Senin, 02 Februari 2009

Budidaya Ikan Hias : Gurami (Osphronemus gouramy)

Gurami

Gurami (Osphronemus gouramy) atau dikenal dengan nama dagang Giant Gouramy ini berasal dari India bagian selatan. Ikan yang bersifat omnivore ke arah herbivore ini memiliki bentuk tubuh oval pipih dengan tingkah laku tenang. Ikan ini sangat populer di masyarakat sebagai ikan konsumsi bila ukurannya sudah besar (sekitar 0,5 kg). Bobotnya dapat mencapai 4 kg atau dengan panjang 40 cm.


Masyarakat di daerah Jawa dan Sumatera banyak yang membudidayakannya. Suhu optimal untuk pemeliharaannya sekitar 26—30° C dengan pH sekitar 7,0 dan kekerasan 8° dH.
Walaupun banyak yang mengenalnya sebagai ikan konsumsi, ikan ini pun dapat dijadikan ikan hias saat masih berukuran antara 5-10 cm, terutama gurami putih dengan mata merah yang berasal dari Padang.

Varietasnya banyak, di antaranya ialah Bastar (warna dasar cokelat kehitaman), Paris (lebih terang dari Bastar), dan Blue Safir (berwarna biro).
Disebut induk gurami kalau bobotnya sudah mencapai 1,5 kg, atau sekitar 30 cm, tergantung varietas.

Pemijahannya dapat ditakukan dalam kolam dengan ketinggian air minimal 50 cm. Pemijahan secara masal dapat dilakukan dengan perbandingan jantan betina 1 : 2.
Kolam pemijahan diberi injuk dan sosok (bambu yang ujungnya dibelah dan dibentuk corong). Ijuk dan sosok ini dipasang di bawah permukaan air.

Oleh induknya, ijuk akan disusun dalam sosok sebagai sarang dan dilekatkan satu sama lain dengan mulut mengeluarkan perekat.
Sesudah sarang terbentuk, telur diletakkan ke dalam sarang, melalui celah yang memang sudah dibuat saat menyusun sarang. Bila dari dalam sarang, sudah terlihat berminyak maka hal ini berarti sudah ada telur. Ini disebabkan telur gurami sangat berminyak karena penuh dengan kuning telur sehingga mengapung di air.

Saat itulah sarang diambil pada pagi hari. Telurnya dikeluarkan dari sarang dengan cara menguraikan sarangnya secara hati-hati. Telur-telur tersebut ditetaskan dalam bak penetasan.
Biasanya telur akan menetas dalam waktu 2-3 hari dan bisa berenang setelah berumur satu minggu atau saat kuning telurnya habis. Larva gurami cukup besar sehingga dapat langsung diberi kutu air besar atau cacing sutera.

Oleh karena gurami termasuk ikan labirin, untuk pemeliharaannya tidak diperlukan aerasi. Air dapat diganti setiap 2-3 hari. Air berkualitas akan membantu mempercepat pertumbuhan.
Pertumbuhan gurami sangat lambat. Dalam waktu satu tahun baru mencapai 50 gram atau sekitar 10-15 cm.

Ukuran yang demikian cocok untuk akuarium, sedangkan ukuran yang lebih besar dipelihara di kolam sebagai ikan konsumsi. Pakan induk dan dewasa berupa pelet dan dedaunan, terutama daun talas. Ukuran ikan konsumsi sekitar 0,8-1,0 kg yang dapat dicapai dalam jangka waktu hampir dua tahun.

sumber : dari S.L dan Iwan D. Penebar Swadaya, 2006

Budidaya Ikan Hias : Paradise (Macropodus opercularis)


Paradise


Paradise (Macropodus opercularis) berasal dari Cina dan Pulau Formosa. Tubuh ikan karnivora ini dapat mencapai 7,5 cm dan berwarna sangat menarik, yaitu bergaris selang-seling biru dan merah. Sirip punggungnya panjang berwarna biru, sedangkan sirip perutnya berpangkal biru dan berujung merah. Ekornya panjang menggarpu dengan warna merah dan biru. Saat ini sudah berkembang banyak warna mulai dari cokelat, biru, sampai albino. Suhu pemeliharaannya 25-28° C; pH 6,5-7,0; dan kekerasan 6-8° dH.



Pemijahannya dapat dilakukan dalam akuarium, kolam kecil, maupun paso. Cara memijah ikan ini hampir sama dengan cupang adu, hanya saja tanaman airnya sebaiknya mengapung seperti enceng gondok.


Walaupun ikan ini tidak seagresif cupang adu, namun pilihan pasangannya harus dicermati. Bila jantan menyerang betina dengan kasar, sebaiknya pasangan betinanya diganti atau menunggu hingga sifat agresifnya menurun. Bila dipaksakan, betina akan mati sebelum bertelur. Untuk perawatan telur dan larva seperti pada perawatan cupang adu. Paradise dapat dijual kalau sudah berukuran 2,5 cm atau berumur 3,5 bulan.


sumber : Darti S.L dan Iwan D.Penebar Swadaya, 2006

Budidaya Ikan Hias : Dwarf Gouramy (Colisa lalia)

Dwarf Gouramy


Dwarf Gouramy (Colisa lalia) merupakan ikan sepat cantik yang berasal dari India. Ukuran tubuh maksimalnya sekitar 7 cm. Sifatnya omnivora. Suhu optimal untuk pemeliharaan antara 26-28° C; pH 6,5-7,0; dan kekerasan 6-9° dH.


Jantannya berwarna biru menarik dengan garis merah indigo pada daerah bawah atau perutnya. Kalau akan memijah, di bagian perutnya terdapat garis-garis merah diagonal. Sirip punggungnya merah dan Sirip lainnya orange dengan titik-titik biru. Sementara betina berwarna kuning cerah dan siripnya lebih membulat.


Cara memijah ikan ini hampir sama dengan ikan sepat lain hanya saja sarang busanya membutuhkan tanaman air yang, mengapung untuk menempelkannya. Induk jantan dan betina dapat dicampurkan dan dapat berpijah secara masal dengan perbandingan 1 : 1. Telurnya bersifat mengapung sehingga jantan tidak sulit memasukkannya ke sarang.


Betina sebaiknya diambil setelah selesai memijah, sedangkan jantan diambil bila larvanya sudah bisa berenang.
Telur akan menetas dalam waktu satu hari dan berenang bebas pada umur seminggu. Larvanya dapat diberi pakan infusoria setelah berenang atau keluar dari sarang. Dua atau tiga hari kemudian, larva dapat diberi kutu air saring dan selanjutnya kutu air besar. Untuk ikan dewasa dapat diberi cacing sutera atau pelet.



Ikan ini akan menjadi induk setelah berumur sekitar enam bulan. Ukuran jualnya setelah mencapai 2,5 cm atau berumur empat bulan.


sumber : Darti S.L dan Iwan D. Penebar Swadaya, 2006

Budidaya Ikan Hias : Thick Lipped Gouramy (Colisa labiosa)


Thick Lipped Gouramy

Thick Lipped Gouramy (Colisa labiosa) merupakan ikan asli dari Birma. Walaupun dengan nama dagang gouramy, tetapi sebenarnya ikan ini termasuk jenis ikan sepat. Panjang tubuhnya dapat mencapai 8 cm. Sifatnya omnivora. Suhu optimal untuk pemeliharaannya sekitar 26-28° C; pH 6,.5-7,0; dan kekerasan 7-10 dH.

Ikan ini berwarna cokelat bergaris biru di sepanjang tubuhnya. Sirip punggungnya biru sedikit orange, sirip perut kuning biru dengan ujung merah, dan ekornya biru. Warna ikan betina kurang cerah, terutama pada sirip yang sangat pudar.

Perkembangbiakannya seperti pada ikan labirin lain, yaitu induk jantan membuat sarang dari busa dan akan memijah setelah betina dicampurkan. Namun, induk betina pada ikan ini meletakkan telurnya dalam sarang busa tanpa dijatuhkan. Ini disebabkan telurnya mengapung sehingga induk jantan hanya menungguinya saja.

Induk betina dapat diambil setelah memijah, sementara jantan akan merawat larva hingga bisa berenang.
Telur akan menetas setelah sehari dan berenang bebas setelah 5-6 hari. Pakan larva yang baru menetas berupa infusoria. Beberapa hari berikutnya larva dapat diberi kutu air saring.

Pembesarannya dapat dilakukan dalam bak atau akuarium. Pakannya berupa cacing sutera atau cuk. Pakan pelet ukuran kecil pun dapat diberikan. Pertumbuhan ikan sangat tidak seragam sehingga sortasi ukuran diperlukan setidaknya setiap tiga minggu. Pemeliharaan dapat dicarnpurkan antara jantan dan betina karena ikan tidak bersifat agresif.

Aerasi tidak diperlukan karena termasuk ikan labirin. Pergantian air pun tidak harus terlalu sering, cukup 2-3 hari sekali. Ikan ini dapat dijual kalau sudah berukuran 4 cm atau berumur 2,5 bulan.

sumber : Darti S.L dan Iwan D. Penebar Swadaya, 2006

Minggu, 01 Februari 2009

Budidaya Ikan Hias : Cupang adu (Betta splendens)


Cupang adu
Click Here!
Cupang adu (Betta splendens) yang terkenal dengan nama dagang Siammese Fighting Fish berasal dari Sumatera, Jawa, Thailand, Singapura, dan Malaysia. Ikan ini bersifat karnivora dan sangat agresif, terutama jantan, sehingga sering dijadikan ikan aduan. Satu sama lainnya akan saling menyerang bila dicampurkan.


Di pasaran cupang ada dua jenis, yaitu cupang adu dan cupang hias. Cupang hias yang juga disebut cupang slayer memiliki sirip yang panjang, tetapi sifatnya tidak agresif atau tenang- Sementara Cupang adu memiliki sirip yang pendek, tetapi sangat agresif.

Ukuran tubuh maksimal Cupang adu",hanya mencapai sekitar 6 cm. Warnanya sangat menarik dan bermacam-macam, di antaranya ialah biru, merah tua, kehijauan, dan albino atau putih Ikan ini dapat mengambil oksigen dari udara sehingga dalam pemeliharaan tidak membutuhkan aerasi.

Suhu optimal agak hangat, sekitar 28-30 derajat C. Keasaman airnya netral sekitar 6,8-7,0 dan kekerasan 9-10° dH'. Setiap, daerah asalnya mempunyai ciri tersendiri, terutama dalam bentuk tubuh. Misalnya, cupang dari Sumatera agak gemuk, sedangkan dari Singapura lebih kecil dan langsing.

Saat ini sangat banyak varietas baru di pasaran sebagai basil budi daya yang berpenampilan menarik. Hobiis menyilang-nyilangkan berbagai jenis sehingga muncul banyak jenis baru.
Misalnya, persilangan antara Betta spiendens dan Betta embelis menghasilkan jenis cupang adu yang konon sangat kuat.

Induk cupang adu jantan dan betina sangat mudah dibedakan.
cupang jantan memiliki warna tubuh yang jauh lebih menarik, sirip lebih panjang, dan tubuh lebih langsing daripada betina.

Induk cupang adu akan mulai memijah pada umur 5-6 bulan. Wadah pemijahannya dapat berupa akuarium, bak, atau stoples. pemijahannya terjadi dalam pasangan. Untuk pemijahan dalam bak, umumnya tiap pasang induk dibuatkan sekat-sekat dari kayu. Sesudah memijah, sekat-sekat dikeluarkan atau diangkat sehingga larva dari sejumlah pasangan dalam bak dapat dipelihara bersama.

pada saat pemijahan, induk jantan dimasukkan dahulu dalam wadah pemijahan. Bila jantan sudah membuat busa yang banyak, barulah induk betina matang telur atau siap memijah dicampurkan. Biasanya induk jantan akan menyerang betina. Kalau menjadi akur setelah beberapa menit diserang jantan maka pasangan induk tersebut sudah cocok. Namun, kalau jantan menyerang betina dengan ganas dan terus-menerus hingga lama, sebaiknya betinanya diganti.

Telur yang dikeluarkan induk betina akan dibuahi dan diambil induk jantan dengan mulutnya untuk disusun pada sarang busa. Setelah memijah, betina segera dipisahkan. Tanda sudah selesai memijah ialah betina menepi di pojok wadah pemijahan.

Telur yang sudah dibuahi akan menetas 2-3 hari kemudian. Walaupun telurnya sudah menetas, induk jantan tetap dibiarkan sampai tiga hari atau sampai busanya hilang. Bila busa sudah hilang, induk jantan dapat diambil karena larvanya sudah bebas berenang.

Setelah mulai berenang, larva dapat diberi pakan berupa infusoria, rotifera, atau kutu air saring. Tiga hingga empat hari kemudian, larva dapat diberi kutu air besar dan cacing. Selama perawatan larva ini dapat diberi aerasi kecil, terutama bila kepadatan larva tinggi. Menurut para pakar, labirin baru terbentuk setelah larva berumur 12 hari. Oleh karenanya, larva yang kecil belum bisa mengambil oksigen dari udara.


Pemeliharaan sampai dewasa dapat dilakukan di kolam yang diberi cukup tanaman air. Pakannya berupa kutu air dan jentik nyamuk. Pemberian cacing sutera dipercaya kurang memberikan warna pada ikan ini.

Pemeliharaan selanjutnya sesudah dewasa, terutama jantan, sebaiknya dilakukan satu per satu dalam botol agar fisiknya tetap bagus. Ini disebabkan ikan ini senang berkelahi sehingga siripnya
akan rusak. Ikan yang siripnya rusak tidak akan laku dijual. Namun, kalau terpaksa harus dipelihara bersama dalam jumlah banyak, tanaman air dalam wadah harus cukup rimbun agar kesempatan untuk beradu berkurang. Ukuran 1,5 cm atau berumur sekitar tiga bulan sudah dapat dijual.

Sebelum digunakan, sebaiknya air untuk pemeliharaan diendapkan selama dua hari. Agar diperoleh warna ikan yang mengkilat, air daun ketapang sangat bagus untuk digunakan. Air ini berwarna agak kekuningan. Sebanyak satu lembar daun ketapang kering sudah cukup untuk satu akuarium.

sumber : Darti S.L dan Iwan D. Penebar Swadaya, 2006

Budidaya Ikan Hias : Krisbensis (Pelmatochromis krisbemis)

Krisbensis
Krisbensis (Pelmatochromis krisbemis) memiliki nama ilmiah lain, yaitu Pelvichromis pincher). Ikan ini berasal dari Kamerun, Afrika Barat. Ukurannya mencapai 7 cm pada jantan dan 5 cm pada betina. Habitatnya berupa sungai besar dengan air ber-pH 7,0; kekerasan sekitar 8° dH; dan suhu 27-28° C.

Tubuh bagian atasnya berwarna cokelat bergaris kuning, sedangkan bagian bawah berwarna kuning (di daerah perut berwarna merah). Siripnya berwarna keunguan sedikit kuning dan merah. Pada betina terdapat bintik hitam di ujung sirip punggung, sedangkan pada jantan bintik tersebut berada di pinggir atas sirip, ekor.

Pemijahan dapat dilakukan secara masal dengan perbandingan jantan betina 1 : 3. Wadah pemijahannya berupa akuariuin atau bak. Sarangnya dapat terbuat dari potongan paralon bulat sekitar 5-10 cm yang disusun seperti sarang lebah. Sarang ini hanya diletakkan begitu saja di dasar wadah. Bisa juga sarangnya dari pot bunga yang ditengkurapkan dan dibentuk seperti gua ataupun dimiringkan.

Oleh karena sifat ikan ini menyembunyikan telurnya maka telur diletakkan atau ditempelkan di sisi dalam paralon atau pot bunga. Induknya sering memakan telurnya sehingga perlu secepatnya diambil untuk ditetaskan dalam wadah tersendiri. Waktu pengambilan telur sebaiknya pagi hari sebelum sinar matahari tinggi. Wadah penetasannya harus sedikit gelap atau tidak terlalu banyak sinar.

Larva biasanya dapat diberi pakan infusoria setelah dua hari menetas. Pemberian pakan ini selama dua hari, selanjutnya diberi kutu air saring. Sementara pakan untuk ikan besar atau dewasa berupa cacing sutera.

ikan ini agak sedikit agresif dengan sesama jenisnya sehingga dalam wadah pemeliharaannya sebaiknya diberi tanaman air atau substrat dari batang kayu sebagai tempat sembunyi. Untuk kesehatannya, ikan ini membutuhkan air yang cukup mengandung elektrolit sehingga penambahan garam dapur sangat membantu mencegah serangan penyakit. Ukuran ikan dapat dijual minimal 2,5 cm yang dapat dicapai setelah dipelihara selama 2,5-3 bulan.

sumber : Darti S.L dan Iwan D. Penabar Swadaya , 2006

Persyaratan Umum Kapal Penangkap Ikan dan Kapal Pengangkut Ikan

Persyaratan Umum Kapal Penangkap Ikan dan Kapal Pengangkut Ikan


Persyaratan Umum Kapal Penangkap Ikan dan Pengangkut Ikan terdiri dari:


1. Kapal penangkap dan pengangkut ikan yang digunakan untuk melakukan penangkapan dan penanganan di atas kapal harus memenuhi persyaratan ketentuan sanitasi dan higiene kapal perikanan.


2. Kapal ikan harus didesain dan dikonstruksi sehingga tidak menyebabkan kontaminasi produk dari air kotor, limbah, asap, minyak, oli, gemuk atau bahan-bahan lain.


3. Permukaan kontak langsung dengan produk harus dibuat dari bahan yang tidak korosif yang halus dan mudah dibersihkan. Permukaan yang menggunakan pelapis harus tahan/kuat dan tahan lama Berta tidak toksin.


4. Peralatan dan bahan yang digunakan untuk menangani ikan harus terbuat dari bahan yang tidak mudah karat yang mudah dibersihkan dan disanitasi.


5. Bila kapal penangkap ikan dan/atau pengangkut ikan mempunyai penampung air untuk penanganan ikan, maka harus ditempatkan pada lokasi yang terhindar dari kontaminasi.

sumber : Dinas Perikanan Provinsi Jabar, 2008