Kamis, 05 Februari 2009

Budidaya Ikan Hias : Niasa (Yellow Auratus)


Niasa (Yellow Auratus)


Syarat hidup dan asal dari niasa (Melanochromis auratus) ini sama dengan venustus. Tubuh jantan berwarna selangseling kuning dengan garis horisontal hitam sangat cemerlang, sedangkan betina berwarna agak biru dan sedikit pucat. Ikan ini memerlukan air yang alkali (pH lebih dari 7) dan cukup keras (sekitar 12° dH).


Ikan dewasa sebenarnya sangat mempertahankan daerahnya sehingga perlu adanya tanaman air atau bebatuan yang cukup sebagai shelter. Namun, pemeliharaan di kolam tanpa shelter



pun tidak bermasalah. Selain itu, karena sifatnya mouthbreeder maka tanpa sarang pun pemijahan masih tetap berjalan dengan baik.


Pemijahan masal dilakukan dengan perbandingan jantan betina 1 : 4. Proses berpijah dan cara pengambilan telur ikan ini sama dengan pada venustus. Masa inkubasi telur dalam akuarium sekitar dua hari. Larva dapat berenang sesudah 6-7 hari. Untuk pakan larva dapat diberi kutu air, artemia, atau cacing sutera yang dicincang. Sementara induknya diberi udang kecil atau rebon untuk memperbaiki kualitas telur. Untuk ikan dewasa dapat diberi pakan berupa cacing sutera.


Niasa sangat kuat dan toleran terhadap kualitas air sehingga penggantian air sekitar 3-4 hari sekali sebanyak separonya sudah cukup baik. Demikian pula ketinggian air kolamnya, walaupun ikannya cukup besar, namun air dangkal sekitar 15-20 cm tidak akan menjadi masalah dalam pemeliharaan. Ikan tetap dapat hidup dan tumbuh baik asalkan wadah pemeliharaannya diberi naungan.

sumber : Darti S.L dan Iwan D. Penebar Swadaya, 2006

Budidaya Ikan Hias : Venustus (Haplochromis sp.)



Venustus



Venustus (Haplochromis sp.) yang juga dikenal dengan. Livingstone dan Blue Lumphead berasal dari danau di daerah Malawi, Afrika. Ikan ini termasuk karnivora, tetapi cenderung ke omnivora. Suhu pemeliharaannya antara 24-28° C dengan pH air 7,5-8,5 dan kekerasan 10-18° dH. Panjang tubuh maksimal 15-20 cm. Warnanya beragam, mulai dari biru, hitam putih agak belang, atau biru kekuningan.







Sebagai induk biasanya diambil yang sudah berumur lebih dari delapan bulan. Betina dapat dibedakan dari warnanya yang sangat pudar dan terdapat bintik merah pada setiap ujung, sirip anal atau dubur. Agar telurnya berkualitas, pakannya sebaiknya berupa anak udang atau rebon. Pemijahannya dilakukan secara masal dengan perbandingan jantan betina 1 : 4.



Proses pemijahan Ikan ini terjadi di pojok-pojok kolam. Betina yang siap memijah akan mengeluarkan telur dan akan dibuahi jantan

yang berenang di belakangnya. Selanjutnya, betina akan kembali mengambil telurnya dan dimasukkan dalam mulut. Hal ini dilakukan berulang-ulang sehingga induk berenang berputar-putar.



Masa inkubasi telur di dalam mulut induk berlangsung hingga 10-14 hari. Biasanya petani mengambil telur-telur dari mulut induknya secara paksa untuk diinkubasi terpisah dalam akuarium. Inkubasi dalam akuarium harus dengan aerasi kecil. Pengambilan telur dilakukan kalau mulut induknya tampak penuh atau tutup insangnya tampak menggembung.



Mengeluarkan telur dengan cara mulut induk dibuka menggunakan ibu jari dan telunjuk yang ditekan pada sisi kanan kiri mulut. Selanjutnya mulut ikan diarahkan ke bawah (agak dijungkirkan). Telur yang keluar ditampung di wadah berisi air bersih, lalu bisa ditetaskan. Hanya saja, jumlah telurnya tidak terlalu banyak, biasanya hanya puluhan.



Telur ikan ini cukup besar sehingga larvanya pun cukup besar dan kuat. Telur akan menetas dalam akuarium sekitar dua hari dan akan berenang 6-7 hari kemudian. Larva yang mulai berenang sudah bisa diberi pakan cacing sutera ataupun kutu air besar. Sementara induknya dapat diberi pakan dari jenis udang-udang kecil, misalnya rebon, agar kualitas telurnya bagus. Ukuran jual ikan ini sekitar 4 cm atau sudah berumur empat bulan.

sumber : Darti S.L dan Iwan D. Penebar Swadaya, 2006

Budidaya Ikan Hias : Platty (Xiphophorus maculatus)


Platty
Platty (Xiphophorus maculatus) berasal dari Amerika Selatan, terutama Meksiko dan Honduras. Ikan ini tergolong omnivora. Ukuran tubuhnya dapat mencapai 12 cm. Suhu optimal untuk pemeliharaannya sekitar 25-28° C dengan pH 7,0-7,5 dan kekerasan 10-15° dH.

Ada banyak varietas platty yang dapat dijumpai di pasaran dengan beragam warna seperti merah, kuning, atau putih. Beberapa varietas platty di antaranya ialah Sunset, Red Coral, Black Tail, Coral, dan Hawaii.

Pemijahan ikan ini sama dengan guppy dan molly yang memerlukan tanaman air. Induk jantan lebih langsing dan siripnya lebih lebar dari betina. Walaupun gemuk, pada beberapa jenis, ikan betina lebih disukai konsumen ataupun lebih mahal dibanding jantan, misalnya platty koral.





Platty sangat mudah berkembang biak dan sangat toleran dengan suhu maupun kualitas air. Hanya saja karena mudahnya berkembang biak maka platty dapat kawin dengan jenis lain dalam kelompoknya. Untuk itu, usahakan jenisnya jangan campur aduk dalam satu kelompok. Cukup satu jenis saja untuk dibudidayakan dalam satu kelompok agar dapat dipertahankan kemurnian jenisnya. Kalau campur aduk dan anakan yang dihasilkan jelek maka ikan tersebut tidak akan laku di pasaran. Ukuran jualnya sekitar 2 cm dengan umur sekitar 2,5 bulan.

sumber : Darti S.L dan Iwan D. Penebar Swadaya, 2006

Rabu, 04 Februari 2009

Budidaya Ikan Hias : Molly (Poecilia sphenops)


Molly


Molly (Poecilia sphenops) berasal dari Meksiko, Florida, Virginia. Ikan ini bersifat omnivore. Ukuran tubuhnya relatif cukup besar, maksimal sekitar 12 cm. Hingga kini sudah banyak varietas yang beredar di pasaran dengan warna dan bentuk tubuh yang beragam akibat persilangan dan mutasi. Molly balon, misalnya, yang bertubuh seperti bola akan tampak sangat bagus seperti maskoki mini bila ukurannya sudah besar.





Di habitat aslinya, molly menghendaki suhu perairan 25 - 28° C dengan pH 8 dan kekerasan sekitar 14-20° dH. Namun, karena sudah lama dipelihara di daerah dengan pH netral (sekitar 7) maka saat ini tampaknya pembudidayaan di daerah ber-pH netral pun sudah tidak ada masalah. Hanya saja jenis ikan ini kurang toleransinya terhadap perubahan atau goncangan suhu yang tinggi.


Membedakan jantan dan betina ikan molly ini sangat mudah. Dibanding jantan, betina biasanya lebih gemuk. Sirip punggung jantannya lebih panjang dan lebar serta tubuhnya lebih kecil dan langsing dibanding betina.


Memijahkan molly hampir sama dengan guppy. Hanya saja hasilnya akan lebih bagus bila kondisi airnya agak keras. Untuk itu, penambahan garam dapur sekitar satu sendok makan per tiga liter air akan membantu memperbanyak produksi anakan molly. Selain itu, kecukupan sinar matahari merupakan syarat agar berhasil membudidayakan molly. Molly akan menjadi induk setelah berumur lima bulan. Ukuran jualnya sekitar 2,5-3,0 cm yang dapat dicapai dalam waktu 3-4 bulan.


sumber : Darti S.L dan Iwan D. Penebar Swadaya, 2006


Budidaya Ikan Hias : Guppy (Poecilia reticulata)



Guppy

Guppy (Poecilia reticulata) berasal dari Trinidad, Barbados, Guyana, Brasil, dan Asia Tenggara. Ikan yang bersifat omnivore ini menghendaki suhu optimal untuk pemeliharaan sekitar 25-28° C dengan pH sekitar 7,0 dan kekerasan 20° dH. Panjang tubuh maksimal sekitar 5-6 cm.

Sirip-sirip ikan ini berwarna-warni sangat cantik dan menarik. Berbagai warna seperti merah, kuning, hijau, biru, maupun kombinasi warna sudah beredar di pasaran. Bentuk ekornya pun menarik, misalnya mirip kipas, membulat, ataupun melebar. Pada jantan, sirip ekor tampil sangat menarik karena lebar dan berwarna kontras.









Perkembangbiakan guppy tidak sulit asalkan airnya bersih dan tidak terlalu padat. Pada air yang kekerasannya kurang, guppy masih bisa berkembangbiak. Namun, agar kualitas ikan lebih bagus, baik warna maupun bentuk ekor, sebaiknya kualitas airnya sesuai dengan persyaratan hidupnya.



Untuk membedakan induk betina dan jantan tidak sulit. Warna tubuh jantan jauh lebih bagus dibanding betina. Sirip-sirip pada jantan lebih panjang dan lebih lebar. Pemijahan ini dilakukan secara masal dengan perbandingan jantan betina 1 : 4. Dalam wadah diberi tanaman air seperti hidrilla (ganggang) sebagai tempat persembunyian anak ikan. Anak ikan dapat diambil setiap pagi bila tampak banyak.





Menurut para pakar, dalam sekali berhubungan, sperma induk jantan dapat bertahan dalam tubuh induk betina hingga enam bulan. Ini berarti selama enam bulan induk betina masih dapat melahirkan anak walaupun tidak dikawini induk jantan.



Pakan terbaik untuk guppy adalah pakan alami walaupun dapat juga diberi sedikit pakan pelet. Oleh karena yang laku di pasaran adalah jantan maka pemeliharaannya sebaiknya dipisahkan antera jantan dan betina sejak berumur 3-4 minggu. Hal ini dilakukan untuk menekan biaya pemeliharaan. Betina yang dipelihara cukup dipilih yang kondisinya baik untuk dijadikan calon induk. Sementara betina lainnya dapat digunakan sebagai pakan ikan hias lain seperti Oskar. Untuk membedakan jantan dari betina dapat dilihat dari sirip yang lebih panjang dan warna yang lebih tajam atau cerah adalah jantan.





Saat ini sudah ada teknologi jantanisasi, yaitu semua anakan menjadi jantan. Teknik ini menggunakan hormon metil testosteron yang memang efektif. Hanya saja jantan hasil perlakuan hormon ini tidak sanggup memberikan sperma atau membuahi betina. Oleh karena itu, penggunaan teknologi ini pun harus diikuti dengan manajemen induk yang baik agar tidak kehabisan induk betina dan jantan produktif. Ukuran jual ikan mulai dari 2,0 cm yang sudah bisa dicapai pada umur 3,5 bulan.



sumber : Darti S.L dan Iwan D. Penebar Swadaya, 2006



budidaya ikan yang telurnya berhubungan langsung dengan induk

ikan yang telurnya berhubungan terus dengan induknya ini dibagi
dalam dua kelompok, yaitu ikan beranak yang keturunannya
keluar dari induk sudah berupa larva (livebearer) dan ikan yang mengerami telur maupun melindungi larvanya dalam mulut (mouth-breeder). Ikan livebearer misalnya guppy, molly, dan platy serta ikan mouthbreeder seperti jenis ikan siklid dari Afrika.

A. Ikan yang Beranak
Pada kelompok ikan ini telurnya berkembang di dalam tubuh induknya dan keluar sebagai anak ikan. Sperma jantannya dapat tersimpan tiga bulan atau lebih dalam tubuh betina sehingga terkadang ikan masih dapat beranak walaupun tanpa jantan.

Induk jantan dan betina yang sudah cukup umur (sekitar lima bulan) dapat dipijahkan. Induk jantan berbeda dengan induk betina dilihat dari tubuhnya. Tubuh jantan lebih langsing, sedangkan siripnya biasanya lebih panjang dan lebar. Warna tubuhnya pun lebih cerah.


Pemijahan umumnya dilakukan secara masal dengan perbandingan jantan betina 1 : 4-6. Konon, setiap induk jantan dapat membuahi delapan induk betina. Sperma jantan dapat hidup dan tinggal di tubuh betina sampai beberapa bulan.

Anakan ikan yang baru dilahirkan biasanya berkumpul di tanaman air. Sebaiknya anakan ikan ini diambil setiap pagi untuk dipelihara dalam bak atau kolam. Pakannya dapat berupa kutu air ataupun pelet halus. Sementara induknya dapat diberi pakan cacing sutera, kutu air besar, maupun jentik nyamuk.

Induk harus diberi cukup pakan agar tidak memakan anaknya.
Benih dapat dijarangkan dan disortasi atau diseleksi setelah berumur 3-5 minggu. Penggantian air dilakukan secara rutin sebanyak 20-40% volume air media. Bila pakannya cukup, dalam waktu empat bulan ikan sudah menjadi dewasa. Pakan untuk pembesaran dapat berupa cacing sutera maupun pelet. Seleksi ukuran maupun jenis kelamin terutama dilakukan pada guppy.

Biasanya jantan dan betina yang dipelihara terpisah akan lebih cepat besar.

sumber : Darti S.L dan iwan D. Penebar Swadaya, 2006

Selasa, 03 Februari 2009

Budidaya Ikan Hias : Sepat mutiara (Tichogaster leeri)

Sepat mutiara
Sepat mutiara (Tichogaster leeri) dengan nama dagang Pearl Gouramy atau Mosaic Gouramy berasal dari Sumatera, Kalimantan, Malaysia, dan Thailand. Ikan yang bersifat omnivora ini hidup pada suhu optimal 26-28° C; pH 6,5-7,0; dan kekerasan 6-8° dH.

Panjang tubuh ikan ini dapat mencapai 12 cm. Warnanya biru muda dengan violet terang. Seluruh tubuhnya dipenuhi totol-totol putih scperti mutiara dengan poly mosaik. Pada saat birahi, warna bagian perut jantan menjadi orange.

Cara pemijahan dan pemeliharaan ikan ini hampir sama dengan Dwarf Gouramy. Perbedaannya hanya pada kedua induknya yang sangat sctia merawat telurnya. Oleh karena itu, pemisahan induk jantan dan betina dengan anaknya dapat dilakukan setelah larva bisa berenang atau sekitar umur satu minggu. Ukuran jual sekitar 4 cm atau sudah berumur 3,5 bulan.