Rabu, 31 Maret 2010

RISIKO USAHA PEMBENIHAN IKAN

RISIKO USAHA PEMBENIHAN IKAN

Pada masa benih ikan mempunyai laju pertumbuhan yang cepat. Agar bisa mencapai pertumbuhan yang maksimal maka ikan memerlukan asupan nutrisi yang lengkap terutama kebutuhan protein yang diperlukan untuk pertumbuhan. Pakan yang berkualitas diperlukan bila kita ingin memaksimalkan pertumbuhan. Pakan yang diberikan untuk usaha pembenihan ikan biayanya lebih mahal dari pada usaha pembesaran.
hal ini memberikan konsekwensi terhadap tingginya biaya produksi pada usaha pembenihan ikan. Kemudian selain itu pada usia benih, ikan memiliki kondisi tubuh yang lemah gerakannya lambat dan belum memiliki kemampuan perlindungan diri dari serangan hama dan penyakit.

keadaan tersebut menunjukan meskipun usaha pembenihan menjanjikan perolehan keuntungan yang besar, tetapi di balik itu usaha pembenihan mempunyai resiko usaha yang tinggi. Resiko ini bisa muncul apabila pembenih tidak bisa menekan tingkat mortalitas benih. Tingkat mortalitas benih yang tinggi ini umumnya terjadi akibat keteledoran pembenih terutama lemahnya upaya pengendalian terhadap hama (predator) Pemangsa benih.

10 Wide Open Tips For Food Safety In The Great Outdoors

10 Wide Open Tips For Food Safety In The Great Outdoors
by: Terry Nicholls


Hiking, camping, and boating are good activities for active people and families. However, if the food isn't handled correctly, food-borne illness can be an unwelcome souvenir.

1. Choose foods that are light enough to carry in a backpack and that can be transported safely. Keep foods either hot or cold. Since it's difficult to keep foods hot without a heat source, it's best to transport chilled foods. Refrigerate or freeze the food overnight. What foods to bring? For a day hike, just about anything will do as long as you can fit it in your backpack and keep it cold -- sandwiches, fried chicken, bread and cheese, and even salads -- or choose non- perishable foods.

2. Keep everything clean. Remember to bring disposable wipes if you're taking a day trip. (Water is too heavy to bring enough for cleaning dishes!)

3. It's not a good idea to depend on fresh water from a lake or stream for drinking, no matter how clean it appears. Some pathogens thrive in remote mountain lakes or streams and there's no way to know what might have fallen into the water upstream. Bring bottled or tap water for drinking. Always start out with a full water bottle and replenish your supply from tested public systems when possible. On long trips you can find water in streams, lakes, and springs, but be sure to purify any water from the wild, no matter how clean it appears.

4. If you're backpacking for more than a day, the food situation gets a little more complicated. You can still bring cold foods for the first day, but you'll have to pack shelf-stable items for the next day. Canned goods are safe, but heavy, so plan your menu carefully. Advances in food technology have produced relatively lightweight staples that don't need refrigeration or careful packaging. For example:

==> peanut butter in plastic jars;

==> concentrated juice boxes;

==> canned tuna, ham, chicken, and beef;

==> dried noodles and soups;

==> beef jerky and other dried meats;

==> dehydrated foods;

==> dried fruits and nuts; and

==> powdered milk and fruit drinks.

5. If you're cooking meat or poultry on a portable stove or over a fire, you'll need a way to determine when it's done and safe to eat. Color is not a reliable indicator of doneness, and it can be especially tricky to tell the color of a food if you're cooking in a wooded area in the evening. It's critical to use a food thermometer when cooking hamburgers. Ground beef may be contaminated with E. coli, a particularly dangerous strain of bacteria. Illnesses have occurred even when ground beef patties were cooked until there was no visible pink. The only way to insure that ground beef patties are safely cooked is to use a food thermometer, and cook the patty until it reaches 160° F. Be sure to clean the thermometer between uses.

6. To keep foods cold, you'll need a cold source. A block of ice keeps longer than ice cubes. Before leaving home, freeze clean, empty milk cartons filled with water to make blocks of ice, or use frozen gel-packs. Fill the cooler with cold or frozen foods. Pack foods in reverse order. First foods packed should be the last foods used. (There is one exception: pack raw meat or poultry below ready-to-eat foods to prevent raw meat or poultry juices from dripping on the other foods.)

7. Camping supply stores sell biodegradable camping soap in liquid and solid forms. But use it sparingly, and keep it out of rivers, lakes, streams, and springs, as it will pollute. If you use soap to clean your pots, wash the pots at the campsite, not at the water's edge. Dump dirty water on dry ground, well away from fresh water. Some wilderness campers use baking soda to wash their utensils. Pack disposable wipes for hands and quick cleanups.

8. If you're planning to fish, check with your fish and game agency or state health department to see where you can fish safely, then follow these guidelines for Finfish:

==> Scale, gut, and clean fish as soon as they're caught.

==> Live fish can be kept on stringers or in live wells, as long as they have enough water and enough room to move and breathe.

==> Wrap fish, both whole and cleaned, in water-tight plastic and store on ice.

==> Keep 3 to 4 inches of ice on the bottom of the cooler. Alternate layers of fish and ice.

==> Store cooler out of the sun and cover with a blanket.

==> Once home, eat fresh fish within 1 to 2 days or freeze them. For top quality, use frozen fish within 3 to 6 months.

9. If using a cooler, leftover food is safe only if the cooler still has ice in it. Otherwise discard leftover food.

10. Whether in the wild or on the high seas, protect yourself and your family by washing your hands before and after handling food.

Copyright (c) Terry Nicholls. All Rights Reserved.

About The Author

Terry Nicholls is the author of the eBook "Food Safety: Protecting Your Family From Food Poisoning". For more tips like these, and to learn more about his book, visit his website at http://tinyurl.com/3fr2t
yourguides@cogeco.ca

Selasa, 30 Maret 2010

Pulau Kecil dan Terluar Dorong Minat Investor Lokal

Pulau Kecil dan Terluar Dorong Minat Investor Lokal


Keinginan pemerintah membuka peluang investasi di 12 pulau kecil dan terluar Indonesia disambut positif pelaku usaha. Namun, sebaiknya hal itu diiringi upaya mendorong pemodal dalam negeri untuk berinvestasi.

Menurut Ketua Asosiasi Gabungan Pengusaha Perikanan Indonesia (Gapindo) Herwindo, diperlukan keterlibatan pemerintah daerah dan investor lokal dalam mengelola pulau kecil dan terluar.

Keterlibatan investor dalam negeri, kata Herwindo, lebih menjamin penyerapan tenaga kerja lokal dan kemitraan dengan masyarakat setempat. ”Tanpa kerja sama dengan investor lokal atau masyarakat setempat, investasi di pulau terluar berpotensi menuai masalah,” ujar Herwindo di Jakarta, Senin (29/3).

Hal senada dikemukakan Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Moneter, Kebijakan Publik, dan Fiskal Haryadi Sukamdani. Dia menegaskan, pengelolaan pulau kecil dan terluar adalah langkah tepat untuk membangkitkan perekonomian pulau dan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Namun, kata Haryadi, pemerintah perlu menyosialisasikan kepada investor dalam negeri mengenai peluang investasi tersebut. Dengan demikian, investor lokal bisa menentukan langkah investasi. ”Pengembangan kawasan oleh investor dalam negeri akan memudahkan pengawasan dan pemberdayaan masyarakat sekitar,” ujar Haryadi.

Persoalan yang kerap dihadapi investor dalam negeri dalam pengelolaan pulau kecil dan terluar, menurut Haryadi, adalah minimnya jaringan pasar. Sementara investor asing memiliki jaringan pasar yang kuat serta dapat mengemas dan menjual potensi pulau.

Kepala Riset Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim Suhana mengemukakan, jika pemerintah mendorong badan usaha milik negara (BUMN) sangat dimungkinkan mengelola pulau kecil.

Tiga BUMN dan BUMD yang kini bergerak di usaha pariwisata adalah PT Hotel Indonesia Natour, Bali Tourism Development Corporation, dan PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko.

Investasi di 12 pulau akan dibuka mulai tahun 2010, meliputi Pulau Nipah di Kepulauan Riau, beberapa pulau di Kepulauan Anambas di Kepulauan Riau, Banda Naira di Maluku Tengah, dan Banyuwangi di Jawa Timur.

Beberapa investor asing menyatakan minat berinvestasi. Investor asing tersebut dari Australia berminat di Banda Naira, investor asal Singapura berminat investasi di Pulau Nipah dan kepulauan Anambas, dan investor Maladewa di Banyuwangi.

Sumber : Kompas Hal 18

Lezatnya Bisnis Salai Ikan Lele

Lezatnya Bisnis Salai Ikan Lele



Salai lele buat sebagian masyarakat Indonesia mungkin masih merupakan makanan yang asing. Ketika menyebut santapan dari ikan berkumis tersebut yang terbayang biasanya pecel lele, mangut lele, ataupun gulai lele karena jenis makanan ini memang bisa dibilang sudah merakyat dan warung ataupun rumah makan yang menyediakan juga sudah menyebar di hampir seluruh wilayah Indonesia.

Ya, salai ikan lele, mungkin lebih banyak dikenal di Sumatera Barat atau beberapa wilayah di Sumatera, karena jenis makanan yang berupa ikan lele di keringkan lewat proswes pengasapan ini memang asli dari Sumatera Barat.

Ikan salai cukup diminati, selain bergizi, rasanya juga lebih gurih dibanding ikan- ikan biasanya. Hampir semua jenis ikan dapat dibuat salai, tetapi yang paling di sukai dalah salai ikan lele.

Tak hanya lezat dan bergizi ternyata salai ikan lele memiliki potensi ekonomi yang cukup tinggi untuk dijadikan sebuah usaha sehingga layak jika peluang ini dikembangkan oleh masyarakat.

Salah satu pelaku usaha yang menekuni bisnis salai ikan lele diwilayah Sumatera Barat yakni Desfialti, yang sejak 1989 menggeluti usaha salai ikan dengan modal awal Rp 200.000, untuk membeli pelet (makanan ikan) 50 kg dan bibit ikan lele 1.500 ekor.

Soal harga jual ada dua macam, sali lele mentah ( packing) seberat 300 gram dengan harga Rp 30.000, dan salai siap saji (packing) seberat 200 gram harga Rp 300.000.

Dari perhitungan usaha dapat diketahui untuk 3 kg ikan basah dihasilkan 1 kg lele asap. Jika ikan lele segar 3 kg sekitar Rp 36.000 kemudian garam Rp 3.000 dan kayu bakar Rp 10.000, upah tenaga kerja Rp 10.000 serta harga jual ikan lele asap Rp 70.000 maka keuntungannya yang didapat sekitar Rp 11.000/ kg lele asap. Sebuah keuntungan yang cukup menggiurkan.

Sementara itu Zarpendi yang menekuni usaha salai lele di Pasaman Barat sejak 2005 mengungkapkan walaupun proses pengelolahannya masih secara tradisionil dan sederhana, tetapi UKM Family mampu menghasilkan sekitar 500 kg per minggunya, yang dijual Rp 75.000 /kilogram ke seluruh Sumatera Barat.

Masih Tradisional

Selama ini pembuatan salai lele masih memakai alat tradisional, hanya proses pengasapan memakai oven. Pertama- tama ikan lele disortir, kemudian dibelah sehingga berbentuk melebar, dibuang insang dan isi perutnya, lantas dicuci dan ditiriskan, diberi bumbu dan didiamkan selama 15 menit agar bumbu meresap.

Ikan lele diletakkan secara teratur di atas alat terai yang terdapat didalam oven pengasap, dilanjutkan ke proses pengasapan selama lebih kurang dua hari jam kerja dengan api kecil sampai lele kering dengan merata.

Setelah itu lele dikeluarkan dari oven dan dianginkan pada suhu kamar, setelah salai lele dingin lalu dikemas dengan menggunakan kantong plastik polythylene dan karton dupleks yang sudah dipriting.

Proses pembuatan salai lele siap saji, dan salai lele mentah sama. Bedanya untuk salai siap saji dilanjutkan ke proses penggorengan dan pemberian bumbu. Sementara untuk limbah lele yang berupa insang dan isi perut dimanfaatkan sebagai makanan ikan dengan nilai jual Rp 1.500 per kg.

Salai lele kini pasarnya tidak hanya di wilayah Sumbar saja, tetapi sudah merambah ke Pekan Baru, Jambi, Batam, Tanjung Pinang, Jakarta dan bahkan ekspor ke Malaysia dan sudah berjalan selama tiga tahun.

Meskipun peluangnya cukup prospektif namun demikian bukan berarti usaha salali ikan lele ini tidak ada kendala. Sejumlah hambatan yang sering di hadapi para pelaku usaha ini seperti keterbatasan peralatan yang tersedia (masih manual) sehingga mutu produk yang di hasilkan kurang baik terutama saat memproduksi dalam jumlah besar.

Kesulitan untuk menembus pasar Swalayan karena pembayaran secara konsinyasi bahkan walaupun produk sudah laku terjual tetapi pembayaran terlambat.

Pemasran di wilayah Padang terbatas hanya di titipkan pada toko - toko ternama Penjual makanan khas Sumatera Barat.

Keterbatasan modal untuk pengembangan produk maupun investasi, sangat sulit untuk mendapatkan kredit dengan bunga lunak dan penyiapan agunan.

Namun demikian dengan melihat potensi ikan lele yang cukup melimpah di hampir seluruh wilayah Indonesia, nampaknya usaha pengolahan ikan seperti salai ini cukup prospektif, tak hanya dikembangkan di Sumatera Barat namun juga di tanah air.



Sumber : Majalah Demersal

Aquarium Questions - Cleaning Your Aquarium?

Aquarium Questions - Cleaning Your Aquarium?
by: Addison Ercanbrack



* Why does my aquarium stink?

When the mosses mix with the water, the water becomes dense and sticky. Mosses live through in the oxygen in the water. They excrete carbon dioxide that causes the water to become stinky.

* Why is my aquarium green?

The green colors that appear in your aquarium are mosses. They are water plants that serve as foods for the fishes. Sometimes the green pigment will mix with the water causing it to blur.

* How do I clean my aquarium?

When your aquarium already has noticeable mosses around it and already emits an unpleasant smell, it's time to clean your aquarium. Cleaning an aquarium is as easy as washing dishes in the sink. All you have to do is remove the fish in your aquarium first. Transfer them temporarily to a bowl or a pail with water. After transferring the fish into the bowl remove and discard the stinky water in your aquarium. Remove all other equipment in your aquarium including rocks and accessories.

Wipe your aquarium with a smooth surface sponge so that the glass will not be scratched. You may use other glass cleaning substances but be sure to rinse the glass thoroughly before putting the fish back in. The substances you have used may contaminate your pets and can damage their skin. If you use tap water to refill your tank, be sure to treat it first with a chorine neutralizer. Again, the chlorine in tap water can damage fish and frog's skin.

* What cleaning supplies do I need for my aquarium?

Cleaning your aquarium does not need complicated tools, supplies and processes. All you need are smooth-surface sponges, a small amount of glass cleaner and water. A small brush may also be used to clean your aquarium accessories. Soap may also be ideal to use instead of glass cleaner. Just be sure that whatever substance you use you clean thoroughly. As mentioned above, the cleaners may contaminate and damage your pet. So, be sure to rinse the aquarium well.

* What do I do with the fish when I clean my aquarium?

In cleaning your aquarium, you have to transfer your fish into a bowl with water that has been treated in advance with a chlorine neutralizer. Use a net to transfer fish to avoid accidents. Catch the fish and slowly transfer them into the bowl of treated water.

About The Author
Addison Ercanbrack is a regular contributor to aquarium and fish-related resources such as http://www.AquariumsTips.com.

Senin, 29 Maret 2010

Optimistis Menjadi Produsen Perikanan Terbesar di Dunia

Optimistis Menjadi Produsen Perikanan Terbesar di Dunia


Potensi Indonesia yang sangat besar dalam bidang perikanan, baik dari sumber daya alam, luas lahan dan iklim yang kondusif, penguasaan teknologi, serta ketersediaan sumber daya manusianya, membuat ada optimisme kita bisa menjadi produsen perikanan terbesar di dunia. Pasarnya pun masih terbuka lebar. Untuk itu, diperlukan upaya keras dan berbagai terobosan untuk menanggapi yang terbesar tersebut.
Target ini akan tercapai jika ada keseriusan dari Kementerian Kelaputan dan Perikanan (KKP) dan dukungan semua sektor, seperti Kementerian Koordinator Perekonomian, Kementerian Keuangan, Kementerian Pekerjaan Umum, kalangan perbankan, dan lembaga-lembaga riset. Mampukah Indonesia mencapai produsen perikanan terbesar menjadi tema tulisan laporan khusus kali ini yang dibuat wartawan SP, Sumedi TP.

SP/YC Kurniantoro
Pekerja memanen ikan patin di Instalasi Budidaya Ikan Lahan Gambut Pulang Pisau di Desa Garung, Kecamatan Jabiren, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Seekor ikan patin di tempat itu dapat mencapai berat 3 kilogram dan dijual kepada warga sekitar dengan harga Rp 11.000 per kilogram. Lokasi tersebut akan dijadikan sentra penellitian dan pengembangan ikan di lahan gambut se-Indonesia.

Indonesia mempunyai target fantastis, menjadi penghasil produk perikanan terbesar di dunia pada 2015. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah menetapkan perikanan budidaya sebagai ujung tombaknya. Produksi perikanan budidaya akan ditingkatkan menjadi 16,89 juta ton pada 2014 atau naik 353% dibandingkan produksi tahun 2009 sebesar 4,78 juta ton.
Terget ambisius Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad bukannya tanpa alasan. Dia melihat potensi yang sangat besar, baik dari sumber daya alam, luas lahan dan iklim yang kondusif, penguasaan teknologi, serta ketersediaan sumber daya manusianya. Pasarnya pun masih terbuka lebar. Untuk itu, diperlukan upaya keras dan berbagai terobosan.
Target ini akan tercapai jika ada keseriusan dari KKP sendiri dan dukungan semua sektor, seperti Kementerian Koordinator Perekonomian, Kementerian Keuangan, Kementerian Pekerjaan Umum, kalangan perbankan, dan lembaga-lembaga riset. Petambak, misalnya, memerlukan modal, dukungan infrastruktur, keterampilan manajemen, dan teknologi modern.
Menurut Fadel, Thailand, Filipina, dan Vietnam bisa merajai sektor perikanan internasional karena ada dukungan penuh dari sektor-sektor terkait. Padahal, luas lahan untuk budidaya perikanan di negara-negara itu jauh lebih kecil dari Indonesia, juga jumlah pembudidayanya. Di subsektor perikanan tangkap pun seharusnya kita jauh lebih unggul karena memiliki perairan yang sangat luas.
Indonesia memiliki sungai-sungai yang panjang dan besar, juga danau dan lahan basah yang sangat luas. Tenaga kerja pun berlimpah yang dalam waktu singkat dapat dididik dan dilatih serta diberi modal untuk berusaha di bidang perikanan. Jaringan distribusi harus dibangun, juga tempat penyimpanan yang terpadu, terutama mesin pendingin (cold starage) statis dan bisa berpindah, serta jaminan pasar.
Untuk memenuhi permintaan dalam negeri saja masih kewalahan, apalagi menjawab pasar internasional yang trennya terus meningkat. Di negara-negara maju, makan ikan sudah menjadi keharusan karena faktor pentingnya menjaga kesehatan. Jepang menjadi bangsa yang sehat dan cerdas karena budaya makan ikan setiap hari, dengan variasi menu yang kaya, bahkan dalam keadaan mentah yang segar.
Fadel yakin, target produksi perikanan yang dicanangkan secara nasional akan mendorong perikanan dilihat sebagai sumber ekonomi baru nasonal. Untuk mendukung itu, balai pembenihan dan budidaya ikan serta pusat-pusat pelatihan sudah dibangun di banyak daerah. Walaupun dinilai masih kurang dibandingkan potensinya, fasilitas itu harus dimanfaatankan secara maksimal.

Balai Layanan Usaha
Dirjen Perikanan Budidaya Made L Nurdjana mengemukakan, KKP memiliki 13 balai layanan usaha (BLU) budidaya perikanan di 13 wilayah. Siapa pun bisa belajar budi daya ikan di balai tersebut. Salah satu yang terbaik dan menjadi percontohan adalah BLU Produksi Perikanan Budidaya Karawang, Jawa Barat. Balai seluas 350 hektare ini memiliki asrama yang dapat menampung sekitar 100 orang untuk belajar usaha budidaya perikanan.
Di BLU Karawang, terbentang 337 kolam tambak udang, bandeng, nila, patin, lele, dan sidat. Balai ini juga memproduksi berbagai benih ikan, belut, kerang, dan rumput laut. Pihak swasta dan masyarakat sekitar dilibatkan dalam usaha budidaya dengan pola inti-plasma. Ikan sidat yang mirip belut berukuran besar menjadi primadona, harganya cukup tinggi dan dipesan banyak negera.
Harga sidat di pasar internasional sekitar Rp 55.000 per kg. Sedangkan harga fillet sidat mencapai Rp 100.000 per ekor. Ikan yang mengandung protein tinggi ini diekspor ke Jepang, Tiongkok, Uni Eropa, dan Amerika Serikat. Sedangkan masalah yang dihadapi BLU Karawang dan BLU lainnya adalah kurangnya cold storage. Selain itu, perlu dukungan infrastruktur jalan dan transportasi darat dan udara yang lancar.
Kepala BLU Karawang Made Suitha mengungkapkan, masih terbuka bagi pihak swasta untuk menyewah sekitar 150 ha di BLU ini. Sekitar 60 ha lahan produktif telah dimanfaatkan swasta melalui pola kerja sama operasional. Biaya sewa lahan dipatok Rp 2,5 juta per ha setiap tahun selama 2-3 tahun. Selanjutnya, pihak swasta diharapkan mandiri dan mengadopsi teknologi untuk membangun tambak sendiri.
Made Nurdjana menegaskan, peningkatan produksi perikanan budidaya memang tidak diarahkan pada semua komoditas, melainkan ditekankan pada beberapa yang potensial. Komoditas budidaya yang sudah kelihatan unggul produksinya adalah rumput laut, lele, patin, bandeng, dan kerapu. Komoditas strategis yang potensial, seperti udang, nila, mutiara, dan ikan hias juga terus dikembangkan.

Kawasan Minapolitan
Menurut Made Nurdjana, pihaknya bersama pemerintah daerah dan masyarakat akan memacu produksi perikanan budidaya melalui tiga target pembangunan. Pertama, seluruh potensi perikanan budidaya menjadi kawasan minapolitan dengan usaha yang bankable. Swasta terus didorong, juga bagaimana menekan harga pakan ikan serendah mungkin.
Kedua, seluruh sentra produksi perikanan budidaya memiliki komoditas unggulan yang menerapkan teknologi inovatif dengan kemasan dan mutu yang terjamin.
Ketiga, sarana dan prasarana perikanan budidaya mampu memenuhi kebutuhan serta diproduksi di dalam negeri dan dibangun secara terintegrasi.
Lompatan produksi budidaya bukanlah hal mustahil untuk dapat dilaksanakan.
Untuk merealisasikan target tersebut, setidaknya diperlukan adanya tambahan kebutuhan modal kerja yang setiap tahunnya meningkat, yaitu dari kebutuhan tambahan modal kerja tahun 2009 sebesar Rp 5,33 triliun naik menjadi Rp 12,68 triliun pada 2014, atau tumbuh 20% per tahun.
Untuk mencapai target itu, Ditjen Perikanan Budidaya menempuh tiga pendekatan. Pertama, memfokuskan arah kegiatan APBN Ditjen Perikanan Budidaya.
Kedua, mengoptimalkan pemanfaatan kredit program. Ketiga, menciptakan iklim usaha yang mampu memacu pokdakan untuk melakukan ekspansi usaha dengan menggunakan fasilitas kredit komersial, terutama untuk komoditas udang vaname, ikan kerapu, kakap putih, nila, dan patin di keramba jaring apung.

Sumber : Suara Pembaruan Hal 13

Ikan Nila Best (Bogor Enhanced Strain Tilapia)

Ikan Nila Best (Bogor Enhanced Strain Tilapia)


NILA BEST - Seorang pembudidaya nila BEST (Bogor Enhanced Strain Tilapia) di Lido menunjukkan salah satu hasil tangkapannya. Budidaya nila BEST di Lido terancam kerusakan lingkungan oleh limbah.

Melihat situasi terkini di Danau Lido sungguh miris. Dari sisi jalan raya, tampak menghampar keramba jaring apung (KJA) yang menjejali kawasan perairan umum seluas 16 hektare (ha). KJA itu tumbuh bagai jamur di musim penghujan.

Secara kasat mata, sekitar separo dari luas Danau Lido dimanfaatkan untuk KJA. Menuju ke bagian hulu, berdiri bangunan hotel berbintang yang ikut memanfaatkan kawasan danau. Akibatnya, Danau Lido kian menyusut.

Padahal tadinya luas kawasan itu mencapai 21 ha. Menurut Sidiasih, peneliti di Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar (BRPBAT) yang kerap melakukan riset di situ, hotel tersebut kerap membuang limbah cairnya ke danau tersebut. Bukan hanya itu, sebuah restoran yang menyajikan menu berbagai ikan air tawar juga semakin menambah beban danau tersebut. Bukan apa-apa, restoran terapung itu cukup luas menempati di sisi barat danau.

Kondisi ini tentu saja sangat rentan. Pengalaman menunjukkan, tidak sedikit kerugian pembudidaya ikan ketika terjadi up welling. Ikanikan peliharaan mereka tiba-tiba mati mengenaskan. Memang tidak semua ikan di KJA tewas. Justru di KJA tertua di Danau Lido tetap aman-aman saja. Ikanikan di KJA yang dikelola BRPBAT itu tetap lincah berenang dan terus tumbuh dewasa.


“Ini terjadi karena kami sedang membudidayakan ikan nila BEST (Bogor Enhanced Strain Tilapia) yang terbukti tahan terhadap kondisi lingkungan ekstrem,” ujar Rudhy Gustiano PhD, Kepala BRPBAT. Dalam banyak hal, nila BEST lebih unggul dibandingkan dengan ikanikan nila yang dikembangkan masyarakat. Ikan varietas baru yang dikembangkan Rudhy dan koleganya itu memiliki pertumbuhan sekitar dua kali lebih cepat daripada ikan-ikan nila lainnya.

“Ikan ini tumbuh lebih cepat 15 hari dibandingkan dengan nila lainnya,” ungkap Rudhy. Selain itu, nila BEST juga mampu bertelur dan beranak 3-5 kali lebih banyak ketimbang ikan-ikan nila lainnya.

Ukuran telur dan larvanya juga relatif lebih besar. Tingkat hidupnya (survival rate) di atas 90 persen. Keberhasilan Rudhy merekayasa nila BEST ini telah menghantarkan dirinya untuk menerima penghargaan dari Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad baru-baru ini.

Lebih dari itu, berdasarkan hasil uji coba di perairan umum di berbagai pulau (Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi), nila BEST ini terbukti lebih menguntungkan. Danau Lido bukan hanya menjadi ajang uji coba nila BEST semata.

Sebelumnya, beberapa ikan varietas unggul juga pernah dicobakan di sana seperti nilai GIFT, nila merah (asal Th ailand), patin siam, gurame, dan lain-lain. Kini, para pembudidaya ikan air tawar di seluruh Indonesia telah banyak menikmati hasilnya. Namun di balik kisah sukses itu, ekosistem Danau Lido malah kian terpuruk akibat beban yang semakin berat.

Sumber : Koran Jakarta Hal 20

28 Kabupaten Jadi Sentra Minapolitan

28 Kabupaten Jadi Sentra Minapolitan


Minapolitan merupakan konsep pembangunan kelautan dan perikanan berbasis wilayah dengan pendekatan dan sistem manajemen kawasan dengan prinsip-prinsip, integrasi, efisiensi, kualitas, dan akselerasi.

Oleh karena itu. sebagai program lima tahun kedepan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan membangun kawasan minapolitan (kawasan produksi kelautan dan perikanan yang terintegrasi) di 28 kabupaten sebagai pilot project untuk meningkatkan produksi perikanan di Indonesia."Pada tahap awal akan dibangun di 28 kabupaten, dan nanti apabila proyek itu berhasil, pembangunannya akan diperluas ke daerah-daerah lainnya di seluruh Indonesia." kata Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad pada Seminar "Membangun Minapolitan Berbasis Masyarakat" di Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB), di Bogor, kemarin.

Program untuk membuat kawasan minapolitan di 28 kabupaten itu direncanakan akan didanai melalui anggaran APBN-Perubahan 2010, yang saat ini pembahasannya masih dalam pembahasan di DPR.Setelah anggarannya ditetapkan dan ke luar, baru akan kami akan menentukan daerah-daerah untuk lokasi pembangunan minapolilan itu." ucap Fadel.Ia menjelaskan, sudah banyak daerah yang mengajukan surat ke KKP dan meminta agar daerahnya menjadi lokasi pembangunan kawasan minapolitan.

Tahap pertama, pihaknya memilih dulu beberapa daerah yang akan dibangun kawasan minapolitan. baru setelah berhasil akan dibuat replikasinya."Kalau dibuat sekaligus nanti takut kacau pelaksanaannya, apalagi kawasan minapolitan itu masih dalam konsep awal," katanya.Pembentukan kawasan minapolitan itu dimaksudkan untuk meningkatkan produksi ikan dengan harga ikan yang murah dan terjangkau masyarakat.Menurutnya, sekitar 60 persen harga ikan sangat dipengaruhi oleh pakan ikan. Pakan ikan memengaruhi harga ikan menjadi mahal atau murah.Harga ikan saat ini berkisar antara Rp9.000-Rpl 1.000 per kg. Agar harga ikan lebih murah, maka perlu membuat industri pakan ikan yang dikelola oleh masyarakat pembudidaya ikan itu sendiri.

Beberapa perguruan tinggi, termasuk IPB. sudah melakukan penelitian mengenai pakan ikan ini. Kami sudah meminta beberapa perguruan tinggi sebagai pilot project dalam memroduksi pakan ikan yang harganya bisa lebih murah dan terjangkau rakyat, dengan harga sekitar Rp 2.000 per kg." kata Fadel.Kiti.iti pembuat pakan ikan murah tersebut dibuat dari ampas kelapa sawit. Setelah melalui proses tertentu, bahan pakan itu akan melahirkan makhluk hidup serupa serangga, yang kamudian disebut maggot. Pilol project ini sudah dibuat di daerah Depok. Jawa Barat.

Bahkan, pihaknya akan membuat 4.000 unit patan Ikan. Bisnis seperti ini akan dirintis di beberapa desa. Dengan demikian, warga desa atan membuat sendiri patan Ikannya. Mengenai dana, seluruhnya akan disiapkan pemerintah.Rektor IPB Herry Suhardl-yanto menambahkan, kawasan minapolitan tidak bsa hanya diselenggarakan oleh satu kementerian saja. Tetapi harus ada kerja sama dengan kementerian lain, yaitu Kementerian Pekerjaan Umum dan didukung pemerintah daerah dan talangan swasta.



Sumber : Pelita Hal : 2

USAHA PEMBENIHAN IKAN

USAHA PEMBENIHAN IKAN

Kegiatan usaha pembenihan ikan ini sekarang banyak diminati orang karena tingkat perputaran uang pada usaha pembenihan ini relatif cepat, tidak seperti usaha pembesaran ikan ataupun usaha penyediaan sarana dan prasarana perikanan seperti alat, perlengkapan dan pakan.

Usaha pembenihan ini kini sudah menjadi sub sistem usaha tersendiri di bidang budidaya perikanan. Kegiatan Usaha pembenihan berlangsung dalam waktu yang relatif singkat yaitu 1 - 3 bulan saja. Dengan waktu yang relatif singkat ini maka modal usaha yang ditanam akan lebih cepat kembali, kemudian seterusnya para pembenihan tinggal meraup keuntungan.

kegiatan usaha pembenihan ini akan banyak menyerap tenaga kerja, yang kemudian akan memberikan peluang terhadap percepatan perkembangan industri budidaya perikanan. Di dalam kegiatan budidaya perikanan, kegiatan pembenihan ini merupakan kegiatan pokok dan boleh dikatakan sebagai kunci keberhasilan dari kegiatan yang lainnya. Apabila kegiatan usaha pembenihan ini tidak berjalan maka kegiatan budidaya lainnya tidak akan berjalan.

Minggu, 28 Maret 2010

red tilapia



Known as Taiwan red tilapia or hybrid between 0. homorum with 0. mossombicus named florida red tilapia fish. Some suspect that the red tilapia is a mutant of the fish mujair. These fish into Indonesia in 1981 from the Philippines and in 1989 from Thailand.



Red tilapia cultivation has developed in some areas, even the production has been exported to Europe and the United States. White flesh and thick. It felt good, like red snapper. In some European countries, meat red tilapia utilized as a substitute for red snapper meat.


In cultivation, red tilapia fish have an advantage among others) of red tilapia fish response to artificial feed, 2) rapid growth, 3) can live in conditions of high density, 4) value of the ratio between feed consumption and the resulting meat is lower, 5) resistant to disease and water environment is inadequate, 6) sense of the meat tasty and much-loved community.


A. Systematics
Family: Chiclidae
Species: Oreochromis-niloticus
Trade names: red tilapia
Local Name: snapper merapi, mujarah


B. Darts characteristics Aspects Biology

1. Physical characteristics
Fish body rather round and flat. The mouth is situated at the end of the head (terminal). Rib line (linea lateralis) cut in half and lay lengthwise starting from the pectoral fin. Number of scales rib line as much as 34 units. Plain reddish body color or black-spotted, spots, and often colored albino (albino).



2. Growth and development
Red tilapia breed and are rapidly growing. In addition, these fish have a high tolerance for salinity changes until 30 promil. First maturity is reached at age 4-6 months with a weight of 100-250 g. These fish can breed 6-7 times / year.


A mother can produce as many eggs from 1000 to 1500 grains. When spawning the male fish will make a nest and guard it. The fertilized egg incubated by the female parent in the mouth. Guarding by females was continued until a week after the eggs are hatched.


Karamba in the floating net fish can reach sizes over 250 g in 4 months from the initial weight of about 20 g. male fish grow faster and larger than females.



C. Cultivation Site Selection

as belonging eurihalin fish, red tilapia fish can be cultivated in freshwater, brackish, and sea. However, in waters with high salinity (> 29 ppt) of this fish is still growing well, but can not breed. Red tilapia can grow well in temperate aquatic environment between 27-33 degrees Celsius; dissolved oxygen levels> 3 mg / l; a pH 7-8,3; alkalinity 90 to 190 mg / l; hardness 62-79 mg CaCO 3, the speed current 10-2o cm / dt, the brightness of> 3 m, and the depth of water 10-20 M.



D. Container Cultivation
Raft as the Karamba (where the fish in a lake or dam in the form of nets) can be made of wood, stainless steel pipe, or bamboo. Buoy plastic drum volume of 200 liters. KJA unit for measuring 5 m x 5 m,

requires 8-9 Buoy karamaba made from net material of polyethylene. Net eye size depending on the size of fish that will be maintained. In every corner of Karamba should be weighted by a stone or cast concrete weighing 2-5 kg. Anchor required to maintain the functioning of the raft drifted to avoid. Anchor can be made from metal, wood, and cement castings.


E. Cultivation Management

1. Provision of seeds
Seeding of red tilapia is generally directed to produce female seeds mixed male. Given the male fish have a larger size and speed of faster growth, many farmers led to the cultivation of red tilapia males. Therefore, the cultivation of fisheries experts have sought to create a red tilapia seeding technology with the use of male hormones 60 mg of mixed metiltestosteron
into 1 kg of feed larvae. Sex over the process lasts for 28 days



Transporting seeds should be done with an open system if it takes less than 4 hours. In the meantime, if more than 4 hours, transportation can be done with a closed system using a plastic bag which added oxygen.


2. Spreading
Spreading the seeds performed in the morning or late afternoon so the air condition is not too hot. Before stocking, be aware of water quality conditions. If the water quality of different transportation with locations of water quality cultivation, adaptation needs to be done slowly, especially for salinity and temperature. Solid optimal stocking to be applied is 500 ekor/m3 with initial weights 15-20 g of seeds per head and 3-month maintenance time for single-sex culture systems (males only).


3. Feeding
At the time this young fish-eating plankton, both vegetable and animal plankton. Adult red tilapia fish started to eat detritus and algae are also common threads. In addition to be herbivore, omnivore fish that can be given artificial feed (pellets). These fish response, the artificial feed (pellets), either sunk or floating pellets. Artificial feed is given pellets with 26-28% protein content as much as 3% of body weight per day. Frequency of administration 3 times a day, ie morning, noon and night.


F. Controlling Pests and Diseases
To know which way the disease and its prevention, diagnosis required symptoms. Symptoms of the disease for red tilapia fish cultivated can be observed by following signs tent.


a) Symptoms of skin disease
- Color red in certain parts.
- Skin changes color became more pale.
- The body slimy.


Control
1) Soaking the fish in a solution of PK (potassium permanganate) for 30-60 minutes at a dose of 2 g/10 l of water. Treatment done over 3 days later.

2) Soaking the fish with Negovon (potassium permanganate) for 3 minutes with a dose of 2-3,5%.


b) disease in the gills
Symptoms
- Close the swollen gills.
- Sheet gills pale / white.

Control
- How to control the same as skin diseases.


c) Diseases of the organs in the phenomenon
- The fish's stomach was swollen.
- Scales up.
- Fish is not nimble.
Control
- How to control the same as skin diseases.


The general things can be done to prevent diseases in the cultivation of red tilapia fish in the KJA is as follows.

1. Avoid over-stocking of fish exceeds capacity.
2. Give grazing, both quality and quantity.
3. Avoid the use of feed that is moldy.


G. Harvest
Red tilapia fish are maintained by stocking compact 500 ekor/m3 can be harvested after 3 months. Production and 85 kg/m3 Survival rate 85%. Harvesting fish in the KJA easy to do. Harvesting systems can be either total or selective depending on the needs.
Harvesting should be done carefully to prevent injury due to friction or other fish fin puncture. How to harvest is the basis Karamba slowly lifted. However, one side of the Karamba must remain in the water allowing fish gathered WAY. After that, the fish that have been collected and selected side karamba arrested using seser slowly.

source: Penebar Swadaya, 2008

Telur ikan gurame




telur ikan gurame

telur ikan gurame yang telah menetas, benih ikan gurame ini berumur 3 hari, benih ikan gurame yang masih mempunyai kuning telur belum perlu diberi makanan. Makanan diberikan pada benih ikan gurame ketika telah habis kuning telur, kuning telur
akan habis ketika umur benih mencapai 12-16 hari.
pakan yang diberikan pada waktu benih telah habis kuning telurnya yaitu berupa pakan alami yaitu seperti Daphnia, cacing sutra.
pelet tepung sebagai pakan buatan juga bisa diberikan pada benih ikan gurame, tetapi menurut pengalaman bahwa pemberian pakan
berupa pelet tepung tingkat keberhasilannya kurang bagus,
lebih baik benih ikan gurame diberikan pakan alami yaitu seperti cacing sutra. Kandungan giji pada pakan alami cocok diberikan
pada benih ikan yang masih kecil. Pakan buatan berupa pelet tepung diberikan apabila benih ikan gurame telah mencapai ukuran 2 cm.

tempat penetasan telur gurame bisa menggunakan akuarium, baskom, bak tembok, bak terpal, bak plastik. Kita bisa memilih salah satu atau beberapa tempat penetasan ini, yang penting dalam hal penetasan telur faktor yang perlu diperhatikan yaitu dari segi kualitas airnya. Kita bisa menggunakan aerator untuk mensuplai oksigen pada benih ikan, dan bila perlu untuk mempertahankan kestabilan suhu kita bisa menggunakan alat bantu pemanas air yaitu heater.

http://hobiikan.blogspot.com/

grouping maintenance on carp seed based on body size

grouping maintenance on carp seed based on body size


The maintenance of fish in the pond is divided into a number of criteria, namely as follows:

- Maintenance of fish seeds first (PI), Care of seeds from the larvae to the level size kebul
- Maintenance of fish seed Second (P II), maintenance of the level of seed size to the level kebul size putihan
- Maintenance of the three fish seed (P III), maintenance of the level of seed size to the level putihan belo size
- Maintenance of the four fish seed (P IV), maintenance of the level of seed size to the level belo sangkal size



naming of fish seed for some species of fish have their names on the basis of length, age and body weight. such as naming for carp seed groups are:
- Larva: maximum age of 4 days, minimum total length of 0.6 cm,
- Kebul: maximum age of 20 days, the total length of at least 1 cm, minimum weight of 0.2 grams
- Putihan: maximum age of 40 days, the total length of at least 3 cm, weighs at least 3 grams
- Belo: The maximum age of 70 days, the total length of at least 5 cm, weighs a minimum of 6 grams,
- Sangkal: maximum age of 90 days, minimum total length of 8 cm, minimum weight of 10 grams

pengelompokan pendederan pada ikan mas dengan berdasarkan ukuran tubuh

pengelompokan pendederan pada ikan mas dengan berdasarkan ukuran tubuh

Kegiatan pemeliharaan benih di kolam pada kegiatan pendederan ikan dibagi kedalam beberapa kriteria, yaitu sebagai berikut :

- Pendederan pertama (P I), Pemeliharaan benih dari tingkat larva sampai ke tingkat ukuran kebul
- pendederan Kedua ( P II), pemeliharaan benih dari tingkat ukuran kebul sampai ke tingkat ukuran putihan
- pendederan ketiga (P III), pemeliharaan benih dari tingkat ukuran putihan sampai ke tingkat ukuran belo
- pendederan keempat (P IV), pemeliharaan benih dari tingkat ukuran belo sampai ke tingkat ukuran sangkal


penamaan benih ikan untuk beberapa jenis ikan mempunyai nama masing-masing berdasarkan dari panjang, usia dan berat tubuh. misalnya penamaan untuk kelompok benih ikan mas yaitu :
- Larva : umur maksimal 4 hari, panjang total minimal 0,6 cm,
- Kebul : umur maksimal 20 hari, panjang total minimal 1 cm, bobot minimal 0,2 gram
- Putihan : umur maksimal 40 hari, panjang total minimal 3 cm, bobot minimal 3 gram
- Belo : umur maksimal 70 hari, panjang total minimal 5 cm, bobot minimal 6 gram,
- Sangkal : umur maksimal 90 hari, panjang total minimal 8 cm, bobot minimal 10 gram

Sabtu, 27 Maret 2010

Fry Counter

Fry Counter


Counted rate reached 8 tails seed / sec.
It weighs only 4 pounds even, easy to carry

for most people, it was not easy to calculate the order of fish or shrimp seeds that amounted to hundreds of thousands of fish quickly and accurately. Moreover, if the calculations are performed in the conventional manner, ie by poke
seeds using a simple steam shovel (similar scoop).

Previously, the fish farmers have estimated the number of seeds that would tersodok device, by doing a few times taking samples. Furthermore, the determination of the matter is only done by multiplying the number of seeds in each shot with a number of prod done.

so no wonder, if the level of accuracy of this calculation process becomes very low and the time required becomes relatively longer. In addition, counting seeds
by using the conventional method is also prone to make fish and shrimp seed
stress, because the calculation process is usually done in a way that rough. The impact of the end, quality seeds to farmers who had to be decreased. In fact, the quality, the seed has a very big role for the success of an aquaculture business.


With these background, Prof. Indra Jaya, lecturer at the Faculty of Fisheries and
Marine Science, Institut Pertanian Bogor (FPIK - IPB), creating a tool
counter (counters) are named after the seed "Fry Counter." This tool was created to facilitate the fish farmers in seed count ordered by the farmers, so the process can be faster and accurate results, "said Indra, who also serves as Dean FPIK -- IPB.

More Fast and Accurate
He tells, the process of creating the seed count tool originated from his observations at one of patin fish farmers who are counting seed cultivators orders. "I watched them (farmers-ed) to calculate heard manual. They just take samples only. Number of seeds was only estimated, so the result is far from accurate," said Indra.


Therefore, he suggested switching fish farmers use seeds fry counter counter, in order to count the seeds that will be marketed with a faster and more accurate results. "The speed of the count can reach the counter fry tails 8 seed / second," called Indra. This means that within an hour, this machine can count up to 28,800 fish tail, much faster than using conventional counting techniques, performed by one person workforce. He also guarantees his creation machine has a level of very high accuracy. "Probability of error below 5%."

This may occur because
seed calculation process is done by using modern electronic technology. Namely, by using optical sensors optointerruptor assistance. Fry coonter also equipped with a functioning microcontrofer controls the whole process of the tool is working, so the calculation error can be suppressed.

Easily Operated
Fry counters working principle is very simple. Machine-like scales counter is equipped with a container vessel of seeds, which serves as a seed inlet fish. Before the seeds included, storage containers must first flowing through the appropriate flow of water. Aim to avoid air bubbles in the hose leading to chopped sensors.

"If the boat is a bubble, the sensor will also detect and count them. This is where the possibility of miscalculation occurred," the light of Indra.

With the flow of water, the seeds will be counted fish will enter into the engine to the hose with a track count different. "There are 8 tracks on the machine. Each track is equipped with sensors optointerruptor. After passing the sensor, automatic fish will be counted and the numbers appear on a display that has been provided. Every tercacah fish seed, the numbers in the display will continue increases, "Indra explained in detail.


After that. fish will come out through the outlet hole and fish farmers only consider the numbers listed on the display. The maximum number that can be shown on display is a tail to 99,999 once the calculation process. "To begin again at number 00,000
also only 4 pounds. "Because of excess in it, fry counter included in the 100 category of innovation in this year's prospects.

Only took power 50 to 60 Watt
To operate the fry counter, the pembenih only provides enough electricity is relatively low, ie for 50 to 60 watts only. Thus, costs incurred by fish farmers for seed count tool operation is relatively mild, especially when compared to the fish farmers simply pressing the reset button. "


Indra added. created fry counter capable of counting various types of fish, including shrimp. "Just adjust the diameter of the seed fish will be calculated by the distance between the sensor (treknya-ed). Sensor in this instrument is based on a module system, so stay to replace the sensor module in the sensor box." he said.
Meanwhile, to allow users to monitor the performance of fry counter, this tool is also equipped with a buzzer indicator that serves to check the performance of equipment, especially if there are parts that do not function properly. Another advantage, fry counter is also relatively light, so easily portable. "This device is portable. Easy to carry anywhere.

Also weighs only 4 pounds. "Because of excess in it, fry counter included in the 100 category of innovation in this year's prospects.
Need Ustrik only 50 to 60 Watt


To operate the counter fry, the fish farmers just enough to provide electricity is relatively low, ie for 50 to 60 watts only. Thus, costs incurred by farmers for seed count tool operation is relatively mild, especially when compared to the cost by fish farmers to hire labor as seed counters.

In addition to using
PLN electricity, fry counters have also been prepared to be moved by using power batteries (read: battery) 12 volts. Not only that, fry counters can also be 'resurrected' by using the power Ni-Cad battery 12 volts.

As for the price of these devices, Indra admitted his side
not calculated in detail how much it costs to make, because it is not marketed commercially. "The possibility of about USD 1 to 2 millions. Seeing the benefits, in my opinion
This price is fairly easy, "Indra argued. cheapening the price of the seed count tool is not separated from the more modest price of supporting the electronic components in it.
source: Trobos 2008

SEEDS WHAT FISH?

SEEDS WHAT FISH?


Understanding of fish seed is the name of the newly hatched fish to achieve a measure of body length from 5 to 6 cm (Sachlan, 1975).

In the scientific language of the seed known as larval fish (fish fry). In the instructions SNI (Indonesian National Standard) of fish, fish larvae mentioned that the phase or level of fish seed which was 4 days after eggs hatch until they reach the age of 90 days and have different criteria with adult fish (Anon, 1999)

food fish in the form of micro-organism that is renik plants (phytoplankton) and animals renik (zooplankton) feed the need to seed in one day reaching 60 - 70% of body weight.

The highest mortality rate occurred in the fish at fish seed food reserves have run out of egg yolk has been constant in his body.

naming of fish seed for some species of fish have their names on the basis of length, age and body weight. such as naming for carp seed groups are:

- Larva: maximum age of 4 days, minimum total length of 0.6 cm,
- Kebul: maximum age of 20 days, the total length of at least 1 cm, minimum weight of 0.2 grams
- Putihan: maximum age of 40 days, the total length of at least 3 cm, weighs at least 3 grams
- Belo: The maximum age of 70 days, the total length of at least 5 cm, weighs a minimum of 6 grams,
- sangkal: The maximum age of 90 days, the total length of at least 8 cm, minimum weight of 10 grams

naming for carp seed group
- Larva: Age 1 to 12 days, the total length of s / d 0.5 cm
- Seed Oyong: age 12 - 30 days, the total length of 0.5 to 1 cm
- Leaf Kelor: age 30 - 60 days, the total length of 1 to 2.5 cm, weight 0.5 to 2.5.
- Razor: age 60 - 90 days, the total length of 2.5 to 4 cm, weighs 2.5 to 5 grams
- Ticket: ages 90 to 120, the total length of 4 to 6 inches, weighs 5 to 10 grams.

Apa yang dimaksud dengan benih ikan ?

BENIH IKAN

Pengertian dari benih ikan adalah sebutan dari ikan yang baru menetas sampai mencapai ukuran panjang tubuh 5 - 6 cm (Sachlan, 1975).

Dalam bahasa ilmiah benih ikan disebut sebagai larva (fish fry). Dalam petunjuk SNI (Standar Nasional Indonesia) mengenai benih ikan, disebutkan bahwa larva ikan adalah fase atau tingkatan benih ikan yang berumur 4 hari sejak telur menetas sampai mencapai umur 90 hari serta mempunyai kriteria yang berbeda dengan ikan dewasa (Anonim, 1999)

makanan benih ikan yaitu jasad renik berupa tanaman renik (fitoplankton) dan hewan renik (zooplankton) kebutuhan pakan untuk benih dalam satu hari yaitu mencapai 60 - 70% dari berat tubuh.

tingkat mortalitas tertinggi pada benih ikan terjadi yaitu pada waktu benih ikan telah habis cadangan makanannya yaitu telah habisnya kuning telur pada tubuhnya.

penamaan benih ikan untuk beberapa jenis ikan mempunyai nama masing-masing berdasarkan dari panjang, usia dan berat tubuh. misalnya penaman untuk kelompok benih ikan mas yaitu :
- Larva : umur maksimal 4 hari, panjang total minimal 0,6 cm,
- Kebul : umur maksimal 20 hari, panjang total minimal 1 cm, bobot minimal 0,2 gram
- Putihan : umur maksimal 40 hari, panjang total minimal 3 cm, bobot minimal 3 gram
- Belo : umur maksimal 70 hari, panjang total minimal 5 cm, bobot minimal 6 gram,
- Sangkal : umur maksimal 90 hari, panjang total minimal 8 cm, bobot minimal 10 gram

penamaan untuk kelompok benih ikan gurame
- Larva : Umur 1 - 12 hari, panjang total s/d 0,5 cm
- Biji oyong : umur 12 - 30 hari, panjang total 0,5 - 1 cm
- Daun Kelor : umur 30 - 60 hari, panjang total 1 - 2,5 cm, bobot 0,5 - 2,5.
- silet : umur 60 - 90 hari, Panjang total 2,5 - 4 cm, bobot 2,5 - 5 gram
- karcis : umur 90 - 120, Panjang total 4 - 6 cm, bobot 5 - 10 gram.

Jumat, 26 Maret 2010

how to check the purity of the fish

how to check the purity of the fish


to ascertain whether the fish is pure or not there is a way to check is done by taking blood samples of fish. fish blood taken from blood vessels at the base of the tail by using a syringe for testing in the laboratory elektrophoresis.

cultivation techniques

Indonesia-AS Kembangkan Teknologi Perikanan

Indonesia-AS Kembangkan Teknologi Perikanan


Kementerian Kelautan dan Perikanan akan menawarkan kerja sama pengembangan teknologi pengolahan hasil perikanan kepada Amerika Serikat. Tawaran ini akan disampaikan dalam lawatan Kementerian ke Amerika pada 28 Maret hingga 3 April 2010.

Penawaran berkaitan dengan upaya pemerintah memenuhi standar keamanan pangan Amerika, khususnya produk perikanan. "Tentu saja Amerika memiliki standar sendiri," ujar Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan Syamsul Maarif di Jakarta kemarin. Pemenuhan standar itu penting karena Amerika adalah salah satu negara tujuan ekspor utama. Sampai Oktober 2009, ekspor ke Amerika senilai USS 944,4 juta.

sumber : Koran Tempo Hal A13

Ekspor Ikan Harus Penuhi Standar Pangan AS

Ekspor Ikan Harus Penuhi Standar Pangan AS

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus berupaya menjadikan ekspor ikan nasional ke AS memenuhi standar kesehatan pangan negara itu. Sejalan dengan upaya itu, KKP kini gencar menggelar kerja sama dengan AS di bidang pengolahan hasil perikanan. Utusan KKP akhir pekan ini segera berkunjung ke AS. memenuhi undangan negara adi daya itu.

"Kami akan berkunjung ke AS dan kerja sama kita bangun dalam relasi yaiiR seimbang. Pasar AS harus kita jaga, selain pasar Uni Eropa dan Jepang," kata Sekretarisjenderal (Sekjen) KKP Syamsul Maarif di Jakarta, Kamis (25/3).

Syamsul mengatakan, negara seperti AS maupun Uni Eropa dan Jepang dikenal ketat dalam menetapkan standar kesehatan pangan. Banyak produk pangan negara berkembang yang diekspor ke negara-negara itu tidak memenuhi standar.

Akibatnya, hasil ekspor ditolak dan negara pengekspor merugi. Dengan teknologi yang canggih, negara AS melindungi warganya dari potensi mengonsumsi pangan yang tidak memenuhi standar kesehatan pangan negara itu.

Menurut Syamsul, kerja sama yang digalang dengan AS lebih khusus menyangkut teknologi pengolahan perikanan seperti sistem rantai dingin atau cold chain system. Sistem rantai dingin merupakan tata cara pengolahan yang memastikan ikan pasca-tangkap harus ditempatkan dalam suhu dingin yang tepat

Ikan hasil tangkapan laut misalnya, harus ditempatkan pada alat pendingin bersuhu minus 60 derajat Celsius. Demikian juga ketika ikan tersebut dipindahkan, suhu yang dibutuhkan ternyata berbeda.

"Suhu dingin yang dibutuhkan untuk setiap mata rantai pengolahan ternyata berbeda-beda. Ada korelasi positif antara kualitas ikan dan suhu dingin yang digunakan. Teknis pengolahan seperti ini yang akan kita adopsi ke sistem kita," jelas Syamsul.

Dia menambahkan, kerja sama dengan AS juga mencakup tata cara pengelolaan pesisir laut, konservasi laut, serta pemberdayaan masyarakat pesisir. Program tersebut sebetulnya sudah berlangsung antara kedua negara melalui berbagai pelatihan bernama mitra bahari atau sea grant partnership.

Syamsul menambahkan, selain mengadopsi teknologi pengolahan ikan, Indonesia bersama negara AS juga segera menggelar penelitian bersama melalui inisiatif segitiga karang atau coral triangle initiatives (CTI) di perairan laut Indonesia awal Agustus 2010.

Sumber : Investor Daily Indonesia Hal 21

Kamis, 25 Maret 2010

Earthworm cultivation of fodder AS ALTERNATIVE NUTRITION RICH

Earthworm cultivation of fodder AS ALTERNATIVE NUTRITION RICH

Review by: Jericho
The worm is an alternative feed ingredient for poultry and fish. These animals contain high nutrition, among others: 64-76 Protein, fat, 7 to 10%, 900-1400 cal energy and minerals, water and most complete amino acid. To fulfill the worm can be cultivated with a box of wood, plastic, or glass. as a medium for life is a mixture of compost worms with some organic materials (agricultural waste, waste market). Enter the material to 15 cm and then enough water to wet the medium and soil. Toss well until the happening of fermentation. After 4 weeks of animal waste to enter the 70% ratio of live media and 30% dirt hewan.Kapur added 1% to PH earthworms netral.Kemudian enter into it as heavy as the media has provided life. So as not to dry the surface of plastic coated media, sacks or other material not needed cahaya.Makanan translucent worms is manure, either cow, goat or chicken in the form of powder or worms as heavy porridge that is inserted into the box maintenance. The look out for pests: ants, beetles, birds, centipedes, millipedes, chickens, ducks, mice, frogs, squirrels, geese, leeches, and lice. After 2.5 to 3 months the worms have started to be harvested is marked many kascing (worm excrement) and cocoons (egg collection of worms). Some adult worms should be used to seed.

Earthworm cultivation of fodder AS ALTERNATIVE NUTRITION RICH Originally published in Short Reviews: http://id.shvoong.com/exact-sciences/engineering/1905389-budidaya-cacing-tanah-sebagai-pakan/

Rabu, 24 Maret 2010

treatment of prawns when the harvest






treatment of prawns when the harvest

prawns are harvested in the pool when the first harvest is usually stored in the nets, shrimp in the net storage carried out in order to sort and count size shrimp shrimp weight.

size of the shrimp harvest is divided into three parts, small, medium, and large sizes. nets to keep the shrimp harvest units should be equipped with aeration, aeration serves to maintain the freshness of the shrimp on the net with the main objective is to supply oxygen to the water. This aeration unit consists of pump, which has given paralon hole. holes on this paralon made to emit water so the water out in paralon and fell into the pond to make waves on the surface of the pond water.

pemanenan udang galah


udang galah hasil panen

udang galah yang dipanen dikolam ketika dipanen biasanya disimpan dahulu di hapa, penyimpanan udang pada hapa dilakukan dengan tujuan untuk menyortir ukuran udang dan menghitung berat udang.

ukuran udang hasil panen yaitu dibagi kedalam tiga bagian, ukuran kecil, ukuran sedang, dan ukuran besar. hapa untuk menyimpan hasil panen udang harus dilengkapi dengan unit aerasi, aerasi ini berfungsi untuk menjaga kesegaran udang pada hapa, dengan tujuan utama yaitu untuk mensuplai oksigen ke dalam air. Unit aerasi ini terdiri dari pompa, paralon yang telah diberi lubang. lubang pada paralon ini dibuat untuk memancarkan air sehingga air keluar dalam paralon dan jatuh ke kolam untuk membuat gelombang pada permukaan air kolam yang ada hapanya.

Minapolitan Banjar Patin Jadi Komoditas Unggulan

Minapolitan Banjar Patin Jadi Komoditas Unggulan



Perikanan kolam bagi Kabupaten Banjar jadi primadona masyarakat di beberapa kecamatan, hal ini ditandai dengan meningkatnya kemampuan produksi sebesar 8.966,75 ton pada tahun 2008.

Kabupaten Banjar memiliki potensi dengan 3 sungai utama, antara lain sungai Martapura dengan panjang 70 km dan lebar rata - rata 50 m (dari Astambul hingga Banjarmasin). Adapun areal yang dapat dimanfaatkan guna kegiatan budidaya luasnya 427.133 hektar.

Kemudian sungai Riam Kanan dengan panjang 23 km dan lebar rata - rata 50 m (dari Aranio hingga Astambul). Luas areal dimanfaatkan kegiatan budidaya 161.132 hektar, serta sungai Riam Kiri dengan panjang 23 km dan lebar rata - rata 50 m (dari Astambul hingga Binuang Kabupaten Tapin). Luas areal dimanfaatkan kegiatan budidaya 191.132 hektar. Dari potensi sungai yang ada, sudah dimanfaatkan masyarakat untuk budidaya ikan dalam karamba sebanyak 2.525 unit.

Adapun produksi budidaya ikan kolam, yakni patin sebesar 4.103,00 ton tahun 2007 dan 5.895,05 ton pada tahun 2008, atau peningkatan 43,77%, lalu nila dan mas sebesar 2.784,50 ton pada tahun 2007 dan 3.062,95 ton tahun 2008, peningkatan 29,93%.

Selain itu Kabupaten Banjar memiliki beberapa lokasi yang dapat dikembangkan untuk kawasan Minapolitan, yaitu di Desa Tungkaran, Cindai Alus, Sungai Sipai, Sungai Batang, dan Sungai Rangas, hal ini dikarenakan produksi budidaya ikan air tawar cukup besar.

Minapolitan

Untuk mendukung pengembangan perikanan di kabupaten ini, sekarang sedang diterapkan program Minapolitan. Sebagai Minapolisnya ditetapkan di Desa Cindai Alus, Kecamatan Martapura Kota dan kawasan budidaya Riam Kanan, sedangkan daerah hiterlandnya berada di kecamatan Martapura Kota, Kecamatan Martapura Barat dan kecamatan Aranio.

Kawasan Minapolitan ini diperkirakan mencapai 1.671 ha dengan ikan patin sebagai komoditas unggulan ditunjang oleh ikan Mas, Ikan Nila, Gabus, Sepat Siam, Papuyu, Betutu, Bawal, Udang Galah, dan Kura - Kura.

Legalitas kawasan ini sebagai Minapolitan ditetapkan dengan Surat Bupati Banjar Nomor 309 Tahun 2006 tanggal 15 Mei 2006 tentang UPP dan surat keputusan Bupati Banjar Nomor 241 Tahun 2008 tentang kawasan.

Daerah ini dipilih karena kawasan ini memiliki akses entry point dari semua penjuru mata angina, berdekatan langsung dengan pelabuhan udara dan laut, berdekatan dengan jalur Trans Kalimantan. Sedangkan kondisi perkembangan infrastruktur yakni terdapat 2 waduk yakni waduk Riam Kanan dengan luas 7.000 ha dan waduk Mindakapau dengan luas 530 ha, potensi yang diperbolehkan untuk kegiatan perikanan 376 Ha.

Kawasan ini memiliki potensi rawa meliputu rawa tergenang sepanjang tahun seluas 79.255 ha dan Rawa tergenang selama 6 bulan seluas 65.030 Ha, Mangrove seluas 250 Ha Kec. Aluh - aluh dan telah dimanfaatkan untuk usaha tambak udang seluas 10 ha.

Ditunjang juga dengan irigasi teknis terbentang sepanjang 40 km dan telah dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian dan perikanan bididaya. Potensi perikanan budidaya seluas 1.295 ha dan telah dimanfaatkan untuk usaha kolam 413 ha.

Program ini dirasakan sangat penting karena selama ini pembudidaya menghadapi berbagai persoalan di antaranya kebutuhan benih masih kurang, pemanfaatan air masih belum optimal, teknologi budidaya belum intensif, industri pengolahan hasil perikanan belum berkembang, serta sistim budidaya minapadi kurang berkembang.



Sumber : Demersal

Selasa, 23 Maret 2010

catfish meat characteristics

catfish meat characteristics

Catfish, including one freshwater fish species which, according to its fans have good taste and juicy flesh with a texture, soft. However, there are also some people that are less like him because he thinks catfish meat contains too much fat.

This assumption is not entirely wrong, because there is some meat that crumbled into pieces while frying. This happens especially on catfish large.

Based on our research, channel catfish has the nutrients high enough. Every 100 grams of beef contains 18.2 grams of protein. That way, 500 grams of small catfish (about 4 tail) contains 12 grams of protein, energy 149 calories, 8.4 grams fat and 6.4 grams of carbohydrates. Nutritional composition of this magnitude are rarely owned by the flesh-meat sources of protein. Currently, preparations are also catfish sold in restaurants, restaurants, hotels, and shops in the form of five feet, pecel, curry, or spicy tamarind flavored.
source: Khairul Amri, S. Pi, M. Si and Khairuman, SP, AgroMedia Pustaka, 2008

Goldfish Diseases - How To Spot Them, Treat Them, And Hopefully Prevent Them

Goldfish Diseases - How To Spot Them, Treat Them, And Hopefully Prevent Them
by: Mark Sturge


Many small animals and fish are susceptible to diseases and once infected, have greatly shortened life spans.

A goldfish can get sick if his tank is dirty, the water and oxygen levels are too low, the temperatures are too warm or too cool and if he is not being fed properly. Even if you are an excellent and doting parent, sometimes your goldfish might get sick for reasons unknown. Prevention and early detection are the best ways to help Goldie fight the urge to float upside-down.

There are many diseases that goldfish owners should be prepared to treat. They may not be pretty and you might be a little uneasy at first when attempting to identify them, but for the sake of your goldfish take the time to learn about and become familiar with parasite identities.

Skin Flukes are tiny worms that reside in the gill area of fish, consuming the skin cells and causing the fish to itch. Fish have a tendency to rub up against hard objects in attempts to relieve the itching, resulting in red and swollen gill areas. Relief and a cure can be found at pet stores.

Anchor Worm is a contagious parasite that attaches itself to the sides, head or mouth of the fish and is contracted by the ingestion of infection live food. The worm looks like a piece a green, brown or white thread dangling from the goldfish and can cause sore blood spots once it has entered into the flesh. Medicines are available for curing this disease.

Ich is the most common parasite that attacks fish with lowered immune systems. Introduction your fish to a new environment is enough to weaken immune systems and thus is a frequent cause of Ich in fish. Little white bumps will appear all over an infected fish, causing him to itch and gasp for air. Medication is readily available at pet stores and should be administered as soon as possible.

Tail or Fin Rot is a disease that causes damage and fraying to the fish's tail and fins, and is normally brought on by poor water conditions and high levels of ammonia and nitrites. Medication can be purchased at your local pet store.

There are plenty of different diseases, parasites and fungal infections out there just waiting to attack your poor defenseless goldfish. By monitoring and properly caring for your pet, you will improve your goldfish's chances of avoiding illness.

About The Author

Mark Sturge is webmaster of http://www.goldfish-answers.com A site where you can learn all about goldfish care and the nasty goldfish diseases that can be traumatic for you and your fish.

Senin, 22 Maret 2010

canvas wood frame maintenance pond catfish



canvas wood frame maintenance pond catfish

maintenance of channel catfish ponds can be done on canvas. wooden frame used for the pool tarp can be made as model examples as well drawing.

Benefits maintenance catfish in the pond loop tarps in use that is easy. Easy feeding, harvesting easier.

pool tarp used is an alternative to raising fish in ponds in addition to the wall or the ground, and are suitable for people who do not have land or a large pond.

Gambar rangka kayu bak terpal pemeliharaan ikan lele

Gambar rangka kayu bak terpal pemeliharaan ikan lele

pemeliharaan ikan lele bisa dilakukan pada kolam / bak terpal. rangka kayu yang digunakan untuk bak terpal bisa dibuat seperti model contoh gambar disamping.

Keuntungan pemeliharaan ikal lele pada bak terpal yaitu mudah dalam pengoperasionalan. Pemberian pakan mudah, panen mudah.

bak terpal digunakan merupakan sebuah alternatif pemeliharaan ikan selain pada kolam tembok atau tanah, dan cocok digunakan pada masyarakat yang tidak mempunyai lahan atau kolam yang luas.

Minggu, 21 Maret 2010

Panen Raya Rumput Laut Disambut PDT

Panen Raya Rumput Laut Disambut PDT

Kementerian Pembangunan Daerah Tortinggal (PDT) menyambut gembira panen raya rumput laut di Kabupaten Maluku Tenggara. Penghasilan dari rumput laut diharapkan menekan angka kemiskinan daerah tersebut." Masyarakat Maluku Tenggara harus menggarap potensi unggulan. Termasuk rumput laut dan budi daya perikanan," ujar menteri PDT Helmy Faishal Zaini, kemarin.

Maluku Tenggara memang menjadi produsen rumput laut yang cukup besar. Bahkan, daerah ini ditargetkan menjadi pemasok utama rumput laut seluruh Indonesia pada tahun 2013. Saat ini. Maluku Tenggara masuk satu dari tujuh pulau pemasok rumput laut terbesar di Indonesia,


Sumber : Harian Seputar Indonesia 17 Maret 2010 Hal : 2

Aquarium Fish Health: White Spot Disease Symptoms And Cures

Aquarium Fish Health: White Spot Disease Symptoms And Cures
by: Nathan Miller


Fish death is one of the main problems that beginner aquarist and even some expert aquarist face. It’s frustrating to the extent that most quit keeping aquarium fish.

But fish death can be avoided. Most fish deaths are caused as a result of both an internal and external types parasites that compete with the fish in tank.

As a result if you watch your aquarium fish often you should be able to discover when they have been infected by this parasite and be able to treat them to avoid fish death.

Look out for the following White Spot disease behavioral symptoms in your fish.

- Constant lying on the bottom or hanging at the surface.

- Rubbing of the body against rocks

- Gasping at the water surface

- No response to feeding

- General dullness and lethargy

- Hovering in a corner

- Fish swimming with clamps up

The most common of the visible signs is the development of the pin head-size while spots on the body or fins. This ailment is referred to as White Spot disease and is caused by the parasite - Ichthyophthirius Multifillis.

This parasite has a free-swimming stage, which attaches itself to the fish. The most common chemical used in treating infected fishes is Methylene Blue. You could buy a one per cent stock solution from a reputable chemist or aquarium shop and apply at 0.8 to 1.0ml per gallon of water. This amount should be added all at once. Repeat after one or two days.

The fishes must remain in this bath until every while spot has disappeared. A water change after treatment is necessary or else prolonged contact with the chemical may affect the fertility of the fish.

Another tip if you are using a side filter with activated charcoal should remove it to prevent the coal from absorbing the Methylene Blue.

Another tip... during treatment you should use artificial aeration with coarse bubbles near the surface, since a dirty bottom would inactivate the medicament by absorption. A better measure is to remove all dirt from the bottom before treatment.

Methylene Blue is harmless to young fish and unlike the general belief, it does not affect plants if used in weaker concentration.

About The Author

Nathan Miller

For more great aquarium related articles and resources check out http://freshwaterfish.aquariumspot.com

Sabtu, 20 Maret 2010

Water Garden Liners - Which One To Use?

Water Garden Liners - Which One To Use?
by: Doug Green


There are several kinds of pond liners available in pond stores.

The first is EPDM rubber – and this is extremely durable, resists punctures and quite flexible. It is normally sold in 40 or 45 mil thickness. If you intend to put a rock bottom on top of your liner, this is the liner for you as it is very flexible and will give and take with freezing. The puncture resistance and flexibility ensure a long life and consistent performance. Usually guaranteed for over 20 years.

Polyethylene is the cheapest liner you can buy. But with this lowered cost comes a lowered lifespan. If exposed to sunlight – this material may only last one season. It is not puncture resistant and it is quite stiff. The only serious use of this material is if you have a very large pond with a sandy bottom and can bury the edges so the sunlight can’t get to it. But if you think you want to build a backyard pond cheaply, using this is truly false economy.

Polypropylene is another choice and it comes in the same thickness as EPDM and is equally puncture resistant. The problem comes in the flexibility (about the same as polyethylene which is to say terrible) and this makes it difficult to go around corners. But it is the strongest of the liners.

Old swimming pool liners make terrible liners as they tend to degrade quickly in the sunlight and are quite stiff.

And what about cheaper materials such as that for roofing. The difference between fish-safe and other material is that the fish safe liners are made with a consistent formula. Other non-fish materials might be OK in this batch but if compound A becomes cheaper next week, it will replace the more expensive compound B. The difficulty is that it doesn’t matter for roofing that compound A kills off fish while compound B does not. In fish-safe liners, all material used is consistently fish-safe. But it is possible to obtain a real deal on roof liner material sometimes – just be aware that it may or may not be fish safe.

About The Author

Doug Green, an award winning garden writer with 7 books published answers gardening questions in his free newsletter at http://www.water-gardens-information.com.

Catfish ponds




Catfish ponds

Catfish cultivation should not be cultivated on a large pond, but can be cultivated on a small vessels in the courtyard of the house.
Catfish cultivation will be more effective and controlled when cultivated in vessels, because the cultivated on our tub would be easier to control water quality, easy feeding.

Why catfish can be cultivated in small vessels, because these fish species classified as having a high density compared with common species of fish that is farmed like mas, indigo.

Tub construction used for the cultivation of catfish are usually made from walls or cement. But it can also at the pool or a plastic tarpaulin.

spawning freshwater lobster



spawning freshwater lobster

Farmed freshwater crayfish in the pond, construction of ponds for spawning lobsters walls are made of rectangular shaped to size 1 x 2 m or 1.5 x 2 m. This lobster does not require high water depth ranges from about 10 to 20 cm high water.
to breed lobsters spawning in the pond was given the media a water hyacinth, tiles, bricks. For the security of a lobster spawning ponds covered with wire ram.

Jumat, 19 Maret 2010

Bak pemijahan Lobster Air tawar

Bak pemijahan Lobster Air tawar

Lobster air tawar dipijahkan pada bak, konstruksi bak untuk pemijahan lobster ini terbuat dari tembok yang dibentuk persegi panjang ukuran bisa 1 x 2 m atau 1,5 x 2 m. Lobster ini tidak membutuhkan kedalaman air yang tinggi kira berkisar 10 - 20 cm tinggi airnya.
agar memijah pada bak pemijahan lobster ini diberi media berupa eceng gondok, genting, bata. Untuk pengamanan pada bak pemijahan lobster ditutup dengan ram kawat.

Jambore Mangrove Resmi Dibuka

Jambore Mangrove Resmi Dibuka


Dalam rangka memberikan pemahaman karakteristik ekosistem mangrove, sekaligus mengantisipasi dan meningkatkan ketahanan wilayah pesisir dan laut terhadap perubahan iklim, Kementerian Kelautan da Perikanan (KKP) bersama KwarNas dan Pemerintah Daerah menyelenggakan kegiatan Jambore Mangrove sebagai bentuk sosialisasi secara dini kepada generasi muda, termasuk mengenai pentingnya ekosistem mangrove. Saat membuka jambore mangrove di Pantai Depok Pekalongan, Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad minta generasi muda mulai menanam dan memelihara ekosistem mangrove. Kegiatan penanaman mangrove merupakan bentuk kesadaran kita terhadap semakin rusaknya eksosistem mangrove, seperti di wilayah pantura. Akibatnya bencana pesisir hampir selalu melanda di hampir seluruh wilayah pesisir Indonesia.

Keberadaan ekosistem mangrove dinilai sangat penting, selain berfungsi sebagai tempat pemijahan biota laut juga memiliki andil dalam mitigasi perubahan iklim melalui penyerapan emisi CO2 yang merupakan gas rumah kaca. Untuk itu, kegiatan penanaman mangrove ini akan terus berlanjut meskipun acara Ayo Tanam Mangrove telah selesai dilaksanakan. Masyarakat pesisir di sekitar lokasi penanaman ini dapat terus memelihara mangrove yang telah ditanam dan bila dimungkinkan agar terus menambah jumlahnya agar ketahanan pesisir kita dalam menghadapi bencana akibat dampak perubahan iklim meningkat. Dengan kata lain, keberadaan eksositem pesisir selain berfungsi untuk melindungi wilayah pesisir, juga merupakan sumber ekonomi masyarakat di wilayah pesisir. Rusaknya ekosistem mangrove berakibat pada rusaknya eksositem wilayah pesisir dan juga perekonomian masyarakat pesisir di wilayah pesisir tersebut. Ambil contoh, kegiatan menangkap ikan semakin jauh dari pantai sehingga memerlukan BBM semakin tinggi. Meningkatnya kebutuhan BBM berakibat melambungnya biaya operasional melaut, tegas Fadel.

Ditengah gelapnya malam, Menteri Kelautan dan Perikanan yang didampingi Bupati Pekalongan, Dirjen Perikanan tangkap, Kepala BPSDMKP, Plt. Dirjen KP3K, KwarNas serta peserta jambore mangrove, kegiatan ini akhirnya secara resmi. Diakhir sambutannya, Menteri menitipkan masa depan wilayah pesisir kepada seluruh generasi muda. "mulailah adik-adik menanam mangrove, 10 tahun kedepan adik-adik akan merasakan buah tangan dari kegiatan yang dilakukan hari ini". Mangrove tumbuh subur, ekosistem pesisir terpelihara, masyarakat sejahtera dan terlindung dari bencana pesisir".

sumber : http://www.dkp.go.id

Ekspor Rumput Laut Mentah Capai 70 Persen

Ekspor Rumput Laut Mentah Capai 70 Persen


Sebanyak 70 persen produksi bahari mentah rumput laut kering ekspor ke China, Uni Eropa, dan Filipina. Sedang pasar dalam negeri masih menyerap 30 persen bahari mentah rumput laut kering.

Safari Azis Husen, Ketua Asosiasi Rumput Laut lndone-sia (Aril ) mengatakan, Industri di Indonesia belum sanggup mengolah bahan Jadi rumput laut. "Setiap Instansi belum bersinergi mengembangkan bahan baku olahan rumput laut kering," katanya di Jakarta, Kamis (18/3).

Safari mengatakan, Kementerian Perindustrian, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan produsen rumput laut mengolah bahan setengah Jadi dan Jadi. Dalam lima tahun ke depan, jika belum bersinergi rumput laut olahan belum akan menjadi bahan utama ekspor.

Tahun lalu, produksi rumput laut kering 130 ribu ton. Tahun Ini, produksi rumput laut kering ditargetkan ISO ribu ton dengan 200 ribu pembudidaya.

Pembudidaya rumput laut tersebar di Timur Indonesia antara lain, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Ball, Madura, dan Papua.

Harga bahan mentah rumput laut kering di pasar dalam negeri kisaran Rp8.000 per kilogram (kg) dan harga ekspor Rp 10.000 per kg. Harga Ini di atas harga normal Rp6.000 perkg. Dia mengatakan, perkembangan harga bahan mentah rumput laut kering naik signifikan dalam 25 tahun terakhir. Harga rumput laut kering saat itu kisaran Rp25O per kg menjadi Rp8.000 per kg. Pembudidaya, sudah mendapatkan keuntungan memadai dengan harga itu.

Pemerintah, perlu metata kelola rumput laut lengkap dengan pemasaran hingga memperkecil ekspor bahan mentah. Potensi pasar dalam negeri, cukup besar.

Safari menjelaskan, rumput laut terbagi dua, untuk konsumsi dan olahan pabrik. Rumput laut budidaya tambak (gra-cilaria) dipakai sebagai bahan pembuat agar-agar.

Jana Tjahjana Anggadlreja, Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam, mengatakan, harga rumput laut kering sudah kembali normal pasca buble crisis tahun 2007-2008. "Saat itu, harga rumput laut kering Rp22.OOO per kg."

Kenaikan harga tinggi akan menciptakan harga produk Jadi dengan campuran rumput laut menjadi mahal. Penurunan harga mendorong harga produk turunan rumput laut kembali normal. Produk turunan saat ini 20 item.

BPPT memproyeksikan, peningkatan produk turunan sekitar SO Item. Produk turunan Ini antara lain, shampo, sabun, agar-agar, bahan kosmetik, dan ice cream. Luther Kembaran.


Sumber : Jurnal Nasional 19 Maret 2010 Hal. 3

Kamis, 18 Maret 2010

media budidaya ikan lele




Kolam / bak Pembesaran lele

Budidaya Lele tidak harus dibudidayakan pada kolam yang luas, tetapi bisa dibudidayakan pada bak-bak kecil dipekarangan rumah.
Budidaya lele akan lebih efektif dan terkontrol bila dibudidayakan pada bak-bak, karena dengan dibudidayakan pada bak kita akan lebih mudah mengontrol kualitas air, mudah dalam pemberian pakan.

Ikan lele kenapa bisa dibudidayakan pada bak-bak kecil, karena jenis ikan ini tergolong mempunyai kepadatan yang tinggi bila dibandingkan dengan jenis ikan yang umum dibudidayakan yaitu seperti mas, nila.

Konstruksi bak yang digunakan untuk budidaya lele biasanya terbuat dari tembok atau semen. Tetapi bisa juga pada kolam terpal atau plastik.

Strata Kuliner

Strata Kuliner
(Oleh : Soen'an H.Poernomo)

Semua orang tentu butuh makan. Bahkan menurut Abraham Maslow, pakar psikologi sejak tahun 1959-an, makan dianggap sebagai kebutuhan dasar, atau basic needs, yang ia sebut physiological needs. Hierarchynof needs berikutnya adalah safety needs, love and belonging needs, esteem needs. dan yang cukup tinggi adalah self-actualization needs. Adapun kebutuhan psikologis tertinggi adalah untuk rasa ingin tahu, atau needs to know and understand.

Dalam hal makan, atau lebih khusus makan ikan, dapat kita golongkan menjadi kelompok. Pertama, adalah makan hanya agar merasa kenyang, tidak kelaparan. Kelompok ini mengandalkan tersedianya staple food, atau bahkan pangan pokok. Indikator ini sering dipakai sebagai capaian dalam program ketahanan pangan. Konsumen ekonomi lemah, memilih ikan dalam jumlah yang relatif sedikit. Nasi, jagung, singkong, terigu atau sagu, menjadi dominan. Sambal dan ikan asin hanya sebagai penyerta, agar ada rasa. Yang penting kenyang.

Kelompok kedua, mempertimbangkan rasa. Tentu saja subyektif dan didasarkan atas pengalaman kultural dan sosial. Menurut yang satu, sejenis makanan dirasakan sebagai lezatnya bukan main, sedangkan makanan yang sama, menurut yang lain bisa menjadi bahan cibiran. Tapi secara umum, rasa adalah suatu yang universal, sehingga berbagai jenis makanan telah menjadi menu favorit bagi banyak orang, lintas etnis maupun kultur. Aneka hidangan seafood dinikmati berbagai kalangan dan tingkatan, dari yang kaki lima, sampai ke restoran mewah di hotel bintang lima.

Ketiga, kalangan menengah ke atas, memilih makanan dikaitkan dengan aspek kesehatan. Karbohidrat dan lemak mulai dikurangi, lantaran sebagai biang kegemukan dan sakit jantung. Protein lebih dipilih, karena dipersepsikan tidak membawa akses, atau dampak buruk, bahkan menyumbangan efek pertumbuhan fisik maupun psikologis, serta memelihara atau mengganti bagian tubuh yang memerlukan. Disini ikan menjadi berperan, karena tergolong sebagai pemasok protein hewani. Kalaupun ada kandungan lemak, toh dari jenis yang baik, yaitu berasam lemaktak jenuh, bahkan sangat dibutuhkan untuk kesehatan dan kecerdasan.

Yang keempat juga berkaitan dengan kesehatan, namun yang memiliki tujuan khusus. Misalnya terhadap kualitas anak, terutama usia di bawah lima tahun, bahkan yang masih di dalam kandungan ibunya. Problem yang banyak dinegara berkembang adalah kondisi balita yang mengalami marasmus, atau kekurangan kalori, dan kwasiorkor, atau kekurangan protein. Kasus malnutrisi diduga bisa menyebalkan Indonesia kehilangan lebih dari 200 juta angka potensi IQ per tahun, atau setara dengan 30% dari peluang produktivitas. Ikan tentu bisa menjadi andalan, karena kelengkapan komposisi kandungan asam amino esensial, karena mutu daya cernanya yang tinggi. Ditambah, lagi, asam lemak tak jenuh omega-3 (DHA, docusa hexaenoic acid) terkenal sebegai penyebab pencerdasan anak, dan tidak terdapat pada hewan daratan. Peneletian dan pendapat berbagai pakar di Bristol University, National Institute Of Health, dan Brain Bio Central di AS; Global Seafood For Health di Australia; serta berbagai pakar di Denmark, setelah masing - masing meneliti 9.000 sampai 25.000 sample, mendapatkan hasil bahwa anak yang lebih banyak mengkonsumsi Omega-3, memiliki kecerdasan, motorik dan verbal yang baik.

Bahkan kepada para ibu setelah melahirkan juga dianjurkan untuk banyak mengkonsumsi ikan. Institute Of Epileptology, Kingstone College di London menyampaikan bahwa kandungan Omega-3, selenium, vitamin D dan vitamin B12 pada ikan dapat mengurangi problem postpartum psychology, depresi pasca melahirkan sebagai kelanjutan dari syndroma baby blues, yakni termasuk mood swing, atau perubahan emosi yang sangat cepat. termasuk juga efek perubahan hormonal thyroid, estrogen, dan progesteron. Tidak hanya bagi ibu dan anak, masyarakat pada umumnya juga banyak memahami bahwa asam lemak Omega -3 pada ikan dapat memberikan efek positif pada kesehatan jantung, saluran darah, mengatasi authitis, asma, depresi, dan bahkan jerawat.

Kelompok kuliner yang terakhir adalah berdasarkan kepercayaan spiritual. Di Hongkong dan Shanghai, ikan Kerapu yang berasal dari dasar laut, menjadi sangat mahal harganya karena diyakini dapat membawa keberuntungan bagi orang yang menyantapnya. tentu lima hal di atas bukan multiplr-choice, atau hanya single faktor semata. Tentu banyak pula yang memilih ikan karena rasanya yang nikmat, membuat badan sehat dan mencerdaskan. Paling tidak dalam Al-Quran, surat Al-Maidah, Allah berfirman bahwa" Dihalalkan bagimu hewan buruab di laut, dan makanan dari laut, sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang - orang dalam perjalanan". Dalam surat lainnya, An-Nahl, Allah juga berfirman" dan Dialah yang menundukkan lautan, agar kamu dapat memakan daging yang segar darinya.

Sumber : Majalah Demersa

Cooking Shrimp Made Easy for the Home Cook with these Simple Techniques

Cooking Shrimp Made Easy for the Home Cook with these Simple Techniques
by: Chef Todd Mohr



Cooking shrimp at home is a wonderful, casual alternative to a night out at a restaurant. But that's only if you know how to handle shrimp and produce those beautiful professional results yourself. Unfortunately, most people have trouble with shrimp for a couple of reasons. First, there is the cleaning of the shrimp. This can be a bit challenging, but with the right technique and a little bit of practice, it's a lot easier than you think. The second main obstacle that many face in preparing shrimp at home is not handling shrimp correctly and ruining a great ingredient. Shrimp must be handled well from start to finish to ensure the best possible outcome in your cooking. So - learn these tips and make cooking shrimp a delight in your house!

Cleaning Shrimp

Cleaning shrimp is sometimes necessary depending on how you purchase your shrimp. It is also necessary to clean fresh shrimp that you plan to freeze because it is much easier to do this when the shrimp are fresh. My favorite place to eat shrimp is at the beach on vacation. I love going to the local fish market and buying the freshest fish I can find. So - this entails cleaning shrimp for sure! But don't worry - it's easy and a little bit fun, too. Once you've removed the heads from your shrimp, here are the rest of the steps in cleaning shrimp:

Hold the shrimp by the tail between your thumb and forefinger, legs up, holding the shrimp in place with the rest of your fingers - this takes a bit of practice so don't get frustrated!

Take your paring knife and run down the legs of the shrimp, scraping them off as you go. You could even use a clam knife here because you don't need it to be sharp. Now it should be easy to remove the shell.

It's time to take the vein out. Hold the shrimp - vein up - tightly in your hand. With your other hand, make small incision, exposing the body cavity. Now simply pull the vein out.

For another trick on cleaning shrimp, try this simple method for butterflying shrimp. Make an incision and run down the length of the shrimp to open 2 halves. Be careful not to cut the shrimp all the way through. You can poach the shrimp from here for shrimp cocktail or even lay it flat on a tray, stuff it and lay the tails on top before baking it. This method of cleaning shrimp increases surface area - making the shrimp look bigger, helps the shrimp cook more consistently and makes a very nice presentation. Once you've cleaned all your shrimp - don't discard those shells. I freeze them to use later in shrimp stock, shrimp sauce and shrimp butter.

Cooking Fresh Shrimp

Cooking fresh shrimp is a wonderful experience because after cleaning, there are just a few short steps to enjoy a wonderful shrimp creation of your own making. But there are some important things to consider when handling fresh seafood of any kind - especially shrimp. First is in selection. I generally try to buy shrimp with the heads still on. This tells you something important about the shrimp: it's never been frozen. Freezing shrimp with the heads on makes a mess (and not a lot of sense) so anytime you need to start cooking fresh shrimp by removing the heads, you know they're fresh! Next is temperature. Shrimp should always be kept at around 34 degrees Fahrenheit. Most refrigerators are around 40 degrees, which might sound close, but it's not - as far as the shrimp are concerned. Studies have shown that just a 5 degree temperature reduction (from 40 to 35) doubles the shelf life of fish and shellfish. So before cooking fresh shrimp, you will most likely need to store your raw shrimp on self-draining ice in the refrigerator. I place the ice and shrimp in a colander and then into a metal bowl to catch the water as the ice melts. Incidentally, the same is true for refrigerators at the store. Fresh fish should always be stored on ice. Before cooking fresh shrimp, give it a smell. If shrimp does go bad, you'll know it by a strong ammonia odor, which is true of most fish.

Cooking Frozen Shrimp

Cooking frozen shrimp is often necessary when the fresh variety is just not available. Don't worry - it happens to me too! Luckily, frozen shrimp are readily available and can be tasty in dishes as well - as long as you know my tips for selecting, handling and cooking frozen shrimp. For starters - what does all that terminology mean? "I'll take some 15-20 IQF P & D, please." OK - let me translate. IQF is a term to describe the way in which shrimp is frozen. It means individually quick frozen. If your IQF bag of shrimp has ice crystals or the shrimp is frozen together in a clump, don't buy it. This means the bag has defrosted and been re-frozen. This is something that should generally be avoided in purchasing frozen foods. Shrimp are labeled with a number range (15-20) that refers the the number of shrimp that come in a pound. The larger the number, the smaller the shrimp. Medium is around 15-20; Salad shrimp are 96+. As I mentioned above, it is best to clean shrimp when fresh. The exception to this would be on shrimp boats where they have the technology to immediately freeze the shrimp they catch at very low temperatures (quickly). So - frozen shrimp can be purchased cleaned or not cleaned. If they have been cleaned before freezing, they are called P&D - peeled and de-veined. This means you will be cooking frozen shrimp in a matter of minutes - after defrosting, that is. One last thing - always defrost shrimp before cooking frozen shrimp. The best way to do this is in the refrigerator. If you need to defrost more quickly, you can place the shrimp in a bowl under slowly running cold water to defrost.

Cooking shrimp is a skill that enables you to prepare wonderful home-cooked dishes quickly and easily. Shrimp is a versatile ingredient that can be prepared in so many different ways, you are not likely to get bored anytime soon. By understanding and applying these simple techniques, you will soon be cooking shrimp at every meal. Shrimp omelet, anyone?


About The Author
This article on Cooking Shrimp is based on the “Cooking Coarse” video series, created by Chef Todd Mohr and based on his cooking-without-recipes philosophy.

Chef Todd is a classically trained chef, entrepreneur and educator in addition to being the host of "Cooking Coarse". For more details on Cooking by Method and how you can cook better everyday at home, visit Chef Todd’s website http:/www.I-hate-cooking-recipes.com where you can view over 170 free cooking videos and subscribe to the Free monthly e-zine “Burn Your Recipes.” Cooking videos and further information about cooking shrimp is provided at: http://www.i-hate-cooking-recipes.com/cooking-shrimp.html.


Visit the author's web site at:
http://www.i-hate-cooking-recipes.com