.
sumber : Kementerian Kelautan dan Perikanan, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Direktorat Kesehatan ikan dan Lingkungan, 2010
Luas Konservasi Laut 20 Juta Ha
Luas Konservasi Laut 20 Juta Ha
KEMENTERIAN Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong peningkatan hasil produksi budidaya laut. Salah satunya ialah dengan menargetkan area konservasi perairan seluas 15,5 juta hektare (ha) pada tahun 2014. Luas area pemeliharaan dan perlindungan di perairan laut ini naik 11,5% dibanding dengan luas konservasi tahun lalu yang mencapai 13,9 juta ha. KKP menargetkan area konservasi perairan tahun 2020 bisa mencapai 20 juta ha.
Gelwynn Jusuf, Sekretaris Jenderal KKP menjelaskan, area konservasi ini akan dikelola oleh pemerintah pusat dan daerah. "Anggaran pemerintah sangat terbatas, di lain pihak untuk mengelola keragaman hayati yang luas memerlukan dana besar,"ujar Gelwynn,Kamis (17/3).
Pemerintah akan mengerahkan sumber daya lain demi mendukung pengelolahan kawasan konservasi. Misalnya dengan mengerahkan biaya perijinan pengelolaan, pajak, biaya denda akibat pelanggaran, denda polusi, hibah dari dalam dan luar negeri, program tanggung jawab sosial perusahaan, atau dana pengelolaan lingkungan oleh lembaga swadaya masyarakat nirbala.
Saat ini, pembiayaan pengelolaan kawasan konservasi perairan bersumber dari anggaran pemerintah. "Sumber lain seperti bantuan luar negeri, LSM, dan hibah," lanjut Gelwynn. Meskipun demikian, menurutnya dana ini belum mencukupi kebutuhan. Sebab, untuk mengelola area di bawah 20.000 ha, dibutuhkan dana sebesar sekitar US$ 110 per ha.
SUMBER : HARIAN KONTAN HAL 15
KEMENTERIAN Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong peningkatan hasil produksi budidaya laut. Salah satunya ialah dengan menargetkan area konservasi perairan seluas 15,5 juta hektare (ha) pada tahun 2014. Luas area pemeliharaan dan perlindungan di perairan laut ini naik 11,5% dibanding dengan luas konservasi tahun lalu yang mencapai 13,9 juta ha. KKP menargetkan area konservasi perairan tahun 2020 bisa mencapai 20 juta ha.
Gelwynn Jusuf, Sekretaris Jenderal KKP menjelaskan, area konservasi ini akan dikelola oleh pemerintah pusat dan daerah. "Anggaran pemerintah sangat terbatas, di lain pihak untuk mengelola keragaman hayati yang luas memerlukan dana besar,"ujar Gelwynn,Kamis (17/3).
Pemerintah akan mengerahkan sumber daya lain demi mendukung pengelolahan kawasan konservasi. Misalnya dengan mengerahkan biaya perijinan pengelolaan, pajak, biaya denda akibat pelanggaran, denda polusi, hibah dari dalam dan luar negeri, program tanggung jawab sosial perusahaan, atau dana pengelolaan lingkungan oleh lembaga swadaya masyarakat nirbala.
Saat ini, pembiayaan pengelolaan kawasan konservasi perairan bersumber dari anggaran pemerintah. "Sumber lain seperti bantuan luar negeri, LSM, dan hibah," lanjut Gelwynn. Meskipun demikian, menurutnya dana ini belum mencukupi kebutuhan. Sebab, untuk mengelola area di bawah 20.000 ha, dibutuhkan dana sebesar sekitar US$ 110 per ha.
SUMBER : HARIAN KONTAN HAL 15
Jumat, 18 Maret 2011
Belut Putih Gegerkan Warga Cigantang Kota Tasikmalaya
Tasikmalaya adaditasik.com ( 18/03) Warga di Kampung Gunung Sari RT 03/05 Kelurahan Cigantang Kecamatan Mangkubumi Kota Tasikmalaya, digegerkan dengan diketemukannya, seekor belut berwarna putih dengan panjang kurang lebih 60 cm.
Belut putih ini pertama kali diketemukan oleh Rahidin ( 55 ) saat tengah membersihkan kolam miliknya, pada hari Kamis ( 17/03 ) sekira pukul 11.00 wib. saat air sudah muali surut tiba tiba Rahidin melihat seekor belut yang lain daripada yang lain, sejenak Rahidin berfikir bahwa itu hanya sebuah lele dumbo biasa, namun saat didekati Rahidin meyakini bahwa hewan tanpa kaki ini adalah seekor belut dengan warna albino.
" Saya fikir belut biasa, atau lele dumbo , namun saat didekati ternyata memang seekor belut namun warnanya putih, itu yang bikin saya jadi heran, biasanya warna belut kan coklat atau hitam, panjangnyapun sekitar 20 cm, tapi yang inimah [anjang sekali " katanya.
Berita diketemukannya belut yang dalam bahasa latinya (monopterus albus) dengan kulit berwarna putih inipun, dengan cepat tersebar puluhan warga berbondong bondong ingin melihat belut aneh ini dari dekat.
" Saya penasaran katanya belutnya ada telingannya serta memilki bibir, dan warnanya putih lagi " Ujar Hani yang datang dari Kawalu Kota Tasikmalaya.
Sementara itu menurut Tokoh Ulama setempat, penemuan belut aneh tersebut jangan disangkut pautkan dengan hal yang berbau mistis, karena bisa menjadikan musrik.
" Yah itulah tanda kebesaran Allah swt, jadi masyarakat jangan disangkutkan dengan hal hal yang sirik, seperti belut jadi jadian atau yang laiinya, itu bisa menimbulkan dosa besar " Ujar Ustadz H. Acep Saeful Zoni.
Sebetulnya belut adalah sejenis ikan yang punya nama latin monopterus albus. Belut biasa hidup dan berkembangbiak di habitatnya seperti persawahan, rawa-rawa atau tempat-tempat yang berlumpur seperti pinggiran sungai atau parit. Banyak orang memburu belut karena katanya mengandung gizi yang tinggi, belut juga memiliki varian warna yang berbeda tergantung suhu dan lokasi temapt berkembang biak, jadi yang jelas belut putih yang ditemukan oleh Rahidin adalah belut biasa namun memilki pigmen warna yang berbeda, bukan belut jadian jadian tentunya. ( DZM )
sumber :http://www.adaditasik.com
Belut putih ini pertama kali diketemukan oleh Rahidin ( 55 ) saat tengah membersihkan kolam miliknya, pada hari Kamis ( 17/03 ) sekira pukul 11.00 wib. saat air sudah muali surut tiba tiba Rahidin melihat seekor belut yang lain daripada yang lain, sejenak Rahidin berfikir bahwa itu hanya sebuah lele dumbo biasa, namun saat didekati Rahidin meyakini bahwa hewan tanpa kaki ini adalah seekor belut dengan warna albino.
" Saya fikir belut biasa, atau lele dumbo , namun saat didekati ternyata memang seekor belut namun warnanya putih, itu yang bikin saya jadi heran, biasanya warna belut kan coklat atau hitam, panjangnyapun sekitar 20 cm, tapi yang inimah [anjang sekali " katanya.
Berita diketemukannya belut yang dalam bahasa latinya (monopterus albus) dengan kulit berwarna putih inipun, dengan cepat tersebar puluhan warga berbondong bondong ingin melihat belut aneh ini dari dekat.
" Saya penasaran katanya belutnya ada telingannya serta memilki bibir, dan warnanya putih lagi " Ujar Hani yang datang dari Kawalu Kota Tasikmalaya.
Sementara itu menurut Tokoh Ulama setempat, penemuan belut aneh tersebut jangan disangkut pautkan dengan hal yang berbau mistis, karena bisa menjadikan musrik.
" Yah itulah tanda kebesaran Allah swt, jadi masyarakat jangan disangkutkan dengan hal hal yang sirik, seperti belut jadi jadian atau yang laiinya, itu bisa menimbulkan dosa besar " Ujar Ustadz H. Acep Saeful Zoni.
Sebetulnya belut adalah sejenis ikan yang punya nama latin monopterus albus. Belut biasa hidup dan berkembangbiak di habitatnya seperti persawahan, rawa-rawa atau tempat-tempat yang berlumpur seperti pinggiran sungai atau parit. Banyak orang memburu belut karena katanya mengandung gizi yang tinggi, belut juga memiliki varian warna yang berbeda tergantung suhu dan lokasi temapt berkembang biak, jadi yang jelas belut putih yang ditemukan oleh Rahidin adalah belut biasa namun memilki pigmen warna yang berbeda, bukan belut jadian jadian tentunya. ( DZM )
sumber :http://www.adaditasik.com
Kamis, 17 Maret 2011
Streptococciasis Disease
Streptococciasis Disease
Cause: Streptococcus agalactiae, S. iniae,
Bio - Ecology of pathogens:
• gram-positive bacteria, small round (cocci), joined
chain-like, non-motile, transparent and smooth colonies.
• Streptococcus iniae Infection often occurs in sea water fish farming (snapper, grouper), whereas S. agalactiae is more commonly found in freshwater fish farming (tilapia).
• The pattern of attacks are generally two types of bacteria are chronic - acute.
• Target organs of infection of Streptococcus spp. commonly found in the brain and eyes. so-called "syndrome, meningoencephalitis and panophthalmitis". The disease is frequently reported in intensive aquaculture systems, aquatic environment calm (stagnant) and / or recirculation systems,
• Cumulatively, the attack of this disease can cause mortality of 30-100% of the total population during the maintenance period: and this disease is a potential obstacle that must be anticipated with respect to intensification and improvement of national tilapia production.
Clinical Symptoms:
• Indicates abnormal behavior such as convulsions or spinning and prominent eyes (exopthalmus).
• decreased appetite, weakness, dark-colored body, and slow growth.
• Dark colors under the jaw, prominent eyes, bleeding, abdominal bloat (dropsy) or injuries that develop into ulcers.
• Occasionally. do not show obvious clinical symptoms except death continues.
• no directional movement (nervous) and bleeding on the gill cover (operculum).
• Often, too, found that the infected fish appear normal until shortly before death.
Diagnosis
• Isolation and identification of bacteria through bio-chemical tests.
• Detection of bacterial genes by polymerase chain reaction (PCR)
Control:
• Disinfection of aquaculture facilities before and during the maintenance of fish
• Prevention of early (seed) through vaccination anti-Streptococcus spp.
• Giving immunostimulan element (eg addition of
vitamin C in feed) are routinely during maintenance
• Improve overall water quality, particularly reducing the levels of dissolved organic material and / or increase the frequency of replacement of new water
• Management of fish health in an integrated (fish, environment and pathogens)
source: Ministry of Maritime Affairs and Fisheries of Indonesia, Directorate General of Aquaculture, Fish and Environmental Health Directorate, 2010
Cause: Streptococcus agalactiae, S. iniae,
Bio - Ecology of pathogens:
• gram-positive bacteria, small round (cocci), joined
chain-like, non-motile, transparent and smooth colonies.
• Streptococcus iniae Infection often occurs in sea water fish farming (snapper, grouper), whereas S. agalactiae is more commonly found in freshwater fish farming (tilapia).
• The pattern of attacks are generally two types of bacteria are chronic - acute.
• Target organs of infection of Streptococcus spp. commonly found in the brain and eyes. so-called "syndrome, meningoencephalitis and panophthalmitis". The disease is frequently reported in intensive aquaculture systems, aquatic environment calm (stagnant) and / or recirculation systems,
• Cumulatively, the attack of this disease can cause mortality of 30-100% of the total population during the maintenance period: and this disease is a potential obstacle that must be anticipated with respect to intensification and improvement of national tilapia production.
Clinical Symptoms:
• Indicates abnormal behavior such as convulsions or spinning and prominent eyes (exopthalmus).
• decreased appetite, weakness, dark-colored body, and slow growth.
• Dark colors under the jaw, prominent eyes, bleeding, abdominal bloat (dropsy) or injuries that develop into ulcers.
• Occasionally. do not show obvious clinical symptoms except death continues.
• no directional movement (nervous) and bleeding on the gill cover (operculum).
• Often, too, found that the infected fish appear normal until shortly before death.
Diagnosis
• Isolation and identification of bacteria through bio-chemical tests.
• Detection of bacterial genes by polymerase chain reaction (PCR)
Control:
• Disinfection of aquaculture facilities before and during the maintenance of fish
• Prevention of early (seed) through vaccination anti-Streptococcus spp.
• Giving immunostimulan element (eg addition of
vitamin C in feed) are routinely during maintenance
• Improve overall water quality, particularly reducing the levels of dissolved organic material and / or increase the frequency of replacement of new water
• Management of fish health in an integrated (fish, environment and pathogens)
source: Ministry of Maritime Affairs and Fisheries of Indonesia, Directorate General of Aquaculture, Fish and Environmental Health Directorate, 2010
Langganan:
Postingan (Atom)