Rabu, 16 Maret 2011

Penyakit ikan : Penyakit Streptococciasis

Penyakit Streptococciasis
Penyebab : Streptococcus agalactiae, S. iniae,

Bio — Ekologi Pathogen :
• Bakteri gram positif, berbentuk bulat kecil (cocci), bergabung
menyerupai rantai, non-motil, koloni transparan dan halus.
• Infeksi Streptococcus iniae sering terjadi pada budidaya ikan air laut (kakap, kerapu), sedangkan S. agalactiae lebih banyak ditemukan pada ikan budidaya air tawar (nila).

• Pola serangan kedua jenis bakteri tersebut umumnya bersifat kronik – akut.
• Target organ infeksi Streptococcus spp. banyak ditemukan di otak dan mata. sehingga disebut "syndrome meningoencephalitis dan panophthalmitis". Penyakit ini sering dilaporkan pada sistem budidaya intensif, lingkungan perairan tenang (stagnant) dan/atau sistem resirkulasi,

• Secara kumulatif, akibat serangan penyakit ini dapat menimbulkan mortalitas 30-100% dari total populasi selama masa pemeliharaan: dan penyakit ini merupakan kendala potensial yang harus diantisipasi berkenaan dengan program intensifikasi dan peningkatan produksi nila nasional.

Gejala Klinis :
• Menunjukkan tingkah laku abnormal seperti kejang atau berputar serta mata menonjol (exopthalmus).
• Nafsu makan menurun, lemah, tubuh berwarna gelap, dan pertumbuhan lambat.
• Warna gelap di bawah rahang, mata menonjol, pendarahan, perut gembung (dropsy) atau luka yang berkembang menjadi borok.
• Adakalanya. tidak menunjukkan gejala klinis yang jelas kecuali kematian yang terus berlangsung.
• Pergerakan tidak terarah (nervous) dan pendarahan pada tutup insang (operculum).
• Sering pula ditemukan bahwa ikan yang terinfeksi terlihat normal sampai sesaat sebelum mati.

Diagnosa
• Isolasi dan identifikasi bakteri melalui uji bio-kimia.
• Deteksi gen bakteri melalui teknik polymerase chain reaction (PCR)


Pengendalian:
• Desinfeksi sarana budidaya sebelum dan selama proses pemeliharaan ikan
• Pencegahan secara dini (benih) melalui vaksinasi anti-Streptococcus spp.
• Pemberian unsur immunostimulan (misalnya penambahan
vitamin C pada pakan) secara rutin selama pemeliharaan
• Memperbaiki kualitas air secara keseluruhan, terutama mengurangi kadar bahan organik terlarut dan/atau meningkatkan frekuensi penggantian air baru
• Pengelolaan kesehatan ikan secara terpadu (ikan, lingkungan dan patogen)

sumber : Kementerian Kelautan dan Perikanan, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Direktorat Kesehatan ikan dan Lingkungan, 2010

Jumat, 11 Maret 2011

“Raja Lele” dari Ujung Timur Pulau Jawa

“Raja Lele” dari Ujung Timur Pulau Jawa


lele_1Siapa raja lele yang sebenarnya? “Raja Lele”, bukan hanya berasal dari nama kelompok budidayanya saja, akan tetapi melihat kesuksesan yang dicapai dalam meningkatkan produksi ikan lele hingga ambang batas normal. Padat tebar yang tinggi hingga mencapai angka 1.000 – 1.500 ekor/m2 merupakan kunci utamanya.



Berada pada lokasi yang terletak pada 08025’57,5” LS - 114019’41,1” BT, di ujung timur Pulau Jawa, tepatnya di Desa tembok Rejo, Kec. Muncar, Banyuwangi – Jawa Timur terdapat kelompok pembudidaya lele Super Intensif bernama “Raja Lele” dengan jenis lele yang dibudidayakan adalah lele dumbo. Selain usaha pembesaran lele untuk ikan konsumsi, Raja Lele juga bergerak dalam usaha perbenihan lele. Usaha perbenihan dilakukan untuk membantu pasokan benih untuk kegiatan pembesaran apabila mengalami kesulitan pasokan benih.

Digawangi oleh Syamsul Arifin, dialah ketua kelompok dari Raja Lele yang berhasil membudidayakan lele dengan padat tebar tinggi. Berawal dari pemikirannya yang sederhana untuk mengubah image negatif dari lele, dimana lele itu diproduksi. Bukan menjadi suatu rahasia apabila pemeliharaan lele di lokasi pemukiman yang padat penduduk banyak penolakan dari warga sekitar. Hal ini dikarenakan bau menyengat dari kolam tempat pemeliharaan. Sehingga pembudidaya lebih memilih untuk memelihara di pekarangan / kebun yang sedikit jauh dari tempat tinggal. Belum lagi dalam hal pakan yang digunakan. Sehingga oleh Syamsul diterapkan teknik budidaya, yakni budidaya ramah lingkungan dengan melakukan manajemen budidaya baik manajemen kualitas air maupun pemberian pakan.

Luas pemeliharaan Raja Lele saat ini terdiri dari kolam kecil dengan luasan total 160 m2 dan kolam besar berjumlah 600 m2. Dari luasan tersebut dapat memproduksi lele sebesar ± 150 ton/bulan. Kolam yang digunakan sebagai wadah budidaya sebagian besar berupa kolam beton, meski ada juga dari anggota kelompok yang menggunakan kolam dari terpal.

Lele dibudidayakan selama 2,5 bulan. Kebutuhan akan benih untuk Raja Lele selain dari pasokan pembenih lokal juga dari luar daerah, seperti Jember. Untuk kebutuhan pakan, Raja Lele menggunakan pakan buatan atau pelet hasil produksi pabrikan. Dalam pemeliharaannya, tidak ada perbedaan secara teknis budidaya dengan pembudidaya lele pada umumnya. Hanya melakukan sejumlah manajemen budidaya. Manajemen tersebut meliputi manajemen pakan, dan air.

Dalam hal pakan, pemberian pakan dilakukan dengan mengacu pada waktu dan feeding habit alami dari lele. Seperti yang diketahui, lele adalah jenis ikan yang aktif mencari makan pada malam hari (nocturnal). Berawal dari hal tersebut, Raja Lele mengaturnya dengan memberi pakan dengan konsentrasi yang lebih banyak pada malam hari. Perbandingan pakannya, yaitu 70% malam dan 30% siang. Selain pakan, pergantian air merupakan bagian terpenting. Disamping untuk menjaga kesehatan ikan, juga dapat menghindari adanya penyakit. Meskipun lele termasuk ikan yang memiliki daya tahan kuat terhadap kondisi perairan yang jelek sekalipun, akan tetapi perkembangannya tidak dapat optimal. Hal lain yang dilakukan dalam budidaya super intensif ini adalah adanya pemilahan ukuran (grading) yang dilakukan setiap 3 – 4 hari sekali, serta penambahan probiotik pada pakan dan media pemeliharaan.

Selama ini permintaan akan lele di pasaran cenderung meningkat. Hasil produksi Raja Lele selain untuk konsumsi pasar lokal juga ke luar daerah. Daerah yang menjadi tujuan sekaligus pasar terbesar Raja Lele adalah Bali. Dari hasil panen 150 ton/bulan terbagi untuk pemasaran lokal dan luar daerah (Bali) dengan perbandingan 60 ton (lokal) dan 90 ton (Bali). Belum lama ini, Raja Lele telah memasarkan hasilnya ke Bandung. Tentunya bukan hal yang mudah jika ingin mengekspor hasil usaha budidaya hingga ke luar daerah. Ada beberapa hal yang menjadi tantangan, antara lain :

1. Kualitas barang (produk) yang bersaing

2. Harga yang bersaing

3. Jaminan keamanan akan produk dari pihak/instansi yang berwenang.

Syamsul menambahkan, keberanian Raja Lele memasarkan ikannya ke Bandung adalah dengan diperolehnya sertifikat CBIB dari KKP. Adanya sertifikat CBIB dapat memberikan jaminan keamanan pangan mulai bahan baku hingga produk akhir hasil budidaya yang bebas dari bahan cemaran sesuai persyaratan pasar. Sehingga dapat meningkatkan kepercayaan produsen kepada konsumen, yang nantinya akan memiliki daya saing terhadap produk yang dihasilkan. Yang penting untuk diperhatikan dalam memperoleh sertifikat ini, seluruh tahapan dalam budidaya ikan seperti sanitasi dan pengendalian yang bertujuan dalam upaya mencegah tercemarnya hasil perikanan budidaya dari berbagai bahaya keamanan pangan seperti bakteri, racun hayati (biotoxin), logam berat serta pestisida, maupun residu bahan terlarang (antibiotik, hormon, dsb).

Adapun kendala yang dialami Raja Lele saat ini adalah berkaitan dengan sarana transportasi. Selama ini produksi yang dihasilkan tidak bersamaan. Sehingga hasil panen diperoleh dari beberapa anggota kelompok untuk kemudian dikumpulkan dan dijadikan satu, dan selanjutnya didistribusikan ke daerah tujuan. Sarana pendistribusian biasanya berupa truk (untuk muatan besar) dan pick-up (untuk muatan kurang dari 5 ton). Dalam satu bulan, pengangkutan hasil panen dapat dilakukan hingga beberapa kali. Hal ini akan menambah biaya produksi karena belum adanya sarana pengangkutan.

Dengan tingkat padat tebar yang tinggi disertai manajemen budidaya yang baik serta adanya sertifikat CBIB, Raja Lele akan memiliki daya saing tinggi baik di daerah maupun secara nasional.

sumber : http://www.perikanan-budidaya.kkp.go.id

Rabu, 09 Maret 2011

Pembenihan Ikan Mas Koki (Carrasius auratus)

Pembenihan Ikan Mas Koki (Carrasius auratus)


Dari berbagai jenis ikan hias yang beredar di Indonesia, ikan mas koki merupakan jenis ikan hias yang dominan. Hal tersebut terkait dengan kelebihannya yaitu harganya yang relatif murah, bentuk siripnya yang indah, kepalanya yang menyerupai kepala singa serta tubuhnya yang dilapisi aneka warna dengan gerakannya yang semampai telah memikat hati para penggemarnya. Ikan mas koki berasal dari China, namun saat ini telah tersebar luas di Indonesia

Jenis Kelamin

Ikan mas koki yang telah matang gonad memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

Ikan Betina

- Pada bagian perut agak membesar

- Bentuk dubur besar dan bulat

Ikan Jantan

- Terdapat benjolan kecil warna putih pada tutup insang atau terkadang pada jari-jari pertama sirip dada

- Bentuk dubur oval dan kecil
Kolam Induk

- Induk jantan dan betina yang telah berumur 2 – 4 tahun, ditempatkan secara terpisah dalam bak yang cukup mendapat sinar matahari

- Ukuran bak 2 x 2 x 0,6 m3 yang dilengkapi saluran pengeluaran air

- Air berasal dari air tanah yang telah diendapkan atau ledeng yang kaporitnya telah dinetralisasi

- Untuk menghilangkan kadar kaporit pada air ledeng tambahkan 1 sendok makan sodium thiosulfat per 200 liter air

- Pakan yang diberikan berupa cacing rambut atau pakan buatan dengan kadar protein minimal 15%.

Pemijahan

- Bak Pemijahan dijemur terlebih dahulu sampai dasarnya kering

- Masukkan air setinggi 25 cm, kemudian untuk mengendalikan suhu air digunakan aerator dan thermostat

- Masukkan kakaban atau tanaman air yang mengapung sebanyak 1/3 luas permukaan sebagai tempat menempelnya telur

- Suhu media pemijahan 23-270C, pH 7,2 – 7,5, Oksigen terlarut 5 ppm, kesadahan air 50 – 200 dH ( 1 dH= 7,1 ppm)

- Induk mas koki dimasukkan ke dalam bak pemijahan dengan

perbandingan betina : jantan = 1:3. Pemijahan berlangsung pada malam hari menjelang subuh

- Keesokan harinya, telur-telur hasil pemijahan menempel di kakaban

- Hindarkan telur-telur dari curahan air hujan atau sengatan sinar matahari

- Telur dibiarkan di kakaban sampai menetas, induk dipindahkan kembali ke kolam pemeliharaa induk.

- Untuk menjaga kualitas air pemeliharaan larva, dilakukan penggantian sebagian air dengan cara menyiphon dan meningkatkan aerasi.

- Untuk menghindari tumbuhnya jamur, teteskan malachit green 1 ppm (1 mg untuk 1000 liter air) pada media pemeliharaan. Setelah 15 menit air dibuang dan diganti dengan air yang baru.

- Telur akan menetas dalam waktu 2 hari pada suhu 27 0C menjadi larva ukuran 5 mm

- Setelah larva berumur 2 – 3 hari diberikan pakan berupa jasad renik (moina, daphnia, infusoria dan rotifera), cacing rambut atau makanan buatan

- Seleksi terhadap larva ikan sebaiknya dilakukan secara rutin setelah larva berumur 2 minggu, 3 minggu dan 2-3 bulan

Pemeliharaan di akuarium

Ukuran akuarium yang biasa digunakan untuk memelihara ikan mas koki yaitu 90 x 30 x 38 cm. Suhu air pemeliharaan yang sesuai adalah 18 – 21 0C, pH < 8. Pakan yang diberikan berupa pakan alami atau pakan buatan sebanyak satu kali/ hari. Proses penggantian air dilakukan seminggu sekali sebanyak ¼ - 1/3 bagian dengan cara menyipon, sedangkan untuk membersihkan kotoran yang melayang dalam air digunakan filter.

sumber : http://www.perikanan-budidaya.kkp.go.id

Senin, 07 Maret 2011

Akses Perikanan Dikembangkan

Akses Perikanan Dikembangkan

JAKARTA - Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) berharap akses pasar ekspor produk perikanan bisa diperluas dengan cara mengandeng perusahaan modern yang memiliki jaringan internasional.

"Nelayan dan pembudidaya yang memiliki usaha skala kecil dan menenggah bisa memanfaatkan akses di pasar modern. KKP mengupayakan dengan menyiapkan sertifikat keamanan pangan, agar produk bisa masuk dan diterima pasar," kata Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad seusai membuka Kampoeng Carrefour bertema farmers and fisherman di Jakarta, Minggu (6/3).

Fadel menyatakan, di dalam negeri usaha kecil dan menengah terkendala akses pasar, untuk itu langkah pasar modern seperti hypermart/supermarket yang menyediakan lokasi dan tempat berjualan mempermudah akses nelayan dan pembudidaya. Untuk itu ia berharap kerja sama dengan pasar modern dapat di tingkatan.

Dengan kerja sama dengan pasar modern (Carrefour) Indonesia, Fadel berharap akses pasar produk perikanan dapat diperluas. "Mereka memiliki jaringan pasar internasional, dan ini akan mempermudah produk kita masuk kepasar modern di luar negeri," imbuhnya.

Lebih lanjut Fadel menuturkan, pemerintah membina mitra nelayan dan pembudidaya sehingga memiliki kemampuan produksi produk yang memenuhi syarat pasar. Diharapkan, mereka menjadi lokomotif bagi usaha perikanan lain skala kecil dan menengah untuk menembus pasar modern.

Pasar Modern

Di tempat yang sama Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian Hasanuddin Ibrahim menyebut selama ini jaringan petani lebih banyak di pasar modern akan memperluas akses pasar.

"Memang masih ada kendala, usaha pertanian skala kecil dan menengah biasanya terkendala modal. Di pasar modern terkadang sistem pembayarannya belakangan dan pernah molor, jadi bagi usaha kecil pertanian itu akan berat karena modal sulit diputar," ungkapnya.

Presdir PT Carrefour Indonesia Shafie Shamsuddin menyebut, produk pertanian dan perikanan dari petani dan nelayan diserap oleh 81 gerai Carrefour di Indonesia. Data PT Carrefour Indonesia menyebut, ada 37 mitra yang memasok produk pertanian dan delapan mitra dari sektor kelautan dan perikanan.

"Jika kualitasnya sudah terjamin di pasar dalam negeri, maka kita akan berikan ekspornya ke pasar terdekat mulai Malaysia, Singapura dan Taiwan. Kita berikan guidance quality line sehingga proses dan produknya terjamin," ujarnya.



Sumber : KORAN JAKARTA 7 MARET 2011 HAL 15

Rabu, 02 Maret 2011

penyakit ikan Columnaris Disease


Columnaris Disease

Penyebab : Flavobacterium columnare atau Fexibacterium columnare

Bio-Ekologi patogen:
• Bakteri gram negatif, berbentuk batang kecil, bergerak meluncur, dan terdapat di ekosistem air tawar.
• Sifat bakteri ini adalah berkelompok membentuk kumpulan seperti column.
• Serangan sering terjadi pada kelompok ikan pasca transportasi.
• Sifat serangan umumnya sub acut — acut, apabila insang yang dominan sebagai target organ, ikan akan mati lemas dan kematian yang ditimbulkannya bisa mencapai 100%.

Gejala klinis :
• Luka di sekitar mulut, kepala, badan atau sirip. Luka berwarna putih kecoklatan kemudian berkembang menjadi borok.
• Infeksi di sekitar mulut, terlihat seperti diselaputi benang (thread-like) sehingga sering disebut penyakit "jamur mulut".
• Di sekeliling luka tertutup oleh pigmen berwarna kuning cerah.
• Apabila menginfeksi insang, kerusakan dimulai dari ujung filamen insang dan merambat ke bagian pangkal, akhirnya filamen membusuk dan rontok (gill rot).

Diagnosa :
• Pengamanatan preparat tetes gantung secara mikroskopis (400x) untuk melihat adanya kolom bakteri pada organ target infeksi.
• Isolasi dan identifikasi melalui uji bio-kimia.

Pengendalian :
• Menghindari terjadinya stress (fisik, kimia, biologi)
• Mengurangi kadar bahan organik terlarut dan/atau meningkatkan frekuensi penggantian air baru
• Melalui perendaman dengan beberapa bahan kimia seperti
✓ Garam dapur 0,5% atau kalium permanganat 5 ppm selama 1 hari
✓ Acriflavine 5-10 ppm melalui perendaman selama beberapa hari.
✓ Chloramin B atau T 18-20 ppm melalui perendaman selama 2-3 hari.
✓ Benzalkonium chloride pada dosis 18-20 ppm selama 2-3 hari
✓ Oxolinic acid pada dosis 1 ppm selama 24 jam

sumber : Kementerian Kelautan dan Perikanan, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Direktorat Kesehatan ikan dan Lingkungan, 2010

Maluku Akan Jadi Lumbung Ikan

Maluku Akan Jadi Lumbung Ikan



JAKARTA (Suara Karya): Pemerintah menetapkan wilayah Maluku sebagai lumbung ikan nasional. Wilayah di Timur Indonesia ini memiliki potensi perikanan tangkap hingga 1,6 juta ton per tahun.

Demikian diungkapkan Menteri Koordinasi Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) HR Agung Laksono di jakarta, selasa (1/3), usai melakukan rapat koordinasi(rakor). Turut hadir para rakor ini Menteri Perhubungan Freddy Numberi, Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad, serta Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal Helmi Faishal Zaini.

Agung mengatakan, Maluku berpotensi menjadi lumbung nasional karena merupakan salah satu wilayah di indonesia yang menghasilkan ikan terbanyak. Apalagi, selain perikanan budi daya di Maluku juga besar. Wacana penetapan Maluku sebagai lumbung ikan nasional dicetuskan pada acara Sail Banda 2010.

"Namun, sampai sekarang baru digarap sekitar 300.000 ton ikan. ini merupakan tindak lanjut,karena banyak proses yang harus dilakukan untuk mewujudkan wacana itu.Diharapkan dapat dimulai tahun ini setelah adanya kajian menyangkut segala aspek serta pengembangan sarana dan prasarana.

Jadi tidak boleh hanya sebatas wancana,harus ada tindak lanjut sampai akhirnya diputuskan Maluku menjadi lumbung ikan nasional,"katanya.

Sementara itu,Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad menambahkan,Kementerian Kelautan dan Perikanan bisa menyuntik dana sebesar Rp 950 miliar untuk pengembangan bidang perikanan di Maluku.Untuk 2011 ini disiapkan anggaran sebesar Rp 140 miliar.

"Tadinya Pemda Maluku meminta dana hingga Rp 16,1 triliun.Namun ini terlalu basar.Bisa kalau direncanakan untuk beberapa tahun kedepan dengan target peningkatan produksi dan menjadikan lumbung ikan di sana,"katanya.

Menurut Fadel,konsep Maluku sebagai lumbung ikan nasional mencakup empat daerah di Maluku,di antaranya Tual,Ambon,dan Seram serta di Sinergikan dengan 12 pelabuhan pendaratan ikan (PPI).Pemerintah pun berencana akan mengundang investor swasta.



Sumber : SUARA KARYA 2 MARET 2011 HAL 6

Selasa, 01 Maret 2011

Usaha Budidaya Lele dan Gurami Saat ini

Usaha Budidaya Lele dan Gurami Saat ini

Ikan lele dan gurami merupakan komoditas ikan air tawar yang memiliki beberapa keunggulan, seperti teknologi pembenihan dan pembesarannya telah dikuasai dan mudah diterapkan, telah berkembang di masyarakat di hampir seluruh wilayah Indonesia, bernilai ekonomis, dapat dilakukan dalam skala rumah tangga sampai industri serta memiliki pasar lokal maupun pasar ekspor yang sangat potensial.

Potensi lahan untuk pengembangan budidaya ikan lele dan gurami berupa lahan darat masih sangat luas, mencapai sebesar 2,07 juta Ha dan baru dimanfaatkan sebesar 361.971 Ha atau 17,47% dari total potensi tersebut.

Perkembangan produksi ikan lele selama 5 tahun terakhir menunjukkan hasil sangat signifikan yaitu sebesar 21,82% per tahun dari 69.386 ton pada Tahun 2005 menjadi 145.099 ton pada Tahun 2009, begitu pula dengan gurami selama 5 tahun terakhir menunjukkan angka pertumbuhan sebesar 18,63% per tahun, yaitu dari 24.052 ton pada Tahun 2005 menjadi 46.452 ton pada Tahun 2009.

Proyeksi produksi ikan lele nasional selama 2010-2014 sebesar 450 % atau rata-rata meningkat sebesar 35% per tahun yakni pada tahun 2010 sebesar 270.600 ton meningkat menjadi 900.000 ton pada tahun 2014. Sementara proyeksi produksi ikan gurame selama 2010-2014 sebesar 127% atau rata-rata meningkat sebesar 5% per tahun yakni sebesar 40.300 ton pada tahun 2010 meningkat menjadi 48.900 ton pada tahun 2014.

Jenis ikan lele yang dibudidayakan dan berkembang di wilayah Indonesia adalah lele dumbo, lele sangkuriang, lele afrika, lele piton dan lele paiton, sedangkan ikan gurami yang dibudidayakan di masyarakat umumnya gurami paris dan gurami swang.

Sentra pengembangan budidaya ikan lele tersebar di hampir seluruh Indonesia, terutama di Propinsi Sumut, Sumbar, Jambi, Lampung, Banten, Jabar, Jateng, DI Yogyakarta, Jatim dan Kalbar. Sedangkan sentra pengembangan budidaya ikan gurami terkonsentrasi di Lampung, Sumsel, Sumbar, Jabar, Jateng, Jatim dan DI Yogyakarta.

Sumber benih ikan lele umumnya berasal dari Propinsi Jawa Barat (Kabupaten Bekasi, Bogor, Sukabumi, Subang, Indramayu dan Cirebon), Jawa Timur (Kab.Tulung Agung, Blitar) dan dari kawasan budidaya ikan air tawar sekitarnya, sedangkan sumber benih ikan gurami terkonsentrasi di Propinsi Jawa Tengah (Kab. Banyumas, Purbalingga dan Banjarnegara) dan di Propinsi Jawa Barat (Kab.Bogor, Tasikmalaya dan Ciamis) serta telah memanfaatkan sumber plasma nutfah ikan gurami di perairan umum.

Induk lele Sangkuriang yang beredar di masyarakat merupakan induk unggul hasil perbaikan genetik dari BBPBAT Sukabumi, dan saat ini sedang dilakukan perekayasaan untuk menghasilkan induk lele sangkuriang generasi kedua. Untuk induk gurami, umumnya berasal dari hasil pembesaran pembudidaya berdasarkan kriteria fisik, dan saat ini sedang dilakukan pemuliaan induk di pusat pengembangan induk (BBPBAT Sukabumi, BPBIAT Muntilan-Jateng, BPPBAT Singaparna-Jabar) dalam tahap menghasilkan calon induk unggul (F0).

Budidaya ikan lele umumnya menerapkan sistem monokultur di kolam tanah, bak semen, dan yang saat ini banyak berkembang adalah kolam terpal dengan padat penebaran antara 100-200 ekor/m² dengan ukuran benih 7-9 cm. Bahkan budidaya ikan lele dapat dilakukan di daerah marginal (seperti di Kab.Gunung Kidul) dan memberikan hasil yang memuaskan, sehingga dimungkinkan dikembangkan secara massal. Saat ini terdapat pula kawasan pembudidayaan lele dengan pola MINAKERA (Mina Kebun Rakyat) dengan pola pengembangan polikultur ikan lele, gurami dan nila.

Budidaya ikan gurami umumnya dilakukan di kolam tanah secara tradisional baik monokultur maupun polikultur dengan ikan nila dengan ratio jumlah gurami dibanding nila sebesar 3 : 1 atau dengan pola mina padi. Saat ini berkembang pula budidaya gurami kolam dalam dengan kedalaman 3-4 meter.

Dalam usaha budidaya ikan gurami terdapat 8 segmen usaha yang telah terbukti memperluas peluang usaha dan memberikan keuntungan bagi pembudidaya. Tetapi dari 8 segmen tersebut terdapat 2 segmen yang tidak banyak dilakukan oleh pembudidaya yaitu segmen untuk ukuran 12 dan 22 cm.

Pemberian pakan tambahan berupa pelet telah memasyarakat baik untuk budidaya lele maupun budidaya gurami. Saat ini terdapat pembudidaya di Kabupaten Banjarnegara yang menghasilkan pakan buatan untuk gurami dengan komponen bahan baku seperti ikan rucah (70%) dan bahan lain yang telah difermentasi seperti : tepung kecambah jagung, ampas tahu, bungkil kelapa, mie (BS), roti (BS), bekatul dan ekstrak bahan alami seperti : kangkung, jahe, kunyit, bawang putih, yang menghasilkan pakan dengan kandungan protein 32%, serat kasar 18% dan air 17%.

Pembuatan pakan berbahan baku lokal berupa limbah hasil pertanian (kulit kacang-kacangan, bonggol jagung) yang difermentasikan dengan penambahan bahan herbal.

Pemberian pakan tambahan berupa dedaunan seperti : daun turi, daun singkong, kleresede/cebreng, daun pepaya, lamtoro pada budidaya lele telah mulai berkembang. Demikian juga pemberian pakan tambahan dedaunan pada budidaya gurami dengan jenis dedaunan bervariasi seperti daun senthe, kangkung maupun azola.

Penerapan CBIB sebagai panduan teknis untuk melakukan budidaya yang baik dan benar dalam kerangka penerapan sistem jaminan mutu dan keamanan pangan belum terlaksana secara baik. Saat ini baru terdapat 11 pokdakan lele dan 10 POKDAKAN gurami yang telah memperoleh Sertifikat CBIB;

Jaringan pasar telur dan benih gurami telah terbentuk, dengan sentra produsen telur gurami di Banyumas, Banjarnegara, Bogor dan Tasikmalaya dengan wilayah distribusi meliputi : Kab. Blitar, Tulung Agung, Pantai Utara Jawa (Cirebon, Indramayu), Nganjuk, Klaten, Sragen, dan DI Yogyakarta, Kalsel, Kalbar, Lampung dan Jambi. Bahkan, diperoleh informasi adanya ekspor benih gurami dari Sumbar, Riau ke Malaysia;

Jaringan pasar ikan lele konsumsi sejak Tahun 2008 sampai pertengahan Tahun 2010 telah diekspor dari Propinsi Jawa Timur yaitu 523,9 ton pada Tahun 2008, 337,3 ton pada Tahun 2009, dan 462,6 ton pada Tahun 2010 (smp bln Agustus), dengan negara tujuan ekspor Cina,Vietnam, Korea dan Uni Eropa. Sementara jaringan pasar ikan gurami konsumsi banyak terdapat di Jakarta yaitu sebesar 22,5 ton/hari dengan pasar utamanya adalah restoran dan swalayan;

Diversifikasi produk olahan khususnya untuk lele olahan sudah mulai berkembang, terbukti telah banyak industri rumah tangga yang telah menghasilkan produk seperti : abon, nugget, keripik kulit, tulang dan sirip, sale/asap, bakso, dan lain-lain.
sumber : http://www.perikanan-budidaya.kkp.go.id